• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF BAB II TINJAUAN TEORI 1.1 Kontrasepsi Hormonal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF BAB II TINJAUAN TEORI 1.1 Kontrasepsi Hormonal"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

Minat yang besar pada pengguna kontrasepsi suntik karena aman, sederhana, efektif, tidak menimbulkan gangguan dan dapat digunakan setelah melahirkan (Manuaba, 2010). Waktu pemberian suntik KB adalah pasca melahirkan (segera saat masih di rumah sakit, dijadwalkan penyuntikan berikutnya), pasca aborsi (segera setelah pengobatan diperhitungkan jadwal waktu penyuntikan), dan interval (hari kelima). menstruasi). , jadwal waktu diperhitungkan). Mencegah ovulasi dengan mempengaruhi hipotalamus dan hipofisis yaitu penurunan kadar FSH dan LH sehingga tidak terjadi perkembangan dan pematangan folikel Graaf (Mandang, 2016).

Efek samping yang serius dapat terjadi seperti serangan jantung, stroke, pembekuan darah di paru-paru atau otak dan kemungkinan tumor hati. Efek samping serius yang terjadi pada kontrasepsi oral kombinasi (COC) yang tidak disebabkan oleh estrogen. Pemasangan Norplant secara sederhana dapat dipelajari, namun permasalahan pelepasan alat kontrasepsi implan memerlukan perhatian karena sulitnya menemukan cara yang mudah, murah dan aman, jumlah yang membutuhkan layanan pencabutan semakin meningkat, serta timbul kesulitan dan komplikasi dalam pencabutannya (Manuaba, 2010). ).

Kelemahan

Keterbatasan

Kontraindikasi

Kontraindikasi Mutlak a. Kehamilan

Kontraindikasi Relatif

Efek Samping

Konsep Tekanan Darah 2.2.1 Pengertian Tekanan Darah

  • Metode dalam Pemeriksaan Tekanan Darah
  • Fisiologi Tekanan Darah
  • Klasifikasi Tekanan Darah
  • Parameter Pengukuran Tekanan Darah
  • Komponen Suara Jantung atau Suara Korotkoff
  • Teknik Pengukuran Tekanan Darah Secara Umum
  • Prosedur Pengukuran Tekanan Darah a. Pengertian
  • Faktor-faktor yang Dapat Mempengaruhi Tekanan Darah

Tekanan darah adalah kekuatan yang mendorong darah terhadap dinding arteri, ditentukan oleh kekuatan dan jumlah darah yang dipompa, serta ukuran dan kelenturan arteri, diukur dengan monitor tekanan darah dan stetoskop (Maryuni, 2017). Tekanan darah merupakan gaya lateral pada dinding arteri oleh darah yang didorong dari jantung karena adanya tekanan (Maryuni, 2017). Aliran darah yang mengalir dalam sistem peredaran darah terjadi karena adanya perubahan tekanan, dan ada dua tekanan berikut ini.

Ada dua metode pengecekan tekanan darah, yaitu metode langsung dan tidak langsung, sebagai berikut. Metode langsung melibatkan memasukkan kanula atau jarum langsung ke pembuluh darah yang terhubung ke manometer. Bunyi Korrotkoff adalah bunyi gelombang sel darah yang berkontraksi (saat sistol) oleh jantung dan membentur dinding arteri, sehingga menimbulkan bunyi "digali...digali".

Darah yang mengandung oksigen masuk ke jantung dan kemudian dipompa ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah yang disebut arteri. Pembuluh darah yang lebih besar bercabang menjadi pembuluh darah yang lebih kecil hingga berukuran mikroskopis dan akhirnya membentuk jaringan pembuluh darah yang sangat kecil atau disebut kapiler. Darah yang tidak lagi jenuh dengan oksigen kembali ke jantung melalui pembuluh darah dan dipompa kembali ke paru-paru untuk mengambil oksigen kembali.

Jika aliran darah balik menurun maka otot jantung tidak akan meregang, kekuatan ventrikel pada fase sistolik akan menurun, dan tekanan darah akan menurun. Jika jantung berdetak terlalu cepat, ventrikel tidak terisi penuh di antara detak jantung, sehingga curah jantung dan tekanan darah akan menurun. Bila terjadi defisiensi maka akan terjadi mekanisme pemeliharaan tekanan darah seperti vasokonstriksi untuk menjaga tekanan darah tetap normal.

Kehilangan sejumlah kecil darah, seperti saat donor darah, akan menyebabkan penurunan tekanan darah sementara, yang akan segera dikompensasi dengan peningkatan tekanan darah dan peningkatan vasokonstriksi. Pada perdarahan hebat, mekanisme kompensasi ini tidak cukup untuk mempertahankan tekanan darah normal dan aliran darah ke otak. Jika terjadi stres, medula kelenjar adrenal akan mengeluarkan norepinefrin dan epinefrin, keduanya akan menyebabkan vasokonstriksi sehingga meningkatkan tekanan darah.

Tabel ii.1 Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7  Kategori  Sistol (mmHg)  Dan/atau  Diastole (mmHg)
Tabel ii.1 Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7 Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg)

Konsep Indeks Massa Tubuh 2.3.1 Pengertian IMT

Pengukuran IMT

Selain itu timbangan juga harus dirawat secara berkala agar tidak rusak dan memberikan hasil pengukuran yang valid.

Klasifikasi IMT

Faktor Yang Mempengaruhi IMT

Meningkatkan aktivitas fisik berarti seseorang akan menjadi lebih sehat dan akan mempengaruhi hasil BMI yang normal. Sebaliknya jika aktivitas fisik menurun maka berat badan akan meningkat sehingga mempengaruhi BMI. Setiap suku memiliki kebiasaannya masing-masing, ketika suatu suku percaya bahwa makan banyak akan mempengaruhi berat badannya sehingga mempengaruhi BMI.

Hubungan Kontrasepsi Hormonal dengan Tekanan Darah

Dalam teori Bustan (2007), kandungan estrogen pada kontrasepsi hormonal berpengaruh pada pembuluh darah sehingga mengakibatkan hipertrofi arteriol dan vasokonstriksi. Pada titik ini, posisi neuron preganglionik melepaskan asetilkolin, yang menstimulasi serabut saraf postganglionik ke pembuluh darah, dengan pelepasan norepinefrin yang memanifestasikan dirinya dalam penyempitan pembuluh darah. Pada saat yang sama, respons terhadap rangsangan emosional merangsang sistem saraf simpatik, merangsang pembuluh darah dan kelenjar adrenal, sehingga menghasilkan aktivitas vasokonstriksi tambahan.

Medula adrenal mengeluarkan epinefrin yang kemudian menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, begitu pula korteks adrenal yang mengeluarkan kortisol dan steroid yang memperkuat efek vasokonstriksi pada pembuluh darah (Handayani, 2014). Perubahan berat badan bisa disebabkan oleh pengaruh hormon progesteron yang memudahkan pengubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak di bawah kulit pun bertambah. Selain itu, hormon progesteron juga menyebabkan nafsu makan meningkat dan aktivitas menurun, sehingga penggunaan alat kontrasepsi suntik menyebabkan penambahan berat badan (Departemen Kesehatan, 1999).

Beberapa penambahan berat badan dan obesitas dapat disebabkan oleh retensi cairan, namun cenderung terjadi akibat peningkatan asupan makanan, namun salah satu kontributor potensial terjadinya penambahan berat badan pada wanita remaja dan dewasa adalah efek penggunaan kontrasepsi hormonal (Clark MK dkk, 2008). ). Progesteron juga dapat mempengaruhi emosi wanita sehingga cenderung meningkatkan nafsu makan, hal ini dapat menyebabkan penambahan berat badan pada pengguna alat kontrasepsi suntik hormonal (Prawirohardjo, 2010). Dampak lebih lanjut dari penambahan berat badan adalah obesitas, yang dapat menyebabkan peningkatan lemak darah, tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner dan stroke (US Department of Health and Human Services, 2012).

Berat badan merupakan pengukuran antropometri terpenting yang merupakan hasil pertambahan atau penurunan seluruh jaringan tubuh baik tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lain-lain (Hartanto, 2004). Secara umum pertambahan berat badannya tidak terlalu besar, bervariasi antara kurang dari satu kilogram hingga lima kilogram pada tahun pertama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi tiga bulan meningkatkan berat badan lebih dari 2,3 kg pada tahun pertama dan meningkat 7,5 kg dalam enam tahun (Wiknjosastro, 2006).

Sedangkan bila siklofem digunakan, berat badan meningkat rata-rata dua sampai tiga kilogram pada tahun pertama penggunaan dan terus meningkat pada tahun kedua (Varney, 2007).

Hubungan Kontrasepsi Hormonal dengan Indeks Massa Tubuh

Efek samping KB yang paling banyak dikeluhkan oleh penerima KB adalah penambahan berat badan. Penelitian Sriwahyuni ​​(2009) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kontrasepsi hormonal yang digunakan dengan pertambahan berat badan. Perubahan berat badan dapat terjadi karena perubahan gaya hidup yang mempengaruhi perubahan pola makan sehingga mengakibatkan penambahan berat badan.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi penambahan berat badan adalah usia, olahraga, faktor genetik, dan faktor sosial ekonomi. Faktor yang mempengaruhi penurunan berat badan dapat disebabkan oleh pola makan, kerentanan terhadap penyakit, lingkungan, emosional dan pola makan, hal ini juga tergantung pada faktor genetik pada masing-masing akseptor (Kamariah, 2014). Hal ini dikarenakan WUS yang menggunakan kontrasepsi hormonal lebih banyak ditemui dibandingkan WUS yang menggunakan kontrasepsi non hormonal.

Selain itu, ada faktor eksternal yang juga mempengaruhi kenaikan berat badan yaitu pola makan, pola aktivitas fisik, dan lingkungan. Penurunan berat badan dengan aktivitas fisik dapat menurunkan risiko kardiovaskular dan diabetes dibandingkan penurunan berat badan tanpa aktivitas fisik (Soegondo et al. 2009). Faktor umur mempengaruhi perubahan berat badan karena dengan bertambahnya umur energi yang dikeluarkan semakin berkurang (Wahyuni​​dan Chatarina, 2012).

Faktor sosial ekonomi juga mempengaruhi perubahan berat badan yaitu meningkatnya kesejahteraan menyebabkan perubahan gaya hidup seseorang termasuk pola makan seseorang. Mengonsumsi variasi jenis convenience food yang lebih banyak mengandung lemak, lebih sedikit serat, dan lebih tinggi kalori dibandingkan sayur dan buah juga dapat mempengaruhi penambahan berat badan (Kamariah, 2014). Hal ini dapat menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas, terutama setelah beberapa kali kehamilan (National Institute of Health, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Harpeni (2015), hasil uji hubungan paritas dengan pertambahan berat badan pada penelitian ini mendukung pernyataan tersebut.

Hasil Penelitian Sejenis

Hasil penelitian pengaruh penggunaan KB suntik terhadap peningkatan tekanan darah pada penerima KB suntik di Puskesmas Kebonsari Kabupaten Madiun pada bulan Januari-Februari 2018 yang dilakukan oleh Bima Cahyo Adi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik kombinasi. kontrasepsi suntik (progesteron dan estrogen) dan kontrasepsi suntik bahan tunggal (progesteron) pada tekanan darah. Alat kontrasepsi suntik kombinasi (progesteron dan estrogen) dan alat kontrasepsi suntik bahan tunggal (progesteron) dinyatakan sebagai faktor risiko peningkatan tekanan darah pada penerimanya masing-masing sebesar 3,58 dan 5,11 kali dibandingkan dengan alat kontrasepsi IUD non hormonal (Intra Uterine Device). Penelitian yang dilakukan Lamria Pangaribuan (2015) menunjukkan bahwa peningkatan tekanan darah tertinggi adalah tekanan darah sistolik yang berhubungan langsung dengan bertambahnya usia dan peningkatan indeks massa tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Zeinab Issa (2014) tentang terapi hormon dan tekanan darah menyatakan bahwa wanita yang menggunakan estriol secara oral atau injeksi akan meningkatkan tekanan darah sistolik karena tubuh akan lebih dominan memproduksi reseptor estrogen ER-β (Estrogen Receptor-Beta). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yusro Hadi dan Yuliawati (2013) tentang pengaruh penggunaan kontrasepsi implan terhadap pertambahan berat badan dan hipertensi di Kabupaten Lampung Timur menyimpulkan bahwa proporsi responden yang mengalami pertambahan berat badan ukuran seseorang dan proporsi responden adalah . yang mengalami peningkatan tekanan darah adalah ukuran seseorang. Terdapat pengaruh pengguna KB implan terhadap pertambahan berat badan (p=0.013;), pengguna KB implan mempunyai risiko 1.93 kali mengalami kenaikan berat badan (OR: 1.93; CI 95%) dan terdapat pengaruh pengguna KB implan terhadap peningkatan darah tekanan darah (hipertensi ).) (p=0.024), pengguna alat kontrasepsi implan memiliki risiko 1.89 kali mengalami peningkatan tekanan darah atau hipertensi (OR: 1.89; 95%CI.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Efi Sriwahyuni ​​​​​​(2009) tentang hubungan jenis dan lama penggunaan alat kontrasepsi hormonal dengan peningkatan berat badan pengadopsi di Puskesmas Jagir Kota Surabaya merupakan data pengadopsi yang menggunakan layanan KB hormonal pada bulan Januari 2008–Februari 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari satu tahun mengalami peningkatan berat badan sebesar 85,7%. Resiko responden yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal lebih dari satu tahun adalah 4.250 kali lebih besar untuk mengalami kenaikan berat badan dibandingkan responden yang menggunakan alat kontrasepsi kurang dari satu tahun.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anne Rufaridah (2016), dapat disimpulkan bahwa rata-rata IMT sebelum dilakukan tes pada penerima KB suntik selama 1 bulan adalah 21,64 Kg/m² dan nilai rata-rata IMT setelah dilakukan tes adalah 25,36 Kg. /m². Sedangkan selisih rerata pretest dan posttest sebesar 3,71 Kg/m², rerata IMT pretest penerima KB suntik 3 bulan sebesar 21,31 Kg/m² dan nilai rerata setelah dilakukan pengujian sebesar 26,41 Kg/m². Terdapat pengaruh antara penggunaan alat kontrasepsi suntik dengan kejadian kenaikan berat badan pada pasangan wanita usia subur.

Perbedaan penelitian yang akan dilakukan peneliti mengenai perbedaan tekanan darah dan indeks massa tubuh antara akseptor kombinasi injeksi dan implan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Malang Tahun 2019 dengan hasil penelitian yang telah diteliti.

Kerangka Konsep

Di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo tidak terdapat perbedaan tekanan darah antara penerima suntik kombinasi dan implan. Tidak terdapat perbedaan indeks massa tubuh antara akseptor suntik kombinasi dan implan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo.

Gambar 7.1 Kerangka Konseptual Perbedaan Tekanan Darah dan Indeks Massa Tubuh  antara KB Suntik Kombinasi dan Implan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo
Gambar 7.1 Kerangka Konseptual Perbedaan Tekanan Darah dan Indeks Massa Tubuh antara KB Suntik Kombinasi dan Implan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo

Gambar

Tabel ii.1 Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7  Kategori  Sistol (mmHg)  Dan/atau  Diastole (mmHg)
Tabel ii.1 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Menurut DepKes RI  tahun 2013
Gambar 7.1 Kerangka Konseptual Perbedaan Tekanan Darah dan Indeks Massa Tubuh  antara KB Suntik Kombinasi dan Implan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian membuktikan sebelum diberikan labu siam lebih dari separuh 60,0% responden memiliki tekanan darah hipertensi tingkat 2 dan kurang dari separuh 46,7% responden mengalami