Rencana Tata Ruang Kota Bandung bertujuan untuk mewujudkan efisiensi penggunaan ruang, keselarasan pengembangan ruang, dan efisiensi sistem pelayanan. Struktur ruang Kota Bandung terdiri atas pembagian kota yang berjenjang dengan unsur pusat pelayanan perkotaan, pembagian kawasan perkotaan, sebaran kegiatan fungsional tertentu, dan sistem jaringan prasarana transportasi. Dalam Rencana Tata Ruang Kota Bandung, wilayah Kota Bandung dibagi menjadi delapan subwilayah kota (SWK) yang dilayani oleh delapan subpusat pelayanan kota (SPK) dan dua pusat pelayanan kota (PPK).
Untuk mendukung keterpaduan struktur tata ruang Kota Bandung, diperlukan juga perencanaan sistem jaringan yang terintegrasi. Dalam hal ini rencana sistem jaringan infrastruktur kota dibagi menjadi: rencana sistem infrastruktur utama dan rencana sistem infrastruktur lainnya. Rencana pengembangan sistem infrastruktur utama dibagi menjadi sistem jaringan transportasi darat, sistem jaringan transportasi kereta api, dan sistem jaringan transportasi udara.
Secara umum pengembangan rencana jaringan transportasi darat berkaitan dengan sistem jaringan jalan raya dan kereta api. Prinsip perencanaan sistem jaringan transportasi darat adalah menghubungkan sistem kegiatan kota secara optimal, baik dalam konteks regional (PKN, PKW, PKL) maupun dalam konteks internal kota (pusat pelayanan dan subpusat pelayanan kota). Untuk mendukung perkembangan kota Bandung dan sesuai dengan rencana dalam RTRWN, Bandara Husein Sastranegara akan tetap dipertahankan.
Rencana Pola Ruang Kota Bandung
Kawasan Lindung
Pembangunan fasilitas pejalan kaki diprioritaskan pada kawasan pusat pelayanan kota, kawasan subpusat pelayanan kota, kawasan pendidikan, kawasan komersial (perkantoran, jasa, perdagangan) dan kawasan pemerintahan. Jalan Prajurit Pelajar; Jalan BKR; Jalan Pasirkoja; Jalan Gedebage; Jalan Cimencrang; Jalan tol dalam kota; Jalan tol paralel; dan Tol Purbaleunyi. Jalan Siliwangi; Jalan Cisitu; Jalan Ciumbuleuit; Jalan Setiabudhi; Jalan Dipatiukur; Jalan P.H.H Mustofa; dan Jalan A.H Nasution.
Kawasan yang Memberikan Perlindungan terhadap Kawasan Bawahannya
Kawasan Perlindungan Setempat
Ruang Terbuka Hijau
Ruang Terbuka Hijau taman ini dibatasi oleh jaringan jalan, sungai dan dikembangkan secara bertahap dengan luas total kurang lebih 392 (tiga ratus sembilan puluh dua) hektar. Ruang terbuka kawasan pemakaman tersebut dikembangkan secara bertahap melalui revitalisasi makam dan perluasan pemakaman umum di Nagrog, Ujung Berung dan di Rancacili, Rancasari serta kawasan pemakaman eksisting dengan luas total kurang lebih 291 (dua ratus). dan sembilan puluh satu) hektar.
Kawasan Pelastarian Alam dan Cagar Budaya
Kawasan Rawan Bencana
Rencana tanggap bencana rawan gempa bertujuan untuk memantau pembangunan di daerah rawan gempa berdasarkan tingkat kerentanan bencana. Rencana penanggulangan rawan bencana gunung berapi adalah dengan mengendalikan pembangunan di daerah rawan bencana gunung berapi berdasarkan tingkat kerawanan bencana.
Kawasan Lindung Lainnya
Kawasan Budidaya
Rencana Pengembangan Kawasan Perumahan
Rencana Pengembangan Kawasan Perdagangan dan Jasa Kawasan ini direncanakan untuk dikembangkan sebagai berikut
Rencana Pengembangan Kawasan Perkantoran
Rencana Pengembangan Kawasan Industri dan Pergudangan
Rencana Pengembangan Kawasan Wisata Buatan
Pendekatan Sektoral Pembangunan
- Permasalahan Pembangunan
- Isu Strategis
- Hubungan Antara RPJMD dengan RTRW
Kajian ini didasarkan pada isu-isu strategis mengenai pembangunan Kota Bandung dan keterkaitan antar dokumen pembangunan. Identifikasi permasalahan pembangunan dalam RPJMD Kota Bandung dituangkan dalam beberapa bidang penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dalam rangka menjalankan amanah RPJPD Kota Bandung dan melihat tingkat hasil pembangunan khususnya periode tahap II, pada bagian ini akan diuraikan capaian pembangunan berdasarkan indikator dan target yang telah ditetapkan RPJPD Kota Bandung.
Dalam RPJPD Kota Bandung disebutkan bahwa visi daerah Kota Bandung tahun 2025 adalah: “Bandung Kota Bermartabat”. Dalam menentukan berbagai isu strategis yang diangkat dalam RPJMD, kajian ini hanya fokus melihat isu-isu strategis dari kebijakan pembangunan daerah, yaitu:. Setelah melakukan kajian terhadap kondisi Kota Bandung dari berbagai aspek pembangunan, dapat dirumuskan beberapa permasalahan kebijakan dan isu strategis Kota Bandung.
Penetapan isu-isu strategis merupakan bagian penting dalam keseluruhan penyusunan RPJMD Kota Bandung 2013-2018, karena dari tahap ini akan diketahui tantangan utama apa saja yang perlu diatasi oleh Pangdam dan jajaran SKPD. Selain itu, terdapat penyesuaian beberapa isu strategis dalam RPJPD Kota Bandung yang diamanatkan dalam RPJMD Kota Bandung tahun 2013-2018. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2013-2018 merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan pembangunan nasional dan perencanaan pembangunan daerah Provinsi Jawa Barat.
Selain itu, RPJMD dalam perencanaan pembangunan daerah juga harus memperhatikan RTRW Kota Bandung yang merupakan pedoman dalam penataan ruang kota, sehingga RPJMD Kota Bandung tahun 2013-2018 selaras dengan kebijakan pembangunan nasional dan lainnya, dalam penelitian ini perlu adanya kajian lain terhadap rencana pembangunan khususnya RTRW Kota Bandung yang telah ditetapkan. Rencana Tata Ruang Wilayah dan RPJMD wilayah sekitar Kota Bandung seperti Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang, terkait dengan Wilayah Metropolitan Bandung; Skema hubungan RPJMD Kota Bandung Tahun 2013-2018 dengan dokumen lainnya dapat dilihat pada gambar berikut.
Penyusunan RPJMD Kota Bandung berpedoman pada RTRW Kota Bandung yaitu dengan menyelaraskan pencapaian visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan program pembangunan daerah jangka menengah dengan pemanfaatan struktur ruang dan wilayah kabupaten/kota. struktur kota. pola. Dalam penyusunan RPJMD, perhatian dan pertimbangan diberikan terhadap berbagai pola dan struktur tata ruang yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung sebagai acuan untuk mengarahkan lokasi kegiatan dan menyusun program pembangunan terkait pemanfaatan ruang. ruang kota.
Analisis Komparatif
Selain itu, dalam upaya perencanaan pembangunan Kota Bandung secara berkesinambungan, penelitian ini bertujuan untuk melihat keselarasan dan konsistensi pedoman dasar pembangunan Kota Bandung khususnya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota tersebut. Kota Bandung dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bandung dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung. Analisis identifikasi sinkronisasi kebijakan RTRW dengan RPJPD dan RPJMD dalam perumusan tujuan (visi dan misi) menunjukkan adanya kesesuaian (sinkronisasi) antara RTRW, RPJPD dan RPJMD Kota Bandung. Penunjukan ini dimaksudkan dengan harapan agar pada akhirnya Kota Bandung dapat menjadi kota yang mempunyai harga diri, kehormatan, keadilan dan harkat kemanusiaan.
Sedangkan dalam RPJMD Kota Bandung tujuan (visi dan misi) yang ditetapkan adalah visi dan misi kepala daerah terpilih, namun pedoman utama penyusunan visi kepala daerah adalah kesesuaian dengan tujuan pokok dan visi kepala daerah. arah kebijakan pembangunan Tahap III. RPJPD Kota Bandung, sehingga visi dan misi RPJPD Kota Bandung merupakan turunan dari tujuan RPJPD Kota Bandung. Begitu pula dalam menentukan arah pembangunan misi ke-4 yaitu peningkatan kualitas lingkungan hidup Kota Bandung dalam RTRW yang juga sama dengan tujuan pencapaian misi ke-4 yaitu terwujudnya perkotaan yang berkualitas. lingkungan hidup dalam RPJPD. Sedangkan dalam RTRW tidak diungkapkan arah pembangunannya dan hanya diuraikan tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam tujuan penataan ruang, dan dalam DPPM tujuan pencapaiannya direduksi menjadi strategi, sedangkan dalam DPPM tujuan (visi dan misi) direduksi. tujuan dan sasaran dengan indikator kinerja.
Membentuk struktur tata ruang kota, dengan indikator kinerja: Sekurang-kurangnya 60% kawasan pusat primer Gedebage telah berkembang dan seluruh pusat kawasan pengembangan berfungsi efektif. Mengembangkan SAUM (Fasilitas Angkutan Umum Massal) dan membatasi penggunaan kendaraan pribadi, dengan indikator kinerja: 50% dari rencana infrastruktur SAUM yang dibangun, sesuai dengan rencana induk transportasi umum kota; Pengendalian pencemaran air, dengan indikator kinerja: 17% sungai dan anak sungai di Kota Bandung ditinjau dari parameter BOD dan COD memenuhi baku mutu.
Mengembangkan sumber air baku untuk penyediaan air bersih, dengan indikator kinerja: Pengembangan sumber air baku dengan kapasitas produksi ± 5.750 liter/detik. Peningkatan cakupan pelayanan air bersih, dengan indikator kinerja: 85% penduduk menerima air bersih dengan rata-rata debit air 120 liter/orang/hari dengan debit terus menerus selama 24 jam. Menawarkan lokasi pengolahan akhir (TPA) sampah yang berkelanjutan, dengan indikator kinerja: Lokasi pengolahan akhir berfungsi 100%.
Penyediaan sistem drainase kota yang terorganisir, dengan indikator capaian: Jaringan drainase kota primer dan sekunder yang terpadu; integrasi regional layanan drainase kota; 75% sistem drainase kota terintegrasi. Penyediaan Sistem Pengolahan Air Limbah dan UWTP, dengan indikator capaian: 75% wilayah kota terlayani sistem pengolahan limbah terpadu dengan IPAL.
Inkonsistensi Pembangunan Daerah
Berdasarkan program yang tertuang dalam RTRW jaringan transportasi khususnya pembangunan jalan, sepenuhnya sinkron dengan RPJMD 2013-2014. Analisis di atas menunjukkan bahwa 2 program dalam RTRW dan 2 program yang tertuang dalam RPJMD bidang infrastruktur sektor energi tidak dapat dianalisis karena penentuan pelaksana program dan sumber pendanaan tidak sesuai, serta program kegiatan yang dilakukan tidak sesuai. keluar oleh keduanya. Pelaksana program yang ditugaskan dalam RTRT adalah Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Nasional dan PT.
Program-program Kementerian Perencanaan Tata Ruang dan Cipta Karya Nasional dalam RPJMD lebih fokus pada penataan ruang secara menyeluruh. Begitu pula dalam pelayanan komunikasi dan informasi di RPJMD tidak ada program serupa atau berkesinambungan, sehingga asumsi yang dapat diambil adalah program-program dalam RTRW dilaksanakan oleh PT. Berdasarkan hasil analisis di atas menunjukkan bahwa program RTRW bidang infrastruktur sumber daya air telah sepenuhnya sinkron dengan program RPJMD.
Terlihat bahwa dalam program RTRW, sektor infrastruktur air limbah menginisiasi 3 program kegiatan yang ketiga program tersebut dilaksanakan oleh PDAM, sedangkan program yang tertuang dalam RPJMD Badan PDAM tidak dimasukkan dalam lembaga anggaran. Selain itu, pada beberapa program yang dialokasikan kepada Dinas Bina Marga dan Pengairan serta Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, tidak terdapat satu pun program pembangunan atau pengelolaan jaringan air limbah. Berdasarkan hasil analisis tabel di atas terlihat bahwa program RTRW bidang infrastruktur bidang sistem persampahan dikoordinasikan dengan program yang terdapat dalam RPJMD.
Berdasarkan hasil analisis tabel diatas terlihat bahwa program RTRW bidang infrastruktur pada bidang jaringan drainase sudah sinkron dengan program-program yang terdapat dalam DPPM, baik dari segi program, lokasi, anggaran, tahapan pelaksanaan. . , sumber pendanaan dan pelaksana program. Artinya, hasil analisis yang diperoleh sinkron antara kedua program tersebut, meskipun tidak semua program yang masuk dalam RTRW dapat diusulkan menjadi satu kesatuan program dalam RPJMD. Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil analisis yang diperoleh belum sinkron antara program RTRW bidang infrastruktur di kawasan jalur evakuasi bencana dengan program yang tercakup dalam RPJM.
Permasalahannya adalah program yang dilaksanakan dalam RTRW dimasukkan sebagai PDAM, sedangkan PDAM tidak masuk dalam anggaran RPJMD. Tidak ada program dalam RPJMD yang mewakili atau sesuai dengan program yang tercantum dalam RTRW tahun tersebut atau dalam pelaksanaan program-program yang tercantum. Hasil yang diperoleh dari jumlah penilaian dibagi jumlah kriteria adalah 53.571 dengan skor tertinggi 100 yang berarti program kedua kebijakan di bidang infrastruktur tersebut baru tersinkronisasi separuhnya.
Artinya secara langsung dapat dikatakan bahwa 50% program dalam RTRW dan program dalam RPJMD tidak sinkron atau dapat disebut penyimpangan kriteria “mayor”.