• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Dr. Rafid Abbas, MA FIQH Nalar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Dr. Rafid Abbas, MA FIQH Nalar"

Copied!
322
0
0

Teks penuh

Sebagai organisasi keagamaan (Jam'iyyah Diniyyah), Persatuan Islam (PERSIS) menempati posisi khusus dalam bidang Islamisasi di Indonesia. Majelis Hisbah merupakan sumber kekuatan yang TEPAT untuk menyikapi setiap permasalahan keagamaan yang muncul di masyarakat, baik itu Fiqih, Siyasah, Muamalah dan lain-lain.

Potret Persatuan Islam : Sebuah Pandangan

Begitu juga yang perlu dikaji ialah kesahihan keputusan fiqh fiqh yang ditentukan oleh Dewan Ulama atau Majlis Hisbah PERSIS. Majlis Ulama' atau Majlis Hisbah MENOLAK mentafsir atau mengambil hukum Istinbat yang bersumberkan al-Quran dan hadis.

Latar Belakang Keagamaan dan Konteks Berdirinya PERSIS 9

Berjemaah artinya: berkumpul di bawah naungan dan bimbingan al-Haq (kebenaran) sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Mendirikan pesantren atau madrasah untuk mendidik putra-putra Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam hal ini 'Umar melakukan kesalahan karena tidak mengecek Al-Qur'an dan hadits shahih ketika menerapkan qiyās.

Pemahaman tentang Hukum Islam

Hukum Islam dapat dipahami sebagai hukum yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah melalui proses ijtihad. Oleh karena itu perlu dipahami makna ijtihad secara etimologis yang berarti kesungguhan dalam mengkaji hukum Islam. Ijtihad yang boleh dilakukan oleh seorang mujtahid adalah seseorang yang telah memenuhi syarat sebagai mujtahid dan bukan sembarang orang yang sekedar melakukan ijtihad.

Ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid merupakan suatu penetapan hukum yang berkaitan dengan tingkah laku manusia sehubungan dengan pengamalan ajaran agama Islam. Misalnya, 'Umar bin Khaṭṭāb melarang laki-laki Muslim menikahi wanita Ahli Kitab karena khawatir akan menimbulkan pencemaran nama baik bagi wanita Muslim. Larangan Umar bin Khaṭṭāb terhadap para sahabatnya untuk menikahi wanita muslim non-Arab diawali dengan penaklukan kaum muslimin yang menduduki kota Madain, sehingga di kota tersebut jumlah wanita muslim bertambah banyak, ada pula yang menikah dengan wanita lokal, seperti sahabat Hudzaifah yang juga seorang panglima perang, dia menikah dengan wanita setempat, dan seterusnya, kemudian 'Umar bin Khaṭṭāb mengirimkan surat yang menyuruhnya menceraikan wanita tersebut, namun Ḥudhaifah tidak akan menceraikan sampai 'Umar tidak memberikan alasannya, setelah 'Umar bin Khaṭṭāb a alasan mengapa ia melarangnya, maka Hudzaifah menceraikannya.

Kekhawatirannya tersebut menunjukkan bahwa ‘Umar bin Khaṭṭāb sangat berhati-hati dalam menjaga kesejahteraan umat Islam, karena jika dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan banyak masalah di kalangan umat Islam. Yang kedua mencakup syarat-syarat tambahan, yaitu: pengetahuan tentang nasikh mansūkh yang terkandung dalam Al-Qur'an dan hadis, serta mengetahui cara memilih atau mengklasifikasikan hadis sebagai sumber hukum Islam.

Asal Usul Nama Majlis Ulama’ PERSIS dan Perubahannya

Persatuan Islam mempunyai Majlis Ulama yang ditugaskan untuk menyelidik dan menetapkan hukum Islam berdasarkan al-Quran dan Sunnah, dan Pusat Kepimpinan mengeluarkannya. Segala keputusan dan/atau ketetapan yang dibuat oleh majlis ajar dalam hukum agama hendaklah dipatuhi oleh pusat kepimpinan dan semua ahli Persatuan Islam. Seterusnya pada final VI di Bandung juga telah diputuskan susunan anggota Majelis Ulama’ Persatuan Islam yang terdiri daripada:.

Lihat Juga: Dadan Wildan: Tepat di Adegan SEJARAH…. dikte yang tidak diterbitkan), dan inilah susunan anggota Majelis Ulama pertama yang BENAR. Selanjutnya melalui muktamar PERSIS VIII yang diselenggarakan pada tahun 1983, Majelis Ulama PERSIS berganti nama menjadi DEWAN HISBAH,108 menjelaskan bahwa Majelis Hisbah dibentuk oleh pimpinan pusat. 108 Ada pendapat yang kuat bahwa pergantian nama Majlis Ulama' menjadi Dewan Hisbah terjadi pada tahun 1983, sebelum Pimpinan Pusat PERSIS Abdurrahman meninggal.

Jika kita menilik kembali sejarah munculnya Majelis Hisbah yang dulu disebut Majlis Ulama', merupakan mata rantai kelompok tadarusan atau kelompok kajian. Produk sah Dewan Hisbah PERSIS ditetapkan dalam suatu sidang yang diikuti oleh para ulama Dewan Hisbah PERSIS.

Sumber Hukum Dewan Hisbah PERSIS

Al-Sunnah boleh dilihat dari segi hubungannya dengan al-Qur'an atau al-Sunnah secara bebas. Daripada hubungan dengan al-Quran, al-Sunnah merupakan sumber hukum kedua selepas al-Quran. Dan Kami turunkan Al-ẓikra (Al-Qur'an) kepadamu, agar kamu menerangkan apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) itu, melainkan agar kamu menerangkan kepada mereka (perkara-perkara) yang mereka perselisihkan, dan menjadi petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. As-Sunnah berfungsi sebagai Ta'kīd (penguat) hukum-hukum yang telah ada dalam Al-Qur'an. Hukum mempunyai dua asas hukum iaitu al-Qur’an sebagai penentu atau penentu hukum dan al-Sunnah sebagai penguat dan pendokongnya.

Takhṣīṣ khusus), dan taqyīd mengikat) bagi ayat-ayat yang masih bersifat mujmal (global), 'ām (umum), atau muṭlaq (tidak terbatas), yaitu ayat-ayat Al-Qur'an yang belum ada petunjuk jelas pelaksanaannya, kapan dan bagaimana, dijelaskan dan diterangkan dalam sunnah. Perintah salat misalnya dalam Al-Quran yang bersifat mujmal kemudian diterjemahkan ke dalam al-Sunnah oleh Nabi SAW.

Metode Istinbath Hukum Dewan Hisbah PERSIS

Saat menafsirkan Al-Qur'an atau memahami hadis, nasehat Persis Hisbah terkadang bersifat tekstual dan terkadang kontekstual. Sumber hukum Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Keduanya menggunakan naṣṣ (teks) dalam bahasa Arab. Perbedaan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an; Ikhtilāf Tanawwu juga sering dijumpai, seperti: tafsir aṣ-ṣirātha al-Mustaqīm.

Majelis Hisbah Persis menemukan bahwa tidak ada ayat dalam Al-Qur'an yang menyebutkan mansūkh yang ada adalah nāsikh. Jika terjadi pertentangan antara Al-Qur'an dan al-Hadits, maka yang diutamakan adalah Al-Qur'an atau Hadits. Dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa hadislah yang harus diutamakan, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui isi Al-Qur’an lebih baik dari Nabi SAW.

Maka jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya)". Adapun petunjuk adanya asbāba al-nuzūl dan asbāb al-wurūd antara al-Qur'an. an dan hadis kadangkala mempengaruhi antara satu sama lain.Cara terbaik untuk memahami al-Quran yang sukar tanpa mengetahui sebab turunnya.

Dengan catatan ketika ḍa'īf itu dari segi ḍabth (hafalan) dan tidak bercanggah dengan al-Quran dan hadis-hadis sahih yang lain.

Proses Persidangan Dewan Hisbah PERSIS

Adapun yang menjadi pembicara pada sidang Dewan Hisbah ada yang merupakan anggota Dewan Hisbah itu sendiri dan ada pula yang berasal dari luar anggota, semua tergantung kebutuhannya. 186 dan tidak semua makalah diterima, namun umumnya dibahas bersama-sama dengan perbaikan, sedangkan masing-masing pembicara ditunjuk oleh pimpinan Dewan Hisbah PERSIS. Saat menghadiri sidang Dewan Hisbah PERSIS di Soreang, Bandung, ada delapan topik yang dibahas Dewan Hisbah.

Dari sekian banyak anggota Dewan Hisbah PERSIS yang tidak hadir dalam sidang, hanya sedikit yang hadir.191 Secara umum. 190 Kedelapan materi sidang Majelis Hisbah di Soreang Bandung diikuti oleh peneliti, sedangkan semua topik yang dibahas terlampir. 195 Adapun pembicara di luar Dewan Hisbah diundang apabila anggota Dewan Hisbah SANGAT membutuhkannya, dan makalah yang mereka presentasikan memang diperlukan.

Majelis Hisbah dalam sidangnya telah memutuskan suatu undang-undang, apabila terdapat kemiripan dengan hasil ijtihad pendahulunya seperti A. Soal grasi yang dihasilkan Majelis Hisbah PERSIS sebenarnya sudah dibahas secara lengkap. di dalam.

Produk Ijtihad Dewan Hisbah PERSIS Dalam

Kajian-kajian hukum Majelis Hisbah PERSIS selama bertahun-tahun, khususnya di masa lalu, banyak melahirkan pemikiran-pemikiran tentang hukum Islam, padahal sebagian yang dihasilkannya merupakan produk-produk lama atau revisi dari hasil-hasil lama. Hal ini untuk menyikapi permasalahan yang muncul dikalangan anggota jam'iyyah PERSIS itu sendiri, maupun dikalangan masyarakat umum, dan produk ijtihad yang dihasilkan meliputi dua aspek yaitu ijtihad aspek ibadah dan ijtihad aspek Mu'amalah. Dari dua aspek kajian hukum yang dihasilkan Majelis Hisbah PERSIS, ada yang sudah tercatat dan ada pula yang belum tercatat, serta ada pula sebagian kecil kajian hukum hasil Majelis Hisbah PERSIS yang tidak diperuntukkan bagi publikasi, namun hanya untuk kalangan sendiri, seperti Konsep Jama'ah menurut Dewan Hisbah PERSIS, hasil ijtihad ini hanya untuk kalangan internal jam'iyyah PERSIS sendiri. Hassan, serta karya Abdurrahman, pemimpin PERSIS Bandung saat itu, buku ini merupakan jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapi umat dan kalangan PERSIS Jam'iyyah itu sendiri, dan dijadikan rujukan oleh PERSIS Jam ' Lingkaran iyyah, khususnya karya A.

Namun demikian, anggota Majelis Hisbah mungkin merasa perlu adanya revisi terhadap ijtihad yang dilakukan oleh para pendiri PERSIS sendiri, karena ijtihad dapat dianggap sebagai hukum yang tidak pasti, yang akan berubah tergantung perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, diantara permasalahan yang timbul dalam urusan ibadah pada periode antar tahunan adalah permasalahan sebagai berikut: 1.

Ijtihad Dewan Hisbah dalam Masalah Ibadah

Mengikuti tata cara shalat sebagaimana yang diamalkan Nabi Muhammad tidak berarti mengubah kaifiyat atau bacaan atau bahasa. Mengenai kata “fī yaūmi Jumu`atin” dalam Hadits riwayat umat Islam, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah “hari pengumpulan” bukan hari Jumat, alasannya karena Rasulullah dan para sahabat berangkat haji. Wada` pada tanggal 25 Dzū al-Qa`dah jatuh pada hari Sabtu tahun 215, sedangkan bulan Dhū al-Qa`dah pada waktu itu berumur 30 hari. Lebih lanjut dari hadis tersebut penulis kemudian mengingatkan bahwa ketika seseorang sedang berpergian, maka seseorang tersebut tidak boleh menunaikan shalat Jumat, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ketika wukuf.

Hassan tidak membenarkan hajjatul wada' ini. Yang dikerjakan Rasulullah jatuh pada hari Jum’at, karena dalam riwayat umat Islam tidak dijelaskan bahwa Rasulullah melihat haji wada’ dilaksanakan pada hari Jum’at, sedangkan dalam riwayatnya A. Hassan mengambil pendapat dari kitab Zādul Ma’ad 1 : 229 ; Muhammad Rasulullah 443, Hayatu Muhammad 471 dijelaskan Rasulullah saw. Hadits ini berbeda dengan hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak shalat pada hari Jumat. Takhṣiṣ munfasil (tidak berkesinambungan dan pentakhsisnya ada di matan atau di kalimat lain), seperti hadits tentang Rasulullah dan para sahabat tidak menunaikan shalat Jumat saat wuqūf di 'Arafah, dan Takhṣiṣ jenis ini disebut Takhṣiṣbil tidak.

Hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa beliau shalat sambil mengangkat tangan dalam kondisi tertentu. Dari riwayat Abdurrahman bin Samurah beliau berkata: ‘Saat aku sedang bermain dart pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Hadits yang dianggap sebagai dalil umum

Kesimpulan

Rekomendasi

Referensi

Dokumen terkait