Selama pandemi Covid-19, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat pada semester pertama tahun 2020 (1 Januari-31 Juli 2020) terdapat 4.116 kasus kekerasan terhadap anak. PENDIDIKAN RAMAH ANAK DI RUMAH DAN SEKOLAH/MADRASE DALAM PENEGAKAN HAK DAN PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK.
Pendidikan Ramah Anak
Konsep pendidikan ramah anak mengacu pada Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2011 tentang indikator Kota Layak Anak (KLA), bahwa setiap anak memiliki akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang berkualitas tanpa diskriminasi. Rumah sebagai basis peradaban anak berperan penting dalam proses pendidikan ramah anak di lingkungan keluarga (Fitriani & Gelang, 2020).
Pendidikan Ramah Anak Dirumah
Namun, peran orang tua dalam membimbing dan membesarkan anaknya untuk belajar di rumah sangat diperlukan tidak hanya pada masa pandemi, melainkan sepanjang hidupnya (Arfiani et al., 2020). Dengan memberikan pendidikan ramah anak secara berkesinambungan sejak dini, anak dapat menanamkan perilaku positif dalam kehidupannya (Fitriani & Gelang, 2020).
Pendidikan Ramah Anak Di Sekolah/ Sekolah Ramah Anak (SRA)
Sekolah ramah anak merupakan konsep sekolah terbuka yang mencoba menerapkan pembelajaran yang memperhatikan perkembangan psikologis dan kejiwaan siswanya. Pendidik dapat menerapkan pengajaran ramah anak berdasarkan 3P (Provision, Protection and Participation) dalam proses pembelajaran (Artadianti, Kiki & Subowo, 2019) (Prasetiawan, 2016).
Pemenuhan Hak dan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak
Pembelajaran yang dilakukan secara daring dapat dilakukan secara efektif dengan berbagai media yang dapat digunakan seperti video, audio, gambar, komunikasi teks (catting) menggunakan perangkat lunak yang berbeda (Herliandry et al., 2020). Adapun dalam pelaksanaan pembelajaran daring, salah satu hal yang paling penting adalah kesiapan guru dan siswa.
Pendahuluan
Hasil wawancara pada kegiatan pra penelitian diperoleh informasi bahwa masih ada beberapa guru dan kepala sekolah yang sama sekali tidak mengetahui tentang pendidikan ramah anak karena sekolahnya tidak mendeklarasikan sekolah/madrasah ramah anak (Candra Arliyoga, Agus, 2021). Selanjutnya peneliti melakukan beberapa madrasah yang menyatakan pendidikan ramah anak ketika ditanya kendala yang dialami mengatakan siswa masih belum aktif dalam pembelajaran sehingga guru membutuhkan tutor untuk mengatasi permasalahan tersebut, kecuali ada yang mengatakan pelaksanaan madrasah ramah anak hanya sebatas deklarasi, tidak ada perubahan yang signifikan dibandingkan penelitian sebelumnya (Dwi Haryadi, Riduan, 2021), (Muhlisin, 2021).
Pembahasan
Pentingnya pendidikan ramah anak pada satuan pendidikan khususnya di Tingkat Dasar (Madrasah
Selain kecerdasan intelektual, setiap satuan pendidikan dituntut untuk menghasilkan generasi yang cerdas secara emosional dan spiritual (K.P.RI, 2015). Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa pimpinan dan guru Madrasah Ibtidaiyah diketahui bahwa masih ada beberapa MI yang belum paham dan belum menerapkan Pendidikan Ramah Anak di madrasah tersebut. Hal inilah yang menjadi perhatian kami sebagai pendidik untuk terus mendalami Pendidikan Ramah Anak di tingkat SD.
Berdasarkan data di atas, ternyata masih ada kepala sekolah atau guru yang belum memahami pendidikan ramah anak, padahal jumlahnya hanya 3 (7,3%) dan yang paham. Sekolah ramah anak adalah satuan pendidikan yang mampu menjamin, memenuhi, menghormati hak-hak anak dan melindungi anak dari kekerasan, diskriminasi dan penyalahgunaan lainnya. Sekolah Ramah Anak (SRA) merupakan salah satu program pengembangan Kota Ramah Anak (KLA) dalam bidang pendidikan, melalui Sekolah Ramah Anak ini diharapkan anak-anak dapat memenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan (Artadianti, Kiki & Subowo, 2019).
Berdasarkan pernyataan dan beberapa contoh di atas, maka pendidikan ramah anak pada satuan pendidikan khususnya pada tingkat SD sangat penting untuk dilaksanakan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan ramah anak merupakan tempat yang aman, nyaman, bersih, sehat, ramah, menyenangkan dan bebas kekerasan bagi siswa, sehingga tingkat partisipasinya tidak hanya dalam kegiatan pembelajaran, tetapi juga dalam pengambilan keputusan sekolah.
Penerapan Pendidikan Ramah Anak di satuan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah
Oleh karena itu, sudah selayaknya semua satuan pendidikan memberikan fasilitas dan jaminan pemenuhan hak bagi peserta didik untuk menuntaskan keruntuhan fisik, sosial dan psikisnya (Inayati & Trianingsih, 2019). Posisi sekolah/madrasah saat ini sangat penting jika melihat kondisi saat ini mereka masih rawan perundungan/perundungan. Terutama pada jenjang pendidikan dasar dimana diletakkan dasar-dasar pengetahuan dan pembentukan karakter (kepribadian) bagi peserta didik sebagai modal dalam pengembangan potensi dirinya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan bekal hidup bermasyarakat.
Kesalahan dalam penyelenggaraan pendidikan di tingkat dasar akan berdampak negatif terhadap potensi yang dimiliki peserta didik.
Pendidikan ramah anak di satuan pendidikan selama masa pandemi covid-19 sebagai upaya memenuhi hak
Menurut hasil wawancara dengan guru MI, bahwa selama masa pandemi Covid-19 pembelajaran berlangsung melalui sistem daring dan terpantau dengan selalu menjalin kedekatan antara calon guru dan pengurus siswa untuk melaksanakan pembelajaran daring sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa faktor yang membuat pembelajaran berjalan dengan baik di masa pandemi Covid-19, antara lain kemauan guru dan siswa untuk melakukan kegiatan sosialisasi menggunakan aplikasi terkait pembelajaran daring seperti WA, GC, GM, Instagram, zoom meeting. dan aplikasi lainnya yang dapat diunduh melalui smartphone/handphone atau laptop/notebook. Kemudian, pelaksanaan pembelajaran di madrasah ibtidaiyah pada masa pandemi Covid-19 dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu online (58%);.
Pengajaran ramah anak di masa pandemi Covid-19 sekolah telah dilaksanakan, sementara siswa yang tidak hadir telah difasilitasi dengan mengirimkan tugasnya melalui WhatsApp dan offline kepada siswa yang tidak memiliki Android, serta tetap membuka konsultasi dengan orang tua siswa untuk terus memantau penerapan protokol kesehatan serta memberikan motivasi kepada siswa agar tetap semangat belajar. Berikut gambaran kegiatan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 di beberapa sekolah dasar yang konsisten menerapkan protokol kesehatan baik bagi pendidik maupun siswanya. Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan kegiatan pembelajaran di salah satu Madrasah Ibtidaiyah Kota Metro pada masa pandemi Covid-19, protokol kesehatan sudah dijalankan dengan benar antara lain pembatasan jumlah siswa, pengaturan jarak antar siswa (social distancing) sesuai aturan, kemudian memakai masker selama kegiatan, pembelajaran berlangsung.
Melihat foto ini menunjukkan betapa tingginya tingkat kesadaran baik guru maupun siswa dalam menjaga protokol kesehatan agar tidak tertular berbagai penyakit, termasuk Covid-19. Berdasarkan hasil observasi di atas, kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di salah satu madrasah masih belum ada physical distancing, meskipun guru dan siswa menggunakan masker.
Upaya Madrasah Dalam Memenuhi Hak dan Memberikan Perlindungan Terhadap Kekerasan Pada
Beberapa kegiatan yang dilakukan secara keseluruhan di atas merupakan wujud komitmen madrasah, guru, kepala sekolah dan orang tua untuk mewujudkan pendidikan ramah anak guna mencegah kekerasan terhadap anak. Selain itu, pada tahap akhir perlu dilakukan monitoring dan evaluasi serta laporan pelaksanaan pendidikan ramah anak di masing-masing madrasah. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan ramah anak memerlukan sinergi berbagai komponen seperti madrasah, kepala sekolah, komite, pendidik, siswa, masyarakat dan pemangku kepentingan terkait seperti mapenda dan lainnya (Rahmawati, 2019).
Model pendidikan ramah anak di satuan pendidikan tingkat dasar merupakan upaya mendukung partisipasi dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran dan pengawasan di masa pandemi Covid-19. Data model pendidikan ramah anak yang telah diterapkan di Madrasah Ibtidaiyah yang tersebar di seluruh provinsi Lampung merupakan yang tertinggi yang dibuat melalui berbagai metode. Lebih lanjut hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliyanto (2016) yaitu bahwa pendidikan ramah anak dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, sehat, kondusif, tidak diskriminatif dan memfasilitasi pendidikan anak. potensi. berkembang dengan baik.
Pelaksanaan pendidikan ramah anak yang dilakukan untuk mendukung daerah menuju kota/kabupaten layak anak (KLA) harus didukung oleh kewajiban dan peraturan tentang perlindungan anak (Sutami et al., 2020). Seiring dengan maraknya kekerasan yang terjadi, sebagaimana dipaparkan dalam latar belakang penelitian, kedudukan pendidikan ramah anak sedemikian rupa sehingga anak betah dan nyaman berada di sekolah/madrasah.
Kesimpulan
Jika melihat data ini, sebagian besar guru telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan pendidikan yang ramah anak, seperti menciptakan lingkungan yang nyaman, menyediakan fasilitas terbaik, belajar aktif dan menyenangkan, memberikan bimbingan intensif dan hal-hal lain yang perlu segera diberikan. Data penggunaan model pembelajaran ramah anak di madrasah, sebanyak 56% menggunakan pendekatan, kreativitas, nondiskriminasi, kebebasan berpikir dan lain-lain, penuh 21% melakukan pembelajaran aktif dan berdiferensiasi, penuh 14% mengembangkan media pembelajaran dan penuh 9% belum menerapkan model pembelajaran ramah anak. Model pembelajaran yang berbeda juga digunakan oleh para guru madrasah ibtidaiyah untuk menciptakan pembelajaran ramah anak yang tidak mengenal lelah dan putus asa serta pantang menyerah sebagai bentuk komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi penerus bangsa.
SARAN
Curriculum Vitae
Teknik pengumpulan data, teknik dan instrumen pengumpulan data, uji keabsahan instrumen dan
Pengumpulan data terkait dokumen sekolah, administrasi kesiswaan, majalah pendidikan ramah anak, buku, dll.
Kisi-Kisi Instrumen Pendidkan Ramah Anak
Hasil Uji Turnitin
Daftar Pertanyaan dan Jawaban
YA YA YA YA YA YA YA TIDAK YA YA YA YA YA YA TIDAK YA YA TIDAK YA YA YA YA YA YA YA YA YA YA YA YA YA YA YA Jawaban. Menyampaikan pendidikan ramah anak di masa pandemi ini, sekolah tetap memfasilitasi siswa yang absen dengan mengirimkan tugas melalui WhatsApp dan offline untuk siswa non Android, serta melanjutkan konsultasi terbuka dengan orang tua siswa untuk lebih memantau penerapan protokol kesehatan dan memberikan motivasi bagi siswa untuk memelihara semangat belajarnya. Melaksanakan pembelajaran daring dengan tidak memberikan materi yang terlalu banyak/tidak seperti PTM tentunya dengan tetap memberikan pendidikan ramah anak agar anak tidak stres dan terbebani di masa pandemi ini.
Tawarkan mata pelajaran sebaik mungkin dengan durasi 2 jam dalam setiap sesi Pelaksanaan daring memberikan motivasi bagi anak-anak untuk semangat, sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Menyediakan fasilitas, perhatian dan lingkungan yang nyaman dan aman untuk mendukung kegiatan anak di sekolah Memberikan bimbingan bagi siswa. Lakukan kontak dengan anak-anak. Menerapkan proses pembelajaran ramah anak menerapkan disiplin tanpa kekerasan dengan menjadikan sekolah bersih, ramah, aman, indah, inklusif, sehat, indah dan nyaman bagi siswa selama berada di Madrasah.
Dengan memberikan hak yang sama dan tidak membeda-bedakan. Belum menerapkan model pendidikan ramah anak. Penerapan model ramah anak di sekolah, anak dapat menemukan tindakan yang mengancam diri sendiri dari pihak sekolah yang dilanjutkan dengan video yang memberikan kondisi dan kondisi yang aman, nyaman dan bersih bagi siswa, memberikan pelayanan sebagai bentuk kepedulian terhadap siswa dan melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan selama pembelajaran d kelas.
Photo-Photo Kegiatan