ii
iii
iv
v
ميحرلا نمحرلا هللا مسب KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.; juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mulia.
Penulisan tesis ini sebagai bagian dari tugas akhir penulis dalam menyelesaikan studi penulis untuk memperoleh gelar magister dalam Studi Ilmu Agama Islam, Konsentrasi Ilmu Syari’ah, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Banyak hal yang telah penulis lewati dalam penyelesaian tesis ini, kendala-kendala, serta keterbatasan penulis dalam melakukan penelitian merupakan bagian dari penyelesaian tesis ini yang akhirnya dengan izin Allah tesis yang berjudul, “Keputusan-Keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Ad- Dualy (MFID) Tentang likuiditas Perbankan Syaraih” dapat terselesaikan dan tentunya masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki di masa yang akan datang.
Betapapun hasil penelitian ini sangat jauh dari sempurna, akan tetapi merupakan hasil maksimal yang dapat penulis lakukan. Penulis menyadari dalam penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Prof. DR. Hj. Khuzaimah Tahido Yanggo, MA. Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dalam proses penambahan keilmuan dan spiritual penulis;
vi
2. Bapak DR. KH. Ahmad Munif Suratmaputra, MA, Direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Yang telah banyak memberikan pelayanan, pengalaman, pembelajaran selama penulis menimba ilmu di Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.
3. Bapak Prof. DR.H. Jaih Mubarok, MA. dan Bapak DR. H.
Hasanuddin, M. Ag. selaku pembimbing atas waktu, kritik, saran, kesempatan dan motivasi yang beliau berikan kepada penulis dalam penyusunan tesis ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini;
4. Bapak Prof. Dr. H. Said Agil Husen Al-Munawar, MA. dan Bapak Dr.
KH. Muhammad Yusup, MA. selaku penguji tesis penulis, terima kasih atas segala kritikan dan saran yang telah diberikan kepada penulis dalam rangka menjadikan tesis ini agar lebih baik ke depannya dan menjadi karya ilmiah yang bermanfaat bagi orang lain.
5. Dosen-dosen penulis selama mengikuti Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berharga bagi penulis dan kelak menjadi modal yang sangat penting bagi penulis untuk mengabdi di tengah-tengah masyarakat.
6. Kepada istri tercinta Fatimah Mahmud dan anak-anak tersayang, Afro Zakiyah, Al-Iz Abdussalam, Nabilah Dzatunnitoqhoini, Zulfa Aliyah, Fawaz Sulaeman Al-Balkhi dan Ahmad Faris Ar-Rozi yang telah memberikan dorongan kuat dan penyemangat kepada penulis sehingga berbagai kendala dapat dilalui.
7. Teman-teman semua yang telah membantu dan memberikan dukungan serta doanya kepada penulis sehingga terselesainya tesis ini.
vii
Semoga penelitian ini memberikan manfaat, terutama bagi penulis sendiri, kemudian bagi lembaga, pembaca dan semoga memberikan kontribusi dalam khazanah kajian keislaman khususnya dalam bidang perbankan syariah.
Dan yang terakhir, penulis sangat terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pihak manapun untuk kesempurnaan penelitian ini. Semoga Allah s.w.t.
senantiasa membimbing kita untuk senantiasa berkarya dalam rangka meninggikan kalimat Allah s.w.t..
Jakarta, 23 Januari 2017 M 24 Rabi’ul Akhir 1437 H
Penulis
viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN
Fonem konsonan Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, dalam translitarasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda dan sebagian lagi dilambangkan dengan huruf dan tanda sekaligus.
Di bawah ini daftar huruf Arab dan transliterasinya dalam huruf latin:
1. Konsonan
Arab Latin Arab Latin
أ A ض Dh
ب B ط Th
ت T ظ Zh
ث Ts ع ‘
ج J غ Gh
ح H ف F
خ Kh ق Q
د D ك K
ذ Dz ل L
ر R م M
ز Z ن N
س S و W
ش Sy ـه H
ص Sh ي Y
Contoh:
â = a panjang contoh باتكلا = al-Kitâb î = I panjang contoh ثيدحلا = al-Hadîts û = u panjang contoh مولعلا = al-‘Ulûm
ix 2. Kata Sandang
a. Kata sandang yang diikuti al-Qamariyah
Kata sandang yang diikuti oleh al-Qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf (el) diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu.
Contoh:
ةرقبلا : al-Baqarah ةنيدملا: al-Madînah
b. Kata sandang yang diikuti al-Syamsiyah
Kata sandang yang diikuti al-Syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dengan sesuai dengan bunyinya.
Contoh:
لجرلا: ar-rajul نيدلا: ad-dîn
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PENGESAHAN...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
PERNYATAAN PENULIS...iv
KATA PENGANTAR ...v
PEDOMAN TRANSLITERASI... viii
DAFTAR ISI... ....x
ABSTRAK... xii
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Permasalahan: 1. Identifikasi Masalah...17
2. Batasan Masalah...19
3. Rumusan Masalah ...19
C. Tujuan Penelitian...19
D. Kajian Pustaka...20
E. Metodologi Penelitian ... ...23
F. Sistematika Penulisan...23
BAB II PERBANKAN SYARIAH A. Pengertian Bank Syariah ...25
B. Karakteristik dan Prinsip Bank Syariah...29
C. Produk dan Jasa Perbankan Syariah...36
D. Konsep Keuangan Syariah...59
xi
BAB III LIKUIDITAS PERBANKAN SYARIAH
A. Likuiditas Bank Syariah... ...73
B. Faktor Yang Mempengaruhi Likuiditas Bank Syariah...79
C. Instrumen Likuiditas Bank Syariah...83
D. Pengembangan Akad Likuiditas Bank Syariah ...89
BAB IV KEPUTUSAN-KEPUTUSAN MAJMA’ AL-FIQH AL-ISLAMY Al-DUALY (MFID) TENTANG LIKUIDITAS PERBANKAN SYARIAH A. Pandangan Ulama MFID Tentang Likuiditas...107
B. Keputusan MFID Tentang Likuiditas...120
C. Keputusan MFID Tentang Instrumen Likuiditas...125
D. Akad-Akad Likuiditas...139
E. Gambaran Implementasi Instrumen Likuiditas ...145
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...154
B. Saran ...155
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN:
Salinan Keputusan MFID Tentang Likuiditas Perbankan Syariah
xii Abstrak
Pengelolaan likuiditas merupakan masalah yang sangat kompleks dalam operasional kegiatan suatu bank. Pemicu utama kebangkrutan bank, baik bank yang besar maupun bank yang kecil, bukanlah karena kegagalan pada pembiayaan yang menyebabkan kerugian, melainkan lebih kepada ketidakmampuan bank untuk melakukan pengelolaan likuiditas.
Dalam pengelolaan dana, bank akan mengalami salah satu dari tiga hal, yaitu; pertama, Posisi seimbang dimana persediaan dana sama dengan keperluan dana yang tersedia; kedua, Posisi lebih dimana persediaan dana lebih dari keperluan dana yang tersedia; ketiga, Posisi kurang di mana persediaan dana kurang dari keperluan. Bank syariah menghadapi kendala likuiditas karena kurangnya akses untuk memperoleh pendanaan jangka pendek, kurangnya akses ke pasar uang, sehingga bank syariah hanya dapat memelihara likuiditas dalam bentuk kas dan kesulitan melakukan pengendalian likuiditas secara efesien.
Sementara pengembangan produk untuk mengatasi kelebihan dan kekurangan likuiditas perbankan syariah masih belum memadai. Diharapkan melalui penelitian terhadap keputusan-keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Ad-Dualy (MFID) dapat melahirkan pengembangan instrumen dan akad likuiditas perbankan syariah. Sehingga pada gilirannya perbankan syariah semakin dipercaya dan dapat berperan signifikan dalam mendongkrak perekonomian umat.
Penelitian ini difokuskan pada keputusan-keputusan Majma’ Fiqh Al- Islmay Ad-Dualy (MFID) terkait dengan masalah likuiditas perbankan syariah dengan melakukan pengumpulan data untuk mendapatkan konsep yang utuh melalui buku-buku fikih kontemporer, keputusan-keputusan MFID dan lembaga lain, hasil penelitian, jurnal, dan artikel yang relevan dengan tema pembahasan seputar likuiditas perbankan syariah. Adapun untuk pengolahan datanya penulis akan menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan data terpilih yang relevan secara objektif dan apa adanya.
(Kata Kunci: Likuiditas, perbankan syariah dan keputusan MFID)
xiii Abstract
Liquidity management is extremely complex issue in operating bank activities. The main trigger bankruptcies of banks, both large banks and small banks, not because of a failure on the financing that causing harm, but rather the inability of banks to manage liquidity.
In managing the fund, banks will experience one of three things; First, balanced position where the supply of funds is the same as the purpose of the funds available; The second, more position where the supply of funds in excess of the purposes of the funds available; The third, less position in which the supply of funds is less than necessary. Islamic banks face liquidity constraints due to lack of access to short-term funding, lack of access to the money market, so that Islamic banks can only maintain liquidity in the form of cash and face difficulty in the management liquidity.
While the development of products to address the advantages and disadvantages of Islamic banking liquidity is still inadequate. Hopefully, through research on decisions Majma 'Al-Fiqh Al-Islamy Ad-Dualy (MFID) can give birth to the development of instruments and Islamic banking liquidity contract. Islamic banking, which in turn is getting reliable and can play a significant role in boosting the economy of the people.
This study focused on decisions Majma' Al-Fiqh Al-Islmay Ad-Dualy (MFID) associated with liquidity problems on Islamic banking by collecting data to get the whole concept through books of contemporary fiqh, decisions MFID and other institutions, the results research, journals, and articles relevant to the theme of the discussion around sharia banking liquidity. As for the data processing writer will use descriptive method. Descriptive method used to describe the selected data relevant objectively as it is.
xiv
ُ مُ ل
ُ ص ُ خ
َ فَ إ
ََ مَ َ ن
َ ضَ و وَ ع
َ سلا َ
َ يَ وَ ل
َ لَ ي َ ةَ
َ مَ ث
َ لَ
َ مَ ش لَ ة َ كَ
ََ اب
َ نل
َ سَ ب
َ لَ لَ ب َ ةَ
َ نَ و
َ ك
َ رَ بَ و َلا
َ يَ ة
ََ وَ ذ
َ ك َ ل
َ حَي ََ ف
َ لاَ ت
َ يَ َ ذ ََ وَ ه َ وَ يَ ة َ رلاَ ب َ َ ل َ ئا َ س َ لاَ و ََ ب َ ن َ لَ تَ ي َ حا َ لا َ نَ َ مَ ًَلّ َ ك َ هََ َ جا ََ تَ و أَ ن َ عََ َ طَ ي َ سَ ت ََ ي َ ث َ حَ ي َ َ ص َ ق َ نلا ََ و َ ض َ ئا َ لاَ ف
َا
َ م
َ تَ س َ لا
َ تَ ط
َ يَ ع ا ص م لا َه
َ ف َ ر
َ
َ س َ لا
َ لّ
َ مَ ي
َ ة.
َ
َ وَ لا
َ مَ ع
َ رَ و
َ ف
ََ أ اَ م ل َ نَ
َ صَ
َ ف ر
َ
َ س َ لا
َ لّ
َ يَ َ م
َ يَ س َ لَ
َ تَ ط
َ يَ عَ
َ سَ ر َ ب
َ عَ ة
َ
َ تلا
َ صَ
ر
َ ف
َ فَى ََ ف
َ ئا
َ ض
َ سلا َ
َ يَ وَ ل
َ ةَ
َ مَ ثَ ل
َ م
َ تَا
َ صَ ن
َ عَ
َ لاَ بَ ن
َ وَ ك
َ
َ تلا
َ قَ لَ ي
َ دَ ي
َ ةَ
َ لاَ ت
َ تَى
َ تَ ع
َ لََ َ ما بَ ن
َ ظ
ََ لا َ ما
َ فَ ئا
َ دَ ة
َ رلاَ ب َ
َ وَ يَ ة
َ حَ، َ
َ ي
ََ ي َ ث
َ سَ ت
َ طَ ي
َ عََ أ
َ ي
َ
َ بَ ن
ََ تَ ق َ ك
َ لَ يَ د
َ ىَ
َ أَ ن
ََ يَ و
َ عَ َ د
َ فَ ئا
َ ض
َ سلا َ
َ يَ وَ ل
َ ةََ
لَ دَ
يَ هَ
َ ىف
َ يَ ََ أ
َ وَ ق
ََ و َ ت
َ يَ َ ل
َ مَ د
َ ط َ ةَ
َ ت َ لا
َ وََ ق ََ أ
َ صَ
َ ت ر
َ
َ لَ د
ََ بَ ن َ ي
َ ك
َ خآ َ
َ رََ ب
َ عَ ر َ س
ََ لا
َ فَ ئا
َ دَ ة
َ سلا َ
َ ئا
َ د
َ
َ ىف
َ سلا َ
َ وَ ق
َ كَ، َ
َ م
َ يَا
َ سَ ت
َ طَ ي
َ عَ
َ حَى َ ف
َ لاَ ة
ََ لا
َ عَ ج
َ زَ
َ قَ تَ ر َ لا
َ ضا
َ نََ ََ م
َ يَ أ
َ بَ ن
ََ تَ ق َ ك
َ لَ يَ د
َ يَ
َ رََ أ َ خآ
َ وَ
َ نَ َ م
َ لاَ بَ ن
ََ لا َ ك
َ مَ رَ ك
َ يَ َ ز
َ وَ,
َ تَ أ
َ سَ ي
َ س
َ عَا
َ ذَى َ ل
َ ك َ ل
َ لَ َ
َ تَ مَ ث
َ لَ
َ سلا
َ يَ وَ ل
َ مَ ش َ ةَ
لَ ة َ كَ
َ خ َ
َ طَ ي
َ رَ ة
َ د ََ ل
َ ي
ََ لا
َ بَ نَ و
َ ك
َ
َ تلا
َ قَ لَ ي
َ دَ ي
َ وَ، َ ةَ
َ لَ ك
َ نَ ه
َ تَ ا
َ هَ ر َ ظ
َ حَى ََ ف
َ لاَ ة
َ
َ لاَ م
َ ص
َ را
َ ف
َ
َ س َ لا
َ لّ
َ مَ ي
َ ةَ
َ لاَ ت
َ لَى
َ تََ ت
َ عَ ما
َ لَ
َ بَ ن
َ ظ
َ ما
َ فلا َ
َ وَ ئا
َ رلاَ ب َ دَ
َ وَ يَ ة
َ وَ، َ
َ لَ ك
َ تَ س َ نَ
َ تَ ثَ م
َ رَ
َ مَ و َ لا
َ لا
َ
ََ م َ ىف
َ شَ ر
َ وَ ع
ََ اَ ق َ تا
َ ص َ ت
َ يَ ة َ دا
ََ تَ ق
َ وَ مَ
َ عَ ل
َ لاَى
َ م راَ ك َ شَ
َ ةَ
َ ىف
َ رلاَ ب َ
ََ و َ ح
َ خلا
َ س
َ راَ ة
ََ وَ ت
َ س
َ مَ َ ها
َ ىف
َ
َ تلا
َ نَ م
َ يَ ة
َ
َ وَ ه
َ ذَ ه
ََ لا
َ م
َ شَ ر
َ وَ ع
َ تا
َ ح ت َ
َ جا َ ت
ََ إَ ل
َ سَى
َ يَ وَ ل
َ ة.
َ
َ بَ ا
َ ض َ ل
َ فاَ ة
ََ إَ ل
َ هَى
َ وَا َ ذ
َ ذ
ََ م َ كا
َ زَا
َ ت َ لا
َ شَ ب َ
َ ةَ َ ك
َ لاَ م
َ ص
َ را
َ ف
َ
َ س َ لا
َ لّ
َ مَ ي اَ لَ م َ ةَ
َ حَ ل
َ يَ ة
ََ وَ لا
َ عَ لا
َ مَ ي
َ ةَ
َ ح م
َ دَ و
َ دَ ة
َ وَ أَ ن ََ
ََ مَ ع
َ مَ ه َ ظ
َ مَا
َ زَا
َ لا
َ
َ ىف
َ
َ طَ و َ لا
َ را
َ
َ وَ ل َ لا
َ وَى
َ رَ بَ ت َ جت
َ ها
َ
َ سَ تَ َ لا ثَ م
َ راَ ي
َ مَ زا َ ةَ
َ ت َ لا
َ
َ مَ ح
َ دَ و
َ دَ ة
ََ وَ ل
َ ذَ ل
ََ هَ ن َ ك
َ كا
َ ص َ
َ عَ وَ ب
َ ةََ
نَ سَ ب
َ يَ ة
َ تَى ََ ف وَ ي َ حَ
َ ل
َ فلا َ
َ ئا
َ ض
َ نَ ََ م
َ صَ َ م ر
َ ف
َ س ََ إ
َ لّ
َ يَ م
َ إَ ل
َى
َ صَ َ م ر
َ ف
َ س ََ إ
َ لّ
َ يَ م
َ رَ َ خآ
َ كَ,
َ م
َ أَا
َ تَ ع َ نَ
َ ماَ ل
َ مَا َ ه
َ عَ
َ بلاَ ن
َ وَ ك
ََ لا
َ مَ رَ ك
َ زَ يَ ة
َ فَ ق ََ و
َ لَا
َ ح
َ ك
ََ وَ م َ ما
َ بَ دا
َ ئ
َ
َ شلا
َ رَ يَ ع
َ سلا َ ةَ
َ لّ
َ مَ ي
َ ة لَ مَ َََ
َ يَ س
َ تَ ق
َ بَ ع َ رَ
َ وَ ي َ دَ
َ جا َ تح
ََ إَ ل
َ تَي رَ يَ ع َ شَ
ََ تَ ت َ تا
َ قَ َ ف
َ مَ ع طَ ب ََ
َ يَ عَ ة
ََ لا
َ م
َ ص
َ را
َ ف
َ
َ سلا
َ لّ
َ مَ ي
َ ة.
َ
َ م َ ك
َ لَا
ََ تَ و
َ ج
َ أَ دَ َ دَ
َ تا و
ََ م
َ لاَ ي
َ وََ َ ةَ
َ نَ ق
َ دَ ي
َ ةََ إ
َ س
َ لّ
َ مَ ي
َ مَ نَ ت َ ةَ
َ رَ ة َ ش يَ ت َََ
َ م
ََ
َ تلا
َ واَ ل َ د
َ يَ ه ََ ف
َ يفَا
َ سَ و ََ أ
َ قا
َ
َ مَ و َ لا
َ لا
َ ح م ل َاَ
َ لَ يَ ة
ََ وَ لا
َ عَ لا
َ مَ ي
َ ةََ
لَ تَ و
َ ظَ ي
َ ف
َ فَ ئا ََ
َ ض
َ سلا َ
َ يَ وَ ل
َ ة أَ وَ َََ
َ تَ س
َ يَ يَ ل
َ ه
َ يفَا
َ ح َ
َ لاَ ة
ََ لا
َ عَ ج
َ ز.
ََ
xv
َ
َ إَ د
َ راَ ةَ
َ سلا
َ يَ وَ ل
َ ةَ
َ يََ َ ه قَ د
َ رَ ةَ
َ لاَ بَ ن
ََ عَ ل َ ك
َ ساَى
َ تَ ث
َ م
َ را
َ لا َ
َ مَ و
َ لا
َ تمل َا
َ اَ ح
َ ةََ
لَ هَ
َ قَ با َ مل
َ لَ ة طَ ل ََ
َ ب
َ تا
َ
َ سلا
َ ح
ََ عَ َ ب
َ لاَى ل
َ وَ د
َ عَ َ ئا
َ دَ و
َ أَ دَ ن َ نَ
َ تَى
َ خَ ي َ أ
َ أَ و َ رَ
َ نَ ََ م
َ غَ ي
َ أَ ن َ رَ
ََ يَ ت
َ رَ ت
َ ب
ََ عَ ل
َ ذَى
َ ك َ ل
ََ راَ ت
َ ب
َ كا
ََ ف
َي
َ أَ ع
َ مَ لا
َ مَ ع َ هَ
َ حَ ق ََ ت
َ يَ ق
ََ ع
َ ئا
َ مَ ج َ دَ
َ زََ
لَ هَ ذ
َ هَ
َ مَ و َ لا
َ لا
َ م ل َا
َ سَ ت
َ ثَ مَ
رَ ةَ
َ تَ ق
َ وَ مَ
َ عَ ل
َى
َ تلا
َ وَ زا
َ بَ ي َ نَ
َ نَ
َ حَ ت َ لا
َ ف
َ ظا
َ
َ سلا َ ب
َ يَ وَ ل
َ لا َ ةَ
َ فاَ ي َ ك
َ وَ لا َ ةَ
َ سَ تَ
ثَ م
َ را
ََ لا
َ يَي َ ذ
َ حَ ق
َ قَ
َ عَ ئا
َ مَا َ د
َ جَ
زًَي
َ لَا
َ لَ بَ ن
َ ك .َ
َ يف
َ حَ ي َ
َ نَ
َ أَ ن
ََ ت وَ يَ ر َ طَ
ََ لا
َ مَ نَ ت
َ ج
ََ لَ ت َ تا
َ وَ فَ ي
َ فَ ئا َ رَ
َ ض
َ سلا َ
َ يَ وَ ل
َ صملا َ ةَ
َ رَ فَ ي
َ ةَ
َ س َ لا
َ لّ
َ مَ ي
َ أَ وَ َ ةَ
َ م لَ ع
َ جَ ة َ لا
ََ نَ ق
َ ه َ ص
َ مَا
َ زَا
َ ت َ لا
َ يَ رََ ََ غ
َ فاَ ي َ ك
َ نَ. َ ة
َ أَ م
َ ل
َ مَ،
َ نَ
َ لّ َ خ
َ ل
َ بلا َ
َ ح
ََ عَ ل َ ث
َ قَى
َ رَ را
ََ م َ تا
َ مَ ع َ ج
َ
َ لاَ ف
َ قَ ه
َ
َ س َ لا
َ لّ
َ م
َ دلاَي
َ وَ ل
َي (MFID)
َ مي َ
َ نََ َ ك أَ ن
ََ يَ ل
َ دَ
َ تَ ط
َ وَ يَ ر
َ دَ و ََ أ
َ تا
َ
َ عَ ق َي ف
َ وَ دَ
َ سلا
َ يَ وَ ل
َ ةَ
َ صملا
َ رَ فَ ي
َ سلا َ ةَ
َ لّ
َ مَ ي
َ وَ. َ ة
َ لاَ ذ
َ بَي
َ دَ وَ
رَ ه
َ وَ ََ ه
َ حلا
َ وَ ل َ ص
ََ عَ ل
َ ثَى
َ قَ ة
َ
َ مَ ة َ لا
ََ لَ ل
َ بَ نَ و
َ ك
َا
َ س َ ل
َ لّ
َ مَ يَ ة
َ
َ وَ ي
َ نََ َ كم أَ ن
ََ تَ ل
َ ب َ ع
ََ دَ
وَ ر
َ هَا
ًَما
َ يفَا
ََ تَ ع
َ زَ يَ ز
ََ إَ ق
َ ص َ ت
َ دا
َ
َ مَ ة َ لا
.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Lembaga Keuangan bank1 maupun lembaga keuangan bukan bank2 sangat berperan pada perekonomian masyarakat karena lembaga tersebut sebagai lembaga penyedia jasa keuangan bagi masyarakat seperti jasa penyimpanan dana, jasa penyediaan kredit, jasa penyediaan sistem pembayaran dan bentuk jasa lainnya.3 Bank merupakan lembaga yang dipercaya oleh masyarakat dari berbagai macam kalangan dalam menempatkan dananya secara aman. Pada dasarnya bank memiliki peran dalam dua sisi, yaitu menghimpun dana secara langsung dari masyarakat yang sedang kelebihan dana, dan menyalurkannya kepada yang membutuhkan, sehingga bank disebut dengan Financial Depository Institutional.4
Bank merupakan perusahan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan.
Aktivitas utamanya yang pertama adalah menghimpun dana masyarakat luas yang dikenal dengan istilah di dunia perbankan adalah kegiatan funding.
Setelah memperoleh dana dalam bentuk simpanan dari masyarakat, maka oleh perbankan dana tersebut diputarkan kembali dalam bentuk pinjaman atau lebih dikenal dengan istilah kredit (lending).
Keuntungan utama dari bisnis perbankan yang berdasarkan prinsip konvensional diperoleh dari selisih bunga simpanan yang diberikan kepada penyimpan dengan bunga pinjaman atau kredit yang disalurkan. Keuntungan
1 Menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Menurut pengertian ini bahwa bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan.
2 Semua lembaga atau badang keuangan yang menyelenggarakan jasa layanan keuangan selain bank seperti penggadaian, perusahaan sewa guna, koperasi simpan pinjam, pasar modal dan lembaga penyelenggara dana pensiun.
3 Iwayan Sudirman, Manajemen Perbankan Menuju Bankir Konvensional Yang Profesional, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hal.10
4 Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hal.30
2
dari selisih bunga ini di bank dikenal dengan istilah spread based. Apabila bank mengalami suatu kerugian dari selisih bunga, dimana suku bunga simpanan lebih besar dari suku bunga kredit, maka istilah ini dikenal dengan nama negative spread.5
Bank konvensional memandang uang sebagai sesuatu yang sangat berharga dan dapat berkembang dalam suatu waktu tertentu. Anggapan ini kemudian melahirkan konsep time value of money yang digunakan bank konvensional sebagai dasar operasi. Time value of money atau para ekonom menyebutnya sebagai positive time preference mendalilkan bahwa “nilai komoditas pada saat ini lebih tinggi dibanding nilainya di masa yang akan datang.”6
Adapun bank syariah7 menggunakan konsep profit and loss sharing.
Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang berfungsi sebagai organisasi perantara antara yang berkelebihan dana dan yang kekurangan dana yang dalam produk-produknya harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Bank syariah dengan sistem bagi untung dan rugi (profit and loss sharing) memiliki konsep yang sangat tepat di tengah kondisi ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat.8 Dalam operasionalnya, berkat konsep ini tentu nasabah yang mengelola dana dari pembiayaan bank syariah tidak akan mengalami beban berlipat.9
Suatu Negara yang menganut sistem ekonomi Islam secara kâffah (fully Islamic Economic System) berbeda kemajuannya dengan Negara yang menerapkan sistem ekonomi ganda (dual economic system). Tetapi yang paling penting dari keduanya adalah memiliki infrastruktur keuangan yang variatif.10 Infrastruktur keuangan yang tidak lengkap akan menghambat
5 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Rajawali Pers: 2013), hal. 25
6 Muhamad Nadratuzzaman, Produk Keuangan Islam di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2013), hal.3
7 Awal mula kegiatan bank syariah yang pertama sekali dilakukan adalah di Paksitan dan Malaysia pada sekitar tahun 1940-an. Kemudian di Mesir pada tahun 1963 berdiri Islamic Rural Bank. Di Uni Emirat Arab, baru berdiri Dubai Islamic Bank. Kemudian di Kuwait pada tahun 1977 bediri Kuwait Finance House yang beroperasi tanpa bunga. Langkah ini kemudian diikuti oleh Islamic International Bank For Investment and Development Bank.
Sementara di Indonesia atas prakarsa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1991 berdiri PT. Bank Muamalat Indonesia (MBI) yang akte pendiriannya ditandatangani tanggal 1 November 1991. Lih. Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (2013), hal. 166-167
8 Sumar’in, Konsep Kelembagaan Bank Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), hal.63
9 Muhamad Nadratuzzaman, Produk Keuangan Islam di Indonesia dan Malaysia, hal.3
10 Infrastruktur keuangan yang variatif dengan syarat menentukan profil keuntungan dan berkekuatan hukum syariah yang tidak mengandung riba dan unsur-unsur yang diharamkan.
3
kemajuan ditengah persaingan head to head dengan bank konvensional dalam merebut pangsa pasar.
Bank syariah memiliki empat fungsi: pertama, sebagai penerima amanah untuk melakukan investasi dana-dana yang dipercayakan oleh pemegang rekening investasi atau deposan atas dasar prinsip bagi hasil sesuai dengan kebijakan investasi bank; kedua, sebagai pengelola investasi atas dana yang dimiliki pemilik dana atau shâhibul mâl sesuai dengan arahan investasi yang dikehendaki oleh pemilik dana; ketiga, sebagai penyedia jasa lalulintas pembayaran dan jasa-jasa lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; keempat, sebagai pengelola fungsi sosial.11
Dalam beberapa hal bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dari sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan sebagainya. Akan tetapi, terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja.12
Sebagian besar dana operasional sebuah bank adalah milik orang lain, maka dana tersebut harus tersedia setiap saat apabila pemiliknya memerlukan. Dengan demikian, bank harus berusaha agar posisinya tetap dalam keadaan likuid setiap saat untuk memelihara kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut. Tetapi terlalu likuid, akan menyebabkan berkurangnya keuntungan, bahkan bisa menimbulkan kerugian. Sebaliknya, jika bank terlalu mengutamakan keuntungan, bisa menyebabkan kehilangan kepercayaan masyarakat, akibatnya bisa pula menimbulkan kerugian yang besar.13
Dengan kata jika sebuah instrumen keuangan mengandung riba atau elemen yang diharamkan, maka hukum transaksinya tidak sah. Seperti seorang yang berinvestasi kepada perusahaan yang memproduksi minuman beralkohol, meskipun menggunakan akad investasi yang diperbolehkan menurut hukum syariah, tetapi karena investasinya untuk memproduksi barang haram maka hukumnya menjadi tidak sah. Belum lagi model transaksi yang sudah jauh dikembangkan dalam dunia perekonomian moderen, menuntut para ahli fikih ekonomi Islam dapat menjawab dengan merekonstruksi model-model akad klasik agar aktual menjawab masalah zaman.
11 Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 112
12 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani:2001), hal.29
13 Herman Darmawi, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara: 2012), hal. 16
4
Karena bank menggunakan dana orang lain, maka sesungguhnya bank bertanggungjawab atas dana tersebut pada saat pemiliknya menarik dananya.
Meskipun, penarikan dana tergantung pada situasi subjektif pemiliknya. Bank mendapatkan dana bukan dengan cara hibah dan bukan pula dengan cara pinjaman tanpa bunga. Tetapi umumnya bank memperoleh dana dengan cara pinjaman berbunga.14 Bank menghadapi dua keadaan yang berlawanan antara likuiditas (suyûlah) dan keuntungan (ribhiyyah), maka bank harus menjaga keseimbangan dan tidak mengorbankan tuntutan diantara keduanya.15
Gambaran tentang likuiditas bank, yaitu gambaran kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya setiap saat. Jumlah alat bayar yang dimiliki oleh bank yang tertuang dalam akun aktiva bank merupakan kekuatan membayar di balik kewajiban keuangan yang ada. Alat likuid tersebut meliputi kas, simpanan giro di bank lain, tabungan di bank lain, deposito di bank lain, pinjaman di bank lain dan sejenisnya.16
Sulit untuk mengatakan berapakah sebenarnya tingkat likuiditas yang ideal untuk suatu bank. Tingkat likuiditas yang ideal berarti posisi likuiditas yang seimbang. Tetapi baik bank konvensional maupun bank syariah wajib mengelola likuiditasnya karena pengelolaan likuiditas tersebut diperlukan untuk memenuhi kewajiban bank, terutama kewajiban jangka pendek.17
Likuiditas adalah suatu istilah yang dipakai untuk menunjukan persediaan uang tunai dan aset lain yang dengan mudah dijadikan uang tunai atau suatu keadaan yang berhubungan dengan persediaan uang tunai dan alat- alat likuid lainnya yang dikuasasi bank yang bersangkutan. Secara lebih luas likuiditas dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai.
14 Abdul Mun’im Radhi dan Faraz Izzat, Iqtishadiyât al-Nuqûd wal Bunûq, (Kairo:
Maktabah ‘Ain as-Syams: 2001), hal. 3
15 Abdul Ghoffar Hanafy, Al-Aswâq wal-Muassasât al-Mâliyah, (Iskandariyah: Dâr al- Jâmiah:2008), hal.53
16 Aset yang likuid adalah aset yang berupa uang tunai dan yang dengan mudah dapat diuangkan dengan sedikit atau tanpa risiko kerugian. Aset dalam neraca disusun mulai dari aset yang paling likuid sampai aset yang paling tidak likuid. Kas termasuk aset yang paling likuid dan dibawah kas adalah aset yang lain yang mudah diubah menjadi kas (melalui penjualan atau penagihan) dikategorikan sebagai aset yang likuid. Lih. Herman Darmawi, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hal.58., dan lih. I Wayan Sudirman, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Kencana: 2013), hal.158
17 Khaerul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, (Bandung: Pustaka Setia: 2013), hal.185
5
Likuiditas penting bagi bank untuk menjalankan transaksi bisnis sehari-hari, mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, memuaskan permintaan nasabah terhadap pinjaman, memberikan fleksibilitas dalam meraih kesempatan investasi yang menarik dan menguntungkan. Likuiditas yang tersedia harus cukup, tidak boleh terlalu kecil sehingga mengganggu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga tidak boleh terlalu besar karena akan menurunkan efisiensi dan berdampak pada rendahnya tingkat profitabilitas.18
Studi yang disponsori oleh Bahrain Monetary Agency (BMA, 2001) menunjukan bahwa secara umum, bank syariah menghadapi fenomena kelebihan likuiditas. Total aset bank syariah dalam sampel sebesar 13,6 miliar dolar, dan sebesar 6,3 miliar dolar ditemukan sebagai aset yang likuid.
Lembaga keuangan syariah yang memiliki aset gabungan sebesar 40 miliar dolar, aset likuidnya adalah sebesar 18,61 miliar dolar. Hasil penelitian menunjukan bahwa bank konvensional, secara rata-rata memegang likuiditas 46,5% lebih rendah dari bank syariah.19
Bank syariah menghadapi masalah likuiditas lebih besar jika dibandingkan dengan bank konvensional,20 hal ini disebabkan karena beberapa alasan; pertama, sebagian besar investasi dalam bank syariah disalurkan dalam bentuk profit and loss sharing, konsep ini sesungguhnya mengakibatkan pendapatan yang tidak tetap bagi perbankan. Meskipun, pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena sesungguhnya dalam kenyataannya, investasi unggulan bank syariah bukan sistem profit and loss sharing; kedua, bank syariah seringkali mengalami masalah likuiditas karena besarnya bagian untuk asset dalam bentuk non-liquid; ketiga, bank syariah kesulitan untuk menghadapi risiko perubahan suku bunga, karena dalam sistem ini tidak dibenarkan praktik hadging; terakhir, risiko yang timbul
18 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani:2001), hal.179
19 Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen Risiko Lembaga Keuangan Syariah, diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin, (Jakarta: Bumi Aksara:2008), hal.188
20 Guna menjawab masalah likuiditas perbankan syariah harus ditempuh beberapa strategi diantaranya; pertama, melakukan penyebaran informasi secara luas kepada masyarakat bahwa dana yang disimpan di bank syariah dijamin oleh pemerintah, hal ini guna menjaga keseimbangan antara dana simpanan dengan dana pembiayaan, jangan sampai ada anggapan bahwa meminjam uang di bank syariah lebih nyaman dibanding dengan menyimpan uang.
Karena tingkat risiko pembiayaan ditanggung bersama; kedua,menjalin kerjasama antar bank syariah, terutama dengan perbankan syariah luar negeri yang memiliki dukungan permodalan, kualitas aset, kualitas manajemen dan ketersediaan lukuiditas yang cukup seperti IDB, Faisal Islamic Bank dan Bank Islam Malaysia Barhad. Kerjasama bisa berupa pembelian saham atau MoU tentang kerjasama teknologi, operasi, konsolidasi dan merger.
6
akibat perubahan kebijakan fiskal dan moneter dari pemerintah yang berakibat bukan hanya pada bank konvensioanl tapi juga pada bank syariah yang menerapkan sistem bagi hasil.21
Selain itu, masalah likuiditas bank syariah disebabkan karena lambatnya pengembangan instrumen keuangan syariah. Bank syariah tidak akan mampu mendapatkan dana dari pasar secara cepat. Besarnya risiko yang dihadapi oleh bank syariah, diperlukan alat likuditas yang memadai. Bank syariah wajib mengelola likuiditasnya karena pengelolaan likuiditas tersebut diperlukan untuk memenuhi kewajiban bank.
Selain itu dapat kita lihat dari gejala yang antara lain; tidak tersedianya kesempatan investasi segera atas dana-dana simpanan yang diterimanya. Dana-dana tersebut terakumulasi dan menganggur untuk beberapa hari sehingga mengurangi rata-rata pendapatan. Kesulitan mencairkan dana investasi yang sedang berjalan, pada saat ada penarikan dana dalam situasi kritis. Akibatnya bank-bank syariah menahan alat likuid- nya dalam jumlah yang lebih besar dari pada rata-rata pebankan konvensional.22
Rekayasa dan inovasi finansial merupakan kekuatan yang mendorong sistem keuangan global ke arah efisiensi ekonomi yang lebih besar. Era 1980- an menjadi saksi pengenalan inovasi finansial dalam pasar finansial global.
Inovasi finansial mentransformasikan pasar perbankan dan finansial konvensional menjadi pasar yang kompleks, yang menghadirkan likuiditas tingkat tinggi.23
Tantangan dunia perbankan syariah adalah dapat menghadirkan produk-produk finasial yang inovatif dan mampu menjawab kebutuhan finansial di tengah kompleksitas dan persaingan bisnis di sektor keuangan.
Instrumen keuangan bank syariah terus dikaji sesuai dengan tuntutan bisnis dan kebutuhan masyarakat. Secara literatur produk-produk finasial
21 Mohd Daud Bakar, “Essensial Reading In Islamic Financial” dalam Sumar’in, Konsep Kelembagan Bank Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), hal.110
22 Veithzal Rifai, at al, Islamic Banking and Finance, (Yogyakarta:BPFE, 2012),h. 485
23 Tuntutan terhadap peningkatan likuiditas muncul dari makin tidak pastinya harga aset finansial akibat runtuhnya sistem fixed exchange rate, guncangan minyak, pengeluaran pemerintah yang berlebihan, dan kebijakan yang memicu inflasi. Inovasi dan pertumbuhan dalam pasar finansial dipengaruhi lebih jauh oleh kemajuan teori keuangan, terobosan dalam pemerosesan informasi dan teknologi komunikasi serta deregulasi pasar finansial. Lih.Zamir Iqbal dan Abas Mirakhor, An Intriduction To Islamic Finance Theory And Practice, terj.
A.K. Anwar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 255.
7
perbankan syariah dapat digali dari kitab-kitab fikih klasik yang kemudian disinkronkan dengan tuntutan transaksi keuangan moderen. Walaupun seringkali produk perbankan syariah pada akhirnya harus menyerah dengan kondisi sosio etik masyarakat yang rasional dan pragmatis.24
Bank Indonesia yang didukung oleh Dewan Syariah Nasional telah menerbitkan beberapa instrumen keuangan yang berprinsip syariah dengan peraturan pelaksanaannya. Instrument tersebut adalah Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI)25, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)26 dan Fasilitas Pembiyaan Jangka Pendek Bagi Bank Syariah (FPJPS).27
24 Implementasi transaksi yang sesuai dengan paradigma dan asas transaksi syariah harus memenuhi karakteristik diantaranya, uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai komoditas, tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang, karena keuntungan yang didapat dalam kegiatan usaha terkait dengan risiko yang melekat pada kegiatan usaha tersebut dengan prinsip al-ghunmu bil ghurmi, transaksi dilakukan berdasar
kan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta untuk keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain sehingga tidak diperkenankan menggunakan standar ganda harga untuk satu akad serta tidak menggunakan dua transaksi bersamaan yang memiliki keterkaitan dalam satu akad. Lih. IAI, Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah, (2007)
25 Dilatarbelakangi oleh pentingnya pengendalian moneter berdasarkan prinsip syariah dan sebagai salah satu upaya mengatasi kelebihan likuiditas bank syariah, sehingga diperlukan instrumen yang diterbitkan bank sentral yang sesuai dengan syariah. SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang didasarkan pada sistem bunga tidak boleh dimanfaatkan oleh bank syariah, maka DSN-MUI mengeluarkan fatwa No.36/DSN-MUI/X/2002 tentang Sertifikat Wadi’ah Bank Indonesia (SWBI). Dalam fatwa tersebut dikatakan bahwa Bank Indonesia selaku Bank Sentral boleh menerbitkan instrumen moneter berdasarkan prinsip syariah yang dinamakan SWBI, yang dapat dimanfaatkan oleh bank syariah untuk mengatasi kelebihan likuiditasanya. Akad yang digunakan dalam SWBI adalah akad wadi’ah dan SWBI tidak boleh diperjualbelikan. Lih. Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, (Jakarta: DSN- MUI,2006), Cet.IV, jilid 1, hal.236
26 Adalah Surat Berharga Negara atau dapat disebut Sukuk Negara adalah Surat Berharga Negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti kepemilikan atas bagian (ةصح) dari aset SBSN baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Aset SBSN adalah objek pembiayaan SBSN dan/atau Barang Milik Negara (BMN) yang memiliki nilai ekonomis, berupa tanah dan/atau bangunan yang dalam rangka penerbitan SBSN dijadikan dasar penerbitan SBSN. Imbalan adalah semua pembayaran yang diberikan kepada Pemegang SBSN yang dapat berupa ujroh (uang sewa), bagi hasil, atau bentuk pembayaran lain sesuai dengan akad yang digunakan sampai dengan jatuh tempo SBSN. Lih. Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, (Jakarta: DSN-MUI,2006), Cet.IV, jilid 2, hal.174
27 Bank syariah yang mengalami kesulitan pendanaan jangka pendek dapat mengajukan FPJPS apabila memiliki rasio kewajiban penyediaan modal minum paling rendah 8 persen
8
Instrumen yang saat ini tersedia untuk melakukan manajemen likuiditas bank syariah melalui pasar uang antarbank syariah (PUAS) 28 antara lain, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Deposito Antar Bank Syariah, Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank Syriah (SIMA), Fasilitas Bank Indonesia Syariah (FASBIS), Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek Bagi Bank Syariah (FPJPS) dan Fasilitas Likuiditas Intrahari Bagi Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah (FLIS).29
Sementara pemerintah Sudan telah mengeluarkan beberapa instrumen nonfiskal syariah dalam rangka pengendalian likuiditas perekonomian.
Insrtumen pertama adalah Central Bank Musharaka Certificates (CMCs) yang dikeluarkan pada Juni 1998. Instrumen ini setara dengan sertifikat bank sentral, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang menggunakan akad berpola bagi hasil, yaitu musyârakah. Instrument kedua adalah Government Musharaka Certifikates (GMCs) yang dikeluarkan pada kuartal terakhir tahun 1998. Instrument ini setara dengan Treasury Bills atau Surat Utang Negara (SUN) yang juga menggunakan akad berpola bagi hasil musyârakah.
Instrument ketiga yang dikeluarkan pemerintah Sudan adalah Government Investment Certificates (GICs) yang diperkenalkan pada tahun 2003.
Instrument ini setara dengan Government Bonds atau obligasi pemerintah yang menggunakan akad berpola bagi hasil.30
Malaysia sejak awal periode 1980-an, setelah berlakunya undang- undang seperti Securities Commission Act (Act 498) 1983 dan kemudian Securities Trading System (STS) pada 1993, telah memberikan peluang yang sangat besar bagi Islamic Money Market Islamic Money Market yang lebih maju dan dapat diterima dalam transaksi perdagangan. Demikian juga di kawasan Timur-Tengah, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, dengan model dan memenuhi modal sesuai profil risiko bank. (Peraturan BI No. 14/20/PBI/2012 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Syariah Bagi Bank Umum Syariah)
28 Bank syariah dapat mengalami kekurangan likuiditas disebabkan perbedaan jangka waktu antara penerimaan dan penanaman dana atau kelebihan likuiditas yang dapat terjadi karena dana yang terhimpun belum dapat disalurkan kepada pihak yang memerlukan. Sehingga dalam rangka efisiensi pengelolaan dana, bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah memerlukan adanya pasar uang antarbank. Sementara pasar yang ada berdasarkan bunga. Pasar uang antar bank yang dibenarkan adalah yang berdasarkan prinsip- prinsip syariah dan peserta pasar uang syariah adalah:pertama, bank syariah sebagai pemilik atau penerima dana; kedua, bank konvensional hanya sebagai pemilik dana. Adapun akad yang digunakan dalam PUAS adalah mudhârabah, musyârakah, qard, wadî’ah dan sharf.
Lih. Lih. Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, (2006), Cet.IV, jilid 1, hal.237
29 Adiwarman A. Karim, Bank Islam; Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hal.446
30 Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 136
9
pembiayaan pengamanan Islam yang lebih popular dalam bentuk sertifikat murâbahah, sertifikat ijârah, dan sertifikat musyârakah.31
Berikut daftar instrumen keuangan bank syariah dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:32
Sertifikat Penjelasan Singkat
Declining
Partisipation Certificate
Sertifikat musyârakah yang didesain oleh IFC untuk menyediakan dana bagi perusahaan yang menggunakan akad mudhârabah di Pakistan
Islamic Deposit Certificate Berdasarkan prinsip mudhârabah, dengan menerbitkan sertifikat ini perusahaan penerbit bisa memanfaatkannya untuk tujuan umum
Installment Sale Debt Certificate
Ditujukan untuk membiayai pembelian big-ticket dengan membuat kumpulan dana (pool) untuk kontribusi dana-dana kecil. Sertifikat ini merepresentasikan jumlah pokok dana yang diinvestasikan plus pendapatan murabahah, kebanyakan diterbitkan di Malaysia sebagai Islamic Debt Certificates
Islamic Investment Certificates Hampir mirip dengan Islamic Deposit Certificate, tetapi dana yang dikumpulkan hanya untuk proyek tertentu
31 Nazaruddin Abdul Wahid, Sukuk;Memahami dan Membedah Obligasi Pada Perbankan Syariah, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media: 2010), hal.15
32 Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen Risiko Lembaga Keuangan Syariah, diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin, (Jakarta: Bumi Aksara:2008), hal.189-190
10
Istishna’ Debt Certificate Seperti halnya Installment Debt Certificate, sertifikat ini merepresentasikan modal pokok investasi investor dalam proyek istishna’
plus pendapatan murâbahah dan ditujukan untuk membiayai proyek infrastruktur
Leasing Certificates Merepresentasikan kepemilikan aset yang disewakan dalam periode tertentu.
Karena aset itu marketable sehingga sertifikat dapat diperjualbelikan
Mudhârabah Certificate Merepresentasikan kepemilikan dalam perusahaan tanpa adanya hak suara, dan bisa diterbitkan beberapa perusahaan
Muqâradhah Certificates Merupakan hibridasi antara mudharabah Certificates dan Declining Partisipation Certificates Declining Partisipation Certificates yang diterbitkan pemerintah untuk pengembangan proyek sarana publik. Sistem regulasi terkait dengan sertifikat ini telah diaplikasikan di Jordan periode 80-an, tetapi kemudian tidak diterbitkan lagi
Musyarakah Certificates Diterbitkan untuk saham biasa bagi bisnis syariah. Di Iran, instrumen ini diterbitkan untuk mengembangkan proyek infrastruktur. Sedangkan di Sudan, sertifikat ini merupakan instrumen kebijakan moneter
National Partisipation Diajukan oleh staf IMF sebagai instrumen untuk memobilisasi sumber
11
Certificates dana untuk sektor publik. Sertifikat ini berdasarkan konsep musyarakah certificates yang diterbitkan di Iran.
Sertifikat ini merepresentasikan kepemilikan aset sektor publik di sebuah negara
Property Income Certificates Merupakan nota pendapatan mudharabah dengan jaminan pendapatan dari pemilik property dan tidak memiliki hak suara
Partisipation Term Certificates Diterbitkan Bankers’ Equity Pakistan pada tahun 80-an. Sertifikat ini memiliki karakteristik layaknya sertifikat declining musyarakah dan muqaradah
Rent Sharing Certificates Pemegang sertifikat ini berhak mendapatkan bagian income dari aset yang disewakan oleh perusahaan yang menerbitkan aset
Revenue Sharing Certificates Diterbitkan di Turki untuk membiayai proyek infrastruktur swasta
Salam Certificates Pemegang sertifikat ini bisa mengklaim komoditi, barang, jasa yang dispesifikasi pada tanggal tertentu; sebagai kompensasi dari pembayaran yang dilakukan
Two-step Contracts- Leasing, Murabahah, Istishna’, Salam
Dalam kontak ini, bank membayar kepada supplier secara berkala (cicilan) dan menciptakan fixed-liability dalam neraca, karena telah melakukan
12
pembayaran di muka kepada supplier
Hyibrid Certificates Instrumen ini memungkinkan pemegang debt certificates untuk menukarkan sertifikat dengan aset lain yang diterbitkan perusahaan, atau entitas lain yang disetujui dalam hybrid certificates
Pada tahun 2010 Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy menyelenggarakan sidang ke-2033 dengan menghadirkan nara sumber tokoh-tokoh pemikir perbankan syariah dengan tema pembahasan likuiditas perbankan syariah (idâratussuyûlah). Mereka antara lain berpendapat:
1. Ali Muhyiddin Al-Qurrah Daghi34 berpendapat bahwa likuiditas dalam perspektif fikih dibagi menjadi dua; pertama, nuqûd (uang tunai) dan berikutnya adalah masalah yang tengah dikaji oleh para ahli fikih tentang urgensi bagaimana cara mendapatkan dana liquid dengan menggunakan skema mudhârabah, syirkatul amwâl, likuidasi perusahan dengan cara pengalihan semua aset menjadi uang tunai, zakat emas dan perak, komoditas perdagangan, saham perusahaan dimana zakatnya dibayar dalam bentuk uang tunai, begitu juga zakat binatang ternak yang dibayarkan dengan uang tunai; kedua, kemampuan lembaga keuangan memenuhi kebutuhan likuiditasnya dalam bentuk pengalihan aset menjadi
33 Sidang ke-20 Lembaga Fikih Islam-Râbithah ‘Alam Islâmy yang dilaksanakan di Mekkah, KSA. Pada 25-29 Desember 2010 dengan menghadirkan nara sumber diantaranya Aliy Muhyiddn Al-Qurrah Dhagi dengan makalah berjudul, “Idarâratussuyûlah fil Muassasat al- Mâliyah al-Islamyah”, Sauqi Ahmad Dunya dengan makalah berjudul, Idarâratussuyûlah fil Mashraf al-Islamy, Husaen Husaen Syahatah dengan makalah berjudul, “Idâratussuyûlah fil Masharif al-Islâmiyah; Al-Ma’âyîr wal-Adawât”, Akram Laluddin dengan makalah berjudul, “Idâratussuyûlah fil Masharif al-Islâmiyah;Dirâsah Tahlîliyah Naqdiyah” dan Ali Ahmad Assalus dengan judul, “Idarâratussuyûlah fil Mashraf al-Islamy”.
34 Lahir di desa Daghi pada tahun 1949, silsilah nasabnya menyambung sampai ke Sayyidina Husein, menyelesaikan S1 dari Fakultas Syariah Wal Qonus, Universitas Al-Azhar, Mesir pada tahun 1975, meraih gelar master pada Universitas yang sama pada tahun 1980, begitu juga dengan gelar doktornya pada tahun 1985 dengan desertasi masalah muâmalah mâliyah dengan predikat imtiyah bimartabatisysyarof, sejumlah jabatan ia duduki diantaranya sebagai anggota Majelis Syari’ Haiatul Muhâsabah Wal Murâja’ah Lil Muassasât Al-Mâliyah Al- Islâmiyah/AAOIFI (sumber: https://ar.wikipedia.org/wiki/ diakses pada tanggal 14 Agustus 2016)
13
uang tunai baik secara hakikat maupun hukum. Jadi instrumen keuangan yang berupa uang tunai dalam pengelolaan likuiditas adalah neraca berjalan, giro, saham dan sukuk Islam. Sedangkan transaksi keuangan yang bukan berupa uang tunai untuk pengelolaan likuiditas adalah transaksi istishna’, istishna’ muwaji, salam dan salam muwaji’. Dan alangkah sempurna jika akad-akad tersebut diimplementasikan dalam penerbitan sukûk.
2. Muhammad Taqiy Al-Usmani35 berpendapat bahwa sukûk merupakan instrumen pengelolaan likuiditas. Dasar pemikiran dibalik penerbitan sukûk adalah bekerjasama dengan para pemegang sukûk untuk mendapatkan keuntungan dalam pembentukan perusahaan berskala besar di bidang perdagangan dan industri. Dan jika perusahaannya sudah berjalan, maka penerbitan sukûk harus mencerminkan kepemilikan yang sempurna bagi para pemegangnya.
3. Syauqi Ahmad Dunya36 berpendapat bahwa menuju kepada sistem yang komprehensif dalam penanganan masalah likuiditas perbankan syariah yaitu dengan mengembangkan instrumen likuiditas yang diterima secara hukum syariah yaitu; pertama, sukûk investasi seperti sukûk muqâradhah, sukûk ijârah dan sukûk salam sebagai pengganti dari anjak piutang (ba’i al-duyûn); kedua, takhshîs wadâ’i semacam giro khusus yang berjangka waktu pendek tetapi memiliki fungsi waktu yang sedang dan bahkan panjang. Skema akad yang digunakan adalah mudhârabah musytarokah muthlaqoh; ketiga, membangun kerjasama antar bank syariah dengan mendirikan sundûq musytarak lissuyûlah dengan menggunakan skema akad qardulhasan.
4. Akram Laluddin37 berpendapat bahwa likuiditas dibagi menjadi dua;
pertama likuiditas naqdiyah yaitu meliputi uang tunai dalam bentuk mata uang negara atau asing yang tersedia di bank, giro di bank lain dan di bank sentral serta sejumlah cek; kedua, likuiditas syibhunnaqdiyah yaitu saham dan sukûk yang memiliki jangka waktu pendek dan mudah dicairkan baik dengan cara dijual atau digadaikan.
35 Nama lengkap Muhammad Taqiy bin Muhammad Syafi’ bin Muhammad Yasin bin Khalifah Tahsin Aliy bin Mayanji Imam Aliy, kelahiran India pada tahun 1943, salah seorang ulama Sunny yang kini menjabat sebagai wakil ketua MFI. (sumber:
https://ar.wikipedia.org/wiki/ diakses pada tanggal 14 Agustus 2016)
36 Mantan Dekan Fakultas Bisnis Universitas Al-Azhar Mesir/Dosen Ekonomi
37 Penasehat ISRA (International Shari’ah Research Academy For Islamic Finance) Malaysia
14
5. Ali Ahmad Assalus berpendapat bahwa sudah maklum perbankan syariah dihadapkan pada kelebihan dan kekurangan likuiditas. Sukûk, saham, surat-surat komersial termasuk instrumen likuid atau semi likuid yang dengan mudah membeli atau menjualnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan likuiditas. Begitu termsuk aset likuid yaitu giro di bank lain dan di bank sentral.
6. Husain Husain Syahatah38 berpendapat bahwa instrumen keuangan untuk likuiditas perbankan syariah adalah: pertama, sertifikat investasi yang dikeluarkan oleh lembaga penjaminan investasi Islam yang mengacu kepada lembaga keuangan Islam; kedua, sertifikat investasi Islam yang dikeluarkan oleh sebagian lembaga keuangan Islam yang dalam implementasinya mudah untuk dijual diantara individu dan lembaga;
ketiga, sukûk investasi yang dikeluarkan oleh sebagian lembaga keuangan Islam berdasarkan ketentuan syariah Islam yang dapat dijual pada lembaga keuangan Islam ketika membutuhkan pengelolaan likuiditas;
keempat, obligasi mudhârabah Islam yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan Islam. Adapun instrumen yang paling likuid adalah saldo kas di bank syariah, saldo kas di bank sentral, valuta asing dan uang kartal, cek, nota tagihan, surat-surat komersial dan surat-surat berharga seperti saham dan sukuk investasi.
Pada tahun 2009 Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Ad-Dualy (MFID) menyelenggarakan sidang di Dubai dengan mengundang Syaikh ‘Ajil Jasim Annasyami39 untuk membahas masalah tauriq dan taskik (skuritas) dan implementasinya. Dalam kesimpulannya ia mengusulkan agar segera dilakukan pengkajian strategis terhadap pasar perdagangan Islam, pasar modal Islam, penerbitan sukûk, surat-surat berharga Islam yang memiliki nilai keuntungan ekonomis dan dapat diperjualbelikan. Sehingga terutama sukûk dapat memenuhi kebutuhan likuiditas. Pada saat kelebihan likuiditas sukuk dibeli dari pasar modal syariah dan pada saat kekurangan likuiditas sukuk dijual kembali.
38 Kelahiran Mesir pada tahun 1939, penasehat pada lembaga Muamalah Mâliyah Assyar’iyyah dan Konsultan Keuangan serta dosen Universitas Al-Azhar (sumber:
https://ar.wikipedia.org/wiki/ diakses pada tanggal 14 Agustus 2016)
39 Nama lengkap Syaikh Ajil Jasim Sa’ud Al-Nasami Abu Yasir berasal dari Kuwait. Belajar tentang fikih sampai program doktoral. Gelar doktornya diperoleh dari Universitas Al-Azhar Mesir dalam bidang ushul fikih. Ia mendedikasikan keilmuannya pada Universitas Kuwait.
(sumber:https://ar.wikipedia.org/wiki/, diakses tanggal 15 Agustus 2016)