دا
D. Kajian Pustaka
Dari penelusuran peneliti tentang masalah yang relevan untuk membahas topik diatas adalah diantaranya sebuah desertasi yang diajukan oleh Muhammad Shabri Zakariya44 dengan judul, Idâratussuyûlah Fil Mashârif Al-Islâmiyah: Malaysia Namudzajan, (Internatonal Islamic University Malaysia, Malaysia, 2007) menuliskan bahwa likuiditas perbankan syariah adalah keadaan yang sangat sulit dimana perbankan syariah dihadapkan pada kemampuan perbankan konvensional dalam persoalan yang sama dapat mengatasinya meskipun dengan dasar ribawi, tetapi perbankan syariah tidak boleh menyerah terhadap sistem ribawi. Maka perbankan syariah harus menjaga investasi likuiditas di tengah tidak adanya instrumen liquiditas syariah (fiqdânul alîyat al-islâmiyah). Muhammad Shabri Zakariya menerangkan konsep likuiditas perbankan konvensional lalu memperbandingkannya dengan contoh penerapan likuiditas pada bank-bank syariah di Malaysia dan menilainya dari sudut pandang fikih.
Berbeda dengan penelitan Muhammad Shabri Zakariya dengan yang akan penulis lakukan terkait masalah likuiditas. Dari rumusan pertanyaan yang diajukan oleh Muhammad Shabri Zakariya bermuara pada bagaimana contoh implementasi likuiditas perbankan syariah pada bank-bank syariah di Malaysia. Sementara penulis akan memfokuskan pada penelitian hasil keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Ad-Dualy (MFID) terkait masalah likuiditas perbankan syariah. Metode yang digunakan oleh Muhammad Shabri Zakaria adalah metode analisis kritis untuk dapat menjawab rumusan pertanyaan. Sementara penulis akan menggunakan Metode deskriptif.
Motede deskriptif digunakan untuk menggambarkan data terpilih yang relevan secara objektif dan apa adanya.
Selain karya Muhammad Shabri Zakaria ada beberapa karya lain yang relevana diantaranya:
44 Muhammad Shabri Zakariya, Idâratussuyûlah fil mashârif al-islâmiyah;Malaysia namûdzan, (IIU Malaysia: Malaysia: 2007)
21
1. Sirin Samih Abu Rahmah dalam tesisnya yang berjudul, Al-Suyûlah Al-Mashrafiyah Wa atsaruhâ Fil-‘âid Wal-Mukhâtharah;Dirâsah Tathbîqiyah ‘Alal Mashârif Al-Tijâriyah Al-Falasthîniyah, (Universitas Islam Ghaza, 2009) menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh antara likuiditas dan risiko atau indikator risiko likuiditas pada Bank Komersial Palestina. Penulis menyarankan agar Bank Komersial Palestina melakukan pengembangan produk investasi untuk meningkatkan profitabilitas dan menekan risiko kerugian.
Berbeda dengan penelitian yang akan penulis lakukan dari sisi tujuan bahwa Sirin Samih Abu Rahmah ingin mengetahui kemampuan manajemen perbankan dalam mengelola likuditas dan pengaruhnya terhadap pendapatan dan kerugian (return and risk) dengan objek penelitian Bank Komersial Palestina. Sementara yang akan ditulis oleh penulis adalah untuk mengetahui keputusan Majma’
Al-Fiqh Al-Islamy Ad-Dualy (MFID) terkait masalah likuditas perbankan syariah. Dari sistematika penulisan, Sirin Samih Abu Rahmah merunut permasalahan likuiditas dari manajemen likuditas perbankan. Sementara penulis tidak menyinggung masalah konsep manajemen likuditasnya. Penulis fokus pada bahan-bahan yang berkaitan dengan likuiditasnya saja.
2. Usamah Abdul Halim45 dalam tesisnya yang berjudul, Sukûkul istismâr wa dauruha attanmawî fil iqtishâd, (Ma’had Dakwah Al- Jami’i Liddirosah Al-Islamiyah, Libanon, 2009) menuliskan bahwa sanadât dasar portofolio investasi dalam sistem kapitalisme yang termasuk dalam kategori riba. Sebagai penggantinya ada dua skema yang bisa dikembangkan yaitu; pertama, qardul hasan (pinjaman);
kedua, berserikat dalam keuntungan dan kerugian, prinsip ini berlaku pada semua transaksi bisnis, perserikatan dan akad sewa (ijârah).
Sebagai pengganti dari sanadât adalah sukûk investasi dengan segala macam-macamnya (sukûk istismâr bianwâ’iha al-mukhtalifah).
Usamah Abdul Halim menyimpulkan bahwa sukûk akan menjadi instrumen penting dalam realitas bisnis karena ia di satu sisi menyempurnakan konsep saham dan pada sisi lain melengkapi bursa.
Penelitian Usamah Abdul Halim berbeda dengan yang akan penulis teliti dari sisi pembatasan masalah. Usamah Abdul Halim membatasi permasalahan sukûk pada apa yang sudah menjadi
45 Usamah Abdul Halim Al-Jauriyah, Sukûkul istsmâr wa daûruha al-tanmawî fil iqtishâd, (Mahad Dakwah Al-Jami Liddirosah Islamiyah: Libanon, 2009)
22
kesepekatan ulama pada lembaga-lembaga fikih global, sementara penulis akan memfokuskan pada keputusan Majma’ Al-Fiqh Al- Islamy Ad-Dualy (MFID), meskipun ketika meneliti tentang masalah sukûk yang menjadi pembahasan para ulama MFID menjadi rujukan yang sama, hanya pengembangannya yang berbeda, karena penelitian penulis bukan kepada sukûk-nya tetapi pada masalah likuiditas perbankan syariah yang di dalamnya terkait permasalahan sukûk. Dari sisi metode penulisan, Usamah Abdul Halim menggunakan metode kombinasi antara metode deskriptif dan induktif. Berbeda dengan penulis yang akan menggunkan metode deskriftif.
3. Hasil riset Ibrahim Abdul Latif Al-Abidi46 yang berjudul, Haqîqatu bay’ al-tawarruq al-fikhi wa al-tawarruq al-mashrafi, (Uni Emirat Arab: Dâirotussyuunil Islamiyyati wal-‘Amal al-Khairi, 2008) yang membahas tentang masalah konsep tawarruq. Menurutnya telah terjadi kekeliruan di kalangan praktisi perbankan dalam mengimplementasikan tawarruq. Sehingga menimbulkan kebingungan dan kontradiksi antara teori dan praktek. Karena itu ia berkesimpulan bahwa tawarruq yang telah dibahas oleh para ulama klasik adalah sesuatu yang berbeda dengan tawarruq yang diimplementasikan oleh bank. Karena itu tawarruq fiqhi hukumnya boleh, sedangkan tawarruq mashrafi hukumnya haram karena telah keluar jauh dari substansi tawarruq fiqhi. Alasan keharamannya adalah formasi jual beli dalam tawarruq perbankan bertujuan riba dan pihak bank tidak memenuhi syarat sebagai wakil serta barang yang diperjualbelikan tidak ada di tangan bank.
Berbeda dengan hasil penelitian Ibrahim Abdul Latif Al-Abidi tentang praktik tawarruq dalam dunia perbankan syariah yang ramai diperpincangkan seputar keabsahannya menurut hukum fikih. Penulis memandang terlepas dari perdebatan para ulama mutakhir seputar hukum fikih tawarruq, yang pasti tawarruq dapat menjadi solusi bagi kesulitan perbankan syariah dalam mengatasi masalah likuiditas. Hal ini dapat dirujuk pada keputusan MFID tentang masalah tawarruq.
Tinggal bagaimana pengembangan implementasinya dalam dunia perbankan syariah.
46 Ibrahim Abdul Latif, Haqîqatu Bay’ al-Tawarruq al-Fiqhi wal-Tawarruq al-Mashrafi, (Uni Emirat Arab: Dâirotu al-Syuuni al-Islamiyyati wal-‘Amal al-Khairi: 2008)
23