PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Signifikansi Penelitian
LANDASAN PERSPEKTIF
Hasil Penelitian Terdahulu
Konsep dan Kajian Teori yang Relevan
Terutama yang terkait dengan hak atas tanah dan sumber daya alam dari masyarakat lokal (masyarakat adat dan komunitas). Maka saat itu pemerintah Orde Baru berusaha semaksimal mungkin melakukan tindakan represif terhadap masyarakat yang menuntut haknya atas tanah.
METODE PENELITIAN
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
- Keabsahan Data
- Sistematika Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, pola kepemimpinan di Desa Tanak Awu terbagi menjadi dua kategori. Permukiman Masyarakat Dusun Tanak Awu (letaknya dekat atau tidak jauh dari pinggir jalan BIL).
KONDISI DESA TANAK AWU LOMBOK TENGAH
Letak Geografis Desa Tanak Awu
Sebelum memaparkan kondisi desa Tanak Awu lebih mendalam, peneliti merasa perlu terlebih dahulu mendalami dan memahami sejarah Lombok dan asal usul suku Sasak. Kenyataan empiris di lapangan, hal serupa juga terjadi pada masyarakat Sasak, khususnya masyarakat Desa Tanak Awu, yang menganggap dirinya keturunan raja yang berbeda dengan daerah lain. Desa Tanak Awu merupakan wilayah yang beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau (April sampai Oktober) dan musim hujan (November sampai Maret), mempunyai curah hujan 12.000 mm dengan suhu udara berkisar antara 32ºC sampai 34ºC serta memiliki suhu udara berkisar antara 32ºC sampai dengan 34ºC. ketinggian 100 meter di atas permukaan laut.
Desa Tanak Awu terdiri dari beberapa dusun yaitu: Dusun Tanaq Awu, Dusun Kelelawar Tanaq Awu, Dusun Singa, Dusun Perendak, Dusun Rebila, Dusun Tatak, Dusun Reak, Dusun Kelelawar Selawang, Dusun Selawang Timuk, Dusun Kelelawar Gantang, Dusun Gantang Timuk, Dusun Gantang Daya dan Dusun Jambik. 45Sudirman, “Profil Desa Tanak Awu: Tingkat Pembangunan Desa dan Kelurahan Tahun 2018”, dokumen dikutip 27 Juli 2019, hal. Warna tanah desa Tanak Awu sebagian besar berwarna hitam dan tekstur tanahnya liat berupa dataran rendah seluas 520 ha dan dataran tinggi atau perbukitan seluas 141 ha.
Berdasarkan temuan diatas, dimana masyarakat di desa Tanak Awu yang tidak mempunyai lahan/lahan pertanian, maka peneliti dapat memberikan analisis fungsi. Mengenai kelangsungan hidup masyarakat Tanak Awu, peneliti dapat menyajikan data lengkapnya pada Tabel 1 di bawah ini.
Agama, Kepercayaan, dan Karakteristik Sosial Budaya
Karakteristik sosial budaya masyarakat desa Tanak Awu terlihat dari pola kepemimpinan yang ada, digunakan dan sangat dihormati oleh masyarakat. Struktur kepemimpinan formal di desa Tanak Awu serupa dengan struktur kepemimpinan di desa-desa di wilayah Lombok Tengah pada umumnya. Pola kepemimpinan informal di Desa Tanak Awu secara historis dibentuk oleh kelompok pemukiman dan kemampuan luhur seseorang.
Namun sejak adanya bandara internasional, kondisi sosial masyarakat Tanak Awu mengalami perubahan yang sangat drastis. Hal ini disebabkan semakin banyaknya pendatang dari luar daerah Tanak Awu yang mengadu nasib di desa tersebut. Meskipun saat ini pengaruh kaum bangsawan masih ada, namun hasil wawancara dengan peneliti menunjukkan bahwa pergeseran status bangsawan ke stratifikasi sosial sudah mulai terjadi, mengingat perkembangan perekonomian di desa semakin menguat, sehingga muncullah generasi baru. yang dari Tanak Awu muncul orang-orang kaya yang berprofesi sebagai pengusaha atau pengepul semangka, pemilik restoran, dan lain-lain.
Berdasarkan hasil penelusuran dokumen desa, penduduk Desa Tanak Awu saat ini terdiri dari beberapa suku, antara lain berasal dari Jawa, Aceh, dll. Meskipun masyarakat Desa Tanak Awu saat ini terdiri dari berbagai latar belakang suku/etnis, namun seluruh penduduknya menganut agama Islam, oleh karena itu segala bentuk peribadatan berdasarkan ketentuan syariat Islam.
Pola Pemukiman, Sistem Kepemilikan, dan Konflik
Oleh karena itu, bukti kepemilikan tanah di Desa Tanak Awu sebelum dibangunnya Bandara Internasional hanya berupa pipil atau girik. Setelah adanya Bandara Internasional Lombok, tanah di Desa Tanak Awu sebagian besar dimiliki oleh masyarakat luar desa khususnya. Tanah bagi masyarakat Tanak Awu dianggap sangat penting, namun bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan.
Srinata yakin seluruh masyarakat Lombok setuju dengan pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) di Tanak Awu.72. Ada pula yang berpendapat bahwa pembangunan ini secara otomatis akan meningkatkan nilai jual tanah di Tanak Awu. Saya setuju sekali dengan pembangunan bandara ini karena tanah di Tanak Awu yang tadinya tidak berharga kini menjadi mahal.
Penerimaan masyarakat Tanak Awu pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh para pemimpinnya yaitu para tokoh agama dan tokoh adat yang sangat mendukung pembangunan bandara di Tanak Awu. Krisis kepemilikan dan pemanfaatan lahan di Tanak Awu tidak muncul hanya karena intervensi pembangunan yang telah atau sedang dilakukan. Di Tanak Awu, krisis tanah adat pada dasarnya tidak disebabkan oleh dua hal di atas.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, permasalahan lain yang muncul pasca pembangunan bandara di BIL adalah keresahan yang terjadi pada masyarakat Tanak Awu. Kedua, adanya kontradiksi janji pemerintah dan pelaksana proyek pembangunan untuk memprioritaskan masyarakat Tanak Awu dalam mempekerjakan tenaga kerja proyek pembangunan bandara. Krisis tanah adat yang sebenarnya terjadi di Tanak Awu akibat pembangunan BIL adalah hilangnya tanah adat yang mereka miliki.
BANDARA INTERNASIONAL LOMBOK DAN
Kawasan Bandara Internasional Lombok
Tata Cara dan Proses Pembebasan Lahan BIL
Proses negosiasi harga sangat sulit karena keinginan masyarakat, khususnya pemilik tanah, tidak sesuai dengan nilai ganti rugi yang ditawarkan pemerintah. Oleh karena itu, penerima pertama ganti rugi lahan terdampak dengan adanya pembangunan jalan menuju bandara. Besaran kompensasi ini dilaksanakan sesuai dengan prioritas pembangunan dan kemajuan pekerjaan.
Dengan hanya menanam semangka, masyarakat merasa tidak akan banyak dirugikan dengan besaran kompensasi yang telah ditetapkan. Penolakan tersebut terkait dengan janji, pengakuan hak, dan ganti rugi yang terjadi dalam proses pembelian tanah di bandara. 80 Pada dasarnya nilai ganti rugi yang harus dibayarkan pemerintah pada tahun 2005 sangat rendah, tanah bersama di Tanah Awauh dihargai Rp.
Perbedaan nilai ganti rugi tersebut menimbulkan protes dari pemilik tanah dan penggarap terhadap pemerintah dan kontraktor pembangunan. Menurut salah satu pegawai BPN Lombok Tengah, besaran ganti rugi saat itu sudah sesuai kesepakatan antar pemilik negara. Dan besaran ganti rugi juga disesuaikan dengan harga tanah di kawasan bandara saat itu.
Meski yang dilakukan pemerintah berupa pembahasan ganti rugi tanah, namun apa yang dirasakan sebagian pemegang hak atas tanah di Tanak Awu yang tidak puas dengan ganti rugi tersebut lebih merupakan intimidasi untuk menerima ganti rugi dan bukan untuk menghambat pelaksanaan pembangunan bandara.
Kendala Pembebasan Lahan Bandara Internasional
Respon Masyarakat Terhadap Bandara Internasional
Penyelesaian Krisis Tanah Bandara Internasional
PENUTUP
Kesimpulan
Kompensasi dilakukan secara bertahap, dimana setiap tahapan memerlukan waktu yang lama dan nilai kompensasi tahap awal lebih rendah dibandingkan tahapan selanjutnya. Hal inilah yang membuat penerima ganti rugi pertama merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah, padahal besaran ganti rugi tersebut, menurut informasi pemerintah, telah disesuaikan dengan nilai jual objek tanah (NJOP). ) pada saat disepakati bersama. Selain itu, kesalahan pemberian kompensasi juga terjadi karena kurangnya kepatuhan pemerintah untuk mengetahui siapa yang berhak menerima kompensasi atau karena permainan yang dilakukan oleh elit sosial.
Namun kesalahan juga terkadang merupakan akibat dari “kelakuan buruk” masyarakat yang menanam pohon di lahan terdampak proyek dengan harapan mendapatkan ganti rugi yang lebih besar, padahal tanaman tersebut tidak ada pada saat perhitungan ganti rugi. Melemahnya negara, yaitu ketika era reformasi sedang panas-panasnya di Indonesia dimanfaatkan oleh masyarakat, untuk mewujudkan keinginannya dengan menuntut ganti rugi melalui aksi protes, pemblokiran jalan, penghentian pelaksanaan pembangunan bahkan intimidasi terhadap pelaksana pembangunan. Terlepas dari intervensi yang dilakukan pemerintah dalam menangani kasus sengketa pertanahan yang terjadi di Tanak Awu, khususnya lahan yang terkena dampak proyek pembangunan BIL, proses penyelesaian permasalahan penguasaan dan eksploitasi maupun dengan pihak luar jelas menunjukkan bahwa pada dasarnya terdapat banyak forum. telah digunakan untuk penyelesaian permasalahan harta benda di Tanak Awu yaitu banyaknya lembaga yang digunakan sebagai cara penyelesaian sengketa harta benda. Instansi pemerintah yang digunakan adalah kepolisian dan lembaga peradilan (Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung).
Dan berbagai janji kepada masyarakat Tanak Awu untuk dapat menggarap proyek pembangunan bandara di masa depan mungkin tidak akan terwujud sebagaimana mestinya. Banyaknya kepentingan pihak luar yang ingin memiliki tanah di daerah sekitar BIL menyebabkan semakin banyaknya calo tanah di daerah tersebut, sehingga permasalahan pertanahan di Tanak Awu akan semakin pelik.
Saran
Terlepas dari semua permasalahan di atas, yang lebih memprihatinkan adalah kecenderungan masyarakat Tanak Awu pemilik tanah untuk menjualnya kepada pihak lain yang sebagian besar berasal dari luar yaitu pejabat di lingkungan pemerintahan, seperti dari TK I. Tingkat II. bahkan pemerintah pusat yang berasal dari daerah lain, serta para pengusaha baik daerah maupun pusat yang ingin menanamkan modalnya di bidang tersebut. Pada akhirnya besar kemungkinan Tanak Awu akan berubah menjadi kawasan perkotaan dan cepat atau lambat warga Tanak Awu akan terpinggirkan oleh para pendatang atau yang lebih tragis lagi mereka hanya menjadi penonton kemajuan daerahnya saja. Kedua, tuntutan masyarakat yang merasa dirugikan akibat pembangunan Bandara Internasional Lombok dapat segera diselesaikan, sehingga keresahan masyarakat di kemudian hari tidak terjadi dan dapat diminimalisir.
Keempat, pelaksana pembangunan dan pemerintah memenuhi janjinya kepada masyarakat Tanak Awu untuk mengutamakan masyarakat setempat dalam perekrutan tenaga kerja baik pada saat pembangunan bandara maupun setelah pembangunan dengan tidak mengabaikan kualifikasi yang dipersyaratkan, sejalan dengan janji yang diucapkan dalam mensosialisasikan bandara. rencana pengembangan bandara. Emir Hartato, “Dampak Pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) Terhadap Nilai Tanah di Kabupaten Lombok Tengah”, Skripsi, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 2012. Franz dan Keebet Von Benda Bechmann, Properti Politik dan Konflik, Ambon dan Minangkabau Kampar Hukum dan Masyarakat, no.
Haerudin, "Eksekusi Tanah Tanak Awu Kacau, Mantan Kades Jadi Sasaran", http://radarlombok.co.id, diakses 18 Juli 019, 17:00 WITA. Syarifuddin dkk, Pemberdayaan Masyarakat Desa Terdampak Pembangunan Bandara Internasional Lombok Praya, Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, Volume 1, Edisi 1, Maret 2016, Halaman 57-70.