Pengujian ini menunjukkan bahwa kadar sukrosa pada tanaman kontrol lebih tinggi dibandingkan kadar sukrosa pada tanaman yang diberi perlakuan TSP. Namun pemberian pupuk dengan dosis standar pada percobaan 1 tidak mampu meningkatkan kandungan sukrosa pada tanaman. Perubahan kandungan sukrosa ditemukan pada ekstrak tanaman vanili setelah pemberian pupuk dengan dosis 2 x dosis standar (Exp.2).
Laporan penelitian tahun pertama menemukan teknik ekstraksi dan pengukuran kadar sukrosa pada tanaman vanili. Misalnya untuk mengetahui apakah suatu tanaman membutuhkan unsur hara tambahan berupa pupuk, yang perlu dilakukan hanyalah menguji kandungan sukrosa pada tanaman sampel setelah menerima pupuk. Jika kadar sukrosa meningkat setelah pemberian pupuk, berarti pupuk yang diberikan sudah sesuai dengan unsur hara yang dibutuhkan.
01 Hidrolisis dan uji kualitatif sampel tanaman vanili (Exp. 1)..vii 02 Uji kuantitatif kandungan sukrosa pada ekstrak vanili exp. Nelson-Somogyi ..vii 03 Hasil uji kualitatif kadar sukrosa sampel tanaman vanili yang dipanen pada tahun .
PENDAHULUAN
Oleh karena itu, pengkajian unsur hara seringkali hanya dilakukan untuk penelitian laboratorium, dan penerapannya di lapangan menemui berbagai kendala. Cara ini sangat sulit diterapkan di lapangan karena sulit mengetahui laju perubahan unsur hara yang tersedia. Dengan cara ini kita dapat dengan mudah mengetahui unsur hara mana yang kurang, yaitu dengan membandingkan konsentrasi unsur hara pada tanaman uji terhadap konsentrasi optimal.
Contohnya adalah gangguan serapan hara akibat tingginya kadar aluminium pada tanah yang sangat asam. Pengujian ini dapat mengetahui jumlah dan jenis unsur hara dalam suatu sampel tanah, namun jumlah yang tersedia bagi tanaman dalam suatu tanah juga sulit diketahui. Cara ini terutama digunakan untuk mengetahui apakah suatu tanaman telah mendapat cukup unsur hara atau masih memerlukan pengayaan berupa pupuk.
Dari segi nutrisi, jika tanaman memperoleh nutrisi yang cukup maka produksi sukrosa akan optimal. Dalam contoh ini terlihat bahwa terhambatnya pertumbuhan tidak hanya terjadi akibat kekurangan unsur hara (defisiensi), tetapi juga akibat kelebihan (toksisitas).
STUDI PUSTAKA
- Penilaian status nutrisi pada tumbuhan
- Tahap-tahap reaksi yang diperlukan oleh biosintesis sukrosa
- Inkorporasi unsur hara dalam fotosintesis
- Pentingnya diagnostik sukrosa sebelum pemberian pupuk
Untuk lebih memahami peranan unsur hara dalam biosintesis sukrosa, terlebih dahulu akan dibahas proses fotosintesis. Sehubungan dengan fotosintesis, hasil biosintesis unsur hara nitrogen terutama berperan sebagai molekul struktural atau fungsional. Unsur hara ini tidak mengalami reduksi pada tanaman dan didistribusikan terutama dalam bentuk senyawa fosfat anorganik.
Hubungan erat antara nutrisi dan produksi sukrosa juga ditunjukkan oleh Gardner et al. Peran penting pengetahuan tentang status gizi tanaman dalam menyediakan unsur hara tambahan telah lama diketahui. Setelah panen, unsur hara yang tersedia berkurang karena unsur tersebut telah digunakan untuk mensintesis makromolekul dalam tanaman.
Pada penelitian sebelumnya (Adiputra 2005) telah dilakukan pengaruh pemberian unsur hara NPK terhadap pertumbuhan tunas ketiak pada stek vanili. Pengembangan uji diagnostik tahap kedua yang dilaksanakan pada tahun kedua bertujuan untuk mengetahui perubahan biosintesis sukrosa setelah pemberian nutrisi NPK.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan Umum
Tujuan khusus penelitian
Urgensi penelitian
METODE PENELITIAN
Pendahuluan
Apabila unsur hara yang diberikan menyebabkan penurunan laju biosintesis, maka pupuk tersebut dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman, meskipun harus ditambahkan tergantung gejala defisiensi. Namun jika penggunaan pupuk menyebabkan peningkatan laju biosintesis sukrosa, maka pemupukan dianggap perlu, meskipun tanaman belum menunjukkan gejala kekurangan unsur tersebut.
Desain penelitian
Kondisi pertumbuhan pohon induk panili dan cara pemberian pupuk
Kayu gelondongan yang digunakan untuk pohon vanili juga terdiri dari beberapa jenis terutama gamal, dadap dan lamtoro. Pakis juga dipelihara pada lahan tempat tumbuhnya pohon vanili utama agar lahan tetap lembab pada musim kemarau dan air tidak menggenang pada musim hujan (Foto 2). Kondisi pertumbuhan pohon induk vanili pada salah satu perkebunan yang terletak pada kawasan hutan penyangga.
Namun untuk memudahkan dalam pemberian pupuk, penelitian ini melakukan pembersihan di sekitar pohon vanili, terutama pemangkasan batang dan pakis sesuai kebutuhan. Pohon induk vanili yang berumur lebih dari 5 tahun diberikan pupuk Urea, TSP dan KCl dengan dosis masing-masing 9,25, 1,1 dan 4,6 g/pohon. Karena tanaman vanili yang berumur lebih dari 5 tahun mempunyai penyebaran akar yang relatif luas, maka takaran pupuk ini diberikan dalam bentuk larutan yaitu 9,25 g Urea/l/pohon, 1,1 g TSP/l/pohon dan 4,6 g KCl/l /pohon vanila.
Untuk melihat konsistensi respon tanaman terhadap pemberian pupuk, penelitian lapangan ini dilakukan minimal 2 tahap yaitu tahap 1 dengan dosis standar dan tahap 2 dengan dosis 2 kali dosis standar. Setelah bibit sudah menghasilkan beberapa helai daun baru, selanjutnya diberikan pupuk seperti pada percobaan 1 yaitu : Urea, TSP dan KCl. Konsentrasi unsur yang diberikan pada percobaan 2 disesuaikan dengan konsentrasi yang dapat menunjukkan perubahan pertumbuhan seperti yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti pada tanaman lain (Tab. 4.2).
Untuk memudahkan penimbangan, terlebih dahulu dibuat larutan stok sebelum dibuat larutan sesuai konsentrasi yang dibutuhkan. Buatlah larutan stok dan encerkan sesuai takaran yang dibutuhkan yaitu TSP 0,027 mM, Urea 8 mM, KCl 0,3 mM.
Transplantasi stek panili
Pipa yang diletakkan di atas media tumbuh dilubangi, sedangkan jumlah air yang mengalir diatur dengan keran dan ditempatkan pada posisi sedemikian rupa sehingga aliran air mencapai “tingkat irigasi tetes” (Foto 3 a dan b).
Ekstraksi sukrosa pada tanaman panili
Campuran ini diinkubasi selama 24-36 jam pada suhu kamar sebelum disaring dengan kapas dan filtratnya dikumpulkan dalam 8 gelas Becker masing-masing untuk sampel daun dan batang tanaman yang diberi perlakuan Urea, TSP, KCl dan kontrol. Pengumpulan filtrat ini kemudian diuapkan di atas kompor listrik atau hot plate selama kurang lebih 1 jam dengan api kecil.
Identifikasi dan kuantifikasi sukrosa pada sampel tumbuhan panili
- Pembuatan larutan standard sebagai pembanding
- Penentuan kadar sukrosa secara kualitatif
Untuk mengetahui secara kuantitatif kadar sukrosa yang terdapat pada tanaman vanili yang diberi jenis pupuk berbeda, digunakan spektrofotometer. Larutan standar digunakan untuk membuat kurva standar dan kurva ini kemudian digunakan untuk menentukan kandungan sukrosa dalam sampel. Analisis ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis nol yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar sukrosa pada tanaman yang diberi pengayaan unsur hara yang berbeda.
Namun kadar sukrosa yang terdapat pada ekstrak ruas tidak menunjukkan perbedaan nyata antara tanaman kontrol dan tanaman yang diberi pupuk. Berbeda dengan hasil uji sampel pada T0 dan T1, kadar sukrosa yang terdapat pada T2 jauh lebih tinggi. Namun, kadar sukrosa yang tinggi ditemukan pada sampel kontrol dan tanaman yang diberi pupuk.
Berdasarkan kondisi penelitian yang dilakukan, kandungan sukrosa pada ekstrak tanaman vanili yang dipanen 11 hari setelah pemupukan (T1) sesuai dengan data T0 (Tabel 5.14). Kadar sukrosa yang ditemukan pada ruas tanaman yang diberi urea hampir sama dengan konsentrasi larutan standar 0,5%. Konsentrasi yang ditemukan berbeda dengan T0 dan T1 yang menunjukkan tingginya kadar sukrosa pada tanaman yang diberi perlakuan urea.
Untuk mengukur kadar sukrosa dalam sampel dengan lebih akurat, dibuatlah standar dengan konsentrasi yang lebih rinci. Untuk mengetahui secara kuantitatif kandungan sukrosa dalam sampel, hasil pengukuran serapan larutan standar glukosa terhidrolisis dimasukkan ke dalam tabel statistik (Tabel 5.21). Kadar sukrosa yang terdapat pada ekstrak tidak mengalami perubahan yang signifikan pada pemberian dosis standar pupuk (Exp. 1).
Perubahan kandungan sukrosa pada ekstrak ruas tanaman vanili setelah pemberian pupuk pada dosis standar (Expt. 1). Perubahan kandungan sukrosa pada ekstrak ruas tanaman vanili setelah pemberian pupuk dengan dosis dua kali lipat dari dosis standar (Expt. 2). Pemberian pupuk dosis standar tidak menunjukkan adanya perbedaan kadar sukrosa antara tanaman kontrol dan tanaman yang mendapat pupuk urea, TSP atau KCl.
Hasil uji kualitatif kadar sukrosa pada tanaman vanili yang diberi pupuk urea, TSP dan KCl pada masa percobaan. Setelah dosis pemupukan ditingkatkan menjadi 2x dosis standar, ditemukan peningkatan kandungan sukrosa pada ekstrak tumbuhan yang diberi perlakuan pupuk. Tanaman yang diberi perlakuan TSP dan KCl menunjukkan kadar sukrosa hampir sama dengan tanaman kontrol.
Pada pengujian ini diketahui bahwa pemberian pupuk N, P, K dengan dosis 2 x dosis standar menghasilkan peningkatan kadar sukrosa yang sangat tinggi.