• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 1 BUPATI AGAM

PROVINSI SUMATERA BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN AGAM NOMOR 2 TAHUN 2018

TENTANG

PEDOMAN BADAN USAHA MILIK NAGARI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI AGAM,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka efektifitas dan tertib penyelenggaraan Badan Usaha Milik Nagari telah ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Agam Nomor 4 Tahun 2013 tentang Tatacara Pembentukan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Nagari;

b. bahwa dengan keluarnya Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Nagari, beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Agam Nomor 4 Tahun 2013 tentang Tatacara Pembentukan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Nagari tidak sesuai lagi sehingga perlu diganti;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Badan Usaha Milik Nagari;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Sumatera Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 25);

3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa

(2)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 2 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5717);

6. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa;

7. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN AGAM dan

BUPATI AGAM

(3)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 3 MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PEDOMAN BADAN USAHA MILIK NAGARI.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

1. Daerah adalah Kabupaten Agam.

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Agam.

3. Bupati adalah Bupati Agam.

4. Nagari adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Pemerintahan Nagari adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia.

6. Pemerintah Nagari adalah Walinagari dibantu Perangkat Nagari sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Nagari.

7. Badan Permusyawaratan Nagari selanjutnya disebut Bamus adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Nagari berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

8. Musyawarah Nagari yang selanjutnya disebut Musna adalah Musyawarah antara Badan Permusyawaratan Nagari, Pemerintah Nagari, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Nagari untuk menyepakati hal yang bersifat strategis.

9. Badan Usaha Milik Nagari selanjutnya disebut BUMNag adalah badan usaha yang seluruh atau

(4)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 4

sebagian besar modalnya dimiliki oleh Nagari melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Nagari yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Nagari.

10. Usaha Nagari adalah jenis usaha yang berupa pelayanan ekonomi Nagari seperti, usaha jasa, penyaluran sembilan bahan pokok, perdagangan hasil pertanian, serta industri dan kerajinan rakyat.

11. Penasehat adalah organ pengelola Badan Usaha Milik Nagari yang secara ex Officio adalah Walinagari yang bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada pelaksana operasional dalam menjalankan kegiatan pengelolaan Badan Usaha Milik Nagari serta mengendalikan pelaksanaan kegitan pengelolaan Badan Usaha Milik Nagari berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

12. Pelaksana Operasional adalah organ pengelola Badan Usaha Milik Nagari yang bertanggung jawab atas pengelolaan operasional Badan Usaha Milik Nagari.

13. Pengawas adalah organ pengelola Badan Usaha Milik Nagari yang mewakili kepentingan masyarakat.

BAB II PENDIRIAN Bagian Kesatu

Persiapan Pasal 2

Pendirian BUMNag dimaksudkan sebagai upaya untuk menampung seluruh kegiatan dibidang ekonomi dan/atau pelayanan umum yang dikelola oleh Nagari dan/atau kerjasama antar Nagari.

Pasal 3

Pendirian BUMNag sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertujuan:

(5)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 5

a. meningkatkan perekonomian Nagari;

b. mengoptimalkan aset Nagari agar bermanfaat untuk kesejahteraan Nagari;

c. meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomi Nagari;

d. mengembangkan rencana kerja sama usaha antar Nagari dan/atau dengan pihak ketiga;

e. menciptakan peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga;

f. membuka lapangan kerja;

g. meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Nagari; dan

h. meningkatkan pendapatan masyarakat Nagari dan Pendapatan Asli Nagari.

Pasal 4

(1) Nagari dapat mendirikan BUMNag berdasarkan Peraturan Nagari tentang Pendirian BUMNag.

(2) Pendirian BUMNag sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dapat dilakukan dengan mempertimbangkan:

a. inisiatif Pemerintah Nagari dan/atau masyarakat Nagari;

b. potensi usaha ekonomi Nagari;

c. sumberdaya alam di Nagari;

d. sumberdaya manusia yang mampu mengelola BUMNag; dan

e. penyertaan modal dari Pemerintah Nagari dalam bentuk pembiayaan dan kekayaan Nagari yang diserahkan untuk dikelola sebagai bagian dari usaha BUMNag.

Pasal 5

(1) Pendirian BUMNag disepakati dalam Musna.

(2) Sebelum Musna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan Pemerintah Nagari melakukan kajian

(6)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 6

terhadap ekonomi, sosial dan budaya masyarakat.

(3) Hasil kajian ekonomi, sosial dan budaya masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat:

a. potensi usaha ekonomi;

b. sumber daya alam; dan c. sumber daya Manusia.

(4) Untuk melakukan kajian ekonomi, sosial dan budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pemerintah Nagari membentuk Tim yang ditetapkan dengan Keputusan Walinagari.

(5) Hasil kajian ekonomi, sosial dan budaya masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Bamus.

Pasal 6

(1) Bamus menyebarluaskan hasil kajian ekonomi, sosial dan budaya masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) kepada masyarakat.

(2) Masyarakat dapat menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mengenai pendirian BUMNag.

(3) Berdasarkan masukan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Bamus menyelenggarakan rapat anggota untuk merumuskan pandangan resmi Bamus.

(4) Pandangan resmi Bamus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dituangkan ke dalam berita acara tentang hasil rapat anggota Bamus.

(5) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi pandangan resmi Bamus dalam pembahasan tentang pendirian BUMNag di Musna.

Pasal 7

(1) Bamus bersama Pemerintah Nagari mempersiapkan rencana Musna.

(2) Dalam mempersiapkan Musna, Bamus membentuk Panitia Musna yang diketuai oleh Sekretaris Bamus dan dibantu oleh Anggota Bamus, Kader

(7)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 7

Pemberdayaan Masyarakat Nagari, Unsur Masyarakat, dan Perangkat Nagari.

(3) Keanggotaan Panitia Musna bersifat sukarela.

(4) Susunan kepanitiaan disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat di Nagari.

(5) Panitia Musna bertugas:

a. mempersiapkan jadwal kegiatan, tempat dan sarana/prasarana Musna berdasarkan rencana kegiatan;

b. mempersiapkan susunan acara dan media pembahasan berupa hasil kajian ekonomi, sosial dan budaya masyarakat dan dokumen pandangan resmi Bamus;

c. menetapkan jumlah peserta, undangan dan pendamping Musna;

d. mempersiapkan undangan peserta Musna secara resmi dan tidak resmi; dan

e. melakukan registrasi peserta Musna.

(6) Panitia Musna ditetapkan dengan Keputusan Bamus.

Bagian Kedua Pelaksanaan Musna

Paragraf 1 Umum Pasal 8

(1) Musna diselenggarakan oleh Bamus yang difasilitasi oleh Pemerintah Nagari.

(2) Musna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diikuti oleh Pemerintah Nagari, Bamus, dan unsur masyarakat.

(3) Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas :

a. tokoh adat;

b. tokoh agama;

c. tokoh masyarakat;

(8)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 8

d. tokoh pendidik;

e. perwakilan kelompok tani;

f. perwakilan kelompok nelayan;

g. perwakilan kelompok perajin;

h. perwakilan kelompok perempuan;

i. perwakilan kelompok pemerhati dan perlindungan anak; dan

j. perwakilan kelompok masyarakat miskin.

(4) Selain unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Musna dapat melibatkan unsur masyarakat lain sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat.

Paragraf 2 Panitia Musyawarah

Pasal 9

(1) Bamus membentuk dan menetapkan Panitia Musna.

(2) Panitia Musna bertugas mempersiapkan jadwal kegiatan, tempat dan sarana/prasarana Musna.

(3) Penetapan Panitia Musna melalui surat keputusan Ketua Bamus yang berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun atau sesuai kebutuhan.

Paragraf 3

Pengundangan Peserta, Undangan dan Pendamping Pasal 10

(1) Peserta Musna berasal dari Pemerintah Nagari, Bamus dan unsur masyarakat Nagari yang diundang secara resmi.

(2) Undangan adalah mereka yang bukan warga Nagari yang hadir dalam Musna atas undangan Ketua Bamus Nagari.

(3) Pendamping adalah satuan kerja Perangkat Daerah Kabupaten, Camat, Tenaga Pendamping Profesional, dan/atau pihak ketiga yang hadir dalam Musna atas undangan Ketua Musna.

(9)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 9

Pasal 11

(1) Panitia Musna menetapkan jumlah peserta undangan dan pendamping Musna.

(2) Panitia Musna mempersiapkan undangan peserta Musna secara resmi dan tidak resmi.

(3) Undangan resmi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditujukan kepada masyarakat secara perseorangan dan/atau kelompok masyarakat dengan dibubuhi tanda tangan Sekretaris Bamus selaku ketua panitia Musna.

(4) Undangan tidak resmi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diumumkan secara terbuka melalui media komunikasi yang ada di Nagari, seperti: pengeras suara di Masjid, papan pengumuman, pesan singkat melalui telepon seluler, surat elektronik (e-mail), situs laman (website) Nagari.

(5) Bamus menyampaikan undangan Musna paling lambat 2 (dua) minggu terhitung sebelum hari dan tanggal penyelenggaraan Musna.

Pasal 12

(1) Warga Nagari yang mendapat informasi undangan secara tidak resmi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 pada ayat (4) dan berkehendak hadir sebagai peserta, yang bersangkutan harus mendaftarkan diri kepada panitia Musna paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sebelum hari dan tanggal penyelenggaraan Musna.

(2) Warga Nagari sebagai peserta Musna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki hak suara yang sama dengan warga masyarakat yang diundang secara resmi dalam pengambilan keputusan.

(3) Warga Nagari yang mendapat informasi undangan secara tidak resmi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 pada ayat (4) berkehendak hadir sebagai peserta Musna tetapi tidak memberitahukan kehadirannya kepada panitia Musna, terhadap yang bersangkutan tidak memiliki hak suara dalam

(10)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 10

pengambilan keputusan.

Pasal 13

(1) Undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) dapat berbicara dalam Musna atas persetujuan pimpinan Musna, tetapi tidak mempunyai hak suara dalam pengambilan keputusan Musna.

(2) Undangan disediakan tempat tersendiri.

(3) Undangan harus menaati tata tertib Musna.

Pasal 14

(1) Pendamping sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) tidak memiliki hak untuk berbicara yang bersifat memutuskan sebuah kebijakan publik terkait hal strategis yang sedang dimusyawarahkan.

(2) Pendamping Nagari melakukan tugas untuk:

a. memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang pokok pembicaraan;

b. mengklarifikasi arah pembicaraan dalam Musna yang sudah menyimpang dari pokok pembicaraan;

c. membantu jalan keluar; dan

d. mencegah terjadinya konflik dan pertentangan antar peserta yang dapat berakibat pada tindakan melawan hukum.

Paragraf 4

Peninjau dan Wartawan Pasal 15

(1) Peninjau dan wartawan adalah mereka yang hadir dalam Musna tanpa undangan Ketua Bamus.

(2) Peninjau dan wartawan tidak mempunyai hak suara, hak bicara dan tidak boleh menyatakan sesuatu baik dengan perkataan maupun perbuatan.

(3) Peninjau dan wartawan mendaftarkan kehadiran dalam Musna melalui panitia Musna.

(11)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 11

(4) Peninjau dan wartawan membawa bukti pendaftaran kehadiran dalam Musna sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(5) Peninjau menempati tempat yang sama dengan undangan.

(6) Wartawan menempati tempat yang disediakan.

(7) Peninjau dan wartawan harus menaati tata tertib Musna.

Paragraf 5

Penyelenggaraan Musna Pasal 16

Musna terbuka untuk umum dan tidak bersifat rahasia.

Pasal 17

(1) Ketua Bamus bertindak selaku Pimpinan Musna.

(2) Anggota Bamus, unsur masyarakat dan/atau Kader Pemberdayaan Masyarakat Nagari yang merupakan bagian dari Panitia Musna bertindak selaku Sekretaris Musna.

(3) Anggota Bamus, unsur masyarakat dan/atau Kader Pemberdayaan Masyarakat Nagari yang merupakan bagian dari panitia Musna bertindak selaku pemandu acara Musna.

(4) Dalam hal Ketua Bamus selaku pimpinan Musna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhalangan hadir, posisi pimpinan Musna dapat digantikan oleh Wakil Ketua atau anggota Bamus lainnya.

(5) Dalam hal Ketua Bamus berhalangan hadir, harus memberitahukan ketidakhadirannya dengan alasan yang benar untuk selanjutnya diinformasikan kepada peserta Musna.

Pasal 18

(1) Musna dimulai dan dibuka oleh Pimpinan Musna apabila daftar hadir telah ditandatangani oleh 2/3 dari jumlah undangan yang telah ditetapkan sebagai

(12)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 12

peserta Musna.

(2) Pimpinan Musna harus melakukan penundaan acara apabila jumlah peserta Musna yang ditentukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum tercapai atau terpenuhi sampai dengan batas waktu untuk dilakukan pembukaan Musna.

(3) Pimpinan Musna mengumumkan penundaan acara waktu paling lama 3 (tiga) jam.

(4) Jika waktu penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah berakhir dan peserta Musna yang hadir belum memenuhi ketentuan, Pimpinan Musna meminta pertimbangan dari Walinagari atau pejabat yang mewakili, tokoh masyarakat dan unsur pendamping Nagari yang hadir.

(5) Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pimpinan Musyawarah menentukan waktu pengunduran untuk mengadakan musyawarah berikutnya selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah waktu musyawarah pertama.

(6) Dalam hal setelah dilakukan pengunduran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) penyelenggaraan Musna yang kedua tetap dihadiri peserta yang tidak mencapai ketentuan, pimpinan Musna tetap melanjutkan kegiatan Musna dengan dihadiri oleh peserta yang ada.

Paragraf 6

Penjelasan Materi Musna Pasal 19

(1) Dalam rangka penyampaian pemberian informasi secara lengkap kepada peserta Musna, pimpinan Musna melakukan hal sebagai berikut:

a. meminta Pemerintah Nagari untuk menjelaskan pokok pembicaraan dan/atau pokok permasalahan yang akan dibahas berdasarkan bahan pembahasan yang sudah disiapkan;

b. meminta Bamus untuk menjelaskan pandangan resmi terhadap hal yang bersifat strategis;

(13)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 13

c. meminta unsur Pemerintah Daerah/Kabupaten yang hadir untuk menjelaskan pandangan resmi terhadap hal yang bersifat strategis;

d. meminta pihak-pihak dari luar nagari yang terkait dengan materi yang sedang dimusyawarahkan untuk menyampaikan secara resmi kepentingan dan agendanya terhadap hal yang bersifat strategis.

(2) Penyampaikan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan mendayagunakan media pembahasan yang disiapkan panitia Musna.

Pasal 20

(1) Pimpinan Musna menjaga agar musyawarah berjalan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan tentang tata tertib Musna.

(2) Pimpinan Musna dapat meminta pendamping Nagari yang berasal dari Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten, pendamping profesional dan/atau pihak ketiga untuk membantu memfasilitasi jalannya Musna.

Paragraf Tujuh

Mekanisme Pengambilan Keputusan Pasal 21

(1) Pengambilan keputusan dalam Musna pada dasarnya dilakukan dengan cara musyawarah untuk mufakat.

(2) Dalam hal cara pengambilan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.

Pasal 22

Keputusan berdasarkan mufakat adalah apabila diambil dalam Musna yang dihadiri oleh peserta sejumlah 2/3 dari jumlah undangan yang telah ditetapkan sebagai peeserta Musna dan atau disetujui oleh semua peserta

(14)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 14

yang hadir.

Pasal 23

(1) Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) dapat dilakukan secara terbuka atau secara rahasia.

(2) Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak secara terbuka dilakukan apabila menyangkut kebijakan.

(3) Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak secara rahasia dilakukan apabila menyangkut orang atau masalah lain yang ditentukan dalam Musna.

(4) Keputusan berdasarkan suara terbanyak adalah sah, apabila diambil dalam Musna yang di hadiri sekurang-kurangnya 2/3 dari peserta dan disetujui oleh separuh ditambah 1 (satu) orang dari jumlah peserta yang hadir.

Pasal 24

Setiap keputusan Musna baik berdasarkan musyawarah untuk mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak bersifat mengikat bagi semua pihak yang terkait dalam pengambilan keputusan.

Pasal 25

(1) Hasil keputusan Musna dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh Ketua Musna atau pimpinan Musna atau Walinagari atau yang mewakili Walinagari dan atau salah seorang perwakilan peserta Musna.

(2) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri catatan tetap dan laporan singkat.

(3) Apabila Walinagari berhalangan hadir dalam Musna, Berita Acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

(15)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 15

ditandatangani oleh yang mewakili.

Bagian Ketiga

Klasifikasi Jenis Usaha BUMNag Pasal 26

Klasifikasi jenis usaha BUMNag meliputi:

a. Bisnis sosial (social business);

b. Bisnis penyewaan (renting);

c. Bisnis perantara (brokering);

d. Bisnis produksi (producting);

e. Bisnis perdagangan (trading);

f. Bisnis keuangan (financial business); dan g. Usaha bersama (holding).

Pasal 27

(1) Bisnis sosial (social business) adalah bisnis sederhana yang memberikan pelayanan umum (serving) kepada masyarakat dengan memperoleh keuntungan finansial.

(2) Jenis usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi tepat guna, melalui unit usaha yang meliputi:

a. air minum Nagari;

b. usaha listrik Nagari;

b. lumbung pangan; dan

c. sumber daya lokal dan teknologi tepat guna lainnya.

(3) Pemanfaatan sumber daya lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c diatur dengan Peraturan Nagari.

Pasal 28

(1) Bisnis penyewaan (renting) barang untuk melayani kebutuhan masyarakat Nagari dan ditujukan untuk memperoleh Pendapatan Asli Nagari.

(16)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 16

(2) Unit usaha dalam BUMNag sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menjalankan kegiatan usaha penyewaan meliputi:

a. alat transportasi;

b. perkakas pesta;

c. gedung pertemuan;

b. rumah toko;

c. tanah milik BUMNag; dan d. barang sewaan lainnya.

Pasal 29

(1) Usaha perantara (brokering) yang memberikan jasa pelayanan kepada warga.

(2) Unit usaha dalam BUMNag sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menjalankan kegiatan usaha perantara yang meliputi:

a. jasa pembayaran listrik;

b. pasar Nagari untuk memasarkan produk yang dihasilkan masyarakat; dan

c. jasa pelayanan lainnya.

Pasal 30

Bisnis Produksi (producting) bertujuan untuk menghasilkan barang yang siap untuk memenuhi kebutuhan meliputi produksi pakaian, peralatan rumah tangga, makanan dan kegiatan produksi lainnya.

Pasal 31

Unit usaha yang menjalankan kegiatan perdagangan (trading) dalam BUMNag dapat meliputi:

a. pabrik es;

b. pabrik asap cair;

c. hasil pertanian;

d. sarana produksi pertanian;

e. sumur bekas tambang; dan

f. kegiatan bisnis produktif lainnya.

(17)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 17

Pasal 32

(1) Bisnis keuangan (financial business) yang memenuhi kebutuhan usaha-usaha skala mikro yang dijalankan oleh pelaku usaha ekonomi Nagari.

(2) Unit usaha dalam BUMNag sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memberikan akses kredit dan peminjaman yang mudah diakses oleh masyarakat Nagari.

Pasal 33

(1) Usaha bersama (holding) sebagai induk dari unit-unit usaha yang dikembangkan masyarakat Nagari baik dalam skala lokal Nagari maupun kawasan perdesaan.

(2) Unit-unit usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berdiri sendiri yang diatur dan dikelola secara sinergis oleh BUMNag agar tumbuh menjadi usaha bersama.

(3) Unit usaha dalam BUMNag sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menjalankan kegiatan usaha bersama meliputi:

a. pengembangan kapal Nagari berskala besar untuk mengorganisasi nelayan kecil agar usahanya menjadi lebih ekspansif;

b. Nagari Wisata yang mengorganisir rangkaian jenis usaha dari kelompok masyarakat;dan

c. kegiatan usaha bersama yang mengkonsolidasikan jenis usaha lokal lainnya.

Pasal 34

(1) Jenis-jenis usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33 dilaksanakan dalam bentuk unit-unit usaha.

(2) Unit-unit usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbadan hukum.

(3) Pendirian, pengurusan dan pengelolaan unit usaha BUMNag dilaksanakan sesuai dengan ketentuan

(18)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 18

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB III

PENGURUSAN DAN PENGELOLAAN Bagian Kesatu

Azas Pengelolaan Pasal 35

BUMNag dikelola berdasarkan asas semangat kekeluargaan dan kegotong-royongan.

Bagian Kedua Bentuk Organisasi

Pasal 36

(1) Unit-unit usaha BUMNag yang berbadan hukum dapat berupa Lembaga Bisnis yang kepemilikan sahamnya berasal dari BUMNag dan Masyarakat.

(2) Unit-unit usaha BUMNag yang tidak berbadan hukum, bentuk organisasinya didasarkan pada Peraturan Nagari tentang Pendirian BUMNag.

Pasal 37

BUMNag dapat membentuk unit usaha meliputi:

a. Perseroan Terbatas sebagai persekutuan modal, dibentuk berdasarkan perjanjian, dan melakukan kegiatan usaha dengan modal yang sebagian besar dimiliki oleh BUMNag, sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan tentang Perseroan Terbatas;

dan

b. Lembaga Keuangan Mikro dengan andil BUMNag sebesar 60 (enam puluh) persen, sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan tentang Lembaga Keuangan Mikro.

Bagian Ketiga Organisasi Pengelola

Paragraf 1

Kedudukan dan Susunan Kepengurusan

(19)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 19

Pasal 38

Organisasi pengelola BUMNag terpisah dari organisasi Pemerintahan Nagari.

Pasal 39

(1) Kepengurusan organisasi pengelola BUMNag ditetapkan dengan Keputusan Walinagari.

(2) Susunan kepengurusan organisasi pengelola BUMNag terdiri dari:

a. Penasihat;

b. Pelaksana Operasional; dan c. Pengawas.

(3) Penamaan susunan kepengurusan organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menggunakan penyebutan nama lain sesuai dengan kondisi Nagari.

Paragraf 3 Penasihat Pasal 40

(1) Penasihat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2) huruf a dijabat secara ex officio oleh Walinagari.

(2) Penasihat mempunyai kewajiban sebagai berikut:

a. memberikan nasihat kepada Pelaksana Operasional dalam melaksanakan pengelolaan BUMNag;

b. memberikan saran dan pendapat mengenai masalah yang dianggap penting bagi pengelolaan BUMNag; dan

c. mengendalikan pelaksanaan kegiatan pengelolaan BUMNag.

(3) Penasihat mempunyai wewenang sebagai berikut:

a. meminta penjelasan dari Pelaksana Operasional mengenai persoalan yang menyangkut pengelolaan usaha Nagari; dan

b. melindungi usaha Nagari terhadap hal-hal yang

(20)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 20

dapat menurunkan kinerja BUMNag.

Paragraf 3

Pelaksana Operasional Pasal 41

Pelaksana Operasional berasal dari unsur masyarakat yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. mempunyai jiwa wirausaha;

b. berdomisili dan menetap di Nagari sekurang- kurangnya 2 (dua) tahun;

c. berkepribadian baik, jujur, adil, cakap, dan perhatian terhadap usaha ekonomi Nagari; dan

d. pendidikan minimal setingkat Sekolah Lanjutan Atas atau sederajat.

Pasal 42

Pelaksana Operasional dapat diberhentikan dengan alasan:

a. meninggal dunia;

b. berakhirnya masa kerja sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BUMNag;

c. mengundurkan diri;

d. tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik sehingga menghambat perkembangan kinerja BUMNag;

e. terlibat kasus pidana dan telah ditetapkan sebagai tersangka.

Pasal 43

(1) Pelaksana Operasional mempunyai tugas mengurus dan mengelola BUMNag sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) Pelaksana Operasional mempunyai wewenang untuk:

a. melaksanakan dan mengembangkan BUMNag agar

(21)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 21

menjadi lembaga yang melayani kebutuhan ekonomi dan/atau pelayanan umum masyarakat Nagari;

b. menggali dan memanfaatkan potensi usaha ekonomi Nagari untuk meningkatkan Pendapatan Asli Nagari; dan

c. melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga perekonomian Nagari lainnya.

(3) Pelaksana Operasional dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mempertanggungjawabkannya dengan :

a. membuat laporan keuangan seluruh unit-unit usaha BUMNag setiap bulan;

b. membuat laporan perkembangan kegiatan unit- unit usaha BUMNag setiap bulan; dan

c. menyampaikan laporan perkembangan unit-unit usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b BUMNag kepada masyarakat Nagari melalui Musna sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun.

Pasal 44

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), Pelaksana Operasional dapat menunjuk Anggota Pengurus sesuai dengan kapasitas bidang usaha, khususnya dalam mengurus pencatatan dan administrasi usaha dan fungsi operasional bidang usaha.

(2) Pelaksana Operasional dapat dibantu karyawan sesuai dengan kebutuhan dan harus disertai dengan uraian tugas berkenaan dengan tanggung jawab, pembagian peran dan aspek pembagian kerja lainnya.

(3) Penunjukkan anggota Pengurus dan Karyawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Pelaksana Operasional.

Pasal 39

(22)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 22

(1) Pelaksana operasional wajib menyusun anggaran dasar dan anggaran rumah tangga setelah mendapatkan pertimbangan Walinagari.

(2) Anggaran dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat paling sedikit nama, tempat kedudukan, maksud dan tujuan, modal, kegiatan usaha, jangka waktu berdirinya BUMNag, organisasi pengelola, serta tata cara penggunaan dan pembagian keuntungan.

(3) Anggaran rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat paling sedikit hak dan kewajiban, masa bakti, tata cara pengangkatan dan pemberhentian personel organisasi pengelola, penetapan jenis usaha, dan sumber modal.

(4) Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disepakati dalam Musna.

(5) Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ditetapkan oleh Pelaksana Operasional dan disahkan oleh Walinagari.

Pasal 46

Pelaksana Operasional dilarang merangkap jabatan sebagai perangkat nagari, anggota Bamus atau sebagai pengurus lembaga kemasyarakatan Nagari.

Pasal 47

Pelaksana Operasional mewakili BUMNag di dalam dan di luar Pengadilan.

Pasal 48

Masa bakti pelaksana Operasional diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BUMNag.

Paragraf 4 Pengawas Pasal 49

(1) Susunan kepengurusan Pengawas terdiri dari:

(23)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 23

a. Ketua merangkap anggota;

b. Sekretaris merangkap anggota; dan c. Anggota.

(2) Kepengurusan Pengawas berasal dari unsur:

a. Bamus;

b. Alim Ulama;

c. Ninik Mamak;

d. Bundo Kanduang;

e. Tokoh Masyarakat;

f. Pemuda; dan/atau g. Praktisi/Ahli.

(3) Jumlah kepengurusan Pengawas disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi Nagari.

(4) Kepengurusan Pengawas ditetapkan dengan Keputusan Walinagari. Berdasarkan hasil rapat umum Pengawas.

Pasal 50

(1) Pengawas mempunyai kewajiban menyelenggarakan Rapat Umum untuk membahas kinerja BUMNag sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.

(2) Disamping menyelenggarakan Rapat Umum untuk membahas kinerja BUMNag, Pengawas berwenang menyelenggarakan Rapat Umum untuk:

a. Pemilihan dan pengangkatan kepengurusan pengawas;

b. Penetapan kebijakan pengembangan usaha BUMNag; dan

c. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja Pelaksana Operasional.

(3) Masa bakti Pengawas diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BUMNag.

Pasal 51

Susunan kepengurusan BUMNag sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 dipilih oleh masyarakat Nagari melalui Musna.

(24)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 24

Pasal 52

Ketentuan lenih lanjut mengenai rincian tugas dan wewenang masing-masing pengurus BUMNag diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Bagian Keempat Permodalan

Pasal 53

(1) Modal awal pendirian BUMNag bersumber dari APB Nagari.

(2) Modal BUMNag terdiri atas:

a. penyertaan modal Nagari; dan

b. penyertaan modal masyarakat Nagari.

(3) Kekayaan BUMNag yang bersumber dari penyertaan modal Nagari sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf a merupakan kekayaan Nagari yang dipisahkan.

(4) Penyertaan modal Nagari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a berasal dari APB Nagari.

(5) Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan kepada BUMNag yang disalurkan melalui APBNagari.

(6) Penyertaan modal Nagari ditetapkan dengan Peraturan Nagari.

Pasal 54

(1) Penyertaan modal masyarakat Nagari sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf b berasal dari tabungan masyarakat dan atau simpanan masyarakat.

(2) Dalam hal penyertaan modal masyarakat Nagari untuk unit usaha yang berbadan hukum penyertaan modal masyarakat nagari dilakukan dalam bentuk saham.

Bagian Kelima Hasil Usaha

(25)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 25

Pasal 55

(1) Hasil usaha BUMNag merupakan pendapatan yang diperoleh dari hasil transaksi dikurangi dengan pengeluaran biaya dan kewajiban pada pihak lain, serta penyusutan atas barang-barang inventaris dalam 1 (satu) tahun buku.

(2) Hasil Usaha BUMNag dimanfaatkan untuk:

a. Pengembangan usaha; dan

b. Pembangunan Nagari, pemberdayaan masyarakat Nagari, dan pemberian bantuan untuk masyarakat miskin melalui hibah, bantuan sosial, dan kegiatan dana bergulir yang ditetapkan dalam APB Nagari.

(3) Pembagian hasil usaha BUMNag sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan ketentuan yang diatur dalam anggaran dasar/anggaran rumah tangga BUMNag.

(4) Alokasi pembagian hasil usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikelola melalui sistem akuntansi sederhana.

Bagian Keenam

Pengembangan Kegiatan Usaha Pasal 56

(1) Untuk mengembangkan kegiatan usaha, BUMNag dapat:

a. menerima pinjaman dan/atau bantuan yang sah dari pihak lain: dan

b. mendirikan unit usaha BUMNag.

(2) BUMNag yang melakukan pinjaman harus mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Nagari.

Bagian Ketujuh Kepailitan

Pasal 57

(1) Unit Usaha BUMNag dinyatakan mengalami kerugian apabila pengeluaran lebih besar dari pada

(26)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 26

pendapatan.

(2) Dalam hal unit usaha BUMNag mengalami kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengawas melakukan pemantauan dan evaluasi penyebab kerugian.

(3) Hasil pemantauan dan evaluasi yang dilakukan oleh pengawas disampaikan kepada penasehat dalam bentuk laporan tertulis.

Pasal 58

(1) Dalam hal dari hasil pemantauan dan evaluasi yang dilakukan oleh pengawas ditemukan kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian atau unsur kesengajaan, maka kerugian tersebut menjadi tanggungjawab pelaksana operasional.

(2) Dalam hal dari hasil pemantauan dan evaluasi yang dilakukan pengawas tidak ditemukan unsur kelalaian atau unsur kesengajaan, maka kerugian tersebut menjadi tanggungjawab BUMNag.

Pasal 59

(1) Dalam hal BUMNag tidak dapat menutupi kerugian dengan aset dan kekayaan yang dimilikinya, BUMNag dinyatakan rugi.

(2) Kerugian yang dialami unit usaha BUMNag disampaikan oleh pelaksana operasional kepada masyarakat Nagari dalam Musna untuk dicarikan penyelesaikannya.

Pasal 60

(1) BUMNag yang tidak dapat menutupi kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dinyatakan pailit sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan mengenai kepailitan.

(2) Kepailitan BUMNag diajukan oleh Walinagari dan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan

(27)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 27

dibidang kepailitan.

Bagian Kedelapan Pembubaran

Pasal 61

(1) BUMNag yang dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud pada Pasal 60 dibahas dan disepakati dalam musyawarah nagari untuk pembubaran BUMNag.

(2) Mekanisme pembubaran BUMNag berdasarkan Peraturan Nagari tentang Pembubaran BUMNag.

Bagian Kesembilan

Kerjasama BUMNag Antar Nagari Pasal 62

(1) BUMNag dapat melakukan kerjasama antar 2 (dua) BUMNag atau lebih.

(2) Kerjasama antar 2 (dua) BUMNag atau lebih dapat dilakukan dalam satu kecamatan atau antar kecamatan dalam satu kabupaten.

(3) Kerjasama antar 2 (dua) BUMNag atau lebih harus mendapat persetujuan masing-masing Pemerintah Nagari.

Pasal 63

(1) Kerjasama antar 2 (dua) BUMNag atau lebih dituangkan dalam naskah perjanjian kerjasama.

(2) Naskah perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:

a. subyek kerjasama;

b. obyek kerjasama;

c. jangka waktu;

d. hak dan kewajiban;

e. pendanaan;

f. keadaan memaksa;

(28)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 28

g. pengalihan aset; dan

h. penyelesaian permasalahan.

(3) Naskah perjanjian kerjasama antar 2 (dua) BUMNag atau lebih ditetapkan oleh pelaksana operasional dari masing-masing BUMNag yang bekerja sama.

Pasal 64

(1) Kegiatan kerjasama antar BUMNag atau lebih dipertanggungjawabkan kepada nagari masing- masing sebagai pemilik BUMNag.

(2) Dalam hal kegiatan kerjasama antar unit usaha BUMNag yang berbadan hukum dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangn tentang perseroan terbatas dan lembaga keuangan mikro.

Bagian Kesepuluh

Kerjasama BUMNag dengan Pihak Ketiga Pasal 65

(1) BUMNag dapat melakukan kerjasama dengan pihak ketiga.

(2) Kerjasama dengan pihak ketiga harus mendapat persetujuan Pemerintah Nagari.

Pasal 66

(1) Kerjasama dengan pihak ketiga dituangkan dalam naskah perjanjian kerjasama.

(2) Naskah perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:

a. subyek kerjasama;

b. obyek kerjasama;

c. jangka waktu;

d. hak dan kewajiban;

e. pendanaan;

f. keadaan memaksa;

g. pengalihan aset; dan

h. penyelesaian permasalahan;

(3) Naskah perjanjian kerjasama dengan pihak ketiga

(29)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 29

ditetapkan oleh pelaksana operasional.

Pasal 67

(1) Kegiatan kerjasama BUMNag dipertanggungjawabkan kepada nagari sebagai pemilik BUMNag.

(2) Dalam hal kegiatan kerjasama antar unit usaha BUMNag berbadan hukum, dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perseroan terbatas dan lembaga keuangan mikro.

Bagian Kesebelas Pendirian BUMNag Bersama

Pasal 68

(1) Dalam rangka kerja sama antar-Nagari dan pelayanan usaha antar-Nagari dapat dibentuk BUMNag bersama yang merupakan milik 2 (dua) Nagari atau lebih.

(2) Pendirian BUMNag bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disepakati melalui Musyawarah antar- Nagari yang difasilitasi oleh badan kerja sama antar- Nagari yang terdiri dari:

a. Pemerintah Nagari;

b. anggota Bamus;

c. lembaga kemasyarakatan Nagari;

d. lembaga Ngari lainnya; dan

e. tokoh masyarakat dengan mempertimbangkan keadilan gender.

(3) Ketentuan mengenai Musna berlaku secara mutatis mutandis terhadap pendirian BUMNag bersama.

(4) BUMNag bersama ditetapkan dalam Peraturan Bersama Walinagari tentang Pendirian BUMNag bersama.

BAB IV

PELAPORAN, PERTANGGUNGJAWABAN, DAN AUDIT Bagian Kesatu

Pelaporan

(30)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 30

Pasal 69

(1) Kepala unit usaha wajib menyampaikan laporan setiap bulan kepada pelaksana operasional.

(2) Pelaksana operasional BUMNag wajib menyampaikan laporan semester dan tahunan kepada Penasihat.

(3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sekurang-kurangnya memuat perkembangan BUMNag, jumlah penerimaan, jumlah pengeluaran dan besarnya keuntungan yang diperoleh selama periode tertentu.

(4) Apabila Laporan atas pengelolaan BUMNag yang disampaikan kepada Penasihat ditolak, maka dikembalikan untuk disempurnakan selambat- lambatnya 1 bulan terhitung dari tanggal pengembalian.

(5) Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus disertai dengan alasan-alasan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

(6) Apabila laporan yang telah disempurnakan belum dapat diterima, dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk dilakukan audit sampai dengan pemberhentian pelaksana operasional.

Bagian Kedua Pertanggungjawaban

Pasal 70

(1) Pelaksana Operasional menyampaikan pertanggungjawaban pelaksanaan BUMNag kepada Penasihat.

(2) Penasihat mempertanggungjawabkan pengendalian pelaksanaan kegiatan pengelolaan BUMNag.

(3) Pertanggungjawaban pengendalian pelaksanaan kegiatan pengelolaan BUMNag sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Bamus melalui Musna.

Bagian Ketiga

(31)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 31

Audit Pasal 71

(1) Penasihat dan Pengawas dapat meminta auditor independen untuk melakukan audit terhadap pengelolaan BUMNag.

(2) Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan secara berkala, setiap akhir masa jabatan kepengurusan dan/atau sesuai kebutuhan.

BAB V

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 72

(1) Bupati melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan BUMNag.

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilimpahkan kepada perangkat daerah yang membidangi urusan nagari, dan pengawasan.

BAB VI

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 73

Kepengurusan Pengawas untuk yang pertama kali dilakukan melalui Musna Pendirian BUMNag.

Pasal 74

BUMNag atau sebutan lain yang telah ada sebelum Peraturan Daerah ini berlaku tetap menjalankan kegiatannya dan menyesuaikan paling lambat 1 (satu) tahun sejak Peraturan Daerah ini berlaku.

BAB VII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 75

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan

(32)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 32

Daerah Kabupaten Agam Nomor 4 Tahun 2013 tentang Tatacara Pembentukan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Nagari (Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2013 Nomor 4) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 76

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Agam.

Ditetapkan di Lubuk Basung pada tanggal 4 Mei 2018 BUPATI AGAM,

dto

INDRA CATRI Diundangkan di Lubuk Basung

pada tanggal 4 Mei 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN AGAM, dto

MARTIAS WANTO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN AGAM TAHUN 2018 NOMOR 2

Salinan sesuai dengan Aslinya, KEPALA BAGIAN HUKUM,

DESNAWATI, SH. MH Pembina/ IV.a

NIP. 19661217 199202 2 001

(33)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 33

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG

PEDOMAN BADAN USAHA MILIK NAGARI

I. UMUM

Kabupaten Agam sebagai salah satu kabupaten di daerah Provinsi Sumatera Barat dengan 16 wilayah kecamatan dan memiliki berbagai potensi sumberdaya alam yang membentang seluas 2.232,2 kilometer persegi, seharusnya dapat memanfaatkan Badan Usaha Milik Nagari sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Agam. Dengan memaksimalkan Badan Usaha Nagari, potensi-potensi masing-masing Nagari di Kabupaten Agam dapat dimanfaatkan secara menyeluruh dan memberikan keuntungan secara ekonomi, baik terhadap pendapatan nagari maupun masyarakat secara umumnya.

Pada tahun 2014, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (PP Desa). Bab VIII PP Desa mengatur secara khusus tentang Badan Usaha Milik Nagari. Kemudian pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), menerbitkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa. Peraturan menteri ini menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam penyusunan peraturan daerah berkaitan dengan Badan Usaha Milik Nagari.

(34)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 34

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Cukup jelas Pasal 2

Cukup jelas Pasal 3

Cukup jelas Pasal 4

Cukup jelas Pasal 5

Cukup jelas Pasal 6

Cukup jelas Pasal 7

Cukup jelas Pasal 8

Cukup jelas Pasal 9

Cukup jelas Pasal 10

Cukup jelas Pasal 11

Cukup jelas Pasal 12

Cukup jelas Pasal 13

Cukup jelas Pasal 14

(35)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 35

Cukup jelas Pasal 15

Cukup jelas Pasal 16

Cukup jelas Pasal 17

Cukup jelas Pasal 18

Cukup jelas Pasal 19

Cukup jelas Pasal 20

Cukup jelas Pasal 21

Cukup jelas Pasal 22

Cukup jelas Pasal 23

Ayat (1)

Cukup jelas Ayat (2)

Yang dimaksud pengambilan keputusan secara terbuka adalah pengambilan keputusan dimana setiap peserta Musna memiliki kesempatan untuk melihat hasil pilihan peserta Musna lain secara langsung.

Ayat (3)

Yang dimaksud pengambilan keputusan secara rahasia adalah pengambilan keputusan dimana masing-masing

(36)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 36

peserta Musna tidak bisa mengetahui pilihan orang lain kecuali jika diberi tahu secara lansung oleh orang tersebut.

Ayat (4)

Cukup jelas Pasal 24

Cukup jelas Pasal 25

Ayat (1)

Cukup jelas Ayat (2)

Yang dimaksud dengan catatan tetap adalah catatan yang memuat pokok pembicaraan, kesimpulan dan/atau keputusan yang dihasilkan dalam Musna serta dilengkapi dengan risalah musyawarah dan laporan singkat adalah laporan yang memuat kesimpulan dan/atau keputusan Musna.

Ayat (3)

Apabila Walinagari berhalangan hadir dalam Musna, yang dapat mewakili Walinagari adalah Sekretaris Nagari atau Perangkat Nagari lainnya yang ditunjuk secara tertulis oleh Walinagari.

Pasal 26

Cukup jelas Pasal 27

Cukup jelas Pasal 28

Cukup jelas Pasal 29

Cukup jelas Pasal 30

(37)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 37

Cukup jelas Pasal 31

Cukup jelas Pasal 32

Cukup jelas Pasal 33

Cukup jelas Pasal 34

Cukup jelas Pasal 35

Cukup jelas Pasal 36

Cukup jelas Pasal 37

Cukup jelas Pasal 38

Cukup jelas Pasal 39

Cukup jelas Pasal 40

Cukup jelas Pasal 41

Huruf a

Yang dimaksud dengan mempunyai jiwa wirausaha dibuktikan dengan surat keterangan pengalaman kerja.

Huruf b

(38)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 38

Yang dimaksud berdomisili dan menetap di Nagari dibuktikan dengan foto copy Kartu Tanda Penduduk dan surat keterangan domisili dari Walinagari.

Huruf c

Yang dimaksud berkepribadian baik dibuktikan dengan surat keterangan berkelakuan baik dari Polisi.

Huruf d

Yang dimaksud pendidikan minimal dibuktikan dengan foto copy ijazah pendidikan terakhir yang dilegalisir oleh Pejabat yang berwenang.

Pasal 42

Cukup jelas Pasal 43

Cukup jelas Pasal 44

Ayat (1)

Yang dimaksud anggota pengurus meliputi Pengurus Bidang Tata Usaha, Pengurus Bidang Keuangan, dan Kepala Unit Usaha.

Ayat (2)

Yang dimaksud Karyawan adalah tenaga kerja yang membantu Kepala Unit Usaha dalam melaksanakan fungsi operasional unit usaha.

Ayat (3)

Cukup jelas Pasal 45

Cukup jelas Pasal 46

Cukup jelas Pasal 47

(39)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 39

Cukup jelas Pasal 48

Cukup jelas Pasal 49

Cukup jelas Pasal 50

Cukup jelas Pasal 51

Cukup jelas Pasal 52

Cukup jelas Pasal 53

Cukup jelas Pasal 54

Cukup jelas Pasal 55

Cukup jelas Pasal 56

Cukup jelas Pasal 57

Cukup jelas Pasal 58

Cukup jelas Pasal 59

Cukup jelas Pasal 60

Cukup jelas Pasal 61

(40)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 40

Cukup jelas Pasal 62

Cukup jelas Pasal 63

Cukup jelas Pasal 64

Cukup jelas Pasal 65

Cukup jelas Pasal 66

Cukup jelas Pasal 67

Cukup jelas Pasal 68

Cukup jelas Pasal 69

Cukup jelas Pasal 70

Cukup jelas Pasal 71

Cukup jelas Pasal 72

Cukup jelas Pasal 73

Cukup jelas Pasal 74

Cukup jelas Pasal 75

(41)

Lembaran Daerah Kabupaten Agam Tahun 2018 41

Cukup jelas Pasal 76

Cukup jelas

Referensi

Dokumen terkait

Pasal I Ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Klaten Nomor 18 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum Lembaran Daerah Kabupaten Klaten Tahun 2011 Nomor 18, Tambahan Lembaran Daerah

Analisis Sistem Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Studi Kasus Pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Minahasa Selatan.. Wajo Regency