Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah menyelesaikan penulisan monografi Pemanggil Ikan Berbasis Gelombang Suara untuk Nelayan Jaring Insang. Pemanggil Ikan Berbasis Gelombang Suara untuk Nelayan Jaring Insang merupakan salah satu topik penelitian yang menunjang pemahaman mata kuliah teknologi penangkapan ikan dan mata kuliah lain yang berkaitan dengan perikanan tangkap. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membuat alat pemanggil ikan berbasis gelombang suara untuk nelayan jaring insang.
Diharapkan dengan dibuatnya monograf ini dapat menambah pengetahuan tentang alat penarik ikan sonik bagi jaring insang sehingga dapat juga digunakan sebagai pendamping materi perkuliahan lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan alat penarik berupa alat pemanggil ikan berdasarkan gelombang suara yang digunakan dalam penangkapan ikan dengan jaring insang.
Konstruksi Alat Tangkap Jaring Insang
Jumlah, berat dan volume pelampung yang dipasang pada suatu jaring menentukan besar kecilnya daya apung (Buoyancy) Besar kecilnya daya apung yang dipasang mempunyai pengaruh yang besar terhadap bagus atau tidaknya hasil tangkapan (Martasuganda, 2002). Sumber: http://www.mxsocal.org/newsitems/towimage/Drift-Net.gif). Menurut Manalu, A (2014), dari hasil pengamatan parameter lingkungan selama penelitian di daerah jaring permukaan di perairan Bogak Besar, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara, suhu berkisar antara 280C – 300C. dari 0,15 m/s – 0,25 m/s, Kecerahan bervariasi dari 0,80 m – 1,13 m, Kedalaman bervariasi dari 10 m – 16 m, Salinitas bervariasi antara dan pH (keasaman) bervariasi dari 7 – 9 Hasil tangkapannya adalah ikan makarel (Rastrellinger sp ) dan Ikan Senangin (Polynemus tetradactylus), sedangkan kisaran hasil tangkapan antara 6,5 Kg - 8,1 Kg/hari.
Elsafander (2012), mengatakan hasil tangkapan yang diperoleh dalam sekali tangkapan sekitar 5-10 kg, bahkan ada yang sampai 35 kg jika musim tepat. Dalam satu kali operasi, nelayan menjalankan 1-2 usaha dimana ikan yang ditangkap dengan jaring tersebut langsung dijual kepada masyarakat di pelabuhan, dan jika tidak habis maka ikan tersebut dijual keliling kota.
Gelombang Bunyi
Tingkah Laku Ikan terhadap Gelombang Bunyi
Penelitian penarik berbasis gelombang suara yang digunakan pada jaring insang dengan rentang frekuensi 500-1000 Hz dapat menarik ikan untuk mendekati alat tersebut (N Rosana dan Suryadhi, 2017). Organ pada ikan yang berfungsi sebagai organ pendengaran adalah gurat sisi (linea lateralis) dan struktur labirin. Namun tidak menutup kemungkinan ada beberapa spesies ikan yang mampu merespon frekuensi hingga 5 KHz.
Alat pemanggil ikan multi frekuensi juga dapat digunakan untuk memanggil berbagai jenis ikan, baik ikan air asin maupun ikan air tawar. Metodologi yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan penelitian adalah dengan membuat alat pemanggil ikan berbasis gelombang suara bagi nelayan jaring insang yang tergabung dalam kelompok nelayan tradisional khususnya di perairan desa Tambak Cemandi Sidoarjo untuk meningkatkan kesejahteraannya. Tahapan penelitian dilakukan selama dua tahun, dengan tujuan keseluruhan penelitian ini adalah menghasilkan umpan pancing yang akan digunakan dalam penangkapan ikan dengan jaring insang.
Tujuan tahun pertama adalah membuat model alat pemanggil ikan (skala laboratorium) yang dapat digunakan pada jaring insang, dan tahun kedua adalah: (1) melakukan pengujian lebih lanjut alat tersebut di perairan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam komposisi hasil tangkapan yang diambil oleh operasi penangkapan ikan. umumnya dengan jaring insang menggunakan alat pemanggil ikan yang disebut “Piknet” dan (2) perbaikan alat pemanggil ikan “Piknet” sesuai saran dan hasil pengujian. pada tahun pertama agar dapat beroperasi secara optimal di perairan. Bahan dan alat yang digunakan dalam tahap pelaksanaan penelitian antara lain: perahu dan jaring, peralatan penangkapan ikan, bahan dan alat yang berhubungan dengan produksi alat pemanggil ikan berbasis gelombang suara, Osiloskop, data primer berupa komposisi hasil tangkapan, data sekunder hasil wawancara. dengan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, yaitu membuat/merancang alat pemanggil ikan berbasis gelombang suara dan memanipulasi objek yang diteliti (jaring insang/net) dengan harapan dapat memberikan perbedaan hasil tangkapan yang signifikan.
Analisis data dilakukan untuk mengetahui perbedaan jumlah hasil tangkapan jaring insang dengan menggunakan alat pemanggil ikan berbasis gelombang suara dan tanpa alat pemanggil suara, dengan menggunakan statistik inferensial uji t Student dua sampel tidak berpasangan. Alat pemanggil ikan berbasis gelombang suara ini dilakukan melalui beberapa tahapan dan pengujian baik di laboratorium maupun di perairan dengan menggunakan alat tangkap jaring insang yang dipasangi alat tersebut. Alat pemanggil ikan yang berbasis gelombang suara ini kemudian disebut dengan Piknet yang merupakan singkatan dari pemanggil ikan gillnet.
Pemanggil ikan berbasis gelombang bunyi tahap awal (Piknet I)
Pada Piknet I menurut (N Rosana dkk, 2018), alat pemanggil ikan dibuat dengan menggunakan rentang gelombang suara antara 500-1000 Hz dan diberi nama “Piknet”. Tabel 6.1 menunjukkan komponen, spesifikasi dan jumlah komponen yang digunakan dalam pembangunan Piknet (N Rosana dkk, 2018). Dimensi penampang Picnet sebelum dikemas dalam kemasan kedap air adalah 9 x 6 cm, terdiri dari 14 jenis komponen (Gbr. 14 PCB.
Komponen yang digunakan dalam pembuatan rangkaian pada Picnet II terdiri dari speaker piezoelektrik, mikrokontroler (digispark), driver speaker dan baterai (Gambar 6.5). Gelombang suara yang digunakan pada Picnet I dan Picnet II tidak mengalami perubahan karena telah diuji di laboratorium dan di air. Tahapan proses pembuatan Picnet II diawali dengan (1) menghubungkan komponen speaker piezoelektrik dengan modul driver suara (speaker), (2) menghubungkan modul driver suara dengan modul mikrokontroler (digispark), (3) memprogram frekuensi suara di komputer (Arduino IDE), (4) download atau letakkan program di digispark.
Hasil pengujian di perairan dengan menggunakan Picnet II menunjukkan masih ditemukannya kebocoran pada peralatan, hal ini disebabkan oleh adanya pori-pori dari proses pembuatan kemasan Picnet II dengan printer 3 dimensi. Bagian pada alat yang diberi beban akibat pengecoran mengurangi suara yang dihasilkan oleh rangkaian elektronik, kemungkinan karena perubahan daya yang digunakan dan suara yang dipancarkan diserap oleh bahan pengecoran.
Pemanggil ikan berbasis gelombang bunyi tahap ke III (Piknet III)
Rangkaian elektronika Piknet III terdiri dari 1 buah piezoelektrik (speaker), 1 buah pengatur tegangan 5 V, 1 buah driver speaker H-Bridge, 1 buah digispark dan sebuah baterai 9 V. Tahapan proses pembuatan piknet III dimulai dari (1) penyambungan komponen piezoelektrik speaker ke modul driver suara (speaker), (2) penyambungan modul sound driver ke modul mikrokontroler (digispark), (3) pemrograman frekuensi suara pada komputer (arduino IDE), (4) mendownload atau memasukkan program ke digispark. Komponen yang digunakan dan rangkaian elektronik Picnet III lebih sederhana dibandingkan Picnet I, dengan tujuan disesuaikan dengan kemasan berbentuk tabung.
Kemasan Picnet III terbuat dari bahan acrylonitrile butadiene styrene (ABS) yang merupakan termoplastik berbahan dasar minyak yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan mainan, tabung, helm, dan lain sebagainya. Alat yang digunakan untuk membuat kemasan piknet adalah printer 3 dimensi tipe Prusa i3 yang ada di laboratorium elektronika Universitas Hang Tuah dengan suhu 2300C. Hasil desain yang telah ditransfer ke SD card kemudian dicetak melalui printer 3 dimensi selama 22 jam (Gambar 6.9).
Perbandingan Piknet I, II dan III
Uji Coba Skala Laboratorium
Setelah dilakukan uji coba awal, alat pemanggil ikan yang dihasilkan akan diuji dan dipasang pada alat tangkap jaring insang permukaan yang dioperasikan oleh nelayan di perairan desa Tambak Cemandi, Sidoarjo. Rosana et al, 2018 menyatakan bahwa hasil respon ikan terhadap alat pemanggil ikan dapat dilihat pada tabel berikut. Uji coba alat pemanggil ikan dengan gelombang suara (Piknet) di perairan dilakukan pada musim penangkapan ikan yakni Mei-Juli dan pada masa karnaval yakni Oktober-November.
Pengujian alat fish recall pada musim penangkapan ikan dilakukan sebanyak 9 kali dengan cara monitoring terhadap operasional penangkapan ikan yang dilakukan oleh para pemancing. Alat tangkap jaring insang yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan dengan alat pemanggil ikan (Piknet) dibuat dengan cara demikian. Dari hasil uji coba di perairan dengan 3 kali ulangan dan wawancara dengan jaring insang, hasil tangkapan menunjukkan hasil yang signifikan dengan menggunakan alat pemanggil ikan yang dipasang pada alat tangkap jaring insang.
Saat pengujian alat pemanggil ikan di perairan Tambak Cemandi Sidoarjo, jenis ikan yang ditangkap adalah bulu ayam (Thryssa setirostris). Perbedaan jumlah hasil tangkapan antara jaring insang dengan alat pemanggil ikan dan tanpa alat pemanggil ikan. Pengamatan di lapangan menunjukkan banyak ikan yang terjerat pada posisi jaring yang dekat dengan posisi alat pemanggil ikan.
Hasil yang didapat dalam satu kali penangkapan dengan alat pemanggil ikan picnet rata-rata 2 keranjang berkapasitas 40 kg sehingga total hasil tangkapan adalah 80 kg. Analisis statistik digunakan untuk menunjukkan perbedaan penggunaan alat tangkap ikan (piknet) ditinjau dari jumlah hasil tangkapan menggunakan alat tangkap gillnet di perairan Tambak Cemandi, Sidoarjo, Jawa Timur. Ho: Penggunaan alat pemanggil ikan (piknet) berbasis gelombang suara pada alat tangkap gillnet di perairan Tambak Cemandi Sidoarjo tidak berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan ikan bulu ayam (thryssa setirostris).
H1 : Penggunaan alat pemanggil ikan (piknet) berbasis gelombang suara pada alat tangkap jaring insang di perairan Tambak. Dari tabel diatas terlihat nilai sig.(2 tail) yang diperoleh adalah 0,00 < 0,05 maka tolak Ho atau terima H1 yang artinya penggunaan alat pemanggil ikan (picknet) berbasis gelombang suara pada peralatan jaring ikan di perairan Tambak Cemandi Sidoarjo mempengaruhi jumlah hasil tangkapan ikan sirip ayam (thryssa setirostris).
Tingkah Laku Ikan
Hasil uji coba di perairan menunjukkan bahwa daya tarik ikan bulu ayam mendekati sumber suara dengan rentang frekuensi antara 500-1000 Hz yang digunakan pada alat pemanggil ikan (pinettes) kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena ikan mempunyai gurat sisi. . sistem (linea lateralis) yang berfungsi sebagai indra pendengaran. Sesuai dengan hasil uji coba pada akuarium ikan hias air laut, atraksi ikan untuk mendekati sumber suara berupa alat pemanggil ikan berbasis gelombang suara dengan menggunakan rentang frekuensi 500-1000 Hz yang digantung pada jaring insang dapat dilakukan. karena sinyal yang direspon ikan adalah sesuatu yang tidak berbahaya. Penentuan waktu operasi penangkapan ikan juga menjadi salah satu hasil penelitian yang dapat dijadikan dasar ketertarikan ikan untuk mendekati sumber suara (peak net).
Kecepatan respon ikan terhadap sumber suara penting dalam efisiensi penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan jaring insang.
Kesimpulan
Saran
Kajian pembangunan alat tangkap jaring insang (gillnet) di Desa Nipah Sendanu, Kecamatan Meranti, Kepulauan Tebing Tinggi Timur, Provinsi Riau, (http://portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewjournal&journal=4 715, diakses 20 Juni 2018 ). Sumber Seismik Laut, VIII. bagian: https://www.geoexpro.com/articles/2011/03/marine-seismic-sources-part-viii-fish-hear-a-great-deal, diakses 22 Juni 2018). Metode penelitian kualitatif kuantitatif serta penelitian dan pengembangan. Probe ikan menggunakan mikrokontroler Atmega16 dengan media komunikasi frekuensi radio di perairan laut Makassar. https://id.wikipedia.org/wiki/Bunyi#Gelombang_bangun, diakses 21 Juni 2018).