1 PENDAHULUAN
Dalam era otonomi daerah, pemerintah telah memberikan kewenangan kepada pemeritah daerah dalam mengatur sendiri kepentingan daerahnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintah daerah dapat mengatur sendiri aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan budaya di daerahnya. Pembentukan BUMD merupakan kewenangan pemerintah daerah dalam aspek ekonomi. Pengertian BUMD menurut Pasal 1 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 54 Tahun 2017 Tentang Badan Usaha Milik Daerah adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Daerah. Sebagai salah satu pelaku ekonomi. Ada berbagai macam jenis BUMD. PDAM merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang memiliki jenis pelayanan barang yang menyediakan air bersih. PDAM adalah sebuah perusahaan yang bisa mengalami kerugian, kerugian ini dapat disebabkan oleh buruknya pengelolaan perusahaan karena tidak menerapkan prinsip corporate governance yang baik.
Komite Cadbury pada tahun 1992 pertama kali memperkenalkan istilah corporate governance dalam laporannya yang dikenal sebagai Cadbury Report. Corporate Governance adalah sistem yang mengatur perusahaan agar mencapai keseimbangan antara masing-masing pihak yang memiliki kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan sebagai tanggungjawab kepada stakeholders agar keberlangsungan perusahaan terjamin (Cadbury, 1992).
Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) No: PER-01/MBU/2011 tentang penerapan tata kelola perusahaan yang baik pada BUMN mendefinisikan:
“Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) yang selanjutnya disebut GCG adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha.”
Prinsip-prinsip GCG yang dimaksud dalam Peraturan ini, meliputi: transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), dan kewajaran (fairness).
2
Good Corporate Governance dilaksanakan di berbagai BUMD dan BUMN dengan tujuan agar perusahaan-perusahaan tersebut mampu memberikan pendapatan untuk kesejahteraan daerahnya. Pada tahun 2022 Direktur Teknik PDAM Kota Surakarta mengalami kasus pidana dan menyebabkan beliau harus mengundurkan diri dari jabatannya, dikarenakan hal ini posisi direktur teknik kosong dan untuk sementara direktur umum memegang dua jabatan yaitu sebagai direktur umum dan direktur teknik.
Pada tahun 2022 terdapat pembangunan infrastruktur di beberapa wilayah Kota Surakarta sehingga menyebabkan pelayanan air bersih kepada pelanggan mengalami gangguan seperti air mati atau air kotor dikarenakan pipa jaringan air bersih putus terkena alat berat proyek. Dalam rangka melayani pelanggan dalam memenuhi kebutuhan air bersih, PDAM Kota Surakarta perlu memperhatikan beberapa wilayah yang terkena dampak pembangunan infrastruktur dan menyediakan serta mengirimkan tangki air yang memadai dan mencukupi untuk masyarakat yang terdampak. Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan prinsip akuntabilitas dan responsibilitas di PDAM Kota Surakarta perlu untuk diteliti lebih lanjut.
Ada beberapa penelitian tentang pelaksanaan GCG pada BUMD. Penelitian yang dilakukan oleh Sonu, Kalangi & Warongan (2019) menyatakan pelaksanaan asas transparansi, responsibilitas, independensi, serta kewajaran dan kesetaraan sudah cukup sesuai dengan asas yang dikeluarkan KNKG, namun terkait asas akuntabilitas belum sesuai.
Penelitian lain dilakukan oleh Fitriyani, Tiswiyanti & Prasetyo (2015) mengenai pelaksanaan GCG pada BUMD menyatakan sebagian besar BUMD belum melaksanakan prinsip akuntabilitas dikarenakan belum memiliki komite audit, namun terkait prinsip transparansi, independensi, responsibilitas serta kesetaraan dan kewajaran sudah sesuai dengan Peraturan Menteri BUMN.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Qolbia (2017) mengenai pelaksanaan GCG pada BUMD menyatakan bahwa pelaksanaan prinsip transparansi serta kesetaraan dan kewajaran sudah sesuai dengan prinsip yang dikeluarkan KNKG, namun prinsip akuntabilitas, responsibilitas, dan kemandirian tidak diterapkan dengan baik.
3
Penelitian lain yang dilakukan oleh Hadi & Swandari (2019) mengenai pelaksanaan GCG pada BUMD menyatakan bahwa penerapan prinsip independensi belum cukup baik dikarenakan intervensi politik salah satunya adalah penitipan karyawan untuk bekerja di perusahaan, namun terkait prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, serta kesetaraan dan kewajaran sudah cukup sesuai dengan Peraturan Menteri BUMN.
Berdasarkan hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya ternyata tidak ada peneliti yang meneliti PDAM di Kota Surakarta sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan prinsip accountability dan responsibility pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif deskriptif dan termasuk dalam studi kasus. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu terletak pada tahun pengamatan dan objek penelitian. Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan daerah air minum Kota Surakarta. Objek tersebut dipilih karena PDAM Surakarta mendapat penghargaan Perpamsi Awards Kategori BUMD Sehat Pengolah Air Minum Dan Limbah . Permasalahan penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan: Bagaimana penerapan prinsip accountability dan responsibility pada PDAM Kota Surakarta? Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan prinsip accountability dan responsibility pada PDAM Kota Surakarta. Manfaat penelitian ini yaitu penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya serta menambah pengetahuan khususnya tentang penerapan prinsip tata kelola perusahaan (corporate governance) pada BUMD.
TINJAUAN PUSTAKA
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Pasal 1 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 54 Tahun 2017 Tentang Badan Usaha Milik Daerah mendefinisikan Badan Usaha Milik Daerah yang selanjutnya disingkat BUMD adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Daerah. Ada 2 jenis BUMD, yaitu: 1) Perusahaan umum Daerah merupakan BUMD yang modalnya tidak berbentuk saham dan seluruhnya dimiliki oleh daerah; 2) Perusahaan perseroan Daerah merupakan BUMD yang modalnya berbentuk saham yang paling sedikit 51% atau semua sahamnya dimiliki oleh daerah, BUMD ini berbentuk perseroan terbatas.
4
Pasal 7 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 54 Tahun 2017 tentang BUMD menyebutkan bahwa BUMD didirikan dengan tujuan, antara lain: 1) Membantu perekonomian suatu daerah; 2) Membantu menyediakan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat berdasarkan prinsip tata kelola yang baik dan 3) Memperoleh laba atau keuntungan.
Banyak pihak yang memperhatikan tingkat efektivitas dan efisiensi pengelolaan sumber daya yang ada pada BUMD karena perannya yang begitu besar dalam perekonomian daerah. Sehingga transparansi dalam pengelolaan BUMD menjadi hal yang wajib dilakukan sebagai sumber informasi publik dalam memonitor kinerja BUMD.
Pengertian Good Governance
United Nation Development Program (UNDP) mendefinisikan Good governance adalah suatu pengelolaan masalah negara dengan melibatkan semua sektor termasuk sektor politik, ekonomi dan administrative. Sedangkan World Bank mendefinisikan Good Governance adalah pengelolaan sumber daya sosial dan ekonomi oleh pemerintah yang bertanggungjawab dengan tujuan memenuhi kepentingan pembangunan masyarakat.
Corporate Governance adalah sistem yang mengatur perusahaan agar mencapai keseimbangan antara masing-masing pihak yang memiliki kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan sebagai tanggungjawab kepada stakeholder agar keberlangsungan perusahaan terjamin (Cadbury, 1992).
Berdasarkan beberapa definisi tersebut good governance adalah suatu pedoman yang mengatur suatu perusahaan dalam mengelola dalam menjalankan aktivitasnya termasuk mengatur hubungan antara pemangku kepentingan. Agar perusahaan survive di era globalisasi seperti sekarang ini, keberadaan good governance merupakan hal yang penting.
Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance
Prinsip-prinsip good corporate governance berdasarkan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) adalah: 1) Transparansi (transparency), yaitu transparan atau terbuka dalam mengungkapkan informasi perusahaan agar mudah di akses dan keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan; 2) Akuntabilitas (accountability),
5
yaitu struktur organ perusahaan memiliki kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif; 3) Pertanggungjawaban (responsibility), yaitu dalam pengelolaan perusahaan harus patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta menerapkan prinsip-prinsip perusahaan yang sehat; 4) Kemandirian (independency), yaitu perusahaan dikelola secara profesional atau independen tanpa pengaruh atau tekanan dari pihak manapun; dan 5) Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak Pemangku Kepentingan (stakeholders) yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.
Pentingnya Good Corporate Governance
Pedoman umum Good Corporate Governance dari Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menyatakan good corporate governance diperlukan dalam rangka:
1) Mendorong tercapainya kerberlangsungan perusahaan melalui pelaksanaan prinsip- prinsip GCG; 2) Mendorong kemandirian struktur organanisasi perusahaan; 3) Mendorong para pemangku kepentingan dalam membuat keputusan berdasarkan moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan; 4) Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan; 5) Meningkatkan nilai suatu perusahaan dan 6) Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasonal, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
Menurut Daniri (2005), ada beberapa manfaat dari penerapan prinsip-prinsip GCG, yaitu: 1) Mengurangi biaya agensi cost atau biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memastikan pihak manajer berlaku sesuai dengan kepentingan stakeholders termasuk biaya kerugian yang dilakukan karena penyalahgunaan wewenang dan biaya pengawasan untuk mencegah pengalahgunaan kekuasaan; 2) Mengurangi biaya modal (cost of capital) atau biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan setoran modal bagi perusahaan, biasanya berasal dari hutang, saham, maupun laba ditahan; 3) Meningkatkan nilai perusahaan serta citra perusahaan dimata publik dan 4) Menciptakan dukungan bagi para
6
pemegang kepentingan, karena biasanya mereka juga mendapatkan manfaat dari kegiatan operasional perusahaan
Akuntabilitas (accountability)
Akuntabilitas adalah kemampuan memberi jawaban kepada otoritas yang lebih tinggi atas tindakan seseorang atau kelompok terhadap masyarakat luas dalam suatu organisasi (Rasul, 2003). Secara luas akuntabilitas adalah kewajiban pihak pemegang amanah (agen) untuk memberikan pertanggungjawaban dan terbuka dalam menyajikan serta melaporkan aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi pertanggungjawaban, sedangkan secara sempit akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban kepada siapa dan untuk apa organisasi bertanggung jawab (Mahsun, 2006). Akuntabilitas merupakan bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan misi organisasi untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah diterapkan sebelumnya, melalui media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik (Sedarmayanti, 2003).
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan akuntabilitas merupakan syarat agar pelaksanaan kewajiban organ dijalankan dengan benar agar mencapai tujuan perusahaan serta mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Prinsip akuntabilitas adalah siapa yang harus bertanggung jawab, kepada siapa harus bertanggungjawab, untuk apa mereka bertanggung jawab, dan apa konsekuensi dari tanggung jawab tersebut.
Menurut KNKG dalam menerapkan akuntabilitas harus menetapkan kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban masing-masing anggota organ perusahaan dan memastikan bahwa semua karyawan memiliki kompetensi yang memadai, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Semua karyawan berpartisipasi dalam pelatihan atau seminar untuk mengembangkan kompetensi. Sedangkan yang berhubungan dengan penghargaan dan hukuman merupakan salah satu upaya perusahaan untuk secara objektif menguji akuntabilitasnya. Perusahaan juga harus memiliki komite dan satuan kerja yang mengawasi dan mengendalikan internal perusahaan yang bertanggung jawab langsung kepada Dewan Komisaris dan Direksi untuk memastikan bahwa setiap bagian di dalam perusahaan menjalankan peran dan fungsinya dengan baik.
7
Bovens (2006) mengutarakan ada tiga fungsi utama dari akuntabilitas, yaitu 1) Fungsi demokrasi dengan membangun sistem yang melibatkan stakeholders dan users (termasuk masyarakat dan pemerintah); 2) Fungsi konstitusional yang mencegah korupsi dan penyalahgunaan wewenang; 3) Fungsi belajar dengan meningkatkan efektivitas dan efisiensi.
Responsibilitas (responsibility)
Responsibilitas atau tanggungjawab adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa jauh proses pemberian pelayanan publik dilakukan sesuai dengan prinsip- prinsip atau ketentuan-ketentuan administrasi dan organisasi yang benar dan telah ditetapkan (Laterner & Levin, 1993). Responsibilitas menjelaskan pelaksanaan kegiatan organisasi publik sudah dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar atau sesuai dengan kebijakan organisasi atau tidak dilakukan sesuai dengan prinsip dan kebijakan tersebut, baik yang dinyatakan langsung ataupun tidak langsung (Dwiyanto, 2006). Responsibilitas merupakan penerimaan atas penyerahan wewenang, dan sebagai kewajiban untuk melaksanakan dengan hati-hati wewenang yang diserahkan atau diterima yang mengingat fungsi individu atau grup yang berpartisipasi dalam aktivitas suatu keputusan organisasi (Kohler, 2004).
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa responsibilitas adalah tanggung jawab individu atau grup terhadap orang yang memiliki jabatan atau wewenang yang lebih tinggi termasuk pemerintah dan masyarakat dengan memperhatikan peraturan-peraturan yang berlaku.
Menurut KNKG dalam menerapkan responsibilitas perusahaan harus memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan usahanya sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku, hal ini menjamin kenyamanan para pelanggan perusahaan dalam menikmati layanan. Untuk memastikan pelaksanaan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, salah satu langkah Perseroan adalah dengan memiliki Sekretaris Perusahaan yang bekerjasama dengan Divisi Hukum. Langkah ini dipandang perlu setiap dan seluruh kegiatan operasional perusahaan dipastikan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan melakukan fungsinya sebagai penyedia lapangan kerja bagi masyarakat. Program tanggung jawab
8
sosial (Corporate Social Responsibility –CSR) yang dijalankan Perseroan juga ditujukan bagi masyarakat, terutama mereka yang berdomisili di sekitar tempat kegiatan usaha Perseroan. Dengan demikian, perusahaan dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang bermanfaat.
Perbedaan Akuntabilitas dan Responsibilitas
Bahasa Inggris responsibility artinya tanggung jawab, sedangkan accountability artinya pertanggungjawaban. Akuntabilitas merupakan kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai. Sedangkan responsibility merupakan kewajiban untuk bertanggungjawab. Akuntabilitas berorientasi pada individu untuk bertanggung jawab atas tugas tertentu dan juga bertanggung jawab untuk membuktikan dan menjawab tindakan-tindakan yang telah dilakukan. Responsibilitas mempunyai arti sebagai adanya kewajiban moral dalam menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada seseorang.
Jadi, perbedaan utama antara akuntabilitas dan responsibilitas adalah bahwa akuntabilitas menekankan kepemilikan tunggal atas tindakan dan keputusan untuk tugas tersebut, sedangkan responsibilitas merupakan tugas yang diberikan seseorang atas individu oleh seseorang yang memiliki jabatan atau wewenang yang lebih tinggi.
METODE PENELITIAN Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah PDAM Kota Surakarta. Objek penelitian ini dipilih karena PDAM Surakarta mendapat penghargaan Perpamsi Awards Kategori BUMD Sehat Pengolah Air Minum Dan Limbah yang dipublished oleh Agnia Pramsasti.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) Wawancara yang dilakukan melalui tatap muka langsung dengan informan dengan pertanyaan mengenai praktik good corporate governance pada PDAM khususnya yang menyangkut prinsip akuntabilitas dan responsibilitas; 2) Dokumentasi dengan menggunakan dokumen peraturan yang ada di PDAM, struktur organisasi dan dokumen lain yang diperlukan; dan 3) Observasi yang dilakukan dengan melakukan pengamatan pada PDAM.
9 Jenis Penelitian dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari proses wawanara pada para pihak yang memiliki informasi. Subjek penelitian pada PDAM Kota Surakarta adalah Staff Administrasi dan Asisten Manajer Sumber Daya Manusia dan Asisten Manajer Layanan Hubungan Pelanggan PDAM Kota Surakarta. Data sekunder diperoleh dari catatan yang ada di perusahaan. Pelaksanaan penelitian untuk PDAM Kota Surakarta adalah tahun 2022.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas: 1) Pengumpulan data, peneliti mengumpulkan semua data yang dilakukan melalui wawancara dengan narasumber secara mendalam serta dari dokumentasi perusahaan; 2) reduksi data, peneliti melakukan pemilihan data agar sesuai dengan permasalahan yang diteliti mengenai penerapan prinsip akuntabilitas dan responsibilitas pada BUMD; 3) Kategorisasi, pada tahap ini peneliti menganalisis data yang diperoleh dan dikelompokkan masing-masing sesuai dengan prinsip yaitu prinsip akuntabilitas dan responsibilitas; 4) Penyajian data, pada tahap ini peneliti melakukan penyajian data dalam bentuk naratif; dan 5) Penarikan kesimpulan, kesimpulan yang ingin di ambil yaitu temuan baru yang sesuai dengan masalah penelitian yaitu bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan responsibilitas pada BUMD.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum PDAM Kota Surakarta
PDAM Kota Surakarta merupakan salah satu Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah Kota Surakarta yang memiliki tugas utama memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta dan sekitarnya akan pelayanan air bersih dan pengelolaan air limbah.
Visi PDAM Kota Surakarta Menjadi salah satu PDAM yang terbaik di bidang pelayanan air minum dan air limbah melalui pengelolaan yang berwawasan lingkungan.
Misi PDAM Kota Surakarta adalah: 1) Memberikan layanan air minum dan air limbah
10
kepada masyarakat secara berkesinambungan dengan mengutamakan kepuasan pelanggan; 2) Meningkatkan kontribusi perusahaan pada Pendapatan Asli Daerah (PAD);
3) Meningkatkan Profesionalisme Sumber Daya Manusia; dan 4) Melestarikan sumber air.
Nilai-nilai yang ada di PDAM Kota Surakarta di wujudkan dalam bentuk ikrar 5 mantap yaitu: 1) Mantap kejujuran artinya setiap pegawai harus menjaga kejujurannya;
2) Mantap kedisiplinan artinya setiap pegawai harus disiplin dalam semua aspek produktifitas kerja; 3) Mantap organisasi artinya dalam melaksanakan pelayanan sesuai dengan struktur organisasi, tugas dan tata kerja; 4) Mantap pelayanan artinya para pegawai harus melakukan pelayanan dengan sebaik mungkin; dan 5) Mantap gotong royong artinya membangun kerjasama atau koordinasi antar pegawai dalam melaksanakan tugas.
Budaya perusahaan yang ada di PDAM Kota Surakarta, yaitu “Lurus dalam pengadian, ikhlas dalam pelayanan”. Lurus dalam pengabdian artinya setiap pegawai memiliki satu tujan yang selaras, profesional, memiliki integritas dan disiplin. Iklas dalam pelayanan artinya PDAM Kota Surakarta memiliki suatu sikap kebersamaan dan keharmonisan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Sejak berdiri pada tanggal 21 Mei 1977, PDAM Kota Surakarta hingga saat ini telah memiliki jumlah pelanggan sebesar 58.232 yang dibagi berdasarkan kategori pelanggan, sosial berjumlah 969, rumah tangga berjumlah 51.401, instansi pemerintah berjumlah 312, niaga berjumlah 5.193, dan sekolahan berjumlah 357.
11
TABEL 1. JUMLAH PELANGGAN PDAM KOTA SURAKARTA MENURUT KATEGORI PELANGGAN TAHUN 2020
Kategori Jumlah Pelanggan
1. Sosial Umum 399
2. Sosial Khusus 570
3. Rumah Tangga 1 105
4. Rumah Tangga 2 10.606
5. Rumah Tangga 3 29.433
6. Rumah Tangga 4 11.257
7. Instansi Pemerintah 312
8. Niaga 1 (Kecil) 4.867
9. Niaga 2 (Besar) 326
10. Sekolahan 357
Jumlah 58.232
Sumber: PDAM Kota Surakarta
12
13 GAMBAR 1
Struktur Organisasi Perumda Air Minum Kota Surakarta Tahun 2020 Sumber: Web Resmi PDAM Kota Surakarta
Struktur organisasi PDAM Kota Surakarta diatur dalam Peraturan Direksi Perumda Air Minum Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2021 tentang Susunan Organisasi, Tugas dan Tata Kerja Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kota Surakarta. Walikota Surakarta juga telah mengangkat Direksi PDAM Kota Surakarta dengan komposisi tertinggi yaitu Agustan, SE sebagai Direktur Utama, Darmitnto, SE sebagai Direktur Umum dan Tri Atmojo S. ST, M. Si sebagai Direktur Tehnik. Tugas utama Direksi adalah menjalankan seluruh kegiatan operasional perusahaan serta mengurus dan mengelola kekayaan perusahaan. Jumlah pegawai perusahaan adalah sebanyak 326 dengan rincian pegawai tetap berjumlah 287 dan pegawai non tetap berjumlah 39.
TABEL 2. JUMLAH PEGAWAI PDAM KOTA SURAKARTA MENURUT KATEGORI TINGKAT PENDIDIKAN TAHUN 2020
Tingkat Pendidikan Jumlah
sd SMP 11
SMA 124
D1-S1 13
S2 6
Total 326
Sumber: PDAM Kota Surakarta
Penerapan akuntabilitas di PDAM Kota Surakarta
Penerapan akuntabilitas di PDAM Kota Surakarta mengacu pada Pedoman pokok pelaksanaan prinsip akuntabilitas menurut Komite Nasional Kebijakan Governance yang terdiri atas empat hal yaitu adanya job description untuk semua organ perusahaan, karyawan mempunyai kemapuan yang memadai untuk melaksanakan tugas, adanya sistem pengendalian internal yang efektif, dan adanya sistem penilaian kinerja.
14 Adanya Job Description
Tahapan dalam pembuatan job description adalah: 1) Mengumpulkan data pekerjaan yang harus dilakukan di perusahaan; 2) Mencatat semua jabatan yang ada di perusahaan; 3) Membuat daftar tanggung jawab, hak dan kewajiban sesuai level manajemen; 4) Menginformasikan dan berkomunikasi dengan masing-masing manajemen sesuai job description; dan 5) Melakukan sosialisasi kepada karyawan mengenai job description.
Job description tidak dibuat rutin setiap tahun dan hanya dilakukan penyesuaian yang diperlukan agar lebih relevan, disusun oleh Tim Penyusunan yang terdiri dari Direksi, Seluruh Manajer, Asisten Manajer dan Staff Ahli. Apabila job description ini telah selesai disusun, maka akan dimintakan persetujuan kepada Dewan Pengawas PDAM Kota Surakarta, yang selanjutnya disampaikan kepada Walikota dalam RUPS untuk dimintakan pengesahan. Semua organ di PDAM Kota Surakarta telah memiliki rincian tugas masing-masing, hal ini senada oleh keterangan yang disampaikan Ibu Lilis Purnomowati selaku Asisten Manajer Sumber Daya Manusia di PDAM Kota Surakarta:
“Ada, tertuang dalam Peraturan Direksi Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2021 tentang Susunan Organisasi Tugas dan Tata Kerja Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kota Surakarta.” (Wawancara 24 Juli 2022)
Organ perusahaan terdiri atas organ utama dan organ pendukung. Organ utama terdiri atas Dewan Pembina, Dewan Pengawas dan Direksi. Dewan Pembina terdiri dari Walikota sebagai Ketua serta Anggota, Wakil Walikota sebagai Sekretaris serta Anggota, dan Sekertaris Daerah sebagai Anggota yang mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan terhadap direksi dalam rangka menjalankan seluruh kegiatan pengelolaan sesuai dengan kebijakan umum pemerintah daerah dan peraturan perundang-undangan.
Dewan Pengawas terdiri dari Ketua yang merangkap Anggota, Sekretaris yang merangkap Anggota dan Anggota yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan terhadap direksi dalam rangka menjalankan seluruh kegiatan pengelolaan perusahaan sesuai dengan kebijakan umum pemerintah daerah dan peraturan perundang-undangan.
Direksi terdiri dari Direktur Utama, Direktur Umum dan Direktur Tehnik yang memiliki tugas untuk melakukan pengendalian terhadap seluruh kegiatan pengelolaan perusahaan sesuai dengan kebijakan umum pemerintah daerah dan peraturan perundang-undangan.
15
Organ pendukung terdiri atas Satuan Pengawas Internal (SPI) dan Unit Wilayah.
Satuan Pengawas Internal (SPI) yang merupakan pengawas internal yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Unit Wilayah yang memiliki tugas yang berhubungan langsung dengan pelanggan termasuk menerima keluhan.
Dewan Pengawas dan Direksi yang diangkat pertama kalinya di berikan program pengenalan yang dilakukan oleh Bidang Umum. Program tersebut diadakan melalui seminar, presentasi, pertemuan, kunjungan ke lokasi, pengkajian dokumen atau dalam bentuk lain yang sesuai dengan kebutuhan. Isi program ini meliputi: 1) gambaran mengenai visi misi, motto, nilai-nilai perusahaan, budaya perusahaan, kegiatan operasional perusahaan, tujuan dan strategi bisnis, kinerja perusahaan, rencana bisnis, sistem teknologi, menajemen risiko dan masalah strategis lainnya; 2) penjelasan mengenai audit internal, audit eksternal serta sistem pengendalian internal; 3) penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab Direksi dan Dewan Pengawas; 4) hal-hal yang dilarang perusahaan dan 5) temuan audit atau kasus yang belum ditindaklanjuti.
Upaya PDAM Kota Surakarta dalam memberikan pengetahuan mengenai job description kepada pegawai antara lain: 1) di sosialisasikan kepada seluruh pegawai; 2) setiap pegawai mendapatkan satu salinan, yang kemudian di tanda tangani sebagai tanda telah memahami, menerima, dan menyetujui; 3) dokumen yang telah ditanda tangani kemudian di serahkan kepada Asisten Manajer Sumber Daya Manusia. Apabila karyawan melakukan pelanggaran terhadap isi dari dokumen yang sudah disetujui, maka akan mempengaruhi sistem penilaian kinerja.
Kompetensi Karyawan
Untuk memastikan bahwa karyawan telah memiliki kemampuan yang memadai sesuai dengan tugasnya, PDAM Kota Surakarta melakukan perekrutan pegawai sesuai dengan kebutuhan, berikut ini proses perekrutan pegawai secara rinci: 1) Dilakukan seleksi terhadap lamaran pekerjaan yang diterima, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan; 2) Pelamar yang memenuhi kriteria akan dipanggil untuk melakukan test psikologi: dan 3) Test wawancara.
16
Setelah pelamar diterima menjadi karyawan, maka akan diberlakukan SOP sesuai dengan jobdesk masing-masing. Hal ini senada dengan penjelasan Bapak Budi selaku Staff di PDAM Kota Surakarta:
“Ya kalo disini sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur), kalo tidak sesuai dengan SOP hasilnya kurang maksimal, jadi udah ada pegangan masing- masing untuk bidang-bidang terkait.” (Wawancara 24 Juni 2022)
Setelah karyawan sudah mulai bekerja, kemudian dilakukan Analisa Kebutuhan Diklat ini oleh masing-masing Manajer Bidang yang kemudian dimasukkan dalam rencana anggaran kerja perusahaan, dan selanjutnya direalisasikan dengan mencari vendor/lembaga diklat untuk melaksanakan diklat, Analisa Kebutuhan Diklat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan karyawan. Hal ini senada dengan keterangan Ibu Lilis Purnomowati:
“Kami mengupayakan dengan program pengembangan untuk meningkatkan kemampuan pegawai agar kompeten sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, dengan menyusun Analisa Kebutuhan Diklat bagi pegawai di masing-masing Bidang.” (Wawancara 24 Juli 2022)
Adanya Sistem Pengendalian Internal Yang Efektif
Sistem pengendalian internal merupakan suatu proses yang didukung oleh Direksi, Manajemen da Pegawai, untuk memberikan jaminan yang berkaitan dengan pengamanan aset perusahaan, efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan laporan keuangan, serta ketaatan pada peraturan perundang-undangan.
Sistem pengendalian internal di PDAM Kota Surakarta meliputi: 1) Lingkungan pengendalian (control environment), dalam membentuk dan memelihara lingkungan pengendalian, PDAM Kota Surakarta menerapkan bahwa seluruh insan perusahaan memiliki, memelihara dan berkomitmen terhadap standar etika yang tinggi; 2) Pengkajian dan pengelolaan risiko (risk assessment); 3) Direksi dan manajemen melakukan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko; 4) Aktivitas pengendalian (control activity), direksi menetapkan kebijakan serta prosedur dalam kegiatan operasional; 4) Sistem informasi dan komunikasi (information and communication), PDAM Kota Surakarta membangun dan memelihara sistem informasi yang menjamin bahwa semua informasi relevan, informasi ini berasal dari pihak eksternal maupun internal dan telah di identifikasi, di proses serta dilaporkan. Seluruh insan perusahaan membangun dan memelihara komunikasi yang efektif.; dan 5) Pemantauan (monitoring),
17
melakukan peninilaian terhadap sistem pengendalian internal, hal ini dilakukan oleh Satuan Pengawasan Intern (SPI). Hal ini senada dengan keterangan mengenai tugas SPI yang diberikan oleh Ibu Lilis Purnomowati:
“Ada, SPI (Satuan Pengawasan Intern). Bahwa SPI ini dipimpin oleh seorang Manajer, dan dibawah Manajer ada 2 orang Asisten Manajer, yaitu Asmen SPI Bidang Umum dan Asmen SPI Bidang Teknik. Program kerja SPI 1). SPI melakukan Penilaian Kinerja Perusahaan setiap bulan; 2). Menyusun dan melaksanakan rencana Audit Internal tahunan sesuai dengan Standar Operating Prosedur yang ditetapkan; DAN 3). Mengkoodinir, mengawasi, menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian internal dan sistem manajemen risiko sesuai dengan tata kelola perusahaan dan kebijakan Perusahaan.” (Wawancara 24 Juli 2022) Laporan hasil audit yang di laksanakan oleh SPI dan laporan keuangan yang dilaksanakan oleh auditor eksternal kemudian ditindaklanjuti oleh Direksi. Kemudian Dewan Pengawas bertugas memantau Direksi dalam perkembangan tindak lanjut laporan audit serta mengawasi dan memantau Direksi dalam melaksanakan peraturan perundang- undangan.
Adanya Sistem Penilaian Kinerja
PDAM Kota Surakarta telah memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan. Penilaian kinerja dilakukan secara berjenjang dan rutin setiap bulan, kinerja staf dinilai oleh supervisor, kinerja supervisor dinilai oleh Asisten Manajer, kinerja Asisten Manajer dinilai oleh Manajer, kinerja Manajer dinilai oleh Direksi, kinerja Direksi dinilai oleh Dewan Pengawas, sedangkan Dewan Pengawas melakukan evaluasi sendiri atas pencapaiannya, yang kemudian disampaikan kepada Pemilik Modal melalui Rapat Pemilik Modal, rapat ini menilai kinerja perusahaan yang dihadiri oleh Direksi dan Dewan Pengawas. Hal ini senada dengan keterangan yang disampaikan oleh Ibu Lilis Purnomowati:
“Ada, setiap bulan dilakukan penilaian kinerja pegawai, baik penilaian kedisiplinan kehadiran, penilaian pencapaian target kinerja yang telah ditetapkan, maupun penilaian perilaku. Dari penilaian kinerja ini kemudian dijadikan dasar untuk pemberian Insentif Pekerjaan Berbasis Kinerja.” (Wawancara 24 Juli 2022) Langkah selanjutnya adalah diberlakukannya sistem reward and punishment, jika ada karyawan yang melakukan pelanggaran maka akan diberlakukan sistem punishment atau hukuman. Suatu pelanggaran bisa dilaporkan oleh sesama karyawan dengan melampirkan bukti, apabila pelapor tidak mampu melampirkan bukti terkait dugaan
18
pelanggaran maka akan dikenakan sanksi. Hal ini senada dengan keterangan Bapak Budi selaku Staff di PDAM Kota Surakarta:
“Ya ada, tapi ndak banyak satu dua paling terkait biasanya itu pasangan baru. Kan karna kita melayani pelanggan kan jadi mungkin ada karyawan kita yang minta tolong nah disalahgunakan. Biasanya dipanggil, kan nanti ada pihak yang istilahnya mengadukan. Kan setelah itu ada SPI tadi, nah itu tugas bidang SPI atau pengawasan itu yang nanti istilahnya memanggil di cek kembali apakah benar permasalahannya, nanti bila terbukti bersalah ya ada hukumannya tergantung nanti tingkat pelanggarannya gimana.” (Wawancara 24 Juni 2022)
Sedangkan untuk sistem reward dapat diberikan dalam bentuk Insentif Berbasis Kinerja dan dalam bentuk tunjangan yang tertulis dalam kontrak kerja karyawan. Hal ini senada dengan keterangan Bapak Budi:
“Ya ada, tapi itu namanya tunjangan kinerja setiap pertengahan tahun maksudnya setiap 6 bulan sekali, itu sudah dituangkan di dalam kontrak kerja jadi sebelum tahun baru maksudnya setiap tahun ajaran baru itu sudah dibuatkan kotrak kerjaan karyawan a apa b apa c apa.” (Wawancara 24 Juni 2022)
Penerapan responsibilitas di PDAM Kota Surakarta
Penerapan responsibilitas di PDAM Kota Surakarta mengacu pada Pedoman pokok pelaksanaan prinsip responsibilitas menurut Komite Nasional Kebijakan Governance yang terdiri atas dua hal yaitu tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat dan Lingkungan Sekitar
PDAM Kota Surakarta telah melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan melalui kegiatan Corporate Sosial Responsibility. Agenda ini dibuat dalam penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran Tahunan. Hal ini senada dengan keterangan Bapak Bayu Tunggul Pamilih, S.P selaku Asisten Manajer Hubungan Pelanggan:
“Agenda CSR (Corporate Social Responbility) selalu dianggarkan dalam RKA (Rencana Kerja dan Anggaran) yang dibuat dalam Rencana Bisnis dan Anggaran Tahunan. Dalam RKA, anggaran CSR direalisasikan dalam banyak kegiatan, misalnya peringatan HUT Perumda Air Minum diwujudkan dalam pemasangan sambungan air minum dan limbah gratis bagi masyarakat yang memenuhi kriteria MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Kegiatan dalam rehabilitasi RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) bersama OPD terkait.” (Wawancara 25 Juli 2022) Untuk melaksanakan kegiatan CSR diperlukan sumber daya, yaitu: 1) Sumberdaya manusia, PDAM Kota Surakarta menempatan karyawan sesuai dengan keahlian dan
19
kebutuhan; dan 2) Pelaksana kegiatan CSR, setiap unit di PDAM Kota Surakarta memiliki program kerja CSR masing-masing. Selain itu juga diperlukan dana, dana untuk kegiatan CSR di peroleh dari laba bersih dari kegiatan operasional sebesar 10%. Hal ini tercantum dalam pasal 20 ayat 2 Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2004 tentang perubahan atas peraturan daerah kota madya daerah tingkat ii Surakarta no 3 tahun 1977 tentang pendirian perusahaan daerah air minum kota madya daerah tingkat ii Surakarta:
“Penggunaan laba bersih ditetapkan sebagai berikut: a) untuk dana pembangunan daerah 30%; b) untuk anggaran belanja daerah 25%; c) untuk cadangan umum 15%, sosial dan pendidikan 10%, jasa produksi 10%, dana pensiun 10%, sehingga berjumlah 45%.”
Kegiatan CSR PDAM Kota Surakarta yaitu: 1) pembuatan bangunan penampung air umum di daerah Surakarta seperti di Pasar Kliwon, Pajang dll; 2) mempelopori dan membiayai pembuatan sumur resapan di berbagai wilayah kota Surakarta; dan 3) memberikan informasi, konsultasi, dan diskusi untuk masyarakat dalam forum pelanggan.
Forum ini di adakan seminggu sekali untuk mewadahi masyarakat dalam memberikan opini termasuk kritik dan saran. Beberapa forum di PDAM Kota Surakarta antara lain: 1) Forum Komunikasi “forkompamta” yang dibuat oleh PDAM; dan 2). Masyarakat Peduli Air (MPA) yang dibentuk oleh masyarakat yang peduli dengan air. Hal ini senada dengan keterangan Bapak Bayu Bayu Tunggul Pamilih, S.P:
“Pelanggan maupun masyarakat selalu memiliki kesempatan dalam memberikan saran dan masukan secara bebas 24 jam melalui kanal komunikasi yang disediakan. Media Elektronik: Telepon, TV Lokal, Radio, dll Media Cetak: keluhan di Surat Kabar konvensional Media Sosial: Email, IG, Web, FB, WA, dan media sosial di masyarakat dan OPD terkait.” (Wawancara 25 Juli 2022)
Mematuhi Perundang-Undangan
PDAM Kota Surakarta telah mematuhi perundang-undangan yang berlaku contohnya undang-undang keselamatan kerja, kesehatan kerja dan lingkungan, dan undang-undang perpajakan. Berikut ini beberapa bentuk usaha PDAM Kota Surakarta dalam mematuhi undang-undang perpajakan: 1) Merekrut pegawai dengan kemapuan yang memadai melalui proses pemilahan berkas dan wawancara; dan; 2) Merekrut auditor eksternal untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan yang telah dibuat. Hal ini senada dengan keterangan yang diberikan oleh Ibu Lilis Purnomowati:
“Perusahaan sangat patuh terhadap Peraturan yang berlaku, baik itu peraturan yang dibuat intern maupun peraturan daerah sampai UU yang berlaku di Indonesia. Contohnya terkait dengan perpajakan ada pegawai yang jenjang
20
pendidikan pada jurusan Perpajakan serta terus ditingkatkan dengan diikutkan pada Seminar-Seminar, Pelatihan dll.” (Wawancara 4 Agustus 2022)
Hasil audit auditor eksternal terhadap Laporan Keuangan PDAM Kota Surakarta selama lima tahun terakhir mendapatkan opini WTP
TABEL 3. HASIL PENILAIAN KINERJA DAN OPINI LAPORAN KEUANGAN PDAM KOTA SURAKARTATAHUN 2017-2021
Tahun Tingkat
Opini Laporan Keuangan Kesehatan Kinerja
2017 Sehat Baik WTP
2018 Sehat Baik WTP
2019 Sehat Baik WTP
2020 Sehat Baik WTP
2021 Sehat Baik WTP
Sumber: PDAM Kota Surakarta
Opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) diperoleh karena PDAM Kota Surakarta telah menerapkan sistem pengendalian internal yang kuat dengan pengendalian risiko yang tepat sehingga tercapainya hasil yang di inginkan. Dalam hal ini Sistem Pengawas Internal (SPI) telah mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Opini WTP juga berarti bahwa perusahaan telah menyusun laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum sehingga tidak terdapat salah saji yang material. Sedangkan tingkat kesehatan membuktikan bahwa kondisi keuangan di PDAM Kota Surakarta sehat, biasanya diukur dengan menggunakan rasio-rasio. Kinerja yang baik artinya bahwa seluruh kegiatan operasional dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Pihak yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan secara menyeluruh kepada semua pegawai di PDAM Kota Surakarta adalah Satuan Pengendalian Internal (SPI). Setiap dugaan pelanggaran yang dilaporkan akan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lebih lanjut melalui proses pembuktian dan menentukan tingkat pelanggaran dan pemberian sanksi. Hal ini senada dengan keterangan yang diberikan oleh Ibu Lilis Purnomowati:
“Jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang dilakukan pegawai maka akan dikenakan Sanksi mulai dari sangksi ringan, sedang sampai berat, sesuai dengan Peraturan yang berlaku.” (Wawancara 4 Agustus 2022)
21
Karyawan yang melakukan pelanggaran diberikan hak untuk memberikan penjelasan oleh SPI sebelum pemberian sanksi dilakukan. Pemberian sanksi pelanggaran bisa berupa usulan tindakan pembinaan, hukuman disiplin, dan tindakan perbaikan. Hal ini disampaikan kepada Direktur Umum untuk dikaji agar sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku, hasil kajian ini kemudian disampaikan kepada Direktur Utama untuk meminta persetujuan atas penanganan pelanggaran yang akan di ambil.
Faktor Pengambat dan Pendukung Penerapan Prinsip Akuntabilitas dan Responsibilitas Penerapan prinsip akuntabilitas dan responsibilitas dapat berjalan dengan baik adalah karena hasil dari kerjasama dan kesadaran semua insan yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Ada faktor pendukung dalam penerapan prinsip akuntabilitas dan responsibilitas yaitu terdapat peraturan atau kebijakan yang mengacu pada praktik Good Corporate Governance khususnya prinsip akuntabilitas dan responsibilitas agar semua anggota organ mengetahui, memahami dan menjalankan tugas, wewenang, hak dan kewajibannya. Adanya peraturan tersebut akan mendorong pengelolaan perusahaan secara profesional, efisien dan efektif serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian organ perusahaan.
Faktor berikutnya yaitu adanya peran Satuan Pengawas Internal dan Dewan Pengawas untuk mengawasi dan memantau perusahaan. SPI berada dalam posisi yang penting untuk memonitor secara terus menerus struktur pengendalian internal perusahaan melalui identifikasi dan deteksi indikasi adanya suatu kecurangan. Faktor lainnya yaitu adanya partisipasi masyarakat, masyarakat melakukan komunikasi dengan pihak PDAM Kota Surakarta. Masyarakat diberikan fasilitas layanan untuk menyampaikan saran, opini, aspirasi serta keluh kesah kepada pihak perusahaan atas apa yang mereka rasakan terhadap pelayanan yang diberikan melalui forum yang diadakan seminggu sekali oleh perusahaan. Dengan adanya forum ini, perusahaan bisa mengukur bagaimana kualitas perusahaan dari review atau tanggapan masyarakat, perusahaan bisa tahu apa keunggulan dan juga kekurangan dalam pelayanan. Dengan begitu, perusahaan pun bisa meningkatkan kualitas dengan lebih akurat.
Faktor penghambat penerapan prinsip akuntabilitas dan responsibilitas adalah kompetensi karyawan, latar belakang pendidikan menentukan kompetensi yang dimiliki
22
oleh semua karyawan. Meskipun penempatan karyawan sudah didasarkan pada kompetensi tetapi dilapangan masih terdapat karyawan baru yang kurang mengerti tentang SOP saat melayani pelanggan, karyawan tersebut meminta bantuan kepada karyawan senior. Semua karyawan sudah memiliki jobdesknya masing-masing, akibat permohonan bantuan dari karyawan baru, akan menyebabkan pekerjaan dari kayawan senior akan terbengkalai, sehingga hal tersebut mengganggu proses pemberian layanan kepada masyarakat.
PEMBAHASAN
Akuntabilitas GCG pada PDAM Kota Surakarta dilaksanakan dengan mengikuti pedoman umum Good Corporate Governance dari Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Bentuk akuntabilitas dilakukan melalui pembagian tugas dengan memperjelas siapa yang harus bertanggung jawab, kepada siapa harus bertanggungjawab.
Direksi bertugas menjalankan dan mengendalikan kegiatan operasional perusahaan dan bertanggung jawab langsung kepada Dewan Pembina. Dewan Pengawas bertugas untuk mengawasi Direksi dan melaporkan hasilnya kepada Dewan Pembina. Dewan Pembina bertugas untuk membina Direksi tentang cara melakukan kegiatan operasional. Unit Wilayah bertugas memberikan layanan kepada pelanggan dan bertanggung jawab langsung kepada Manajer Pelayanan. Semua manajer bertanggung jawab langsung kepada Direksi. SPI bertugas untuk mengawasi Manajer dan bawahannya, yang kemudian akan dilaporkan kepada Direksi. Adanya pembagian tugas tersebut meminimalisir penyalahgunaan wewenang, karena setiap organ memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Ada beberapa poin akuntabilitas yang mendukung efisiensi pelaksanaan kegiatan operasional di PDAM Kota Surakarta, yaitu perekrutan karyawan hanya berdasarkan pada kebutuhan dengan menyeleksi berkas lamaran yang masuk agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan pelatihan karyawan yang laksanakan untuk meningkatkan kompetensi serta adanya sistem reward and punishment dapat memotivasi karyawan agar melakukan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Sistem penilaian kinerja berfungsi untuk melihat kinerja karyawan, dengan mendapatkan penilaian karyawan dapat memperbaiki pekerjaan dan prestasinya.
23
Selanjutnya pelaksanaan prinsip responsibilitas GCG pada PDAM Kota Surakarta telah dilaksanakan sesuai dengan pedoman umum Good Corporate Governance dari Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Tanggung jawab sosial yang dijalankan adalah dengan mengadakan kegiatan Corporate Sosial Responsibility, agenda ini dibuat dalam penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran Tahunan dengan modal dana yang diambil dari laba bersih. Kegiatan CSR antara lain pemasangan sambungan air minum dan limbah gratis, pembangungan penampung air untuk umum dan pembiayaan serta pembangunan sumur resapan. Poin akuntabilitas selanjutnya adalah tanggung jawab terhadap pemerintah dengan mematuhi semua undang-undang yang berlaku, perusahaan telah mematuhi semua kewajiban perundang-undangan contohnya laporan keuangan perusahaan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, sedangkan untuk karyawan di buatkan kontrak persetujuan mematuhi peraturan yang berlaku, serta adanya SPI yang mengawasi karyawan membantu perusahaan dalam mengontrol karyawan agar selalu menaati peraturan.
Namun ada hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan prinsip akuntabilitas, yaitu kompetensi karyawan, terdapat karyawan baru yang kurang mengerti tentang SOP saat melayani pelanggan, fungsi SOP adalah untuk membantu karyawan bagaimana cara menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, apabila karyawan tersebut meminta bantuan kepada karyawan senior, hal ini akan mengganggu proses pemberian layanan kepada masyarakat karena setiap karyawan sudah memiliki job desk masing- masing.
KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang peneliti lakukan di PDAM Kota Surakarta Tahun 2022 dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan responsibilitas GCG PDAM Kota Surakarta telah dilaksanakan sesuai dengan pedoman umum Good Corporate Governance dari Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Namun masih ada beberapa kendala dalam penerapan akuntabilitas yaitu kompetensi karyawan hingga menyebabkan tidak maksimalnya karyawan dalam menjalankan tugasnya, maka dari itu perlukan pelatihan (training) dengan di dampingi senior yang mengerti SOP agar karyawan tidak perlu bertanya kepada sesama rekan kerja apabila ada yang tidak
24
dimengerti. Berdasarkan hasil pembahasan peneliti dan kesimpulan yang telah diuraikan di atas, adapun beberapa hal yang berdampak pada kualitas penelitian yang merupakan keterbatasan penelitian adalah 1) Tidak menambahkan pelanggan, stakeholder dan SPI sebagai narasumber, 2) Hanya menjelaskan Akuntabilitas dan Responsibilitas GCG di PDAM Kota Surakarta. Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat memberikan hasil dan pembahasan yang lebih akurat dari penelitian sebelumnya. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat menambah narasumber, seperti dewan pengawas dan seluruh jajaran direksi.
25
DAFTAR PUSTAKA
Bovens, M. (2006). Analysing and Assessing Public Accountability. A Conceptual Framework. 7(C), 1–37. http://www.connex-network.org/eurogov/
Cadbury, A. (1992). Financial Aspects of Corporate Governance. London:The Cadbury Committee and Gee and Co, Ltd.
Daniri, M. A. (2005). Good Corporate Governance Konsep dan Penerapannya Dalam Konsep Indonesia. Jakarta: Ray Indonesia.
Dwiyanto, A. (2006). Reformasi Birokrasi Publik Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada.
Fitriyani, D., Tiswiyanti, T., & Prasetyo, E. (2015). Good Corporate Governance Practices in Regional Water Company Praktik Good Corporate Governance Pada Perusahaan Air Minum Daerah ( Pdam ). Journal of Word Class Islamic University, 2 No. 1, 91–103.
Hadi, A., & Swandari, F. (2019). Good Corporate Governance (Gcg) Dan Kinerja Di Perusahaan Milik Pemerintah Daerah. 28–33. http://repository.upnjatim.ac.id/310/
Kohler. (2004). Konsep dan Pengukuran Akuntabilitas. Jakarta: Universitas Trisakti.
Laterner, & Levine. (1993). Strategic Planing for Public Terjemahan oleh Budiono.
Jakarta: Hastabuana.
Mahsun, M. (2006). Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE.
Menteri Negara. (2011). Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) No: PER-01/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara. In (Per—01/Mbu 2011). http://jdih.bumn.go.id/baca/PER-01/MBU/2011.pdf
Qolbia, Si. (2017). Penerapan Prinsip Good Corporate Govrnance Pada Perusahaan Darah Pasar Surya Surabaya. 5, 1–10.
Rasul, S. (2003). Pengintegrasian Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Anggaran Dalam Perspektif UU No.17/2003 Tentang Keuangan Negara. Jakarta: PNRI.
Sedarmayanti. (2003). Good governance (kepemerintahan yang baik) dalam rangka otonomi daerah: Upaya membangun organisasi efektif dan efisien melalui restrukturisasi dan pemberdayaan. Mandar Maju.
Sonu, S. S., Kalangi, L., & Warongan, J. (2019). Analisis Pelaksanaan Good Corporate Governance (Studi Kasus Pada Perusahaan Daerah Air Minum Duasudara Kota Bitung). Jurnal Riset Akuntansi Dan Auditing “Goodwill,” 10(2), 149.
https://doi.org/10.35800/jjs.v10i2.25624
Sudarmanto, E., Susanti, E., Revida, E., Pelu, M. F. A., Purba, S., Purba, A. B., Silalahi, M., Sipayung, M. A. P. D., & Krisnawati, A. (2021). Good Corporate Governance
26 (GCG). Yayasan Kita Menulis.