Tanaman ini belum banyak dieksplorasi sehingga belum ada data pendukung mengenai penelitian terkait farmakognosis baik secara makroskopis maupun mikroskopis. Pentingnya dilakukan penelitian terhadap tanaman ini agar dapat memberikan tambahan informasi mengenai obat-obatan alami asli Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan obat sehingga dapat menambah khasanah obat-obatan alami yang ada di Indonesia. Sebagai data awal dalam meningkatkan perannya sebagai sumber bahan alam asli Indonesia yang dapat digunakan dalam pengobatan.
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian disertasi yang sedang dipersiapkan oleh ketua pengusul untuk masuk studi doktor di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Standardisasi merupakan faktor penting dalam pengembangan pengobatan dengan menggunakan pengobatan alami. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi farmakognostik yaitu dengan pemeriksaan mikroskopis dan makroskopis pada daun tanaman Sterculia rubiginosa Zoll.
Pengkajian fitokimia meliputi fluoresensi, pemeriksaan kadar air, kadar abu, sari larut etanol, sari larut air, sifat organoleptik, pola kromatogram, pemeriksaan kandungan senyawa metabolit sekunder pada simplisia yang berpotensi sebagai pengobatan. Penelitian ini akan dilakukan sebagai langkah awal untuk penelitian selanjutnya yaitu dengan menguji aktivitas ekstrak daun tanaman ini sebagai inhibitor enzim arginase.
Pendahuluan
Latar Belakang
Tujuan Khusus
Urgensi (Keutamaan) Penelitian
Pembuluh darah juga mengandung enzim eNOS (endothelial nitrite oxide synthase), yaitu enzim yang berperan dalam produksi NO (nitrite oxide). Pada beberapa kondisi yang menyebabkan peningkatan arginase dalam tubuh akibat rangsangan patologis (toksin bakteri, sitokin proinflamasi, ROS (reactive oksigen spesies), dan hiperglikemia), eNOS akan bersaing langsung dengan enzim arginase untuk penggunaan substrat L- arginin. Diketahui bahwa gangguan keseimbangan NO dalam tubuh merupakan salah satu faktor terganggunya fungsi endotel pembuluh darah (faktor utama penyebab gangguan endotel adalah berkurangnya ketersediaan NO, gangguan sinyal NO dan peningkatan ROS) (Steppan, Nyhan dan Berkowitz, 2013) Belum tersedia penelitian mengenai aktivitas penghambatan enzim arginase dari tumbuhan genus sterculia, serta evaluasi farmakognosi dan fitokimia tumbuhan ini.
Untuk itu, sebagai langkah awal penelitian ini dilakukan kajian farmakognosi dan fitokimia tanaman ini. Kemudian berdasarkan data yang ada, jika terdapat senyawa flavonoid pada tanaman ini akan dilanjutkan lebih lanjut. penelitian dengan menguji kemampuannya sebagai penghambat enzim arginase.
Studi Pustaka
- Standarisasi Obat Tradisional
- Simplisia
- Ekstrak dan Ekstraksi
- Cairan Penyari
- Maserasi
- Kromatografi Lapis Tipis
- Kajian Farmakognosi
Penguapan (konsentrasi) adalah penambahan jumlah zat terlarut (senyawa terlarut) dengan cara penguapan tanpa sampai menjadi kering, melainkan hanya sampai menjadi kental atau pekat. Ekstraksi (distilasi) adalah kegiatan mengekstraksi kandungan kimia terlarut dari bahan yang tidak dapat dilarutkan dengan pelarut cair. Zat aktif yang semula berada di dalam sel tertarik oleh cairan penyaring sehingga zat aktif tersebut larut dalam cairan penyaring. Struktur kimia yang berbeda akan mempengaruhi kelarutan dan stabilitas senyawa tersebut terhadap pemanasan, udara, cahaya, logam berat dan keasaman (Departemen Kesehatan Republik Indonesia 1979) Ekstraksi berkelanjutan adalah proses ekstraksi yang dilakukan berulang kali dengan pelarut yang berbeda atau resirkulasi senyawa tersebut. pelarut dan Prosesnya diatur beberapa kali berturut-turut.
Pemilihan pelarut yang akan digunakan dalam ekstraksi bahan baku obat tertentu didasarkan pada kelarutan zat aktif dan zat tidak aktif. Untuk cairan penyaring, Farmakope Indonesia Edisi III mencantumkan air, etanol, campuran etanol dan air, atau eter sebagai cairan penyaring (Departemen Kesehatan 1979). Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah n-heksana (non-polar), diklorometana (semi-polar) dan etanol (polar).
Sedangkan pelarut semi polar dapat melarutkan senyawa alkaloid, dan pelarut polar dapat mengekstraksi senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid kuaterner, komponen fenolik, karotenoid, tanin, flavonoid, gula, asam amino dan glikosida (Harbone 1987). Cairan filter menembus dinding sel dan masuk ke rongga sel yang berisi zat aktif. Pemurnian dengan metode maserasi memerlukan pengadukan yang teratur untuk mencegah kejenuhan filter pada lapisan antara cairan filter dan bahan yang akan diekstraksi.
Remaserasi adalah pengulangan penambahan pelarut setelah penyaringan maserat pertama dan seterusnya, dengan kata lain merupakan replikasi dengan pelarut yang sama dalam jumlah bahan yang sama (Departemen Kesehatan 2000). Bahan lapisan tipis seperti silika gel merupakan senyawa yang tidak bereaksi dengan pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat. Penapisan fitokimia (phytochemical screening) bertujuan untuk mengetahui keberadaan metabolit sekunder pada ekstrak dan juga dapat memberikan gambaran kualitatif kandungan ekstrak (Khoirani 2013). a) Pemeriksaan ciri-ciri Simplisia.
Pemeriksaan organoleptik merupakan pemeriksaan dengan panca indera yang meliputi pemeriksaan terhadap bentuk, penciuman, rasa lidah dan tangan, memperhatikan bentuk, ukuran, warna luar dan dalam, retakan atau ciri serta susunan bahan tersebut. bahan (berserat, menggumpal, dan lain-lain) Sebaiknya dilakukan uji organoleptik terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian dengan cara lain, karena pada umumnya pengujian dilakukan hanya jika evaluasi oragoleptik memberikan hasil yang baik. Pemeriksaan mikroskopis umumnya melibatkan pengamatan bagian dan debu (Saifudin dkk. 2011). b) Periksa parameter kadar abu total. Kadar abu merupakan nilai maksimum atau kisaran yang diperbolehkan mengenai kemurnian dan pencemaran suatu jenis tanaman obat tertentu, karena setiap tanaman mempunyai residu abu yang spesifik (Saifudin dkk. 2011). c) Kromatografi dan pemeriksaan sampel fluoresensi.
Metode Penelitian
Tempat Penelitian
Alat dan Bahan
- Alat
- Bahan
Prosedur Kerja
- Determinasi
- Pembuatan Serbuk Biji
- Pemeriksaan Karakteristik Simplisia
- Penyiapan Ekstrak
- Pemeriksaan Parameter Ekstrak
- Skrining Fitokimia dengan Pereaksi Semprot
- Pemeriksaan Pola Kromatografi
- Pemeriksaan Karakteristik Fluoresensi
Residu hasil maserasi disaring dengan kertas saring, kemudian filtratnya dipekatkan pada alat penguap putar vakum hingga diperoleh ekstrak kental. Kami menimbang 2 gram ekstrak secara hati-hati, memasukkannya ke dalam panci silikat yang telah dibakar dan mentaranya, menyalakannya perlahan sampai arangnya habis, dinginkan dan timbang. Jika Anda tidak dapat menghilangkan arang dengan cara ini, tambahkan air panas, campur dan saring melalui kertas saring bebas abu.
Kadar abu total dihitung dari berat bahan uji yang dinyatakan dalam % b/b (Departemen Kesehatan RI 2008). b) Penentuan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Rebus abu yang diperoleh pada penentuan kadar abu total selama 5 menit dengan 25 ml LP asam klorida encer. Bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring tanpa abu, dicuci dengan air panas, dipanaskan dalam cawan lebur hingga beratnya konstan.
Kadar abu tidak larut asam dihitung dari berat bahan uji yang dinyatakan dalam % b/b (Departemen Kesehatan RI 2008). Ayak, uapkan 20 ml filtrat sampai kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan hingga suhu 105°C, sisihkan, panaskan residu pada suhu 105°C hingga berat tetap. Saring dengan cepat untuk menghindari penguapan etanol, uapkan 20 ml filtrat sampai kering dalam gelas kimia dangkal beralas datar yang telah dipanaskan hingga suhu 1050C dan sisihkan, panaskan residu pada suhu 1050C hingga beratnya kembali.
Bersihkan tabung penerima dan pendingin dengan asam pencuci, bilas dengan air lalu keringkan dalam lemari pengering. Setelah air tersuling seluruhnya, bagian dalam pendingin dicuci dengan toluena jenuh air sambil dibersihkan dengan sikat pipa yang dihubungkan dengan kawat tembaga dan dibasahi dengan toluena jenuh air. Jika tetesan air menempel, gosok tabung pendingin dan tabung penerima dengan karet yang diikatkan pada kawat tembaga dan dibasahi dengan toluena jenuh air hingga tetesan air terlepas.
Alkaloid Fase diam pelat gel silika G60 GT 254 Fase gerak etil asetat-metanol-air (6:4:2) Reagen semprot Reagen Dragendorff,. Fase diam pelat silika gel G60 GT 254 Fase gerak n-heksana-etil asetat (4:1) Reagen semprot Sulfur anisaldehida Amati pada cahaya tampak, UV 254 nm dan 366 nm. Kemudian masukkan ke dalam wadah yang sudah jenuh dengan eluen hingga pelat silika gel terendam sedikit dan tutup wadah.
Pembiayaan
Ringkasan Biaya Yang Diajukan Setiap Tahun
Endothelial dysfunction and diabetes: Effects on angiogenesis, vascular remodeling, and wound healing, Journal of Vascular Medicine. Arginase inhibition by the ethylacetate extract of Caesalpinia sappan lignum contributes to the activation of endothelial nitric oxide synthesis.