i
PROPOSAL
PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEKS
UJI AKTIVITAS FRAKSI DARI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN KATUK (S auropus androgynus (L). Merr) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Spragu
e dawley SEBAGAI KANDIDAT OBAT PENINGKAT FERTILITAS
Oleh:
1. Numlil Khaira Rusdi, M.Si., Apt./NIDN. 04.251081.01 (KETUA) 2. Ni Putu Ermi Hikmawanti, M.Farm./NIDN. 03.090789.01 (ANGGOTA)
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF DR HAMKA JAKARTA
TAHUN 2019
ii
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM………..iv
RINGKASAN ... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. Latar belakang ... 1
B. Rumusan masalah ... 4
C. Tujuan penelitian ... 4
D. Urgensi Penelitian ... 4
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA ... 5
BAB 3 METODE PENELITIAN... 8
A. Alur Penelitian ... 8
B. Lokasi penelitian ... 8
C. Alat dan Bahan Penelitian ... 8
D. Prosedur penelitian ... 9
1. Pembuatan bahan uji ... 9
2. Karakterisasi fraksi ... 10
3. Persiapan hewan coba ... 10
4. Pengujian Efek fertilitas ... 10
E. Analisis data ... 12
F. Fishbond Penelitian ... 12
BAB 4 BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ... 14
4.1. Anggaran Biaya ... 14
4.2. Jadwal Penelitian ... 14
DAFTAR PUSTAKA ... 15
LAMPIRAN ... 16
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian ... 16
Lampiran 2. Dukungan sarana dan prasarana penelitian ... 19
Lampiran 3. Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas ... 20
Lampiran 4. Biodata ketua dan anggota tim pengusul... 21
Lampiran 5. Surat pernyataan ketua pengusul ... 26
iv
IDENTITAS USULAN PENELITIAN
1. Judul penelitian : UJI AKTIVITAS FRAKSI DARI EKSTRAK ETANOL 70%
DAUN KATUK (Sauropus androgynus (L). Merr) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague dawley SEBAGAI
KANDIDAT OBAT PENINGKAT FERTILITAS 2. Tim Penelitian :
No. Nama Peneliti Fakultas/
Program Studi
Alokasi Waktu 1. Numlil Khaira Rusdi, M.Si., Apt. Fakultas Farmasi d
an Sains/Farmasi
12 Jam/minggu 2. Ni Putu Ermi
Hikmawanti, M.Farm.
Fakultas Farmasi d an Sains/Farmasi
12 Jam/minggu 3. Tempat dan Subjek Penelitian:
Daun katuk diperoleh dari BALITTRO dan dideterminasi di LIPI. Proses ekstraksi, fr aksinasi dan penentuan karakterisasi mutu dilakukan di Laboratorium Fitokimia, Faku ltas Farmasi dan Sains, UHAMKA. Penguji aktivitas spermatogenesis masing-masing fraksi pada tikus jantan dilakukan di Laboratorium Farmakologi, Fakultas Farmasi da n Sains, UHAMKA.
4. Masa Pelaksanaan: 6 bulan Mulai: Februari 2019
Selesai: Agustus 2019
5. Biaya Penelitian : Rp 20.000.000,-
6. Masalah Penelitian dan Solusi yang diberikan:
Daun katuk telah dibuktikan pada penelitian sebelumnya sebagai bahan alami dengan khasiat afrodisiaka (peningkat libido) pada tikus jantan. Aktivitas tersebut terkait deng an hormon penting pada organ reproduksi tikus jantan yang juga berperan pada kondis i fertilitasnya. Kandungan senyawa kimia pada daun katuk diharapkan aman sekaligus mampu meningkatkan fertilitas organ tersebut. Melalui penelitian ini, akan dilakukan t eknik bioassay guided fractionation, di mana fraksi dengan tingkat kepolaran berbeda yang diperoleh selanjutnya masing-masing diujikan aktivitasnya pada tikus jantan. Me lalui uji tersebut, diharapkan diperoleh fraksi paling aktif yang efektif berpengaruh pa da peningkatan fertilitas. Perolehan fraksi aktif selanjutnya akan mengarah pada prose s isolasi senyawa aktif yang dikemudian hari akan berguna untuk tujuan penjaminan m utu produk ekstrak/fraksi daun katuk sebagai bahan baku calon produk bahan alam ya ng terstandarisasi dengan aktivitas fertilitas yang optimal.
v
7. Metode Penelitian:
Daun katuk diekstraksi dengan etanol 70% dengan metode maserasi. Selanjutnya ekst rak difraksinasi dengan 3 pelarut yang berbeda tingkat kepolarannya, yaitu: n-heksana , etil asetat, dan air. Ketiga fraksi ditentukan karakterisasi mutu kemudian diuji aktivit as spermatogenesisnya pada tikus jantan dengan rancangan acak lengkap. Penentuan a ktivitas dilakukan dengan mengamati parameter jumlah spermatozoa, viabilitas dan m otilitas.
8. Luaran Penelitian:
Hasil penelitian ini diupayakan bisa dipublikasikan di jurnal International bereputasi (Journal of A pp li e d Ph a r ma c eu ti c al Sc i en ce s) atau diusahakan di Jurnal Nasi onal terakreditasi dan terindeks SINTA (Jurnal Bahan Alam Terbarukan) atau dipubl ikasikan di Jurnal Nasional tidak terakreditasi (Farmasains), tahun 2019-2020.
vi
RINGKASAN
Daun katuk telah dibuktikan pada penelitian sebelumnya sebagai bahan alami dengan khasiat afrodisiaka (peningkat libido) pada tikus jantan. Aktivitas tersebut terkait deng an hormon penting pada organ reproduksi tikus jantan yang juga berperan pada kondis i fertilitasnya. Kandungan senyawa kimia pada daun katuk diharapkan aman sekaligus mampu meningkatkan fertilitas. Penelitian ini bertujuan memperoleh fraksi teraktif de ngan kelompok senyawa spesifik dari ekstrak etanol 70% daun katuk yang dapat dijad ikan kandidat bahan peningkat fertilitas alami pada tikus putih jantan galur Sprague D awley. Daun katuk diekstraksi dengan pelarut etanol 70% menggunakan metode mase rasi. Ekstrak kental selanjutnya difraksinasi menggunakan 3 pelarut dengan tingkat ke polaran yang berbeda, yaitu n-heksana, etil asetat dan air. Ketiganya masing-masing d iuji karakterisasi mutunya berupa penentuan persentase rendemen, penentuan kadar ai r, susut pengeringan dan penapisan fitokimia dengan metode KLT. Selanjutnya ketiga fraksi tersebut diujikan aktivitas spermatogenesisnya pada tikus jantan dengan pengam atan pada parameter jumlah spermatozoa, viabilitas dan motilitas. Melalui penelitian i ni diharapkan, diperoleh fraksi aktif yang kedepannya dapat mengarah pada proses iso lasi senyawa aktif yang dikemudian hari akan berguna untuk tujuan penjaminan mutu produk ekstrak/fraksi daun katuk sebagai bahan baku calon produk bahan alam yang t erstandarisasi dengan aktivitas afrodisiaka dan fertilitas yang optimal.
1
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infertilitas (ketidaksuburan) merupakan salah satu masalah serius yang dihadapi oleh sebagian masyarakat. Infertilitas tidak hanya merupakan suatu masalah kesehatan, tetapi juga suatu masalah sosial. Masalah infertilitas dapat mempengaruhi hubungan interpersonal, perkawinan dan sosial, serta dapat menyebabkan gangguan secara emosional dan psikologis yang signifikan (Karimi et al., 2015). Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil, ketidakmampuan mempertahankan kehamilan, ketidakmampuan untuk membawa kehamilan kepada kelahiran hidup (WHO 2012). Infertilitas dapat bersifat primer dimana pasangan yang gagal untuk mendapatkan kehamilan sekurang-kurangnya dalam satu tahun berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi dengan angka kejadian sebanyak 62,0% dan infertilitas sekunder yaitu ketidakmampuan seseorang memiliki anak atau mempertahankan kehamilannya dengan angka kejadian sebanyak 38,0% (Alhassan et al., 2014).
Infertilitas di negara berkembang terjadi lebih tinggi yaitu sekitar 30%, dibandingkan negara maju hanya 5 – 8% (Masoumi et al., 2013). Prevalensi infertilitas di Asia yaitu 30,8% di Kamboja, 10% di Kazakhtan, 43,7% di Turkmenistan, dan 21,3% di Indonesia (Konsensus Penanganan Infertilitas, 2013).
Para ahli memastikan angka infertilitas telah meningkat mencapai 15-20% dari sekitar 50 juta pasangan di Indonesia. Penyebab infertilitas sebanyak 40% berasal dari laki-laki, 40% dari wanita, 10% dari laki-laki dan wanita dan 10% tidak diketahui (Ahsan dkk, 2012).
Pada umumnya, kegagalan pasangan suami istri untuk memperoleh keturunan disebabkan karena infertilitas pada pria (Miyamoto et.al. 2012). Infertilitas yang disebabkan oleh faktor pria sekitar 7% dari populasi pria (Velazquez & Tanrikut 2014). Faktor pria berkontribusi terhadap infertilitas hampir 50% dari pasangan
2
infertil dan 20-30% ditemukan sebagai penyebab tunggal dari pasangan infertil.
Faktor pria sebagai penyebab infertilitas yang disebabkan oleh abnormalitas pada analisis semen ditemukan sebanyak 26,4% kasus (Sabanegh, 2011). Pada sekitar 40% persen pasangan tidak subur, pasangan laki-laki adalah penyebab tunggal atau penyebab infertilitas. Infertilitas dapat berupa abnormalitas volume semen, kualitas dan kuantitas sperma (Ferial 2012).
Infertilitas pada pria seringkali merupakan akibat dari penuruanan produksi atau fungsi dari sperma yang berasal dari berbagai macan sebab (Alldredge et al., 2013). Banyak faktor yang memberikan kontribusi pada infertilitas pria seperti gangguan fungsi testis, gangguan hormonal dan gangguan genetik (CDC 2017).
Faktor lain dapat berupa abnormalitas pada sistem hormon reproduksi ataupun organ reproduksi. Penyebab umum gangguan sistem reproduksi pria adalah produksi sperma yang terganggu, sistem transportasi sperma yang terhambat, kondisi kesehatan dan lingkungan sekitar, ataupun beberapa logam berat (Idris 2006). Gangguan produksi sperma dapat dikaitan dengan hipogonadisme yang diakibatkan dari trauma testis, radiasi atau obat-obat antiandrogen (Alldredge et al., 2013). Beberapa kasus infertilitas pada pria disebabkan oleh kurangnya jumlah sperma atau tidak mampunyai spermatozoa yang dapat membuahi ovum. WHO pada tahun 2010 mengatakan bahwa pada beberapa banyak kasus yang terjadi, penyebab infertilitas pada pria diakibatkan oleh keadaan azoospermia non- obstruktif yaitu sedikitnya volume sperma yang diproduksi dan terjadinya penurunan sekresi FSH (Kobayashi et al. 2012).
Infertilitas pada pria biasanya dievaluasi dengan analisi semen. Melalui analisis semen secara konvensional sangat bermanfaat untuk memberi informasi status kesuburan seorang pria muda. Penilaian analisis semen meliputi volume, warna, viskositas, pH, konsentrasi, motilitas, viabilitas dan morfologi. Hasil analisis tersebut sudah dapat untuk memprediksi kesuburan seorang pria (National Infertility Association 2017). Pencarian obat herbal untuk mengatasi fertilitas meningkat secara bermakna (Yakubu et al. 2007). Dengan bantuan obat-obat yang
3
berasal dari alam tersebut, masyarakat dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya, termasuk masalah infertilitas (Hutasuhut 2014).
Beberapa tahun belakangan ini, ada kecenderungan dunia untuk kembali ke alam (back to nature) membuat masyarakat kembali kepada tanaman obat. Hal ini dikarenakan beberapa kelemahan obat kimia antara lain efek samping, resistensi obat yang tinggi, terakumulasi di tubuh dan harganya yang mahal (Krisdiantin 2011).
Masyarakat Indonesia sudah mengenal cara-cara pengobatan tradisional sebagai usaha menanggulangi berbagai macam penyakit. Pengobatan tersebut pada umumnya menggunakan bahan-bahan yang diambil dari alam seperti tumbuhan (Nurlaili 2011). Indonesia merupakan negara yang kaya akan tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional, salah satunya yaitu tanaman katuk (Sauropus androgynous (L.) Merr.). Daun katuk mengandung senyawa steroid, polifenol, alkaloid, flavonoid dan terpenoid (Utami 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Arifien (2013) menunjukan bahwa pemberian seduhan air daun katuk dengan dosis 100mg/kgBB yang diberikan kepada tikus secara oral selama 14 hari efektif meningkatkan libido. Maulita (2016) menyebutkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk dapat meningkatkan viabilitas, motilitas dan konsentrasi spermatozoa mencit jantan yang diberi paparan asap rokok pada dosis 6mg/20gBB. Penelitian sebelumnya oleh Rusdi dkk. (2018) tentang aktivitas afrodisiaka fraksi dari ekstrak etanol 70% daun katuk diperoleh bahwa fraksi n-heksana dengan dosis 2,37 mg/200gBB dapat meningkatkan libido dengan rata-rata jumlah climbing 16,5 kali dan rata-rata jumlah introduction 27,75 kali serta mampu meningkatkan bobot testis dan bobot vesikula yang sebanding kontrol positif yaitu X-gra® dengan dosis 51,37 mg/kgBB pada tikus putih jantan galur Sprague-Dawley. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilanjutkan penelitian tentang aktivitas spermatogenesis daun katuk dilihat dari parameter viabilitas, motilitas, dan jumlah spermatozoa. Hasil penelitian ini
4
diharapkan dapat memberikan informasi aktivitas daun katuk dalam mengatasi infertilitas.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan hal yang telah dipaparkan di latar belakang, peneliti merasa perlu mengevaluasi aktivitas fraksi aktif dari ekstrak etanol 70% daun katuk yang dapat menjadi kandidat obat peningkat fertilitas alami.
C. Tujuan Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan akan diperoleh informasi kelompok senyawa spesifik pada fraksi aktif dari ekstrak etanol 70% daun katuk yang dapat dijadikan kandidat bahan peningkat fertilitas alami melalui parameter viabilitas, motilitas, dan jumlah spermatozoa tikus putih jantan galur Sprague Dawley. Informasi ini selanjutnya akan dipublikasi dalam bentuk jurnal ilmiah.
D. Urgensi Penelitian
Penggunaan daun katuk sebagai bahan alami dalam mengatasi kesuburan pria masih belum banyak dieksplorasi. Pengujian ilmiah terkait aktivitasnya sejauh ini sudah diteliti sebagai peningkat produksi ASI pada tikus betina dan bahan afrodisiaka pada tikus jantan. Penelusuran senyawa aktif yang bertanggung jawab pada aktivitas farmakologi tersebut perlu dilakukan melalui teknik bioassay guided fractionation. Dengan teknik ini, akan diperoleh fraksi aktif yang diduga mengandung senyawa aktif dari bahan alam yang mengarah pada aktivitas farmakologi yang dituju. Perolehan fraksi aktif selanjutnya akan mengarah pada proses isolasi senyawa aktif yang dikemudian hari akan berguna untuk tujuan penjaminan mutu produk ekstrak/fraksi daun katuk sebagai bahan baku calon produk bahan alam yang terstandarisasi dengan aktivitas fertilitas yang optimal.
5
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
Katuk atau Sauropus androgynus merupakan tanaman yang mudah tumbuh di Indonesia. Katuk biasanya digunakan daunnya untuk memperbanyak produksi ASI oleh masyarakat Indonesia. Katuk atau Sauropus androgynus mermiliki banyak kandungan kimia yang memiliki efek farmakologis. Golongan senyawa yang teridentifikasi dalam daun katuk antara lain alkaloid, triterpenoid, saponin, tanin, polifenol, glikosida dan flavonoid (Budiman 2014). Komposisi nutrient katuk antara lain; protein sebesar 7,6g/100g, lemak 1,8g/100g, karbohidrat 6,9g/100g dan serat 1,9g/100g. Daun katuk yang segar merupakan sumber provitamin A carotenoid, vitamin B, vitamin C, protein dan mineral yang sangat baik. Selain kaya akan kandungan nutrisi seperti protein, lemak, vitamin dan mineral, katuk juga mengandung senyawa metabolit sekunder (Zuhra 2008).
Daun katuk berpotensi sebagai pakan sumber steroid. Daun katuk mengandung banyak flavonoid (831,70mg/100gr). Golongan flavonoid utama yang terdapat dalam daun katuk adalah golongan flavonol OH-3 atau golongan flavon (Zuhra 2008).
Kandungan fitosterol tepung daun katuk yang diekstrak dengan 70% etanol adalah sebanyak 2,43% atau sebanyak 466 mg/100 g dalam daun katuk segar. Kandungan fitosterol sebesar itu termasuk kadar yang tinggi diantara beberapa bahan makanan (Subekti 2008).
Beberapa efek farmakologi daun katuk yang telah diteliti meliputi antibakteri, antianemia, antioksidan, antiinflamasi dan dapat meningkatkan produksi ASI serta pemacu hormon (Sanjayasari 2011, Tiara 2018). Penelitian yang dilakukan oleh Arifien (2013) menunjukkan bahwa pemberian seduhan air daun katuk dengan dosis 100mg/kgBB yang diberikan kepada tikus secara oral selama 14 hari efektif meningkatkan libido. Maulita (2016) menyebutkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk dapat meningkatkan viabilitas, motilitas dan konsentrasi spermatozoa mencit jantan pada dosis 6mg/20gBB. Penelitian sebelumnya tentang aktivitas afrodisiaka
6
fraksi dari ekstrak etanol 70% daun katuk diperoleh bahwa fraksi n-heksana dengan dosis 2,37 mg/200gBB dapat meningkatkan libido dengan rata-rata jumlah climbing 16,5 kali dan rata-rata jumlah introduction 27,75 kali serta mampu meningkatkan bobot testis dan bobot vesikula yang sebanding kontrol positif yaitu X-gra® dengan dosis 51,37 mg/kgBB pada tikus putih jantan galur Sprague-Dawley (Rusdi dkk. 2018).
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari aktivitas afrodiasiaka daun katuk yang pernah dilakukan sebelumnya. Hasil sebelumnya didapatkan bahwa daun katuk mempunyai aktivitas afrodisiaka atau dapat meningkatkan libido (gairah seksual) pada hewan coba yang dilihat dari parameter climbing dan introduction (Rusdi dkk. 2018).
Pada penelitian ini akan diamati aktivitas daun katuk pada spermatogenesis hewan coba dengan parameter viabilitas, motilitas, dan jumlah spermatozoa. Skema road map penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
7
PENELITIANDANPENGEMBANGAN
Gambar 1. Roadmap Penelitian
Penelitian yang telah dicapai sebelumn ya:
Fraksi n-heksana merupakan fraksi terakti f pada ekstrak etanol daun katuk yang me miliki aktivitas afrodisiaka dilihat dari par ameter climbing dan introduction (Rusdi d kk. 2018)
Penelitian yang saat ini diajukan:
Uji aktivitas Spermatogenesis fraksi dari ekstrak etanol daun ka tuk dilihat dari parameter viabilitas, motilitas, dan jumlah sper matozoa
Penelitian selanjutnya:
- isolasi senyawa aktif dari daun katuk - standarisasi ekstrak/fraksi daun katuk
- pembuatan sediaan Fitofarmaka ekstrak terstandar daun katuk untuk aktivitas afrodisiaka dan peningkat fertilitas
Empiris:
- Daun Katuk meningkatkan produksi ASI Ilmiah:
- Daun katuk sebagai antibakteri, antianemia, antioksidan dan antiinflamasi
8
BAB 3
METODE PENELITIAN
A. Alur Penelitian
1. Determinasi dan pengumpulan bahan
2. Penyiapan bahan uji (ekstraksi, fraksinasi, penentuan karakterisasi mutu fraksi) 3. Persiapan hewan uji (aklimatisasi, pengelompokan, penentuan dosis)
4. Pengujian aktivitas (pembuatan larutan uji, perlakuan/treatment) 5. Analisis data
B. Lokasi penelitian
1. Tanaman diperoleh dari BALLITRO, Bogor.
2. Determinasi tanaman dilakukan di LIPI Cibinong.
3. Sampel tikus diperoleh dari IPB.
4. Pembuatan ekstrak, fraksi, identifikasi kandungan senyawa kimia, dan pengujian standarisasi mutu fraksi serta pengujian bioaktivitas akan dilakukan di Laboratorium Terpadu FFS UHAMKA, Jakarta.
C. Alat dan bahan penelitian
Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu: rotary evaporator, maserator, beker gelas, labu ukur, corong gelas, batang pengaduk, pipet tetes, corong pisah, pipa kapiler, chamber, neraca analitik, kandang tikus yang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum tikus, vial, spuit peroral, mikroskop, hemasitometer, UV box, alat bedah minor, waterbath.
Simplisia yang digunakan adalah daun katuk segar yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO). Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi adalah etanol 70% (pharmaceutical grade). Pelarut untuk fraksinasi adalah n-heksana, etil asetat dan aquadest. Pereaksi yang digunakan untuk penapisan fitokimia adalah amonia, Liebermann Bourchard, Dragendorff, FeCl3, vanilin-H2SO4. Pelarut yang digunakan sebagai eluen (fase gerak) adalah butanol (p.a), asam asetat, kloroform (p.a), metanol (p.a), n-heksana (p.a), etil asetat (p.a). Plat KLT Silika Gel
9
GF254 sebagai fase diam. Na-CMC 0,5% sebagai pembawa. Bahan yang digunakan sebagai kontrol positif adalah kapsul X-Gra yang didapatkan dari Pharos.
Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini menggunakan tikus putih jantan dan betina galur Sprague Dawley dengan berat 150-250 gram dan umur lebih dari 2-3 bulan.
D. Prosedur Penelitian 1. Pembuatan bahan uji
Daun katuk segar dicuci dengan air hingga bersih, ditiriskan dan dirajang halus, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering, kemudian diserbukkan dan, selanjutnya diayak dengan ayakan nomor 40. Serbuk yang diperoleh kemudian ditimbang (Rusdi dkk 2009).
2. Ekstrasi daun katuk dilakukan dengan metode maserasi. Sebanyak 1 kg simplisia direndam dengan 10 L pelarut etanol 70% di dalam maserator dan didiamkan selama 24 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan dengan menggunakan kain flanel dan kertas saring. Ampasnya dimaserasi kembali dengan etanol 70% dengan menggunakan prosedur yang sama. Ekstrak cair diuapkan pelarutnya menggunakan vacuum rotary evaporator dengan suhu waterbath 40-50oC. Hasil dari evaporasi dengan vacuum rotary evaporator kemudian dipekatkan dengan waterbath sehingga didapatkan ekstrak kental.
Ekstrak etanol 70% daun katuk dilarutkan dalam 500 ml aquadest, lalu dimasukkan ke dalam corong pisah. Ke dalam larutan tersebut dimasukkan pelarut n-heksana 500 ml. Setelah itu, larutan tersebut dikocok lalu didiamkan beberapa saat sampai terjadi pemisahan membentuk 2 fasa yaitu fraksi n- heksana (pada bagian atas) dan fraksi air (pada bagian bawah). Kedua fasa tersebut kemudian ditampung dalam erlenmayer yang berbeda. Pengulangan prosedur fraksinasi dengan pelarut yang sama dilakukan hingga fasa n-heksana tampak jernih. Prosedur yang sama dilakukan pula terhadap pelarut etil asetat.
Fraksi air merupakan larutan ekstrak etanol yang mengandung sebagian besar senyawa polar, fraksi n-heksana merupakan larutan ekstrak yang mengandung
10
sebagian besar senyawa non polar, fraksi etil asetat merupakan larutan ekstrak yang mengandung sebagian besar senyawa semi polar. Fraksi n-heksana, etil asetat dan air yang diperoleh kemudian dievaporasi hingga diperoleh fraksi kentalnya (Rusdi dkk. 2018).
3. Karakterisasi fraksi
Karakterisasi fraksi meliputi pemeriksaan organoleptis; identifikasi kandungan senyawa kimia (screening) secara kualitatif dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) terhadap kandungan senyawa yang mungkin terdapat di dalamnya, diantaranya yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, steroid dan triterpenoid;
penetapan kadar air; penetapan susut pengeringan; dan perhitungan rendemen.
4. Persiapan hewan coba
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL).
Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25 ekor yang dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 5 ekor tikus dalam satu kelompok.
Tikus dikarantina selama 7 hari dengan diberi pakan standar berupa pellet dan aquades. Pada tahap ini dilakukan pengamatan umum dan penimbangan berat badan setiap hari agar diperoleh tikus yang sehat.
5. Pengujian Efek Fertilitas
Skema perlakuan hewan uji dapat dilihat pada skema pada Gambar 2.
Pemberian sediaan uji dilakukan sekali sehari selama 7 hari. Pemberian minum dan pakan standar serta penimbang berat badan tetap dilakukan.
Setelah tikus selesai diberikan sediaan uji, pada hari ke 8 dikorbankan dengan menyuntikan ketamin kemudian dilakukan cervical dislocation (dislokasi leher), kemudian tikus dibedah dan diambil epididimis untuk dilakukan uji jumlah spermatozoa, motilitas spermatozoa dan viabilitas spermatozoa.
a). Penghitungan jumlah spermatozoa (Rudini 2016)
Epididimis kiri dan kanan disayat untuk mengeluarkan spermatozoa. Kauda epididimis diletakkan dalam cawan petri yang telah berisi larutan ringer 1 ml dan dipotong kecil-kecil hingga terbentuk suspensi dan dibiarkan selama 2
11
menit. Suspensi semen diambil sebanyak 10 μl kemudian disisipkan ke dalam ruang penghitungan haemocytometer dan dibiarkan 2 - 5 menit. Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop pembesaran 40 dalam 5 lapangan pandang. Selanjutnya jumlah spermatozoa/ml suspensi semen dari kauda epididmis dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Jumlah Sperma = N/2 x 106sperma/ml ……….
(1)
b). Pengamatan motilitas spermatozoa (Rudini 2016)
Suspensi spermatozoa diambil 10 μl lalu diteteskan pada kamar hitung haemocytometer. Pengamatan motilitas spermatozoa ini dilakukan pada 5 bidang pandang pada hemasitometer. Kemudian dihitung spermatozoa yang bergerak dan tidak bergerak dalam 5 lapangan pandang dengan menggunakan mikroskop. Jumlah spermatozoa motil dinyatakan dalam persen. Penentuan persentase spermatozoa yang motil digunakan rumus:
motilitas (%)
= Σ spermatozoa bergerak
Σ sperma begerak dan tidak bergerak x 100% … … … (2) c). Pengamatan viabilitas spermatozoa (Rudini 2016)
Suspensi spermatozoa diambil 10 μl kemudian diteteskan pada gelas objek setelah itu ditambah satu tetes eosin 2%. Setelah itu dihomogenkan, setelah tercampur ditutup dengan cover glass. Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop pembesaran 40 dalam 5 lapangan pandang. Sperma dihitung berapa yang hidup dan yang mati. Sperma menyerap warna berarti menunjukkan bahwa sperma sudah mati. Penentuan persentase spermatozoa yang hidup digunakan rumus:
viabilitas (%)
= Σ spermatozoa hidup
Σ sperma hidup dan mati x 100% . . . … … … (3)
12
Gambar 2. Skema Prosedur Perlakuan Hewan Uji E. Analisis data
Data yang diperoleh dianalisis dengan uji distribusi normal Kolmogrov-Smirnov dan uji homogenitas. Jika data terdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan dengan dengan uji one way ANOVA, untuk melihat hubungan antar kelompok perlakuan.
Selanjutnya dilakukan uji Tukey untuk mengetahui letak perbedaan setiap perlakuan (Jones 2010).
F. Fishbond Penelitian
Rancangan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.
Kelompok kontrol n ormal, diberi Na CM
C 0,5%
Kelompok kontrol p ositif, diberi X-gra® dengan dosis 10,27
mg/200gBB Kelompok fraksi air, diberi fraksi air daun k
atuk dengan dosis 2,3 7mg/200g BB 25 ekor tikus
galur SD, tiap kelompok 5 e
kor, Aklimatisasi
7 hari
Kelompok fraksi etil asetat, diberi fraksi et il asetat daun katuk de ngan dosis 2,37 mg/20
0 g BB Kelompok fraksi n-h eksan, diberi fraksi n- heksana daun katuk de ngan dosis 2,37 mg/20
0 g BB
Setelah 7 hari treatment, dilak ukan:
-Uji Jumlah Spermatozoa - Uji motilitas - Uji viabilitas
Analisis data
13
Gambar 3. Rancangan penelitian
14
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1. Anggaran Biaya
Tabel 4.1. Ringkasan Anggaran Biaya
No. Jenis Pengeluaran Biaya yang Diusulkan (Rp) 1 Honorarium pelaksana 3.500.000
2 Bahan habis pakai dan peralatan
10.170.000
3 Perjalanan 2.200.000
4 Lain-lain: publikasi, seminar, laporan, pengolahan data, dan lain-lain
4.130.000
Jumlah 20.000.000
4.2 Jadwal Penelitian Tabel 4.2. Jadwal Penelitian
NO
JENIS KEGIATAN
Bulan ke-
1 2 3 4 5 6 7
1 Penyusunan proposal ✓ 2 Persiapan bahan dan
alat
✓ ✓
3 Penelitian ✓ ✓ ✓
4 Evaluasi hasil ✓ ✓
5 Publikasi ilmiah ✓ ✓ ✓
6 Penyusunan laporan ✓ ✓ ✓ ✓
15
DAFTAR PUSTAKA
Alldredge B, Corelli L, et al,. 2013. Applied Therapeutics The Clinical Use of Drugs. Tenth E dition. Lippincott Williams & Wilkins. China. Hlm. 1094
Andini Diah. 2014. Potential of Katul Leaf (Sauropus androgynus L Merr) As Aphrodisiac. D alam: J Majority Vol 3 No 7. Universitas Lampung. Lampung. Hlm : 17-22
Anonim, 1999. WHO Laboratory manual for the examination of human semen and sperm-cer vical mucus interaction, 4th edition, WHO Cambridge University Press.
Anonim. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi I. Departemen Kesehatan Republik Indon esia. Jakarta.
Arifien, Artantya Putra. 2013. Uji Efek Seduhan Daun (Sauropus androgynus (L.) Merr) Terh adap Libido Tikus Jantan (Rattus novergicus) Dalam Penggunaannya Sebagai Afrodis iak Dengan Alat Libidometer. CALYPTRA: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Sur abaya 2.1
Maulita wening, dkk. 2016. Pengaruh Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynus (L) Merr) T erhadap Viabilitas, Motilitas Dan Konsentrasi Spermatozoa Mencit Jantan Balb/c Yang Diberi Paparan Asap Rokok. Dalam : Proceeding book “Scientifict Annual Meeting”, Fo rum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI). Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung. Semarang. Hlm : 2-6
Larasty W. 2013. Uji Antiinfertilitas Ekstrak Etil Asetat Biji Jarak Pagar (Jathropa curcas L.) pada Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus, L.). galur Sparague Dawley secara In Vi vo. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah. Hlm.
26
Rhanuga. 2013. Studi Mengenai Efek Daun Katuk (Sauropus androgynus (L) Merr) Terhadap Libido Kelinci Jantan (Oryctolagus cuniculus) Sebagai Afrodisiaka. Dalam: Jurnal Ilm iah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol 2 No 1. Fakultas Farmasi Universitas Suraba ya. Hlm: 12
Rudini M. 2016. Efektivitas Antidiabetes Ektrak Etanol Rimpang Pacing (Costus speciosus) d an Taurin Terhadap Fertilitas Mencit Jantan (Mus musculus) yang Diinduksi Aloksan.
Tesis. FMIPA Universitas Lampung. Bandar Lampung
Suckow, M.A. 2006. The Laboratory Rat Second Edition. American Collage of Laboratory A nimal Medicine Series. USA
WHO. (2012). Global Prevalence of Infrtility, Infecundity and Childlessness. Retrieved from http. www. who.int/ reproductivehealth/ topics/infertility/burden/en
Yakubu, M. T., M. A. Akanji, and A. T. Oladiji, 2007, Male Sexual Dysfunction and Method s used in Assessing Medicinal Plants with Aphrodisiac Potentials. Dalam: Pharmacog nosy Reviews, Vol.1, Hlm. 49–56.
16
LAMPIRAN Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian
Honorarium Pelaksana
Honor Waktu (jam/m
inggu) Minggu Jumlah
Ketua Peneliti 12 jam/mingg
u
16 minggu/tah un
1.750.000
Anggota Peneliti 12 jam/mingg
u
16 minggu/tah un
1.750.000 SUB TOTAL 3.500.000 Bahan Habis Pakai dan Peralatan
Bahan Justifikasi
pemakaian Kuantitas
Harga satuan (
Rp) Jumlah
Tanaman katuk sega r
Bahan baku 10 kg 5.000 50.000
Tikus putih galur Sp rague Dawley
Hewan coba 30 ekor 40.000 1.200.000
Pakan standar Pakan tikus 5 kg 15.000 75.000
Kandang hewan + te mpat makan dan mi num
Kandang hew an coba
6 250.000 1.500.000
Etanol 96% (food gr ade)
Pelarut penge kstraksi
20 L 80.000 1.600.000
Aquadest Pelarut 20 L 8.000 160.000
n-Heksana teknis Pelarut pengekst raksi
1 L 400 400.000
Etil asetat teknis Pelarut pengekst raksi
1 L 600 600.000
H2SO4 pekat Pereaksi deteksi 250 mL 120 30.000
Vanilin Pereaksi deteksi 1 g 68.500 68.500
FeCl3.6H2O p.a Pereaksi deteksi 50 g 4520 226.000
Asam asetat p.a Pereaksi deteksi 100 mL 440 44.000
n-Butanol p.a Pereaksi deteksi 50 mL 4.800 240.000
Amonia p.a Pereaksi deteksi 100 mL 1.100 110.000
Asam asetat glasia l
Pereaksi deteksi 100 mL 360 36.000
Bismuth nitrat Pereaksi deteksi 50 g 3.030 151.500
Kalium iodida p.a Pereaksi deteksi 50 g 6.800 340.000
Etil asetat p.a Eluen 250 mL 1.440 360.000
Metanol p.a Eluen 100 mL 655 65.500
Kloroform p.a Eluen 100 mL 425 42.500
Gelas objek + cov er
Pembuatan prep arat
1 set 25.000 25.000
Plat KLT silika ge l GF254
Identifikasi seny awa
5 185.000 925.000
Pipa kapiler 10 L Identifikasi seny awa
1 pak 220.000 220.000
17
Na-CMC Pensuspensi fra
ksi
250 g 340 85.000
Ketamin HCl Zat anastesi 1 botol (10 mL) 339.000 339.000
X-gra (Pharos) Obat pembandin g
1 strip (10 tabl et)
100.000 100.000
Jarum pentul Bedah tikus 1 pak 15.000 15.000
Styrofoam (1x2m) Bedah tikus 1 set 55.000 55.000
Kain flanel (1 m) Penyaring ekstr ak
1 set 27.000 27.000
Kertas saring (1 m) Penyaring ekstr ak
1 set 15.000 15.000
Aluminium foil (30 cm x 8 m)
Pelapis 1 pak 35.000 35.000
Pinset bedah Bedah tikus 1 set 105.000 105.000
Sarung tangan late x
Penelitian 1 box 75.000 75.000
Masker Penelitian 1 box 25.000 25.000
Kapas steril Bedah tikus 1 box 10.000 10.000
Spuit steril 1 cc Injeksi tikus 1 box 105.500 105.000
Sonde oral Treatment tikus 1 set 75.000 75.000
Larutan ringer ster il
Cairan elektrolit 1 botol (500 mL)
50.000 50.000
Tube eppendorf 1, 5 mL
Wadah sampel 3 buah 40.000 120.000
White tip (100 L )
Pengambilan sa mpel
1 pak (100 pcs )
40.000 40.000
Larutan eosin 2% Pereaksi sel 100 mL 4.250 425.000
SUB TOTAL 10.170.000
1.5. Perjalanan
Kegiatan Justifikasi perjalanan Kuantitas
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Transportasi pengi riman perbaikan p roposal (PP)
Pengiriman perbaikan pr oposal (klender-pasar re bo)
2 100.000 200.000
Transportasi tanda tangan SPK (PP)
Tanda tangan SPK 2 100.000 200.000
Transportasi mone v (PP)
Monev 2 100.000 200.000
Transportasi pengi riman perbaikan la poran (PP)
Pengiriman perbaikan la poran (klender-pasar reb o)
2 100.000 200.000
Transportasi ke B ALITTRO, Bogor (PP)
Pembelian sampel daun 2 100.000 200.000
18 Transportasi ke
LIPI, Cibinong (P P)
Determinasi tanaman:
Kirim sampel dan ambil hasil
4 75.000 300.000
Transportasi beli b ahan (PP)
Pembelian bahan habis pakai
5 100.000 500.000
Transportasi ke P eternakan Hewan Coba, Bogor (PP )
Pembelian dan pengan gkutan hewan uji
2 100.000 200.000
Transportasi ke Labkesda (PP)
Penetapan kadar air:
Kirim sampel dan ambil hasil
2 100.000 200.000
SUBTOTAL 2.200.000
Lain-lain
Kegiatan Justifikasi
Kegiatan Kuantitas
Harga satua n (Rp)
Jumlah
Biaya determin asi
tanaman
Determinasi tanaman di LIPI
1 50.000 50.000
Biaya pengajua n uji etik
Komite etik 1 250.000 250.000
Pencetakan dan penjilid an proposal
Penyusunan, print, p enjilidan proposal
6 30.000 180.000
Pencetakan dan penjili dan lapora n
Penyusunan, print, Penjulidan laporan (soft cover)
6 50.000 300.000
Publikasi Jurnal/Forum Il miah
1. Biaya submit naskah di jurnal nasional terakr editasi dan terindeks si nta, (atau)
2. Seminar nasional/int ernasional
1 3.000.000 3.000.000
Internet Pencarian informasi da n
pustaka
2 150.000 300.000
SUB TOTAL 4.130.000
TOTAL ANGGARAN YANG DIPERLUKAN (Rp) 20.000.000
19
Lampiran 2. Dukungan sarana dan prasarana penelitian No Sarana dan Prasarana
Penelitian
Penyedia Fasilitas
1 Laboratorium Farmakogn osi
Laboratorium Terpadu FFS UHAMK A, Jakarta
2 Laboratorium Fitokimia Laboratorium Terpadu FFS UHAMK A, Jakarta
3 Laboratorium Farmakolog i
Laboratorium Terpadu FFS UHAMK A, Jakarta
4 Laboratorium Morfologi a natomi tumbuhan
LIPI, Cibinong
5 Laboratorium Kimia Labkesda
6 Laboratorium Patologi Kli nik
Laboratorium Terpadu FFS UHAMK A, Jakarta
20
Lampiran 3. Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas No. Nama/NIDN Instansi Asal/
Bidang Ilmu
Alokasi Waktu
Uraian tugas 1 Numlil Khaira Rusdi,
M.Si., Apt./ 04.251081 .01
Fakultas Farm asi dan Sains, Universitas M uhammadiyah Prof. DR. Ha mka/
Farmakologi d an Farmasi Kl inis
12 jam Ketua Peneliti:
-Mengawasi tatalak sana pengujian bioa ktivitas
-Analisis hasil uji.
-Penyusunan propo sal dan laporan.
2 Ni Putu Ermi Hikmawa nti, M.Farm/
03.090789.01
Fakultas Farmasi dan Sains, Unive rsitas Muhamma diyah Prof. DR.
Hamka/
Biologi Farmasi
12 jam Anggota:
-Mengawasi tatalak sana pembuatan da n karakterisasi frak si
-Analisis hasil uji.
-Penyusunan propo sal dan laporan.
21
Lampiran 4. Biodata Ketua dan Anggota Peneliti 1. Ketua Peneliti
22
23
24
Anggota Peneliti
25
26
Lampiran 5. Surat Penyataan Ketua Peneliti