Buku ini merupakan kumpulan pemikiran atau gagasan para dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Hindu Indonesia. Kami berharap buku ini dapat memberikan kontribusi bagi pengetahuan tentang perencanaan kota dan wilayah di Indonesia.
Membangun Ekosistem Kebijakan Keruangan
Pendahuluan 1 Latar belakang
Terbatasnya ketersediaan sumber daya (supply) dibandingkan dengan meningkatnya permintaan terhadap sumber daya (demand) akan mengakibatkan semakin tingginya persaingan untuk memperoleh dan memanfaatkannya. Dalam pengelolaan ruang (wilayah), sumber daya terpenting yang berkaitan dengan kendala lingkungan hidup adalah bumi dengan segala sumber daya yang ada di dalamnya, di bawahnya, dan di atasnya.
Kajian Pustaka
Kebijakan publik merupakan hasil proses politik, mulai dari penetapan agenda, perumusan, adopsi, penerapan dan evaluasi kebijakan (Dunn, 2000). Membangun kualitas suatu kebijakan publik sebenarnya dapat dimulai dengan menemukan kualitas suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
Pembahasan
Bagi aktor non-politik (birokrat), kemampuan teknis, manajerial/kepemimpinan, dan integritas merupakan hal terpenting dalam keberhasilan suatu kebijakan publik. Oleh karena itu, kualitas substansi ketertiban umum yang baik (UU, Perda, dll) saja tidak cukup.
Penutup
Sebagaimana paradigma baru administrasi publik yang lebih memposisikan masyarakat (pelanggan) sebagai warga negara yang mempunyai hak-hak sipil, penguatan dan pemberdayaan masyarakat dalam mengakses dan memenuhi hak-haknya harus menjadi bagian dari implementasi kebijakan publik.
Memaknai Penataan Ruang Menuju Kota Cerdas
Pendahuluan
Kota sebagai elemen organisasi menjadi sangat efisien bila dilihat sebagai sesuatu yang bersifat ritual, itulah sebabnya ia ada. Ada dua alasan yang menyertainya, yakni (1) pandangan bahwa masyarakat pada hakikatnya beragama, oleh karena itu hal-hal yang bersifat ritualistik menggambarkan makna yang paling penting;
Ruang dalam Budaya Bali
Konsep Tri Hita Karana dalam Bhuana Agung karena jiwa adalah paraatma, energi adalah yang menggerakkan alam (gerakan matahari, bulan dan bintang), jasmani adalah unsur Pancamahabhuta. Pandangan Tri Angga pada bhuana agung, dimana angga utama adalah gunung, angga tengah adalah daratan, nista angga adalah laut, sedangkan pada bhuana alit angga utama adalah kepala, angga tengah adalah badan, dan nista angga adalah kaki (Sularto, tanpa tanggal: 11 ).
Ruang Kota
Penataan ruang sebagai media informasi Yang dimaksud dengan penataan ruang pada dasarnya didasarkan pada peta yang memberikan informasi. Sebagai media informasi, tentunya penataan ruang pada hakikatnya harus bersifat rigid (tidak dapat diubah), pasti (tidak diragukan lagi), dan dapat diakses, cepat (real-time) dan aman (tidak dapat ditiru).
Makna Penataan Ruang Kota dalam Dimensi Smart City Smart City merupakan sebuah konsep kota cerdas yang dapat
Proyek Smart City mempengaruhi kualitas hidup warga dengan tujuan menjadikan kota lebih efisien. Kota dengan daya saing ekonomi yang tinggi dianggap sebagai salah satu ciri Smart City.
Penutup
Adi Ginanjar Maulana – http://bandung.bisnis.com dalam artikelnya: Konsep Smart City Belum Menjadi Prioritas di Indonesia. CITY FOR ALL: Tantangan pembangunan kota cerdas dalam membangun kota budaya”, yang diselenggarakan oleh Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Hindu Indonesia.
Kebijakan Pengembangan Destinasi Pariwisata dalam Sistem Tata Ruang Wilayah
Metode Penelitian
Selain ketiga masukan utama tersebut, MULTIPOL memerlukan kriteria masukan yang akan digunakan ketika menilai skenario, kebijakan, dan tindakan. Pengisian komponen ini akan dilakukan melalui matriks ketiga input dengan kriteria yang telah ditentukan.
Hasil dan Pembahasan
Penekanan kebijakan ini adalah pada peraturan yang menjadi dasar cetak biru pengembangan pariwisata di Kabupaten Karangasem yang dapat ditegakkan secara hukum. Evaluasi seperti ini menggambarkan bahwa Program Aksi Pengembangan Desa Wisata (A8) unggul dalam kebijakan pariwisata berbasis konservasi (P2), pariwisata berbasis potensi daerah (P3), pembangunan infrastruktur dan aksesibilitas (P4) dan pariwisata berbasis komunitas. manajemen (P4). hal5). Seperti terlihat pada Gambar 4, kebijakan pariwisata berbasis potensi daerah (P3), pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat (P5) dan pariwisata berbasis konservasi lainnya dalam skenario pembangunan terpadu (S2).
Selain bersifat eksplisit, prinsip konservasi seperti ini harus dimasukkan dalam setiap model perencanaan dan pengembangan pariwisata di wilayah Karangasem.
Bencana dan Pariwisata
Mitigasi Bencana Tsunami di Kawasan Wisata Sanur melalui Pariwisata
- Sejarah Bencana Alam dan Pariwisata di Indonesia
- Karakteristik Wilayah Pesisir Bali Selatan sebagai Daya Tarik Wisata
- Kerentanan Kawasan Wisata Sanur terhadap Bencana Tsunami
- Pembangunan Fisik dalam Mitigasi Bencana di Kawasan Wisata Sanur
- Edukasi bagi Stakeholder Pariwisata dalam Mitigasi Bencana Pariwisata sebagai pusat pemusatan massa berpotensi terkena
- Penutup: Stakeholder Pariwisata sebagai Pelopor Mitigasi Bencana di Kawasan Wisata Sanur
Prinsip penataan ruang terbuka hijau pada suatu kawasan wisata bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Kesiapan harus dikuasai oleh seluruh komponen pariwisata seperti warga lokal, pelaku usaha maupun wisatawan di kawasan wisata. Bagian informasi juga harus dapat diakses oleh semua orang di kawasan wisata.
Kesimpulan: Stakeholder Pariwisata Sebagai Pelopor Mitigasi Bencana di Kawasan Pariwisata Sanur Bencana di Kawasan Pariwisata Sanur.
Dialektika Proses Pembentukan Identitas Kota pada Kawasan Perkotaan Mangupura,
Alur Historis Kemunculan Entitas Kawasan Perkotaan Mangupura
Sebelum pemekaran Kota Denpasar menjadi satuan wilayah administratif, Kabupaten Badung merupakan peninggalan Kerajaan Badung yang pada puncaknya dikuasai oleh Puri Denpasar sebagai pusat kegiatan pemerintahan. Pada masa pemerintahan Belanda, cakupan wilayah Badung ditata kembali dan menjadi wilayah Kabupaten Badung sebelum dipisahkan dari Kota Denpasar (Agung, 1998). Pemindahan ibu kota Kabupaten Badung didasari oleh keadaan perekonomian Kabupaten Badung yang telah berkembang pesat dan mampu mengembangkan infrastruktur wilayah secara mantap.
533 Tahun 2004 tentang RDTR Kabupaten Mengwi menegaskan kembali bahwa letak ibu kota Kabupaten Badung di Wilayah Mengwi berada di bagian tengah Wilayah Mengwi yang terdiri dari 10 desa/kelurahan.
Mangupura: Identitas Kekinian Kawasan Perkotaan Kabupaten Badung
Kawasan perkotaan Mangupura dalam perkembangannya selanjutnya ditetapkan menjadi bagian dari kawasan perkotaan Metropolitan Sarbagita dengan fungsi sebagai kawasan perkotaan di sekitar inti kota Denpasar. Tujuan perencanaan fisik Kawasan Perkotaan Mangupura ditujukan untuk mendukung visi Mangupura, kota yang indah, nyaman, dan berkelanjutan berdasarkan Tri Hita Karana. Rumusan tujuan perencanaan fisik kota adalah mewujudkan kawasan kota Mangupura sebagai kawasan perkotaan yang indah, nyaman, berdaya saing, beridentitas budaya Bali, dan ibu kota kabupaten yang berkelanjutan.
Beberapa tujuan yang ingin dicapai adalah: (1) Terwujudnya fungsi kota sebagai ibu kota Kabupaten Badung disertai pemerataan dan keseimbangan fungsi daerah; (2) Tersedianya sistem transportasi terpadu yang didukung angkutan umum; (3) Terintegrasi ke dalam kawasan perkotaan sistem metropolitan Sarbagita; (4) Terwujudnya kawasan perkotaan yang indah, nyaman, dan layak huni melalui penyediaan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung pembangunan ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup; (5) komposisi ruang terbuka hijau terarah minimal 60% dari luas kota; (6) tingginya daya tarik investasi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan; dan (7) mengarahkan program pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan pengendaliannya.
Semiotika Pembentuk Identitas Kawasan Perkotaan Mangupura
Hal ini menandakan telah terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman secara masif di Kawasan Perkotaan Mangupura (Gambar 4). Dari segi geografis, Kawasan Perkotaan Mangupura berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Badung. Begitu pula sebaliknya, yaitu warga yang berdomisili di luar daerah namun beraktivitas di wilayah kota Mangupura.
Transformasi struktur kehidupan masyarakat di Kawasan Perkotaan Mangupura tentunya membawa dampak multidimensi terhadap cara hidup masyarakat.
Dialektika dalam Proses Pembentukan Identitas Kawasan Perkotaan Mangupura
Terbentuknya Kawasan Perkotaan Mangupura harus diakui sebagai hasil dari suatu kebijakan politik untuk menunjukkan jati diri sebagai kawasan perkotaan yang mandiri. Sebagai kota baru, potensi fisik pembentuk identitas Kawasan Kota Mangupura ada pada representasi pembangunan pusat pemerintahan Mangupraja Mandala. Lambat laun, proses pembentukan identitas perkotaan secara fisik telah menyebabkan perubahan struktur morfologi kawasan perkotaan yang sebelumnya dominan ‘hijau’.
Sayangnya, kontradiksi perkembangan tata ruang di kawasan perkotaan Mangupura telah menimbulkan banyak perubahan dan dinamika kerusakan lingkungan.
Penutup
Bali pada umumnya dan desa adat di kawasan perkotaan Mangupura pada khususnya merupakan satuan pemukiman yang secara historis dan tradisional akrab dan selaras dengan kehidupan masyarakat Bali. Pengetahuan tersebut bersumber dari keberadaan desa adat sebagai ekspresi nilai-nilai dasar budaya masyarakat. Makna tempat yang diwujudkan dalam satuan permukiman adat masyarakat merupakan satuan sosio-ritual yang menghubungkan masyarakat dengan nenek moyangnya, yang dihubungkan dengan keberadaan Pura Tri Kahyangan Desa.
Desa adat mempunyai legitimasi independensi yang tinggi untuk mengatur dan menjalankan pemerintahan desa secara mandiri.
Daftar Pustaka
Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2009 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Badung dari Wilayah Kota Denpasar ke Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Artikel ini merupakan bagian dari artikel yang disampaikan pada seminar nasional SPACE#1-2013 “Perencanaan tata ruang dengan kearifan lokal dalam pembangunan berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Hindu Indonesia, pada tanggal 31 Agustus 2013.
Potensi Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit di Pulau Sumatera
Kajian Literatur dan Pengembangan TOD
- Penentuan Tipologi Kawasan dan Strategi Pengembangan Penentuan tipologi Kawasan TOD dilakukan berdasarkan Permen ATR
Ada tiga pihak kunci yang terlibat dalam pengelolaan pengembangan kawasan TOD di Paris, yaitu metro dan RER, pemerintah, dan pengembang. Berdasarkan hasil survei lapangan dan analisis kepadatan penduduk awal, stasiun-stasiun yang berpotensi tinggi kembali dipilih. Meskipun fokusnya adalah pada stasiun-stasiun dengan potensi tinggi, beberapa contoh stasiun dengan potensi sedang dan rendah juga akan disertakan.
Hasil analisis tipologi kawasan TOD terhadap lokasi stasiun potensial menurut tinjauan kebijakan spasial dan sektoral dapat dilihat pada Tabel 6.
Kajian Signifikansi Tinggalan Masa Penjajahan Jepang
Jepang Masuk ke Bali
Pendit menyatakan dalam bukunya Perjuangan Bali bahwa Jepang memasuki Bali pada tanggal 19 Februari 1942, setelah terjadi pertempuran laut dan pertempuran udara antara tentara Jepang dengan Uni di perairan Samudera Hindia selatan Pulau Bali yang berlangsung dengan sangat heboh. dan keagungan. Tentara Besar Jepang (Dai Nippon) mendarat di Pantai Sanur di Bali selatan. Ratusan bahkan ribuan orang harus bekerja melalui tentara Jepang untuk mencapai kemenangan terakhir di pihak Dai Nippon. Namun, sesaat menjelang akhir tahun 1944, kapal selam asal Amerika beberapa kali muncul di perairan pelabuhan Buleleng.
Kapal selam ini menembakkan beberapa torpedo dan menembakkan meriam ke arah kapal kayu yang berlabuh dengan damai di pelabuhan Buleleng.
Jejak Jepang di Desa Pegayaman
Hal ini disebabkan oleh kekalahan Jepang pada Perang Dunia ke 2 sehingga benteng ini ditinggalkan. Pendit dalam Buku Pertarungan Bali, kemungkinan besar pembangunan perlindungan di desa Pegayaman bersamaan dengan pembangunan gua-gua di sekitar Pura Kuning. Bangunan ini tergolong istimewa dari segi bentuknya karena mempunyai bentuk yang berbeda dibandingkan dengan bangunan peninggalan Jepang lainnya yang ada di Desa Pegayaman.
Gedhong ing titik 3 dumunung relatif cedhak karo bangunan ing titik 2, isih ing tanah wakaf desa Pegayaman.
Signifikansi Tinggalan Jepang di Desa Pegayaman
Peninggalan Jepang di Desa Pegayaman diklaim signifikansinya berdasarkan kriteria yang tercantum dalam UU No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya BAB III Pasal 5, khusus: (1) Usia 50 tahun atau lebih; (2) Merupakan gaya hidup terpendek yaitu 50 tahun; (3) Mempunyai arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan (4) Memiliki nilai-nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Banyak peninggalan Jepang di Bali yang didominasi oleh bunker mirip gua, sehingga penting untuk melindungi bunker di Desa Pegayaman. Peninggalan yang ada di Pegayaman ini merupakan bagian dari kesaksian sejarah masuknya bangsa Jepang di Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng.
Bangunan bunker di Desa Pegayaman atau yang dikenal oleh masyarakat Pegayaman dengan sebutan bunker mempunyai nilai penting sebagai bangunan cagar budaya peninggalan masa pendudukan Jepang di Kabupaten Buleleng.
Pengarusutamaan Jasa Ekosistem dalam Perencanaan Pengembangan Sektor
Studi Kasus Wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat
Pendahuluan 1 Latarbelakang
Semakin maraknya perkembangan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup di ekoregion Papua pada sektor pertambangan telah membawa dampak lingkungan berupa meningkatnya kerusakan dan/atau kerusakan. Oleh karena itu, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam sektor pertambangan di kawasan ini harus dilakukan dengan prinsip keberlanjutan. Berdasarkan hal tersebut, maka pengarusutamaan konsep jasa ekosistem menjadi sangat penting guna merumuskan mekanisme perencanaan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di sektor pertambangan.
Pada prinsipnya perencanaan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan untuk mendukung sektor pertambangan berkelanjutan di wilayah Manokwari dapat menggunakan jasa ekosistem sebagai acuan.
Pembahasaan
Indeks Jasa Ekosistem merupakan nilai indeks yang mencerminkan besaran nilai jenis jasa ekosistem. Nilai Indeks Jasa Ekosistem (IJE) pada hakikatnya merupakan variasi skor/koefisien jasa ekosistem yang diberi bobot berdasarkan luas poligon (area). IJE i,x = Nilai Indeks Jasa Ekosistem Tipe i (misal pangan) di wilayah x (misal kabupaten atau wp tertentu).
Manfaat jasa ekosistem menunjukkan kemampuan alam dalam memberikan manfaat langsung kepada sektor pembangunan yang berada di atasnya.