• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF repository.uinmataram.ac.id

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PDF repository.uinmataram.ac.id"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Legitimasi Berlapis dan Negosiasi Dinamis

Argumentasi utama yang ditekankan dalam buku ini adalah adanya legitimasi yang berlapis namun sejajar dengan agama, negara dan adat dalam pelaksanaan akad nikah Muslim Sasak. Selain argumen-argumen utama tersebut, buku ini juga memaparkan dinamika negosiasi yang dilakukan komunitas Muslim di Sasak terkait pembayaran nikah.

Interaksi Islam-Adat dan Intervensi Negara

Yang dikatakan tidak sesuai dengan syariat Islam sebagaimana tersebut di atas adalah pembayaran adat. Dengan demikian, buku tentang pembayaran nikah pada masyarakat Sasak ini akan memperkaya pembahasan tentang pembayaran nikah dan dialektika hukum Islam dan adat serta mengisi kekosongan dalam kajian-kajian sebelumnya.

Pluralisme Hukum dan Definisi Pembayaran

Di sisi lain, orang-orang yang karena afiliasi etnis dan agamanya memiliki dua sistem hukum yang berbeda juga ikut bersaing; Pluralisme hukum dalam pandangan Hooker bersifat netral dalam arti tidak ada sistem hukum yang lebih unggul dari yang lain.

Metode Penyusunan dan Sistematika Buku

Hanya pernikahan antara suku Sasak dan Banjar yang dilakukan di kediaman mempelai pria. Untuk perkawinan antara suku Sasak dengan suku lain dilakukan dengan wakil dari masing-masing keluarga.

PEMBAYARAN PERKAWINAN DALAM BUDAYA

Mataram: Pusat Kota dan Tradisi

Penelitian ini difokuskan di kota Mataram, salah satu dari dua (2) kota dan delapan (8) kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Barat. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa masyarakat kota Mataram yang berasal dari suku Sasak, baik yang berasal dari wilayah kota Mataram maupun dari tempat lain di pulau Lombok, masih mempertahankan tradisi nikah siri yang biasa dilakukan oleh masyarakat Sasak. Hal ini menarik untuk ditelaah lebih jauh, karena anggapan bahwa struktur sosial masyarakat perkotaan cenderung heterogen dan lebih terbuka, sehingga memungkinkan terjadinya perubahan nilai sosial yang lebih cepat, yang juga membawa perubahan perilaku hukum, dalam kasus hukum keluarga ini.

Asumsi ini dipatahkan oleh hasil observasi dalam penelitian ini yang membuktikan bahwa dalam soal pembayaran perkawinan terjadi perubahan sosial.

Lokasi dan Setting Sosial Budaya Kota Mataram

Kemudahan bagi masyarakat perkotaan yang saat ini berkembang menjadi masyarakat metropolitan di Kota Mataram juga terus digalakkan. Kota Mataram yang memang merupakan bagian dari Pulau Seribu Masjid ini memiliki banyak bangunan masjid dengan arsitektur yang indah dan megah. Nah di kota ini juga terdapat Islamic center cantik yang sekaligus menjadi ikon religiusitas masyarakat muslim di NTB.

Wilayah Kota Mataram dibatasi oleh Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat di sebelah utara, Kecamatan Labu Api Kabupaten Lombok Barat di sebelah selatan, Selat Lombok di sebelah barat dan Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat di sebelah timur. Penduduk asli kota ini adalah suku Sasak yang juga merupakan suku mayoritas yang tinggal di kota Mataram. Meskipun Islam merupakan agama mayoritas di Mataram, namun kerukunan umat beragama dengan saling menghormati, menghargai dan saling membantu satu sama lain merupakan niat yang cukup besar bagi masyarakat Mataram dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan visi kota. Mataram untuk mewujudkan Kota Mataram yang maju, religius dan berbudaya.

Pendidikan di kota ini bisa dikatakan sebagai pendidikan termaju di wilayah NTB, baik dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Tradisi Perkawinan di Kota Mataram

Dari perkawinan antar suku tersebut, hanya satu perempuan yang berasal dari suku Sasak yaitu perkawinan dengan orang Jawa, selebihnya dilakukan antara laki-laki suku Sasak dengan perempuan dari suku lain yaitu suku Mbojo dan Banjar. Tempat perkawinan bagi mempelai suku Sasak dilakukan di pihak laki-laki, sedangkan antara suku Sasak dengan suku lain dilakukan di tempat tinggal pihak perempuan. Dalam pengamatan penelitian ini, upacara sorong serah hanya dilakukan oleh tiga pasang mempelai dari suku Sasak.

Pergantian adalah harta yang diberikan oleh keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan dan dimiliki seluruhnya. Sedangkan pewirang adalah pembayaran yang dilakukan oleh mempelai laki-laki sebagai pemenuhan janji yang pertama kali diucapkan pada saat midang (proses perkenalan). Realitas lain yang ditemukan penulis tentang perkawinan suku Sasak di kota Mataram yang dirundingkan melalui nyelabar sebenarnya adalah pembayaran adat terutama pisuke atau belok.

Hal ini sama seperti yang penulis temukan, khususnya dalam pernikahan yang melibatkan sesama suku Sasak. Dugaan di atas diperkuat dengan kesaksian seseorang dari suku Jawa, Heru Susanto, yang menikah dengan wanita suku Sasak bahkan keturunan baik. Mahbub dan Dewi Anggriani berasal dari suku Sasak dan Mbojo dan sama-sama mengenyam pendidikan tinggi.

Tabel 1: Profil Informan
Tabel 1: Profil Informan

Preferensi dan Negosiasi dalam Pembayaran

Perundingan yang dimaksud di sini adalah perundingan dan musyawarah yang dilakukan kedua belah pihak dalam menentukan pembayaran ketiga pernikahan tersebut di atas. Karena calon mempelai wanita adalah keturunan yang baik, sedangkan calon mempelai pria berasal dari kalangan rakyat biasa. Seperti disebutkan sebelumnya, pembayaran pernikahan di kalangan Muslim Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat mencakup tiga jenis, yaitu pembayaran mahar agama, pembayaran adat, dan pembayaran administrasi.

Untuk memahami harta perkawinan ini, perlu juga dicermati jenis lain dari pembayaran perkawinan, yang disebut mas kawin. Saya berpendapat bahwa terdapat hubungan yang kompleks dalam praktik nikah siri antara tafsir agama dengan warisan budaya lokal dan kekuasaan negara terhadap suatu ikatan perkawinan pada suku Sasak. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bagaimana pembayaran perkawinan suku Sasak adalah sebagai berikut.

Bahkan ketika seorang wanita Sasak menikah dengan seorang wanita Jawa, ada pemahaman budaya dan kondisi individu calon pengantin pria yang akan diserahi berbagai pembayaran pernikahan.

RAGAM PEMBAYARAN: LEGITIMASI BERLAPIS

Posisi Mahar dan Pembayaran Adat

Sebagai tradisi kuno yang masih dipraktikkan saat ini di banyak bagian dunia, pembayaran pernikahan telah mendapat banyak perhatian akademis. Dalam disiplin antropologi, pembayaran pernikahan dipandang sebagai beberapa bentuk pertukaran hadiah dan timbal balik yang paling luas dan penting. Meskipun dalam penggunaan sehari-hari kedua istilah teknis ini sering digunakan secara bergantian oleh para antropolog untuk membandingkan sistem pembayaran masyarakat untuk pernikahan, keduanya secara konseptual berbeda.

Akibatnya, pembayaran perkawinan yang diberikan oleh suami umumnya dipandang sebagai satu-satunya praktik hukum menurut hukum Islam, karena tidak ada alternatif lain yang dapat dibenarkan secara agama. Penggunaan ungkapan seperti atau

Asumsi tersebut diimbangi oleh beberapa pandangan positif tentang praktik bentuk pembayaran untuk pernikahan ini, dengan beberapa sarjana klasik melihatnya sebagai pendukung posisi perempuan.

Membayar untuk Legitimasi Ikatan

Oleh karena itu mahar secara teoritis mengacu pada properti yang diberikan kepada seorang wanita untuk memastikan status sosial dan keamanan ekonominya. Praktek mahar dalam masyarakat di wilayah ini terkait dengan kurangnya hak pilihan perempuan untuk bertindak dan mengambil keputusan tentang harta benda. Huda, misalnya, melihat praktik di Bangladesh memperkuat penindasan terhadap perempuan karena mereka tidak memiliki harta yang diwariskan oleh ayah mereka, dan mereka juga tidak dapat mengontrol kekuasaan suami atas mereka61.

Oleh karena itu, mengeksplorasi hubungan antara berbagai bentuk pembayaran pernikahan dan agensi perempuan dapat mengungkap ideologi gender di masyarakat. 65 Agensi perempuan tidak dapat didiskusikan secara terpisah dari budaya patriarki (sebagai konfigurasi level makro) atau hubungan kekuasaan gender antarpribadi (pada level mikro). Di dalam keluarga, model-model relasi gender dibangun dan dipelihara, yang secara serius akan mempengaruhi kemungkinan penerapan agensi perempuan.

Misalnya, Chowdhury mendefinisikan mahar sebagai harta yang dialihkan dari mempelai pria kepada mempelai wanita melalui ayahnya selama akad nikah73.

Pembayaran Perkawinan Sasak

Secara umum, ada tiga bentuk pembayaran pernikahan, yaitu pembayaran agama dalam bentuk mahar, pembayaran adat dalam berbagai bentuk seperti pisuke dan ajikrama, dan pembayaran administrasi. Sementara negosiasi sedang berlangsung, terdapat lebih banyak diskusi tentang kapan dan bagaimana menegosiasikan pembayaran konvensional, yang membutuhkan negosiasi yang lebih ketat dibandingkan dengan dua jenis pembayaran lainnya. Pembayaran adat lebih bersifat pribadi, tergantung pada preferensi pribadi, keluarga, dan status garis keturunan keluarga, apakah itu berasal dari bangsawan atau rakyat jelata.

Proses perkawinan tidak dapat dilanjutkan ke akad ijab qabul jika belum dilakukan pembayaran adat, sekurang-kurangnya telah disepakati. Jangka waktu penelitian yang melatarbelakangi penyusunan buku ini terlalu singkat untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pembayaran nikah pada masyarakat Muslim Sasak. Harus ada gatekeeper yang dihubungi untuk bisa langsung mengakses proses observasi dan ini membutuhkan waktu yang lebih lama.

Pada jenis penelitian ini diharapkan waktu yang lebih lama untuk memperoleh data yang lebih kaya.

PENUTUP

Kesimpulan

Semua jenis pembayaran dianggap sama pentingnya, jadi tidak ada pembayaran yang saling meniadakan dalam artian karena sudah membayar mahar, barulah pembayaran. Sebab, pembayaran mahar harus sesederhana mungkin, sedangkan pembayaran administrasi diatur secara resmi dan jelas serta berlaku untuk semua lapisan masyarakat. Namun, kedua belah pihak sangat terbuka untuk negosiasi dan tawar-menawar sampai tercapai kesepakatan yang biasanya memuaskan kedua belah pihak.

Hal ini terbukti ketika terjadi perkawinan antar suku, biasanya pemuda Sasak menyesuaikan dengan budaya calon pengantin. Berbagai pembayaran perkawinan tersebut di atas sangat penting karena menentukan apakah perkawinan itu sah (secara agama, sosial atau nasional dianggap sah). Walaupun ketiga pembayaran tersebut di atas melegitimasi aspek perkawinan yang berbeda di kalangan masyarakat Sasak, namun ketiganya dianggap sama pentingnya dan tidak dinafikan.

Oleh karena itu, dalam perspektif pluralisme hukum, ragam pembayaran menunjukkan legitimasi lapisan-lapisan perkawinan bahwa ikatan perkawinan dan kekeluargaan itu kompleks dan memiliki fungsi yang berbeda.

Keterbatasan dan Saran

Oleh karena itu, dalam perspektif pluralisme hukum, ragam pembayaran menunjukkan legitimasi lapisan-lapisan perkawinan bahwa ikatan perkawinan dan kekeluargaan itu kompleks dan memiliki fungsi yang berbeda. adalah tidak cukupnya waktu untuk mengamati praktik nikah siri di luar kota Mataram. Nampaknya akan banyak fakta dan data yang berbeda ketika perkawinan dilakukan di pedesaan yang adatnya lebih dipegang teguh. Dalam hal ini, kesimpulan yang ditarik jika didasarkan pada data yang banyak dan beragam akan lebih esensial bagi kekayaan analisis.

-Selain itu, pernikahan dalam tradisi Saxon biasanya berlangsung pada waktu-waktu tertentu, tidak sepanjang tahun. Berdasarkan keterbatasan tersebut, dapat diajukan saran bahwa penelitian yang menyasar kelompok masyarakat di luar Mataram dan di kantong-kantong budaya masyarakat yang lebih kuat memegang tradisi diperlukan untuk memperkuat atau mendiskusikan temuan penelitian ini. Percakapan dengan Anthony Giddens: Memahami Modernitas. 1973) Pernikahan dan Mahar di Afrika dan Eurasia.

Salim, Arskal, Contemporary Islamic Law in Indonesia: Sharia and Legal Pluralism, Great Britain: Edinburgh University Press, 2015, P.

Gambar

Tabel 1: Profil Informan
Tabel 2: Macam-macam Pembayaran Pernikahan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang korupsi menurut hukum pidana Islam untuk dijadikan suatu

[r]