Arab Baidah adalah bangsa Arab yang telah musnah, yaitu bangsa Arab yang hilang jejaknya. Sebelum Islam, negara-negara Arab tidak pernah dijajah oleh asing dan kesatuan politik tidak pernah tercipta di seluruh Jazirah Arab.
KEHIDUPAN DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW
Setelah para pejabat berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW tetap berada di Makkah menunggu izin Hijrah. Tidak ada yang mengetahui pemergian Rasulullah SAW kecuali Ali bin Abi Talib, begitu juga Abu Bakar dan keluarganya.
SEJARAH RASUL DAN MASA KHULAFA AR-RASYIDUN
Peristiwa Saqῑfah menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah pertama yang melalui serangkaian perdebatan yang cukup alot dan menegangkan. Namun yang lebih penting adalah kepemimpinan Abu Bakar diterima oleh mayoritas sahabatnya dan masyarakat Islam di Madinah.
PEMERINTAHAN DAN DEMOKRASI
KHULAFA AR-RASYIDUN
Sedangkan makna yang kedua adalah jika suksesi bersifat alamiah artinya tidak dapat dilakukan atau tidak, maka dalam negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan proses alamiah tersebut harus selaras dengan aturan hukum. Oleh karena itu, suksesi politik di negara-negara yang relatif masih belum berkembang, yang biasa disebut sebagai negara dunia ketiga, dan memiliki sedikit pengalaman dalam suksesi, seringkali tidak mampu mengatasi transisi kepemimpinan. Setelah mencermati berbagai definisi suksesi di atas, selanjutnya kita akan melihat apa itu “demokrasi”.
Seperti yang diungkapkan Lyman Tower Sargent dalam buku Contemporary Political Ideology bahwa: Demokrasi telah berkembang selama berabad-abad melalui modifikasi, baik dalam teori tertentu maupun dalam praktik di sejumlah negara yang disebut sebagai negara demokratis. Ide demokrasi yang dibayangkan saat itu adalah keadaan dimana kepemimpinan negara tidak efektif karena harus dipimpin oleh banyak orang. Dari penjelasan di atas terlihat bahwa yang dimaksud dengan kedaulatan rakyat adalah kekuasaan negara yang tertinggi, atau dengan kata lain kedaulatan rakyat mempunyai arti bahwa semua rakyat pada dasarnya mempunyai kebebasan, hak, dan kewajiban yang sama.
Salah satu faktor yang menjadikan peralihan kekuasaan menjadi permasalahan di negara-negara yang belum demokratis adalah implikasi politik dari suksesi. Pemilu yang dilakukan secara tidak langsung merupakan pemilu negara, dimana warga negara yang telah mempunyai hak pilih memilih wakil-wakilnya yang dianggap mewakili aspirasinya. Kemudian wakil-wakil tersebut dianggap sebagai penjelmaan rakyat secara keseluruhan, sehingga kepala negara terpilih juga dianggap sebagai pilihan rakyat.
SUKSESI PADA MASA AL- KHULAFA AR-RASYIDUN
Tim Formatur dan Proses Pengangkatan ‘Usman Setelah memegang tampuk kekhalifahan selama 10 tahun
Namun Omar tidak melakukan tindakan tersebut karena saat itu tentara Islam sudah meraih kemenangan dan situasi relatif stabil. Oleh karena itu, para sahabat menyarankan agar Umar menunjuk siapa yang akan menggantikannya, namun Umar tidak mau melakukan hal tersebut, justru Umar menghindari praktik nepotisme karena marah menolak sejumlah usulan orang untuk menamai putranya Abd. Hit yang ditunjuk sebagai dewan pemilihan yaitu 'Ali bin Abi Thalib, 'Usman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Talhah bin Abdullah, Sa'ad bin Abi Wakas dan Abdurrahman bin Auf.
Menurut Umar, alasan dipilihnya enam orang yang semuanya berasal dari golongan Muhajirin atau Quraisy itu adalah karena Nabi telah menyatakan mereka sebagai penghuni surga, dan bukan karena masing-masing mewakili golongan atau suku tertentu. Padahal 'Umar, ketika sehat, sebenarnya menginginkan Abu Ubaida Ibnu Jarrah menggantikannya, karena jasanya yang begitu besar, ia meninggal terlebih dahulu. Ketika pada akhirnya hanya dua orang yang muncul sebagai calon, Gus Dur segera memanggil 'Usman dan 'Ali.
Berdasarkan jawaban tersebut Abdurrahman resmi menyatakan 'Usman sebagai khalifah ketiga dan kemudian 'Usman segera berbaiat dan saat itu 'Usman berusia tujuh puluh tahun. Ali mengaku, hal ini sudah direncanakan sejak awal oleh 'Utsman, karena jika 'Utsman menjadi khalifah, berarti kelompok yang berkuasa adalah Abdurrahman bin Auf. Apalagi yang membuat 'Ali kecewa adalah usia 'Utsman yang sudah sangat tua. Menurut pengamatan Afan Gafar, proses suksesi dari 'Umar ke 'Usman adalah demokrasi perwakilan karena keputusan yang diambilnya mempunyai kewenangan untuk diakui sebagai keputusan yang sah.
Pembaiatan Ali sebagai Khalifah Terakhir
Setelah ‘Usman terbunuh, para pemberontak satu persatu mendatangi para sahabat senior di kota Madinah, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqqas dan Abdullah bin Umar bin Khattab untuk bersedia menjadi khalifah. . Setelah penolakan ini terjadi, para pemberontak serta Ansar dan Muhājirin menginginkan 'Ali menjadi Khalifah. Dengan adanya penolakan dari beberapa tokoh sahabat, hampir 'Ali dan Zubeir menjadi calon yang diharapkan.
Setelah banyak orang berdatangan mengutarakan alasannya bahwa umat Islam membutuhkan kepemimpinan segera untuk menghindari kekacauan lebih lanjut, akhirnya 'Ali bersedia dilantik menjadi khalifah. Meski 'Ali berbaiat, ternyata masih ada saja yang tidak mengakui dan tidak mau menerima baiat, seperti Mu'awiyah bin Abi Sofyan, gubernur Syam, yang berasal dari keluarga 'Usman. Menurut penulis, tuntutan Mu'awiyah dan keluarga 'Usman agar 'Ali bertanggung jawab atas pembunuhan 'Usman merupakan tugas yang sulit bagi 'Ali.
Dengan demikian, 'Ali tidak menerima baiat dari kaum Muslimin secara aklamasi karena: pertama, banyak sahabat-sahabat seniornya yang pada saat itu berada di kota Madinah dan tersebar di wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan. Oleh karena itu, terpilihnya 'Ali sebagai khalifah memang melalui proses pemilihan yang tidak sesempurna khalifah-khalifah sebelumnya. Namun, 'Ali – ternyata – dipilih oleh mayoritas umat Islam, khususnya umat Islam di Madinah.
KEBIJAKAN POLITIK KHULAFA AR-RASYIDUN
Persoalan dalam Negeri
Segala tindakannya jelas menunjukkan kebebasan fikirannya, dia tidak terikat dengan perintah Abu Bakar. Sejarawan Islam juga menyebut bahawa dalam perang riddah yang dicetuskan oleh Abu Bakar, beliau bergantung kepada Khalid bin Walid, seorang panglima cemerlang yang dipanggil oleh Muhammad. Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang mendorong Abu Bakar bertekad untuk menamatkan perselisihan itu termasuk memeras ugut orang yang menggalakkan pembangunan zakat.
Sebagaimana yang ditugasi menumpas orang-orang murtad adalah Khalid bin Walid, sedangkan yang ditugasi Abu Bakar untuk menumpas orang-orang yang enggan membayar zakat adalah Zubair dan Talhah. Menurut penulis, menunaikan kewajiban sangatlah penting sehingga dapat dimengerti jika Abu Bakar menggunakan cara-cara kekerasan dalam menindas orang-orang yang tidak mau membayar zakat, terutama mereka yang mendesak mereka untuk meninggalkan Islam. Lebih lanjut, langkah yang dilakukan Abu Bakar bisa dipertanyakan, apakah Abu Bakar bertindak otoriter tanpa menghargai pendapat teman-temannya.
Akhirnya, kegigihan dan kesungguhan Abu Bakar dalam memerangi pembangkang membawa simpati dan kekaguman yang besar daripada masyarakat Islam. Walaupun agak ragu pada mulanya kerana tidak ada kebenaran daripada Nabi, tetapi Abu Bakar kemudiannya bersetuju. Pernah satu soalan yang tajam diajukan oleh Abu Bakar bahawa beliau memerangi semua golongan yang telah menyeleweng dari kebenaran.
Persoalan Luar Negeri
Kedua usulan tersebut ditolak oleh Abu Bakar dengan berkata, “Engkau menyuruhku membatalkan apa yang dilakukan Rasulullah?” Mendengar usulan tersebut, Abu Bakar seolah tidak setuju dengan usulan tersebut dan Usamah tetap menjadi panglima pasukan. Para sahabat dapat memahami keputusan tersebut, bahwa Abu Bakar tidak ingin menunda rencana Nabi. Untuk menghadapi Persia, Abu Bakar mengirimkan pasukan Islam yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Haritsa.
Sedangkan untuk menghadapi Romawi, Abu Bakar mengirimkan empat panglima Islam terbaik untuk memimpin ribuan pasukan di empat front. Selain itu, Abu Bakar berhasil membangun institusi sosial di bidang politik, pertahanan, dan keamanan. Meskipun sumber sejarah lain menyebutkan bahwa satu-satunya kegagalan Abu Bakar dalam kepemimpinannya adalah ketidakmampuannya mengakhiri kemacetan perdagangan.
Namun bisa dimaklumi, hal yang paling diprioritaskan Abu Bakari adalah menciptakan stabilitas negara. Sebagaimana telah disinggung pada pembahasan awal, kebijakan Abu Bakar yang belum tuntas akan dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Umar bin Khattab. Tindakan pertama yang dilakukan Umar adalah membalikkan kebijakan Abu Bakar terhadap bekas pemberontak perang Riddah.
Pelaksanaan tugas eksekutif di pusat dibantu oleh sekretaris negara yang dijabat oleh Marwan bin Hakam (putra paman Usman). Selain sekretaris negara, Khalifah 'Utsman juga dibantu oleh pejabat pajak, pejabat kepolisian, pejabat keuangan atau bayt al-Māl seperti pada masa pemerintahan Umar. Salah satu faktor yang membuat banyak pihak kecewa terhadap Usman adalah kebijakannya yang memperkuat jabatan gubernur.
Namun tak lama kemudian, Khalifah 'Usman memecat Saad karena terlibat konflik dengan Abdullah bin Mas'ud terkait urusan perpajakan. Setelah Uqbah dipecat dan digantikan oleh Said bin al-Ash bin Umayah (sepupu Usman), masyarakat tidak menerimanya. Penggantinya adalah Abdullah bin Sa'ad (sepupu Usman), yang pernah menjabat sebagai panglima tertinggi pada masa pemerintahan Amr bin Ash.
Adapun gubernur Basra baru diganti lima tahun kemudian, ketika Abu Musa al-Asy'ari digantikan oleh Abdullah bin Quraiz (sepupu 'Utsman). Menyimak isi pidato Usman di atas, tudingan masyarakat yang menyebut Usman merampas barang milik negara tidaklah berdasar. Penulis menilai, Usman tidak mungkin berbohong karena tidak mau menerima harta negara yang diterimanya.
BANI UMAYYAH
Setelah Bani Umayyah merebut kembali khilafat, mereka menghidupkan kembali 'fanatisme Arab' (al-ashabiyah al-arabiyah) dan mengembangkan lebih lanjut adat istiadat badawa (adat desa). Dinasti Bani Umayyah meneruskan tradisi kemajuan di berbagai bidang yang dilaksanakan pada masa pemerintahan sebelumnya, yaitu pada masa pemerintahan Khulafa Ar Rasyidin. Di bidang peradaban, Dinasti Bani Umayyah menemukan jalan yang lebih luas dalam pengembangan dan perluasan berbagai bidang ilmu pengetahuan, dengan bahasa Arab sebagai media utamanya.
Dinasti Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan ilmiah dan kebudayaan. Ilmu ini merupakan ilmu syariat tertua yang dibina sejak zaman Khulafaurrasyidin, kemudian pada zaman Bani Umayyah ilmu tajwid berkembang menjadi cabang ilmu syariah yang sangat penting. Antara ulama hadis yang terkenal pada zaman Dinasti Umayyah ialah Al-Auzai Abdurrahman bin Amru, Hasan Basri, Ibnu Malik dan Asya'bi Abu Amru bin Shurahbil Ilmu Fikh.
Ilmu geografi dan tariq lahir pada zaman Dinasti Umayyah, dan pada masa inilah ia benar-benar berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Demi dakwah Islamiah, penterjemahan kitab-kitab ilmiah dari bahasa lain ke dalam bahasa Arab juga bermula pada zaman Dinasti Umayyah. Dengan kematian Umar bin Abdul Aziz, tamatlah zaman kegemilangan dalam sejarah Bani Umayyah.
Daftar Pustaka
Profil Penulis