• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Seri Penerbitan - Unud

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Seri Penerbitan - Unud"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

i

SERI PENERBITAN

FORUM ARKEOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BALAI ARKEOLOGI BALI

2017

ISSN : 0854-3232

772/AU1/P2MI-LIPI/08/2017

Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017

(4)

ii

ISSN : 0854-3232 772/AU1/P2MI-LIPI/08/2017 SERI PENERBITAN FORUM ARKEOLOGI Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017

Jurnal Forum Arkeologi sejak tahun 2017 terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober.

Terbit pertama kali pada bulan Januari 1988. Memuat pemikiran ilmiah, hasil penelitian atau tinjauan/

ulasan tentang kearkeologian.

Penanggungjawab : Drs. I Made Geria, M.Si. (Kepala Pusat Arkeologi Nasional) Pengarah : Drs. I Gusti Made Suarbhawa (Kepala Balai Arkeologi Denpasar)

Ketua Dewan Redaksi : I Wayan Sumerata, S.S. (Arkeologi Sejarah – BALAR) Anggota Dewan Redaksi : Prof. Dr. I Gde Semadi Astra (Arkeologi Epigrafi – UNUD) Dr. I Wayan Redig (Arkeologi Ikonografi – UNUD)

Drs. I Nyoman Wardi (Ilmu Lingkungan – UNUD) Drs. I Wayan Suantika (Arkeologi Arsitektur – BALAR) Drs. A.A. Gde Bagus (Arkeologi Hindu-Budha – BALAR) Drs. I Nyoman Sunarya (Arkeologi Epigrafi – BALAR)

Mitra Bestari : Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A (Sejarah – UNUD) Prof. Dr. Dwi Purwoko (Agama dan Tradisi – LIPI) Dr. I Nyoman Dana, M.Si. (Antropologi – UNUD) Dr. I Made Sutaba (Arkeologi – UNHI)

Drs. M. Bashori Imron, M.Si. (Ilmu Komunikasi dan Media – LIPI) Prof. Ris. Dr. Harry Truman Simanjuntak (Prasejarah – Center for Prehistory and Austronesian Studies)

Redaksi Pelaksana

Gendro Keling, S.S., I Putu Yuda Haribuana, S.T., I Nyoman Rema, S.S., M.Fil.H.,

Putu Eka Juliawati, S.S., M.Si., Luh Suwita Utami, S.S., Hedwi Prihatmoko, S.Hum. Ati Rati Hidayah, S.S.

Sekretariat

Ida Ayu Gede Megasuari Indria, S.S., Anak Agung Ngurah Bayu Dharma Putra.

Alamat Redaksi Balai Arkeologi Bali

Jl. Raya Sesetan no. 80 Denpasar

Telp. (0361) 224703, Fax. (0361) 228661 Email : [email protected]

(5)

iii KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadapan-NYA, atas terbitnya Forum Arkeologi volume 30 nomor 2 tahun 2017 tepat pada waktunya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu arkeologi yang mempelajari kebudayaan manusia masa lalu memiliki peran sentral dalam perjalan sejarah Nusantara. Oleh karena itu ilmu arkeologi dapat dijadikan landasan penguatan jatidiri dan karakter bangsa yang saat ini mulai terkikis. Dengan demikian, peran media, khususnya bacaan-bacaan ilmiah sangat diperlukan sebagai wahana untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam sebuah tinggalan arkeologi.

Pada edisi ini memuat lima artikel yang ditulis oleh peneliti Balai Arkeologi Bali dan akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Kelima artikel ini masing-masing membahas permasalahan yang berbeda, sehingga diharapkan dapat menambah wawasan bagi pembacanya, khususnya yang menggeluti bidang kebudayaan.

Artikel pertama ditulis oleh A.A Gde Bagus dan Nyoman Rema yang membahas keharmonisan beberapa sekte yang berkembang pada abad ke-13 sampai 14 Masehi, seperti sekte Siwa Siddhanta, sekte Ganapatya, dan Sekte Bhairawa dengan bukti-bukti tinggalan arkeologis di Pura Dangka, Denpasar. Artikel ini memiliki nilai penting, yaitu harmonisasi yang berkembang masa itu dapat dijadikan padangan hidup pada masa kini, berkaitan dengan lunturnya nilai-nilai kebangsaan.

Artikel selanjutnya ditulis oleh Eka Juliawati yang membahas secara detail tentang seberapa besar peran tinggalan arkeolgi dalam konservasi tradisional sumber air. Dalam bahasannya menyebutkan perpaduan dua elemen tangible dan intangible dapat menyempurnakan kekuatan sistem religi masyarakat yang merupakan dasar atas perilaku mereka terhadap lingkungannya. Konservasi terhadap lingkungan khususnya sumber air merupakan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Artikel ketiga ditulis oleh Nyoman Rema dengan Nyoman Sunarya yang membahas pembinaan mental pada masa Bali Kuno berdasarkan sumber-sumber tertulis berupa prasasti. Pada intinya sejak masa Bali Kuno sudah dilakukan sudah diberlakukan peraturan-peraturan yang mengikat sebagai acuan dalam bermasyarakat. Pembianaan mental yang dibahas dalam artikel ini menyangkut pembinaan sosial ekonomi, hak dan kewajiban, dan religi.

Artikel keempat ditulis oleh Heri Purwanto, Coletasari, dan Sumerata yang membahas karakter bangunan Candi Kethek yang berteras berundak yang dibaut dengan batuan andesit dan dibatasi dengan talud-talud. Candi ini dilatar belakangi oleh agama Hindu. Hal ini dapat diketahui temuan- temuan arkeologis yang ditemukan di Candi Kethek. Candi Kethek kini sudah ditetapkan menjadi salah satu objek daya tarik wisata oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

Artikel terakhir ditulis oleh Mega Hafsari yang mengembangkan salah satu permasalahan dari skripsinya, yaitu bahasan tentang tikus sebagai sumber kalori bagi manusia penghuni Gua Liang Bua pada masa lalu. Bukti-bukti arkeologis yang dijadikan sebagai data adalah hasil penelitian di situs ini, yaitu temuan tulang tikus dengan kuantitas paling tinggi mencapai 230.000 fragmen tulang.

(6)

iv

Redaksi Jurnal Forum Arkeologi menyampaikan terima kasih kepada Mitra Bestari, Dewan Editor, dan semua pihak yang telah membantu dalam terbitan ini. Semoga apa yang disajikan dalam jurnal ini dapat bermanfaat dan memberikan motivasi kepada pembaca untuk lebih mencintai budaya Nusantara.

Denpasar, Oktober 2017

Dewan Redaksi

(7)

v ISSN : 0854-3232 772/AU1/P2MI-LIPI/08/2017 Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 SERI PENERBITAN

FORUM ARKEOLOGI

DAFTAR ISI

Keharmonisan dalam Tinggalan Arkeologi di Pura Dangka, Tembau, Denpasar ... 65-76 Harmony in the Archaeological Remains in the Dangka Temple, Tembau, Denpasar

A.A. Gde Bagus dan Nyoman Rema

Peranan Tinggalan Arkeologi dalam Konservasi Tradisional Sumber Air ... 77-88 The Role of Archaeological Remains in Water Sources Traditional Conservation

Ni Putu Eka Juliawati

Pembinaan Mental Masyarakat Kintamani Masa Bali Kuno ... 89-100 Mental Coaching Community Kintamani Bali’s Ancient Period

Nyoman Rema dan I Nyoman Sunarya

(8)

vi

Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama ... 101-112 Kethek Temple: Character and Religion Background

Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari; dan I Wayan Sumerata

Tikus Sebagai Sumber Kalori Bagi Manusia Purba Liang Bua,

Flores Barat, Nusa Tenggara Timur ... 113-124 Rats as Source of Calory of Hominins in Liang Bua, West Flores,

Nusa Tenggara Timur

Ni Luh Gde Dyah Mega Hafsari

(9)

vii FORUM ARKEOLOGI

Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 ISSN: 0854-3232

Lembar abstrak ini boleh diperbanyak/di-copy tanpa izin dan biaya DDC: 930.1

A.A. Gde Bagus dan Nyoman Rema

Keharmonisan dalam Tinggalan Arkeologi di Pura Dangka, Tembau, Denpasar

Vol. 30 No. 2 Oktober 2017, Hal. 65-76

Pura Dangka adalah salah satu pura yang menyimpan tinggalan arkeologi dari jaman Bali Kuno, masih dikeramatkan, oleh masyarakat penyungsungnya, karena memiliki makna penting untuk keharmonisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna keharmonisan yang tercermin pada tinggalan akeologi di pura tersebut.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang datanya dikumpulkan melalui observasi langsung di Pura Dangka, dianalisis secara ikonografi, hasilnya disajikan secara naratif, dan dilengkapi gambar. Hasil penelitian ini berupa Lingga-yoni, arca Dewi Durga, arca Ganesa, arca Nandi. Dari semua tinggalan tersebut, terdapat Lingga- yoni yang mempunyai ukuran yang lebih besar di antara tinggalan lainnya, yang diduga sebagai media utama pemujaan, sedangkan tinggalan lainnya sebagai media pendukung dalam mencapai keharmonisan.

Kata kunci: pura dangka, tinggalan arkeologi, lingga, keharmonisan.

DDC: 930.1

Ni Putu Eka Juliawati

Peranan Tinggalan Arkeologi dalam Konservasi Tradisional Sumber Air

Vol. 30 No. 2 Oktober 2017, Hal. 77-88

Tinggalan arkeologi bisa ditemukan dimana saja.

Tinggalan arkeologi di Desa Pelaga dan Desa Belok Sidan, Kabupaten Badung, Bali ditemukan di beberapa pura dan di sekitar sumber air. Masyarakat memanfaatkan air langsung dari sumbernya untuk kebutuhan sehari- hari sehingga keberadaannya menjadi sangat penting dan perlu dikonservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tinggalan arkeologi berperan dalam konservasi tradisional sumber air. Setelah data dikumpulkan melalui metode observasi, wawancara dan studi pustaka, kemudian dilakukan analisis secara kualitatif. Hasil analisis dirangkai dalam bentuk teks deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan variasi tinggalan arkeologi yaitu berupa lingga, lingga/yoni, arca, stambha dan komponen bangunan. Tinggalan arkeologi memiliki peran penting dalam konservasi sumber air. Tinggalan arkeologi merupakan salah satu komponen dalam religi masyarakat dari masa lalu hingga saat ini yang memberi dampak positif terhadap konservasi sumber air.

Kata kunci: konservasi tradisional, tinggalan arkeologi, Pelaga, Belok Sidan, sumber air

DDC: 930.1

Nyoman Rema dan I Nyoman Sunarya

Pembinaan Mental Masyarakat Kintamani Masa Bali Kuno

Vol. 30 No. 2 Oktober 2017, Hal. 89-100

Penelitian terhadap Prasasti Sukawana dan Kintamani menyandang berbagai manfaat yang bersifat multidimensional, sebagai representasi kehidupan masyarakat dahulu kala di Desa Cintamani, salah satunya adalah aspek sosio-kultural, yang dapat digunakan untuk membangun dan mengukuhkan jatidiri atau karakter bangsa ke depan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pembinaan mental masyarakat Kintamani pada masa Bali Kuno. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang sumber datanya berupa data sekunder dari dua Berita Penelitian Arkeologi, yaitu Prasasti Sukawana dan Prasasti Kintamani. Kedua prasasti ini menguraikan masalah pembinaan mental oleh para penguasa kepada masyarakat Cintamani agar menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya tanpa adanya keresahan yang ditimbulkan oleh para pemungut pajak, dan adanya saling menghargai antar sesama. Pembinaan yang dilakukan dalam rangkaian menciptakan stabilitas sosial, pembinaan hak asasi manusia, meningkatkan ekonomi masyarakat, memelihara kelestarian lingkungan, membina mental masyarakat, menerapkan sanksi religi termasuk hukum dan sosial bagi pelanggar.

Kata kunci: pembinaan mental, masyarakat cintamani, bali kuno.

(10)

viii

DDC: 930.1

Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari; I Wayan Sumerata Candi Kethek: Karakter Dan Latar Belakang Agama Vol. 30 No. 2 Oktober 2017, Hal. 101-112

Setiap bangunan candi memiliki gaya dan karakter bangunan tersendiri dan dibangun atas latar belakang agama tertentu. Salah satunya Candi Kethek, yang juga memiliki gaya, karakter, dan latar belakang agama tertentu. Atas pernyataan itu, maka penelitian ini berusaha mengungkap karakter bangunan dan latar belakang agama yang mendasari pendirian Candi Kethek. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif, komparatif, dan kontekstual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Candi Kethek mempunyai karakter yang khusus, yaitu tersusun oleh batuan andesit yang tidak mengalami pengerjaan secara menyeluruh.

Memanfaatkan tatanan batuan alam yang cukup besar untuk memberi batas teras, seperti yang terdapat pada teras dua dan tiga. Latar belakang agama Candi Kethek bersifat Hinduistik. Hal ini bersandar pada temuan arca kura-kura yang merupakan simbol dari Wisnu. Anasir pemujaan terhadap roh nenek moyang juga masih terlihat.

Mengingat teras berundak merupakan wujud dari gunung, yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya leluhur yang telah meninggal.

Kata kunci: candi kethek, teras berundak, hinduistik.

DDC: 930.1

Ni Luh Gde Dyah Mega Hafsari

Tikus Sebagai Sumber Kalori Bagi Manusia Purba Liang Bua, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur

Vol. 30 No. 2 Oktober 2017, Hal. 113-124

Situs Liang Bua menyimpan bukti-bukti evolusi manusia dalam bentuk temuan hominin dari spesies yang berbeda yaitu Homo floresiensis, yang hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tikus sebagai sumber kalori oleh Homo floresiensis. Pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka, pengamatan hasil ekskavasi, dan wawancara. Analisis menggunakan metode kualitatif dan zooarkeologi. Teori ekologi dan teori subsistensi digunakan sebagai dasar pemikiran mengenai pemanfaatan sumber daya lingkungan untuk sumber makanan manusia di masa lalu. Temuan tulang tikus ditemukan pada lapisan yang sama dengan Homo floresiensis dan berasosiasi dengan artefak litik sehingga diasumsikan bahwa Homo floresiensis melakukan perburuan terhadap tikus dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Temuan tulang dari jenis tikus besar paling mungkin dijadikan hewan buruan untuk dikonsumsi karena ukurannya yang lebih kecil dari Homo floresiensis namun cukup besar untuk memenuhi kebutuhan kalori hominin tersebut.

Kata kunci: Liang Bua, Homo floresiensis, subsistensi, tikus besar

(11)

ix FORUM ARKEOLOGI

Volume 30, Number 2, October 2017 ISSN: 0854-3232

These abstracts can be copied without permission and fee DDC: 930.1

A.A. Gde Bagus dan Nyoman Rema

Harmony in the Archaeological Remains in the Dangka Temple, Tembau, Denpasar

Vol. 30 No.2 Oktober 2017, Pg. 65-76

Dangka Tample is one of the temples that keep the archaeological remains of ancient Balinese era, still sacred, by its penyungsung people, because it has important meaning for harmony. This study aims to determine the meaning of harmony that is reflected in the remains of akeologi in the temple. This research is a qualitative research, whose data is collected through direct observation in Pura Dangka, analyzed by iconography, the results are presented in narrative, and completed with drawings. The results of this research are Linga-yoni, statue of Dewi Durga, statue of Ganesha, statue of Nandi. Of all these remains, there is Linga- yoni which has a larger size among the others, which is thought to be the main medium of worship, while the other remains as supporting media in achieving harmony.

Keywords: dangka temple, archaeological remains, lingga, harmony.

DDC: 930.1

Ni Putu Eka Juliawati

The Role of Archaeological Remains in Water Sources Traditional Conservation

Vol. 30 No.2 Oktober 2017, Pg. 77-88

Archaeological remains can be found everywhere. The archaeological remains in Pelaga and Belok Sidan Village, Badung Regency, Bali found in several temples and near water sources. The villagers utilize the water directly from the sources for their daily needs. Therefore, their existences become so important that they need to be conserved. This article aims to know how archaeoloical remains have a role in traditional water sources conservation. Data were collected through observation, interviews and literature study. Then they were analyzed qualitatively. The result was arranged descriptively in a text. The result shows that the variation of the archaeological remains are lingga, lingga/yoni, figurine, stambha, and building components. The archaeological remains have an important role in water sources conservation. They are one of the element of community’s religious system from the past until today, which give positive effects to the water sources conservation.

Keywords: Traditional conservation, archaeological remains, Pelaga, Belok Sidan, water sources.

DDC: 930.1

Nyoman Rema dan I Nyoman Sunarya

Mental Coaching Community Kintamani Bali’s Ancient Period

Vol. 30 No.2 Oktober 2017, Pg. 89-100

The research on Sukawana and Kintamani inscriptions carries various benefits that are multidimensional, as representation of life of old people in Cintamani Village, one of them is socio-cultural aspect, which can be used to build and strengthen the identity or character of the nation in the future. The purpose of this study is to reveal the mental guidance of the Kintamani community in Ancient Bali.

This research is a qualitative research, the data source is secondary data from two Archaeological Research News, namely Sukawana Inscription and Kintamani Inscription.

Both of these inscriptions describe the problem of mental guidance by the rulers to the Cintamani community to carry out their duties properly without any unrest caused by the tax collectors, and the mutual respect of each other.

The guidance done in the sequence creates social stability, human rights development, improves people’s economy, conserves the environment, mentals society, implements religious sanctions including law and social for offenders.

Keywords: mental coaching, community cintamani, the ancient bali.

(12)

x

DDC: 930.1

Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari; dan I Wayan Sumerata

Kethek Temple: Character and Religion Background Vol. 30 No.2 Oktober 2017, Pg. 101-112

Each temple building has style and character building its own and built on background a reliegion. As submitted by Soekmono that the temple located in central Jawa with temple in eastern Jawa has style that is different, foundation worship of different. This article presented characters and religious background of Kethek Temple.

Goal was to provide information about history of Gunung Lawu. Data collection was done through observation and literature review. Data analysis was using qualitative, comparative, and kontekstual with symbol theory. Result showed that Kethek Temple has special characteristic; is structured from unprocessed andesite. It utilized the wide natural rock order for terrace border, likes was seen on second and third terrace. Religious background Kethek Temple is Hindu. This was based from finding of turtle sculpture in which is symbol Vishnu. Elements worships toward accentors were still visible, considering terraces is form mountain in which was believed as place where the soul of ancestors live.

Keywords: kethek temple, considering the terraces, hinduistic.

DDC: 930.1

Ni Luh Gde Dyah Mega Hafsari

Rats as Source of Calory of Hominins in Liang Bua, West Flores, Nusa Tenggara Timur

Vol. 30 No.2 Oktober 2017, Pg. 113-124

Liang Bua Cave reserved evidences of human evolution in form of different species hominins called Homo floresiensis, lived by hunting and gathering. This study aims to describe the utilization of rats as the source of calories for Homo floresiensis. The data in this study are gathered through literature review, observation of the excavation result, and interview. Analysed by qualitative analysis method and zooarchaeology analysis. Ecological theory and subsistence theory are used as the rationale for reviewing how the utilization of environmental resources was done by human in the past. These rats remains are discovered on the same layer as Homo floresiensis and associated with lithic artifacts. Therefore, it is assumed that Homo floresiensis hunted these faunas to sustain its life. A giant rat is the most possible consumed species due to its size which is smaller than the hominins, yet considerably big to fulfil the needs of calories of the hominin.

Keywords: Liang Bua, Homo floresiensis, subsistence, giant rat.

(13)

101 Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, dan I Wayan Sumerata

CANDI KETHEK: KARAKTER DAN LATAR BELAKANG AGAMA Kethek Temple: Character and Religion Background

Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari; dan I Wayan Sumerata Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana dan Balai Arkeologi Bali

Jl. Pulau Nias No. 13, Denpasar, Jl. Raya Sesetan No. 80 Denpasar Email: [email protected]; [email protected]; [email protected] Naskah diterima: 13-03-2017; direvisi: 13-03-2017; disetujui: 24-10-2017

Abstract

Each temple building has style and character building its own and built on background a reliegion.

As submitted by Soekmono that the temple located in central Jawa with temple in eastern Jawa has style that is different, foundation worship of different. This article presented characters and religious background of Kethek Temple. Goal was to provide information about history of Gunung Lawu. Data collection was done through observation and literature review. Data analysis was using qualitative, comparative, and kontekstual with symbol theory. Result showed that Kethek Temple has special characteristic; is structured from unprocessed andesite. It utilized the wide natural rock order for terrace border, likes was seen on second and third terrace. Religious background Kethek Temple is Hindu. This was based from finding of turtle sculpture in which is symbol Vishnu. Elements worships toward accentors were still visible, considering terraces is form mountain in which was believed as place where the soul of ancestors live.

Keywords: kethek temple, considering the terraces, hinduistic.

Abstrak

Setiap bangunan candi memiliki gaya dan karakter bangunan tersendiri dan dibangun atas latar belakang agama tertentu. Salah satunya Candi Kethek, yang juga memiliki gaya, karakter, dan latar belakang agama tertentu. Atas pernyataan itu, maka penelitian ini berusaha mengungkap karakter bangunan dan latar belakang agama yang mendasari pendirian Candi Kethek. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif, komparatif, dan kontekstual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Candi Kethek mempunyai karakter yang khusus, yaitu tersusun oleh batuan andesit yang tidak mengalami pengerjaan secara menyeluruh. Memanfaatkan tatanan batuan alam yang cukup besar untuk memberi batas teras, seperti yang terdapat pada teras dua dan tiga. Latar belakang agama Candi Kethek bersifat Hinduistik. Hal ini bersandar pada temuan arca kura- kura yang merupakan simbol dari Wisnu. Anasir pemujaan terhadap roh nenek moyang juga masih terlihat. Mengingat teras berundak merupakan wujud dari gunung, yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya leluhur yang telah meninggal.

Kata kunci: candi kethek, teras berundak, hinduistik.

PENDAHULUAN

Selama ini sumber daya arkeologi yang berada di lereng barat Gunung Lawu hanya Candi Sukuh dan Cetho yang begitu terkenal.

Padahal kedua candi itu merupakan sebagian saja dari sumber daya arkeologi di lereng barat Gunung Lawu. Masih banyak temuan arkeologi yang belum dikunjungi dan diteliti,

baik oleh para arkeolog maupun ahli budaya.

Sebaran tinggalan arkeologi di daerah ini meliputi masa prasejarah hingga kolonial.

Hal ini menunjukkan bahwa kawasan lereng barat Gunung Lawu yang secara administratif terletak di Kabupaten Karanganyar mempunyai peranan yang cukup penting pada masa lalu.

Berdasarkan data yang telah dihimpun oleh

(14)

102 Forum Arkeologi Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 (101 - 112)

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah tahun 2012, tercatat 37 situs berstatus Cagar Budaya daerah dan nasional.

Candi Sukuh dan Cetho memiliki ciri dan karakter bangunan hampir sama, yaitu bentuk bangunannya berundak atau berteras. Candi Cetho mempunyai 13 teras, bahkan menurut laporan Van Der Vlis tahun 1842 dan A.J. Bernet Kempers Candi Cetho berteras 14. Jumlah teras sebanyak ini tidak ditemukan pada tinggalan purbakala lainnya di Indonesia. Candi Sukuh terkenal dengan bangunan induknya, yang oleh beberapa ahli disamakan dengan piramida yang berada di Mesir. Selain itu tinggalan arkeologi yang cukup unik adalah panil relief pandai besi. Relief ini cukup istimewa karena dibuat dalam ukuran yang besar, yaitu mempunyai tinggi 160 cm, panjang 216 cm, dan tebal 38 cm. Panil relief tersebut menggambarkan tiga tokoh yang sedang melakukan pekerjaan ke-pandai-an. Tokoh yang berada di tengah adalah Ganesa dengan sikap kaki kanan berdiri, sedangkan kaki kiri ditekuk ke atas. Ganesa digambarkan memakai hiasan kepala berupa mahkota mirip sorban yang biasa dikenakan oleh kaum pertapa. Sementara itu tangan kanan Ganesa memegang seekor binatang. Adegan inilah dianggap sebagai sengkalan memet yang berbunyi gajah wiku anahut iku atau 1378 S (Darmosoetopo 2016, 42-43).

Selanjutnya tokoh yang berada di samping kiri Ganesa digambarkan dalam posisi jongkok sedang memegang pedang. Di bagian depannya terlihat berbagai senjata, sangat mungkin senjata tersebut hasil dari aktivitas pandai. Tokoh yang berada di samping kanan digambarkan sedang berdiri dengan masing-masing tangan memegang tangkai ububan. Sementara itu Candi Cetho merupakan bangunan keagamaan yang cukup luas, karena memiliki 13 teras yang berderet dari barat ke arah timur. Berbagai tinggalan arkeologi baik fitur dan artefaktual dibuat secara sederhana. Lebih lanjut keistimewaan lainnya adalah adanya relief berbalik, terletak pada teras ke 8 bersama-sama

panil relief lainnya, yang ditata sedemikian rupa hingga membentuk persegi. Panil relief dengan tokoh berbalik itu mempunyai tinggi 30 cm, panjang 45 cm, dan tebal 15 cm. Tokoh yang digambarkan adalah dua orang manusia, yang satunya berdiri biasa, sedangkan tokoh lainnya berbalik atau kepala di bawah. Tokoh yang berdiri tersebut tangan kanannya membawa cakra, dan tangan kiri menunjuk ke depan.

Sikap kedua kaki mengambil sikap tanjak, yaitu dihadapkan ke arah samping dengan mempertemukan kedua tumit. Berdasarkan laksana yang dibawa sangat mungkin tokoh tersebut merupakan perwujudan Wisnu. Tokoh satunya yang digambarkan berbalik dipahat dengan kedua tangan dipertemukan di depan dada. Kepala tokoh ini diberi hiasan gulungan- gulungan kain meninggi, mirip sorban pertapa (Purwanto 2017, 39-41).

Selain Candi Cetho, di kawasan ini juga terdapat tinggalan arkeologi yang belum dikenal oleh kalangan masyarakat luas, yaitu Candi Kethek. Situs ini merupakan salah satu sumber daya arkeologi yang tersebar di Lereng Gunung Lawu. Tempatnya yang terisolir di hutan mengakibatkan situs ini jarang disentuh oleh para peneliti arkeologi, padahal lokasinya tidak jauh dari Candi Cetho, hanya saja untuk menuju ke tempat tersebut perlu melewati jalan setapak dan menyeberangi sungai. Candi Kethek tidak kalah menarik untuk diteliti dibandingkan dengan situs-situs lainnya di Gunung Lawu, karena mempunyai karakter dan kekhasan sendiri.

Penelitian terhadap candi Kethek baru dilakukan tahun 2005 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi Universtas Gadjah Mada. Penelitian tersebut berupa ekskavasi penyelamatan. Hasil penelitiannyapun masih berbentuk laporan yang belum disebarkan secara luas dan hanya orang tertentu saja yang dapat membaca. Dalam buku yang berjudul Peninggalan Arkeologi di Lereng Barat Gunung Lawu terbitan BPCB Jawa Tengah tahun 2016

(15)

103 Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, dan I Wayan Sumerata

juga tidak mendapat perhatian. Oleh karena itu, dirasa penting meneliti dan mengkaji Candi Kethek dan menyebarluaskan hasil kajiannya.

Penelitian terhadap bangunan candi telah banyak dilakukan oleh para ahli ilmu arkeologi, baik para ahli Belanda maupun ahli Indonesia. Istilah “candi” umumnya hanya dikenal di Pulau Jawa saja. Walaupun demikian, di beberapa daerah di luar Jawa yang pernah mendapat pengaruh kebudayan Jawa, istilah “candi” juga dikenal sebagai nama bangunan kuna dari jaman Hindu-Buddha.

Bangunan candi yang tersebar di Jawa dalam rentang waktu abad ke-8 sampai 15 Masehi, memiliki bentuk atau karakter bangunan yang berbeda-beda. Untuk memudahkan penelitian dan pengkajian, para ahli membagi bangunan candi menjadi dua kelompok, yakni bangunan candi yang tersebar di Jawa bagian Tengah dalam rentang waktu abad ke-8 sampai 10 Masehi dan kelompok candi yang terdapat di Jawa bagian Timur dalam rentang waktu abad ke-11 sampai 15 Masehi. Kedua kelompok candi tersebut apabila ditinjau dari karakter bentuk bangunannya memiliki gaya dan ciri masing-masing. Hal ini pernah disampaikan oleh Soekmono sebagaimana yang dikutip oleh Munandar (2011, 4-5) bahwa karakter bentuk bangunan candi yang terdapat di Jawa Tengah antara lain mempunyai ciri penting, yaitu (a) bentuk bangunan tambun, (b) atapnya berundak- undak, (c) gawang pintu dan relung berhiaskan kala-makara, (d) reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, dan (e) letak candi di tengah halaman. Adapun ciri candi Jawa Timur yang penting adalah (a) bentuk bangunan ramping, (b) atapnya merupakan perpaduan tingkatan, (c) tidak terdapat makara, pintu, dan relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala, (d) reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, dan (e) letak candi di bagian belakang halaman.

Lebih lanjut pendirian sebuah bangunan suci sangat mungkin berkaitan dengan kepercayaan atau agama tertentu. Latar belakang yang mendasari pembangunan candi

di Jawa bagian tengah dan di Jawa bagian timur tampaknya memiliki perbedaan. Bangunan- bangunan candi masa Klasik Tua (8-10 M) didirikan untuk keperluan ritus pemujaan kepada dewata, sedangkan candi-candi di masa Klasik Muda (11-15 M), terutama era Singhasari dan Majapahit, didedikasikan untuk pemujaan nenek moyang yang telah diperdewa. Dengan demikian bangunan candi jelas merupakan monumen keagamaan yang bersifat sakral karena diperuntukkan sebagai media untuk “komunikasi” dengan adikodrati (superhuman beings) (Munandar 2011, 8). Hal demikian tentunya menjadi dasar pula bagi para silpin yang membangun Candi Kethek.

Berdasarkan paparan di atas, maka permasalahan yang akan di ungkap dalam penelitian ini adalah bagaimana karakter bangunan Candi Kethek dan latar belakang agama yang mendasari pendirian Candi Kethek.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengungkapan sejarah kebudayaan yang terletak di Gunung Lawu yang merupakan salah satu gunung yang suci. Anggapan ini sudah ada sejak dulu yaitu pada masa kerajaan yang dibuktikan dengan kitab gancaran Tantupanggelaran. Kitab ini menyebutkan bahwa Gunung Lawu merupakan salah satu dari enam rompalan dari sanghyang Mahameru (Gunung Meru) yang rompal ketika tengah digotong dari bagian barat ke bagian timur Pulau Jawa (Piqeaud dalam Suprapta 1997/1998, 1).

Tidak heran apabila bangunan suci keagamaan banyak didirikan di lereng-lereng Gunung Lawu, bahkan di bagian puncaknya terdapat peninggalan purbakala berupa bangunan berundak. Bangunan berundak yang berada di puncak Gunung Lawu antara lain Argo dumilah, Argo dumilah timur, Argo dumilah utara, Argo dumilah barat, Argo dalem barat, Argo dalem barat laut, Argo dalem selatan, Argo dalem timur, sedang djarat dan pasar dieng. Ukuran luas bangunan berundak tersebut rata-rata 300-500 m2, kecuali satu bangunan inti yaitu bangunan berundak Argo dumilah

(16)

104 Forum Arkeologi Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 (101 - 112)

berukuran kurang lebih 1.000 m2 (Priyanto 1999, 96-103). Bangunan ini hingga sekarang masih digunakan sebagai tempat pemujaan oleh masyarakat di sekitar Gunung Lawu. Hal ini menujukkan adanya keberlanjutan fungsi dari tinggalan arkeologi tersebut.

Situs Candi Kethek memiliki data artefaktual yang minim, oleh karena itu, untuk mengungkap aspek religinya digunakanlah teori simbol. Dapat dipahami bahwa kebutuhan manusia yang benar-benar tidak dapat ditinggalkan adalah kebutuhan akan simbol.

Simbol merupakan bagian dari dunia makna yang manusiawi. Dikatakan demikian, sebab diantara sistem reseptor dan efaktor yang terdapat pada semua spesies binatang, pada manusia terdapat mata rantai yang ketiga yang mungkin dapat disebut sebagai sistem simbolik.

Lebih lanjut Mircia Elliade menyatakan bahwa suatu simbol dapat mengungkap aspek-aspek yang terdalam dari kenyataan yang tidak terjangkau oleh alat pengenalan (Suprapta 1997/1998, 13-14). Bahkan dapat menjembatani pandangan terhadap dunia transenden menuju ke arah di luar kuasa manusia. Kedudukan

simbol dalam bidang religi merupakan media komunikasi religius lahir-batin. Bryune dalam Suprapta menyatakan karya seni, arca, dan relief merupakan bentuk ekspresi simbolik. Sebagai suatu simbol, arca serta relief adalah bentuk konkrit merupakan penjabaran dari ide yang lahir karena adanya aktivitas jasmani (Bryune dalam Suprapta 1997/1998, 13). Bersandar pada teori tersebut, selanjutnya akan dilakukan pengamatan terhadap berbagai artefaktual yang berada di sekitar situs yang merupakan suatu simbol dari wujud suatu religi.

METODE

Penelitian ini dilakukan di Situs Candi Kethek yang secara administratif terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah, pada ketinggian 1486 mdpl, dengan koordinat 111o0925,0 BT, S 07035 43,5LS (gambar 1).

Untuk mencapai lokasi ini harus melalui jalan setapak dengan menyeberangi sungai yang berada di sebelah timur laut Candi Cetho.

Sungai tersebut hanya ada airnya ketika musim penghujan, dan kering pada musim kemarau.

Gambar 1. Peta lokasi Candi Kethek.

(Sumber: Diolah oleh penulis)

(17)

105 Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, dan I Wayan Sumerata

Oleh sebab itu, air terjun yang berada di Sungai ini dinamakan serendheng. Apabila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “hanya musim hujan”. Lokasinya di atas jalan setapak ke Situs Candi Kethek kurang lebih 100 meter.

Situs Candi Kethek berada dalam lahan hutan pinus milik perhutani, dengan jarak 500 meter dari sungai tersebut di atas. Kontur lahan di sekeliling Situs Candi Kethek berupa hutan pinus dengan permukaan tanah yang curam di sebelah utaranya. Di sebelah timur juga hutan pinus dengan permukaan tanah yang cukup datar. Arah timur laut berjarak 30 meter, dijadikan tempat berkemah dan terdapat ladang kering milik masyarakat setempat. Di sebelah selatan berupa lahan yang terjal dan curam dengan berkontur lereng, sedangkan sebelah barat berupa hutan pinus dengan permukaan tanah yang cukup datar.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data dan analisis data.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan. Pengamatan diikuti dengan pencatatan lingkungan dan pengambilan gambar situs. Kajian pustaka juga dilakukan sebagai salah satu cara pengumpulan data dengan konsep serta teori yakni mencari, mengumpulkan, mempelajari berbagai sumber yang dapat dijadikan literatur yang ada hubungannya dengan masalah yang ditulis (Natalia 2012, 29).

Literatur tersebut berupa buku-buku, majalah, laporan-laporan ilmiah, skripsi, artikel, makalah, laporan penelitian maupun bentuk publikasi lainnya, yang dapat menunjang dalam penyelesaian penelitian ini. Analisis yang digunakan ialah kualitatif, komparatif, dan kontekstual. Analisis kualitatif adalah yaitu menguraikan hasil atau data yang diperoleh dalam bentuk perkataan atau pernyataan.

Analisis kualitatif ini tidak memerlukan suatu perhitungan atau dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Sementara itu, analisis komparatif dilakukan dengan cara memperbandingkan data yang berada di Situs Candi Kethek dengan sebaran data yang berada di lereng Gunung Lawu, sehingga dapat membantu dalam sebuah penafsiran. Analisis kontekstual lebih menekankan pada sebuah hubungan antar data, baik data berupa artefaktual maupun fitur (Purwanto 2017, 31-32).

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakter Bangunan Candi Kethek

Candi Kethek merupakan bangunan berteras empat yang tersusun oleh batuan andesit dan masing-masing teras dihubungkan dengan anak tangga (gambar 2). Teras pertama mempunyai panjang halaman kurang lebih 100 meter. Pada sisi timur laut terdapat stuktur bangunan. Berdasarkan hasil ekskavasi tahun 2005 pada teras ini terdapat arca kura-kura yang

Gambar 2. Candi Kethek.

(Sumber: Dokumen pribadi)

(18)

106 Forum Arkeologi Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 (101 - 112)

kini sudah tidak terlihat lagi, kemungkinan sudah terpendam oleh tanah. Pada teras kedua dibatasi talud berupa batu gundul di sisi utara dan barat, sedangkan sisi selatan berupa tatanan batu alam berukuran cukup besar. Panjang halaman kurang lebih 70 meter dan teras ini berbentuk trapezium. Di tengah talud terdapat tangga naik, tangga paling bawah bagian atas terdapat relief. Terlihat untaian garis melengkung ke dalam pada kedua sisi dan terbingkai oleh garis yang bertemu menyerupai mahkota (gambar 3).

tinggi dan dibatasi dengan talud di sisi utara dan barat, sedangkan sisi selatan sebagian talud sudah hilang. Berdasarkan beberapa fragmen gerabah yang diduga sebagai komponen atap, maka bangunan pada teras ini diperkirakan beratap tanah liat bakar. Sekarang pada teras ini terdapat sebuah bangunan dengan tinggi kurang lebih 50 meter dengan atap terbuat dari ijuk dan di dalamnya terdapat sebuah batu yang dianggap sakral. Hal ini dibuktikan adanya bekas-bekas sesembahan pada tempat ini (Tim penyusun 2005, 37-42).

Berdasarkan uraian di atas, karakter bangunan Candi Kethek dapat dirangkum sebagai berikut. a) Mempunyai 4 teras, masing- masing teras dihubungkan dengan tangga naik.

Tangga naik cukup sempit, lebarnya kurang lebih hanya 50 cm. b) Teras pertama belum diketahui batas-batasnya, sehingga belum terlihat bentuk teras ini. Teras kedua dan ketiga berbentuk persegi panjang. Teras keempat belum diketahui bentuknya, tetapi kemungkinan bangunan induk terdapat pada teras ini. c) Pada teras satu, dua, dan tiga terdapat beberapa struktur bangunan berbentuk persegi panjang.

d) Tersusun oleh batuan andesit yang tidak mengalami pengerjaan secara menyeluruh.

Barangkali batuan-batuan tersebut didapatkan dari sungai. Mengingat sumber daya batuan sangat melimpah. Batuan tadi diambil dan langsung disusun sedemikian rupa hingga menjadi sebuah talud-talud. e) Memanfaatkan tatanan batuan alam yang cukup besar untuk memberi batas teras, seperti yang terdapat pada teras dua dan tiga.

Munandar membuat pengelompokan bangunan candi yang berkembang antara abad ke-13 sampai 16 Masehi menjadi 5 wujud arsitektur, yaitu (1) gaya Singhasari, (2) gaya Candi Brahu, (3) gaya Candi Jago, (4) Candi Batur, dan (5) punden berundak (Munandar 2011, 20-25). Apabila melihat pembagian tersebut nampaknya bangunan Candi Kethek masuk ke dalam wujud arsitektur yang kelima yaitu punden berundak. Secara umum ciri- ciri punden berundak adalah bangunan teras

Gambar 3. Untaian garis melengkung menyerupai mahkota.

(sumber: Dokumen pribadi)

Pada teras kedua ini terdapat dua buah struktur bangunan di sisi utara dan selatan. Struktur yang masih tersisa pada bangunan sisi utara hanya sisi selatan, sedangkan bangunan sisi selatan struktur yang ada yaitu barat daya, struktur sisi selatan dan sudut barat laut.

Teras tiga mempunyai panjang halaman kurang lebih 50 meter berbentuk persegi empat.

Dibatasi talud berupa tatanan batu gundul di sisi utara dan barat, sedangkan sisi selatan berupa tatanan batu alam cukup besar. Di tengah talud terdapat tangga naik yang sempit. Pada teras tiga ini terdapat struktur bangunan di sisi utara dan selatan, kedua stuktur ini berbentuk persegi empat. Struktur yang masih tersisa yaitu struktur bangunan sebelah utara sudut timur laut dan struktur sisi selatan. Bangunan sebelah selatan struktur yang masih tersisa yaitu sudut barat daya dan tenggara serta struktur sisi utara. Di antara dua bangunan ini terdapat jalan selebar dua meter.

Teras empat ini terdapat pula halaman yang tidak terlalu luas yang tanahnya lebih

(19)

107 Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, dan I Wayan Sumerata

bertingkat-tingkat meninggi, umumnya menyandar di kemiringan lereng gunung, jumlah teras umumnya tiga, dan di bagian puncak teras teratas berdiri altar-altar persajian.

Pemilihan tempat yang lebih tinggi didasari oleh anggapan bahwa para dewa bersemayam dan bertempat tinggal di puncak-puncak gunung.

Punden berundak dibuat sebagai simbol gunung untuk sarana pemujaan dan bangunan suci yang dilandasi oleh konsep aslinya yang berasal dari India, yaitu objek sakral sebagai media penghubung antara orang yang masih hidup dengan para dewa atau orang yang telah meninggal pada umumnya ditempatkan pada daerah yang paling sakral (Harisusanto 1999, 298-299). Dengan demikian karakter bangunan Candi Kethek mencirikan penggambaran dari kepercayaan yang berkembang pada masanya.

Latar Belakang Agama

Interpretasi latar belakang agama Candi Kethek memang membutuhkan data yang memadai, sedangkan data tertulis maupun arca dari pantheon dewa yang merujuk pada agama tertentu tidak ditemukan. Oleh karena itu, untuk

mengetahui latar belakang agamanya dapat digunakan data hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada tahun 2005. Ekskavasi tersebut membuka kotak sejumlah 37 kotak.

Hasil ekskavasi tersebut adalah gerabah dan satu arca kura-kura (gambar 4).

Arca kura-kura merupakan data yang penting untuk merekonstruksi latar belakang agama Candi Kethek. Kura-kura dalam Agama Hindu merupakan salah satu avatara Wisnu. Sering disebut dengan Kurma Avatara.

Di dalam beberapa kesusastraan dikenal bermacam-macam avatara Wisnu, diantaranya yang terkenal ada sepuluh yang lebih dikenal dengan dasavatara Wisnu. Tercantum dalam kitab Varaha Purana. Sebaliknya dalam kitab Bhagavata Purana disebutkan sebanyak dua puluh dua avatara. Menurut kepercayaan Hindu India, dasavatara dianggap berhubungan dengan sepuluh macam kejadian di dunia, ketika Wisnu bertugas menghancurkan berbagai rintangan yang menghalangi perputaran dunia. Kesepuluh avatara Wisnu menurut Varaha Purana adalah

Gambar 4. Arca Kura-kura.

(Sumber: Dokumen pribadi)

(20)

108 Forum Arkeologi Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 (101 - 112)

Matsyavatara (ikan), Kurmavatara (kura-kura), Varahavatara (babi hutan), Narasimhavatara (manusia singa), Vamanavatara (orang kerdil), Parasurama avatara, Raghuramavatara, Krsnavatara, Buddhavatara, dan Kalkyavatara (Maulana 1996/1997, 16; Maulana 1984, 33).

Dewa Wisnu merupakan salah satu dewa Tri Murti dalam agama Hindu yang diangap sebagai dewa pemelihara dunia. Pemujaan terhadap Wisnu telah dikenal sejak jaman Veda. Wisnu telah disinggung dalam Rg- veda, Yajur-veda, Sama-veda, dan Atharva- veda. Dalam kitab-kitab tersebut Wisnu belum dianggap sebagai dewa yang memiliki kedudukan tinggi seperti pada masa-masa selanjutnya. Wisnu dikatakan mempunyai sifat sebagai matahari, dan telah mengunjungi tujuh dunia. Ia mengelilingi dunia dengan tiga langkah (trivikrama) (Maulana 1996/1997, 15). Dalam syair-syair Veda, trivikrama ini adalah tiga langkah Wisnu yang dilakukan setiap hari mengelilingi dunia yaitu mulai dari timur menuju ke zenith (langkah 1), dari zenith menuju ke barat (langkah 2), dan dari barat kembali ke timur (langkah 3). Melalui Suryaloka atau Suryagrha yang letaknya sangat tinggi sehingga tidak nampak oleh manusia (Moens dalam Santiko 1994, 14).

Wisnu menjelma menjadi kurma avatara merupakan bagian dari cerita samodramanthana, yakni pengadukan lautan susu (ksirarnawa) untuk mendapatkan air amerta. Diceritakan bahwa yang menjadi alat pengaduk adalah Gunung Mandara yang dimasukkan ke dalam samudera dan disangga oleh kura-kura besar penjelmaan Wisnu. Dewa Wasuki sebagai tali dengan menjelma sebagai seekor ular yang sangat panjang melilit Gunung Mandara.

Berdasarkan penjelasan tersebut kura-kura yang berkaitan dengan Dewa Wisnu. Dalam hal ini dapat diasumsikan bahwa pemujaan terhadap Dewa Wisnu juga dilakukan di bangunan Candi Kethek. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan erat antara kura-kura dengan Wisnu. Dapat dikatakan kura-kura merupakan

simbol dari Dewa Wisnu. Maka dari itu dapat disimpulkan Candi Kethek berlatar belakang Hinduistik.

Di Indonesia selain dalam bentuk kura- kura, Dewa Wisnu sering ditampilkan dalam wujud yang berbeda-beda. Wisnu dalam bentuk arca banyak ditemukan pada candi-candi di Jawa. Atribut yang selalu dibawa dan menjadi ciri khasnya adalah cakra, siput, dan gada. Di Jawa Timur pada kepurbakalaan Belahan, Dewa Wisnu ditampilkan dalam posisi duduk menaiki kendaraan kedewataannya, yakni Garuda. Arca Wisnu diapit oleh dua arca dewi yang diketahui merupakan perwujudan istrinya (Dewi Sri dan Laksmi). Dalam bentuk avatara, Wisnu dapat berubah wujud. Salah satunya Narasimha yakni makhluk setengah manusia dan setengah singa dengan merobek perut raksasa jahat Hiranyakasipu. Garuda juga menjadi salah satu simbol Wisnu. Arca garuda banyak dijumpai di Candi Sukuh dalam berbagai bentuk.

Selain itu, temuan gerabah merupakan bukti artefak yang cukup baik untuk memberikan informasi lebih. Gerabah merujuk pada istilah lokal untuk menyebut tembikar. Nama ini dikenal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tembikar merupakan bagian dari keramik, yaitu benda-benda yang terbuat dari tanah liat dan dibakar dengan temperatur tertentu.

Secara umum keramik digolongkan menjadi tiga jenis yaitu earthen ware, stone ware, dan porselen. Pembagian tersebut berdasarkan atas ciri-ciri fisik maupun kimiawi yang tercipta dari perbedaan bahan dasar pembuatan serta suhu pembakarannya. 1) Earthen ware adalah jenis keramik yang bahan dasarnya berasal dari tanah liat biasa dengan suhu pembakaran berkisar 9000 – 12000 C. Keramik dalam jenis ini ialah tembikar, gerabah, dan terakota yang mempunyai sifat menyerap air dan berpori banyak. 2) Stone ware adalah jenis keramik yang terbuat dari tanah liat (kaolin) dengan suhu pembakaran berkisar 12000-13500 C.

Karena tingginya suhu itu maka unsur-unsur kaca pada permukaan partikel-partikel tanah

(21)

109 Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, dan I Wayan Sumerata

liat itu melebur dan partikel-partikel tadi terikat satu sama lain, sehingga tidak mudah menyerap air. 3) Porselen, menurut Sukendar (1999, 61-62) adalah tanah liat halus dicampur dengan kaolin dan mineral feldspar (petunzte).

Kaolin adalah tanah liat putih yang akan lebur jika dibakar pada suhu yang sangat tinggi;

sedangkan feldspar adalah tanah liat putih dari batu granit yang telah membusuk. Barang- barang ini bersifat kedap air, tidak berpori dan tembus cahaya. Suhu pembakaran porselen umumnya berkisar 1300o-1400o C (tabel 1).

Informasi di atas menunjukkan bahwa gerabah dan tembikar merupakan bagian dari earthenware. Tembikar lebih mengacu kepada bahan dan suhu pembakaran. Sementara itu gerabah lebih mengacu kepada jenis-jenis atau bentuk benda pecah-belah, misalnya mangkuk, piring, dan kendi tanpa membedakan bahan pembentuk benda-benda tersebut (Wahyudi 2012, 2). Gerabah ditemukan pada beberapa kotak ekskavasi, yaitu di lima titik kotak yaitu kotak V5, V6, V11, W11, dan D6 (gambar 5).

Paling banyak ditemukan gerabah bagian badan yaitu sejumlah 108 dengan ketebalan 0,5 cm dan gerabah bagian bibir sejumlah 12 buah.

Semua bibir bermotif karinasi dengan ketebalan 0,9 cm. Terdapat juga temuan gerabah tidak berbentuk wadah yang diperkirakan bagian dari atap bangunan (genting) (Tim penyusun 2005, 23-31).

Temuan gerabah di lokasi penelitian menunjukan adanya aktivitas budaya manusia masa lalu. Berdasarkan fungsinya gerabah memiliki berbagai fungsi, baik itu sakral maupun profan. Temuan gerabah di lingkungan Situs Candi Kethek diduga sebagai tanda dari sisa- sisa ritus upacara keagamaan dan kemungkinan merupakan salah satu dari sekian banyaknya alat dan bahan upacara yang dilakukan di situs ini. Wahyudi menyatakan bahwa fungsi gerabah atau tembikar ditentukan oleh bentuk dan konteksnya (Wahyudi 2012, 14-15).

Kontekstual di sini adalah menghubungkan tempat ditemukannya gerabah, baik di halaman candi maupun bagian dalam halaman candi, hal ini akan mempengaruhi perkiraan fungsi gerabah tersebut. Melihat temuan gerabah yang terdapat di halaman Candi Kethek, yaitu pada teras dua dan tiga, menguatkan dugaan bahwa temuan gerabah tersebut erat kaitannya dengan upacara.

Tipe keramik Suhu Pembakaran Terakota 3500 – 9000 C Earthenware 9000 – 12000 C Stonewares 12000 – 13500 C Porcelains 13000 – 14000 C

Tabel 1. Tipe dan Suhu pembakaran keramik menurut Sinopoli.

(Sumber: Sinopoli dalam Ismail, 1993:25)

Gambar 5. Temuan gerabah di kotak V 11 dan W 11.

(Sumber: Tim Penyusun 2005, 23)

(22)

110 Forum Arkeologi Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 (101 - 112)

Pada sebuah bangunan suci menurut Krom dalam Wahyudi setidaknya ada lima macam upacara yang dilakukan yaitu (1) pendirian bangunan candi, (2) upacara penyucian bangunan suci, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membersihkan bangunan suci secara spiritual sebelum upacara pemujaan dilakukan.

(3) upacara pemujaan. Kegiatan ini jelas dilakukan untuk memuja Tuhan. (4) upacara penerimaan anugerah (sima). Pada dasarnya sima dapat diartikan sebagai ‘batas’ dan dalam pengertian yang lebih luas menjadi ‘bidang tanah yang dicagar’. Dengan ditetapkannya sebidang tanah menjadi sima tanah itu dibebaskan dari pajak ataupun dari penggunaan semula. (5) pemberian persembahan kepada pendeta (Krom dalam Wahyudi 2012, 150).

Apabila melihat pembagian tersebut, kemungkinan upacara yang dilakukan di Situs Candi Kethek adalah nomor 1, 2, 3, dan 5.

Nomor 4 merupakan upacara sima yang erat kaitannya dengan kekuasan seorang raja. Situs Candi Kethek terletak jauh dari keramaian dan di dalam hutan dan tidak terpengaruh oleh lingkungan kerajaan. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa situs ini dibangun oleh kaum Rsi (pendeta) yang telah meninggalkan hiruk pikuk keduniawian. Tinggal jauh dari keramaian dan mencari tempat yang sepi adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Hari Susanto menyatakan bahwa punden berundak yang ditemukan di kawasan Gunung Lawu dibangun oleg para rsi dan pertapa untuk media pemujaan (Harisusanto 1999, 292). Pernyataan tersebut didukung pula oleh hasil penelitian Purwanto yang menyatakan bahwa bangunan suci keagamaan yang tersebar di Lereng Barat Gunung Lawu sangat mungkin didirikan oleh kaum rsi dan pertapa yang umumnya disebut dengan istilah karsyan (Purwanto 2017, 91-93; Purwanto 2017, 73-74).

Pemujaan Terhadap Leluhur

Candi Kethek merupakan bangunan berteras, hal ini mengingatkan pada bangunan

berundak dari masa prasejarah, khususnya tradisi megalitik yang lebih dikenal dengan punden berundak. Punden berundak sudah ada sejak sebelum pengaruh Hindu datang ke Indonesia. Sebagai simbol pemujaan terhadap arwah leluhur, masyarakat dulu mempercayai bahwa leluhur yang telah meninggal dunia, arwahnya akan bersemayam di bukit-bukit yang tinggi atau di puncak gunung. Atas dasar itulah punden berundak dibangun semakin ke atas semakin mengecil, menyerupai sebuah gunung.

Candi Kethek dibangun semakin ke atas semakin kecil, hal ini menyiratkan bahwa bangunan ini selain sebagai pemujaan untuk Wisnu, juga sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Menurut Bernet Kempers Candi Cetho dan Sukuh dibangun atas dasar rasa menghormati Gunung Lawu yang disucikan.

Gunung tersebut dianggap keramat sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur yang telah meninggal (Munandar 1990, 90; Afriono 2011, 2). Asumsi tersebut diperkuat juga dengan adanya simbol-simbol artefaktual yang digarap tidak proposional dan masih kasar. Tinggalan purbakala di Gunung Penanggungan misalnya terdapat altar-altar dipuncak punden pundek atau berdiri sendiri sebenarnya berfungsi sama dengan kursi batu (stone seat) di dalam upacara pemujaan roh nenek moyang yang bersemayan di puncak gunung. Begitu juga bangunan suci lain yang didirikan dengan halaman bertingkat di Gunung Lawu (Candi Sukuh dan Cetho) didasari atas konsep keagamaan prasejarah yang diselimuti oleh anasir-anasir Hindu-Jawa (Kempers dalam Munandar 1990, 8-9).

Pemujaan terhadap gunung juga direfleksikan terhadap bangunan atau orientasi penguburan. Tatanan bangunan dengan konsep dewa gunung sebenarnya telah diawali sejak budaya tradisi megalitik. Pada umumnya bangunan yang didirikan ditujukan sebagai sarana atau media pemujaan arwah nenek moyang. Selaras dengan kepercayaan tentang adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati, terutama adanya pengaruh kuat dari

(23)

111 Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, dan I Wayan Sumerata

yang telah mati terhadap kesejahteraan dan kesuburan manusia di bumi. Gunung merupakan unsur yang didewakan, seperti halnya anggapan terhadap adanya keturunan Dewa Matahari pada tradisi budaya Megalitik. Gunung dipandang sebagai simbol tahta persemayaman nenek moyang. Penempatannya diarahkan ke puncak gunung, atau langsung diletakkan pada tubuh gunung (imposisi) sementara bangunan dimodifikasi seakan-akan menyandar ke tubuh gunung (replika) (Tjahyono dalam Titasari 2000, 38).

KESIMPULAN

Karakter bangunan Candi Kethek berbentuk teras berundak yang memiliki empat teras dengan tangga naik yang berfungsi sebagai penghubung, tangga naik memiliki ukuran cukup sempit, dan teras berbentuk persegi panjang. Secara umum bangunan candi dibuat dengan batuan andesit yang tidak mengalami pengerjaan lebih lanjut, dan setiap teras dibatasi oleh talud-talud. Karakter bangunan Candi Kethek merupakan warisan dari tradisi masa megalitik yang berlanjut sampai masa berikutnya yang mempunyai kepercayaan bahwa arwah nenek moyang bersemayan di puncak gunung Punden berundak merupakan simbol gunung sebagai media pemujaan dan tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur. Berdasarkan temuan artefak yang berupa arca kura-kura dan gerabah di situs ini, diduga Candi Kethek dibangun dengan latar belakang agama Hindu. Keberadaan arca kura- kura merupakan perwujudan Dewa Wisnu yaitu salah satu dewa tertinggi dalam agama HIndu, sementara itu, pemujaan terhadap leluhur juga dilakukan oleh masyarakat pendukung saat itu dengan bersandar atas karakter bangunan teras berundak.

SARAN

Candi Kethek kini sudah ditetapkan menjadi salah satu objek daya tarik wisata oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Oleh

karena itu, dalam rangka pelestarian Situs Candi Kethek ini perlu pemintakatan, sehingga pemanfaatan dan pengembangan situs dapat ditata dengan meminimalisir kerusakan situs.

DAFTAR PUSTAKA

Afriono, Rizky. 2011. “Identifikasi Komponen- komponen Bangunan Berundak Kepurbakalaan Situs Gunung Argopuro.”

Skripsi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Darmosoetopo, Riboet, Sumijati Atmosudiro, Tri Hartono, Gutomo, Septina Wardhani, Wahyu Kristanto, Sunarno, dan Yanuar Wijanarko.

2016. Peninggalan Arkeologi di Lereng Barat Gunung Lawu. Klaten: Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Harisusanto, Teguh R.A. 1999. “Bangunan Teras Berundak Masa Majapahit Abad ke-14-16 M:

Suatu Kajian Arsitektural.” Tesis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Ismail, Agus, 1993. “Peranan Keramik Asing pada Penelitian Arkeologi di Kecamatan Trowulan (Penelitian pada Koleksi Suaka Sejarah dan Purbakala).” Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Maulana, Ratnaesih. 1984. Ikonografi Hindu.

Jakarta: Universitas Indonesia.

________________. 1996/1997. “Perkembangan Seni Arca di Indonesia.” Laporan Penelitian, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

Munandar, Agus Aris. 1990. “Kegiatan Keagamaan di Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14-15 M.” Tesis, Universitas Indonesia.

________________. 2011. Catuspatha: Arkeologi Majapahit. Jakarta: Wedatama Widya Sastra Natalia, Widya Prima. 2012. “Masjid Raya Ganting

di Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat: Kajian Bentuk dan Fungsi.”

Skripsi, Denpasar: Fakultas Sastra dan Budaya Uiversitas Udayana.

Priyanto H.S. 1999. “Pergeseran Pusat Upacara di Situs Megalitik Puncak Gunung Lawu.”

Berkala Arkeologi. 19 (1): 89-106.

Purwanto, Heri. 2017. “Beberapa Keistimewaan Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar.”

Jurnal Sejarah Candra Sengkala. 08 (16):

35-45.

(24)

112 Forum Arkeologi Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017 (101 - 112) ____________. 2017. “Kehidupan Beragama di

Lereng Barat Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Abad ke-14-15 Masehi.” Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

____________. 2017. “Candi Sukuh sebagai Tempat Kegiatan Kaum Rsi.” Berkala Arkeologi. 37 (1): 69-84.

Santiko, Harani. 1994. “Pengertian Triwikrama pada Masyarakat Jawa Kuna.” Laporan Penelitian, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sukendar, Haris, Truman Simanjutak, Yusmaini Eriawati, Machi Suhadi, Bagyo Prasetyo, Naniek Harkantinigsih, dan Retno Handani . 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta:

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Suprapta, Blasius, M. Dwi Cahyono, Ismaul Lutfi.

1997/1998. “Kultus Kesuburan dalam Seni Bangun Keagamaan pada Lereng Barat Gunung Lawu (Abad ke-14-15M): Kajian Makna Relegius dengan Model “Sistem Trikhotomi” Terhadap Tanda Ikonografi dan Relief.” Laporan penelitian, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Malang.

Tim Penyusun. 2005. Eksavasi Penyelamatan Situs Candi Kethek. Laporan Penelitian, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Prambanan.

Titasari, Coleta Palupi. 2000. “Kepurbakalaan di Situs Wringin Branjang Kabupaten Blitar, Jawa Timur.” Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Wahyudi, Wanny Rahardjo. 2012. Tembikar Upacara di Candi-Candi di Jawa Tengah Abad ke-8-10 M. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

www.karanganyarkab.go.id/

Gambar

Gambar 1. Peta lokasi Candi Kethek.
Gambar 2. Candi Kethek.
Gambar 3. Untaian garis melengkung  menyerupai mahkota.
Gambar 4. Arca Kura-kura.
+3

Referensi

Dokumen terkait