• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Sidang SENAT AKADEMIK Balai Pertemuan Ilmiah ITB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Sidang SENAT AKADEMIK Balai Pertemuan Ilmiah ITB"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Hari / Tanggal Jumat/ 19 Februari 2016 Waktu Pukul 14.00 – 16.00

Tempat Gedung Balai Pertemuan Ilmiah ITB Jalan Dipati Ukur No. 4 Bandung

Peserta Anggota SA = 40 orang (dari 54 orang) Ex-officio = 13 orang (dari 19 orang)

Tidak Hadir = 20 orang (termasuk 7 orang ijin tidak hadir) Catatan: Daftar hadir ada pada lampiran

Agenda Sidang 1. Pengesahan Agenda Sidang

2. Laporan Pimpinan Senat Akademik 3. Laporan Komisi :

- Komisi I : Penyelenggaraaan Pendidikan Program Doktor - Komisi III: Laporan Kenaikan Jabatan ke Guru Besar a.n. Dr. S.

Hendriatiningsih (FITB) 4. Lain-lain

Catatan Sidang

1. PENGESAHAN AGENDA SIDANG Keputusan:

Agenda sidang disetujui untuk dilaksanakan

2. LAPORAN PIMPINAN SENAT AKADEMIK

1. Keanggotaan Senat Akademik Periode 2014-2019 (per Januari 2016) akan menjadi 74 orang, terdiri dari:

 Anggota Tetap = 55 orang

(Catatan: 1 orang anggota tetap wakil SITH pengganti Prof Intan Ahmad belum aktif)

 Ex-officio = 19 orang

2. Konsolidasi keanggotaan Komisi-Komisi SA:

 Karena jumlah anggota sudah bertambah, tiap anggota SA cukup berkonsentrasi pada 1(satu) komisi saja (1 komisi rata- rata = 18 – 19 anggota).

 Setiap anggota komisi dimohon mengisi kembali formulir pilihan keanggotaan komisi (kecuali: Rektor, Wakil Rektor, Ketua dan Sekretaris Komisi).

3. Acara Dies Natalis ITB akan dilaksanakan pada Tanggal 2 Maret 2016. Ketua SA diminta untuk menyampaikan sambutan. Mohon masukan dan saran dari komisi-komisi untuk materi sambutan tersebut.

4. Masalah anggota SA yang diangkat menjadi Kaprodi (Bu Prayatni), akan dikonsultasikan dengan FTSL.

(2)

 Pengantar disampaikan oleh Ketua Komisi I, Prof. Widyo Nugroho SULASDI. (Materi presentasi terlampir)

 Presentasi disampaikan oleh Prof. Johnner Sitompul. (Materi Presentasi terlampir)

Diskusi:

Ahmad Sjarmidi :

- Dalam presentasi tidak ada analisis, tapi ada rekomendasi.

Pelaksanaan program doktor ITB kemampuannya menurun, rumpun keilmuan ITB harus direvitalisasi. Apakah kita akan menerima rumpun ilmu seperti ditetapkan dalam UU, atau mengembangkan sendiri?

- ITB harus lebih gaul, coba masuk dalam lingkaran magnacharta. Program S2 seharusnya interdisiplin, tetapi sekarang justru cenderung menjadi superspesialis. Komisi 1 perlu mereview masalah program S1 dan S2 juga. Keragaman terjadi karena vektor tumbuh ke mana-mana, tanpa ada yang mengontrol. Nama KK juga cenderung beragam.

Johnner:

- Standar ITB harus lebih tinggi dari yang ditetapkan dalam SNPT.

Pengembangan Sains & Technology harus berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Supri:

- Mengapa jumlah mahasiswa doktoral dari tahun ke tahun menurun? Apakah yang diperlukan peraturan yg lebih ketat, atau justru insentif? Contoh: sebagai insentif, pembimbing dapat mengupayakan agar mahasiswanya berkesempatan ke LN.

- Harus ada yang memonitor pelaksanaan program doktor.

Biarkan unit implementasi yang melaksanakan, tidak perlu diatur terlalu ketat.

- Penurunan peserta program doktor bukan gejala yang merata.

Di FTSL jumlah mahasiswa doktoral dari tahun ke tahun cenderung meningkat.

Zaki:

- Penurunan mahasiswa doktoral terjadi akibat dampak yg kompleks, antara lain: banyaknya tawaran beasiswa ke LN, dukungan finansial yang lebih menarik untuk program pendidikan di LN, dan strategi kejar bola PT LN untuk mencari calon mahasiswa terbaik, dan berbagai kondisi khusus (a.l.

dampak terbitnya UU Pendidikan Tinggi).

- Program Pascasarjana ITB tidak kompetitif dan tidak menarik.

Perlu dikembangkan berbagai program kerjasama dengan LN, seperti: double degree, dll. Berbagai barrier atau handicap

(3)

mungkin selesai 3 tahun. Problema: dengan beasiswa 3 tahun, mahasiswa harus menyelesaikan masa studi sampai 4 tahun atau lebih. Kalau mengikuti SNPT, mahasiswa doktoral juga harus menghasilkan 1 publikasi internasional, baru boleh diluluskan.

- Program Doktor di ITB mau berorientasi kemana?

Menggunakan sistem apa? Apakah tujuannya untuk memperbanyak publikasi?

Johnner:

- Menurut SNPT, program doktor bisa by course dan by research.

Pudji Astuti:

- Tim revitalisasi program doktor sudah banyak menerima masukan dan saran. Sdh dilakukan survei dan benchmark ke berbagai PT di LN: Bagaimana kurikulum yang ada dapat dilaksanakan lebih baik (pembimbingan, perkuliahan);

Kemungkinan membuka program doktor In-house; Masalah persyaratan mukim, dll.

- Minggu depan akan dilaksanakan workshop antara kaprodi dan anggota KPPS, untuk menuntaskan rumusan kebijakan implementasi selanjutnya.

2. KOMISI III : Laporan Kenaikan Jabatan ke Guru Besar

 Pengantar disampaikan oleh Ketua Komisi III, Prof.

Mikrajuddin Abdullah. (Materi presentasi terlampir)

 Permohonan persetujuan Pleno SA ITB atas Usulan Kenaikan Jabatan ke GB:

Nama: Dr. S. Hendriatiningsih (FITB)

Pemberi Rekomendasi yang hadir: Dekan FITB, Prof. Puti Farida Mardjuki, Prof. Komar Ruslan (Wakil FGB)

Keputusan: Disetujui untuk diusulkan ke GB.

Catatan:

1. Kandidat akan menjadi GB wanita pertama dalam bidang Surveying Engineering di Asia Tenggara.

2. ITB harus mengupayakan agar tiap KK memiliki GB.

4. LAIN-LAIN Tidak ada

Sidang ditutup pk 16.00

Jadwal Sidang Pleno Berikut: 04 Maret 2016

(4)

(Iwan Sudradjat) (Indratmo Sukarno)

(5)

KOMISI 1, SENAT AKADEMIK Bidang

PENDIDIKAN, KEMAHASISWAAN, dan ALUMNI

Penyelenggaraan Pendidikan Program Doktor di ITB

1 2

Transformasi ENTROPI ke NEGENTROPI dalam Penyelenggaraan Program Doktor di ITB

Entropi

Arah vektor ke mana-mana.

Menentukan resultante vektor Program Doktor di Fakultas/Sekolah

Program Doktor

3

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

LULUSAN TEPAT WAKTU THD JUMLAH WISUDAWAN

4

0 20 40 60 80 100 120

2010 2011 2012 2013 2014

85 87 82

61 112

4 1 5 2 0

Jumlah Wisudawan Jumlah Lulus Tepat Waktu

Waktu studi program doktor (tahun)

LULUSAN TEPAT WAKTU THD JUMLAH WISUDAWAN

5

0 20 40 60 80 100 120

2010 2011 2012 2013 2014

85 87 82

61 112

4 1 5 2 0

Jumlah Wisudawan Jumlah Lulus Tepat Waktu

Waktu studi program doktor (tahun)

Postur Program Doktor ITB seperti ini siapa yang harus BERTANGGUNGJAWAB?

SISTEM

Dalam perspektif Senat Akademik, berbentuk Norma,

Kebijakan

(6)

Organ Penyelenggaraan Program Doktor ITB

(1) Pusat (SPS, KSPs) (2) Fakultas ( KPPs)

(3) Prodi ( Kaprodi Magister dan Doktor) (4) Kelompok Keahlian/Keilmuan

Adakah standar hubungan antara keempat unsur ini?

7

KEPUTUSAN SENAT KADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Nomor:11/SK/I1-SA/OT/2012 Tentang

PEDOMAN KURIKULUM 2013-2018 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

8

9

Pedoman dalam Penyelenggaraan Program Doktor

Struktur kurikulum program doktor terdiri dari komponen perkuliahan, penyusunan proposal penelitian, dan komponen penelitian serta penulisan disertasi, masing-masing dengan bobot sks yang sesuai.

FAKULTAS/

SEKOLAH

Tata Kelola Sendiri

Implikas inya apa?

10

MODEL PROGRAM DOKTOR MENURUT Undang-Undang Pendidikan Tinggi

(1) Pendidikan Akademik, penguasaan dan pengembangan cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Program sarjana, program magister, dan Program doktor.

(2) Gelar doktor akademik : DOKTOR.

(3) Pendidikan Vokasi: Keterampilan dan penalaraan dalam penerapan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi.

11

Lulusan program doktor terapan berhak menggunakan gelar DOKTOR TERAPAN.

Di Lingkungan ITB

Misi ITB: mengembangkan sains, teknologi, seni, ilmu sosial dan humaniora.

Karakteristik Penyelenggaraan Program Doktor ini seperti apa? Program Doktor Science, Applied Science, Engineering atau

seperti apa? 12

Gelar Doktor Antara lain:

Dr.Ing; Dr.Eng, Dr.rer.nat, Ph.D

Jerman: Doktor + Bidang Studi: Dr. rer. nat., Dr. phil., Dr. iur., Dr. rer. oec., Dr. rer. pol., Dr. med., Dr.-Ing.

(7)

13

UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN TINGGI Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pasal 10

(1) Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan kumpulan sejumlah pohon, cabang, dan ranting Ilmu Pengetahuan yang disusun secara sistematis.

(2) Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

(a) Rumpun ilmu agama, (b) rumpun ilmu humaniora, (c) rumpun ilmu sosial, (d) rumpun ilmu alam, (e) rumpun ilmu formal, (f) rumpun ilmu terapan.

14

Rumpun ilmu alam merupakan rumpun ilmu pengetahuan yang mengkaji dan mendalami alam semesta manusia, antara lain ilmu angkasa, ilmu kebumian, biologi, ilmu kimia, dan ilmu fisika.

Rumpun ilmu formal merupakan rumpun Ilmu Pengetahuan yang mengkaji dan sistem formal teoritis, antara lain ilmu komputer, logika, matematika, statistika, dan sistema.

15

Rumpun ilmu terapan merupakan rumpun ilmu pengetahuan dan Teknologi yang mengkaji dan mendalami aplikasi ilmu bagi kehidupan manusia antara lain pertanian, arsitektur dan perencanaan, bisnis, pendidikan, teknik, kehutanan dan lingkungan, keluarga dan konsumen, kesehatan, olah raga, jurnalistrik, media massa dan komunikasi, hukum, perpustakaan dan pemuseuman, militer, administrasi publik, pekerja sosial, transportasi.

(8)

Peningkatan Program Doktor di ITB

Progress Report Dipresentasikan di Rapat Pleno SA ITB 19 Februari 2016

Tim Adhoc Komisi 1 SA

Johnner P. Sitompul, Widyo N. Sulasdi, Deddy P. Koesrindartoto, Devi N. Choesin

Daftar Isi

Latar Belakang dan Belajar dari Korea

Etymology PhD

Norma-Norma Pendidikan Doktor

Doktor dan Doktor Terapan (vs PhDCEP in MIT)

Penyelenggaraan Program Doktor ITB

Rekomendasi kepada SA ITB

Note: Ada Tim independen level Eksekutif, Revitalisasi Program Doktor

Latar Belakang

ITB universitas Riset (PP/ 65 2013), #mahasiswa pasca sarjana atau # program pascasarjana (doktor) harus lebih banyak dari program sarjana; SK 02/SK/K01-SA/2003: Program Pasca Sarjana sebagai Ujung Tombak

Pascasarjana ITB sebagai mesin penelitian  namun jumlah intake S3 terus menurun

Diperlukan penguatan dan pengembangan Pusat-Pusat Penelitian, program pascasarjana, khususnya Doktor sebagai mesin penelitian dan inovasi (Research &Development, Research & Business Development)

Belajar dari Korea (Benchmarking): Science &

Technology Development and Policies towards Economic Growth

Blue Print of Industry and S&T Development, Policies (Korea, summary)

Period 1960s 1970s 1980s 1990s 2000s 2010~

Era Export-

Oriented Export-led Economic

Liberalization Democrat. Advancement Global Leading Focused

Industries Light Industries

Heavy Industries

Assembly &

Processing Industries

ICT Knowledge

Intensive Industries

Knowl.

Service/New Converging/

Green Ind.

Compet.

Factor Cheap Labor Skilled Labor Capital

Investment Technologies S&T

Innovation Advanced S&T Innovation Demanding

S&T HR

Skilled HR Technical HR Higher S&E High Calibre S&E

Creative S&E Creative &

Converging S&E Demanding

Tech.

Plant Mgt. Facility M&O Mfg. Core Tech. Endogenous Tech.

Source Tech.

S&T Policy Turn-key Capital Import/ Tech.

Learning Internalizing Imported Tech./

Reverse Eng.

Modify Imported Tech./

Develop Domestic Tech.

Advancing Tech. Catch- up/ Large Gov.

R&D Prog.

Focus on endogenous tech./

Systemize S&T Prog.

Globalize S&T/ Focus on Convergence

Imitation Catching-Up Innovation Endogenous Innovation Paradigm

Change

Source: Dr. Choi, 2014, former President of KIMM, 2009 5

R&D Investment in Korea: Trends of Public vs. Private

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

1964 1966 1968 1970 1972 1974 1976 1978 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004

Private Share, %

Gov. Share, %

Source: MEST, Ministry of Education, S&T (www.mest.go.kr) Public: Private = 29: 71 (2009)

6

(9)

Source: Chung (2011)

Economic Growth of Korea (overview)

2014: $27,090 ; Japan : $42,000 7

Doctor

Origin of Doctor (http://www.etymonline.com/index.php?term=doctor) doctor (n.) c. 1300, "Church father," from Old French doctour, from Medieval Latin doctor "religious teacher, adviser, scholar," in classical Latin "teacher," agent noun from docere "to show, teach, cause to know," originally "make to appear right," causative of decere "be seemly, fitting" (see decent).

Full Definition of DOCTOR (http://www.merriam-webster.com/dictionary/doctor)

1a : an eminent theologian declared a sound expounder of doctrine by a Church

—called also doctor of the church (the Roman Catholic, ref. Reformed Church DTh, DDiv and Lector of the church/ reader) b : a learned or authoritative teacher c : a person who has earned one of the highest academic degrees (as a PhD) conferred by a university d : a person awarded an honorary doctorate or higher doctorate (as an ScD, LLD or Litt D) by a college or university

2a : a person skilled or specializing in healing arts; especially : one (as a physician, dentist, or veterinarian) who holds an advanced degree and is licensed to practice b : MEDICINEMAN (MEDICAL DOCTOR)

3a : material added (as to food) to produce a desired effect b : a blade (as of metal) for spreading a coating or scraping a surface

4: a person who restores, repairs, or fine-tunes things (Rossi, the Doctor)

PhD

In general, Doctor of Philosophy, Philosophiae Doctor abbreviated to PhD, an advanced academic degree awarded by universities or an

honorary doctorate awarded by a university.

License to teach (Philips and Pugh, 1994, How to get a PhD); worthy of being listened to as an equal by the appropriate university faculty; (USA) more restricted achievement than higher doctorates – DSc (Science), DLitt (Letters, Arts), DSocSci (Social Science)

In English-speaking countries, meaning "teacher/

scholar, in the love of wisdom", lover of wisdom; guru/

scholar, pencinta wisdom/ hikmat/ ilmu

List of Honorary Doctors (Explicit)

Honorary DSc by Academy of Science, post-doctoral degree Vs Nobel Laureate in Physics by Royal Swedish Academy of Science

UU PENDIDIKAN TINGGI No.12/ 2012

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 49 TAHUN 2014 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI, direvisi dengan Permen RistekDikti, No. 44 2015 tentang SNPT

KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK ITB Nomor : 11/SK/I1- SA/OT/2012 Tentang PEDOMAN KURIKULUM 2013-2018

KEPUTUSAN REKTOR ITB Nomor : 284/SK/I1.A/PP/2012 PEDOMAN DAN FORMAT PENYUSUNAN KURIKULUM 2013-2018

Norma-Norma Penyelenggaraan

Program Doktor (S3) di ITB Doktor dan Doktor terapan (head to head)

Non terapan Terapan

Pasal 20 (1) Program doctor merupakan pendidikan akademik

yang diperuntukkan bagi lulusan program magister atau sederajat sehingga mampu menemukan, menciptakan, dan/atau memberikan kontribusi kepada pengembangan, serta pengamalan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah.

Pasal 23 (1) Program doktor terapan merupakan kelanjutan bagi lulusan program magister terapan atau sederajat untuk mampu menemukan, menciptakan, dan/atau memberikan kontribusi bagi penerapan, pengembangan, serta pengamalan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penalaran dan penelitian

(2) Program doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengembangkan dan memantapkan Mahasiswa untuk menjadi lebih bijaksana dengan meningkatkan

kemampuan dan kemandirian sebagai filosof dan/atau intelektual, ilmuwan yang berbudaya dan

menghasilkan dan/atau mengembangkan teori melalui Penelitian yang komprehensif

(2) Program doktor terapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengembangkan dan memantapkan Mahasiswa untuk menjadi lebih bijaksana dengan meningkatkan kemampuan dan kemandirian sebagai ahli dan menghasilkan serta mengembangkan penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penelitian yang komprehensif dan akurat dalam UU PT No.12/ 2012 Pasal 20: Perbandingan Doktor vs Doktor Terapan (Head to Head) Perhatikan kata sederajat; intelektual/ filosof vs ahli; kemadirian sbg filosof & ahli Catatan: Pasal 21 ayat (3d), D4 atau sarjana terapan (muncul istilah ini)

(10)

Variasi Gelar dan Program Doktor di Chemical Engineering MIT (Benchmarking, head to head)

Ph.D./Sc.D. Ph.D.CEP

•Satisfactory completion of the core curriculum, as well as the departmental biology requirement

•Minor program in a related field outside of chemical engineering

•Written and oral qualifying examinations/ viva

•Thesis describing original research

•Satisfactory completion of the core curriculum, as well as the departmental biology requirement

•Practice School requirements, including a one-semester industrial internship (culminating in an M.S.CEP degree)

•Written and oral qualifying examinations

•Thesis describing original research

•Coursework at the Sloan School of Management

•Capstone paper, combining technical experience with business training, appended to the thesis Note: The core curriculum includes (advanced) thermodynamics, transport phenomena, mathematics, and reactor engineering. (In UK, available MEng not eligible to PhD!)

Variasi Gelar dan Program Doktor di Chemical Engineering MIT

Ph D in Chemical Engineering Science (degree PhD/

Sc D) and PhD in Chemical Engineering Design/

Chemical Technology? (degree PhD CEP )

PhD CEP requires more practical work/ industrial internship as well as management, starting from MSc CEP  establish new program/ department at ITB?

ScD is only for CES, a "higher doctorate" awarded in recognition of a substantial and sustained contribution to scientific knowledge beyond that required for a Ph.D.

PhD in Multidiscipline

SAINT (Sungkyun Advanced Institute for Nano Technology (SAINT), Korea

Academic Programs: GRADUATE SCHOOL OF NANO SCIENCE AND TECHNOLOGY (Multidisciplinary Program:

Chemistry, Physics, Chemical Engineering, Electrical Engineering, Mechanical Engineering, Material Engineering)

System of Academic Program:

Faculty member appointment by Graduate School Chairman for Graduate Courses

Faculty member appointment by Departmental Chairman for Undergraduate Courses

Not covered in UU PT or no SNPT yet in Indo; non-linear ??

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

NOMOR 49 TAHUN 2014 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI

Sama dengan revisi SNPT 2015 tanpa kata ahli seperti UU No 12 PT; Namun beberapa detail agak berbeda untuk program Doktor

LEVEL 9

(lulusan Doktor S3) ; DSc level 10 or 10+?

Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan atau seni baru di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji.

Mampu memecahkan permasalahan sains, teknologi, dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter, multi atau transdisipliner.

Mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapat pengakuan nasional maupun internasional.

LEVEL 6 (lulusan D4)

Mampu memanfaatkan IPTEKS dalam bidang keahliannya, dan mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi dalam penyelesaian masalah.

Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.

Mampu mengambil keputusan strategis berdasarkan analisis informasi dan data, dan memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi.

Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK ITB Nomor : 11/SK/I1-SA/OT/2012 Tentang PEDOMAN KURIKULUM 2013 2018

Stratifikasi Pendidikan

Outcomes?

(11)

KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK ITB Nomor : 11/SK/I1-SA/OT/2012 Tentang PEDOMAN KURIKULUM 2013 2018

KurikulumProgram Doktor (1)

KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK ITB Nomor : 11/SK/I1-SA/OT/2012 Tentang PEDOMAN KURIKULUM 2013 2018

Kurikulum Program Doktor (1)

KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK ITB Nomor : 11/SK/I1-SA/OT/2012 Tentang PEDOMAN KURIKULUM 2013 2018

Kurikulum Program Doktor (2)

Seberapa jauh program S3 ITB dari ideal (SP Doktor ITB) sumber daya

KEPUTUSAN REKTOR ITB Nomor : 284/SK/I1.A/PP/2012 PEDOMAN DAN FORMAT PENYUSUNAN KURIKULUM 2013-2018

Beban SKS (40 SKS; minimum 6 semester, maksimum 10 semester )

Mata kuliah wajib (Filsafat Ilmu, Metodologi Penelitian, Ujian Persiapan/ Kualifikasi, Penyusunan Proposal, Penelitian dan Laporan Kemajuan I, II, III, IV dan Ujian Disertasi) Total 4 tahap

Kurikulum Program Doktor 2013-2018

Permen RistekDikti No. 44 2015/ SNPT: Pasal 16 ayat 1

g. paling lama 7 (tujuh) tahun akademik untuk program doktor, program doktor terapan, atau program subspesialis, setelah menyelesaikan program magister, program magister terapan, atau program spesialis, dengan beban belajar mahasiswa paling sedikit 42 (empat puluh dua) sks.

Definisi SKS di S1, S2, S3 diasumsikan sama, pasal 17!

Program Studi S3 di ITB

FAKULTAS/

SEKOLAH JUMLAH

PRODI S3 PROGRAM STUDI

FMIPA 4 Astronomi, Fisika, Kimia, Matematika

SITH 1 Biologi

SF 1 Farmasi

FTTM 4 Teknik Geologi, Teknik Geofisika, Rekayasa Pertambangan, Teknik Perminyakan FITB 2 Sains Kebumian, Teknik Geodesi dan Geomatika

FSRD 1 Seni Rupa dan Desain

FTI 4 Teknik dan Manajemen Industri, Teknik Fisika, Teknik Kimia FTMD 3 Ilmu dan Teknik Material, Rekayasa Nuklir, Aeronotika dan Astronotika

SBM 1 Sains Manajemen

SAPPK 3 Arsitektur, Transportasi, Perencanaan Wilayah dan Kota STEI 1 Teknik Elektro dan Informatika

FTSL 2 Teknik Lingkungan, Teknik Sipil

Total 27

Tahapan dan Proses Pelaksanaan S3 ITB

Penentuan Promotor Seleksi

Penerimaan

Ujian Kualifikasi

Masa Mukim (Residency)

Monitoring Karakteristik

Penelitian (+ sumber dana)

(12)

Syarat pendaftaran / seleksi penerimaan

Syarat SPS SBM STEI SITH

IP S2 Min. 3,00 Min. 3,50

Bhs Inggris:

- ELPT - TOEFL

Min. 77 Min. 475

Min. 113 Min. 550

Min. 90 Min. 500 Min. 525

TPA Min. 475 Min. 550 Min. 500 Min. 500

Beberapa Contoh Variasi Syarat Seleksi di F/S: http://usm.itb.ac.id/wp/?page_id=621

FITB (Teknik Geodesi & Geomatika): Rekam jejak atau portofolio penelitian, daftar publikasi, dan pra-proposal atau concept paper dan presentasi rencana penelitian.

FSRD: draft proposal penelitian. Persyaratan nilai TPA dapat diganti/diekivalensi dengan portofolio karya/publikasi, kecuali bagi yang mengajukan beasiswa.

SBM (Doktor Sains Manajement): mengajukan draft proposal riset dan calon pembimbing dari prodi DSM.

SITH: harus memiliki tesis hasil riset ilmiah.

STEI/ FTI: sudah mempunyai topik penelitian, sudah mempunyai calon pembimbing (form kesediaan).

Penentuan promotor

Mekanisme penentuan bervariasi antar F/S/Prodi.

Variasi mulai dari acuan ketentuan yang jelas (mis. STEI, SBM)

 sangat fleksibel (mis. FSRD).

Kontak personal antara calon mahasiswa dengan calon promotor  kurangnya peran KK.

Di beberapa F/S/Prodi, kebersediaan promotor menjadi salah satu persyaratan untuk menerima mahasiswa S3; di Prodi lain, calon mahasiswa dapat mendaftar dengan belum memiliki gambaran tentang calon promotor/topik.

Ujian kualifikasi (1)

Apakah yang dimaksud Ujian Persiapan atau Ujian Kualifikasi dan Proposal (Metodologi Penelitian)?

Beberapa contoh variasi Ujian Kualifikasi:

Sains Kebumian (FITB): Ujian komprehensif (ada soal yang harus dijawab tertulis) dan dikonfirmasi di dalam sidang di program studi. Sidang Ujian dihadiri oleh dua orang penguji, Koordinator akademik opsi (karena ada 4 opsi), Kaprodi, dan Calon Promotor. Penguji ditentukan dalam rapat antara Kaprodi, Koordinator opsi, dan Kaprodi. Soal tertulis dibuat oleh penguji (salah satu atau keduanya). Mahasiswa diberi waktu sekitar 2 jam untuk menjawab pertanyaan tertulis dilanjutkan dengan tanya jawab oleh penguji dan anggota sidang lainnya.

Ujian kualifikasi (2)

Teknik Lingkungan (FTSL): Ujian tertulis dari tim promotor (dengan dikoordinasi oleh koordinator ujian) dan presentasi state-of-the-art dari topik yang akan diteliti (hasil kajian beberapa makalah).

Seni Rupa dan Desain (FSRD): Sidang terhadap proposal (MK Metodologi Penelitian), mendatangkan juga penguji dari luar. (sama DSM)

Biologi (SITH): 60% nilai dari ujian biologi umum dengan model GRE, (GRE- like) 40% nilai dari ujian tertulis/essay mengenai review 10 makalah terkait topik penelitian, ditentukan oleh Pembimbing. Soal GRE-like mencakup bidang keilmuan terkait disusun oleh tim ad hoc, ditugaskan WDA,.

FTI

TK : Mahasiswa mereview (umum) beberapa jurnal berkaitan dengan bakal topik penelitiannya dan menganalisa aspek-aspek keteknik-kimiaan dari review tersebut

TI: sebagai Ujian pre-proposal; Mahasiswa melakukan review rencana proposal

TF: presentasi umum terhadap rencana topik penelitian dan kebaruannya

Masa mukim (residency)

Masa mukim 2 semester disyaratkan dalam ketentuan ITB.

Tidak diimplementasikan di semua F/S:

Tempat kerja/bench di F/S tidak disediakan atau tidak memadai.

Fasilitas tidak memadai, lebih baik di institusi asal.

Kasus mahasiswa per prodi dalam satu S/F dapat bervariasi, karena berbagai kendala fasilitas dan permasalahan masing-masing mahasiswa (beasiswa/kekurangan dana dll.)

Definisi masa mukim perlu redefinisi; untuk riset di lab saja?

Pemantauan kemajuan mahasiswa

Umumnya F/S/Prodi menerapkan suatu metode pemantauan yang bervariasi:

 pertemuan rutin/mingguan (mis. SAPPK), laporan kemajuan yang dikoordinasi (mis. SF, FTSL, SBM), presentasi akhir semester (SITH, FTI, FSRD dll.)

 Sejumlah prodi S3, Process-based and output-based program sudah mulai menjadi keniscayaan dengan output yang terukur, khususnya dengan publikasi dengan Impact Factor

(13)

Contoh DSM SBM: Progress Stages and Evaluation Format (Process and Output-Based)

Preliminary Exam

Proposal Examination Iternal Examiner Internal & Eksternal

Examiner

Ujian Tertutup Ujian Terbuka

Iternal & Eksternal Examiner

Progress Seminar 3 Progress Seminar 1 Progress Seminar 2

Colloqium styles, open presentation scheduled regularly every semester

Progress Seminar 4

Internal & Eksternal Examiner

Tahap Persiapan 1 & 2Tahap PenelitianTahap Ujian

Pendanaan yang baik Bisa Output paper seminar Int’l dari Tahap I

Monitoring, Evaluasi dan Pengendalian Mutu Pelaksanaan Pengajaran dan Penelitian Mahasiswa DSM

32

Karakteristik penelitian (& pendanaan)

Terdapat perbedaan berdasarkan karakter keilmuan:

Science (Laboratory or field research-based)

Engineering

Arts (FSRD: karya, teori, art, desain)

Policy & Management

Dana dan Fasilitas penelitian: mengikuti proyek penelitian promotor, atau kadang mengajukan proposal sendiri atas nama promotor!!

 sistem Research Associate (RA) dan Teaching Associate

 sistem voucher

Governance – pengelolaan program doktor

Sub- KPPS

= PPD di FTSL; Ada S/F tanpa SubKPPS, SF, SBM

KPPS

WDA KAPRODI S3

Tim- tim ad hoc

KK

SPS

Peran KK dalam Sejumlah S/F minim atau hampir tidak ada  ditingkatkan DPM

Rekomendasi (1)

Sangat diperlukan Standard PT Program Doktor ITB yang melebihi SNPT (UU PT No 12 tahun 2012, Pasal 54 ayat 4) serta mengurangi variasi penyelenggaraan program S3

Pelaksanaan S3 ITB sangat variatif; urgent untuk menetapkan pihak bertanggung jawab/ PIC) dalam setiap proses (PDCA) dan tanggung jawabnya, pendanaan seperti DSM;

Transformasi paradigma (& budaya) dari process–based ke output-based suatu keniscayaan

Rekomendasi (2)

Paradigma tradisional/ lama dengan banyak sekali Komisi-Komisi perlu direformasi (KSPS, KPPS, sub KPPS/ PPD, Tim Ad Hoc, dll)

SA mengeluarkan Norma dan Kebijakan Program Doktor ITB dengan mempertimbangkan variasi karakteristik program Doktor di ITB (per cluster) Norma dan Kebijakan umum, khusus

Peningkatan Jumlah Program Doktor (benchmarking MIT, PhD vs PhD CEP), (memperhatikan UU 12/2012 pasal 20), Ph D Multidisiplin

Pengembangan Program Combined Degree S2 dan S3 dengan Universitas yang diakui secara int’l; dengan Skema (1+ 3 tahun) yang prospektif (dampak akreditasi Int’l, ITB bukan lagi feeder untuk Univ ternama)  Payung hukum

(14)

Terima kasih atas perhatiannya!

(15)

Laporan Komisi 3

Pleno SA - 19 Februari 2016

ISI

Permintaan persetujuan usulan kenaikan pangkat dan jabatan Dr.Ir. S. Hendriatiningsih, MS dari Lektor Kepala ke Guru Besar

Dr.Ir. S. Hendriatiningsih, MS

NIP: 19510702 197603 2 002

Unit: FITB

TMT

Pangkat: IVc (1-10-2004) Jabatan: LK (1-01-2001)

Usulan Pangkat: IVd Jabatan: GB

1) Mengampu 47 MK/18 semester

2) Dosen wali, Ketua Senat fakultas, Ketua Pusat Studi Agraria 3) Sekretaris Senat Fakultas, Kursus Lemhanas

4) Jurnal ilmiah internasional: 1 (penulis utama) 5) Jurnal Nasional Akreditasi: 1 (penulis utama) 6) Jurnal Nasional tidak akreditasi: 6 7) Seminar internasional: 18 8) Seminar nasional: 15

9) Pangabdian masyarakat: narasumber, pelatih, saksi ahli.

10) Kerja sama dengan BPN, BIG dan dunia industri geospasial di Indonesia.

11) Mulai menjalin kerjasama dengan pihak Jeppesen (Boeing, Digital Aviation Research) terkait pemanfaatan UAV untuk pemetaan kadaster

12) Kegiatan penunjang cukup banyak

Ringkasan Capaian

(16)

Pemberi rekomendasi

1) Prof. Emmy Suparka 2) Prof. Puti Farida Marzuki 3) Prof. Hasanuddin Z. Abidin 4) Prof. I. Ketut Wikantika

Beberapa poin penting

Jika didetujui maka Dr. Hendriatiningsih akan menjadi GB wanita pertama dalam bidang keilmuan Geodesi dan Geomatika di Indonesia, dan bahkan di kawasan ASEAN.

(17)
(18)

No Tanggal Tgl Surat Asal Perihal Ket

1 05-Feb-2015 03-Feb-2016 MWA RENSTRA ITB 2016-2020 Temb

2 09-Feb-2016 15-Jan-2016 WRSO

Permohonan persetujuan Senat Akademik a.n. Dr. Lucy Dewi Nurhajati Sasongko, M.Si.

Ketua SA 3 11-Feb-2016 10-Feb-2016 MWA Pendirian Fakultas Ekonomika Ketua SA 4 16-Feb-2016 16-Feb-2016 STEI Usulan Kenaikan Pangkat/Jabatan Ketua SA 5 18-Feb-2016 15-Feb-2016 MWA Anggota MWA ITB Wakil dari Alumni Temb

No Tanggal Nomor Ditujukan

1 05-Feb-2016 035/2016 Rektor

No Tanggal Tanggal SK Asal Tentang Ket

1 05-Feb-2016 01-Feb-2016 Rektor

Penggantian Kepala Pusat Kebijakan Publik dan Kepemerintahan Institut Teknologi Bandung

Temb

2 05-Feb-2016 02-Feb-2016 Rektor

Penempatan dosen pada Kelompok Keilmuan/Keahlian (KK) Sekolah Teknik Elektro dan Informatika

Temb

3 10-Feb-2016 28-Jan-2016 Rektor

Sanksi untuk Saudara Riyadi Juhana, NIM. 23413049 Mahasiswa Program Studi Magister Teknik dan Manajemen Industri Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung

Temb

4 16-Feb-2016 22-Jan-2016 Rektor

Pembentukan Tim Pendamping Proyek Pengembangan Institut Teknologi Bandung (III) Melalui Pembiayaan Pinjaman Luar Negeri IP-553 Antara Pemerintah Indonesia dengan Japan International Coorporation Agency (JICA) Tahun Anggaran 2016

Temb

No Tanggal Nomor SK 1 09-Feb-2016 04/2016 2 09-Feb-2016 05/2016 b) SURAT KELUAR

Perpanjangan Masa Tugas Panitia Adhoc Review Rencana Induk Pengembangan Institut Teknologi Bandung

Perpanjangan Masa Tugas Panitia Adhoc Persiapan Pembukaan Program Persetujuan SA Kenaikan Jabatan a.n. Dr. Bambang

Prijamboedi, M.Eng. dan Dr. Achmad Haldani D, M.Sn.

Perihal

c) SK MASUK

d) SK SENAT AKADEMIK

Tentang

(19)
(20)
(21)

Referensi

Dokumen terkait