• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Sikap 'Iffah Dalam Memilih Makanan Menurut Perspektif Hadis - Iiq

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Sikap 'Iffah Dalam Memilih Makanan Menurut Perspektif Hadis - Iiq"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

Mengikuti tren yang berkembang, banyak kita temukan umat Islam yang tidak memperhatikan nilai-nilai syariah yang ditetapkan dalam memilih makanan yang ingin dikonsumsi. Hal ini menandakan bahwa sikap menjaga kesucian diri ('iffah) yang seharusnya dimiliki setiap mukmin mulai terkikis. Kekhawatiran terhadap fenomena di atas menjadi latar belakang penulis untuk membahas permasalahan ini lebih lanjut dalam disertasi yang berjudul 'Sikap Iffah Dalam Memilih Makanan Dalam Perspektif Hadits.

Dalam skripsi ini penulis mencoba memaparkan konsep-konsep halal, haram dan tajib berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah, serta pendapat para salaf dan ulama modern, sekaligus mengungkap hubungan antara sikap 'iffah atau menjaga kebersihan diri dan proses pemilihan makanan halal sebagaimana terdapat dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Penyusunan tesis merupakan salah satu syarat yang diajukan universitas kepada seluruh mahasiswanya agar dapat menyelesaikan pendidikannya di Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta. Dalam skripsi ini penulis mengangkat pertanyaan mengenai sikap menjaga kebersihan diri dalam memilih makanan, sebagaimana tertulis dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Staf Fakultas Ushuluddin Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT), Ibu Suci Rahayu Ningsih dan Ibu Ruqoyah Tamami. Sikap peduli diri disebut juga dengan 'iffah' dan akan penulis bahas lebih lanjut. Penggunaan istilah 'iffah' pada judul skripsi ini didasari oleh keinginan penulis untuk menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap dalam memilih makanan, tidak hanya menghindari haram dan syubhat, namun yang terpenting adalah pengendalian diri, agar tidak dipengaruhi oleh gaya hidup atau tren yang berkembang di era globalisasi.

Identifikasi Masalah

Mereka harus mampu menjaga diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang diharamkan Allah, karena hal ini merupakan kewajiban setiap muslim untuk menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Tumbuhnya kesadaran di kalangan umat Islam bahwa semua makanan itu halal asalkan tidak mengandung bahan-bahan terlarang seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis. Adanya umat Islam di zaman modern yang memilih makanan karena mengikuti tren dan tidak memperhitungkan status kehalalan suatu produk makanan. Dengan demikian, dapat dikatakan mereka tidak mengamalkan sikap 'iffah atau menjaga kesucian diri.

Pembatasan dan Perumusan Masalah

Bagaimana umat Islam memahami konsep halal, haram dan tayyib berdasarkan dalil al-Quran dan sunnah serta pendapat ulama kontemporari dan salaf. Apakah kaitan antara sikap 'iffah atau menjaga kesucian diri dengan proses memilih makanan yang halal sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis Rasulullah saw.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tinjauan Pustaka

Dalam tafsir al-Wasîth karya Wahbah az-Zuhaili, mantan dekan fakultas syariah dan ketua jurusan Fiqh/Syari'ah Universitas Damaskus dan Universitas Uni Emirat Arab yang diterjemahkan oleh Muhtadi dkk dan diterbitkan oleh Gema Insani pada bulan Februari 2013 dijelaskan bahwa orang – orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya hendaknya melatih diri dan keluarganya untuk beramal shaleh. Penafsiran di atas sesuai dengan penjelasan yang terdapat dalam Tafsir Al-Qur'an Tematik Tentang Keluarga, Masyarakat dan Etika Politik terbitan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an pada bulan Agustus 2009 bahwa surat At-Tahrim ayat 6 memuat hindarilah rumah dari hal-hal yang tidak Islami karena akan dimintai pertanggung jawaban di hari kiamat. Menurut kami, seorang muslim sejati tentu akan menghidupkan kembali suasana keislaman di keluarga dan lingkungan sekitar, salah satunya dengan membiasakan mengonsumsi makanan yang jelas halal.

Kita juga dapat memahami dari pembahasan di atas bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan bertanggung jawab, termasuk makanan dan minuman yang kita konsumsi. Ali Mustafa Ya'qub, dalam bukunya yang berjudul Kriteria Halal-Haram yang diterbitkan oleh Pustaka Firdaus pada Mei 2009, mengatakan bahwa di antara hal yang harus diwaspadai umat Islam saat ini adalah terorisme pangan, yang sebenarnya merupakan upaya musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dan merugikan umat Islam. Upaya tersebut berupa memproduksi bahan makanan dari bahan mentah yang berbahaya bagi tubuh dan pikiran.

Bahan makanan tersebut kemudian diekspor ke negara-negara Islam untuk dikonsumsi umat Islam. Jadi jika ramuan tersebut dikonsumsi terus menerus, lambat laun bahaya akan menyerang tubuh dan pikirannya. Sebagaimana kita ketahui, ada tiga aspek yang digunakan musuh-musuh Islam sebagai sarana untuk menghancurkan umat Islam, yaitu melalui makanan, fesyen (gaya berpakaian) dan hiburan (entertainment).

Abu Sari' Muhammad Abdul Hadi dalam bukunya yang berjudul Hukum Pangan dan Penyembelihan dari Pandangan Islam yang diterjemahkan oleh Sofyan Suparman dan diterbitkan oleh Trigenda Karya pada tahun 1997, berpendapat bahwa selama hukum itu berlaku, maka segala sesuatunya boleh. karena sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya semua yang ada di muka bumi. Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit boleh atau boleh asalkan halal. Dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa setiap umat Islam tidak boleh mengkonsumsi makanan dan minuman yang disajikan tanpa mengetahui asal usulnya karena dikhawatirkan mengandung barang haram yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

Kami setuju dengan penjelasan di atas, yang menyatakan bahwa hukum asli segala sesuatu yang ada di bumi dan di udara adalah diperbolehkan atau diperbolehkan. Quraish Shihab Menjawab 101 Pertanyaan Wanita yang Perlu Diketahui, diterbitkan oleh Lentera Hati pada Maret 2011. Dikatakan bahwa ketika seseorang makan makanan yang tidak diketahui asal usulnya, maka ia cukup mengucapkan basmalah atas makanan tersebut lalu memakannya.

Metodologi Penelitian dan Teknik Penulisan

Sistematika Penulisan

Bab ini akan membahas tentang 'sikap iffah dalam hidup, mulai dari pengertian 'iffah', dalil-dalil tentang 'iffah dalam Al-Quran dan Sunnah, hal-hal yang dapat mendorong 'iffah' dan urgensi dari sikap 'iffah. Bab ini akan membahas tentang kriteria pangan berdasarkan hadis, dimulai dengan uraian tentang pengertian pangan, kriteria pangan halal dan konsep thayyib. Bagian ini berisi analisis hadis-hadis yang menunjukkan pentingnya sikap 'iffah dalam memilih makanan.

PENUTUP

Kesimpulan

Zat yang dianggap baik tidak membahayakan tubuh dan pikiran, sebagaimana diyakini Imam Ibnu Katsir. Halal sendiri berarti sesuatu yang suci, tidak najis dan tidak haram, sebagaimana diyakini Imam Malik dan Imam ath-Thabari. Para ulama tidak sepakat dengan satu pendapat tentang apa yang dilihat thayyib pada makanan karena tidak disebutkan secara tegas dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Artinya apa yang dianggap baik oleh masyarakat Arab adalah baik dan akibat hukumnya halal. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk oleh orang Arab adalah buruk dan akibat hukumnya haram. Kriteria istithâbah (penilaian baik) dan istikhbât (penilaian buruk) menurut penganut mazhab Hanbali mengikuti selera masyarakat Arab.

Walaupun ulama mazhab Syafi'i dan Hanbali sama-sama menetapkan cita rasa orang Arab sebagai kriteria istihâbah dan istikhbât, terdapat perbezaan dalam menentukan kategori orang Arab yang berhak membuat penilaian. Sementara itu, Imam Ibn Qudamah dari mazhab Hanbali berpendapat bahawa kriteria istihâbah dan istikhbâts adalah penduduk Hijaz. Daripada ketiga-tiga hadis yang disebutkan dalam perbincangan ini, terdapat juga nasihat yang tersirat untuk menjaga diri dengan sikap 'iffah iaitu menjauhi perkara-perkara yang gelap agar tidak terjerumus ke dalam perkara yang haram.

Selanjutnya dalam pembahasan hadits tentang akan datangnya usia dimana seseorang tidak lagi memperdulikan halal dan haram, Rasulullah saw. Kemudian pada pembahasan hadits tentang darah dan daging tidak masuk surga karena tumbuh dari makanan haram, terlihat bahwa seorang muslim mempunyai kewajiban yang besar untuk menjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah dan hal tersebut dapat dilakukan dengan berdiri. Terpeliharanya agama juga berarti terpeliharanya kesucian diri, dan inilah inti dari sikap ifah itu sendiri.

Dari beberapa penjelasan ulama mengenai hadits ini, penulis menyimpulkan bahwa jawaban nabi Muhammad SAW. Ketika seseorang memilih makanan dan tidak mendesak, hendaknya ia mengedepankan sikap ‘iffah’ dengan menelusuri asal usul makanan tersebut untuk memastikan kehalalannya.

Saran

Namun kini hukum Islam telah diturunkan secara utuh, sehingga konteks hadis ini tidak dapat sepenuhnya diterapkan dalam kondisi normal.

DAFTAR PUSTAKA

Âbidîn ed-Dimasyqi, Radd al-Muhtâr 'ala ad-Durr al-Muxtâr, Beyrut: Dâr al-Fikr, 1992. El-Ifriqi, Muẖammad bin Mukerrem bin 'Eli Ebu el-Fedhl Jamâluddin bin Menzhâri el-Rwaish. 'î, Lisân al-'Arab, Beiroet: Dâr Shadir, 1433 H. Qutub al-'Ilmiyyah, 1983.

Al-Jurjânî, 'Alî bin Muẖammad bin 'Alî az-Zayn asy-Syarîf, Kitâb at- Ta'rîfât, Beiroet: Dâr al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1983. Al-Madanî, Mâlik bin Anas bin Mâlik bin 'Âmir al-Ashbaẖî, Muwaththa' al- Imâm Mâlik, t.tp: Muassasah ar-Risâlah, 1412 H. Dâr al-Ma'rifah, 1990.

El-Qezwînî, Ibnu Mâcah Ebû 'Abdillâh Muẖammad bin Yezid, Sunan Ibn Mâcah, t.tp: Dâr Iẖyâ' el-Kutub al-'Arebiyyah, t.t. El-Qurthubî, Ebu 'Abdillâh Muẖammad bin Aẖmed bin Ebi Bekir bin Ferẖ el-Enşârî el-Xezrecî Syamsuddin, el-Jâmi' v Aẖkâm Al-Qur'an, Kairo: Dâr al-Kutub al-Yriama. , Muhammad bin 'Eli bin Muẖammad bin 'Ebdullah asy-Syaukanî, Nail el-Authâr, Mesir: Dar el-Hedîs, 1993.

El-Yemanî, Muẖammad ibn 'Eli ibn Muẖammad ibn 'Abdullâh asy- Syaukânî, Fatẖ el-Qadîr, Beyrût: Dar al-Kalam ath-Thayyib, 1414 H. Ar-Râzî, Maâyâîma bin Zaqîyâny, - Lughah, t.tp: Dâr el-Fikr, 1979. Asy-Syaibanî, Ebu 'Abdillâh Aẖmad bin Muẖammad bin Hanbel bin Hilâl bin Esad, Musned el-Imam Aẖmad bin Hanbel, t.tp- Muassasah, ar20.

Es-Sebari, Muẖammad ibn Cerîr ibn Yazîd ibn Katsîr ibn Ghâlib al-Amalî, Câmi' al-Bayân fî Ta'wîl Al-Qur'an, t.tp: Muassasah al-Risalah, 2000. At-Tirmidzamma, 'Muẖzamma, ' Îsâ bin Saurah bin Mûsâ bin adh-Zaẖẖak, el-Câmi' al-Kubrâ‒Sunan at-Tirmidzî, Beyrut: Dâr al-Gharb al-Islamî, 1998.

Referensi

Dokumen terkait