PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian Relevan
23 Monzer Kahfi, Islamic Economy: Analytical Study of the Functioning of Islamic Economic System, diterjemahkan oleh Machnun Husein, dari judul asli The Islamic Economy: Analytical of the Functioning of Islamic Economic System, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), P. Doktrin Ekonomi Islam Jilid 2, diterjemahkan oleh Nastangin Soeroyo, dari judul aslinya Doktrin Ekonomi Islam. Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer: Analisis Komparatif Terpilih, diterjemahkan oleh Suherman Rosyidi dari judul asli Pemikiran Ekonomi Muslim Kontemporer: Analisis Komparatif.
Ekonomi Islam: Kajian Analitis Fungsi Sistem Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Machnun Husein, dari judul asli Ekonomi Islam: Analisis Fungsi Sistem Ekonomi Islam. Islamic Economics: Theory and Practice diterjemahkan oleh Potan Arif Harahap, dari judul aslinya Islamic Economy.
Metodologi Penelitian
- Jenis dan Sifat Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknis Analisis Data
Biografi Monzer Kahf
Kahf mendapatkan gelar B.A (setara S1) bidang Bisnis dari Universitas Damaskus pada tahun 1962 dan mendapat penghargaan langsung dari Presiden Suriah sebagai lulusan terbaik. Pada tahun 1967, Kahf memperoleh Diploma Tinggi Perencanaan Sosial dan Ekonomi dari United Nations Planning Agency di Syria. Pada tahun 1975, Kahf memperoleh gelar Ph.D di bidang ekonomi dengan spesialisasi ekonomi internasional di Universitas Utah, Salt Lake City, AS.
Tahun Kahfi menjadi CFO Masyarakat Islam Amerika Utara dan kepala Dana Zakat Nasional dan Dana Islam Koperasi untuk Muslim di Amerika Utara. Pada tahun 1980, Kahfi menjadi salah satu anggota pendiri 'Asosiasi Islam Ekonomi Internasional' dan 'Asosiasi Ilmuwan Sosial Muslim'. Tahun Kahfi menjadi ekonom riset senior di Islamic Research and Training Institute of Islamic Development Bank (IDB) di Jeddah, Arab Saudi.
Tahun ketika Kahf datang ke Universitas Yarmouk Yordania sebagai profesor ekonomi dan perbankan Islam dalam program pascasarjana dan mengajar ekonomi Islam. Sejak tahun 1999 hingga sekarang, Kahf bekerja sebagai konsultan, trainer dan pengajar di bidang perbankan, keuangan dan ekonomi Islam serta memiliki praktik pribadi di California, Amerika Serikat. Kahf juga mendirikan Asosiasi Mahasiswa Muslim Credit Union yang diakui negara di Indiana dan Koperasi Perumahan Islam Indiana pada tahun 1980.
Selain itu, Kahf juga menjadi konsultan Islamic Housing Cooperatives, Toronto, Kanada dan masyarakat Islam Amerika Utara, serta masjid-masjid di Amerika Serikat dan Kanada tentang masalah 'prosedur pra-kerja' dan hukum properti Islami dalam pernikahan, warisan . , wasiat terakhir dan wasiat.kepercayaan hidup. Kahf juga memberikan hukum Syariah untuk lembaga keuangan Islam di Amerika Serikat, Kanada, Trinidad, Nigeria, dan Guyana. Kahf juga telah mengunjungi banyak negara antara lain Amerika Serikat, Kanada dan negara-negara Timur Tengah, Eropa, Karibia, Asia Tenggara serta Afrika untuk keperluan kuliah dan seminar, konferensi serta menjadi konsultan lembaga keuangan. seperti memberikan ceramah tentang hukum dan peraturan keuangan Islam, ekonomi dan perbankan Islam, wakaf, perencanaan perumahan Islam, zakat Islam, khutbah Jumat di masjid dan Islamic center.
Karya-karya Monzer Kahf
Dia telah mengembangkan beberapa modul hak cipta di bidang perbankan dan keuangan Islam, seperti Sukuk Islam dan pasar modal, manajemen kekayaan berbasis Syariah, konversi sekuritas konvensional menjadi sekuritas Islam, pengaturan produk keuangan Islam, leasing Islam, takaful dan asuransi, dan lainnya.9.
Asumsi Dasar Pemikiran Monzer Kahf
Tuhan adalah satu-satunya, dan karena itu hanya ada satu hukum yang harus diikuti, yaitu syariah. Karena dunia ini bersifat sementara, dan hari kiamat diterima sebagai kenyataan, maka perbuatan manusia seharusnya tidak hanya didasarkan pada keuntungan di dunia ini, tetapi juga pahala di akhirat. Jika agen menerima ketiga pilar tersebut di atas, keputusan yang diambilnya pasti akan berbeda dengan orang ekonomi konvensional.
Horizon waktu yang meliputi akhirat tentu akan mencakup pilihan-pilihan yang tidak tersedia bagi orang-orang ekonomi (konvensional), serta pilihan-pilihan yang dianggap tidak masuk akal. Tetapi Kahf menyadari bahwa perluasan cakrawala waktu ini akan membuat analisisnya menjadi sangat kualitatif dan karena itu diinginkan.
TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Landasan Hukum Konsumsi
Tindakan menggunakan atau mengkonsumsi hal-hal yang baik dianggap baik dalam Islam. Menghabiskan sebagian dari perbekalan atau memberi mereka sebagian dari kekayaan yang diberikan Allah (swt) kepada mereka. kepada orang-orang yang ditentukan oleh agama, seperti fakir miskin, kerabat, anak yatim dan lain-lain. Etika ekonomi Islam bertujuan untuk mereduksi kebutuhan material yang luar biasa dewasa ini, mereduksi energi manusia dalam mengejar tujuan spiritual.
Al-Quran memberi amaran keras kepada orang yang mengumpul harta tanpa menggunakannya dan tidak menggunakannya untuk kepentingan diri dan masyarakat. Jika seseorang tidak menggunakan kekayaan mengikut fungsinya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan masyarakat akan menimbulkan huru-hara dalam masyarakat. ekonomi. Di sini, Islam menyeru manusia supaya memakan hidangan yang besar dan baik yang telah Allah sediakan, iaitu bumi yang lengkap dengan isinya, dan semoga manusia tidak mengikuti jalan kerajaan dan syaitan, yang sentiasa menggoda manusia agar ingin mengharamkan sesuatu yang telah Allah miliki. dihalalkan. , dan mengharamkan perkara yang baik yang telah dihalalkan, Allah dan Iblis juga menghendaki manusia terjerumus ke lembah kesesatan. 12. Dengan harta yang kita ada dan terus bertambah, hendaklah digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Urgensi dan tujuan Konsumsi Islami
Padahal, mengkonsumsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan keteguhan dalam ketaatan kepada Allah akan menjadikan konsumsi tersebut bernilai ibadah, dengannya manusia akan mendapatkan pahala.
Prinsip dasar Konsumsi Islam
Pada tahun 2005, Kahfi menjadi profesor ekonomi dan perbankan Islam di Program Pascasarjana Ekonomi dan Perbankan Islam, di Universitas Yarmouk, Yordania. 4 Jenita dan Rustam, “Konsep Konsumsi dan Perilaku Konsumsi dalam Islam” dalam JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam), Volume 2, Nomor 1, Januari-Juni 2017, hal. Mereka bebas membelanjakan hartanya untuk membeli barang-barang yang baik dan halal untuk memenuhi keinginannya, asalkan tidak melanggar batas-batas kesucian.
Sekatan ini tidak memberi kebebasan kepada umat Islam untuk membelanjakan harta mereka kepada perkara yang tidak mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat. 10 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam Jilid 2, diterjemahkan oleh Nastangin Soeroyo, daripada tajuk asal Doktrin Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995), hlm. Barang dalam Islam adalah pemberian Allah SWT kepada manusia.
Al-Qur'an selalu mengacu pada barang-barang konsumsi dalam istilah yang melekatkan nilai-nilai moral dan ideologis pada keduanya. Sebaliknya, benda-benda yang buruk, najis (najis) dan tidak berharga tidak dapat digunakan juga tidak dapat dianggap sebagai barang konsumsi dalam Islam. Menurut konsep Islam, barang yang tidak baik dan tidak membantu perbaikan manusia bukanlah barang dan tidak dapat dianggap sebagai properti atau aset milik umat Islam.
Kerana itu, orang mukmin berusaha mencari kepuasan dalam mentaati perintah-Nya dengan menikmati kebaikan dan pemberian yang diciptakan (oleh Allah) untuk manusia. Menurutnya, setiap mukmin berusaha mencari kepuasan dengan mentaati perintah-Nya dan menggunakan kebaikan serta pemberian yang diciptakan (oleh Allah) untuk manusia untuk kepentingan manusia. Islam menggalakkan umatnya membeli barangan yang baik dan halal bagi memenuhi keperluan seharian, dengan syarat tidak melanggar batas-batas suci dan tidak membahayakan keselamatan dan kesejahteraan orang lain.
TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER
Konsep Islam tentang Barang
Studi Al-Qur'an memberi kita konsep unik tentang berbagai produk dan barang. Dalam hal ini, dua jenis istilah yang digunakan dalam al-Qur'an adalah at-tajibat dan ar-rizq.14. Dalam menerjemahkan istilah ini ke dalam bahasa Inggris, Yusuf Ali secara bergantian menggunakan lima jenis frasa untuk mengungkapkan nilai-nilai etis dan spiritual dari istilah tersebut.
Menurutnya, at-tayyibat berarti hal-hal yang baik, hal-hal yang baik dan suci, hal-hal yang indah dan suci, hal-hal yang baik dan indah, dan makanan yang terbaik. Dengan demikian, barang konsumsi sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai dalam Islam, dengan menunjukkan nilai-nilai kebaikan, kesucian dan keindahan. Istilah kedua yaitu ar-rizq dan kata-kata dari mana asalnya diulang 120 kali dalam Al-Qur'an.
Yusuf Ali mengatakan bahwa ar-rizk digunakan untuk menunjukkan beberapa arti, yaitu makanan dari Tuhan, pemberian Tuhan, bekal dari Tuhan dan hadiah dari surga. Dari kedua istilah tersebut dapat diartikan bahwa dalam konsep Islam, barang konsumsi adalah barang habis pakai yang bermanfaat dan baik, yang kemanfaatannya mengarah pada perbaikan materi, moral dan spiritual bagi konsumen. Syarat suatu barang (makanan atau komoditi) dianggap halal adalah: 1) tidak terdiri dari atau tidak mengandung bagian atau barang dari hewan yang diharamkan dan hewan yang tidak disembelih menurut ajaran Islam, 2) tidak mengandung pengotor, 3.) dalam proses pengawetan dan penyajian tidak bersentuhan dengan makanan yang najis.
Etika Konsumsi dalam Islam
Jelas bahwa setiap harta yang kita peroleh mengandung hak orang-orang yang kurang beruntung. Artinya : Dan Kami berfirman : "Wahai Adam, hiduplah bersama kamu dan istrimu di surga ini dan makanlah makanan yang lebih baik dimanapun kamu suka, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." 19. Konsumsi dan gratifikasi tidak diharamkan dalam Islam selama tidak mengandung sesuatu yang tidak sehat atau berbahaya.
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Gunakanlah sebagian dari makanan yang dikurniakan Allah kepadamu,” orang-orang kafir itu berkata: Patutkah kami memberi makanan kepada manusia, yang jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan memberi mereka makan. ?" kamu benar-benar dalam kesalahan.” 23. Menurut Kahf, kepenggunaan yang keterlaluan, iaitu ciri masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dicela dalam Islam dan disifatkan sebagai israf (memboroskan) atau tabzir (membazir harta yang tidak berguna).
26 Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Zainal Arifin dan Dahlia Husin daripada tajuk asal Darul Qiyam wal Ahlaq fil Iqtishadil Islami, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. Dan berikanlah kepada kaum kerabat apa yang patut kepada mereka, kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu membazirkan (hartamu) secara berlebihan. Menurutnya, Islam melarang manusia memberi atau menyedekahkan hartanya kepada orang yang belum dewasa, bagi mengawal lebihan harta.
Sikap boros juga boleh dielakkan jika kita bersedekah kepada orang yang betul iaitu orang yang berakal dan matang. Bantuan diberikan kepada mereka yang terpaksa dan kepada mereka yang pernah tidak mempunyai makanan. Norma dan Etika Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Zainal Arifin dan Dahlia Husin daripada tajuk asal DarulQiyam wal ahlaq fil Iqtishadil Islami.
PENUTUP
Saran
Bagi pemerintah, teori konsumsi dalam perspektif Monzer Kahfi dapat menjadi acuan perumusan kebijakan ekonomi. The Economic Jurisprudence of Umar Bin al-Khattab, diterjemahkan oleh Zamakh Sari dari judul aslinya Al-Fiqh Al-Iqtishadi Li Amiril Mukminin Umar Ibn Al-Khatthab.