BAB IV TEORI KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF MONZER
C. Etika Konsumsi dalam Islam
Menurut Islam, anugerah-anugerah Allah itu milik semua manusia dan suasana yang menyebabkan sebagian diantara anugerah-anugerah itu berada di tangan orang-orang tertentu. Namun, tidak berarti mereka dapat memanfaatkannya untuk mereka sendiri, sedangkan orang lain tidak memiliki bagiannya. Karena itu,banyak diantara anugerah-anugerah yang diberikan kepada umat manusia itu masih berhak mereka miliki walaupun mereka tidak memperolehnya.17
Hal ini seiring dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah
Artinya:
261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut- nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.18
17 Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Dari Masa Klasik Hingga Kontemporer, (Depok: Gramata Publishing, 2010), h. 311
18 QS. Al-Baqarah (2): 261-262
Dapat dipahami bahwa setiap harta yang kita peroleh didalamnya terdapat hak-hak orang yang kurang mampu. Islam mewajibkan kepada pemilik harta agar menafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan diri, keluarga, dan fi sabililah.
Ekonomi dan harta kekayaan (al-Mal) itu antara lain dengan jalan yang serba halalan tayyiban, baik dalam hal produksi dan distribusi, maupun dalam memperoleh dan mengonsumsi. Mengonsumsi barang dan jasa yang halal merupakan syarat utama bagi kehidupan manusia Muslim yang menghendaki kehidupan yang baik.
Artinya: dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim”.19
Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;
karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. 20
19 QS.al-Baqarah (2): 35
20 QS.Al-Baqarah (2): 168
Karena itu, orang mukmin berusaha mencari kenikmatan dengan menaati perintah-perintah-Nya dengan memuaskan dirinya sendiri dengan barang-barang dan anugerah-anugerah yang dicipta (Allah) untuk umat manusia. Konsumsi dan pemuasan tidak dikutuk dalam Islam selama keduanya tidak melibatkan hal-hal yang tidak baik atau merusak.21
Hal senada juga diungkapkan oleh Vinna Sri Yuniarti dalam bukunya Ekonomi Mikro Syariah. Menurutnya, setiap mukmin berusaha mencari kenikmatan dengan cara mematuhi perintah-Nya dan menggunakan barang-barang dan anugerah yang diciptakan (Allah) untuk umat manusia demi kemaslahatan umat. Akan tetapi, sebagian orang berpendapat bahwa harta kepunyaannya adalah mutlak miliknya. Tidak ada orang yang boleh menikmatinya. Allah Swt. mengutuk dan membatalkan argumen yang dikemukakan oleh orang kaya yang kikir karena tidak ada kesediaan memberikan bagian atau miliknya ini.22
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata,
“Apakah pantas kami memberi makanan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki dia akan memberinya makan?” kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”23
21 Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h.28
22 Vinna Sri Yuniarti, Ekonomi Mikro Syariah, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016), h. 85
23 QS. Yaasin (36): 47
Islam menganjurkan umatnya untuk membeli barang-barang yang baik dan halal dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan ketentuan tidak melanggar batas-batas yang suci serta tidak mendatangkan bahaya terhadap keamanan dan kesejahteraan orang lain. Islam menutup semua jalan bagi manusia untuk membelanjakan harta yang mengakibatkan kerusakan akhlak di tengah masyarakat, seperti judi yang memperturutkan hawa nafsu.24
Menurut Kahf, konsumsi berlebih-lebihan, yang merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah israf (pemborosan) atau tabzir (menghambur-hamburkan harta tanpa guna). Pemborosan berarti penggunaan harta secara berlebih-lebihan untuk hal-hal yang melanggar hukum dalam hal seperti makanan, pakaian, tempat tinggal atau bahkan sedekah. Ajaran-ajaran Islam menganjurkan pola konsumsi dan penggunaan harta secara wajar dan berimbang, yakni pola yang terletak diantara kekikiran dan pemborosan. Konsumsi diatas dan melampaui tingkat moderat (wajar) dianggap israf dan tidak disenangi Islam. 25 Hal ini dipertegas pula oleh pendapat Yusuf Qardhawi bahwa memboros-boroskan harta sangat dilarang kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat.26
Artinya:
24 Vinna Sri Yuniarti, Ekonomi Mikro, h. 85
25 Monzer Kahf, Ekonomi Islam, h. 28
26 Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Zainal Arifin dan Dahlia Husin dari judul asli Darul Qiyam wal Ahlaq fil Iqtishadil Islami, (Jakarta: Gema Insani Press,1997), h. 137
26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.27
Kemudian Amin Suma juga menjelaskan tentang larangan boros.
Menurut beliau larangan boros merupakan sifat yang hanya menuruti hawa nafsu untuk bermewah-mewahan dan tidak bermanfaat.28 Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa Islam tidak menyenangi pemborosan yang tidak bermanfaat karena pemborosan adalah sifat yang tidak mengenal Tuhan.
Hal ini juga dipertegas dalam firman Allah pada QS. Al-A‟raf (7):31
Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan.”29
Pelarangan sikap boros juga dikatakan oleh Afzalur Rahman.
Menurutnya agar pemborosan kekayaan terkontrol, Islam melarang umat untuk memberikan atau mensedekahkan harta benda mereka kepada orang- orang yang belum sempurna berakal dan belum dewasa.30
Dari uraian di atas, sudah jelas bahwa Islam menganjurkan untuk memakai pakaian yang indah dan malarang konsumsi suatu barang yang
27 QS. Al-Israa: 26-27
28 Amin Suma, Ekonomi dan Keuangan Islam, (Ciputat: Kholam Publishing, 2008), h 327
29 QS. Al-A‟raf (7): 31
30 Afzalur Rahman, Doktrim Ekonomi, h. 24
berlebihan. Pemborosan juga dapat dihindari apabila kita memberikan sedekah pada orang yang tepat, yaitu orang yang berakal sempurna dan sudah dewasa.
Dalam ekonomi Islam, konsumsi dikendalikan oleh lima prinsip dasar yaitu, prinsip keadilan, prinsip kebersihan, prinsip kesederhanaan, prinsip kemurahan hati dan prinsip moralitas.31 Syarat pertama adalah prinsip keadilan. Syarat ini mengandung arti ganda yang penting mengenai mencari rezeki secara halal dan tidak dilarang hukum.dalam soal makanan dan minuman, yang terlarang adalah darah, daging binatang yang telah mati sendiri, daging babi, daging binatang yang ketika disembelih diserukan nama selain Allah.32
Artinya:
173. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.33
Tiga golongan pertama dilarang karena hewan-hewan ini berbahaya bagi tubuh sebab yang berbahaya bagi tubuh tentu berbahaya pula bagi jiwa.
Larangan terakhir berkaitan dengan segala sesuatu yang langsung membahayakan moral dan spiritual, karena seolah-olah ini sama dengan
31 Eko Suprayitno, Ekonomi Makro, h. 92
32 Ibid, h. 93
33 QS. Al-Baqarah (2): 173
mempersekutukan Tuhan. Kelonggaran diberikan bagi orang-orang yang terpaksa dan bagi orang yang pada suatu ketika tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh makan makanan yang terlarang itu sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja.34
Prinsip kedua adalah kebersihan. Prinsip ini mencangkup kriteria makanan yang baik atau cocok dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Karena itu, tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum dalam semua keadaan. Dari semua yang diperbolehkan makan dan minumlah yang bersih dan bermanfaat.35
Prinsip ketiga adalah kesederhanaan. Prinsip ini mengatur prilaku manusia mengenai makanan dan minuman adalah sikap tidak berlebih- lebihan, yang berarti janganlah makan secara berlebih. Prinsip keempat adalah prinsip kemurahan hati yang berarti dengan menaati perintah Islam tidak ada bahaya ataupun dosa ketika kita memakan dan meminum makanan halal yang disediakan Tuhan karena kemurahan hati-Nya. Selama maksudnya adalah untuk kelangsungan hidup dan kesehatan yang lebih baik dengan tujuan menunaikan perintah Tuhan dengan keimanan yang kuat dalam tuntunan-Nya, dan perbuatan adil sesuai dengan itu, yang menjamin persesuaian bagi semua perintah-Nya.
Prinsip terakhir adalah prinsip moralitas. Bukan hanya mengenai makan dan minuman langsung tapi dengan tujuan terakhirnya, yakni untuk peningkatan atau kemajuan nilai-nilai moral dan spiritual. Seorang muslim
34 Eko Suprayitno, Ekonomi Makro, h. 93
35 Ibid, h. 94
diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan dan menyatakan terima kasih kepada-Nya setelah makan. Dengan demikian ia akan merasakan kehadirannya Ilahi pada waktu memenuhi keinginan-keinginan fisiknya. Hal ini penting artinya karena Islam menghendaki perpaduan nilai-nilai hidup material dan spiritual yang berbahagia.
Meningkatnya pendapatan masyarakat berakibat pada meningkatnya konsumsi masyarakat. Pada hakikatnya konsumsi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun saat ini konsumen lebih mementingkan keinginan dan tidak melihat kebutuhannya. Disisi lain, meningkatnya konsumsi masyarakat dianggap sebagai peningkatan kesejahteraan masyakat. Namun perilaku israf dan tabzir seperti ini tidak dibenarkan dalam Islam. Seperti pendapat Kahf yang mengatakan bahwa, Islam tidak melarang kebutuhan umatnya, selama keduanya tidak melibatkan hal-hal yang tidak baik atau merusak. Karena itu, orang mukmin berusaha mencari kenikmatan dengan menaati perintah-perintah-Nya dengan memuaskan dirinya sendiri dengan barang-barang dan anugerah-anugerah yang dicipta (Allah) untuk umat manusia.
Dari pemaparan pendapat Kahf tentang teori konsumsi tersebut, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa Kahf memandang Konsumsi dengan rasionalisme Islam, konsep barang dalam Islam dan etika kosumsi dalam Islam sehingga dalam penerapannya diharapkan agar masyarakat lebih selektif untuk menentukan mana yang akan dibeli. Hal ini bertujuan untuk mengurangi perilaku israf dan tabzir.
Berdasarkan pemikiran teori konsumsi tersebut, perilaku masyarakat saat ini masih bersikap tabzir dan israf. Karena masyarakat yang masih menuruti hawa nafsu dalam memenuhi keinginan baik untuk diri sendiri maupun keluarga tanpa memperdulikan manfaat yang ditimbulkan dari barang yang dibeli.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam memandang teori konsumsi secara Islam, Monzer Kahf mengaitkan dengan tiga hal yaitu, pertama, Rasionalisme Islam yang meliputi konsep keberhasilan, skala waktu perilaku konsumen, dan konsep harta. Kedua, konsep Islam tentang barang. Dalam hal ini dua macam istilah yang digunakan dalam Al-Qur‟an adalah at-tayyibat dan ar-rizq. Ketiga, etika konsumsi dalam Islam yang meliputi halal dan baik, tidak israf atau tabzir.
Berdasarkan pemikiran teori konsumsi tersebut, perilaku masyarakat saat ini masih bersikap tabzir dan israf. Karena masyarakat yang masih menuruti hawa nafsu dalam memenuhi keinginan baik untuk diri sendiri maupun keluarga tanpa memperdulikan manfaat yang ditimbulkan dari barang yang dibeli.
B. Saran
1. Bagi pemerintah, teori konsumsi dalam perspektif Monzer Kahf dapat menjadi acuan untuk merancang kebijakan ekonomi.
2. Bagi konsumen, hendaknya tidak melakukan israf dan Tabzir.
3. Teori konsumsi masih berkembang, sehingga diharapkan penelitian- penelitian selanjutnya dapat melengkapi penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz. Ekonomi Islam Analisis Mikro dan Makro. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008.
---. Etika Bisnis Perspektif Islam Implementasi Etika Islami untuk Dunia Usaha. Bandung: Alfabeta, 2013.
Afzalur Rahman. Doktrin Ekonomi Islam Jilid 2, diterjemahkan oleh Nastangin Soeroyo, dari judul asli Economic Doctrines of Islam. Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995.
Amin Suma. Ekonomi dan Keuangan Islam. Ciputat: Kholam Publishing, 2008.
Amiruddin dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Andi Bahri S. “Etika Konsumsi dalam Perspektif Ekonomi Islam” dalam Hunafa:
Jurnal Studia Islamika, Vol. 11, No. 2, Desember 2014.
Arif Pujiyono. “Teori Konsumsi Islami” dalam Dinamika Pembangunan Vol. 3 No.2/ Desember 2006.
Buchari Alma. Dasar-Dasar Etika Bisnis Islami. Bandung: CV. Alfabeta, 2003.
Cet-3.
Burhan Bungin. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis Ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Cholid Narbuki dan Abu Achmadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka, 1997. Cet. Ke-9.
Eko Suprayitno. Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005.
Euis Amalia. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Dari Masa Klasik Hingga Kontemporer. Depok: Gramata Publishing, 2010.
Heri Sudarsono. Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar. Yogyakarta: Ekonisia, 2004.
Husein Umar. Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009.
Idri. Hadis Ekonomi, Ekonomi dalam Perspektif Hadis Nabi. Jakarta: Kencana, 2015.
Irham Fachreza Anas. Analisis Komparatif Pemikiran Muhammad Abdul Mannan dan Monzer Kahf dalam Konsep Konsumsi Islam. Jakarta: Skripsi Jurusan Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2008.
Isyhar Malija Hakim. Analisis Komparatif Pemikiran Fahim Khan dan Monzer Kahf tentang Perilaku Konsumen. Semarang: Skripsi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015.
Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi. Fikih Ekonomi Umar Bin al-Khattab, yang diterjemahkan oleh Zamakh Sari dari judul asli Al-Fiqh Al-Iqtishadi Li Amiril Mukminin Umar Ibn Al-Khaththab. Jakarta: Khalifa, 2006.
Jenita dan Rustam. “Konsep Konsumsi dan Perilaku Konsumsi dalam Islam”
dalam JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam), Volume 2, Nomor 1, Januari-Juni 2017.
Juliansyah Noor. Metodologi Penelitian. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.
M. Fahim Khan. An Alternative Approach to Analysis of Consumer Behavior:
Need for Distinctive “Islamic” Theory, Journal of Islamic Bussiness and Management Vol. 3, No. 2, 2013.
Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi. Metode Penelitian Survey. Jakarta:
LP3ES, 1989.
Moh. Kasiram. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Malang: UIN Maliki Press, 2010.
Mohamed Aslam Hanef. Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer: Analisis Komparatif Terpilih, yang diterjemahkan oleh Suherman Rosyidi dari judul asli Contemporary Muslim Economic Thought: a Comparative Analisys. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010.
Monzer Kahf. Ekonomi Islam: Telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Machnun Husein, dari judul asli The Islamic Economy: Analitical of the Fuctioning of the Islamic Economic System.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995.
Muhammad Abdul Manan. Ekonomi Islam: Teori dan Praktik diterjemahkan oleh Potan Arif Harahap, dari judul asli Islamic Economy. Jakarta: PT.
Intermasa, 1992.
Muhammad Muflih. Perilaku Konsumen Dalam Prespektif Ilmu Ekonomi Islam.
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.
Muhammad Nadzir. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 2010.
Muhammad Sholahuddin. Asas-asas Ekonomi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
Nur Chamid. Jejak-jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI). Ekonomi Islam.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008. Edisi.1-1.
S. Margono, Metodologi Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Renika Cipta, 2010.
Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Asdi Mahasatya, 2006.
Sutrisno Hadi. Metode Research Jilid 1. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1984.
Toni Hartono. Mekanisme Ekonomi: Dalam Konteks Ekonomi Indonesia.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Vinna Sri Yuniarti, Ekonomi Mikro Syariah. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016.
Yusuf al-Qardhawi. Halal Dan Haram Dalam Islam. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1995. Cet-1
---. Norma dan Etika Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Zainal Arifin dan Dahlia Husin dari judul asli DarulQiyam wal ahlaq fil Iqtishadil Islami.
Jakarta: Gema Insani Press, 1997.
Zahidatul Amanah. Perilaku Konsumsi Islam Pemikiran Monzer Kahf (Studi Kasus di Perumahan Taman Suko Asri Sidoarjo). Surabaya: Skripsi Program Studi Ekonomi Syariah Jurusan Syariah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, 2014.
Laila Imaroh, Rasionalitas dalam Ekonomi Syariah, dalam http://Lhaelyimma- Makalah-Rasionalitas-Dalam-Ekonomi-Syariah/24/22/2014.html yang diakses pada tanggal 11 Desember 2017.
Hari Mukti, Ubah Pola Pikir Hedonisme, Materi ceramah yang diakses dari www.antara.co.id/are/2007/9/27/hari-moekti-ubah-pola-pikir-hedonisme.
http://monzer.kahf.com/about.html yang diunduh pada 22 Agustus 2017
https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/04/profil-monzer-kahf.html diunduh pada 19 April 2017
https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/04/profil-muhammad-abdul-manan.html diakses pada 22 oktober 2017.
https://junartibakhtiar.wordpress.com/2015/02/16/monzer-khaf/ diunduh pada 5 April 2017