• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Festival Musikalisasi Puisi 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pedoman Festival Musikalisasi Puisi 2018"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dasar Hukum

Maksud dan Tujuan

Sasaran

KONSEP DAN BENTUK MUSIKALISASI

Apresiasi Puisi

Apresiasi puisi diartikan sebagai kegiatan mempelajari, menyibukkan puisi dan menikmatinya hingga muncul pengetahuan, pemahaman, kepekaan, kenikmatan dan penghayatan terhadap puisi yang diteliti, digeluti, dipahami dan dinikmati (Iswamawati, 2013:21). Dilihat secara lebih luas, apresiasi puisi merupakan bagian dari apresiasi sastra, yang kegiatannya merupakan penelaahan secara sungguh-sungguh terhadap ciptaan sastra, sehingga tumbuh pemahaman, rasa hormat, kepekaan, kritik, dan perasaan baik terhadap ciptaan sastra. Ada beberapa bentuk apresiasi puisi yang termasuk dalam kategori pertunjukan atau pementasan puisi, antara lain: deklamasi puisi, pembacaan puisi, puisi mengamuk, dramatisasi puisi, dramatisasi puisi, dan musikalisasi puisi (Herfanda, 2014:1).

Pembacaan puisi adalah pembacaan puisi atau puisi dengan kondisi seperti senandung vokal, artikulasi, ekspresi dan gerak tubuh yang baik dan sesuai dengan isi dan tujuannya. Membaca puisi adalah seni menyampaikan puisi dengan lantang dan ekspresif kepada penonton atau di atas panggung. Puisi rampak adalah penyajian puisi yang dilakukan oleh beberapa orang secara bergantian dan bersamaan, tanpa memperhatikan apakah teks puisi tersebut digunakan atau tidak.

Dramatisasi puisi mengeksplorasi aspek dramatik puisi di atas panggung dengan menghadirkan cerita yang terkandung dalam puisi melalui lakon. Oleh karena itu, hanya lagu-lagu tertentu, seperti lagu naratif dan balada, yang cocok untuk didramatisasi. Teateralisasi puisi, berbeda dengan dramatisasi puisi, menyajikan puisi secara teatrikal dengan bebas menggali potensi teatrikal puisi di atas panggung dengan gerakan teatrikal, musik, dan pembacaan teks puisi.

Musikalisasi puisi merupakan bentuk apresiasi puisi pada khususnya dan bentuk apresiasi sastra pada umumnya. Untuk meningkatkan apresiasi sastra dan apresiasi puisi, berbagai cara harus ditempuh, antara lain dengan mementaskan karya sastra dan puisi sebagai suatu seni pertunjukan yang menarik tanpa menghilangkan pesan atau makna dan keindahan nilai sastra. Saat ini pementasan karya sastra puisi dalam bentuk puisi musikal dinilai paling efektif dan menarik untuk mempopulerkan puisi sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra (Herfanda, 2014: 1).

Batasan Musikalisasi Puisi

Dengan demikian, musikalisasi puisi yang diciptakan menjadi suatu karya yang utuh, terpadu dan tidak berdiri sendiri. Berdasarkan uraian tersebut, Ari KPIN mengartikan musikalisasi puisi sebagai sarana mengkomunikasikan puisi kepada para penghayatnya melalui sajian musik (nada, irama, nyanyian atau nyanyian) (KPIN, 2008:9). Pendapat lain mengatakan bahwa unsur utama dalam musikalisasi puisi adalah puisi itu sendiri, bukan musiknya.

Dengan demikian, yang dominan dihadirkan dalam musikalisasi puisi itu adalah puisinya, bukan musiknya. Sebab, selain makna denotatif dari musikalisasi puisi, yaitu untuk musikalisasi puisi, musikalisasi puisi melenceng dari keinginan dan tujuan, agar puisi yang dibawakan dapat lebih diapresiasi dan menarik bagi khalayak dan masyarakat pada umumnya. Dengan musikalisasi, makna puisi yang dibawakan dapat tersampaikan secara lebih utuh, jelas, dan berkesan beserta keseluruhan suasana puisi. Jika dilakukan pengulangan musikal terhadap puisi, maka pengulangannya harus lengkap dan tidak terpecah-pecah.

Perlu ditambahkan bahwa puisi yang diiringi musik biasanya adalah puisi modern, bukan puisi kuno seperti pantun, gurindam, adag-petitih atau puisi. Puisi yang dijadikan titik tolak dalam proses penciptaan suatu komposisi musik pada umumnya adalah puisi karya penyair terkenal (Noer, 2014: 1). Berdasarkan puisi yang dipilihnya, seorang komposer musik berusaha memahami, menghayatinya, kemudian memilih jenis vokal, instrumen dan menyusun komposisinya untuk menciptakan koherensi dan keselarasan antara puisi dan unsur musiknya.

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat memberikan batasan atau pengertian tentang musikalisasi puisi, yaitu kegiatan atau praktek menyampaikan bentuk dan isi puisi kepada penikmatnya dengan bantuan atau diiringi musik yang menarik perhatian penikmatnya. agar bentuk, makna dan pesan puisi tersampaikan dan dapat dipahami oleh penikmatnya dengan lebih baik. .

Bentuk dan Ragam MusikalisasiPuisi

Misalnya, puisi yang sama dapat disajikan secara berbeda dari kelompok ke kelompok. Misalnya, puisi Sapardi Djoko Damono “Aku Ingin” mungkin dibawakan secara berbeda oleh satu sanggar atau kelompok lain. Demikian pula, musikalisasi puisi tidak mengharuskan kelompok pertunjukannya menggunakan alat musik dan dapat menggantinya dengan bunyi-bunyian yang mirip dengan notasi musik yang keluar dari mulut, yang disebut a cappella, selama puisi tetap menjadi bahan utama. pertunjukan.

MATERI DAN PERLENGKAPAN

  • Materi Festival
  • Pemilihan Puisi
  • Perlengkapan
  • Peserta Festival
  • Juri Festival
  • Panitia Festival
  • Tahapan Festival
  • Penampilan Peserta
  • Penilaian
  • Waktu dan Tempat
  • Hadiah dan Penghargaan

Puisi yang dibuat musikal dapat berupa puisi klasik yaitu puisi karya penyair generasi lama, misalnya Angkatan 1945, Angkatan 1966, puisi modern, atau puisi kontemporer yaitu puisi kontemporer yang diterbitkan oleh penyair. Dalam memilih dan memilih puisi, harus ada landasan dan alasan mengapa sebuah puisi dipilih dari berbagai karya puisi yang ada. Penyelenggara festival musik puisi harus terlebih dahulu menyeleksi dan menentukan puisi-puisi yang akan dilombakan.

Mengenai pemilihan puisi, mengingat sasarannya adalah pelajar atau pelajar, maka perlu disusun puisi dan dicari yang cocok untuknya. Selain mempertimbangkan apakah puisi tersebut merupakan karya penyair nasional atau lokal, Anda juga bisa memilih puisi yang mempunyai tema tertentu dalam suatu kegiatan festival. Pemilihan puisi juga harus memperhatikan panjang dan singkatnya puisi yang disajikan sesuai dengan kebutuhan kompetisi atau festival dan batasan kategori peserta.

Di sisi lain, sebaiknya jangan memilih lagu yang terlalu panjang, karena waktu peserta untuk menampilkan karya musiknya terbatas. Dalam pemilihan puisi sebagai bahan festival, disarankan juga kepada panitia atau penyelenggara untuk memilihnya dari puisi-puisi yang dimuat di media massa (surat kabar atau majalah) kemudian diseleksi. Dengan materi puisi yang diadaptasi tersebut, peserta akan lebih mudah mengapresiasi puisi dan akurat.

Selain kumpulan puisi yang disiapkan khusus oleh pihak penyelenggara, Anda juga bisa membantu sendiri dengan kumpulan puisi yang sudah beredar. Dari kumpulan puisi yang dikumpulkan panitia penyelenggara, para peserta kemudian memilih puisi untuk diiringi musik dalam bentuk puisi. Perlengkapan dan perlengkapan musik pada festival musikalisasi puisi harus disediakan dan dibawa sendiri oleh tim peserta.

Festival musikalisasi puisi ini merupakan kegiatan rutin yang menjadi agenda tahunan Badan Bahasa dan pusat/kantor bahasa di seluruh provinsi di Indonesia. Kegiatan festival musikalisasi puisi tingkat provinsi diikuti oleh tim musikalisasi puisi yang telah melakukan pra-registrasi pada panitia festival tingkat provinsi, sedangkan festival tingkat nasional diikuti oleh tim pemenang yang mewakili masing-masing provinsi, kecuali provinsi tempat festival diadakan. Tingkat nasional dapat mengirimkan maksimal tiga orang wakil pemenang. Dewan juri atau tim penilai pada kegiatan festival musikalisasi puisi terdiri dari tiga orang untuk kegiatan tingkat provinsi dan tiga sampai lima orang untuk kegiatan tingkat nasional.

Penilaian penampilan puisi merupakan penilaian terhadap kemampuan peserta dalam memberikan makna dan penghayatan terhadap puisi yang disajikan dalam sebuah karya musik. Festival musik dan puisi baik tingkat provinsi maupun nasional diselenggarakan selama dua hari di tempat yang mempunyai ruang, sarana dan perlengkapan yang memenuhi syarat dan layak untuk kegiatan festival.

PENUTUP

Referensi

Dokumen terkait

Remaja akan menjadi aktor utama dalam pentas millenium ketiga ini, karena itu generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik

Through the exploration of existing primary and secondary sources, this article argues that postcolonial African intellectuals have the duty of being inspired by the revolutionary life