PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan
Ruang Lingkup
Landasan Hukum
STANDAR KETENAGAAN
Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan salah satu komponen terpenting dalam mendukung dan memberikan layanan HIV/AIDS yang berkelanjutan. Pengetahuan dan sikap petugas, dalam hal ini petugas kesehatan, akan mempengaruhi efektivitas pemberian layanan HIV/AIDS. Tenaga kesehatan pemberi layanan HIV/AIDS di RS Ahmad Ripin Kabupaten Muaro Jambi sudah memiliki keterampilan klinis dengan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jambi.
Petugas kesehatan yang terlibat dalam layanan HIV/AIDS harus menerima pelatihan yang lebih spesifik dan terspesialisasi.
Distribusi Ketenagaan
Pengaturan Jaga
STANDAR FASILITAS
Denah Ruangan
Standar Fasilitas
Sistem rujukan dan alur rujukan yang dilaksanakan di poliklinik HIV-AIDS RSUD Ahamd Ripin Muaro Jambi, menjalankan dua tingkatan bidang pelayanan rujukan yaitu. RSUD Ahmad Ripin Muaro Jambi merupakan tempat rujukan pengobatan pasien HIV atau pasien yang terdiagnosis HIV positif untuk mendapat pengobatan lebih lanjut. Dokter atau konselor menghubungi tim HIV/AIDS dari UPK asal rujukan untuk memberikan informasi bahwa pasien telah datang ke RSUD Ahmad Ripin Muaro Jambi.
Jika pasien HIV sudah mendapat ARV di UPK asal dan sudah terdaftar, maka RS Ahmad Ripin tidak perlu melakukan registrasi ulang pasien tersebut. PEDOMAN PELAYANAN HIV/AIDS RUMAH SAKIT AHMAD RIPIN 21. atau Puskesmas) dan diikuti dengan 4 digit nomor urut yang berlaku secara nasional, artinya apabila pasien ingin berobat di daerah lain, nomor Registrasi Nasional tidak perlu diubah. Klinik rawat jalan HIV/AIDS merupakan pintu depan pelayanan HIV/AIDS. Pemenuhan sarana dan prasarana masih memerlukan dukungan semua pihak.
Tim penanggulangan HIV/AIDS telah terbentuk, namun dalam melaksanakan kegiatannya masih menghadapi banyak kendala. Kapasitas sumber daya manusia dan keterampilan klinis terkait layanan HIV/AIDS telah dilatih secara rutin oleh Dinas Kesehatan Provinsi.
TATA LAKSANA PELAYANAN
Penemuan Kasus HIV/AIDS
Penemuan pasien merupakan langkah awal dalam penatalaksanaan pasien HIV untuk mengakses pengobatan ARV, yang secara signifikan akan menurunkan angka kesakitan dan kematian pada fase AIDS, menurunkan jumlah infeksi HIV baru dan mengurangi jumlah stigma dan diskriminasi pada ODHA. Deteksi dini di unit kerja lain oleh petugas kesehatan dalam rangka pelayanan di RSUD Ahmad Ripin Muaro Jambi, serta kerjasama dengan LSM HIV lokal untuk melakukan kegiatan sosialisasi kepada populasi kunci. Semua orang dewasa, anak-anak dan remaja dengan kondisi medis yang diduga terinfeksi HIV, terutama yang memiliki riwayat TBC dan penyakit menular seksual.
Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV dan telah menerima tindakan untuk mencegah penularan dari ibu ke anak. Paparan atau potensi paparan infeksi HIV dari jarum suntik yang terkontaminasi, menerima transfusi berulang kali, dan alasan lainnya. Rapid test dapat dilakukan pada sampel yang jumlahnya lebih sedikit dan waktu tunggu hasilnya kurang dari 20 menit, tergantung jenis tesnya, dan dilakukan oleh tenaga medis terlatih.
Bayi dan anak berusia kurang dari 18 bulan yang terpajan HIV dan tampak sehat serta belum menjalani tes virologi dianjurkan untuk melakukan tes serologis pada usia 9 bulan (saat bayi dan anak menerima imunisasi dasar terakhir). Reaktivitas harus segera diikuti dengan tes virologi untuk mengidentifikasi kasus yang memerlukan terapi ARV. Jika tes serologis reaktif dan tes virologi belum tersedia, pemantauan klinis yang cermat diperlukan dan tes serologis diulangi pada usia 18 bulan.
Pada bayi dan anak dibawah usia 18 bulan yang sakit dan diduga disebabkan oleh infeksi HIV namun tidak dapat dilakukan pemeriksaan virologi, diagnosis ditegakkan berdasarkan diagnosis dugaan. Pada bayi dan anak di bawah 18 bulan yang masih mendapat ASI, prosedur diagnostik awal dilakukan tanpa perlu berhenti menyusui. Anak-anak di atas 18 bulan dites HIV seperti orang dewasa.
Tes virologi yang dianjurkan: DNA HIV kualitatif dari darah utuh atau dry blood spot (DBS), dan RNA HIV kuantitatif dari plasma darah. Bayi yang diketahui terpapar HIV sejak lahir dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan virologi sejak usia 6 minggu. Dalam kasus bayi yang hasil pemeriksaan virologi pertamanya positif, terapi ARV harus segera dimulai; pada saat yang sama diambil sampel darah kedua untuk tes virologi kedua.
Tata Laksana Pemberian ARV
Kaji keadaan keluarga, termasuk jumlah orang yang terkena dampak atau berisiko tertular HIV dan status kesehatan mereka. Penerapan PMTC di RS Ahmad Ripin Muaro Jambi meningkatkan kapasitas staf rumah sakit melalui orientasi, sosialisasi dan pelatihan PMTC serta pemberian pelayanan/konsultasi sesuai standar. Apabila pasien HIV yang dirujuk belum pernah menggunakan pengobatan antiretroviral dan telah memenuhi persyaratan untuk memulai pengobatan, maka pasien tersebut terdaftar sebagai pasien HIV di RSUD Ahmad Ripin Muaro Jambi untuk kemudian memulai pengobatan antiretroviral.
Pada prinsipnya pencatatan dan pelaporan pelayanan HIV, termasuk pemberian ART, dimasukkan dalam sistem monitoring dan evaluasi pengelolaan ARV yang merupakan bagian dari sistem monitoring dan evaluasi program nasional penanggulangan HIV dan AIDS dan IMS. Catatan perawatan HIV dan ART berisi informasi pasien standar yang dicatat untuk semua pasien yang menderita infeksi HIV dan harus diperbarui pada setiap kunjungan pasien menggunakan formulir standar. Setiap pasien yang dirujuk dari suatu pelayanan kesehatan harus menggunakan formulir rujukan standar yang disertai salinan ringkasan pengobatan HIV dan ART di klinik sehingga klinik tujuan mengetahui perjalanan penyakit dan pengobatan pasien.
Perangkat lunak aplikasi pelaporan yaitu SIHA, suatu sistem informasi manajemen yang digunakan untuk mengelola data program pengendalian HIV dan AIDS serta PMS, telah dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan. Mendukung pengelolaan data program pengendalian HIV dan AIDS serta PMS pada tingkat dinas, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
Pelayanan PMTC (Prevention Mother To Child Transmission)
Penatalaksanaan PITC
Tata Laksana Infeksi Oportunistik
Tata Laksana Pelaksanaan Rujukan
Perawatan HIV seumur hidup yang efektif, termasuk pemberian terapi antiretroviral (ART), memerlukan pencatatan informasi penting pasien yang dicatat sebagai bagian dari rekam medis sejak pasien didiagnosis terinfeksi HIV, perawatan lanjutan, dan riwayat pengobatan. Lembar tindak lanjut pelayanan HIV termasuk ART yang meliputi pemantauan klinis, kejadian dan pengobatan infeksi oportunistik, pengobatan pencegahan kotrimoksazol dan isoniazid, kombinasi ART yang digunakan, kepatuhan pengobatan, efek samping yang terjadi, hasil pemeriksaan laboratorium, pemberian kondom, dan akhir masa tindak lanjut (meninggal, gagal tindak lanjut dan rekonsiliasi). Register Pra-ART merupakan buku yang berisi informasi penting yang diperlukan untuk memudahkan penyusunan Laporan Bulanan Perawatan HIV (LBPH) selama seseorang tidak sedang menjalani pengobatan ARV. 4) Daftar RTSH.
Register ART merupakan buku yang berisi informasi penting yang diperlukan untuk memudahkan penyusunan laporan bulanan perawatan HIV (LBPH) setelah menerima pengobatan ARV. 5) Daftar Pemberian Obat ARV. Dan setiap akhir bulan akan diambil ringkasan stok yang akan dilaporkan dalam laporan bulanan perawatan HIV bagian farmasi. Pelaporan layanan HIV berisi indikator untuk diproses, dianalisis, diinterpretasikan, disajikan dan disebarluaskan untuk digunakan dalam perencanaan.
Laporan Bulanan Perawatan HIV dan ART terdiri dari variabel layanan perawatan HIV dan farmasi yang harus dilaporkan setiap bulan berdasarkan gender dan kelompok umur, serta populasi kunci dan populasi khusus. Laporan perawatan HIV menunjukkan jumlah orang yang memasuki layanan HIV, jumlah orang yang memenuhi syarat untuk ART, jumlah orang yang menerima terapi ART dan dampak ART, tingkat kepatuhan pengobatan, jumlah TB-HIV secara bersamaan. -infeksi, jumlah orang yang menerima pengobatan pencegahan dengan kotrimoksazol dan isoniazid. SIHA merupakan perangkat lunak aplikasi sistem informasi HIV dan AIDS dan IMS yang mampu menjaring data yang berasal dari UPK, dengan menggunakan perangkat server Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan.
Setiap dinas kesehatan yang melaksanakan kegiatan Pelayanan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) wajib melaporkan data hasil kegiatannya yaitu Laporan Bulanan Perawatan HIV dan ART (LBPHA) setiap bulan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Terutama untuk mencegah penularan melalui darah dan cairan tubuh, seperti: HIV dan HBV → juga patogen lainnya. Jarum suntik dengan jenis jarum apa pun dan tingkat paparan apa pun dari sumber yang status HIV-nya tidak diketahui dan faktor risikonya tidak diketahui, tetapi dianggap sebagai sumber HIV.
Pencatatan Pelaporan
LOGISTIK
KESELAMATAN PASIEN
Cuci tangan mencegah infeksi silang
KESELAMATAN KERJA
Faktor yang Mempengaruhi
Indikasi Pemberian PPP
Selaput lendir terkena sejumlah besar darah yang terinfeksi HIV dari sumber HIV+ yang bergejala. Tusuk jarum suntik dengan jenis jarum apa pun dan dengan tingkat paparan yang berbeda-beda dari sumber yang status HIV-nya tidak diketahui, namun merupakan faktor risiko HIV. Selaput lendir terkena darah dalam jumlah berapa pun dari sumber yang tidak diketahui status HIVnya dan mempunyai faktor risiko HIV.
Selaput lendir terkena darah dalam jumlah berapapun dari sumber yang status HIV-nya tidak diketahui, namun sumber tersebut dianggap sebagai sumber HIV. Tes antibodi dilakukan pada minggu ke 6, minggu ke 12, dan bulan ke 12. Dapat diperpanjang hingga 12 bulan. 8. Aspek penatalaksanaan.
PENGENDALIAN MUTU
Penilaian internal atau eksternal dapat menggunakan daftar sederhana apakah layanan PDP memenuhi persyaratan standar minimum yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan WHO. Modul Materi Pelatihan Kolaborasi Tuberkulosis dan HIV Bagi Petugas Fasilitas Kesehatan. – Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.2013.
PENUTUP