• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Monkeypox

N/A
N/A
Farid Ayumi

Academic year: 2023

Membagikan "Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Monkeypox"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

Sharifah Shakinah, SpPD; Dr Ni Luh Putu Pitawati, SpKK; Dr Teguh Sarry Hartono, SpMK; Dr. Muchtar Nasir, M.Epid ; Ibrahim, SKM, MPH; Kursianto, SKM, M.Si; Thomas Aquinaldo MS, SKM; Perimisdilla Syafri, SKM; Leni Mendra, SST, M.Kes; Rizqy Fauzia; Dwi Annisa Fajria, SKM; Adistikah Aqmarina, SKM; Maulidiah Ihsan, SKM; Dr Mushtofa Kamal MSc; Dr. Puji dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya, revisi Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Cacar Monyet telah selesai dilakukan.

Penyakit cacar monyet merupakan zoonosis baru yang disebabkan oleh virus cacar monyet yang endemik di Afrika Tengah dan Afrika Barat. WHO telah menerima pemberitahuan adanya cacar monyet dari negara-negara non-endemis di 4 wilayah (Eropa, Amerika, Mediterania Timur, dan Pasifik Barat) tanpa riwayat perjalanan dari negara-negara endemik. Penelitian terus dilakukan untuk mengetahui pola penularan dari manusia ke manusia di negara-negara non-endemis.

Mengingat potensi penularan seperti di negara non-endemis, importasi kasus, dan kemungkinan penularan cacar monyet pada hewan di Indonesia, maka diperlukan kewaspadaan dan kesiapsiagaan di Indonesia. Sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit ini, pedoman pencegahan dan pengendalian cacar monyet telah direvisi, diadaptasi dari referensi WHO dan berbagai literatur.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

WHO memperkirakan bahwa lebih banyak kasus cacar monyet akan teridentifikasi seiring dengan meningkatnya pengawasan di negara-negara non-endemis. Sejauh ini, penyelidikan dan kajian lebih lanjut masih dilakukan untuk lebih memahami epidemiologi, sumber penularan, pola penularan di negara-negara non-endemis yang melaporkan kasus. Namun dengan adanya laporan penularan dari manusia ke manusia di negara non-endemis, kemungkinan adanya impor kasus dari negara tertular, dan kemungkinan adanya hewan menular di Indonesia, maka dipandang perlu bagi Indonesia sebagai negara non-endemik. untuk bersiap menghadapi penyakit cacar monyet mengingat situasi saat ini.

Oleh karena itu, untuk pencegahan dan pengendalian penyakit cacar monyet yang memadai, perlu disusun suatu pedoman yang dapat menjadi acuan bagi petugas kesehatan.

Tujuan

Ruang Lingkup

GAMBARAN UMUM

  • Situasi Epidemiologi
    • Situasi di Negara Endemis
    • Situasi di Negara Non Endemis
  • Etiologi, Host, dan Reservoir
  • Penularan
  • Gambaran Klinis Penyakit
  • Diagnosis
  • Pengobatan dan Vaksinasi
  • Pencegahan

Pada tanggal 7 Mei 2022, Inggris juga melaporkan 1 (satu) kasus cacar monyet pada seorang warga negara Inggris yang melakukan perjalanan dari Nigeria. Pada 13 Mei 2022, Focal Point IHR Inggris melaporkan kepada WHO bahwa terdapat kasus clustering dalam keluarga. Investigasi masih berlangsung, namun kasus yang dilaporkan sejauh ini tidak memiliki riwayat perjalanan dari negara endemis.

2 Sebaran kasus terkonfirmasi dan suspek cacar monyet di negara non-endemis Gambar dikutip dari WHO, 29 Mei 2022 Berdasarkan laporan ECDC tanggal 25 Mei 2022 menunjukkan bahwa total 118 kasus yang dilaporkan dari Eropa sebagian besar terjadi pada pria muda dan ada tidak ada kematian. Agen penyebab penyakit cacar monyet adalah virus cacar monyet (MPXV), yang termasuk dalam genus Orthopoxvirus dari keluarga Poxviridae.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi sumber pasti virus Monkeypox dan bagaimana virus tersebut bertahan di alam liar. Pada kasus yang terjadi di Amerika Serikat, kasus pertama tertular oleh seekor anjing padang rumput (sejenis hewan pengerat eksotik yang dipelihara di penangkaran), yang diyakini tertular virus cacar monyet tikus yang berasal dari Afrika.

Tabel 2. 1 Jumlah Kasus Monkeypox di Berbagai Negara  Sumber: WHO per 29 Mei 2022
Tabel 2. 1 Jumlah Kasus Monkeypox di Berbagai Negara Sumber: WHO per 29 Mei 2022

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

  • Definisi Operasional Kasus
    • Suspek
    • Probable
    • Konfirmasi
    • Discarded
    • Kontak Erat
  • Penemuan Kasus
    • Penemuan Kasus di Pintu Masuk
    • Penemuan Kasus di Wilayah
  • Manajemen Kesehatan Masyarakat
    • Kasus Suspek, Probable dan Konfirmasi
    • Kontak Erat
  • Penyelidikan Epidemiologi
  • Pelacakan Kontak
    • Tahapan Pelacakan
    • Pemantauan Tenaga Kesehatan dan Orang Yang Merawat (Caregiver)
  • Surveilans Zoonosis Terpadu
  • Penilaian Risiko
  • Pencatatan dan Pelaporan

Kegiatan deteksi kasus cacar monyet baik di pintu masuk maupun area dilakukan dengan mengidentifikasi kasus suspek, probable, konfirmasi, dan kontak erat. Sumber media cetak atau elektronik nasional untuk mewaspadai rumor atau perkembangan berita terkait cacar monyet. Kegiatan penemuan kasus di pintu masuk dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kasus yang melalui pintu masuk negara, antara lain pelabuhan, bandar udara, dan Pos Lintas Batas Darat Negara (PLBDN).

Secara umum, kegiatan pencarian kasus cacar monyet di pintu masuk diawali dengan deteksi kasus suspek/probable/konfirmasi pada pelaku perjalanan. Jika terdeteksi kasus suspek/probable/konfirmasi, Kantor Kesehatan Pelabuhan (PHO) harus berkoordinasi dengan pihak maskapai untuk mengidentifikasi kontak erat, termasuk identifikasi penumpang dari wilayah yang sama dengan kasus tersebut. Terhadap kontak erat yang teridentifikasi, KKP wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal P2P melalui PHEOC dalam waktu ≤ 24 jam dan tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Daerah/Kota Formulir Pemberitahuan Wisatawan (Lampiran 1. Pemberitahuan Wisatawan). formulir laporan).

Kegiatan pencarian kasus di wilayah tersebut dapat dilakukan di fasilitas kesehatan (fasyankes) maupun di masyarakat. Selanjutnya dilakukan manajemen kasus dan fasilitas kesehatan dalam waktu 24 jam harus memberitahukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota/Provinsi dan Ditjen P2P dengan tembusan PHEOC dengan menggunakan Formulir Laporan Temuan Kasus cacar monyet di wilayahnya (Lampiran 2 Formulir Laporan untuk melaporkan kasus cacar monyet di wilayah tersebut). Hal ini dilakukan dengan menyiapkan tim investigasi atau disebut tim aksi cepat (TGC), formulir investigasi dan pelacakan epidemiologi (Lampiran 4. Formulir Investigasi Epidemiologi Penyakit Cacar Monyet) dan dukungan logistik, termasuk APD, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). ) media, surat tugas dan mungkin obat-obatan.

Tanyakan kepada penderita tentang kemungkinan riwayat paparan, termasuk apakah pernah ditemukan kasus cacar monyet yang terkonfirmasi di suatu lokasi. Sementara penyelidikan sedang berlangsung, petugas harus memulai upaya respons awal untuk mencegah penyebaran penyakit ke wilayah yang lebih luas, termasuk komunikasi risiko, isolasi kasus kontak dekat, dan pengendalian faktor risiko. Hasil penyelidikan epidemiologi dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota setempat dan Direktorat Jenderal P2P dengan tembusan kepada PHEOC.

Anda harus mengisi rincian kontak seperti nama lengkap, umur, alamat lengkap, nomor telepon, tanggal kontak terakhir, dll sesuai dengan formulir pemantauan harian (Lampiran 3. Formulir pemantauan harian untuk kontak dekat). Penilaian risiko penyakit cacar monyet adalah proses sistematis pengumpulan, penilaian, dan pendokumentasian informasi untuk menentukan tingkat risiko penyakit cacar monyet di suatu daerah. Kasus baru (suspek/probable/konfirmasi dan kontak dekat) yang ditemukan oleh institusi pelayanan kesehatan baik di area maupun di pintu masuk harus didaftarkan dan dilaporkan melalui formulir pelaporan di area atau pelaku perjalanan (lampiran 1 dan 2) ≤24 jam ke GGD Darurat Operation Center (PHEOC) melalui telepon/WhatsApp atau email: [email protected] dan tembusan ke dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota.

Apabila dinas kesehatan melaporkan/memberitahukan adanya kasus yang mempunyai riwayat perjalanan dari negara/wilayah terjangkit, maka CCP memberikan daftar kontak erat kepada PHEOC dan CCP setempat, yang kemudian diteruskan ke dinas kesehatan kabupaten/kota tempat penutupan. kontak berdomisili untuk pelacakan lebih lanjut. Hasil penyelidikan epidemiologi lengkap termasuk data individu mengenai kasus terkonfirmasi dilaporkan ke dinas kesehatan provinsi dan kabupaten setempat.

Tabel 3. 1 Manajemen Kesehatan Masyarakat  Karantina  Isolasi  Pemeriksaan
Tabel 3. 1 Manajemen Kesehatan Masyarakat Karantina Isolasi Pemeriksaan

TATA KELOLA SPESIMEN

  • Jenis Spesimen
  • Tata Cara Pengambilan Spesimen
    • Swab Tonsil/Orofaring
    • Swab Vesicular Lesi (Cairan Lesi)
    • Krusta atau Keropeng Kulit
    • Kulit Bagian Atas Lesi / Lesion Roof
    • Serum Akut, Konvalesen Dari Darah Vena
  • Pelabelan Spesimen
  • Prosedur Penanganan Limbah Pasca Pengambilan Spesimen
  • Tata Cara Pengepakan dan Pengiriman Spesimen
    • Alat dan Bahan
    • Langkah-Langkah Pengepakan dan Pengiriman
  • Metode Pemeriksaan Spesimen

Deteksi antibodi dari plasma atau serum dapat digunakan untuk mendeteksi cacar monyet, namun tidak boleh digunakan sendiri. Letakkan remah dalam tabung steril/cryovial, 2 buah kerak/badan dalam satu tabung steril/cryovial. Cryotube steril 1,8 ml, Swab Dacron steril, Label, Jarum atau pisau bedah 26 G, Larutan garam steril, Kapas alkohol, dengan atau tanpa media pengangkut virus.

Cryotube steril / 1,8 ml, jarum atau pisau bedah 26 G, kapas alkohol, label, dengan atau tanpa media pengangkut virus. Setiap botol sampel harus memiliki label yang berisi informasi nama, umur, jenis kelamin, tanggal pengambilan sampel dan jenis sampel. Jas laboratorium yang digunakan untuk pengambilan spesimen diperlakukan dengan cara yang sama seperti linen terkontaminasi yang digunakan oleh pasien.

Penanganan limbah infeksius pada saat pengambilan sampel harus disesuaikan dengan prosedur penanganan limbah medis sesuai ketentuan yang berlaku. Cara pengemasan dan pengiriman spesimen untuk keperluan diagnostik harus sesuai dengan ketentuan WHO dan Standard Rules for Packaging Infectious Specimen International Air Transport Association (IATA) yaitu dengan prinsip triple package dengan menggunakan kode label UN2814 "INFECTIOUS ZAT, IMPORTING ORANG" - TIDAK BOLEH DIBUKA dengan alat dan bahan yang disebutkan di atas. Bungkus cryotube yang berisi spesimen dengan tisu bersih dan masukkan ke dalam klip plastik (zip lock).

Jika sampelnya beberapa, sampel dimasukkan ke dalam klip plastik (zip lock) yang berbeda. Tempatkan dalam wadah kedap air menggunakan kemasan spesifikasi UN4GU/CLASS 6.2 atau yang setara. Pengemasan sampel dilakukan sesuai dengan pedoman WHO untuk bahan menular kategori A dengan menggunakan standar UN2814.

Kasus terduga/probabilitas bayi monyet dimasukkan ke dalam kantong plastik besar dan ditempelkan pada bagian atas kotak. Pemeriksaan sampel kasus suspek/probable cacar monyet dilakukan oleh laboratorium rujukan nasional atau laboratorium kesehatan lain yang ditunjuk. Metode investigasi yang digunakan dalam pedoman WHO adalah deteksi materi genetik genus Orthopoxvirus yang dikonfirmasi dengan deteksi spesies cacar monyet menggunakan PCR dan/atau sekuensing.

Tabel 4. 1 Ringkasan Jenis Spesimen  Jenis
Tabel 4. 1 Ringkasan Jenis Spesimen Jenis

MANAJEMEN KLINIS

Perawatan Penderita

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Hindari kontak langsung tanpa alat pelindung diri dengan pasien, feses atau sampel yang diambil dari pasien, serta dengan lingkungan yang mungkin terkontaminasi feses/cairan tubuh pasien. Setiap profesional kesehatan atau orang yang merawat kasus suspek, probabel, atau terkonfirmasi harus memantau kondisi pribadinya untuk mengetahui perkembangan gejala selama 21 hari setelah tanggal pengobatan/kontak terakhir.

Pemulasaraan Jenazah

KOMUNIKASI RISIKO DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Hal ini mengurangi risiko infeksi bagi wisatawan yang bepergian ke negara-negara non-endemik (terutama penularan dari manusia ke manusia). Jika ada yang mengalami ruam, demam, atau sakit, sebaiknya segera menghubungi fasilitas kesehatan setempat. Pengasuh harus menggunakan APD yang sesuai, seperti memakai masker, serta membersihkan benda dan permukaan yang disentuh pasien.

Setiap orang yang mengalami gejala ruam harus segera melaporkannya ke fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk informasi tambahan tentang perjalanan terakhir, riwayat seksual, riwayat kontak dengan hewan, dan informasi lain yang diperlukan. Monkeypox - Meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat terhadap ancaman zoonosis yang mematikan bagi manusia di era pasca-cacar. Catatan: Formulir ini diisi oleh Petugas Karantina di KKP dan dikirimkan ke dinas kesehatan setempat dan ditembuskan ke PHEOC.

Formulir ini diisi oleh fasilitas kesehatan yang menemukan kasus, yaitu puskesmas, rumah sakit, klinik, dan fasilitas kesehatan lainnya. Alamat tempat tinggal Anda penting untuk diisi karena merupakan dasar penetapan tempat ditemukannya kasus dan berkaitan dengan fokus area penyelidikan epidemiologi. Catatan: Formulir ini diisi oleh petugas kesehatan di lokasi pemantauan dan dikirimkan ke dinas kesehatan setempat. Nama JK NIK Usia Tempat Tinggal no.

Gambar

Gambar 2. 1 Negara-Negara yang Melaporkan Kasus Monkeypox 1970-2017  Gambar dikutip dari Durski, et al
Tabel 2. 1 Jumlah Kasus Monkeypox di Berbagai Negara  Sumber: WHO per 29 Mei 2022
Gambar 2. 2 Sebaran Kasus Konfirmasi dan Suspek Monkeypox di Negara Non Endemis  Gambar dikutip dari WHO, 29 Mei 2022
Gambar 2. 3 Beberapa Bentuk Virus Monkeypox
+7

Referensi

Dokumen terkait

The function produces the resulting plot where the bar chart represents each groups' average rating of work hours sorted from highest to lowest, and the line represents a