Buku Panduan
Dini
Penemuan
Kanker
Pada Anak
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI
Tahun 2023
Buku Panduan
Dini
Penemuan
Kanker
Pada Anak
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI
Tahun 2023
Berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa, Buku Pedoman Penemuan Kanker pada Anak ini dapat tersusun. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi peningkatan kualitas hidup anak di Indonesia karena anak merupakan harta yang paling berharga bagi keluarga serta bekal penerus masa depan bangsa.
Kanker pada anak di negara berkembang termasuk di Indonesia masih memerlukan penanganan yang serius karena angka kesembuhan atau kesintasan pada anak yang masih rendah. Hal ini terjadi karena Kanker Anak terdeteksi pada stadium lanjut sehingga penanganannya tidak memberikan hasil yang optimal.
Berbeda dengan kondisi penanganan kanker anak di negara maju yang telah mencapai angka kesembuhan yang tinggi dikarenakan berhasilnya upaya penemuan dini dan penanganan yang tepat.
Pedoman Penemuan Kanker pada Anak ini disusun sebagai upaya membenahi pengendalian kanker pada anak di Indonesia terutama dengan memulai Penemuan Dini di masyarakat. Petugas kesehatan diharapkan dapat menemukan kanker pada anak pada stadium dini, dan merujuk ke penanganan lebih lanjut sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan rujukan.
Dalam melaksanakan program ini, selain petugas kesehatan, perlu juga menggerakkan potensi masyarakat sesuai kapasitasnya.
ii
DIREKTUR JENDERAL PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT
Sambutan
Semoga Pedoman ini dapat menjadi acuan kegiatan pengendalian kanker pada anak yang mampu laksana serta berkualitas di layanan kesehatan serta di masyarakat. Pada akhirnya diharapkan upaya pengendalian kanker anak melalui penemuan dini dan penanganan yang tepat dapat meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka kematian kanker pada anak di Indonesia.
Jakarta, Januari 2023 Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
DIREKTUR PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya, maka buku Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak ini dapat selesai disusun. Pedoman ini disusun sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan penemuan dini kanker pada anak, mengingat kanker pada anak seringkali terlambat didiagnosis sehingga menyebabkan angka kematian kanker anak menjadi tinggi. Pada cetakan sebelumnya, Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak membahas 6 jenis kanker anak, yaitu Leukemia, Retinoblastoma, Kanker Nasofaring, Kanker Tulang, Neuroblastoma, dan Limfoma Maligna, namun seiring berkembangnya jenis kanker anak di Indonesia, maka pada pedoman ini ditambahkan dua jenis kanker anak lainnya yaitu Kanker Otak dan Tumor Wilms.
Sebagaimana komitmen dunia melalui The WHO Global Initiative for Childhood Cancer mengharapkan meningkatnya kesembuhan kanker pada anak. Kenyataan di negara berkembang hanya 20% kanker anak dapat disembuhkan dibandingkan dengan negara maju dimana 80% kanker anak dapat disembuhkan. Sejalan dengan tujuan WHO maka Indonesia juga berkomitmen serta berupaya meningkatkan keberhasilan pengendalian kanker anak. Diharapkan dengan terbitnya Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak merupakan kunci keberhasilan pengendalian kanker anak secara komprehensif dimulai dari penemuan dini hingga mendapatkan tatalaksana yang tepat.
iv
Kata Pengantar
Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak ini berisi panduan mengenali tanda dan gejala penting kanker pada anak agar petugas kesehatan maupun pihak yang terkait dapat melakukan penemuan dini kanker pada anak yang dapat diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan serta di komunitas.
Manfaat lebih luas lagi diharapkan kewaspadaan kanker pada anak bagi orang tua dan masyarakat di sekitar kita juga turut meningkat sehingga penanganan kanker pada anak tidak terlambat.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi ilmu pengetahuan serta pengalaman yang aplikatif sehingga tersusunnya pedoman ini.
Tiada suatu yang sempurna sehingga kami mengharapkan masukan, saran serta kritik untuk perbaikan pedoman ini ke depannya demi tercapainya pengendalian kanker anak yang lebih baik lagi.
Semoga buku pedoman ini dapat bermanfaat dalam upaya pengendalian kanker pada anak di Indonesia sehingga meningkatkan angka kesintasan, perbaikan kualitas hidup, serta menurunkan angka kematian akibat kanker anak.
Jakarta, Januari 2023 Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular
Dr. Eva Susanti, S.Kp, M.Kes Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
vi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
SAMBUTAN... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 3
Sasaran ... 3
Landasan Hukum ... 4
Ruang Lingkup ... 5
BAB II KANKER PADA ANAK ... 6
2.1 Leukimia ... 6
A. Pengertian ... 6
B. Epidemiologi ... 6
C. Gejala dan Tanda ... 7
D. Diagnosis ... 9
E. Tata Laksana ... 10
Limfoma Maligna ... 10
A. Pengertian ... 10 2.2
2.3
2.4
2.5
B. Epidemiologi ... 10
C. Tanda dan Gejala ... 11
D. Diagnosis ... 13
E. Tata Laksana ... 14
Retinoblastoma... 14
A. Pengertian ... 14
B. Epidemiologi ... 14
C. Tanda dan Gejala ... 15
D. Diagnosis ... 17
E. Tes Refleks Fundus (Tes Lihat Merah) ... 18
F. Tata Laksana ... 19
Tumor Otak ... 19
A. Pengertian ... 19
B. Epidemiologi ... 19
C. Tanda dan Gejala ... 19
D. Diagnosis ... 21
E. Tata Laksana ... 22
Tumor Wilms (Nefroblastoma) ... 22
A. Pengertian ... 22
B. Epidemiologi ... 23 Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
2.6
2.7
2.8
C. Tanda dan Gejala ... 23
D. Diagnosis ... 24
E. Tata Laksana ... 25
Neuroblastoma ... 25
A. Pengertian ... 25
B. Epidemiologi ... 25
C. Tanda dan Gejala ... 26
D. Diagnosis ... 27
E. Tata Laksana ... 29
Osteosarkoma ... 29
A. Pengertian ... 29
B. Epidemiologi ... 29
C. Tanda dan Gejala ... 29
D. Diagnosis ... 32
E. Tata Laksana ... 33
Karsinoma Nasofaring ... 33
A. Pengertian ... 33
B. Epidemiologi ... 34
C. Tanda dan Gejala ... 34
D. Diagnosis ... 36
viii
4.1
E. Tata Laksana ... 37
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak BAB III UPAYA PENEMUAN DINI DI MASYARAKAT... 38
BAB IV PENGORGANISASIAN DAN SISTEM RUJUKAN... 46
BAB VI PENUTUP ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... ix
TIM PENYUSUN ... xii
Pengorganisasian ... 46
Alur Penemuan Dini Kanker Pada Anak ... 50
Sistem Rujukan ...51
Sistem Pembiayaan ... 51
4.2 4.3 4.4 BAB V MONITORING DAN EVALUASI ... 72
5.1 Pencatatan dan Pelaporan ... 52
Monitoring dan Evaluasi ... 61 5.2
x
Pendahuluan
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
BAB I
1.1
Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia.
Setiap tahunnya, diestimasikan 400.000 anak dan remaja usia 0-19 tahun menderita kanker. Berdasarkan publikasi Globocan pada tahun 2020, diestimasikan terdapat 11.156 kasus baru kanker anak pada usia 0- 19 tahun di Indonesia, dengan kasus terbanyak adalah Leukemia yakni terdapat 3.880 kasus atau sebanyak 35%, diikuti oleh Limfoma Non- Hodgkin dan Tumor Otak (Globocan, 2020; WHO, 2021).
Kanker merupakan penyebab kematian utama pada anak dan remaja. Pada negara dengan penghasilan tinggi (high-income countries), di mana terdapat layanan yang komprehensif dengan akses yang mudah dijangkau, lebih dari 80% kanker pada anak dapat disembuhkan. Sedangkan pada negara dengan penghasilan rendah dan menengah (low- and middle-income countries), kurang dari 30% kasus kanker anak yang dapat disembuhkan, termasuk di Indonesia. Hal ini umumnya terjadi karena keterlambatan diagnosis akibat terhambat untuk mengakses perawatan (WHO, 2021).
Batasan umur anak yang dimaksud pada buku pedoman ini berdasarkan Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 Nopember 1990, Bagian 1 Pasal 1; adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. Anak menurut Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 1 ayat 1, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
1
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penemuan dini kasus kanker anak merupakan kunci keberhasilan penanggulangan kanker pada anak. Ketika diidentifikasi lebih awal, kanker lebih cenderung merespons pengobatan sehingga lebih efektif dan menghasilkan kemungkinan bertahan hidup yang lebih besar, penderitaan yang lebih sedikit, dengan pembiayaan yang lebih murah.
Perbaikan yang signifikan dapat dilakukan dalam kehidupan anak-anak penderita kanker dengan mendeteksi kanker sejak dini dan menghindari keterlambatan dalam perawatan.
Penemuan dini kanker anak ini terdiri dari 3 komponen, salah sa- tunya adalah kesadaran akan gejala oleh keluarga dan petugas pelayanan kesehatan dimana umumnya kanker anak dikaitkan dengan berbagai gejala peringatan, seperti demam, sakit kepala berat dan terus-menerus, nyeri tulang dan penurunan berat badan, yang dapat dideteksi oleh keluarga dan penyedia layanan kesehatan.
WHO menargetkan 60% anak penderita kanker dapat diselamat- kan pada tahun 2030. Apabila hal ini tercapai maka sebanyak 1 juta anak dengan kanker di seluruh dunia dapat diselamatkan di dekade berikutnya.
Oleh karena itu, diperlukan Pedoman Penemuan Dini Kanker Pada Anak Bagi para tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak pertama kali dikeluarkan pada tahun 2011.
Namun, untuk merespon kondisi terkini kasus kanker anak, pedo- man ini dilakukan pembaharuan dengan menambahkan data epidemiologi dan daftar tilik (diadopsi dari WHO tahun 2018) yang berisi pertanyaan secara sistematis sebagai pedoman/rujukan bagi semua kompleksitas permasalahan kanker pada anak. Diharapkan buku pedoman ini meningkatkan penemuan dini kanker anak lebih efektif.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
1.2
1.3
Buku pedoman ini diprioritaskan pada 8 jenis kanker pada anak, yaitu Leukemia, Limfoma, Retinoblastoma, Tumor Otak, Tumor Wilms, Neuroblastoma, Osteosarkoma dan Karsinoma Nasofaring.
Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Meningkatkan upaya penemuan stadium dini kanker pada anak.
1.2.2 Tujuan Khusus
Sasaran
1.3.1 Sasaran Langsung
1.3.2 Sasaran Tidak Langsung
3 Terselenggaranya kegiatan pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak di masyarakat
Terselenggaranya penemuan dini yang sistematis dan tata laksana kanker pada anak sesuai jenjang fasilitas pelayanan kesehatan
Terselenggaranya sistem pencatatan, pelaporan, monitoring, dan evaluasi program sesuai jenjang fasilitas pelayanan kesehatan
a.
b.
c.
Petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan pemerin- tah/swasta.
Pengelola program Pengendalian Penyakit Tidak Menular di pusat dan daerah
Pengelola Program UKS Puskesmas Pengelola Program PKPR Puskesmas Pengelola Unit Layanan MTBS Puskesmas Pengelola Unit Layanan Anak
Pengelola Unit Layanan 24 Jam Unit Pelayanan Teknis (UPT) Lembaga Swadaya Masyarakat Organisasi profesi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
1.4 Landasan Hukum
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak meliputi tanda dan gejala, diagnosis, tata laksana, rujukan sesuai jenjang fasilitas pelayanan kesehatan serta pencatatan pelaporan pada 8 jenis kanker anak yang paling banyak serta mudah dikenali melalui gejala dan tandanya, yaitu Leukemia, Retinoblastoma, Neuroblastoma, Limfoma, Karsinoma Nasofaring, Osteosarkoma, Tumor Otak dan Tumor Wilms.
Pemerhati kanker anak
Keluarga penderita kanker anak Masyarakat
j.
k.
l.
Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 tahun 2022 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2019 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2016 Tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter dan Dokter Gigi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
5
Kanker Pada Anak
BAB II
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Kanker pada anak awalnya sulit ditemukan, oleh karena itu sangat penting untuk mewaspadai tanda dan gejalanya. Minimal, terdapat 8 (delapan) jenis kanker pada anak yang perlu diketahui, yaitu: 6
BAB II
KANKER PADA ANAK
2.1 Leukimia
Leukemia merupakan keganasan darah yang berasal dari sumsum tulang, yang ditandai dengan proliferasi berlebihan dari sel darah yang abnormal (sel blast) sehingga menyebabkan gangguan produksi sel darah normal. Leukemia dibagi atas:
A. Pengertian
Leukemia Akut:
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), Leukemia Mieloblastik Akut (LMA) Leukemia Kronis:
Leukemia Mielositik Kronik (LMK) 1.
2.
B. Epidemiologi
Leukemia adalah keganasan terbanyak pada anak, sekitar 30-40%
dari seluruh kanker anak dengan puncak kejadian pada usia 2-5 tahun. Di negara berkembang, sekitar 83% kasus leukemia adalah LLA dan 17% adalah LMA.
Data di Indonesia menunjukkan insiden Leukemia sekitar 4 per 100.000 anak dengan estimasi jumlah kasus baru sekitar 2.000-3.200 per tahun (Globocan, 2020). Pada tahun 2021, terdapat sekitar 503 kasus LLA (34,7%), 109 kasus LMA (7,5%), dan 43 kasus LMK (3%) dari 1.447 pasien kanker anak yang teregistrasi di Indonesia (Indonesian Pediatric Cancer Registry/ IP-CAR, 2022).
LLA lebih banyak ditemukan pada anak kulit putih dibandingkan anak kulit hitam. Insiden LLA pada anak laki-laki lebih tinggi 1,15 kali dibanding anak perempuan, sementara pada LMA perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan sama.
7
Pembesaran hati, limpa, kelenjar getah bening.
Nyeri tulang
Perlu menjadi perhatian terhadap anak yang diketahui sudah dapat berdiri dan berjalan, namun tiba-tiba minta digendong saja (tidak mau berdiri dan berjalan lagi)
Kejang hingga penurunan kesadaran Pembesaran testis dengan konsistensi keras
Gangguan produksi sel darah merah menyebabkan anak terlihat pucat, lemah, rewel, dan nafsu makan menurun
Gangguan produksi sel darah putih meningkatkan risiko infeksi dengan gejala demam berulang atau demam lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas. Misalnya, infeksi saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan infeksi kulit.
Gangguan produksi trombosit menyebabkan perdarahan kulit (petekie, hematom), perdarahan spontan (epistaksis, perdarahan gusi), atau manifestasi perdarahan lain (hematemesis, melena, hematuria).
Infiltrasi sel leukemia ke jaringan menyebabkan : Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Gambar 1. Konjungtiva pucat Gambar 2. Telapak tangan pucat C. Gejala dan Tanda
a.
b.
c.
d.
Gambar 3. Pembesaran Kelenjar Getah Bening pada Leher dan Preaurikular
Gambar 4. Hematoma pada Ekstremitas
Gambar 5. Petekie pada Ekstremitas
9
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan Penunjang
Anemia Limfadenopati
Petekie, hematoma, perdarahan gusi, epistaksis, dan manifestasi perdarahan lain (hematemesis, melena, hematuria)
Hepatosplenomegali Pembesaran testis
Darah perifer lengkap : dapat ditemukan anemia, trombositopenia, leukopenia atau leukositosis, hitung jenis limfosit atau monosit
meningkat Pucat
Demam Perdarahan
Pembesaran kelenjar getah bening dan abdomen Nyeri tulang
1.
2.
3.
4.
5.
D. Diagnosis
1.
2.
3.
4.
5.
Jika ditemukan tanda dan gejala seperti di atas dengan 2 dari 3 kelainan pada darah tepi, dapat dicurigai leukemia. Rujuk ke RS ujukan untuk penegakan diagnosis melalui pemeriksaan sumsum
tulang.
2.2
Kemoterapi
Penanganan suportif:
E. Tata Laksana a.
b.
1) Pemberian transfusi komponen darah yang diperlukan 2) Pemberian nutrisi yang baik dan memadai
3) Pemberian antibiotik, anti jamur, dan antivirus bila diperlukan
4) Pendekatan psikososial dan dukungan keluarga.
Limfoma Maligna A. Pengertian
Limfoma Maligna adalah suatu keganasan yang berasal dari kelenjar getah bening atau sistem limfatik lainnya. Berdasarkan gambaran histopatologinya, limfoma dibedakan menjadi Limfoma Hodgkin dan Limfoma Non Hodgkin.
B. Epidemiologi
Di Indonesia, berdasarkan Data IP-CAR tahun 2021, terdapat 43 anak (3%) kasus Limfoma Non Hodgkin. Angka kejadian tertinggi yaitu pada usia 7-10 tahun dan lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki dibanding anak perempuan dengan perbandingan 2,5:1. Meskipun penyebab keduanya belum diketahui, beberapa faktor diduga dapat dianggap sebagai penyebab, seperti infeksi virus (Epstein-Barr Virus) dan imunodefisiensi.
11 Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau pangkal paha dengan konsistensi padat, ukuran > 2 cm, membesar secara cepat, tanpa disertai nyeri, atau pembesaran kelenjar berukuran berapapun di supraklavikula.
Pembesaran kelenjar getah bening di rongga dada yang menyebabkan penekanan saluran napas dan pembuluh darah dengan gejala sesak disertai bengkak di wajah, leher, dan lengan atas (Sindroma Vena Cava Superior)
C. Tanda dan Gejala a.
b.
Gambar 6. Massa pada Leher
Pembesaran kelenjar getah bening di abdomen yang menyebabkan perut membesar, teraba benjolan, dan dapat menimbulkan gejala obstruksi salu ran pencernaan
Demam, keringat malam, lemah, lesu, nafsu makan berkurang, berat badan turun 10% dalam 3 bulan.
a.
b.
c.
d.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Gambar 7. Pembesaran Kelenjar Getah Bening
pada supraklavikula
Gambar 8. Gambaran Massa Mediastinum pada Foto Toraks
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap : umumnya dalam batas normal. Jika ada kelainan mungkin suatu limfoma yang sudah menyebar hingga
sumsum tulang.
Jika fasilitas tersedia, dapat dilakukan pemeriksaan foto toraks
Jika ditemukan tanda dan gejala seperti di atas dapat dicurigai limfoma. Rujuk ke RS rujukan untuk penegakan diagnosis melalui pemeriksaan darah lengkap, LDH, foto toraks, USG abdomen, CT
scan, dan biopsi kelenjar
Limfadenopati yang tidak nyeri berukuran > 2 cm Massa di abdomen
Edema pada wajah, leher, dan lengan atas Dispnea, takipnea
D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
Diagnosis
Benjolan Demam
Keringat malam
Penurunan nafsu makan dan berat badan Sesak napas
Wajah dan leher bengkak
13
2.3
E. Tata Laksana
Retinoblastoma A. Pengertian
B. Epidemiologi
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
C. Tanda dan Gejala
Tata laksana bergantung pada stadium, dapat berupa kemoterapi, operasi, radioterapi, dan terapi target.
Retinoblastoma adalah tumor ganas di dalam bola mata yang berasal dari sel retina dan dapat menyebar ke luar bola mata seperti tulang, sumsum tulang belakang, dan sistem saraf pusat.
Retinoblastoma merupakan tumor mata terbanyak pada anak kurang dari usia 5 tahun dengan insidens tertinggi pada usia 2-3 tahun.
Prevalensi retinoblastoma diperkirakan 1 per 15.000 kelahiran hidup di negara berkembang. Prevalensi retinoblastoma di Indonesia pada tahun 2021 adalah 101 dari 1447 kanker pada anak (IP-CAR, 2022).
Retinoblastoma dapat terjadi pada satu mata (unilateral, 60% kasus) atau dua mata (bilateral). Selain itu, retinoblastoma bisa terjadi di dalam bola mata (intraokuler) atau sudah keluar dari bola mata (ekstraokuler). Sebanyak 15% kasus merupakan penyakit keturunan.
Tanda dan gejala klinis retinoblastoma tergantung stadium, gejala utama adalah Leukokoria (bintik putih pada bagian hitam mata), mata kucing (bagian hitam mata memantulkan cahaya seperti mata kucing saat diberikan sinar/lampu senter), mata juling (strabismus), mata merah dan nyeri pada mata, keluar air mata berlebih, ataupun penurunan tajam penglihatan.
Retinoblastoma stadium awal tidak terdeteksi secara kasat mata kecuali melalui pemeriksaan oftalmoskopi khusus. Mata yang tidak terkena masih berfungsi dengan baik sehingga penurunan penglihatan seringkali tidak disadari orang tua.
a.
b.
Gambar 11. Massa Tumor di dalam Retina Gambar 9. Leukokoria
Gambar 12. Strabismus
15 Gambar 13. dan 14. Proptosis pada Mata
Gambar 10. Leukokoria Tumor dapat menyebar ke jaringan sekitar bola mata (ekstraokuler) sehingga mata menonjol (proptosis).
Penyebaran ke intrakranial ditandai dengan nyeri kepala, muntah, kejang dan penurunan kesadaran. Penyebaran juga dapat terjadi ke sumsum tulang.
c.
d.
1.
2.
3.
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan Penunjang
Anamnesis
Tampak bintik putih pada bagian hitam bola mata.
Mata terlihat seperti mata kucing.
Pandangan kabur, penglihatan ganda, penurunan penglihatan
Leukokoria (bintik putih pada bagian hitam mata)
Mata kucing (bayangan putih yang tampak pada bagian hitam mata saat diberikan sinar atau lampu senter)
Mata juling (Strabismus) yang baru muncul Refleks cahaya menurun atau tidak ada Hifema (darah di bagian bola mata depan) Proptosis (mata menonjol)
Pemeriksaan refleks fundus menggunakan oftalmoskop atau lampu senter
Anamnesis
D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1.
2.
Diagnosis
Fasilitas Pelayanan Kesehatan: darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal. Jika ada kelainan mungkin suatu retinoblastoma yang sudah menyebar hingga sumsum tulang.
RS Rujukan: pemeriksaan oftalmologi lengkap meliputi
pemeriksaan segmen anterior dan posterior oleh dokter spesialis mata, CT scan Kepala atau MRI, aspirasi sumsum tulang, pungsi lumbal
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
E. Tes Refleks Fundus (Tes Lihat Merah) a. Tujuan Pemeriksaan :
Menemukan kelainan segmen posterior mata
b. Pelaksana :
c. Sarana/Prasarana :
d. Cara :
e. Interpretasi dan kriteria rujukan :
17 Tes Lihat Merah dapat dilakukan pada anak mulai dari usia 2 bulan yang dilakukan oleh dokter spesialis anak atau dokter umum yang terlatih dengan teknik pemeriksaan ini.
Ruangan gelap Oftalmoskop direk
Obat tetes mata untuk melebarkan pupil
Pemeriksaan Tes Lihat Merah dilakukan dalam keadaan pupil dilatasi dengan memberikan tetes mata Tropicamide 0,5% atau kombinasi Tropicamide 0,5% atau Phenylephrine 2,5% yang diteteskan pada kedua mata lebih kurang 15 menit sebelum pemeriksaan.
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop direk pada jarak sejauh lebih kurang sejangkauan lengan dari mata anak yang terbuka dan didalam ruangan yang gelap.
Hasil dilaporkan sebagai negatif atau normal bila refleks kedua mata ama dalam hal warna, intensitas dan kejernihan, dan tidak terdapat kekeruhan atau bintik putih (leukokoria) pada area salah satu atau kedua mata.
2.4
F. Tata Laksana
Tumor Otak A. Pengertian
B. Epidemiologi
C. Tanda dan Gejala
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Terapi bergantung pada stadium, meliputi : a. Operasi
b. Terapi lokal (laser fotokoagulasi, termoterapi, krioterapi) c. Kemoterapi lokal dan sistemik
d. Radioterapi
Tumor otak adalah pertumbuhan sel abnormal yang berasal dari jaringan otak atau struktur di sekitarnya, dapat berasal dari sel otak itu sendiri (tumor otak primer) maupun metastasis dari tumor di bagian tubuh lain (tumor otak sekunder).
Secara global, tumor otak adalah tumor padat terbanyak pada anak.
Di Amerika dan Eropa, insiden tumor otak bervariasi antara 1-5 per 100.000 anak dan lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki. Data di Indonesia tahun 2021 - 2022 menurut IP-CAR Tahun 2022, terdapat 129 kasus tumor otak pada anak.
Gejala yang timbul bergantung dari lokasi dan pertumbuhan tumor, dapat berupa :
Sakit kepala yang menetap atau memberat, dapat membangunkan anak saat tidur atau muncul saat bangun tidur di pagi hari. Gejala dapat disertai dengan mual dan muntah yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
Gangguan penglihatan (pandangan kabur, penglihatan ganda, kebutaan mendadak).
Kejang tanpa demam atau kejang tanpa kelainan neurologis yang mendasari dan bersifat progresif.
Kelemahan unilateral (salah satu anggota badan atau satu sisi tubuh)
Wajah mencong (asimetris) a.
b.
c.
d.
e.
Gambar 14. Massa Tumor Otak pada CT scan kepala
19 Perubahan kesadaran atau status mental (perubahan perilaku, kebingungan)
Kehilangan keseimbangan saat berjalan
Kesulitan berbicara (bicara gagap, pelo, atau kehilangan kemampuan bicara)
f.
g.
h.
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan Penunjang
Sakit kepala Mual dan muntah
Pandangan kabur, penglihatan ganda, kebutaan mendadak Kejang Kelemahan pada satu sisi tubuh
Wajah mencong
Perubahan kesadaran atau status mental (perubahan perilaku, kebingungan)
Kehilangan keseimbangan saat berjalan
Kesulitan berbicara (bicara gagap, pelo, atau kehilangan kemampuan bicara)
D. Diagnosis
Pemeriksaan GCS
Mata : anisokor, refleks cahaya menurun, gangguan lapang pandang
Wajah : asimetri, parese nervus cranialis
Pemeriksaan neurologis (refleks fisiologis, refleks patologis, kekuatan motorik, sensorik, dan tonus otot)
Pemeriksaan rangsang meningeal Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Fasilitas Pelayanan Kesehatan : Pemeriksaan darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal.
RS Rujukan : Pemeriksaan darah, pemeriksaan cairan serebrospinal , MRI atau CT Scan kepala, histopatologi atau biopsi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1.
2.
3.
4.
6.
1.
2.
2.5
E. Tata Laksana
Tumor Wilms (Nefroblastoma) A. Pengertian
B. Epidemiologi
21 Anti nyeri (Parasetamol oral dengan dosis 10-15 mg/kg tiap 6 jam atau Ibuprofen oral dengan dosis 5-10 mg/kg tiap 6-8 jam)
Anti kejang (Diazepam rektal dengan dosis 0,5-0,75 mg/kg atau Diazepam rektal dosis 5 mg diberikan untuk anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan dosis 10 mg untuk berat badan lebih dari 12 kg)
Operasi Radioterapi Kemoterapi
Tatalaksana awal di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat diberikan :
a.
b.
a.
b.
c.
Tatalaksana di RS rujukan :
Tumor Wilms atau nefroblastoma adalah tumor embrional yang berasal dari ginjal.
Tumor Wilms adalah tumor ginjal yang terbanyak pada anak.
Sekitar 80% tumor ini terjadi pada anak dibawah usia 6 tahun, dengan puncak insiden pada umur 2-3 tahun. Sebagian besar kasus mengenai satu ginjal. Berdasarkan Data Globocan Tahun 2020, diestimasikan terdapat 14.590 kasus baru tumor ginjal pada anak di dunia. Berdasarkan IP-CAR, di Indonesia pada tahun 2021 didapatkan 49 kasus Tumor Wilms dari 1.447 pasien kanker anak (3,4%).
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Massa intra abdomen berbatas tegas, tidak melewati garis tengah Hematuria
Hipertensi Aniridia
Benjolan di satu sisi perut Buang air kecil kemerahan
Penurunan berat badan dan nafsu makan Diagnosis
C. Tanda dan Gejala
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
D. Gambar 15. Hemihipertrofi
Teraba massa padat atau kenyal di sisi kiri atau kanan perut yang tidak disertai nyeri
BAK berdarah (hematuria) Hipertensi
Anemia, penurunan berat badan, demam, tidak nafsu makan Dapat disertai Infeksi saluran kemih
Dapat disertai kelainan bawaan lainnya, seperti aniridia, hemihipertrofi, anomali saluran kemih atau genitalia, dan retardasi mental (Sindrom WAGR)
Penyebaran utama Tumor Wilms adalah ke paru, dengan gejala sesak napas
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
E. Tata Laksana
Neuroblastoma A. Pengertian
B. Epidemiologi
Pemeriksaan Penunjang
Fasilitas Pelayanan Kesehatan :
Pemeriksaan urinalisis (ditemukan eritrosit dalam urin) dan darah perifer lengkap (umumnya dalam batas normal) RS Rujukan : Pemeriksaan darah, fungsi ginjal, LDH, USG, IVP, CT Scan Abdomen, dan biopsi
23 2.6
C. Tanda dan Gejala 1.
2.
Terapi dapat berupa : Operasi
Radioterapi Kemoterapi a.
b.
c.
Neuroblastoma merupakan tumor ganas yang berasal dari sistem saraf simpatis.
Angka kejadian neuroblastoma adalah 10,5 per 1.000.000 anak dibawah usia 15 tahun. Neuroblastoma tidak ada hubungannya dengan letak geografi dan ras. Pada tahun 2021 tercatat 47 kasus neuroblastoma baru dari 1447 pasien yang teregistrasi (3,2%) di Indonesia (IP-CAR, 2022). Puncak angka kejadian terjadi pada usia dibawah 5 tahun dengan rata-rata pada usia 2 tahun.
Gejala klinis sangat bervariasi bergantung lokasi tumor primer dan penyebarannya. Neuroblastoma paling sering berada di rongga abdomen (kelenjar adrenal), namun dapat ditemukan pada bagian tubuh manapun, seperti kepala, leher, rongga dada, atau medula spinalis. Penyebaran neuroblastoma seringkali ditemukan pada tulang, kelenjar getah bening, sumsum tulang, hati, dan kulit.
a.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Gambar 16. Racoon Eyes
Tumor primer di abdomen (65%) ditandai dengan benjolan di abdomen yang dapat menyebabkan perut membesar dan dapat menimbulkan gejala obstruksi saluran pencernaan Tumor primer di rongga dada dan leher:
- Benjolan pada leher
- Batuk, sesak napas, dan nyeri dada
Sindrom Horner (ptosis unilateral, miosis, anhidrosis/mata kering)
Pembesaran kelenjar getah bening di rongga dada yang menyebabkan penekanan saluran napas dan pembuluh darah dengan gejala sesak disertai bengkak di wajah, leher, dan lengan atas (Sindroma Vena Cava Superior)
Penyebaran ke tulang periorbita : mata menonjol diikuti kebiruan di kelopak mata (hematoma periorbita/raccoon eyes), merupakan tanda khas pada neuroblastoma.
Penyebaran ke tulang : pada tulang kranial dapat menyebabkan benjolan dan pada ekstremitas dapat menyebabkan anak tidak bisa berjalan.
Penyebaran ke paraspinal : nyeri radikuler, lumpuh, gangguan berkemih, dan buang air besar.
Penyebaran pada kulit : benjolan pada kulit (nodul subkutan) Gejala penyerta : pucat, iritabel, lemah, penurunan berat badan, anoreksia, dan demam
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Benjolan atau pembengkakan pada tulang.
Nyeri tulang yang semakin memberat, mengganggu aktivitas, dapat membangunkan anak dari tidur.
Gerakan terbatas pada sendi yang terkena.
Fraktur/patah tulang yang terjadi setelah aktifitas rutin, kadang dapat terjadi tanpa trauma.
Gejala penyerta seperti demam, cepat lelah, berat badan turun, dan pucat
Gambar 17. Penyebaran Neuroblastoma ke Tulang Kepala
25 D. Diagnosis
1.
2.
3.
4.
5.
Tampak berjalan pincang karena rasa sakit.
Massa atau pembengkakan pada tulang. Ekstremitas yang terkena lebih besar dibanding dengan yang normal (harus diukur lingkar pembengkakannya pada lokasi yang sama).
Massa/benjolan teraba lebih hangat akibat peningkatan vaskularisasi di kulit.
Keterbatasan gerak sendi (range of motion) yang terkena.
Sesak napas dapat ditemukan bila sudah terjadi penyebaran ke paru
1.
2.
3.
4.
5.
1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan :
- Foto rontgen pada bagian tulang yang terkena bila tersedia - Pemeriksaan darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal
Rumah Sakit Rujukan :
Pemeriksaan darah, foto polos/CT-scan/MRI tulang, foto toraks, biopsi.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
2.
3.
E. Tata Laksana
Osteosarkoma A. Pengertian
B. Epidemiologi
C. Tanda dan Gejala 2.7
Pemeriksaan Penunjang
Tata laksana tergantung pada stadium, meliputi tindakan operasi, kemoterapi, atau radioterapi.
Osteosarkoma adalah jenis keganasan yang berasal dari sel pembentuk tulang (osteoblast).
Osteosarkoma merupakan jenis keganasan tulang primer yang paling sering dijumpai. Angka kejadian Osteosarkoma adalah 8-11 per 1.000.000 penduduk per tahun pada usia 15-19 tahun.
Osteosarkoma banyak ditemukan pada anak kelompok usia remaja dengan insiden tertinggi pada usia 10 tahun dan lebih sering dijumpai pada anak laki-laki. Pada tahun 2021 tercatat 87 anak (6%) dari seluruh kanker anak di Indonesia (IP-CAR, 2022).
Lokasi tersering Osteosarkoma adalah daerah metafisis tulang panjang dengan rasio pertumbuhan yang cepat, seperti tulang paha / femur distal (42%), tulang kering / tibia proksimal (16%), dan tulang lengan atas / humerus proksimal (15%), meskipun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada semua tulang.
Tanda dan gejala yang dapat ditemukan antara lain:
27 Benjolan atau pembengkakan pada tulang. Ekstremitas yang terkena lebih besar dibanding dengan yang normal. Massa atau benjolan dapat teraba lebih hangat akibat peningkatan vaskularisasi di kulit.
Nyeri tulang yang semakin memberat, mengganggu aktivitas, dapat membangunkan anak dari tidur. Anak tampak berjalan pincang karena rasa sakit.
Keterbatasan gerak sendi (range of motion) yang terkena
Fraktur atau patah tulang yang terjadi setelah aktifitas rutin, kadang dapat terjadi tanpa trauma
Gejala penyerta seperti demam, cepat lelah, berat badan turun, dan pucat
Sesak napas dapat ditemukan bila sudah terjadi penyebaran ke paru a.
b.
c.
d.
e.
f.
Gambar 18. Massa tumor pada femur distal
Gambar 19. Foto tulang Osteosarkoma
Pemeriksaan Fisis Anamnesis
Perut membesar, terasa penuh, dapat disertai rasa nyeri Batuk, sesak napas, nyeri dada
Benjolan pada leher Benjolan pada kepala
Nyeri tulang, lumpuh, gangguan berkemih dan buang air besar Pucat, iritabel, lemah, penurunan berat badan, anoreksia, dan demam
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Teraba benjolan di abdomen Massa pada leher
Benjolan pada kepala
Pembengkakkan di leher akibat penekanan Vena Cava Superior Proptosi disertai kebiruan di kelopak mata (hematoma periorbita/raccoon eyes)
Nodul subkutan
Gambar 20. Penyebaran Osteosarkoma ke paru Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Diagnosis D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pemeriksaan Penunjang
Fasilitas Pelayanan Kesehatan :
Pemeriksaan darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal. Jika ada kelainan mungkin suatu neuroblastoma yang sudah menyebar hingga sumsum tulang
Rumah sakit rujukan :
Pemeriksaan darah, Vanillylmandelic Acid (VMA) urin, USG/CT- scan, biopsi massa, aspirasi sumsum tulang, Meta-
Iodobenzylguanidine (MIBG)
29 1.
2.
E. Tata Laksana
Tata laksana tergantung pada stadium, meliputi tindakan operasi, kemoterapi, atau radioterapi. Pertolongan awal di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dapat diberikan anti nyeri (Parasetamol 10-15 mg/kg/kali tiap 6-8 jam sekali atau Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali tiap 8 jam) dan imobilisasi.
Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas pada nasofaring yaitu daerah antara hidung dan tenggorokan.
Nasofaring berhubungan dengan banyak daerah penting yaitu ke atas dengan rongga tengkorak, ke kanan dan kiri dengan telinga, ke depan dengan hidung dan mulut, serta ke belakang dengan tenggorokan.
Tumor tidak mudah diperiksa dan sering terlambat terdeteksi.
Oleh karena itu, metastasis ke leher lebih sering ditemukan sebagai gejala pertama.
Karsinoma Nasofaring A. Pengertian
a.
b.
c.
2.8
Gambar 21. Anatomi nasofaring dan gambaran nasofaring normal pada pemeriksaan endoskopi
Epidemiologi
Insidensi Karsinoma Nasofaring di dunia kurang dari 1 kasus per 100.000 penduduk. Hampir 60% tumor ganas di kepala dan leher adalah karsinoma nasofaring. Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi karsinoma nasofaring yang tinggi. Laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. Faktor risiko yang sudah diketahui salah satunya adalah infeksi Epstein-Barr Virus. Berdasarkan Data IP-CAR, dari tahun 2015-2021, terdapat 63 kasus Karsinoma Nasofaring pada anak di Indonesia.
Gambar 22.
Massa nasofaring pada pemeriksaan endoskopi Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
B.
C. Tanda dan Gejala
Ingus bercampur darah, pilek dan air ludah yang kental, hidung tersumbat, mimisan.
Penurunan pendengaran (tuli) di satu sisi telinga atau kedua telinga, telinga berdengung (tinitus), nyeri telinga, dan rasa penuh di telinga.
Pembesaran kelenjar getah bening di daerah leher yang teraba keras.
Gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda (diplopia), kelopak mata turun (ptosis).
Kesulitan membuka mulut, gangguan menelan (disfagia).
Gejala sumbatan jalan napas atas misalnya sesak napas, hidung buntu, stridor dan ngorok, serta kesulitan bicara (suara sengau).
Gejala dini : a.
b.
Gejala lanjut : a.
b.
c.
d.
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Gejala nasofaring: ingus bercampur darah, mimisan, hidung tersumbat
Gejala telinga: telinga terasa penuh, berdengung, nyeri telinga, Gejala mata dan saraf: penglihatan ganda
Gangguan menelan
Pembesaran kelenjar getah bening di leher
Pembengkakan kelenjar leher
Sumbatan jalan napas atas terutama hidung dan tenggorokan Gangguan mata (penglihatan ganda)
Gangguan pendengaran
Kesulitan nafas dan kesulitan bicara pada gejala lanjut
30 Gambar 23. Massa leher pada karsinoma nasofaring D.
1.
2.
3.
4.
5.
Diagnosis
1.
2.
3.
4.
5.
e. Kesemutan dan kebas pada daerah wajah (neuropati trigeminal)
Pemeriksaan Penunjang
E. Tata Laksana
Tata laksana dapat meliputi tindakan operasi, kemoterapi, atau radioterapi
Beberapa Kode ICD 10 yang dapat digunakan :
• Suspek leukemia C95.9
• Suspek limfoma C96.9
• Massa kepala, wajah, leher C76.0
• Massa toraks C76.1
• Massa intraabdomen C76.2
• Keganasan tulang dan tulang rawan pada ekstremitas C40
• Retinoblastoma C69.2
• Tumor Otak C71.9
• Wilms tumor C64.1, C64.2, C64.9
• Neuroblastoma C74.9
• Osteosarkoma C40
• Karsinoma Nasofaring C11.9
Fasilitas Pelayanan Kesehatan :
Pemeriksaan darah lengkap umumnya dalam batas normal Rumah Sakit rujukan :
Pemeriksaan darah, serologi virus, pemeriksaan oleh Dokter Spesialis, CT Scan kepala dan leher, dan histopatologi atau biopsi
1.
2.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Upaya Penemuan Dini di Masyarakat
BAB III
33 Posyandu Prima
Institusi pendidikan seperti PAUD, TK, Kelompok Bermain, SD/sederajad, SMP/sederajad, dan SMU/sederajad
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) anak Panti sosial anak
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)/Rumah Tahanan (Rumah Tahanan) anak
Tempat lainnya
Melakukan identifikasi terkait upaya penanggulangan kanker pada anak (prevalensi dan riwayat perjalanan penyakit) sehingga bisa digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan advokasi.
Melakukan advokasi kepada lintas sektor dan pemangku kepentingan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan deteksi dini kanker pada anak. Melakukan pembinaan terhadap kader kesehatan untuk meningkatkan
kapasitas dan pengetahuan kader mengenai kanker pada anak.
Melakukan deteksi dini kanker pada anak dengan menggunakan formulir penemuan dini kanker pada anak.
Melakukan tata laksana awal dan merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut.
Berkolaborasi dengan lintas sektor dan pihak swasta terkait dalam upaya deteksi dini kanker pada anak.
Dalam rangka peningkatan penemuan kasus kanker pada anak lebih dini, perlu kiranya melibatkan para pemangku kepentingan dan unsur- unsur dalam masyarakat untuk mengenali tanda dan gejala 8 (delapan) kanker pada anak. Kegiatan pengenalan dan penemuan dini kanker pada anak dapat dilakukan di:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Tenaga Kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan melaksanakan hal- hal sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
BAB III
UPAYA PENEMUAN DINI DI MASYARAKAT
Identitas (diisi oleh perawat/petugas pendaftaran) Nomor Rekam Medis :
NIK Anak : Nama Anak :
Tanggal Lahir Anak (tgl/bln/thn) : ____/____/____
Jenis Kelamin : L/P
Berat Badan : kg Tinggi Badan : cm Nama Orang Tua :
Alamat :
No Telepon/ HP : Nama Fasyankes :
Tanggal Pemeriksaan (tgl/bln/thn) :
FORMULIR PENEMUAN DINI KANKER PADA ANAK
34 Riwayat Prematur : Ya/Tidak*
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) : Ya/Tidak*
Status Imunisasi Dasar : Lengkap/ Tidak Lengkap* ASI Eksklusif : Ya/Tidak*
Riwayat Kesehatan Orang Tua
Perilaku Merokok/ Paparan Asap Rokok : Ya/Tidak*
Riwayat Kanker Dalam Keluarga Sedarah : Ya/Tidak*
Diisi oleh Dokter, Bidan atau Perawat
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Kemungkinan Kanker atau Penyakit Lain :
36 Dokter,
(…………...………) Kesimpulan
Kecurigaan kanker : Ya / Tidak
Jika ditemukan salah satu gejala di atas, maka :
Bila ditemukan satu "Ya", lakukan evaluasi lanjutan >> kemungkinan suatu kanker sesuai buku Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak. Jika tersedia, lakukan pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen sesuai indikasi.
Bila hasil pemeriksaan mengarah ke suatu kanker, rujuk segera ke rumah sakit rujukan
Stabilkan pasien, dan jika perlu, mulailah cairan intravena, oksigen, dan penanganan nyeri
Jika dicurigai tumor otak dan ada penurunan status neurologis, berikan tata laksana peningkatan tekanan intrakranial
Edukasi orang tua mengenai alasan dan pentingnya rujukan Berkomunikasi dengan fasilitas rujukan
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Pengisian formulir dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan Formulir tidak digunakan untuk pasien yang telah terdiagnosis kanker
Pengisian lengkap formulir penemuan dini kanker pada anak dilakukan bila ditemukan minimal 1 gejala (dari 13 gejala yang menunjukkan kecurigaan kanker pada anak) saat pemeriksaan awal atas pertimbangan klinis dokter pemeriksa
Definisi operasional pertanyaan dasar formulir penemuan dini kanker pada anak :
Penjelasan mengenai tata cara pengisian formulir penemuan dini kanker pada anak :
1.
2.
3.
4.
Nama lengkap: Diisi dengan nama lengkap dari klien/ pasien Tanggal lahir: Diisi dengan format tanggal, bulan, dan tahun kelahiran dari klien/ pasien
Jenis kelamin: Diisi “L” untuk Laki-laki / “P” untuk Perempuan Berat badan: Diisi dalam satuan kilogram
Tinggi badan: Diisi dalam centimeter
Nama Orang Tua: Diisi dengan nama lengkap orang tua Alamat: Diisi dengan alamat lengkap (Nama Jalan, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan)
Nomor Telepon/ Hp: Diisi oleh nomor handphone/telepon Riwayat prematur: Bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu
BBLR: Berat Badan Lahir Rendah adalah berat lahir bayi kurang dari 2500 gram
Status Imunisasi Dasar Lengkap: Bayi usia kurang dari 1 tahun yang telah mendapatkan imunisasi HB0 1 dosis, BCG 1 dosis, DPTHB-Hib 3 dosis, Polio tetes (OPV) 4 dosis, Polio suntik (IPV) dosis, Campak Rubela 1 dosis
ASI Eksklusif: Bayi yang diberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
38 m.Perilaku merokok/paparan asap rokok: Kebiasaan merokok yang dilakukan oleh anggota keluarga dalam 1 rumah n. Riwayat kanker dalam keluarga sedarah: Orang tua kandung atau saudara kandung mempunyai riwayat kanker
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Pengorganisasian dan Sistem Rujukan
BAB IV
4.1
Edukasi pengenalan gejala dan tanda kanker pada anak terkait upaya penanggulangan kanker pada anak secara komprehensif.
Memberikan konseling tentang kanker pada anak.
Melatih dan memberdayakan kader kesehatan dalam upaya penemuan tanda dan gejala 8 kanker pada anak serta upaya promotif kepada masyarakat melalui posyandu prima serta pos kesehatan lainnya.
Melatih serta memberdayakan dokter kecil dalam penemuan dini kanker pada anak.
Melakukan deteksi dini kanker pada anak berdasarkan tanda dan gejala serta pemeriksaan laboratorium bila tersedia.
Merujuk pasien yang dicurigai kanker anak ke RS/Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut.
Menerima umpan balik hasil rujukan dan tindak lanjut sesuai hasil rekomendasi.
Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil deteksi dini ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota setiap bulan.
Memberikan konseling tentang kanker pada anak.
Melakukan deteksi dini kanker pada anak berdasarkan tanda dan gejala serta pemeriksaan laboratorium bila tersedia.
Merujuk pasien yang terdiagnosis ke RS/Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut.
Menerima umpan balik hasil rujukan dan tindak lanjut sesuai hasil rekomendasi.
Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil deteksi dini ke Puskesmas setiap bulan.
Pengorganisasian
Peran masing-masing jenjang 1) Puskesmas
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
2) FKTP Jejaring Puskesmas a.
b.
c.
d.
e.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
BAB IV
PENGORGANISASIAN DAN SISTEM RUJUAN
Menegakkan diagnosis kanker pada anak.
Menerima rujukan dar FKTP dan RS lain.
Memberikan umpan balik pasien yang dirujuk kepada instansi yang merujuk.
Memberikan terapi sesuai dengan fasilitas dan kompetensi yang dimiliki.
Melakukan pencatatan dan pelaporan diagnosis kanker pada anak ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota setiap bulan.
Memberikan umpan balik pasien yang dirujuk kepada instansi yang merujuk.
Memberikan terapi sesuai dengan fasilitas dan kompetensi yang dimiliki.
Melakukan pencatatan dan pelaporan diagnosis kanker pada anak ke Dinas Kesehataan/Kabupaten/kota setiap bulan.
Memberikan umpan balik pasien yang dirujuk kepada instansi yang merujuk.
Memberikan terapi sesuai dengan fasilitas dan kompetensi yang dimiliki.
Melakukan pencatatan dan pelaporan diagnosis kanker pada anak ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota setiap bulan.
3) Rumah Sakit a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
42 Sosialisasi dan advokasi pengendalian kanker pada anak.
Sosialisasi pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak untuk meningkatkan kesadaran/kewaspadaan masyarakat agar melakukan pemeriksaan ke FKTP/RS.
Fasilitasi rumah sakit tipe B/C di wilayahnya dalam diagnosis dan pengobatan kanker pada anak.
Membina dan melatih tenaga Puskesmas/FKTP lain di wilayahnya dalam upaya deteksi dini kanker pada anak.
Membuat jejaring pengendalian kanker pada anak tingkat kab/kota.
Menerima hasil pencatatan dan pelaporan dari Puskesmas dan RS, merekap dan melaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi.
4) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota a.
b.
c.
d.
e.
f.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Sosialisasi dan advokasi pengendalian kanker anak.
Sosialisasi pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak untuk meningkatkan kepedulian (awareness) masyarakat agar melakukan pemeriksaan ke puskesmas/rumah sakit.
Membina dan melatih tenaga Puskesmas/FKTP lain di wilayahnya dalam upaya deteksi dini kanker pada anak.
Memfasilitasi rumah sakit tipe B/C di wilayahnya dalam diagnosis dan pengobatan kanker pada anak
Berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota di wilayahnya dalam pengendalian kanker pada anak.
Membuat jejaring pengendalian kanker pada anak tingkat provinsi.
Menerima laporan dari dinas kesehatan kabupaten/kota dan melaporkan ke Kementerian Kesehatan (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit).
Melakukan monitoring dan evaluasi pengendalian kanker pada anak di wilayahnya.
g.Melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan pengendalian kanker anak.
5) Dinas Kesehatan Provinsi a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Kampanye pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak dalam rangka meningkatkan kewaspadaan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ke FKTP dan RS.
Peningkatan kapasitas SDM dalam pengendalian kanker anak.
Menyiapkan sarana dan prasarana pengendalian kanker di fasilitas pelayanan kesehatan.
Membuat jejaring pengendalian kanker pada anak tingkat nasional.
Mengembangkan sistem surveilans kanker, khususnya kanker pada anak
6) Kementerian Kesehatan a.
b.
c.
d.
e.
44 Membantu pemberdayaan masyarakat dalam hal promosi dan edukasi.
Dukungan sumber daya.
7) Peran Organisasi Masyarakat (LSM, Yayasan, Organisasi Provinsi)
a.
b.
Konseling Ulang
Jika menolak kembali, lakukan Perkesmas
Meminta pasien tanda tangan di kolom penolakan
Prosedur diagnostik
Kecurigaan kanker Konseling
Upaya penanggulangan kanker secara komperhensif
Menawarkan tanggal dan rumah sakit yang akan dituju
Mengikuti kasus rujukan yang berlaku
Membuat rujukan ke rumah sakit Informed consent
Rumah sakit penerima menjawab rujukan Pasien
datang
4.2 Alur Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Gambar 4.2. Alur Penemuan Dini Kanker pada Anak Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
4.3
4.4
Petugas kesehatan di FKTP melakukan pemeriksaan pada pasien anak yang memiliki minimal 1 dari 13 gejala yang menunjukkan kecurigaan kanker pada anak saat pemeriksaan awal atas pertimbangan klinis dokter pemeriksa dan dilakukan rujukan ke FKRTL.
Apabila FKRTL yang dituju tidak memiliki fasilitas yang mendukung, maka pasien dirujuk ke FKRTL lebih tinggi.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota.
Sumber pembiayaan lain yang sah dan tidak mengikat.
Sistem Rujukan
Rujukan kasus kanker anak merupakan bagian dari upaya kesehatan dalam penanganan masalah kanker anak yang pada hakikatnya
merupakan upaya pengendalian kanker. Dilaksanakan mengacu pada sistem rujukan kesehatan yang ada. Sistem rujukan pengendalian kanker pada anak dilakukan sebagai berikut:
a.
b.
Sistem Pembiayaan
Pelaksanaan program penemuan dini kanker pada anak memerlukan biaya operasional dan biaya penyediaan alat yang perlu diupayakan melalui berbagai sumber. Untuk menjamin kesinambungan penemuan dini kanker pada anak, maka pemerintah perlu mengalokasikan anggaran di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, meliputi :
a.
b.
c.
d.
46
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Monitoring dan Evaluasi
BAB V
Mencatat setiap temuan tanda dan gejala kanker pada anak menggunakan daftar tilik penemuan dini kanker pada anak.
Melakukan verifikasi data.
Menginput data ke dalam Register Penemuan Dini Kanker pada Anak (PDKA).
Melaporkan Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menggunakan form Rekapitulasi PDKA Fasyankes paling lambat tanggal 25 pada setiap bulannya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Menerima laporan dari FKTP di Kabupaten/Kota Melakukan kompilasi data
Melakukan validasi dan verifikasi data Mengolah dan menganalisis data
Melaporkan data hasil kompilasi yang sudah divalidasi ke Dinas Kesehatan Provinsi menggunakan form rekap PDKA K/K (Kabupaten/Kota) paling lambat tanggal 28 pada setiap bulannya 5.1 Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan Pelaporan adalah komponen penting dalam program nasional pencegahan dan pengendalian kanker pada anak, hal ini dilakukan agar bisa didapatkannya data yang kemudian dapat diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan serta kemudian disebarluaskan. Data yang dikumpulkan harus merupakan data yang akurat, lengkap dan tepat waktu sehingga memudahkan proses pengolahan dan analisis data.
Data diperoleh dari pencatatan yang dilakukan di semua sarana pelayanan kesehatan dengan satu sistem baku yang sesuai dengan program pencegahan dan pengendalian kanker pada anak yang mencakup penemuan dini dan tatalaksana kanker pada anak.
Pencatatan dan pelaporan penemuan dini kanker pada anak dilakukan secara berjenjang, sebagai berikut:
1) Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
50 Menerima data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Melakukan kompilasi data
Melakukan validasi dan verifikasi data Mengolah dan menganalisis data
Melaporkan data hasil kompilasi yang sudah divalidasi ke
Kementerian Kesehatan RI Tim Kerja Penyakit Kanker dan Kelainan Darah (PKKD), Direktorat P2TM Ditjen P2P menggunakan form rekap
PDKA Provinsi paling lambat tanggal 10 pada bulan berikutnya
Menerima data dari Dinas Kesehatan Provinsi Melakukan kompilasi data
Melakukan validasi dan verifikasi data Mengolah dan menganalisis data 3) Dinas Kesehatan Provinsi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
4) Kementerian Kesehatan a.
b.
c.
d.
Kementerian Kesehatan
Dinas Kesehatan Tk.
Kabupaten/Kota
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Dinas Kesehatan Tk. Provinsi
Bagan 5.1 Alur Penctatan dan Pelaporan Penemuan Deteksi Dini Anak
Nama KTP : Bulan : Tahun : Keterangan: - No : Diisi dengan angka - Tanggal Pemeriksaan : diisi dengan format tanggal/bulan/tahun - Identitas Pasien Anak : - NIK: diisi dengan angka - Nama Lengkap: diisi dengan HURUF KAPITAL - Tanggal Lahir: diisi dengan format tanggal/bulan/tahun kelahiran dari klien/ pasien 51 Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Tabel 5.1 Register Penemuan Dini Kanker pada Anak Register Penemuan Dini Kanker pada Anak di FKTP
- Jenis Kelamin: diisi “L” untuk Laki-laki / “P” untuk Perempuan - Antropometri : - Berat Badan: diisi dalam satuan kilogram - Tinggi Badan: diisi dalam centimeter - Identitas Orang Tua: - Nama Lengkap: diisi dengan HURUF KAPITAL - Alamat: diisi dengan alamat lengkap (Nama Jalan, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan) - No. Telepon/ Hp: diisi oleh nomor handphone / telepon 52
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
53
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Riwayat Prematur : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan BBLR : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan Status Imunisasi Dasar Lengkap : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan ASI Eksklusif : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan Perilaku Merokok/paparan Asap Rokok : diisi dengan “v” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan Riwayat Kanker Dalam Keluarga Sedarah : diisi dengan “v” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan
Keterangan: - Riwayat Kesehatan Anak : - Riwayat Kesehatan Orang Tua :
54
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Keterangan : Tiap kolom diisi “v” bila jawaban Ya, bila tidak maka dikosongkan
55
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Tabel 5.1 Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA FKTP) Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA FKTP) Provinsi : Kabupaten/Kota : FKTP : Tahun : Bulan :
56
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
57
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Tabel 5.1 Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA FKTP) Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA Kabupaten/Kota) Provinsi : Kabupaten/Kota : FKTP : Tahun : Bulan :
58
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Tingkat Pusat
Dinas Kesehatan Provinsi
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota FKTP
5.2 Monitoring dan Evaluasi
Pelaksanaan Penemuan Dini Kanker pada Anak merupakan kunci keberhasilan penanggulangan kanker pada anak, sehingga dibutuhkan monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaanya.
Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota melakukan pemantauan dan penilaian (monitoring dan evaluasi) penyelenggaraan penemuan dini kanker pada anak di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sesuai dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan.
Kementerian Kesehatan melakukan monitoring dan evaluasi secara nasional terhadap pelaksanaan penemuan dini kanker pada anak menggunakan Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker Pada Anak di Provinsi dilaksanakan minimal setiap 1 tahun sekali.
Dinas Kesehatan Provinsi melakukan monitoring dan evaluasi di tingkat Provinsi terhadap pelaksanaan penemuan dini kanker pada anak di kabupaten/kota menggunakan Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker Pada Anak di Kab/Kota dilaksanakan minimal setiap 6 bulan sekali.
1.
2.
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
Direktorat P2PTM
Pengelola Program P2PTM Provinsi
Pengelola Program P2PTM Kabupaten/Kota
Alur Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak
3.
60 Dinas Kesehatan Kab/Kota melakukan monitoring dan evaluasi di tingkat Kab/Kota terhadap pelaksanaan penemuan dini kanker pada anak di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menggunakan Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker Pada Anak dilaksanakan minimal setiap 3 bulan sekali.
Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)
Format Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak adalah sebagai berikut :
1.
FORM MONITORING DAN EVALUASI PENEMUAN DINI KANKER PADA ANAK DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
(FKTP)
Tanggal : ….. / …... / 20…..
I. KETERANGAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) 1. Nama FKTP : ……….
2. Kode Wil/FKTP : ……….
3. Kabupaten/Kota : ……….
4. Provinsi : ……….
5. Alamat Institusi : ……….
6. Nama Petugas/ Koordinator P2PTM : ……….
7. No Telp yang bisa dihubungi : ……….
(Koordinator P2PTM)
II.
III. Data SDM Kesehatan FKTP
Jumlah Penduduk Anak di wilayah kerja : ……….
Sasaran Program : ……….
KONDISI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) 1.
2.
a. Jumlah penduduk usia 0-4 tahun : ……….
b. Jumlah penduduk usia 5-9 tahun : ……….
c. Jumlah penduduk usia 10-18 tahun : ……….
Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
No Jenis SDM Jumlah SDM
1 2 3
Dokter Perawat Bidan
IV. Capaian Penemuan Dini Kanker pada Anak
…..
…..
…..
Tanda dan Gejala terbanyak:
1.
2.
3.
No
0 - 4 tahun 5 – 9 tahun 10 -18 tahun 1
2 3
L P L P
TOTAL
Jumlah Skrining Jumlah dirujuk
Usia Keterangan
V. Kegiatan Promosi
Kegiatan Promosi yang telah dilaksanakan pada penemuan dini kanker pada anak :
……..……….…
...…..………...………
VI. Tantangan/Kendala:
...………
……….………...………...
62 VII. Solusi/Strategi yang dilakukan :
………
………...
………
……….. ……….. ………..
……….. ……….. ………..
No. Nama NIP No Telp/email 1.
2.
II.
2.
Jumlah Total FKTP
Jumlah FKTP yang melaksanakan Penemuan Dini Kanker pada Anak Jumlah FKTP melapor rekapan Penemuan Dini Kanker pada Anak Sasaran Program
Nama Petugas/ Koordinator P2PTM No Telp yang bisa dihubungi (Koordinator P2PTM) Sasaran Program
Jumlah penduduk usia 0-4 tahun Jumlah penduduk usia 5-9 tahun Jumlah penduduk usia 10-18 tahun KONDISI KABUPATEN/KOTA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
a.
b.
c.
Nama Kab/Kota Provinsi
Nama Bidang*) Nama Seksi*) Alamat Institusi
Nama Petugas/ Koordinator P2PTM No Telp yang bisa dihubungi (Koordinator P2PTM)
I. KETERANGAN KABUPATEN/KOTA 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
: : : : : : : : :
……….
……….
……….
……….
……….
……….
……….
……….
……….
Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak di Kab/Kota
FORM MONITORING DAN EVALUASI PENEMUAN DINI KANKER PADA ANAK
DI KABUPATEN/KOTA Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak
: Tanggal : ….. / …... / 20…..
: : : : : : :
……….