• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak

N/A
N/A
calon murid

Academic year: 2024

Membagikan "Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

Buku Panduan

Dini

Penemuan

Kanker

Pada Anak

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI

Tahun 2023

(2)

Buku Panduan

Dini

Penemuan

Kanker

Pada Anak

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI

Tahun 2023

(3)

Berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa, Buku Pedoman Penemuan Kanker pada Anak ini dapat tersusun. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi peningkatan kualitas hidup anak di Indonesia karena anak merupakan harta yang paling berharga bagi keluarga serta bekal penerus masa depan bangsa.

Kanker pada anak di negara berkembang termasuk di Indonesia masih memerlukan penanganan yang serius karena angka kesembuhan atau kesintasan pada anak yang masih rendah. Hal ini terjadi karena Kanker Anak terdeteksi pada stadium lanjut sehingga penanganannya tidak memberikan hasil yang optimal.

Berbeda dengan kondisi penanganan kanker anak di negara maju yang telah mencapai angka kesembuhan yang tinggi dikarenakan berhasilnya upaya penemuan dini dan penanganan yang tepat.

Pedoman Penemuan Kanker pada Anak ini disusun sebagai upaya membenahi pengendalian kanker pada anak di Indonesia terutama dengan memulai Penemuan Dini di masyarakat. Petugas kesehatan diharapkan dapat menemukan kanker pada anak pada stadium dini, dan merujuk ke penanganan lebih lanjut sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan rujukan.

Dalam melaksanakan program ini, selain petugas kesehatan, perlu juga menggerakkan potensi masyarakat sesuai kapasitasnya.

ii

DIREKTUR JENDERAL PENCEGAHAN DAN

PENGENDALIAN PENYAKIT

Sambutan

(4)

Semoga Pedoman ini dapat menjadi acuan kegiatan pengendalian kanker pada anak yang mampu laksana serta berkualitas di layanan kesehatan serta di masyarakat. Pada akhirnya diharapkan upaya pengendalian kanker anak melalui penemuan dini dan penanganan yang tepat dapat meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka kematian kanker pada anak di Indonesia.

Jakarta, Januari 2023 Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(5)

DIREKTUR PENCEGAHAN DAN

PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya, maka buku Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak ini dapat selesai disusun. Pedoman ini disusun sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan penemuan dini kanker pada anak, mengingat kanker pada anak seringkali terlambat didiagnosis sehingga menyebabkan angka kematian kanker anak menjadi tinggi. Pada cetakan sebelumnya, Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak membahas 6 jenis kanker anak, yaitu Leukemia, Retinoblastoma, Kanker Nasofaring, Kanker Tulang, Neuroblastoma, dan Limfoma Maligna, namun seiring berkembangnya jenis kanker anak di Indonesia, maka pada pedoman ini ditambahkan dua jenis kanker anak lainnya yaitu Kanker Otak dan Tumor Wilms.

Sebagaimana komitmen dunia melalui The WHO Global Initiative for Childhood Cancer mengharapkan meningkatnya kesembuhan kanker pada anak. Kenyataan di negara berkembang hanya 20% kanker anak dapat disembuhkan dibandingkan dengan negara maju dimana 80% kanker anak dapat disembuhkan. Sejalan dengan tujuan WHO maka Indonesia juga berkomitmen serta berupaya meningkatkan keberhasilan pengendalian kanker anak. Diharapkan dengan terbitnya Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak merupakan kunci keberhasilan pengendalian kanker anak secara komprehensif dimulai dari penemuan dini hingga mendapatkan tatalaksana yang tepat.

iv

Kata Pengantar

(6)

Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak ini berisi panduan mengenali tanda dan gejala penting kanker pada anak agar petugas kesehatan maupun pihak yang terkait dapat melakukan penemuan dini kanker pada anak yang dapat diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan serta di komunitas.

Manfaat lebih luas lagi diharapkan kewaspadaan kanker pada anak bagi orang tua dan masyarakat di sekitar kita juga turut meningkat sehingga penanganan kanker pada anak tidak terlambat.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi ilmu pengetahuan serta pengalaman yang aplikatif sehingga tersusunnya pedoman ini.

Tiada suatu yang sempurna sehingga kami mengharapkan masukan, saran serta kritik untuk perbaikan pedoman ini ke depannya demi tercapainya pengendalian kanker anak yang lebih baik lagi.

Semoga buku pedoman ini dapat bermanfaat dalam upaya pengendalian kanker pada anak di Indonesia sehingga meningkatkan angka kesintasan, perbaikan kualitas hidup, serta menurunkan angka kematian akibat kanker anak.

Jakarta, Januari 2023 Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular

Dr. Eva Susanti, S.Kp, M.Kes Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(7)

vi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

SAMBUTAN... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 3

Sasaran ... 3

Landasan Hukum ... 4

Ruang Lingkup ... 5

BAB II KANKER PADA ANAK ... 6

2.1 Leukimia ... 6

A. Pengertian ... 6

B. Epidemiologi ... 6

C. Gejala dan Tanda ... 7

D. Diagnosis ... 9

E. Tata Laksana ... 10

Limfoma Maligna ... 10

A. Pengertian ... 10 2.2

(8)

2.3

2.4

2.5

B. Epidemiologi ... 10

C. Tanda dan Gejala ... 11

D. Diagnosis ... 13

E. Tata Laksana ... 14

Retinoblastoma... 14

A. Pengertian ... 14

B. Epidemiologi ... 14

C. Tanda dan Gejala ... 15

D. Diagnosis ... 17

E. Tes Refleks Fundus (Tes Lihat Merah) ... 18

F. Tata Laksana ... 19

Tumor Otak ... 19

A. Pengertian ... 19

B. Epidemiologi ... 19

C. Tanda dan Gejala ... 19

D. Diagnosis ... 21

E. Tata Laksana ... 22

Tumor Wilms (Nefroblastoma) ... 22

A. Pengertian ... 22

B. Epidemiologi ... 23 Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(9)

2.6

2.7

2.8

C. Tanda dan Gejala ... 23

D. Diagnosis ... 24

E. Tata Laksana ... 25

Neuroblastoma ... 25

A. Pengertian ... 25

B. Epidemiologi ... 25

C. Tanda dan Gejala ... 26

D. Diagnosis ... 27

E. Tata Laksana ... 29

Osteosarkoma ... 29

A. Pengertian ... 29

B. Epidemiologi ... 29

C. Tanda dan Gejala ... 29

D. Diagnosis ... 32

E. Tata Laksana ... 33

Karsinoma Nasofaring ... 33

A. Pengertian ... 33

B. Epidemiologi ... 34

C. Tanda dan Gejala ... 34

D. Diagnosis ... 36

viii

(10)

4.1

E. Tata Laksana ... 37

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak BAB III UPAYA PENEMUAN DINI DI MASYARAKAT... 38

BAB IV PENGORGANISASIAN DAN SISTEM RUJUKAN... 46

BAB VI PENUTUP ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... ix

TIM PENYUSUN ... xii

Pengorganisasian ... 46

Alur Penemuan Dini Kanker Pada Anak ... 50

Sistem Rujukan ...51

Sistem Pembiayaan ... 51

4.2 4.3 4.4 BAB V MONITORING DAN EVALUASI ... 72

5.1 Pencatatan dan Pelaporan ... 52

Monitoring dan Evaluasi ... 61 5.2

(11)

x

(12)

Pendahuluan

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

BAB I

(13)

1.1

Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia.

Setiap tahunnya, diestimasikan 400.000 anak dan remaja usia 0-19 tahun menderita kanker. Berdasarkan publikasi Globocan pada tahun 2020, diestimasikan terdapat 11.156 kasus baru kanker anak pada usia 0- 19 tahun di Indonesia, dengan kasus terbanyak adalah Leukemia yakni terdapat 3.880 kasus atau sebanyak 35%, diikuti oleh Limfoma Non- Hodgkin dan Tumor Otak (Globocan, 2020; WHO, 2021).

Kanker merupakan penyebab kematian utama pada anak dan remaja. Pada negara dengan penghasilan tinggi (high-income countries), di mana terdapat layanan yang komprehensif dengan akses yang mudah dijangkau, lebih dari 80% kanker pada anak dapat disembuhkan. Sedangkan pada negara dengan penghasilan rendah dan menengah (low- and middle-income countries), kurang dari 30% kasus kanker anak yang dapat disembuhkan, termasuk di Indonesia. Hal ini umumnya terjadi karena keterlambatan diagnosis akibat terhambat untuk mengakses perawatan (WHO, 2021).

Batasan umur anak yang dimaksud pada buku pedoman ini berdasarkan Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 Nopember 1990, Bagian 1 Pasal 1; adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. Anak menurut Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 1 ayat 1, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

1

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

(14)

Penemuan dini kasus kanker anak merupakan kunci keberhasilan penanggulangan kanker pada anak. Ketika diidentifikasi lebih awal, kanker lebih cenderung merespons pengobatan sehingga lebih efektif dan menghasilkan kemungkinan bertahan hidup yang lebih besar, penderitaan yang lebih sedikit, dengan pembiayaan yang lebih murah.

Perbaikan yang signifikan dapat dilakukan dalam kehidupan anak-anak penderita kanker dengan mendeteksi kanker sejak dini dan menghindari keterlambatan dalam perawatan.

Penemuan dini kanker anak ini terdiri dari 3 komponen, salah sa- tunya adalah kesadaran akan gejala oleh keluarga dan petugas pelayanan kesehatan dimana umumnya kanker anak dikaitkan dengan berbagai gejala peringatan, seperti demam, sakit kepala berat dan terus-menerus, nyeri tulang dan penurunan berat badan, yang dapat dideteksi oleh keluarga dan penyedia layanan kesehatan.

WHO menargetkan 60% anak penderita kanker dapat diselamat- kan pada tahun 2030. Apabila hal ini tercapai maka sebanyak 1 juta anak dengan kanker di seluruh dunia dapat diselamatkan di dekade berikutnya.

Oleh karena itu, diperlukan Pedoman Penemuan Dini Kanker Pada Anak Bagi para tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak pertama kali dikeluarkan pada tahun 2011.

Namun, untuk merespon kondisi terkini kasus kanker anak, pedo- man ini dilakukan pembaharuan dengan menambahkan data epidemiologi dan daftar tilik (diadopsi dari WHO tahun 2018) yang berisi pertanyaan secara sistematis sebagai pedoman/rujukan bagi semua kompleksitas permasalahan kanker pada anak. Diharapkan buku pedoman ini meningkatkan penemuan dini kanker anak lebih efektif.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(15)

1.2

1.3

Buku pedoman ini diprioritaskan pada 8 jenis kanker pada anak, yaitu Leukemia, Limfoma, Retinoblastoma, Tumor Otak, Tumor Wilms, Neuroblastoma, Osteosarkoma dan Karsinoma Nasofaring.

Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Meningkatkan upaya penemuan stadium dini kanker pada anak.

1.2.2 Tujuan Khusus

Sasaran

1.3.1 Sasaran Langsung

1.3.2 Sasaran Tidak Langsung

3 Terselenggaranya kegiatan pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak di masyarakat

Terselenggaranya penemuan dini yang sistematis dan tata laksana kanker pada anak sesuai jenjang fasilitas pelayanan kesehatan

Terselenggaranya sistem pencatatan, pelaporan, monitoring, dan evaluasi program sesuai jenjang fasilitas pelayanan kesehatan

a.

b.

c.

Petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan pemerin- tah/swasta.

Pengelola program Pengendalian Penyakit Tidak Menular di pusat dan daerah

Pengelola Program UKS Puskesmas Pengelola Program PKPR Puskesmas Pengelola Unit Layanan MTBS Puskesmas Pengelola Unit Layanan Anak

Pengelola Unit Layanan 24 Jam Unit Pelayanan Teknis (UPT) Lembaga Swadaya Masyarakat Organisasi profesi

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

(16)

1.4 Landasan Hukum

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak meliputi tanda dan gejala, diagnosis, tata laksana, rujukan sesuai jenjang fasilitas pelayanan kesehatan serta pencatatan pelaporan pada 8 jenis kanker anak yang paling banyak serta mudah dikenali melalui gejala dan tandanya, yaitu Leukemia, Retinoblastoma, Neuroblastoma, Limfoma, Karsinoma Nasofaring, Osteosarkoma, Tumor Otak dan Tumor Wilms.

Pemerhati kanker anak

Keluarga penderita kanker anak Masyarakat

j.

k.

l.

Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 tahun 2022 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2019 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular

Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2016 Tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter dan Dokter Gigi

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

(17)

5

(18)

Kanker Pada Anak

BAB II

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(19)

Kanker pada anak awalnya sulit ditemukan, oleh karena itu sangat penting untuk mewaspadai tanda dan gejalanya. Minimal, terdapat 8 (delapan) jenis kanker pada anak yang perlu diketahui, yaitu: 6

BAB II

KANKER PADA ANAK

2.1 Leukimia

Leukemia merupakan keganasan darah yang berasal dari sumsum tulang, yang ditandai dengan proliferasi berlebihan dari sel darah yang abnormal (sel blast) sehingga menyebabkan gangguan produksi sel darah normal. Leukemia dibagi atas:

A. Pengertian

Leukemia Akut:

Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), Leukemia Mieloblastik Akut (LMA) Leukemia Kronis:

Leukemia Mielositik Kronik (LMK) 1.

2.

B. Epidemiologi

Leukemia adalah keganasan terbanyak pada anak, sekitar 30-40%

dari seluruh kanker anak dengan puncak kejadian pada usia 2-5 tahun. Di negara berkembang, sekitar 83% kasus leukemia adalah LLA dan 17% adalah LMA.

Data di Indonesia menunjukkan insiden Leukemia sekitar 4 per 100.000 anak dengan estimasi jumlah kasus baru sekitar 2.000-3.200 per tahun (Globocan, 2020). Pada tahun 2021, terdapat sekitar 503 kasus LLA (34,7%), 109 kasus LMA (7,5%), dan 43 kasus LMK (3%) dari 1.447 pasien kanker anak yang teregistrasi di Indonesia (Indonesian Pediatric Cancer Registry/ IP-CAR, 2022).

LLA lebih banyak ditemukan pada anak kulit putih dibandingkan anak kulit hitam. Insiden LLA pada anak laki-laki lebih tinggi 1,15 kali dibanding anak perempuan, sementara pada LMA perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan sama.

7

(20)

Pembesaran hati, limpa, kelenjar getah bening.

Nyeri tulang

Perlu menjadi perhatian terhadap anak yang diketahui sudah dapat berdiri dan berjalan, namun tiba-tiba minta digendong saja (tidak mau berdiri dan berjalan lagi)

Kejang hingga penurunan kesadaran Pembesaran testis dengan konsistensi keras

Gangguan produksi sel darah merah menyebabkan anak terlihat pucat, lemah, rewel, dan nafsu makan menurun

Gangguan produksi sel darah putih meningkatkan risiko infeksi dengan gejala demam berulang atau demam lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas. Misalnya, infeksi saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan infeksi kulit.

Gangguan produksi trombosit menyebabkan perdarahan kulit (petekie, hematom), perdarahan spontan (epistaksis, perdarahan gusi), atau manifestasi perdarahan lain (hematemesis, melena, hematuria).

Infiltrasi sel leukemia ke jaringan menyebabkan : Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Gambar 1. Konjungtiva pucat Gambar 2. Telapak tangan pucat C. Gejala dan Tanda

a.

b.

c.

d.

(21)

Gambar 3. Pembesaran Kelenjar Getah Bening pada Leher dan Preaurikular

Gambar 4. Hematoma pada Ekstremitas

Gambar 5. Petekie pada Ekstremitas

9

(22)

Anamnesis

Pemeriksaan Fisis

Pemeriksaan Penunjang

Anemia Limfadenopati

Petekie, hematoma, perdarahan gusi, epistaksis, dan manifestasi perdarahan lain (hematemesis, melena, hematuria)

Hepatosplenomegali Pembesaran testis

Darah perifer lengkap : dapat ditemukan anemia, trombositopenia, leukopenia atau leukositosis, hitung jenis limfosit atau monosit

meningkat Pucat

Demam Perdarahan

Pembesaran kelenjar getah bening dan abdomen Nyeri tulang

1.

2.

3.

4.

5.

D. Diagnosis

1.

2.

3.

4.

5.

Jika ditemukan tanda dan gejala seperti di atas dengan 2 dari 3 kelainan pada darah tepi, dapat dicurigai leukemia. Rujuk ke RS ujukan untuk penegakan diagnosis melalui pemeriksaan sumsum

tulang.

(23)

2.2

Kemoterapi

Penanganan suportif:

E. Tata Laksana a.

b.

1) Pemberian transfusi komponen darah yang diperlukan 2) Pemberian nutrisi yang baik dan memadai

3) Pemberian antibiotik, anti jamur, dan antivirus bila diperlukan

4) Pendekatan psikososial dan dukungan keluarga.

Limfoma Maligna A. Pengertian

Limfoma Maligna adalah suatu keganasan yang berasal dari kelenjar getah bening atau sistem limfatik lainnya. Berdasarkan gambaran histopatologinya, limfoma dibedakan menjadi Limfoma Hodgkin dan Limfoma Non Hodgkin.

B. Epidemiologi

Di Indonesia, berdasarkan Data IP-CAR tahun 2021, terdapat 43 anak (3%) kasus Limfoma Non Hodgkin. Angka kejadian tertinggi yaitu pada usia 7-10 tahun dan lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki dibanding anak perempuan dengan perbandingan 2,5:1. Meskipun penyebab keduanya belum diketahui, beberapa faktor diduga dapat dianggap sebagai penyebab, seperti infeksi virus (Epstein-Barr Virus) dan imunodefisiensi.

11 Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau pangkal paha dengan konsistensi padat, ukuran > 2 cm, membesar secara cepat, tanpa disertai nyeri, atau pembesaran kelenjar berukuran berapapun di supraklavikula.

Pembesaran kelenjar getah bening di rongga dada yang menyebabkan penekanan saluran napas dan pembuluh darah dengan gejala sesak disertai bengkak di wajah, leher, dan lengan atas (Sindroma Vena Cava Superior)

C. Tanda dan Gejala a.

b.

(24)

Gambar 6. Massa pada Leher

Pembesaran kelenjar getah bening di abdomen yang menyebabkan perut membesar, teraba benjolan, dan dapat menimbulkan gejala obstruksi salu ran pencernaan

Demam, keringat malam, lemah, lesu, nafsu makan berkurang, berat badan turun 10% dalam 3 bulan.

a.

b.

c.

d.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Gambar 7. Pembesaran Kelenjar Getah Bening

pada supraklavikula

Gambar 8. Gambaran Massa Mediastinum pada Foto Toraks

(25)

Anamnesis

Pemeriksaan Fisis

Pemeriksaan Penunjang

Darah perifer lengkap : umumnya dalam batas normal. Jika ada kelainan mungkin suatu limfoma yang sudah menyebar hingga

sumsum tulang.

Jika fasilitas tersedia, dapat dilakukan pemeriksaan foto toraks

Jika ditemukan tanda dan gejala seperti di atas dapat dicurigai limfoma. Rujuk ke RS rujukan untuk penegakan diagnosis melalui pemeriksaan darah lengkap, LDH, foto toraks, USG abdomen, CT

scan, dan biopsi kelenjar

Limfadenopati yang tidak nyeri berukuran > 2 cm Massa di abdomen

Edema pada wajah, leher, dan lengan atas Dispnea, takipnea

D.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

1.

2.

3.

4.

Diagnosis

Benjolan Demam

Keringat malam

Penurunan nafsu makan dan berat badan Sesak napas

Wajah dan leher bengkak

13

(26)

2.3

E. Tata Laksana

Retinoblastoma A. Pengertian

B. Epidemiologi

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

C. Tanda dan Gejala

Tata laksana bergantung pada stadium, dapat berupa kemoterapi, operasi, radioterapi, dan terapi target.

Retinoblastoma adalah tumor ganas di dalam bola mata yang berasal dari sel retina dan dapat menyebar ke luar bola mata seperti tulang, sumsum tulang belakang, dan sistem saraf pusat.

Retinoblastoma merupakan tumor mata terbanyak pada anak kurang dari usia 5 tahun dengan insidens tertinggi pada usia 2-3 tahun.

Prevalensi retinoblastoma diperkirakan 1 per 15.000 kelahiran hidup di negara berkembang. Prevalensi retinoblastoma di Indonesia pada tahun 2021 adalah 101 dari 1447 kanker pada anak (IP-CAR, 2022).

Retinoblastoma dapat terjadi pada satu mata (unilateral, 60% kasus) atau dua mata (bilateral). Selain itu, retinoblastoma bisa terjadi di dalam bola mata (intraokuler) atau sudah keluar dari bola mata (ekstraokuler). Sebanyak 15% kasus merupakan penyakit keturunan.

Tanda dan gejala klinis retinoblastoma tergantung stadium, gejala utama adalah Leukokoria (bintik putih pada bagian hitam mata), mata kucing (bagian hitam mata memantulkan cahaya seperti mata kucing saat diberikan sinar/lampu senter), mata juling (strabismus), mata merah dan nyeri pada mata, keluar air mata berlebih, ataupun penurunan tajam penglihatan.

Retinoblastoma stadium awal tidak terdeteksi secara kasat mata kecuali melalui pemeriksaan oftalmoskopi khusus. Mata yang tidak terkena masih berfungsi dengan baik sehingga penurunan penglihatan seringkali tidak disadari orang tua.

a.

b.

(27)

Gambar 11. Massa Tumor di dalam Retina Gambar 9. Leukokoria

Gambar 12. Strabismus

15 Gambar 13. dan 14. Proptosis pada Mata

Gambar 10. Leukokoria Tumor dapat menyebar ke jaringan sekitar bola mata (ekstraokuler) sehingga mata menonjol (proptosis).

Penyebaran ke intrakranial ditandai dengan nyeri kepala, muntah, kejang dan penurunan kesadaran. Penyebaran juga dapat terjadi ke sumsum tulang.

c.

d.

(28)

1.

2.

3.

Pemeriksaan Fisis

Pemeriksaan Penunjang

Anamnesis

Tampak bintik putih pada bagian hitam bola mata.

Mata terlihat seperti mata kucing.

Pandangan kabur, penglihatan ganda, penurunan penglihatan

Leukokoria (bintik putih pada bagian hitam mata)

Mata kucing (bayangan putih yang tampak pada bagian hitam mata saat diberikan sinar atau lampu senter)

Mata juling (Strabismus) yang baru muncul Refleks cahaya menurun atau tidak ada Hifema (darah di bagian bola mata depan) Proptosis (mata menonjol)

Pemeriksaan refleks fundus menggunakan oftalmoskop atau lampu senter

Anamnesis

D.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

1.

2.

Diagnosis

Fasilitas Pelayanan Kesehatan: darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal. Jika ada kelainan mungkin suatu retinoblastoma yang sudah menyebar hingga sumsum tulang.

RS Rujukan: pemeriksaan oftalmologi lengkap meliputi

pemeriksaan segmen anterior dan posterior oleh dokter spesialis mata, CT scan Kepala atau MRI, aspirasi sumsum tulang, pungsi lumbal

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(29)

E. Tes Refleks Fundus (Tes Lihat Merah) a. Tujuan Pemeriksaan :

Menemukan kelainan segmen posterior mata

b. Pelaksana :

c. Sarana/Prasarana :

d. Cara :

e. Interpretasi dan kriteria rujukan :

17 Tes Lihat Merah dapat dilakukan pada anak mulai dari usia 2 bulan yang dilakukan oleh dokter spesialis anak atau dokter umum yang terlatih dengan teknik pemeriksaan ini.

Ruangan gelap Oftalmoskop direk

Obat tetes mata untuk melebarkan pupil

Pemeriksaan Tes Lihat Merah dilakukan dalam keadaan pupil dilatasi dengan memberikan tetes mata Tropicamide 0,5% atau kombinasi Tropicamide 0,5% atau Phenylephrine 2,5% yang diteteskan pada kedua mata lebih kurang 15 menit sebelum pemeriksaan.

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop direk pada jarak sejauh lebih kurang sejangkauan lengan dari mata anak yang terbuka dan didalam ruangan yang gelap.

Hasil dilaporkan sebagai negatif atau normal bila refleks kedua mata ama dalam hal warna, intensitas dan kejernihan, dan tidak terdapat kekeruhan atau bintik putih (leukokoria) pada area salah satu atau kedua mata.

(30)

2.4

F. Tata Laksana

Tumor Otak A. Pengertian

B. Epidemiologi

C. Tanda dan Gejala

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Terapi bergantung pada stadium, meliputi : a. Operasi

b. Terapi lokal (laser fotokoagulasi, termoterapi, krioterapi) c. Kemoterapi lokal dan sistemik

d. Radioterapi

Tumor otak adalah pertumbuhan sel abnormal yang berasal dari jaringan otak atau struktur di sekitarnya, dapat berasal dari sel otak itu sendiri (tumor otak primer) maupun metastasis dari tumor di bagian tubuh lain (tumor otak sekunder).

Secara global, tumor otak adalah tumor padat terbanyak pada anak.

Di Amerika dan Eropa, insiden tumor otak bervariasi antara 1-5 per 100.000 anak dan lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki. Data di Indonesia tahun 2021 - 2022 menurut IP-CAR Tahun 2022, terdapat 129 kasus tumor otak pada anak.

Gejala yang timbul bergantung dari lokasi dan pertumbuhan tumor, dapat berupa :

Sakit kepala yang menetap atau memberat, dapat membangunkan anak saat tidur atau muncul saat bangun tidur di pagi hari. Gejala dapat disertai dengan mual dan muntah yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

Gangguan penglihatan (pandangan kabur, penglihatan ganda, kebutaan mendadak).

Kejang tanpa demam atau kejang tanpa kelainan neurologis yang mendasari dan bersifat progresif.

Kelemahan unilateral (salah satu anggota badan atau satu sisi tubuh)

Wajah mencong (asimetris) a.

b.

c.

d.

e.

(31)

Gambar 14. Massa Tumor Otak pada CT scan kepala

19 Perubahan kesadaran atau status mental (perubahan perilaku, kebingungan)

Kehilangan keseimbangan saat berjalan

Kesulitan berbicara (bicara gagap, pelo, atau kehilangan kemampuan bicara)

f.

g.

h.

(32)

Anamnesis

Pemeriksaan Fisis

Pemeriksaan Penunjang

Sakit kepala Mual dan muntah

Pandangan kabur, penglihatan ganda, kebutaan mendadak Kejang Kelemahan pada satu sisi tubuh

Wajah mencong

Perubahan kesadaran atau status mental (perubahan perilaku, kebingungan)

Kehilangan keseimbangan saat berjalan

Kesulitan berbicara (bicara gagap, pelo, atau kehilangan kemampuan bicara)

D. Diagnosis

Pemeriksaan GCS

Mata : anisokor, refleks cahaya menurun, gangguan lapang pandang

Wajah : asimetri, parese nervus cranialis

Pemeriksaan neurologis (refleks fisiologis, refleks patologis, kekuatan motorik, sensorik, dan tonus otot)

Pemeriksaan rangsang meningeal Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Fasilitas Pelayanan Kesehatan : Pemeriksaan darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal.

RS Rujukan : Pemeriksaan darah, pemeriksaan cairan serebrospinal , MRI atau CT Scan kepala, histopatologi atau biopsi

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

1.

2.

3.

4.

6.

1.

2.

(33)

2.5

E. Tata Laksana

Tumor Wilms (Nefroblastoma) A. Pengertian

B. Epidemiologi

21 Anti nyeri (Parasetamol oral dengan dosis 10-15 mg/kg tiap 6 jam atau Ibuprofen oral dengan dosis 5-10 mg/kg tiap 6-8 jam)

Anti kejang (Diazepam rektal dengan dosis 0,5-0,75 mg/kg atau Diazepam rektal dosis 5 mg diberikan untuk anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan dosis 10 mg untuk berat badan lebih dari 12 kg)

Operasi Radioterapi Kemoterapi

Tatalaksana awal di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat diberikan :

a.

b.

a.

b.

c.

Tatalaksana di RS rujukan :

Tumor Wilms atau nefroblastoma adalah tumor embrional yang berasal dari ginjal.

Tumor Wilms adalah tumor ginjal yang terbanyak pada anak.

Sekitar 80% tumor ini terjadi pada anak dibawah usia 6 tahun, dengan puncak insiden pada umur 2-3 tahun. Sebagian besar kasus mengenai satu ginjal. Berdasarkan Data Globocan Tahun 2020, diestimasikan terdapat 14.590 kasus baru tumor ginjal pada anak di dunia. Berdasarkan IP-CAR, di Indonesia pada tahun 2021 didapatkan 49 kasus Tumor Wilms dari 1.447 pasien kanker anak (3,4%).

(34)

Anamnesis

Pemeriksaan Fisis

Massa intra abdomen berbatas tegas, tidak melewati garis tengah Hematuria

Hipertensi Aniridia

Benjolan di satu sisi perut Buang air kecil kemerahan

Penurunan berat badan dan nafsu makan Diagnosis

C. Tanda dan Gejala

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

D. Gambar 15. Hemihipertrofi

Teraba massa padat atau kenyal di sisi kiri atau kanan perut yang tidak disertai nyeri

BAK berdarah (hematuria) Hipertensi

Anemia, penurunan berat badan, demam, tidak nafsu makan Dapat disertai Infeksi saluran kemih

Dapat disertai kelainan bawaan lainnya, seperti aniridia, hemihipertrofi, anomali saluran kemih atau genitalia, dan retardasi mental (Sindrom WAGR)

Penyebaran utama Tumor Wilms adalah ke paru, dengan gejala sesak napas

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

1.

2.

3.

1.

2.

3.

(35)

E. Tata Laksana

Neuroblastoma A. Pengertian

B. Epidemiologi

Pemeriksaan Penunjang

Fasilitas Pelayanan Kesehatan :

Pemeriksaan urinalisis (ditemukan eritrosit dalam urin) dan darah perifer lengkap (umumnya dalam batas normal) RS Rujukan : Pemeriksaan darah, fungsi ginjal, LDH, USG, IVP, CT Scan Abdomen, dan biopsi

23 2.6

C. Tanda dan Gejala 1.

2.

Terapi dapat berupa : Operasi

Radioterapi Kemoterapi a.

b.

c.

Neuroblastoma merupakan tumor ganas yang berasal dari sistem saraf simpatis.

Angka kejadian neuroblastoma adalah 10,5 per 1.000.000 anak dibawah usia 15 tahun. Neuroblastoma tidak ada hubungannya dengan letak geografi dan ras. Pada tahun 2021 tercatat 47 kasus neuroblastoma baru dari 1447 pasien yang teregistrasi (3,2%) di Indonesia (IP-CAR, 2022). Puncak angka kejadian terjadi pada usia dibawah 5 tahun dengan rata-rata pada usia 2 tahun.

Gejala klinis sangat bervariasi bergantung lokasi tumor primer dan penyebarannya. Neuroblastoma paling sering berada di rongga abdomen (kelenjar adrenal), namun dapat ditemukan pada bagian tubuh manapun, seperti kepala, leher, rongga dada, atau medula spinalis. Penyebaran neuroblastoma seringkali ditemukan pada tulang, kelenjar getah bening, sumsum tulang, hati, dan kulit.

a.

(36)

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Gambar 16. Racoon Eyes

Tumor primer di abdomen (65%) ditandai dengan benjolan di abdomen yang dapat menyebabkan perut membesar dan dapat menimbulkan gejala obstruksi saluran pencernaan Tumor primer di rongga dada dan leher:

- Benjolan pada leher

- Batuk, sesak napas, dan nyeri dada

Sindrom Horner (ptosis unilateral, miosis, anhidrosis/mata kering)

Pembesaran kelenjar getah bening di rongga dada yang menyebabkan penekanan saluran napas dan pembuluh darah dengan gejala sesak disertai bengkak di wajah, leher, dan lengan atas (Sindroma Vena Cava Superior)

Penyebaran ke tulang periorbita : mata menonjol diikuti kebiruan di kelopak mata (hematoma periorbita/raccoon eyes), merupakan tanda khas pada neuroblastoma.

Penyebaran ke tulang : pada tulang kranial dapat menyebabkan benjolan dan pada ekstremitas dapat menyebabkan anak tidak bisa berjalan.

Penyebaran ke paraspinal : nyeri radikuler, lumpuh, gangguan berkemih, dan buang air besar.

Penyebaran pada kulit : benjolan pada kulit (nodul subkutan) Gejala penyerta : pucat, iritabel, lemah, penurunan berat badan, anoreksia, dan demam

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

(37)

Anamnesis

Pemeriksaan Fisis

Benjolan atau pembengkakan pada tulang.

Nyeri tulang yang semakin memberat, mengganggu aktivitas, dapat membangunkan anak dari tidur.

Gerakan terbatas pada sendi yang terkena.

Fraktur/patah tulang yang terjadi setelah aktifitas rutin, kadang dapat terjadi tanpa trauma.

Gejala penyerta seperti demam, cepat lelah, berat badan turun, dan pucat

Gambar 17. Penyebaran Neuroblastoma ke Tulang Kepala

25 D. Diagnosis

1.

2.

3.

4.

5.

Tampak berjalan pincang karena rasa sakit.

Massa atau pembengkakan pada tulang. Ekstremitas yang terkena lebih besar dibanding dengan yang normal (harus diukur lingkar pembengkakannya pada lokasi yang sama).

Massa/benjolan teraba lebih hangat akibat peningkatan vaskularisasi di kulit.

Keterbatasan gerak sendi (range of motion) yang terkena.

Sesak napas dapat ditemukan bila sudah terjadi penyebaran ke paru

1.

2.

3.

4.

5.

(38)

1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan :

- Foto rontgen pada bagian tulang yang terkena bila tersedia - Pemeriksaan darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal

Rumah Sakit Rujukan :

Pemeriksaan darah, foto polos/CT-scan/MRI tulang, foto toraks, biopsi.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

2.

3.

E. Tata Laksana

Osteosarkoma A. Pengertian

B. Epidemiologi

C. Tanda dan Gejala 2.7

Pemeriksaan Penunjang

Tata laksana tergantung pada stadium, meliputi tindakan operasi, kemoterapi, atau radioterapi.

Osteosarkoma adalah jenis keganasan yang berasal dari sel pembentuk tulang (osteoblast).

Osteosarkoma merupakan jenis keganasan tulang primer yang paling sering dijumpai. Angka kejadian Osteosarkoma adalah 8-11 per 1.000.000 penduduk per tahun pada usia 15-19 tahun.

Osteosarkoma banyak ditemukan pada anak kelompok usia remaja dengan insiden tertinggi pada usia 10 tahun dan lebih sering dijumpai pada anak laki-laki. Pada tahun 2021 tercatat 87 anak (6%) dari seluruh kanker anak di Indonesia (IP-CAR, 2022).

Lokasi tersering Osteosarkoma adalah daerah metafisis tulang panjang dengan rasio pertumbuhan yang cepat, seperti tulang paha / femur distal (42%), tulang kering / tibia proksimal (16%), dan tulang lengan atas / humerus proksimal (15%), meskipun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada semua tulang.

Tanda dan gejala yang dapat ditemukan antara lain:

(39)

27 Benjolan atau pembengkakan pada tulang. Ekstremitas yang terkena lebih besar dibanding dengan yang normal. Massa atau benjolan dapat teraba lebih hangat akibat peningkatan vaskularisasi di kulit.

Nyeri tulang yang semakin memberat, mengganggu aktivitas, dapat membangunkan anak dari tidur. Anak tampak berjalan pincang karena rasa sakit.

Keterbatasan gerak sendi (range of motion) yang terkena

Fraktur atau patah tulang yang terjadi setelah aktifitas rutin, kadang dapat terjadi tanpa trauma

Gejala penyerta seperti demam, cepat lelah, berat badan turun, dan pucat

Sesak napas dapat ditemukan bila sudah terjadi penyebaran ke paru a.

b.

c.

d.

e.

f.

Gambar 18. Massa tumor pada femur distal

Gambar 19. Foto tulang Osteosarkoma

(40)

Pemeriksaan Fisis Anamnesis

Perut membesar, terasa penuh, dapat disertai rasa nyeri Batuk, sesak napas, nyeri dada

Benjolan pada leher Benjolan pada kepala

Nyeri tulang, lumpuh, gangguan berkemih dan buang air besar Pucat, iritabel, lemah, penurunan berat badan, anoreksia, dan demam

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Teraba benjolan di abdomen Massa pada leher

Benjolan pada kepala

Pembengkakkan di leher akibat penekanan Vena Cava Superior Proptosi disertai kebiruan di kelopak mata (hematoma periorbita/raccoon eyes)

Nodul subkutan

Gambar 20. Penyebaran Osteosarkoma ke paru Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Diagnosis D.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

(41)

Pemeriksaan Penunjang

Fasilitas Pelayanan Kesehatan :

Pemeriksaan darah perifer lengkap, umumnya dalam batas normal. Jika ada kelainan mungkin suatu neuroblastoma yang sudah menyebar hingga sumsum tulang

Rumah sakit rujukan :

Pemeriksaan darah, Vanillylmandelic Acid (VMA) urin, USG/CT- scan, biopsi massa, aspirasi sumsum tulang, Meta-

Iodobenzylguanidine (MIBG)

29 1.

2.

E. Tata Laksana

Tata laksana tergantung pada stadium, meliputi tindakan operasi, kemoterapi, atau radioterapi. Pertolongan awal di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dapat diberikan anti nyeri (Parasetamol 10-15 mg/kg/kali tiap 6-8 jam sekali atau Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali tiap 8 jam) dan imobilisasi.

Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas pada nasofaring yaitu daerah antara hidung dan tenggorokan.

Nasofaring berhubungan dengan banyak daerah penting yaitu ke atas dengan rongga tengkorak, ke kanan dan kiri dengan telinga, ke depan dengan hidung dan mulut, serta ke belakang dengan tenggorokan.

Tumor tidak mudah diperiksa dan sering terlambat terdeteksi.

Oleh karena itu, metastasis ke leher lebih sering ditemukan sebagai gejala pertama.

Karsinoma Nasofaring A. Pengertian

a.

b.

c.

2.8

Gambar 21. Anatomi nasofaring dan gambaran nasofaring normal pada pemeriksaan endoskopi

(42)

Epidemiologi

Insidensi Karsinoma Nasofaring di dunia kurang dari 1 kasus per 100.000 penduduk. Hampir 60% tumor ganas di kepala dan leher adalah karsinoma nasofaring. Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi karsinoma nasofaring yang tinggi. Laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. Faktor risiko yang sudah diketahui salah satunya adalah infeksi Epstein-Barr Virus. Berdasarkan Data IP-CAR, dari tahun 2015-2021, terdapat 63 kasus Karsinoma Nasofaring pada anak di Indonesia.

Gambar 22.

Massa nasofaring pada pemeriksaan endoskopi Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

B.

C. Tanda dan Gejala

Ingus bercampur darah, pilek dan air ludah yang kental, hidung tersumbat, mimisan.

Penurunan pendengaran (tuli) di satu sisi telinga atau kedua telinga, telinga berdengung (tinitus), nyeri telinga, dan rasa penuh di telinga.

Pembesaran kelenjar getah bening di daerah leher yang teraba keras.

Gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda (diplopia), kelopak mata turun (ptosis).

Kesulitan membuka mulut, gangguan menelan (disfagia).

Gejala sumbatan jalan napas atas misalnya sesak napas, hidung buntu, stridor dan ngorok, serta kesulitan bicara (suara sengau).

Gejala dini : a.

b.

Gejala lanjut : a.

b.

c.

d.

(43)

Anamnesis

Pemeriksaan Fisis

Gejala nasofaring: ingus bercampur darah, mimisan, hidung tersumbat

Gejala telinga: telinga terasa penuh, berdengung, nyeri telinga, Gejala mata dan saraf: penglihatan ganda

Gangguan menelan

Pembesaran kelenjar getah bening di leher

Pembengkakan kelenjar leher

Sumbatan jalan napas atas terutama hidung dan tenggorokan Gangguan mata (penglihatan ganda)

Gangguan pendengaran

Kesulitan nafas dan kesulitan bicara pada gejala lanjut

30 Gambar 23. Massa leher pada karsinoma nasofaring D.

1.

2.

3.

4.

5.

Diagnosis

1.

2.

3.

4.

5.

e. Kesemutan dan kebas pada daerah wajah (neuropati trigeminal)

(44)

Pemeriksaan Penunjang

E. Tata Laksana

Tata laksana dapat meliputi tindakan operasi, kemoterapi, atau radioterapi

Beberapa Kode ICD 10 yang dapat digunakan :

• Suspek leukemia C95.9

• Suspek limfoma C96.9

• Massa kepala, wajah, leher C76.0

• Massa toraks C76.1

• Massa intraabdomen C76.2

• Keganasan tulang dan tulang rawan pada ekstremitas C40

• Retinoblastoma C69.2

• Tumor Otak C71.9

• Wilms tumor C64.1, C64.2, C64.9

• Neuroblastoma C74.9

• Osteosarkoma C40

• Karsinoma Nasofaring C11.9

Fasilitas Pelayanan Kesehatan :

Pemeriksaan darah lengkap umumnya dalam batas normal Rumah Sakit rujukan :

Pemeriksaan darah, serologi virus, pemeriksaan oleh Dokter Spesialis, CT Scan kepala dan leher, dan histopatologi atau biopsi

1.

2.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(45)

Upaya Penemuan Dini di Masyarakat

BAB III

(46)

33 Posyandu Prima

Institusi pendidikan seperti PAUD, TK, Kelompok Bermain, SD/sederajad, SMP/sederajad, dan SMU/sederajad

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) anak Panti sosial anak

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)/Rumah Tahanan (Rumah Tahanan) anak

Tempat lainnya

Melakukan identifikasi terkait upaya penanggulangan kanker pada anak (prevalensi dan riwayat perjalanan penyakit) sehingga bisa digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan advokasi.

Melakukan advokasi kepada lintas sektor dan pemangku kepentingan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan deteksi dini kanker pada anak. Melakukan pembinaan terhadap kader kesehatan untuk meningkatkan

kapasitas dan pengetahuan kader mengenai kanker pada anak.

Melakukan deteksi dini kanker pada anak dengan menggunakan formulir penemuan dini kanker pada anak.

Melakukan tata laksana awal dan merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut.

Berkolaborasi dengan lintas sektor dan pihak swasta terkait dalam upaya deteksi dini kanker pada anak.

Dalam rangka peningkatan penemuan kasus kanker pada anak lebih dini, perlu kiranya melibatkan para pemangku kepentingan dan unsur- unsur dalam masyarakat untuk mengenali tanda dan gejala 8 (delapan) kanker pada anak. Kegiatan pengenalan dan penemuan dini kanker pada anak dapat dilakukan di:

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Tenaga Kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan melaksanakan hal- hal sebagai berikut:

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

BAB III

UPAYA PENEMUAN DINI DI MASYARAKAT

(47)

Identitas (diisi oleh perawat/petugas pendaftaran) Nomor Rekam Medis :

NIK Anak : Nama Anak :

Tanggal Lahir Anak (tgl/bln/thn) : ____/____/____

Jenis Kelamin : L/P

Berat Badan : kg Tinggi Badan : cm Nama Orang Tua :

Alamat :

No Telepon/ HP : Nama Fasyankes :

Tanggal Pemeriksaan (tgl/bln/thn) :

FORMULIR PENEMUAN DINI KANKER PADA ANAK

34 Riwayat Prematur : Ya/Tidak*

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) : Ya/Tidak*

Status Imunisasi Dasar : Lengkap/ Tidak Lengkap* ASI Eksklusif : Ya/Tidak*

Riwayat Kesehatan Orang Tua

Perilaku Merokok/ Paparan Asap Rokok : Ya/Tidak*

Riwayat Kanker Dalam Keluarga Sedarah : Ya/Tidak*

Diisi oleh Dokter, Bidan atau Perawat

(48)

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(49)

Kemungkinan Kanker atau Penyakit Lain :

36 Dokter,

(…………...………) Kesimpulan

Kecurigaan kanker : Ya / Tidak

Jika ditemukan salah satu gejala di atas, maka :

Bila ditemukan satu "Ya", lakukan evaluasi lanjutan >> kemungkinan suatu kanker sesuai buku Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak. Jika tersedia, lakukan pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen sesuai indikasi.

Bila hasil pemeriksaan mengarah ke suatu kanker, rujuk segera ke rumah sakit rujukan

Stabilkan pasien, dan jika perlu, mulailah cairan intravena, oksigen, dan penanganan nyeri

Jika dicurigai tumor otak dan ada penurunan status neurologis, berikan tata laksana peningkatan tekanan intrakranial

Edukasi orang tua mengenai alasan dan pentingnya rujukan Berkomunikasi dengan fasilitas rujukan

(50)

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Pengisian formulir dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan Formulir tidak digunakan untuk pasien yang telah terdiagnosis kanker

Pengisian lengkap formulir penemuan dini kanker pada anak dilakukan bila ditemukan minimal 1 gejala (dari 13 gejala yang menunjukkan kecurigaan kanker pada anak) saat pemeriksaan awal atas pertimbangan klinis dokter pemeriksa

Definisi operasional pertanyaan dasar formulir penemuan dini kanker pada anak :

Penjelasan mengenai tata cara pengisian formulir penemuan dini kanker pada anak :

1.

2.

3.

4.

Nama lengkap: Diisi dengan nama lengkap dari klien/ pasien Tanggal lahir: Diisi dengan format tanggal, bulan, dan tahun kelahiran dari klien/ pasien

Jenis kelamin: Diisi “L” untuk Laki-laki / “P” untuk Perempuan Berat badan: Diisi dalam satuan kilogram

Tinggi badan: Diisi dalam centimeter

Nama Orang Tua: Diisi dengan nama lengkap orang tua Alamat: Diisi dengan alamat lengkap (Nama Jalan, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan)

Nomor Telepon/ Hp: Diisi oleh nomor handphone/telepon Riwayat prematur: Bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu

BBLR: Berat Badan Lahir Rendah adalah berat lahir bayi kurang dari 2500 gram

Status Imunisasi Dasar Lengkap: Bayi usia kurang dari 1 tahun yang telah mendapatkan imunisasi HB0 1 dosis, BCG 1 dosis, DPTHB-Hib 3 dosis, Polio tetes (OPV) 4 dosis, Polio suntik (IPV) dosis, Campak Rubela 1 dosis

ASI Eksklusif: Bayi yang diberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

k.

l.

(51)

38 m.Perilaku merokok/paparan asap rokok: Kebiasaan merokok yang dilakukan oleh anggota keluarga dalam 1 rumah n. Riwayat kanker dalam keluarga sedarah: Orang tua kandung atau saudara kandung mempunyai riwayat kanker

(52)

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(53)

Pengorganisasian dan Sistem Rujukan

BAB IV

(54)

4.1

Edukasi pengenalan gejala dan tanda kanker pada anak terkait upaya penanggulangan kanker pada anak secara komprehensif.

Memberikan konseling tentang kanker pada anak.

Melatih dan memberdayakan kader kesehatan dalam upaya penemuan tanda dan gejala 8 kanker pada anak serta upaya promotif kepada masyarakat melalui posyandu prima serta pos kesehatan lainnya.

Melatih serta memberdayakan dokter kecil dalam penemuan dini kanker pada anak.

Melakukan deteksi dini kanker pada anak berdasarkan tanda dan gejala serta pemeriksaan laboratorium bila tersedia.

Merujuk pasien yang dicurigai kanker anak ke RS/Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut.

Menerima umpan balik hasil rujukan dan tindak lanjut sesuai hasil rekomendasi.

Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil deteksi dini ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota setiap bulan.

Memberikan konseling tentang kanker pada anak.

Melakukan deteksi dini kanker pada anak berdasarkan tanda dan gejala serta pemeriksaan laboratorium bila tersedia.

Merujuk pasien yang terdiagnosis ke RS/Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut.

Menerima umpan balik hasil rujukan dan tindak lanjut sesuai hasil rekomendasi.

Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil deteksi dini ke Puskesmas setiap bulan.

Pengorganisasian

Peran masing-masing jenjang 1) Puskesmas

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

2) FKTP Jejaring Puskesmas a.

b.

c.

d.

e.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

BAB IV

PENGORGANISASIAN DAN SISTEM RUJUAN

(55)

Menegakkan diagnosis kanker pada anak.

Menerima rujukan dar FKTP dan RS lain.

Memberikan umpan balik pasien yang dirujuk kepada instansi yang merujuk.

Memberikan terapi sesuai dengan fasilitas dan kompetensi yang dimiliki.

Melakukan pencatatan dan pelaporan diagnosis kanker pada anak ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota setiap bulan.

Memberikan umpan balik pasien yang dirujuk kepada instansi yang merujuk.

Memberikan terapi sesuai dengan fasilitas dan kompetensi yang dimiliki.

Melakukan pencatatan dan pelaporan diagnosis kanker pada anak ke Dinas Kesehataan/Kabupaten/kota setiap bulan.

Memberikan umpan balik pasien yang dirujuk kepada instansi yang merujuk.

Memberikan terapi sesuai dengan fasilitas dan kompetensi yang dimiliki.

Melakukan pencatatan dan pelaporan diagnosis kanker pada anak ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota setiap bulan.

3) Rumah Sakit a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

k.

42 Sosialisasi dan advokasi pengendalian kanker pada anak.

Sosialisasi pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak untuk meningkatkan kesadaran/kewaspadaan masyarakat agar melakukan pemeriksaan ke FKTP/RS.

Fasilitasi rumah sakit tipe B/C di wilayahnya dalam diagnosis dan pengobatan kanker pada anak.

Membina dan melatih tenaga Puskesmas/FKTP lain di wilayahnya dalam upaya deteksi dini kanker pada anak.

Membuat jejaring pengendalian kanker pada anak tingkat kab/kota.

Menerima hasil pencatatan dan pelaporan dari Puskesmas dan RS, merekap dan melaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi.

4) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota a.

b.

c.

d.

e.

f.

(56)

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Sosialisasi dan advokasi pengendalian kanker anak.

Sosialisasi pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak untuk meningkatkan kepedulian (awareness) masyarakat agar melakukan pemeriksaan ke puskesmas/rumah sakit.

Membina dan melatih tenaga Puskesmas/FKTP lain di wilayahnya dalam upaya deteksi dini kanker pada anak.

Memfasilitasi rumah sakit tipe B/C di wilayahnya dalam diagnosis dan pengobatan kanker pada anak

Berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota di wilayahnya dalam pengendalian kanker pada anak.

Membuat jejaring pengendalian kanker pada anak tingkat provinsi.

Menerima laporan dari dinas kesehatan kabupaten/kota dan melaporkan ke Kementerian Kesehatan (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit).

Melakukan monitoring dan evaluasi pengendalian kanker pada anak di wilayahnya.

g.Melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan pengendalian kanker anak.

5) Dinas Kesehatan Provinsi a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

Kampanye pengenalan tanda dan gejala kanker pada anak dalam rangka meningkatkan kewaspadaan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ke FKTP dan RS.

Peningkatan kapasitas SDM dalam pengendalian kanker anak.

Menyiapkan sarana dan prasarana pengendalian kanker di fasilitas pelayanan kesehatan.

Membuat jejaring pengendalian kanker pada anak tingkat nasional.

Mengembangkan sistem surveilans kanker, khususnya kanker pada anak

6) Kementerian Kesehatan a.

b.

c.

d.

e.

(57)

44 Membantu pemberdayaan masyarakat dalam hal promosi dan edukasi.

Dukungan sumber daya.

7) Peran Organisasi Masyarakat (LSM, Yayasan, Organisasi Provinsi)

a.

b.

(58)

Konseling Ulang

Jika menolak kembali, lakukan Perkesmas

Meminta pasien tanda tangan di kolom penolakan

Prosedur diagnostik

Kecurigaan kanker Konseling

Upaya penanggulangan kanker secara komperhensif

Menawarkan tanggal dan rumah sakit yang akan dituju

Mengikuti kasus rujukan yang berlaku

Membuat rujukan ke rumah sakit Informed consent

Rumah sakit penerima menjawab rujukan Pasien

datang

4.2 Alur Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Gambar 4.2. Alur Penemuan Dini Kanker pada Anak Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(59)

4.3

4.4

Petugas kesehatan di FKTP melakukan pemeriksaan pada pasien anak yang memiliki minimal 1 dari 13 gejala yang menunjukkan kecurigaan kanker pada anak saat pemeriksaan awal atas pertimbangan klinis dokter pemeriksa dan dilakukan rujukan ke FKRTL.

Apabila FKRTL yang dituju tidak memiliki fasilitas yang mendukung, maka pasien dirujuk ke FKRTL lebih tinggi.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota.

Sumber pembiayaan lain yang sah dan tidak mengikat.

Sistem Rujukan

Rujukan kasus kanker anak merupakan bagian dari upaya kesehatan dalam penanganan masalah kanker anak yang pada hakikatnya

merupakan upaya pengendalian kanker. Dilaksanakan mengacu pada sistem rujukan kesehatan yang ada. Sistem rujukan pengendalian kanker pada anak dilakukan sebagai berikut:

a.

b.

Sistem Pembiayaan

Pelaksanaan program penemuan dini kanker pada anak memerlukan biaya operasional dan biaya penyediaan alat yang perlu diupayakan melalui berbagai sumber. Untuk menjamin kesinambungan penemuan dini kanker pada anak, maka pemerintah perlu mengalokasikan anggaran di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, meliputi :

a.

b.

c.

d.

46

(60)

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(61)

Monitoring dan Evaluasi

BAB V

(62)

Mencatat setiap temuan tanda dan gejala kanker pada anak menggunakan daftar tilik penemuan dini kanker pada anak.

Melakukan verifikasi data.

Menginput data ke dalam Register Penemuan Dini Kanker pada Anak (PDKA).

Melaporkan Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menggunakan form Rekapitulasi PDKA Fasyankes paling lambat tanggal 25 pada setiap bulannya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Menerima laporan dari FKTP di Kabupaten/Kota Melakukan kompilasi data

Melakukan validasi dan verifikasi data Mengolah dan menganalisis data

Melaporkan data hasil kompilasi yang sudah divalidasi ke Dinas Kesehatan Provinsi menggunakan form rekap PDKA K/K (Kabupaten/Kota) paling lambat tanggal 28 pada setiap bulannya 5.1 Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dan Pelaporan adalah komponen penting dalam program nasional pencegahan dan pengendalian kanker pada anak, hal ini dilakukan agar bisa didapatkannya data yang kemudian dapat diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan serta kemudian disebarluaskan. Data yang dikumpulkan harus merupakan data yang akurat, lengkap dan tepat waktu sehingga memudahkan proses pengolahan dan analisis data.

Data diperoleh dari pencatatan yang dilakukan di semua sarana pelayanan kesehatan dengan satu sistem baku yang sesuai dengan program pencegahan dan pengendalian kanker pada anak yang mencakup penemuan dini dan tatalaksana kanker pada anak.

Pencatatan dan pelaporan penemuan dini kanker pada anak dilakukan secara berjenjang, sebagai berikut:

1) Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

BAB V

MONITORING DAN EVALUASI

(63)

50 Menerima data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Melakukan kompilasi data

Melakukan validasi dan verifikasi data Mengolah dan menganalisis data

Melaporkan data hasil kompilasi yang sudah divalidasi ke

Kementerian Kesehatan RI Tim Kerja Penyakit Kanker dan Kelainan Darah (PKKD), Direktorat P2TM Ditjen P2P menggunakan form rekap

PDKA Provinsi paling lambat tanggal 10 pada bulan berikutnya

Menerima data dari Dinas Kesehatan Provinsi Melakukan kompilasi data

Melakukan validasi dan verifikasi data Mengolah dan menganalisis data 3) Dinas Kesehatan Provinsi

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

4) Kementerian Kesehatan a.

b.

c.

d.

Kementerian Kesehatan

Dinas Kesehatan Tk.

Kabupaten/Kota

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Dinas Kesehatan Tk. Provinsi

Bagan 5.1 Alur Penctatan dan Pelaporan Penemuan Deteksi Dini Anak

(64)

Nama KTP : Bulan : Tahun : Keterangan: - No : Diisi dengan angka - Tanggal Pemeriksaan : diisi dengan format tanggal/bulan/tahun - Identitas Pasien Anak : - NIK: diisi dengan angka - Nama Lengkap: diisi dengan HURUF KAPITAL - Tanggal Lahir: diisi dengan format tanggal/bulan/tahun kelahiran dari klien/ pasien 51 Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Tabel 5.1 Register Penemuan Dini Kanker pada Anak Register Penemuan Dini Kanker pada Anak di FKTP

(65)

- Jenis Kelamin: diisi “L” untuk Laki-laki / “P” untuk Perempuan - Antropometri : - Berat Badan: diisi dalam satuan kilogram - Tinggi Badan: diisi dalam centimeter - Identitas Orang Tua: - Nama Lengkap: diisi dengan HURUF KAPITAL - Alamat: diisi dengan alamat lengkap (Nama Jalan, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan) - No. Telepon/ Hp: diisi oleh nomor handphone / telepon 52

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(66)

53

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Riwayat Prematur : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan BBLR : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan Status Imunisasi Dasar Lengkap : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan ASI Eksklusif : diisi dengan “√” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan Perilaku Merokok/paparan Asap Rokok : diisi dengan “v” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan Riwayat Kanker Dalam Keluarga Sedarah : diisi dengan “v” bila dijawab Ya, bila tidak maka dikosongkan

Keterangan: - Riwayat Kesehatan Anak : - Riwayat Kesehatan Orang Tua :

(67)

54

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Keterangan : Tiap kolom diisi “v” bila jawaban Ya, bila tidak maka dikosongkan

(68)

55

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Tabel 5.1 Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA FKTP) Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA FKTP) Provinsi : Kabupaten/Kota : FKTP : Tahun : Bulan :

(69)

56

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(70)

57

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak Tabel 5.1 Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA FKTP) Rekapitulasi Penemuan Dini Kanker pada Anak FKTP (PDKA Kabupaten/Kota) Provinsi : Kabupaten/Kota : FKTP : Tahun : Bulan :

(71)

58

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

(72)

Tingkat Pusat

Dinas Kesehatan Provinsi

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota FKTP

5.2 Monitoring dan Evaluasi

Pelaksanaan Penemuan Dini Kanker pada Anak merupakan kunci keberhasilan penanggulangan kanker pada anak, sehingga dibutuhkan monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaanya.

Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota melakukan pemantauan dan penilaian (monitoring dan evaluasi) penyelenggaraan penemuan dini kanker pada anak di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sesuai dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan.

Kementerian Kesehatan melakukan monitoring dan evaluasi secara nasional terhadap pelaksanaan penemuan dini kanker pada anak menggunakan Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker Pada Anak di Provinsi dilaksanakan minimal setiap 1 tahun sekali.

Dinas Kesehatan Provinsi melakukan monitoring dan evaluasi di tingkat Provinsi terhadap pelaksanaan penemuan dini kanker pada anak di kabupaten/kota menggunakan Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker Pada Anak di Kab/Kota dilaksanakan minimal setiap 6 bulan sekali.

1.

2.

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

Direktorat P2PTM

Pengelola Program P2PTM Provinsi

Pengelola Program P2PTM Kabupaten/Kota

Alur Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak

(73)

3.

60 Dinas Kesehatan Kab/Kota melakukan monitoring dan evaluasi di tingkat Kab/Kota terhadap pelaksanaan penemuan dini kanker pada anak di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menggunakan Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker Pada Anak dilaksanakan minimal setiap 3 bulan sekali.

Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)

Format Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak adalah sebagai berikut :

1.

FORM MONITORING DAN EVALUASI PENEMUAN DINI KANKER PADA ANAK DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

(FKTP)

Tanggal : ….. / …... / 20…..

I. KETERANGAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) 1. Nama FKTP : ……….

2. Kode Wil/FKTP : ……….

3. Kabupaten/Kota : ……….

4. Provinsi : ……….

5. Alamat Institusi : ……….

6. Nama Petugas/ Koordinator P2PTM : ……….

7. No Telp yang bisa dihubungi : ……….

(Koordinator P2PTM)

(74)

II.

III. Data SDM Kesehatan FKTP

Jumlah Penduduk Anak di wilayah kerja : ……….

Sasaran Program : ……….

KONDISI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) 1.

2.

a. Jumlah penduduk usia 0-4 tahun : ……….

b. Jumlah penduduk usia 5-9 tahun : ……….

c. Jumlah penduduk usia 10-18 tahun : ……….

Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

No Jenis SDM Jumlah SDM

1 2 3

Dokter Perawat Bidan

IV. Capaian Penemuan Dini Kanker pada Anak

…..

…..

…..

Tanda dan Gejala terbanyak:

1.

2.

3.

No

0 - 4 tahun 5 – 9 tahun 10 -18 tahun 1

2 3

L P L P

TOTAL

Jumlah Skrining Jumlah dirujuk

Usia Keterangan

V. Kegiatan Promosi

Kegiatan Promosi yang telah dilaksanakan pada penemuan dini kanker pada anak :

……..……….…

...…..………...………

VI. Tantangan/Kendala:

...………

……….………...………...

(75)

62 VII. Solusi/Strategi yang dilakukan :

………

………...

………

……….. ……….. ………..

……….. ……….. ………..

No. Nama NIP No Telp/email 1.

2.

(76)

II.

2.

Jumlah Total FKTP

Jumlah FKTP yang melaksanakan Penemuan Dini Kanker pada Anak Jumlah FKTP melapor rekapan Penemuan Dini Kanker pada Anak Sasaran Program

Nama Petugas/ Koordinator P2PTM No Telp yang bisa dihubungi (Koordinator P2PTM) Sasaran Program

Jumlah penduduk usia 0-4 tahun Jumlah penduduk usia 5-9 tahun Jumlah penduduk usia 10-18 tahun KONDISI KABUPATEN/KOTA

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

a.

b.

c.

Nama Kab/Kota Provinsi

Nama Bidang*) Nama Seksi*) Alamat Institusi

Nama Petugas/ Koordinator P2PTM No Telp yang bisa dihubungi (Koordinator P2PTM)

I. KETERANGAN KABUPATEN/KOTA 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

: : : : : : : : :

……….

……….

……….

……….

……….

……….

……….

……….

……….

Form Monitoring dan Evaluasi Penemuan Dini Kanker pada Anak di Kab/Kota

FORM MONITORING DAN EVALUASI PENEMUAN DINI KANKER PADA ANAK

DI KABUPATEN/KOTA Panduan Penemuan Dini Kanker Pada Anak

: Tanggal : ….. / …... / 20…..

: : : : : : :

……….

Gambar

Gambar 1. Konjungtiva pucat  Gambar 2. Telapak tangan pucat C.  Gejala dan Tanda
Gambar 3. Pembesaran Kelenjar Getah Bening pada Leher dan Preaurikular
Gambar 6. Massa pada  Leher
Gambar 11. Massa Tumor di dalam Retina Gambar 9. Leukokoria
+5

Referensi

Dokumen terkait

Sumber: Kementerian Kesehatan RI. Panduan teknis pelayanan Rumah Sakit pada masa adaptasi kebiasaan baru.. ALUR DAN ZONASI COVID-19.. Sumber: Kementerian Kesehatan RI. Panduan

Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa anak-anak penderita kanker yang usianya lebih muda memiliki angka penilaian kualitas hidup yang lebih rendah dalam sub-skala

Didalam ilmu kesehatan perawat dalam menangani anak- anak yang menderita kanker meggunakan cara yang berbeda dengan menangani orang dewasa yang menderita kanker

Berdasarkan fakta yang ditemukan dilapangan penderita kanker dengan background pendidikan yang tinggi mereka akan melakukan penemuan informasi dengan menggunakan berbagai

Anak, Kementerian Kesehatan RI, Markas Besar Polri, Kementerian Dalam Negeri RI, Kementerian Agama RI, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ikatan Pekerja

Sebagai RS UPT Vertikal di bawah Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan yang khusus menangani kanker, RS Kanker “Dharmais” berperan dalam mewujudkan

284/MenKes/SK/III/2004 Tentang Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Menteri Kesehatan RI memutuskan Buku KIA sebagai buku pedoman resmi yang berisi informasi dan catatan Kesehatan Ibu

Gambaran kualitas hidup responden kanker payudara pasca kemoterapi berdasarkan empat domain kualitas hidup Tabel 2 Distribusi frekuensi kualitas hidup responden kanker payudara