TANAH DI KECAMATAN TAMBANG KABUPATEN KAMPAR BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997
TENTANG PENDAFTARAN TANAH”
SKRIPSI
“Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Hukum di Falkutas Hukum Universitas Lancang Kuning
Pekanbaru”
Disusun Oleh
Nama : Kristian Pandapotan Simangunsong
NIM 1474201191
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
FAKULTAS HUKUM
2020
TANDA PERSETL›JL'.4h
NAMA : KRIST1IN PAND SPOT.IN SIMANG L N SONG
h PM 1474201191
.IUDU L SKRIPS1 : PELAK.S.EJAAN PE8JEL I HARD4N T tND.4
BAT.US O LEH PE4I I UK T YN.EH DI KEC“AM \TAN
BERDASA RKAN PERATL RAN PE$4 ERINTA H NO8JOR 24 TAH L N 1997 T ENTANG
PENDAFTARAN TAN.EH.
DITER IIIA DC DIS ET EU 1 L N TANK DI PERTAHAh KAN DA RAM UJ tAN SI'iRIPSI
Dosen Pembimbing 1 DosenPembimbinglt
( N"ETTI. S.H , M.Hum.,Ph. D } ( YEL1 4 NATHA SSA W I NSTA R, S.H.,NI. Kn. } 4Iengetahui
Dekan
( Dr. F.4H51t, S.H., h1.II. )
ABSTRAK
Permasalahan penelitian ini adalah: Pertama, bagaimana pelaksanaan pemeliharaan tanda batas oleh pemilik tanah di kecamatan Tambang kabupaten Kampar berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah? Kedua, bagaimana hambatan dalam pelaksanaan pemeliharaan tanda batas oleh pemilik tanah di kecamatan Tambang kabupaten Kampar berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah? Ketiga, bagaimana upaya mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pemeliharaan tanda batas oleh pemilik tanah di kecamatan Tambang kabupaten Kampar berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah? Tujuan penelitian ini adalah: Pertama, untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan. Kedua, untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar. Ketiga, untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan. Metode penelitian ini dilakukan penelitian hukum sosiologis yaitu penelitian berupa studi-studi empiris untuk menemukan teori-teori mengenai proses terjadinya dan mengenai proses bekerjanya hukum di dalam masyarakat. Hasil penelitian diketahui bahwa pemeliharaan tanda batas wajib dilaksanakan oleh pemegang hak serta pengaruhnya tanda batas terhadap kepastian hukum dan pelayanan di Kantor Pertanahan sehingga perlu langkah – langkah kongkrit untuk tahapan pemeliharaan tanda batas. Hambatan dalam pemeliharaan tanda batas ialah masih banyak masyarakat yang melalaikan pemeliharaan tanda batas serta kurangnya pengetahuan hukum tentang pemeleiharaan tanda batas dan tidak adanya peraturan tentang langkah – langkah pemeliharaan tanda batas. Upaya dalam mengatasi hambatan untuk pemeliharaan tanda batas peran aktif dari pemerintah dan masyarakat.
Kata kunci: Kewajiban, Pemeliharaan, Tanda Batas, Pemegang Hak
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dari zaman penjajahan Indonesia begitu sadar bahwa untuk menjadi Negara besar harus mengakui wilayah, tercatat dalam sejarah bagaimana masyarakat dan para pahlawan melawan penjajahan di Indonesia hal ini dapat dilihat dari pada isi sumpah pemuda pada bagian pertama yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”. Dengan memaknai dari bunyi sumpah pemuda tersebut maka pada saat itu kedudukan tanah / wilayah begitu berharga dan harus dipertahankan hal ini dikarenakan tanah Indonesia begitu di eksploitasikan untuk memperkaya Negara penjajah bukan untuk masyarakat “ Pribumi “.
Di zaman kemerdekaan atau dizaman saat ini, peranan tanah beralih menjadi barang ekonomis dapat dilihat dari gaya hidup masyarakat Indonesia yang tidak lepas dari pemanfaatan tanah itu sendiri. Masyarakat pada umumnya beraktifitas di atas permukaan bumi serta tanah merupakan salah satu sumber penghidupan dan mata pencaharian bagi masyarakat sehingga menjadi kebutuhan manusia yang paling mendasar bahkan tanah dan manusia tidak dapat dipisahkan.
Berdasarkan hasil penelitian penulis terhadap situs resmi Badan Pusat Statistik ( BPS ) kependudukan di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan yang meningkat yang jika kita hubungkan dengan keadaan tanah yang terbatas dan cenderung berkurang maka akan menimbulkan beberapa permasalahan yang
salah satunya yaitu keterbatasan lahan untuk dimanfatkan bagi masyarakat sehingga akan menimbulkan konflik / sengketa.
Melihat begitu pentingnya manfaat atas tanah dan permasalahan yang timbul sehingga pemerintah memberikan kuasa kepada Negara, dikuasai oleh Negara dalam hal ini adalah Negara diberikewenangan, berdasarkan pasal 2 UUPA kewenangan itu adalah:
1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut;
2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa;
3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan - perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Serta Negara juga hadir dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat dengan memberikan aturan pendaftaran tanah yaitu Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 1997 tentang Pendaftran tanah.
Tujuan daripada pendaftran tanah tertuang pada pasal 3 PP 24 Tahun 1997 yaitu:
1. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan;
2. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar;
3. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.
Untuk mencapai tujuan pendaftran tanah maka tidak lepas dari adanya kewajiban untuk melakukan pemeliharaan tanah oleh pemilik tanah, salah satu bentuk pemeliharaan tanah adalah pemeliharaan tanda batas, hal ini sesuai dengan isi PP 24 Tahun 1997 pasal 17 Ayat 3 yaitu penempatan tanda-tanda batas termasuk pemeliharaan-nya, wajib dilakukan oleh pemegang hak atas tanah yang bersangkutan.
Namun kenyataanya di Kecamatan Tambang masyarakat masih melalaikan kewajiban itu seperti sebagaimana penelitian awal peneliti yang dilakukan di desa Rimbo Panjang, desa Kualu dan desa Tarai Bangun bahwa tanah yang sering terjadi konflik / sengketa ialah tanah yang tidak memelihara tanda batas, yang biasanya konflik / sengketa tersebut berupa:
1. Tumpang tindih objek tanah, baik keseluruhan maupun sebagian;
2. Tumpang tindih administrasi, yang dimaksud ialah surat tanda kepemilikandouble.
Menurut keterangannya ada beberapa kasus yang berkenaan dengan kelalain pemeliharan tanda batas, yaitu1:
1 Data permohonan masuk di Kantor Pertanahan Kabupaten Kampar
1. Pada permohonan penerbitan hak pertama kali Atas Nama Yuliza Kartina di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, yang tercatat permohonan masuk di Kantor Pertanahan Kabupaten Kampar, terkendala atau terhenti dikarenakan pemilik tanah tidak mampu menentukan tanda batas kepemilikannya.
2. Permohonan pemecahan sertipikat Atas Nama Joni Panggabean di Desa Kualu, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, yang tercatat permohonan masuk di Kantor Pertanahan Kabupaten Kampar, terkendala dan terhenti sesaat karena pemegang hak atas tanah tidak mampu menunjukan tanda batas bidang tanah yang tertera sesuai dengan sertipikat.
3. Permohonan Pengembalian Batas Bidang Tanah Atas Nama Zulhasni di Desa Tambang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, yang tercatat permohonan masuk di Kantor Pertanahan Kabupaten Kampar, berdasarkan data yang diperoleh bahwa tanda batas bidang tanah tersebut hilang.
Dengan adanya kenyataan bahwa masyarakat tidak melaksanakan perintah memelihara tanda batas tersebut peneliti ingin mengangkat judul yaitu
“PELAKSANAAN PEMELIHARAAN TANDA BATAS OLEH PEMILIK TANAH DI KECAMATAN TAMBANG KABUPATEN KAMPAR BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Pelaksanaan Pemeliharaan Tanda Batas Oleh Pemilik Tanah Di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah ?
2. Bagaimana hambatan dalam Pelaksanaan Pemeliharaan Tanda Batas Oleh Pemilik Tanah Di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah ? 3. Bagaimana upaya mengatasi hambatan dalam Pelaksanaan Pemeliharaan Tanda Batas Oleh Pemilik Tanah Di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah ?
C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian adalah sebagai berikut :
a) Untuk mengetahui Pelaksanaan Pemeliharaan Tanda Batas Oleh Pemilik Tanah Di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
b) Untuk mengetahui hambatan dalam Pelaksanaan Pemeliharaan Tanda Batas Oleh Pemilik Tanah Di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
c) Untuk mengetahui upaya mengatasi hambatan dalam Pelaksanaan Pemeliharaan Tanda Batas Oleh Pemilik Tanah Di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
2. Kegunaan Penelitian
a) Sebagai panduan bagi mahasiswa/mahasiswi Universitas Lancang Kuning Pekanbaru Fakultas Hukum dalam mencari referensi buku di Perpustakaan.
b) Sebagai bahan dalam memberi pemahaman mengenai Pelaksanaan Pemeliharaan Tanda Batas Tanah Oleh Pemegang Sertipikat Hak Milik Di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
c) Dapat menjadi bahan kajian masyarakat dan Pemerintah khususnya Kantor Peratanahan Kabupaten Kampar.
D. Kerangka Teori
Tidak ada aspek lain dari pendaftaran tanah menimbulkan kontroversi kecuali dari letak batas-batas pemilikan tanah, sehingga tanda batas merupakan hal yang sangat penting bagi pendaftran tanah. Untuk pemeliharaan tanda batas harus menimbulkan kesadaran bagi pemilik tanah, menurtu Soerjono Soekanto kesadaran hukum yang tinggi mengakibatkan warga masyarakat mematuhi ketentuan hukum yang berlaku. Sebaliknya, apabila kesadaran hukum sangat
rendah, maka derajat kepatuhan terhadap hukum juga tidak tinggi2. Kewajiban pemeliharan tanda batas termuat dalam PP 24 Tahun 1997 Pasal 17 ayat 3, pemeliharaan tanda batas pada dasarnya terkait dengan kegiatan pemeliharaan data pendaftran tanah, bukan hanya masyarakat yang harus mengerti tentang hukum, pemerintah juga harus mengerti hukum.
Pada dasarnya peranan pemerintah ialah memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat yang memiliki etikad baik dan memiliki kesadaran hukum yang tinggi. Berdasarkan pasal 4 ayat 1 pp 24 Tahun 1997 bahwa untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah diberikan sertipikat. Perlindungan hukum adalah adanya upaya melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam kepentinganya tersebut, atau dengan kata lain bahwa perlindungan hukum salah satu sifat dari hukum3. Dalam hal peningkatan perlindungan hukum pemerintah mengeluarkan kebijakan yakni Pendaftran Tanah Sistematis Lengkap, Reforma Agraria, dan Pemberantasan Mafia Tanah, wujudnyata dari perlindungan hokum ialah kepastian hokum.
Berdasarkan PP 24 Tahun 1997 Pasal 3 ayat a bahwa tujuan pendaftran tanah adalah untuk memberikan kepastian hukum. Kepastian hukum merupakan tujuan dari hukum itu sendiri, apabila hukum tidak memiliki kepastian akan mengakibatkan jati diri hukum tidak ada, kepastian hukum menciptakan
2 Law blogs, Teori – Teori Penegakan Hukum, kesadaran, kepatuhan, E-Law ( Online ), https://ilmuhukumuin-suka.blogspot.com/2015/11/teori-teori-penegakan-hukum-kesadaran.html, diakses pada tanggal 13 Mei 2020.
3Soetjipto Rahardjo, Permasalahan Hukum Di Indonesia, Bandung, Alumni, 1983, hlm 121.
ketertiban di masyarakat4, sehingga tujuan dari pendaftran tanah ialah memberikan rasa nyaman dan menciptakan ketertiban dalam artiannya tidak membuat sengketa / konflik, sedangkan makna dari kepastian hukum dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu 5:
1. Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan,
2. Berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahu apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.
Jika dikaitkan dengan makna kepastian hukum dengan bidang hukum pertanahan maka kaidah hukum pertanahan di Indonesia mengacu pada Undang – Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok – Pokok Agraria beserta aturan turunan lainnya, dan dapat disimpulkan bahwa kepastian hukum sejalan dengan kesadaran masyarakat terhadap hukum tersebut.
Berdasarkan penjelasan atas UUPA No 5 Tahun 1960 Bab A Penjelasan Umum Bagian I bahwa tujuan dari UUPA ialah:
1. Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria Nasional, yang akan merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur;
4 Mertokusumo Sudikno dan A. Pitlo, Bab – Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya, Bandung, 1993, hlm 1.
2. Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan;
3. Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.
Dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, bahwa suatu sikap tindak perilaku hukum dianggap efektif, apabila sikap, tindakan atau perilaku lain menuju pada tujuan yang dikehendaki, artinya apabila pihak lain tersebut mematuhi hukum6. Undang-undang dapat menjadi efektif jika peranan yang dilakukan pejabat penegak hukum semakin mendekati apa yang diharapkan oleh undang-undang dan sebaliknya menjadi tidak efektif jika peranan yang dilakukan oleh penegak hukum jauh dari apa yang diharapkan undang - undang7, pemerintah dalam hal ini telah membuat kebijakan terkait dengan pelaksanaan Pendaftran Tanah Sistematis Lengkap serta Reforma Agraria dan pemberantasan Mafia Tanah yang merupakan amanah dari UUPA itu sendiri serta dalam rangka untuk mengingatkan pemegang sertipikat untuk selalu memelihara tanda batas pemerintah membuat format sertipikat yang di halaman terakhir mencantumkan kewajiban – kewajiban pemegang hak atas tanah.
6 Soerjono Soekanto, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum , Jakarta, Rajawali Pers, 1982, hlm. 115.
7 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Memengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005, hlm. 9.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah penelitian hukum sosiologis yaitu penelitian berupa studi-studi empiris untuk menemukan teori-teori mengenai proses terjadinya dan mengenai proses bekerjanya hukum di dalam masyarakat.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian di Wilayah administrasi Kantor Pertanahan Kabupten Kampar tepatnya di kecamatan Tambang. Dengan alasan masih banyaknya masyarakat atau badan hukum yang kurang atas kesadaran terhadap bidang – bidang tanah yang sudah memiliki sertipikat hak atas tanah dan tingkat konflik / sengketa terkait tanda batas yang cukup tinggi.
3. Populasi dan Sampel
a) Populasi
Populasi dalam penelitian ini yang akan menjadi populasi adalah Kepala Kantor Pertanahan, Kepala Seksi Infrastruktur Pertanahan, Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan, Kepala Desa, dan Masyarakat.
b) Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Random yaitu menetapkan sejumlah sampel yang mewakili jumlah populasi yang ada, yang kategori sampelnya ditetapkan secara acak oleh peneliti.
Tabel I.1 Populasi dan Sampel
No Jenis Populasi Jumlah
Populasi
Jumlah Sampel
Presentase (%) 1 Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Kampar
1 1 100
2 Kepala Seksi Infrastruktur Pertanahan
1 1 100
3 Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan
1 1 100
4 Kepala Desa Se Kecamatan Tambang
17 17 100
5 Masyarakat yang tidak melakukan pemeliharaan tanda batas
6000 600 10
Jumlah 6020 620 82
Sumber Data : Pengolahan Data Dari Tahun 2018 S/D 2019 F. Sumber Data
Data yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Data Primer adalah data yang di peroleh dari masyarakat
(lapangan) yang sesuai dengan permasalahan.
b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui kepustakaan yang bersifat mendukung data primer
c. Data tertier adalah data yang diperoleh melalui kamus, ensiklopedi, dan sejenisnya yang berfungsi untuk mendukung data primer dan data sekunder.
G. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data adalah :
1. Interview (Wawancara), yaitu mengadakan tanya jawab secara langsung dengan para pihak dalam proses pelayanan validasi sertipikat tanpa harus terikat dengan daftar – daftar pertanyaan atau dengan kata lain nonstruktur.
2. Observasi (Pengamatan) yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti dengan metode deskriptif.
3. Kuisioner , yaitu teknik pengumpulan data dengan cara membuat daftar pertanyaan yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang diteliti. Yang pada umumnya daftar pertanyaan tersebut sudah disediakan daftar jawabannya sehingga responden hanya memilih jawabannya.
4. Kajian Kepustakaan, yaitu pengumpulan data melalui keaktifan peneliti untuk membaca literatur yang berhubungan dengan validasi peta ke komputerisasi kantor pertanahan berdasarkan peraturan menteri agraria nomor 3 tahun 1997.
H. Analisis Data
Dianalisis data dari hasil Interview ( Wawancara ) dan Kuisioner.
a. Data hasil interview ( Wawancara ) dianalisis secara kualitatif yaitu tidak dianalisis dengan ststistik ataupun sejenisnya, tetapi cukup dengan menguraikan secara deskriptif dari data yang diperoleh.
b. Data hasil Observasi dianalisis secara langsung terhadap objek penelitian.
Dalam menarik kesimpulan dapat digunakan metode Induktif, yaitu cara berfikir yang menarik suatu kesimpulan dari suatu pernyataan atau dalil yang bersifat khusus menjadi suatu pernyataan atau kasus yang bersifat umum.
Daftar Pustaka
A. Buku – Buku
1. A.P. Parlindungan. Pendaftaran Tanah di Indonesia. Mandar Maju.
Bandung, 1998.
2. Arie S. Hutagalung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia, Jakarta, 2005.
3. Harsono, Boedi. Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan UUPA, Isi dan Pelaksanaan. Djambatan. Jakarta. 1999.
4. Harsono, Boedie. Hukum Agrarian Indonesia. Djambatan. Jakarta.
2008.
5. Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. 2004. Hak – Hak Atas Tanah.
Jakarta: PT. Fajar Interprama Mandiri. 2004.
6. Mertokusumo Sudikno dan A. Pitlo, Bab – Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya, Bandung, 1993, hlm 1.
7. Perangin, Effendi. Hukum Agraria di Indonesia, Suatu Telaah dari Sudut Pandang Praktisi Hukum. Cet.4. Jakarta: Raja Grafindo, 1994.
8. Rahardjo Soetjipto, Permasalahan Hukum Di Indonesia, Bandung, Alumni, 1983.
9. R. Soeprapto, Undang – Undang Pokok Agraria Dalam Praktek, Jakarta, 1986.
10. Santoso, Urip, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah, Jakarta, 2010.
11. Sayekti, Sri. Hukum Agraria Nasional. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 2000.
12. Soekanto Soerjono, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum , Jakarta, Rajawali Pers, 1982.
13. Soekanto Soerjono, Faktor-faktor yang Memengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005.
1. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata: Hukum Benda, Yogyakarta: Liberty, 2000.
2. Srijanti, A. Rahman H. I. dan Purwanto S.K. Etika Berwarga Negara : Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Edisi 2.
Jakarta: Penerbit Salemba Empat. 2007.
3. Syahrani Riduan, Rangkuman Inti Sari Ilmu Hukum, Citra Aditya, Bakti, Bandung, 1999.
4. Buku Saku Petugas Ukur Kementerian Agraria Dan Tataruang / Badan Pertanahan Nasional
B. Skrpsi
1. Dewi. Monika Indra, Pelaksanaan Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Di Desa Tarai Bangun, Skripsi Sarjana Ilmu Hukum, Pekan Baru: Program Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, 2019.
2. Karina Gita Sahprada, Pendaftaran Tanah Melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Di Kota Bandar Lampung,
Skripsi Sarjana Ilmu Hukum, Bandar Lampung: Program Pascasarjana Universitas Lampung, 2018.
C. Internet
1. Berbagi Ilmu Hukum, Hak Primer Dan Hak Sekunder Dalam Hukum
Agraria, E-Law (online), https://e-
lawenforcement.blogspot.com/2014/09/hak-primer-dan-hak-sekunder- dalam-hukum.html, diakses pada tanggal 24 April 2020.
2. Dosen Pendidikan 2, 2019, Contoh Hak : Macam, Pengertian Umum
Dan Menurut Para Ahli, (Online),
https://www.dosenpendidikan.co.id/contoh-hak/, diakses pada tanggal 24 April 2020.
3. General Knowlwdge ( Pengetahuan Umum ), Hukum Agraria Dalam Arti Luas, Sempit Dan Azas – Azas Hukum Agraria ( Online ), https://www.artonang.com/2016/06/hukum-agraria-dalam-arti-luas- sempit.html, diakses pada tanggal 22 April 2020.
3. Herdiyani Nuryadin, 2018, Pengertian Hukum Agraria Dan Hukum
Tanah, E-Law ( Online ),
https://lawofficeindonesia.com/en/2018/04/10/pengertian-hukum- agraria-dan-hukum-tanah/, diakses pada tanggal 24 April 2020.
4. Law blogs, Teori – Teori Penegakan Hukum, kesadaran, kepatuhan,
E-Law ( Online ), https://ilmuhukumuin-
suka.blogspot.com/2015/11/teori-teori-penegakan-hukum- kesadaran.html, diakses pada tanggal 13 Mei 2020.
D. Peraturan Perundang – Undangan 1. Undang – Undang Dasar Tahun 1945
2. Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok – Pokok Agraria
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan Benda-Benda Yang Ada Di Atasnya.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah
5. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 Tentang Pendaftaran Tanah
6. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penerbitan Dan Pendayagunaan Tanah Terlantar
7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963 Tentang Penunjukan Badan-Badan Hukum Yang Dapat Mempunyai Hak Milik Atas Tanah.
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah.
9. Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 Tentang Reforma Agraria 10. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2010
Tentang Standar Pelayanan Dan Pengaturan Pertanahan.
11. Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
12. Petunjuk Teknis Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Materi Pengukuran Dan Pemetaan Pendaftran Tanah
13. Peraturan Memteri Agraria No. 9 Tahun 1965 Tentang Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan Atas Tanah Negara Dan Ketentuan- Ketentuan Tentang Kebijaksanaan Selanjutnya.
E. Kitab Undang – Undang
Kitab Undang – Undang Hukum Perdata.