PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Metode Penelitian
Analisis Data
TINJAUAN PUSTAKA
Dasar Hukum
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan, tuntutan dan kebutuhan hukum di masyarakat, sehingga harus diganti, untuk itu Pemerintah pada tahun 2010 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Konservasi. Budaya. Warisan Budaya sebagai sumber daya budaya bersifat rapuh, unik, langka, terbatas, dan tidak terbarukan. Warisan budaya juga berhak dilindungi demi kepentingan generasi bangsa sekarang dan mendatang.
Dengan demikian, makna perlindungan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 berkaitan dengan benda cagar budaya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mulai berlaku menggantikan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya setelah diundangkan di Jakarta pada tanggal 24 November 2010 oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis. Akbar. Negara Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya telah dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130.
Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya terdapat pada Lampiran Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5168. Asas Archipel Bahwa setiap upaya pelestarian cagar budaya harus memperhatikan keberagaman penduduk. , agama, etnis dan. Prinsip keadilan Pelestarian warisan budaya mencerminkan rasa keadilan dan kesetaraan yang proporsional bagi setiap warga negara Indonesia.
Prinsip keberlanjutan Upaya pelestarian warisan budaya dilakukan secara terus menerus dengan memperhatikan keseimbangan antar aspek ekologi. Kewajiban melestarikan warisan budaya diatur dalam Bab VII, Pasal 75 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Warisan Budaya. Pasalnya, kepemilikan cagar budaya akhirnya diakui pemerintah melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Eksploitasi adalah pemanfaatan warisan budaya untuk sebesar-besar kesejahteraan penduduk dan sekaligus menjaga kelestariannya. Adaptasi merupakan upaya pengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan saat ini dengan cara melaksanakannya.
Kewenangan Pemerintah Terhadap Cagar Budaya
17. Obyek dan daya tarik wisata yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa keadaan alam, obyek wisata menarik hasil ulah manusia berupa museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, agrowisata, dan wisata air. Selain itu, Unit Pelaksana Teknis yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Pusat seperti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional atau Balai Arkeologi tidak termasuk yang mempunyai kewenangan. . telah diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Namun UU Cagar Budaya memberikan peluang kepada Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota untuk membentuk atau membubarkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) bila diperlukan.
Peranan Masyarakat Terhadap Cagar Budaya
Daerah bahkan diberi tugas untuk menentukan, menghapus, atau mengurutkan pentingnya warisan budaya di wilayah administratifnya masing-masing. Oleh karena itu, rasa kepedulian dan pemahaman masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya akan sangat berpengaruh terhadap kelestarian dan kelestarian warisan budaya yang ada. Jika masyarakat tidak peduli terhadap kelestarian warisan budaya, seperti melakukan tindakan vandalisme, maka warisan budaya yang ada akan rusak dan musnah seiring berjalannya waktu.
Sebaliknya jika masyarakat setempat peduli terhadap kelestarian warisan budayanya, maka warisan budaya yang ada pasti akan lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang di masa yang akan datang. Oleh karena itu, masyarakat hendaknya diminta untuk memiliki rasa kepedulian dan memahami pentingnya melestarikan dan melestarikan warisan budaya yang ada, khususnya warisan budaya yang ada di daerahnya. Agar warisan budaya tersebut tetap kokoh sebagai supremasi identitas lokal, sumber kekayaan budaya nasional dan sekaligus dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia internasional.
Mengunjungi situs cagar budaya secara rutin penting dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya setempat. Rasa cinta inilah yang kemudian akan menumbuhkan rasa keterhubungan sehingga masyarakat akan terinspirasi untuk merawat dan melindunginya. Melindungi warisan budaya, dalam arti tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak warisan budaya dan melindungi warisan budaya dari tindakan orang lain yang ingin merusak atau mencurinya.
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Situs Cagar Budaya di Kabupaten Luwu
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Potensi Cagar Budaya yang merupakan salah satu kekayaan khasanah budaya di Kabupaten Luwu cukup beragam. Pemerintah Kabupaten Luwu khususnya Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan melaksanakan tugasnya terhadap pelestarian warisan budaya di Kabupaten Luwu berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) No. 2 Tahun 2009 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Luwu, tentang Penyelenggaraan Perlindungan Warisan Budaya di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. hanya mencakup beberapa kawasan cagar budaya yang ditentukan dalam peraturan daerah (PERDA) no. pengembangan tempat wisata (OTDW). Salah satu upaya pelestarian bangunan cagar budaya adalah dengan melaksanakan pemeliharaan melalui tindakan konservasi.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Luwu khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan selalu menjadikan tugas pengelolaan sesuatu yang merupakan warisan budaya sebagai tujuan yang paling penting untuk diperhatikan agar dapat terpelihara dengan baik. Pemerintah hanya melakukan pelestarian situs bersejarah di Kabupaten Luwu pada situs yang telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Pelaksanaan tugas dalam hal ini perlindungan warisan budaya sesuai dengan ketentuan peraturan daerah yang berlaku.
Pemerintah Kabupaten Luwu dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum merencanakan landasan hukum pengelolaan cagar budaya, sedangkan tugas dan wewenangnya mengenai pengelolaan cagar budaya di Kabupaten Luwu masih belum jelas. Komunikasi yang seharusnya terjadi dalam hal ini antara pemerintah daerah dengan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan mengenai perlindungan dan pengelolaan cagar budaya di Kabupaten Luwu masih kurang efektif karena tidak adanya kesinambungan antara kedua pejabat pemerintah tersebut. Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini belum memiliki rencana pengelolaan Cagar Budaya, karena belum adanya landasan hukum untuk melindungi pengelolaan Cagar Budaya yang ada.
Implementasi pengelolaan perlindungan hukum terhadap cagar budaya di Kabupaten Luwu masih belum maksimal. Kendala yang dihadapi Dinas Kebudayaan Kabupaten Luwu antara lain: Kurangnya kesadaran sumber daya pihak berwenang mengenai perlindungan pengelolaan warisan budaya di Kabupaten Luwu. Ketiga, komunikasi antara pemerintah daerah dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata masih kurang efektif dalam mengelola perlindungan warisan budaya.
Disarankan kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diharapkan dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun dan mengelola perlindungan warisan budaya serta memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya mengelola dan melindungi warisan budaya di Kabupaten Luwu. Dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah Pasal 20, Pasal 21, Pasal 32 ayat (1).
Pelaksanaan Perlindungan Cagar Budaya Di Kabupaten Luwu
Hambatan yang dihadapi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Namun yang menjadi kendala banyak diantaranya yang tidak terdaftar pada ODTW (Objek Daya Tarik Wisata), sehingga pemerintah terbatas dalam menangani hal-hal yang berasal dari warisan budaya karena pemerintah berpegang pada peraturan daerah yang berlaku di Kabupaten Luwu. Biro Pariwisata dan Kebudayaan 13 Februari 2020). Selain itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kulahan sedang menjalankan tugasnya karena Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dilimpahkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. dengan peraturan daerah Kabupaten Luwu sendiri yang masih menggunakan peraturan daerah (PERDA) Nomor 2 Tahun 2009 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata, artinya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan belum mempunyai data atau wawasan mengenai peraturan yang masih berupa dasar hukum di daerah tersebut.
Selain itu, Balai Perlindungan Cagar Budaya Kabupaten Luwu hanya mencakup Kota Palopo, sehingga Perda Kabupaten Luwu belum dilimpahkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu sehingga banyak situs cagar budaya di Kabupaten Luwu yang terbengkalai. dan diabaikan oleh pemerintah, sehingga dikhawatirkan warisan budaya yang tidak tersentuh oleh negara, akan kehilangan sifat warisan budayanya karena warisan budaya tersebut sudah rapuh dan tidak dapat diperbaharui. Selain itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam melaksanakan tugasnya masih sebatas mengamati cagar budaya Kabupaten Luwu karena peraturan yang menekankan bahwa yang paling penting untuk dikelola adalah yang terdaftar hanya di ODTW saja, salah satunya. Sumber daya aparatur dalam hal ini kepala bagian hukum Kabupaten Luwu (kepala bagian hukum) menjadi faktor penting dalam proses pengelolaan perlindungan peraturan daerah (PERDA) di Kabupaten Luwu.
Dalam hal ini peran penting sumber daya aparatur dalam hal pengetahuan terhadap peraturan daerah Kabupaten Luwu sangat diperlukan. Oleh karena itu, aparatur pemerintah Kabupaten Luwu khususnya kepala bagian hukum harus berperan penting dalam proses pengurusan Peraturan Daerah di Kabupaten Luwu khususnya pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Adapun aturan mengenai pertimbangan warisan budaya, pemerintah juga harus tegas dalam tanggung jawabnya terhadap warisan budaya yang tidak terdaftar di ODTW, misalnya saja Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu, khususnya Dinas Pariwisata. Perencanaan mengenai landasan hukum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tentang Cagar Budaya Saat ini belum ada permohonan pengalihan tugas kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Cagar Budaya, namun untuk sementara pengelolaan cagar budaya masih dibawah pengelolaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dalam PERDA nomor 2 Tahun 2009. Dasar Hukum Cagar Budaya (Kepala Hukum Kabupaten Luwu, 14 Februari 2020).
Sementara itu, pemerintah daerah diperkirakan akan enggan untuk mengurus peraturan daerah yang ada di Kabupaten Luwu, karena yang terjadi saat ini, sebagian pemerintah yang mempunyai kewenangan di bidang cagar budaya masih terbilang kurang dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, kurangnya komunikasi yang baik antara pemerintah dengan pihak dinas kebudayaan dan pariwisata yang update-nya tidak pernah dibahas. Saat ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan belum melakukan program mengenai pengelolaan Cagar Budaya, karena beberapa waktu yang lalu Departemen Pariwisata dan Kebudayaan dilimpahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, oleh karena itu dasar hukum kebudayaan masih tetap. kanan departemen pariwisata dan kebudayaan, sedangkan perencanaan. Oleh karena itu, diperlukan waktu untuk mengubah dan merancang peraturan daerah yang sebelumnya telah disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Luwu agar tidak terjadi ketimpangan warisan budaya dalam program pelaksanaan pengelolaan ke depan.
Serta perencanaan peraturan daerah baru yang sejalan dengan instansi yang berwenang mengenai cagar budaya dan akan segera dilaksanakan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan. Disarankan kepada pemerintah daerah dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Luwu untuk lebih memperkuat pengawasan terhadap perlindungan cagar budaya khususnya di Kabupaten Luwti, agar tidak terbengkalai karena kurangnya komunikasi antar aparat pemerintah terkait pemutakhiran. peraturan Kabupaten Luwu yang kurang jelas.
PENUTUP
Saran