• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelanggaran Kedaulatan Di Wilayah Udara Nasional: Kasus Penembakan Pesawat Tempur Rusia Oleh Turki Tahun 2015

N/A
N/A
dwi kusumo

Academic year: 2023

Membagikan "Pelanggaran Kedaulatan Di Wilayah Udara Nasional: Kasus Penembakan Pesawat Tempur Rusia Oleh Turki Tahun 2015"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/371732725

Pelanggaran Kedaulatan Di Wilayah Udara Nasional: Kasus Penembakan Pesawat Tempur Rusia Oleh Turki Tahun 2015

Article · June 2023

CITATIONS

0

READS

58 8 authors, including:

Syahdan Akbar Pratama

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 1PUBLICATION   0CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Syahdan Akbar Pratama on 21 June 2023.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

Pelanggaran Kedaulatan Di Wilayah Udara Nasional: Kasus Penembakan Pesawat Tempur Rusia Oleh Turki Tahun 2015

Syahdan Akbar Pratama Kelas B/ 20220610050

Fakultas Hukum, Hukum Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Abstrak

Pesawat militer Sukhoi Su-24 yang dimiliki oleh Angkatan Udara (AU) Rusia adalah jenis pesawat terbang negara yang juga berfungsi sebagai pesawat militer.

Terlibatnya Rusia dalam konflik Suriah memungkinkan pesawat militer tersebut untuk beroperasi di wilayah udara Suriah. Pada bulan November 2015, pesawat tempur Rusia mengalami insiden di mana mereka ditembak jatuh oleh Turki, yang bukanlah tanpa alasan. Pesawat tempur Rusia telah melanggar wilayah udara Turki, sehingga sesuai dengan hukum yang berlaku di Turki, mereka ditembak. Untuk menyelesaikan insiden penembakan tersebut, Turki secara langsung meminta maaf kepada Rusia. Rusia memberikan respons yang positif terhadap permintaan maaf Turki dan secara bertahap mencabut sanksi yang diberlakukan terhadap Turki. Tindakan ini dimulai dengan mencabut larangan perjalanan bagi penduduk Rusia yang ingin mengunjungi Turki, serta memungkinkan perusahaan perusahaan sebuah paket wisata Rusia untuk kembali membuka rute perjalanan menuju Turki.

Kata Kunci: Pesawat, Pengebom, Tempur, Angkatan Udara, Konflik, Yurisdiksi, Pelanggaran, Penembakan.

(3)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kedaulatan merujuk pada hak utama yang dimiliki oleh suatu negara untuk secara bebas menjalankan berbagai kegiatan sesuai kepentingannya, dengan mematuhi peraturan internasional yang berlaku. Saat ini, kedaulatan sebuah negara tidak lagi bersifat absolut atau tidak terbatas, melainkan harus mempertimbangkan kewajiban untuk menghormati kedaulatan negara lain sesuai dengan peraturan internasional. Fenomena ini dikenal sebagai kedaulatan negara yang bersifat relatif. Dalam asal-usulnya, istilah "kedaulatan"

dalam istilah Arab "Daulat" yang mengacu pada kekuasaan atau pemerintahan yang berlangsung lama, dan juga dari kata Latin "Supremus" yang menggambarkan yang paling tinggi. Karena itu, kedaulatan dapat didefinisikan sebagai kekuasaan tertinggi suatu negara yang tidak tunduk kepada kekuasaan negara lain.

Dalam konteks hukum internasional, konsep kedaulatan berhubungan dengan suatu pemerintahan yang memiliki kontrol mutlak atas urusan di wilayah atau batas geografisnya sendiri. Selain itu, dalam beberapa situasi, ini berhubungan dengan berbagai organisasi atau lembaga yang memiliki otoritas hukum yang independen.1

Ada dua elemen kunci yang terdapat dalam prinsip kedaulatan. Pertama, di dalam batas wilayah negara, ada wewenang yang paling tinggi untuk mengatur segala aspek yang terjadi. Sedangkan, elemen kedua terkait wewenang tertinggi di luar wilayah negara tersebut dalam menjalin hubungan dengan masyarakat internasional serta mengatur

1 Romi Librayanto, Ilmu Negara Suatu Pengantar, Pustaka Refleksi, Makassar, 2010, hlm. 158.

(4)

semua hal yang masih berhubungan dengan kepentingan nasional.2 Dalam rangka menjaga kedaulatan negara, terdapat peraturan dan undang-undang yang sudah diberlakukan untuk melindungi wilayah negara dari campur tangan atau gangguan oleh pihak asing. Saat merumuskan aturan dan undang-undang ini, negara harus perlu memperhatikan prinsip-prinsip hukum internasional yang diakui oleh masyarakat internasional.

Dalam industri penerbangan, terdapat perbedaan di antara pesawat udara sipil dan pesawat udara negara yang diatur oleh sejumlah perjanjian internasional dan undang- undang nasional dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda, Inggris, dan Indonesia. Pasal 3 Konvensi Chicago 1944 memberikan salah satu pengertian mengenai pesawat udara negara dan pesawat udara sipil.

Menurut perjanjian ini, pesawat udara yang dipergunakan oleh negara bertujuan untuk kepentingan militer, kepolisian, dan bea cukai, sementara pesawat udara sipil merujuk pada pesawat udara yang tidak dimiliki oleh negara. Pesawat udara sipil yang tidak dijadwalkan diizinkan untuk terbang di wilayah negara-negara anggota lain. Pembahasan mengenai peraturan penerbangan sipil dimulai sejak Konvensi Paris, meskipun konvensi ini dikritik karena memiliki kekurangan, tetapi merupakan langkah untuk menyusun peraturan yang kohesif tentang hukum penerbangan di sektor publik..3

Secara prinsip, setiap negara memiliki hak penuh atas wilayahnya, termasuk darat, laut, dan udara, serta menerapkan hukum nasional negaranya. Batas wilayah antara negara-negara diatur melalui perjanjian antara negara-negara yang berdekatan. Negara- negara dapat diklasifikasikan berdasarkan letak geografis dan ukuran, seperti negara

2 I Wayan Partina, Pengantar Hukum Internasional, Mandar Maju, Bandung, 2003, hlm. 345.

3 Fans Likadja, Masalah Lintas di Ruang Udara, Bina Cipta, Jakarta 1987, hlm. 14.

(5)

kecil, negara pantai, negara kepulauan, dan sejenisnya.4 Walaupun prinsip kedaulatan suatu negara terhadap ruang udara diakui di dalam hukum internasional, terdapat perubahan dalam konsep ini sebagai hasil dari perjanjian internasional yang mendorong liberalisasi perdagangan layanan penerbangan. Dampaknya, dalam konteks hukum nasional Indonesia, terjadi pergeseran dalam pemahaman tentang penguasaan negara terhadap ruang udara. Kedua konsep ini pada dasarnya bertentangan dan memerlukan penyelesaian yang diperlukan.5

Negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Penerbangan Sipil Internasional memiliki hak untuk mengesahkan ketentuan di wilayah mereka dengan tujuan mengatur operasi penerbangan nasional dan internasional yang memasuki atau meninggalkan negara tersebut. Namun, ketentuan-ketentuan tersebut harus diterapkan secara seimbang bagi semua pesawat, termasuk yang berasal dari dalam negeri dan internasional. Ketika negara membuat ketentuan, mereka harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti keamanan penerbangan, aspek hukum, serta regulasi penerbangan. Secara umum, ketentuan yang berlaku di negara tersebut mengatur hal-hal tersebut, kecuali jika pesawat beroperasi di perairan internasional, di mana Konvensi Chicago 1944 dan ketentuan terkaitnya menjadi hukum yang berlaku.6

Hukum internasional tentang penerbangan udara meliputi Konvensi Chicago tahun 1944, yang menjadi dasar hukum untuk penerbangan sipil internasional. Konvensi ini digunakan sebagai pedoman dalam pembentukan undang-undang nasional bagi negara-

4 F. Sugeng Istanto, Hukum Internasional, Univesitas Atma Jaya, Yogyakarta, 1998, hlm. 26.

5 Endang Puji Lestari, Rekonsepsi Hak Penguasaan Negara Atas Wilayah Udara Di Tengah Kebijakan Liberalisasi Penerbangan, Universitas Padjadjaran Merdeka Barat, Jakarta Pusat, April 2016,hlm. 330.

6 K. Martono, Hukum Udara, Angkutan Udara, Dan Hokum Angkasa, Mandar Maju, Jakarta 1995, hlm.26.

(6)

negara yang menjadi anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk mengatur operasional penerbangan internasional.

Pada awal Konvensi Penerbangan Internasional yang ditandatangani di Chicago, tujuan utama konferensi internasional mengenai penerbangan sipil dengan jelas terlihat.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa pengembangan penerbangan sipil di masa depan dapat digunakan untuk memperkuat ikatan persahabatan, menjaga perdamaian, dan membangun pemahaman yang saling menguntungkan dalam hukum internasional penerbangan udara. Konvensi Chicago tahun 1944, sebagai landasan hukum untuk penerbangan sipil internasional, memberikan pedoman kepada negara-negara anggota ICAO dalam pengembangan peraturan nasional yang terkait dengan pelaksanaan penerbangan sipil internasional.

Kedaulatan memainkan peranan yang sangat penting dalam keberadaan suatu negara.

Dalam hal linguistik, kedaulatan dapat dijelaskan sebagai puncak kekuasaan pemerintah terhadap negara, wilayah, dan hal-hal serupa dalam domain ilmu tata negara. Menurut pandangan Parthiana, kedaulatan dapat dimaknai sebagai kekuasaan yang mutlak, utuh, menyeluruh, dan tidak dapat dipisahkan, sehingga tidak dapat dikuasai oleh entitas lain.

Namun, seiring perkembangan yang terjadi, konsep kedaulatan negara telah mengalami perubahan.7

Kedaulatan mengacu pada sifat atau karakteristik esensial suatu Negara di mana Negara tersebut memiliki penuh namun terbatas. Batasan ini berlaku di dalam wilayah Negara, di mana kekuasaan tertinggi dibatasi oleh batas wilayah Negara. Di luar wilayah tersebut, Negara kehilangan kekuasaannya. Dalam konteks ini, kedaulatan bukanlah

7 Suryo Sakti Hadiwijoyo, Perbatasan Negara Dalam Dimensi Hukum Internasional, Graha Ilmu, Yogyakarta,2011, hlm. 2-3

(7)

konsep yang absolut dan sempurna, melainkan terikat oleh pembatasan yang ditetapkan oleh hukum internasional dan kedaulatan negara-negara lain. Menurut pandangan Jean Bodin, kedaulatan yaitu atribut dan karakteristik yang unik dari suatu Negara. Tanpa kedaulatan, suatu entitas tidak dapat diklasifikasikan sebagai Negara.8

Prinsip teritorial adalah suatu prinsip yang digunakan untuk membenarkan kekuasaan suatu negara terhadap individu, tindakan, dan objek. Prinsip ini menyatakan bahwa negara memiliki wewenang atas individu, tindakan, dan objek yang berada di wilayahnya.

Manajemen dan perlindungan dalam wilayah perbatasan sangatlah terkait dengan pandangan terbawah (dasar) mengenai suatu negara sebagai entitas yang mempunyai kedaulatan, populasi, dan wilayah, serta penafsiran atau persepsi tentang ancaman yang dihadapi. Upaya pengelolaan dan perlindungan wilayah perbatasan dapat diartikan sebagai langkah untuk memastikan eksistensi suatu negara dengan melindungi kedaulatan, populasi, dan wilayah dari berbagai bentuk ancaman. Pandangan ini merupakan elemen penting dalam pemahaman menyeluruh tentang konsep keamanan nasional, yang intinya adalah "kemampuan negara untuk melindungi nilai-nilai inti secara berkelanjutan, dengan memanfaatkan semua sumber daya dan kekuatan yang tersedia serta melibatkan semua aspek kehidupan.9

Kontrol penuh atas wilayah suatu negara, sesuai dengan peraturan internasional, diberikan perhatian yang besar. Konvensi Paris dan Konvensi Chicago mengatakan bahwa negara mempunyai hak yang mutlak dan eksklusif terhadap wilayah udaranya, dengan batas yurisdiksinya ditentukan oleh hukum internasional. Entitas utama negara

8 Fred Isjwara, Pengantar Ilmu Politik, Bina Cipta, Bandung, 1996, hlm. 9.

9 Mufti Makarim. A, Strategi Pengelolaan dan Pertahanan Wilayah Perbatasan Udara Republik Indonesia Tantangan Aspek Politik, Yuridis dan Operasional, Jakarta, 2005, hlm. 89.

(8)

memiliki hak mutlak terhadap wilayah yang diakui dan dilindungi oleh hukum internasional. Oleh karena itu, Sukhoi Su-24 yang dimiliki oleh Angkatan Udara Rusia, sebagai pesawat negara, tidak memiliki kebebasan untuk melewati wilayah udara negara lain. Dalam situasi konflik di Suriah, Rusia diizinkan untuk melakukan penerbangan militer di wilayah udara Suriah, tetapi tidak diizinkan di wilayah udara Turki. Hingga akhir November tahun 2015, pesawat tempur milik Rusia ditembak jatuh oleh Turki.

Ketidakjelasan peraturan terkait masalah ini menciptakan tantangan bagi negara dalam mengambil langkah hukum ketika terjadi pelanggaran wilayah udara oleh pesawat militer.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipakai meliputi penelitian hukum normatif atau penelitian kepustakaan, data dan sumber data meliputi bahan hukum primer,sekunder, dan tersier serta menganalisis data untuk bagaimana pelanggaran dan penyelesaian terhadap kasus penembakan pesawat tempur rusia yang ditembak oleh turki.

BAB II PEMBAHASAN C. Pembahasan Masalah

1. Konvensi Chicago

Perjanjian internasional yang mengatur penerbangan sipil di seluruh dunia dikenal sebagai Konvensi Chicago. Konvensi tersebut diselenggarakan di kota Chicago setelah mendapat undangan dari Amerika Serikat dan diikuti oleh 53 negara. Pasal 9 dalam Konvensi Chicago tahun 1944 mengatur mengenai area yang memiliki batasan tertentu, yang merupakan perubahan dari ketentuan sebelumnya dalam Konvensi Paris. Area dengan batasan tertentu ini mencakup pengecualian terhadap jenis pesawat yang

(9)

diizinkan masuk ke wilayah yang dilarang, dimana negara berdaulat berwenang untuk memperintahkan pesawat yang melanggar area tersebut untuk mendarat kemudian diperiksa. Hal semacam ini berbeda dengan peraturan dalam Konvensi Paris yang menyatakan bahwa pesawat yang melanggar area yang dilarang harus mendarat dilapangan udara terdekat di luar wilayah tersebut.

Sebuah perjanjian multilateral internasional telah disusun untuk memfasilitasi perdagangan hak-hak penerbangan yang umumnya disepakati dalam perjanjian internasional mengenai transportasi udara. Kebebasan udara pertama mencakup hak untuk melakukan penerbangan melintasi negara lain tanpa adanya keharusan untuk melakukan pendaratan, sementara kebebasan udara kedua memberikan hak untuk melakukan pendaratan di negara lain untuk tujuan operasional tanpa melibatkan kegiatan komersial seperti pengangkutan penumpang atau kargo.10

International Air Transportation Agreement, juga dikenal sebagai kesepakatan multilateral internasional yang saling mempertukarkan hak-hak kebebasan penerbangan individu, termasuk kebebasan penerbangan pertama, kedua, keempat, dan kelima.

Kebebasan penerbangan ketiga mencakup hak untuk melakukan komersialisasi transportasi (umum) penumpang , benda, dan pos dari negara negara yang terlibat dalam perjanjian ini.11

2. Ketentuan mengenai regulasi penerbangan di tingkat global

Prinsip-prinsip yang terkait dengan hukum internasional mengenai udara dapat ditemukan dalam Konvensi Hukum Internasional tentang udara yang terus berkembang

10 K Martono, Pengantar Hukum Udara Nasional dan Internasional bagian Pertama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hlm. 12.

11 Ibid, Hal 13

(10)

seiring berjalannya waktu. Konvensi ini merupakan hasil pertemuan antar negara di berbagai belahan dunia yang dianggap signifikan dalam pembentukan peraturan mengenai pemanfaatan wilayah udara.

Pernyataan pertama pada Konvensi Chicago mengenai Penerbangan Internasional menerangkan bahwa negara memiliki hak penuh dan khusus terhadap wilayah udara diatasnya. Dalam hukum penerbangan, prinsip kedaulatan yang mutlak digunakan untuk mengatur penggunaan wilayah udara. Prinsip ini menjadi dasar untuk peraturan dalam bidang penerbangan sipil, termasuk peraturan yang berkaitan dengan aspek komersial.

Oleh karena itu, wilayah udara yang termasuk dalam yurisdiksi suatu negara adalah sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.12

Dalam konteks hukum internasional, jika terjadi pelanggaran, ada kemungkinan timbulnya tuntutan internasional antara negara-negara terkait. Pihak yang merasa menjadi korban dapat mengajukan tuntutan terhadap negara yang diduga bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut. Tuntutan internasional dapat menghasilkan langkah-langkah pemulihan, seperti pengembalian hak atau keadaan semula (restitusi), pemberian ganti rugi (kompensasi), dan pemenuhan kepuasan (satisfaksi).13

Dalam konteks yurisdiksi, masalah kedaulatan memiliki keterkaitan yang erat.

Kedaulatan pada dasarnya terdiri dari dua aspek utama:

1) Aspek internal mencakup otoritas absolut dalam mengelola semua elemen yang ada dalam wilayahnya.

12 E. Suherman, Wilayah Udara dan Wilayah Dirgantara, Penerbit Alumni, Bandung, 1994, hlm. 31.

13 Yordan Gunawan, 2021, Hukum Internasional: Sebuah Pendekatan Modern, Yogyakarta, LP3M UMY, hlm.14

(11)

2) Aspek eksternal melibatkan kekuasaan penuh dalam menjalin koneksi dengan komunitas internasional dan mengatur segala hal yang terjadi di luar batas wilayah negara, tetapi masih berhubungan dengan kepentingan negara tersebut.14

Berdasarkan prinsip kedaulatan suatu negara, dapat disimpulkan bahwa negara memiliki hak, kekuasaan, dan kewenangan untuk mengatasi masalah internal dan eksternalnya. Yurisdiksi suatu negara berasal dari prinsip kedaulatan tersebut, sehingga hanya negara yang memiliki yurisdiksi. Tindakan kekerasan atau penahanan ilegal, serta tindakan penurunan untuk keuntungan pribadi oleh awak atau penumpang kapal pribadi atau pesawat pribadi, dapat terjadi dalam situasi berikut di perairan internasional:

terhadap kapal lain, pesawat udara, orang, atau barang di kapal atau pesawat udara;

kepada pesawat, kapal, orang, atau barang di lokasi di luar otoritas negara tertentu.

Partisipasi sukarela dalam pengoperasian kapal atau pesawat udara dengan pengetahuan tentang fakta-faktanya dapat mengakibatkan klasifikasi kapal atau pesawat udara tersebut sebagai bajak laut atau pesawat udara yang terlibat dalam tindakan tersebut.15

Berdasarkan pengertian, secara garis besar unsur-unsur dari yurisdiksi negara seperti yang dibawah berikut :

14 I Wayan Parthiana, Pengantar Hukum Internasional, Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm. 294-295.

15Yordan Gunawan, 2012, “Penegakan Hukum terhadap Pembajakan di Laut Melalui Yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional”, Jurnal Media Hukum, Vol. 19 No. 1, hlm.

72-86.

(12)

1) Dalam konteks ini jelas bahwa suatu negara akan bertindak berdasarkan hak-hak, kekuasaan, dan kewenangannya, yang tentu saja harus sesuai dengan hukum internasional.

2) Melakukan pengaturan (melalui legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dengan tujuan mempengaruhi atau mengatur segala hal, termasuk pembuatan peraturan (legislatif), pelaksanaan peraturan yang telah dibuat (eksekutif), serta penegakan dan penjatuhan hukuman terhadap pelanggar peraturan tersebut (yudikatif).

3) Subyek yang dapat diatur oleh aturan yang dibuat, dilaksanakan, serta ditegakkan oleh negara, dapat berupa peristiwa, perilaku, masalah, individu, barang, atau kombinasi dari semuanya.

4) Tidak terbatas pada masalah yang terjadi di dalam negeri semata. Hal ini berkaitan erat dengan tempat di mana subyek tersebut berada atau peristiwa tersebut itu terjadi. Walaupun dalam prakteknya, lokasi dan subyek tidak selalu melebihi batas kewilayahan negara, karena dapat melibatkan unsur lokal dan non-lokal.

5) Hukum internasional menjadi dasar atau pijakan bagi negara dalam mengatur subyek yang tidak semata-mata bersifat domestik, melainkan juga melibatkan isu- isu internasional.16

Keutuhan dan luas wilayah udara suatu negara adalah prinsip yang sangat signifikan dalam hukum internasional yang merangkai ruang udara. Prinsip ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal I Konvensi Chicago tahun 1944 yang membicarakan mengenai penerbangan sipil antar negara.17

16 I Wayan Parthiana, Pengantar Hukum Internasional, Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm. 296-298.

17 Pasal I, konvesi Chicago 1944

(13)

Sifat sepenuhnya dan komprehensif dari kedaulatan negara dalam wilayah udara nasional memiliki perbedaan dengan kedaulatan negara di perairan wilayahnya. Ini mengakibatkan tidak adanya izin lintas bagi pihak asing di ruang udara nasional seperti yang diberlakukan pada perairan wilayah negara.

Situasi ini mendorong setiap negara untuk memberlakukan pengawasan yang ketat terhadap wilayah udara mereka, dan seringkali pelanggaran terhadap wilayah udara nasional dihadapi dengan tindakan keras menggunakan senjata. Pada satu sisi, tindakan ini dapat diterima karena negara memiliki kedaulatan penuh dan komprehensif dalam situasi semacam itu. Namun, dalam perkembangan lebih lanjut, terjadi kemajuan terutama dalam menghadapi suatu pelanggaran wilayah udara oleh pesawat asing.

3. Transportasi Udara Sipil Ditinjau Dari Konvensi Chicago

Pengorganisasian dan penggunaan wilayah udara diatur melalui perjanjian- perjanjian baik di tingkat internasional maupun domestik, yang mencakup aspek-aspek seperti hak-hak penerbangan, rute penerbangan, kapasitas transportasi udara, dan tarif layanan transportasi udara. Kesepakatan bilateral terkait penerbangan sipil umumnya mencerminkan pendekatan yang lebih fleksibel dalam kapasitas transportasi udara, dipengaruhi oleh Konvensi Bermuda tahun 1946. Konvensi ini menjadi acuan utama bagi negara-negara dalam menyusun kesepakatan untuk layanan transportasi udara sipil komersial.

Dalam konteks sistem pengaturan dan penggunaan wilayah udara nasional Indonesia, transportasi terbang udara telah menjadi moda transportasi yang populer di kalangan banyak orang, terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Dengan harga tiket pesawat yang terjangkau dan peningkatan jumlah maskapai penerbangan,

(14)

aksesibilitas layanan transportasi udara semakin meningkat bagi masyarakat. Untuk mendukung perkembangan transportasi udara ini, diperlukan upaya dalam mendukung kegiatan penerbangan dan pengelolaan bandara. Sesuai dengan ketentuan Pasal 464 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, semua peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan tetap berlaku kecuali jika ada yang bertentangan atau diganti dengan peraturan baru sesuai Undang- Undang ini. Petunjuk pelaksanaan usaha kegiatan penunjang bandara dan kegiatan penerbangan diatur oleh Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/47/III/2007. Tujuan dari langkah-langkah ini adalah untuk meningkatkan kelancaran dan kualitas layanan transportasi udara.

Makna istilah "perbuatan melawan hukum" mencakup tidak hanya tindakan yang aktif, tetapi juga tindakan yang tidak aktif di mana seseorang tidak memenuhi kewajibannya sesuai dengan hukum. Pasal 1365 BW memberikan kesempatan bagi penggugat atau pihak yang merasa dirugikan untuk membuktikan bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak tergugat. Di sisi lain, aturan khusus tentang tanggung jawab pengangkut berdasarkan prinsip kesalahan biasanya diatur dalam perundang-undangan yang mengatur jenis pengangkutan tersebut.

Penerbangan sipil yang dimaksud adalah jenis penerbangan yang tidak memiliki tujuan terkait peperangan dan tersedia untuk masyarakat (umum), bukan militer. Keadaan ini terjadi setelah Perang Dunia II, ketika penerbangan sipil digunakan untuk memperkuat hubungan persahabatan, mempromosikan perdamaian, dan meningkatkan pemahaman antar negara. Penerbangan sipil juga memfasilitasi interaksi sosial global, mencegah

(15)

terjadinya perang dunia yang merusak, menghindari konflik, dan mendorong kerjasama internasional dalam menjaga perdamaian dunia.18

Dalam undang-undang yang diberlakukan pada tahun 2009 mengenai sektor penerbangan, terdapat suatu ide mengenai penerbangan yang melibatkan beberapa unsur penting. Unsur-unsur tersebut mencakup penggunaan ruang udara, pesawat terbang, bandara, transportasi udara, navigasi penerbangan, keamanan dan keselamatan, perlindungan lingkungan, serta fasilitas pendukung dan umum lainnya.19

Secara prinsip, hukum udara internasional berasal dari hukum internasional dan hukum nasional. Sumber-sumber hukum udara internasional mencakup perjanjian multilateral dan bilateral. Perjanjian multilateral adalah kesepakatan internasional yang juga memiliki aspek bilateral. Selain itu, hukum kebiasaan internasional, seperti yang dijelaskan dalam Pasal 38 ayat (1) Piagam Mahkamah Internasional, juga merupakan sumber hukum internasional.

Doktrin hukum internasional, juga dikenal sebagai ajaran hukum, juga dapat digunakan sebagai sumber hukum udara. Selain itu, ada beberapa putusan pengadilan yang dapat dianggap sebagai sumber hukum, sesuai dengan Pasal 38 ayat (1). Perselisihan yang sedang berlangsung terkait dengan hukum penerbangan, terutama mengenai kewajiban perusahaan penerbangan terhadap penumpang dan pengirim barang, serta pihak lain.

18 K. Martono dan Amad Sudiro, Hukum Udara Nasional dan Internasional Publik, Convention on International Civil Avation, signet at Chicago on 7 Desember 1944, PT. Raja Grafindo Persada Jakarta, hlm. 56-57.

19 Afnil Guza, Undang-undang Penerbangan, UU RI No. 1 Tahun 2009, Asa Mandiri, Jakarta, 2009, hlm. 2-3

(16)

BAB III PENUTUP I. Kesimpulan

Hak mutlak adalah prerogatif tertinggi yang dipunyai suatu negara untuk independen melaksanakan beragam kegiatan sesuai dengan kepentingan sendiri, dengan syarat bahwa kegiatan tersebut tidak melanggar norma-norma hukum internasional. Kedaulatan mengacu pada hak eksklusif dalam mengendalikan wilayah pemerintahan, masyarakat, atau diri sendiri, yang dapat berasal dari pandangan agama atau kesepakatan masyarakat. Prinsip kedaulatan dalam konteks ruang udara memainkan peran penting dalam menjaga keamanan negara, namun ini tidak berarti memiliki kepemilikan fisik atas ruang udara, tetapi lebih terkait dengan yurisdiksi dan pengawasan terhadap penggunaan ruang udara untuk tujuan keamanan dalam satu negara. Penerbangan sipil merujuk pada penerbangan non-militer yang bertujuan umum, seperti memperkuat persahabatan, menjaga perdamaian, memperluas pemahaman antarbangsa, mengunjungi masyarakat internasional, dan mencegah terjadinya perang dunia yang mengerikan. Penerbangan sipil juga dapat menjadi sarana kerjasama internasional dalam menjaga perdamaian dunia. Dalam konteks ini, tujuan dari makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah udara nasional dalam kasus penembakan pesawat tempur Rusia oleh Turki pada tahun 2015, dengan menggunakan perspektif ilmu hukum internasional.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Mauna Boer, 2005, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Bandung: Penerbit Alumni.

Librayanto Romi, 2010, Ilmu Negara: Suatu Pengantar, Makassar: Pustaka Refleksi.

Parthina I Wayan, 2003, Pengantar Hukum Internasional, Bandung: Mandar Maju.

Likadja Fans, 1987, Masalah Lintas di Ruang Udara, Jakarta: Bina Cipta.

Istanto Sugeng F, 1998, Hukum Internasional, Yogyakarta: Universitas Atma Jaya.

Lestari Puji Endang, 2016, Rekonsepsi Hak Penguasaan Negara Atas Wilayah Udara Di Tengah Kebijakan Liberalisasi Penerbangan, Jakarta Pusat: Universitas Padjadjaran Merdeka Barat.

Martono K, 1995, Hukum Udara Angkatan Udara dan Hukum Angkasa, Jakarta:

Mandar Maju.

Hadiwijoyo Sakti S, 2011, Perbatasan Negara Dalam Dimensi Hukum Internasional, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Isjwara Fred, 1996, Pengantar Ilmu Politik, Bandung: Bina Cipta.

A Makarim Mufti, 2005, Strategi Pengelolaan dan Pertahanan Wilayah Perbatasan Udara Republik Indonesia, Jakarta: Yuridis dan Operasional.

Martono K, 2007, Pengantar Hukum Udara Nasional dan Internasional, Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada.

Suherman E, 1994, Wilayah Udara dan Wilayah Dirgantara, Bandung: Penerbit Alumni.

(18)

Gunawan Y, 2021, Hukum Internasional: Sebuah Pendekatan Modern, Yogyakarta:

LP3M UMY.

Parthiana Wayan I, 1990, Pengantar Hukum Internasional, Bandung: Mandar Maju.

Gunawan Y, 2012, “Penegakan Hukum terhadap Pembajakan di Laut Melalui Yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional”, Jurnal Media Hukum, Vol. 19 No. 1, hlm. 72-86.

Sudiro Amad dan Martono K, 1944, Hukum Udara Nasional dan Internasional Publik, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Guza Afril, 2009, Undang Undang Penerbangan, Jakarta: Asa Mandiri.

(19)

View publication stats

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat beberapa hal yang urgen mengenai penelitian tentang peran dan tanggung jawab ICAO (International civil aviation organization) terhadap peristiwa penembakan

Pelanggaran hukum atas wilayah udara dengan masuknya pesawat asing dalam perspektif hukum internasional, suatu negara dapat melakukan tindakan hukum dengan alasan

Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari: peraturan perundangan nasional maupun terkait pelanggaran hukum atas wilayah udara dengan

10 Eddy Suyanto,” Pengaturan penggunaan ruang Udara (suatu tanggung jawab negara Terhadap kemanaan dan keselamatan penerbangan)”, makalah pada Seminar Nasional