Nama buku : Pelayanan Pastoral Kepada Orang Berduka Penulis : Dr. J. L. C.h. Abineno
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jl. Kwitang 22-23, Jakarta 10420, tahun 2010, 180 hlm.
Salah satu pelayanan pastoral yang paling penting; menurut banyak pendeta jemaat, ialah pelayanan kepada orang yang berduka. Kedukaan itu dapat ditimbulkan oleh rupa-rupa hal : oleh kematian orang yang kita cintai (umpamanya : orang tua, anak, suami, atau isteri kita), oleh kehilangan sesuatu yang sangat berharga (umpamanya : kaki atau tangan yang diamputasi, payudara yang dioperasi atau diamputasi, kehilangan perhiasan atau barang-barang lain yang mahal dan mempunyai arti khusus bagi pemiliknya), dan lain-lain. Reaksi orang terhadap kematian atau kehilangan ini tidak sama : ada yang pasif (=menyerah, karena kematian atau kehilangan itu mereka melihat sebagai
“kejadian yang dikehendaki oleh Allah”), ada yang agresif (=mengeluh, memberontak, memprotes, kerena tidak dapat menerima kematian atau kehilangan itu), dan ada pula yang depresif (=tertekan, karena mereka tidak mampu menanggung beban penderitaan yang disebabkan oleh kematian atau kehilangan itu). Tugas pastor atau gembala dalam pelayananya kepada berbagai-bagai orang yang berduka ini tidak mudah. Untuk pelayanan itu ia membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus.
KEDUKAAN
Kedukaan yang sering diartikan sebagai penderitaan, biasanya digunakan untuk rupa-rupa hal yang berkaitan dengan sesuatu yang kita alami atau kita rasakan sebagai “kerugian”. Tetapi kata atau istilah “kedukaan” dapat juga kita beri arti yang lebih luas. Kita berduka, bukan saja karena kita kehilangan seseorang anggota keluarga yang kita cintai. Kita juga berduka, karena kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, umpamanya : perhiasan yang mempunyai arti yang khusus bagi kita, kesempatan untuk studi yang kita sangat inginkan, pekerjaan sebagai sumber hidup kita, rumah, sawah atau ladang, dan lain-lain.
Kehilangan yang besar atau yang penting yang menimbulkan penderitaan dan kedudukan tidak usah harus selalu disebabkan oleh kematian. Kehilangan yang demikian juga dapat disebabkan oleh hal-hal (=situasi-situasi) lain. Kehilangan- kehilangan itu tidak sama pentingnya dengan kehilangan yang disebabkan oleh kematian. Dan kaerena itu kedukaan, yang ditimbulkan oleh kedua macam kehilangan itu, tidak sama : secara gradual berbeda. Sungguhpun demikian kita juga harus mengakui, bahwa kehilangan-kehilangan yang kita sebut diatas, kita juga hayati dengan perasaan dan pikiran yang sama seperti apa yang kita hayati, kalau kita karena kematian kehilangan seseorang yang kita cintai.
Kedukaan, seperti yang kita katakan diatas disebabkan oleh suatu kehilangan yang kita alami atau kita rasakan sebagai suatu kerugian.kerugian itu menimbilkan penderitaan, yang tidak segera dan biasanya tidak dengan sendirinya dapat kita selesaikan. Penderitaan ini kita tanggung sebagai kedukaan : kedukaan yang perlaha-lahan berlangsung dan yang karena itu “penyelesaiannya” meminta waktu. Kedukaan adalah suatu proses. Kedukaan yang disebabkan oleh suatu kehilangan yang besar atau penting, bukankah suatu penderitaan yang hanya beberapa saat saja kita tanggung. Ia lebih lama berlangsung. Penyelesainnya meminta waktu dan aktivitas.
PELAYANAN KEPADA ORANG YANG BERDUKA
Kedukaan adalah suatu proses, yang meminta waktu dan aktivitas. Disitu kita juga katakan, bahwa hal itu tidak secara otomatis terjadi. Kita harus mengusahakannya. Bukan saja pastor (=gembala), juga orang-orang, yang berada dalam kedukaan, mempunyai tugas dalam proses pelayanan itu.
1) Menerima baik secara rasional, maupun secara emosional kehilangan yang diderita.
Tugas ini tidak mudah, terutama kalau kehilangan, yang mereka derita itu, besar dan penting. Biasanya kehilangan yang demikian tidak mudah dihadapi.
Dan karena itu perasaan-perasaan atau emosi-emosi yag ditimbulkannya, tidak mudah diterima. Sebab itu tidak heran, kalau banyak orang cenderung untuk tidak mengakui dan menerima kenyataan, bahwa mereka ada kehilangan dan sebab itu mereka berada dalam kedukaan. Malahan lebih dari pada itu : mereka menolaknya. Perasaan-perasaan atau emosi-emosi, yang ditimbulkan oleh kehilangan itu, mereka tekan.
2) Mencernakan perasaan-perasaan atau emosi-emosi yang problematis.
Perasaan-perasaan atau emosi-emosi, yang ditimbulkan oleh kehilangan yang diderita, harus diakui atau diterima. Kalau hal itu dilakukan oleh orang-orang yang bersangkutan, mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk menghadapi dan mengatasi perasaan-perasaan atau emosi-emosi yang problematis, maksudnya perasaan-perasaan atau emosi-emosi yang sulit, yang masih saja merupakan problema. Dan yang karena itu membuat proses kedukaan itu menjadi sangat berat.
3) Menerima situasi hidup yang baru sebagai suatu tugas
Sama seperti situasi hidup mereka yang lama sebelum kehilangan yang mereka derita demikian pula situasi hidup yang baru sekarang, mereka menhadapu denga rupa-rupa persoalan praktis. Dari rupa-rupa persoalan praktis itu mereka harus
Dalam pelayanan kedukaan juga bukan hanya mereka saja yang mempunyai tugas dalam prose kedukaan. Juga pastor (= gembala) mempunyai proses dalam kedukaan itu. Marilah kita menjelaskan tugas pastor dalam usahanya untuk menciptakan suatu situasi, seperti yang kita gambarkan atau sedikit lebih terinci. Isi tugasnya ini sesuai dengan ketiga tugas dari orang yang berduka, yang kita sebut diatas ialah :
1) Menciptakan suatu situasi, di mana orang yang berduka dapat menerima baik secara rasional, maupun secara emosional kehilangan yang ia derita.
Hal ini pastor lakukan, waktu ia mengunjungi orang yang berduka itu.
Oleh kunjungan itu terutama kalau maksud kunjungannya itu telah ia beritahukan sebelumnya orang yang berduka itu seolah-olah diingatkan lagi akan apa yang telah terjadi. Itulah pelayanan yang pertama dari pastor : membantu orang yang berduka itu untuk lebih intensif menyadari kehilangannya.
2) Menciptakan suatu situasi, dimana orang yang berduka dapat mencernakan perasaan-perasaan atau emosi-emosi yag problematis.
Perasaan-perasan atau emosi-emosi yang problematis ini tidak boleh dielakan, tetapi sebaliknya : ia harus berusaha untuk mencernaan perasaan-perasaan atau emosi-emosi yang problematis itu. Karena itu tugas pastor disini ialah : membantu orang yang berduka itu dalam usahanya itu, yaitu dengan jalan menciptakan ruang (=kesempatan) baginya dan menstimulirnya untuk lebih dalam memasuki (=membicarakan) perasaan-perasaan atau emosi-emosi itu
3) Menciptakan suatu situasi, dimana orang yang berduka belajar hidup dalam situasi hidupnya yang baru sebagai suatu tugas. Situasi hidup yang baru ini cepat atau lambat menantang orang yang berduka untuk mengambil inisiatif dan membuat langkah baru ke depan dan
memimpinnya untuk mengambil langkah-langkah yang kreatif, dengan jalan menciptakan “ruang” untuk itu.
Syarat-syarat dari percakapan yang membantu a. Perhatian
Dalam pergaulan sehari-hari “memberi perhatian” pada orang lain bukanlah hal yang biasa. Perhatian pastor pertama-tama dan seluruhnya harus ia arahkan kepada orang yang sedang ia gembalakan. Perhatian harus nampak kepada orang yang sedang digembalakan, artinya : harus dapat dilihat dan dirasakan olehnya.
Perhatian harus dinyatakan, bukan saja dengan kata-kata tetapi juga dengan tindakan perbuatan melalui sikap seorang gembala.
b. Empati
Empati adalah salah satu unsur, yang erat hubungannya dengan pengertian sebagai sikap dasar dari pastor. Untuk dapat membantu seseorang, pastor justru tidak boleh bersifat dingin, acuh-takacuh dan bekerja sebagai mesin.justru karena itu empati, kehangatan dalam relasi percakapan, kasih sayang kepada dan perhatian terhadap orang, yang pastor gembalakan, membuat “pengertian” lebih daripada suatu keterampilan.
c. Mendengarkan
Mendengarkan adalah terutama suatu aktivitas, yang lahir dari pengertian sebagai sikap dasar dari pastor. Oleh mendengarkan itu pastor memperhatikan, bahwa ia benar-benar mengarahkan dirinya kepada orang yang ia gembalakan, dan benar-benar memberikan perhatian kepadanya.
Kesimpulan :
Dalam percakapan sangat penting, dimana dalam pengertian yang lebih luas kita dapat memahami apa tujuan yang akan kita lakukan. Penjelasan yang telah diuraikan diatas memberikan kita pemahaman bagaimana caranya kita bisa
menghadapi masalah seperti ini. Syarat-syarat dalam percakapan diatas akan membantu kita dalam pelayanan pastoral kita sebagai seorang gembala.
Taggung jawab dalam pelayanan pastoral
Tanggung jawab ini mencakup banyak hal. Yang paling penting diantaranya ialah hal-hal yang berikut:
Pertama: tangung jawab di bidang penggunaan waktu. Hal ini sangat penting, bukan saja bagi pastor, berhubungan dengan tugas-tugas lain yang harus ia tunaikan. Tetapi juga bagi orang, yang pastor gembalakan.
Percakapan yang berjam-jam lamanya, biasanya tidak baik dan tidak bermanfaat.
Kedua: tanggung jawab di bidang affeksi. Bilamana percakapan pastoral berubah menjadi “obrolan” atau suatu “iseng-iseng”, maka nilai therapeutisnya akan hilang.
Ketiga: tanggug jawab di bidang pemikulan beban. Yang dimaksud dengan tanggung jawab ini ialah, bahwa orang yang pastor gembalakan, harus menerima persoalan yang ia sedang bicarakan dengan pastor itu sebagai persoalannya sendiri dan tidak boleh memikulkan beban penyelesaiannya kepada orang lain.
Berlangsungnya proses-proses kedukaan
Kita katakan, bahwa tingkah laku dari orang-orang, yang berada dalam proses kedukaan, berbeda-beda, tidak sama. Perbedaan atau ketidaksamaan itu begitu banyak, sehingga proses kedukaan yang satu berbeda dengan proses kedukaan yang lain, dan sesuai dengan itu tiap-tiap proses kedukaan mempunyai
lebih mudah berpikir dan berbicara tentang perasaan-perasaan atau emosi-emosi mereka itu. Tiap-tiap orang mempunyai karakternya sendir dn masalampaunya sendiri, yang turut menentukan caranya ia memahami atau “bergaul” dengan kehilangan, yang ia derita.
Pengakhiran relasi percakapan
Inisiatif kearah itu dapat diambil oleh pastor, kalau ia berpendapat, bahwa telah tiba waktunya untuk mengakhiri relasi percakapan mereka. Inisiatif itu juga dapat diambil oleh orang berduka, yang pastor gembalakan. Siapapun yang mengambil tidak begitu penting. Yang penting ialah,bahwa keputusan itu diambil oleh mereka berdua, secara bersama-sama. Disini pastor harus berhati-hati. Ia harus menjaga, supaya pengakhiran relasi mereka tidak menimbulkan suatu proses kedukaan baru pada orang yang berduka.
Pengakhiran relasi percakapan dapat terjadi atas permintaan orang berduka, yang pastor gembalakan, karena ia telah menemukan seorang lain, yang dapat mengambil alih tugas itu. Orang lain itu mungkin seorang pastor atau seorang ahli yang bukan pendeta. Dibawah ini kita mau membicarakan pengambil alihan tugas ini sedikit lebih terperinci. Pastor dan orang yang berduka itu tidak mengambil keputusan untuk mengakhiri relasi percakapan mereka, kalau harapan-harapan dan kebutuhan-kebutuhan orang itu telah cocok dengan anggapan-anggapan pastor tentang tugasnya. Inisiatif kearah itu dapat diambil oleh pastor, kalau ia berpendapat, bahwa telah tiba waktunya untuk mengakhiri relasi percakapan mereka. Inisiatif itu juga dapat diambil oleh orang yang berduka, yang pastor gembalakan.
Kesimpulan:
Dapat dikatakan bahwa buku ini menjelaskan tentang bagaimana sikap seorang pastor dalam menghadapi orang yang berduka. Buku ini sangat terperinci dalam menjelaskan langkah-langkah dalam mengambil tindakan yang baik dalam menghadapi orang yang berduka. Kata-kata yang bisa dimengerti dan mudah untuk dipahami. Pelayanan kepada orang yang sedang berduka sangatlah tidak
mudah, mengapa? Sebab orang yang berduka sangat mengalami kedukaan yang dalam sekali. Dimana dalam hal ini seorang yang berduka sedang mengalami:
kehilangan, kematian, kesakitan dll. Jadi bagian yang pastor lakukan disini adalah mampu mengambil keputusan dengan baik dalam menangani hal ini.