• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayaran Naional Indonesia (PT. PT.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pelayaran Naional Indonesia (PT. PT."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

22

A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Dalam Karya Ilmiah Terapan ini penulis akan mendeskripsikan tentang gambaran umum objek penelitian sesuai dengan judul penelitian ini yaitu “ Upaya Pencegahan Pencemaran Sampah Laut Oleh KM. Labobar Berdasarkan MARPOL 73/78 “. Sehingga dengan adanya deskripsi gambaran umum objek penelitian ini pembaca dapat memahami dan mampu merasakan tentang hal yang terjadi pada saat penulis melakukan penelitian di atas kapal “KM.

Labobar”. Mengolah sampah di kapal harus diperhatikan agar tidak terjadi pencemaran sampah secara langsung ke laut. Banyak kejadian pencemaran laut oleh kapal yang berdampak sangat merugikan bagi biota laut, salah satunya adalah karena kurangnya pemahaman Marine Pollution (MARPOL) Annex V tentang penanganan sampah di atas kapal oleh para Anak Buah Kapal (ABK).

Objek yang diteliti:

KM. Labobar merupakan sebuah kapal passanger milik PT. Pelayaran Naional Indonesia (PT. PT. PELNI) yang beralamatkan di Jl. Gajah Mada No.14, Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat.

(2)

Sejarah PT. PELNI berawal dari Yayasan Penguasaan Pusat Kapal- Kapal (PEPUSKA) yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum tertanggal 5 September 1950. Yayasan PEPUSKA didirikan setelah Pemerintah Belanda menolak permintaan Pemerintah Indonesia untuk mengubah status NV Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) menjadi perseroan terbatas.

Sebagai maskapai pelayaran Belanda yang beroperasi di perairan Indonesia, NV KPM juga menolak untuk memakai bendera Indonesia.

Dengan modal awal 8 unit kapal, PEPUSKA harus bersaing dengan KPM yang armadanya lebih banyak dan memiliki kontrak-kontrak yang bersifat monopoli. Setelah PEPUSKA dibubarkan pada 28 April 1952, PT.

PT. PELNI didirikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan tanggal 28 Februari 1952 dan 19 April 1952. Presiden direktur PT. PELNI yang pertama bernama Ma'moen Soemadipraja. Pada waktu itu, modal awal PT. PELNI adalah 8 unit kapal yang diwariskan oleh Yayasan PEPUSKA.

Kekurangan armada diatasi dengan memesan 45 unit kapal penumpang dari Eropa Barat dengan dana dari Bank Ekspor Impor Indonesia. Hingga kapal- kapal yang dipesan tiba, PT. PELNI mencarter kapal-kapal asing untuk mengisi trayek yang ditinggalkan KPM. Selain itu, PT. PELNI juga menambah jumlah armada dengan kapal-kapal hasil pampasan perang dari Jepang. Pada tahun 1961, PT. PELNI diubah statusnya dari perseroan menjadi perusahaan negara. Status PT. PELNI kembali diubah dari perusahaan negara menjadi perseroan terbatas pada tahun 1975.

(3)

Tahukah anda, PT. PELNI menamai beberapa kapal lautnya dengan menggunakan nama-nama gunung atau bukit yang ada di Indonesia. Salah satu kapal PT. PELNI dinamai dengan nama KM. Labobar. Labobar ini adalah nama sebuah gunung yang letaknya berada kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan ketinggian 400 Mdpl. Pada awalnya KM. Labobar adalah milik bendera Jerman danpada tahun 2004 PT. PT. PELNI membeli kapal tersebut dan membawanya langsung ke Tanah Air. Nama kapten pertama dan yang membawa pulang kapal Labobar adalah Capt. Wijadi.

Kapal KM. Labobar mempunyai alur (route) yang tetap, yang mempunyai home base di Surabaya kemudian Balikpapan, Pantoloan, Amurang, Bitung, di daerah Bitung kapal selalu membekali untuk isi air tawar supaya tidak kehabisan selama perjalanan. Kemudian dilanjutkan ke Ternate, Sorong, Manokwari, Nabire, Serui dan Jayapura. Jayapura adalah pelabuhan singgah terakhir (last port) disini juga kapal melakukan kegiatan isi air tawar, air tawar di pelabuhan jayapura berbeda dengan air tawar di semua pelabuhan. Air tawar di pelabuhan ini selalu dingin walaupun cuaca diluar panas. Ini membuktikan bahwa masih jernih dan alaminya sumber daya alam yang ada disana dan sangat memprihatinkan bila sumber alam yang bagus itu kita cemari.

B. HASIL PENELITIAN 1. Penyajian data

Berdasarkan penelitian yang telah taruna laksanakan selama masa praktek laut di atas kapal KM. Labobar, saya akan menjabarkan tentang kejadian yang pernah di alami selama taruna berada di atas kapal. Salah

(4)

satu faktor penyebab utama pencemaran laut oleh sampah yaitu kurangnya kesadaran anak buah kapa (ABK) tentang pentingnya tidak membuang sampah sembarangan di laut sesuai dengan prosedur yang tercantum pada Marine Pollution annex V. Berikut adalah suatu kejadian atau peristiwa

yang dialami pada saat praktek berlayar.

Pada tanggal 10 Januari 2018 kapal KM. Labobar kapal kami sedang melaksanakan perjalanan dari pelabuhan Ternate menuju pelabuhan Bitung, seluruh Anak Buah Kapal (ABK) deck yang tidak berdinas jaga melaksanakan harian seperti biasanya pada pukul 08.00 WITA. Kami berkumpul di depan gudang Bosun, untuk pembagian tugas masing-masing. Setelah itu kami langsung melaksanakan pembersihan disekitar kapal karna kapal sedang dalam keadaan kotor. Saat saya sedang melaksanakan pembersihan di area buritan, menyapu lantai di deck embarkasi dan memasukkan kedalam tong sampah yang tersedia. Setelah selesai menyapu lantai. Kami memasukkan sampah tersebut kedalam kantong plastik hitam agar memudahkan kita untuk membuang sampah tersebut ke truk-truk sampah yang telah di sediakan oleh pihak pelabuhan.

Tidak lama kemudian ketika saya sedang memasukkan sampah yang ada di dalam tong kedalam plastik, ada salah satu Anak Buah Kapal (ABK) yang membuang plastik tersebut ke tengah laut tanpa rasa bersalah.

(5)

2. Analisis data

No Kejadian di kapal Peraturan sesuai MARPOL annex V 1.

Juru Minyak membuang sisa packing sembarangan, jarak

dengan garis pantai tidak lebih dari 10 Nm.

Pembuangan sampah dunnage, lining, dan material yang dapat mengapung sejauh 25 Nm dari daratan.

2.

ABK sering membuang sampah seperti residu chipping dan kaleng cat bekas ke laut tanpa memperdulikan jarak dengan daratan.

Untuk sisa makanan dan semua sampah termasuk kertas produk, kain, kaca, logam botol – botol dan barang perak dapat dibuang sejauh 12 Nm dari daratan.

3.

Bosun membuang sampah plastik sembarangan.

Pembuangan semua jenis sampah plastik ke Iaut dilarang (termasuk tali sintetis, jala ikan sintetis, kantung plastik sampah, abu pembakaran plastik).

4.

Koki membuang sampah sisa makanan kurang dari 3 Nm dari garis pantai.

Jarak lebih dari 3 Nm dapat dibuang sampah sisa makanan.

(6)

Dari tabel di atas di jelaskan sebagai berikut:

Pada kejadian pertama 11 Maret 2018 Juru Minyak membuang sampah packing yaitu dapat diartikan sebagai gasket yang berfungsi untuk melapisi sambungan antar flange pada pengerjaan pipa ataupun pada peralatan yang berkaitan dengan mesin agar terjaga kekedapan dan tidak terjadinya kebocoran. Packing atau gasket berbahan dasar karet, plastik, kertas, maupun bisa juga bahan metal seperti plat tipis (seng). Aturan pembuangan sampah bahan yang terapung tidak terpenuhi karena masinis tidak membuang sampah packing sesuai aturan yang seharusnya dibuang pada jarak 25 Nm atau lebih dari daratan.

Pada kejadian kedua dan ketiga pada tanggal 20 Desember 2017 taruna melakukan tugas harian bersama para Anak Buah Kapal (ABK) dan dirasa kurang memahani tentang Marine Pollution (MARPOL) Annex V tentang penanganan sampah di atas kapal sehingga membuang sampah secara sembarangan tanpa memperhatikan jarak dari garis pantai dan tidak ada perlakuan khusus untuk sampah-sampah yang sulit terurai.

Pada kejadian ke empat pada saat taruna selesai bekerja harian pada tanggal 07 Februari 2018 di Laut Jawa tidak sengaja melihat koki sudah melaksanakan pelanggaran Marine Pollution MARPOL Annex V tentang penanganan sampah sisa makanan yang boleh dibuang hanya dengan jarak lebih dari 3 Nm dari garis pantai.

(7)

C. PEMBAHASAN

Sesuai dengan permasalahan penulis jelaskan, Apakah KM. Labobar dalam menangani sampah sudah sesuai dengan Marine Pollution annex V?

Berdasarkan dari hasil penelitian dan wawancara pada crew kapal yang taruna laksanakan di atas kapal KM. Labobar bahwa kejadian tersebut terjadi karena kurang tersedianya alat-alat pengolah sampah dan terdapat 2 faktor yang menjadi peran penting dalam masalah ini yaitu faktor manusia dan faktor teknis.

1. Faktor manusia, terjadi karena kurangnya kesadaranan anak buah kapal tentang peraturan pencemaran sampah di laut yang telah di terapkan di Marine Pollution (MARPOL) 73/78 yang mengatur tentang pencemaran sampah Annex V.

2. Faktor teknis, terjadi karena kurang tersedianya alat-alat pengolah sampah yang berada di atas kapal KM. Labobar, pihak kantor jarang sekali meyuplai alat-alat kebersihan yang dinilai sudah tidak layak pakai dan tidak adanya upaya perbaikan alat pengolah sampah seperti incinerator.

Di atas kapal KM. Labobar terdapat 2 cara untuk tidak membuang sampah sembarangan yaitu setiap kapal pasti memiliki alat yang digunakan untuk menghancurkan sampah yang disebut dengan “Incinerator”. Incinerator adalah suatu alat pembakar sampah yang dioperasikan dengan menggunakan teknologi pembakaran pada suhu tertentu sehingga sampah dapat terbakar habis. Incinerator ini memiliki ruang pembakaran, tempat sampah yang akan dibakar dan pada chamber terdapat saluran untuk mengalirkan bahan bakar juga dilengkapi saluran untuk menyalurkan udara dari blower, pembakaran ini

(8)

dilakukan secara tertutup untuk menghindari bahaya toksin maupun infeksi dari sampah yang akan dimusnahkan.

Tetapi karena di kapal KM. Labobar rusak dikarenakan faktor usia, sehingga sistem pembuangan sampah dilakukan oleh anak buah kapal langsung memicu untuk membuangnya kelaut tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dan tanpa melalui proses dari pembakaran incinerator.

Para Anak Buah Kapal (ABK) juga melaksanakan pembersihan sampah yang dilakukan secara manual yaitu dengan cara pembersihan bersama lalu memasukkan kedalam kantong plastik dikumpulkan di ruangan deckat pintu provision embarkasi. dan jika kapal telah sandar di pelabuhan kita membuang

kantong tersebut ke dalam truk-truk atau gerobak yang telah disediakan oleh pihak dermaga. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin agar tidak terjadi penumpukan di atas kapal dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti bau busuk maupun penyakit yang timbul akibat tumpukan sampah tersebut agar crew dan penumpang yang berada di atas kapal merasa nyaman.

(9)

30 PENUTUPAN

A. KESIMPULAN

Menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah syarat mutlak untuk menjaga kelangsungan hidup manusia karena laut adalah sumber daya alam yang sangat di butuhkan manusia dan menjadi sumber perdagangan, juga sumber makanan manusia maupun sebagai mata pencaharian. Jika kita tidak dapat menjaganya maka kelangsungan hidup biota laut akan rusak dan dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.

Pada pembahasan sebelumnya telah dilakukan analisa terhadap permasalahan yang ada. Dari hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa:

“KM. Labobar” belum melakukan penanganan pencemaran laut oleh sampah yang diatur dalam marine pollution (MARPOL) Annex V. Sebagian besar peraturan belum terlaksana dengan baik di kapal “KM. Labobar” disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman awak kapal terhadap prosedur pembuangan sampah yang benar, sehingga perlu diberikan pengarahan oleh Mualim I dan Nakhoda kepada awak kapal untuk mengurangi pencemaran laut akibat sampah. Faktor teknis juga berpengaruh dalam pencemaran laut tersebut, karena sampah di atas kapal tidak dapat diolah dengan baik seperti sampah plastik yang seharusnya dibakar di incinerator, malah dibuang langsung ke laut. Hal tersebut dapat berdampak sangat berbahaya bagi kelangsungan biota laut.

(10)

B. SARAN

Dari pembahasan sehubungan dengan masalah penelitian tentang upaya pencegahan pencemaran sampah dilaut oleh kapal berdasarkan penerapan Marine Pollution Annex V tentang sampah guna mengurangi pencemaran laut, maka penulis mencoba untuk mengajukan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang bersangkutan guna sebagai usaha peningkatan kebersihan laut, yaitu:

1. Memberikan familiarisasi atau pengenalan terhadap awak kapal yang baru naik. Familiarisasi dilakukan setiap ada awak kapal yang baru naik, sesuai prosedur secara maksimal.

2. Mengadakan pengarahan secara rutin setiap bulan yang membahas tentang pemahamannya aturan tentang Marine Pollution.

3. Memberikan fasilitas untuk mengolah sampah di atas kapal, seperti pengadaan perbaikan incinerator.

Apabila saran-saran tersebut diatas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar, maka diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan awak kapal tentang aturan Marine Pollution Annex V tentang sampah, sehingga awak kapal mampu memahami aturan ini dan lebih menjaga lingkungan di laut.

Dengan demikian, pencemaram di laut akan dapat ditanggulangi dengan memulai lebih ditegakkan lagi aturan ini dalam setiap kapal yang beroperasi.

Referensi

Dokumen terkait

Pada anemia def besi karena penurunan kadar hemoglobin yang terjadi secara perlahan seringkali sindrom anemia tidak menonjol dibandingkan dengan anemia lain yang penurunan kadar