1 INOVASI HIJAU: PEMANFAATAN ROSTER DARI LIMBAH SANDBLASTING
DALAM UPAYA MENGURANGI EMISI KARBON Naufal Hakim Akbar1, Raza Muhamad Fazrin1, dan Deswitha
Kamilia Rachman1
1 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Jl. Teknik Kimia, Kampus ITS Sukolilo, Kota Surabaya, Jawa Timur, 60111
Abstrak
Limbah sandblasting merupakan limbah yang dihasilkan dari salah satu kegiatan di industri manufaktur kapal yaitu proses sandblasting dan termasuk dalam kelompok limbah B3 dengan kode B323-1. Silika dalam senyawa SiO2 yang terkandung dalam limbah sandblasting dapat digunakan sebagai substitusi agregat halus pada campuran bata beton.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan limbah sandblasting dengan penambahan karbon aktif tempurung kelapa sebagai bahan substitusi agregat halus menjadi sebuah produk roster bata beton. Pengujian produk roster bata beton meliputi, kuat tekan dan daya adsorp gas CO2. Nilai kuat tekan dengan variasi sandblasting dengan 8% karbon aktif tempurung kelapa memiliki nilai kuat tekan SR1B sebesar 0,63 N/mm2, SR2B sebesar 1,07 N/mm2,dan SR3B sebesar 0,7 N/mm2. Kemampuan roster dalam adsorp gas CO2 terbesar terdapat pada variasi SR2B, dan SR3B sebesar 6,734 gram CO2, dan SR1B sebesar 6,148 gram CO2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan inovasi terhadap variasi produk yang dihasilkan dari kegiatan pemanfaatan limbah sandblasting.
Keywords: Roster, Limbah Sandblasting, Absorpsi Gas CO2
1. Latar Belakang
Pengembangan teknologi dalam bidang maritim merupakan salah satu usaha indonesia untuk mempermudah dan menciptakan inovasi baru dalam suatu industri. Kondisi geografis yang memiliki banyak perairan, mendesak Indonesia untuk mengembangkan teknologi manufaktur perkapalan. Teknologi yang digunakan untuk perawatan dan pembersihan alat hingga badan kapal merupakan hal yang penting untuk menjaga kualitas dari produk tersebut.
Usaha pengembangan ini tidak luput dari berbagai macam jenis limbah yang dihasilkan, salah satunya ada limbah sandblasting. Sandblasting merupakan metode untuk membersihkan permukaan material kontaminasi seperti karat, cat, garam, oli atau untuk memperoleh karakter profil material baik untuk memperkasar ataupun memperhalus, metode ini sering diaplikasikan pada
permukaan yang berbahan dasar logam (Wijayanto dkk, 2023).
Kegiatan sandblasting memang memiliki peran penting dalam perawatan kapal, akan tetapi limbah ini termasuk dalam jenis limbah B3 dengan kode B323-1 (Peraturan Pemerintah No.22 tahun 2021). Hal ini disebabkan limbah sandblasting mengandung logam berat seperti Cr, Cu, Pb, dan Zn (Qi et al., 2021) yang berasal dari kontak antara pasir dengan permukaan besi dengan lapisan cat antifouling yang mengandung beberapa unsur logam terutama Cu dan Zn (Alifiadi dkk, 2022).
Alifiadi dkk (2022) mengungkapkan bahwa salah satu perusahaan galangan kapal di Indonesia menghasilkan limbah sandblasting dengan massa terbesar 12.100 kg dalam sebulan. Begitu pula menurut Luthfizar dkk. (2019), salah satu pabrik konstruksi baja di Kabupaten
2 Serang, Banten menghasilkan limbah
pasir sandblasting sebesar 500 kg/bulan.
Banyaknya volume limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari operasi sandblasting menimbulkan tantangan lingkungan yang signifikan. Limbah sandblasting, yang tergolong limbah B3, memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan konstruksi, sehingga menawarkan solusi pengelolaan limbah yang berkelanjutan. (Manoharan dkk., 2020; Siddique, 2014).
Salah satu penerapan yang menjanjikan adalah mensubstitusi sebagian pasir dalam beton dengan limbah sandblasting. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa bahan limbah, seperti puing-puing pembongkaran dan pasir pengecoran, dapat secara efektif digunakan sebagai pengganti agregat halus dalam produksi beton (Tewar et al., 2017; Rajesh et al., 2021). Hal ini tidak hanya mengurangi dampak pembuangan limbah terhadap lingkungan tetapi juga menghemat biaya dengan mengurangi permintaan pasir alami. (Siddique dkk., 2018).
Tidak hanya limbah sandblasting, limbah tempurung kelapa juga dapat dijadikan arang untuk substitusi agregat halus pada beton (Mahendra dkk., 2021).
Jumlah timbulan tempurung kelapa yang banyak yaitu mencapai 3,18 juta ton tiap tahunnya (Puspaningrum dkk., 2022) menjadi alternatif pengelolaan karena jumlahnya yang banyak. Selain itu, arang aktif dari tempurung kelapa juga memiliki kemampuan dalam mengadsorpsi gas CO2.
Beberapa penelitian telah menyoroti kemampuan adsorpsi arang aktif, produk sampingan dari berbagai proses industri, yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah emisi gas berbahaya (Siddique, 2014). Dengan memasukkan arang aktif ke dalam bahan konstruksi, potensi menangkap dan mengandung gas berbahaya dapat ditingkatkan, sehingga berkontribusi terhadap lingkungan binaan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan (Cristelo dkk., 2019)
Arang aktif mempunyai kemampuan dalam menyerap gas dan senyawa kimia tertentu tergantung pada volume pori dan luas permukaan. Kemampuan penyerapan arang aktif sangat besar, yaitu 25% - 1.000% dari berat arang aktif (Fajri dan Abdul, 2021). Proses adsorpsi dapat terjadi karena kandungan karbon dalam arang aktif memecah ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul (Rohma dan Athiek, 2014).
Kemampuan arang aktif dalam mengadsorpsi berbagai jenis gas, termasuk gas CO2 dapat membantu proses dekarbonisasi. Proses dekarbonisasi merupakan proses mengurangi secara signifikan emisi gas CO2 dan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) lainnya dari atmosfer. Hal tersebut sesuai dengan yang tertulis pada perjanjian paris (Paris Agreement) mengenai pemanasan global.
Kombinasi antara arang aktif tempurung kelapa dengan limbah sandblasting akan sangat tepat jika dimanfaatkan menjadi roster. Fungsi dari roster yaitu sebagai sarana pertukaran udara dalam ruangan dengan udara luar. Jika roster memiliki kemampuan menurunkan konsentrasi gas CO2, akan menambah fungsinya serta kualitas udara di dalam ruangan menjadi lebih baik.
Penelitian ini akan dilakukan terhadap potensi limbah sandblasting dan karbon aktif yang terbuat dari tempurung kelapa. Produk yang dihasilkan dari penelitian ini berupa roster bata beton dengan memanfaatkan limbah sandblasting dan karbon aktif sebagai material substitusi agregat halus.
Penggunaan limbah sandblasting yang direncanakan adalah menggunakan komposisi 0%, 20%, 40%, dan 60%.
Sedangkan, penambahan karbon aktif sebesar 8%. Penelitian dilakukan dengan menganalisis komposisi substitusi limbah sandblasting yang sesuai, sehingga menghasilkan kualitas mutu rosten bata beton yang baik, serta mengandung konsentrasi racun pada logam berat dibawah baku mutu yang telah ditetapkan.
Melakukan analisa terkait kemampuan
3 produk roster bata beton yang
menggunakan substitusi limbah sandblasting dan karbon aktif sebagai agregat halus.
2. Metode Penulisan
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode eksperimen.
Eksperimen merupakan suatu penelitian ilmiah dimana peneliti memanipulasi dan mengontrol satu atau lebih variabel bebas dan melakukan pengamatan terhadap variabel terikat untuk menemukan variasi yang muncul bersamaan. Metode penelitian eksperimen bertujuan untuk mengetahui keterkaitan dan pengaruh yang ditimbulkan dari manipulasi 1 (satu) variabel pada 1 (satu) atau lebih variabel lain yang diukur.
Metode penelitian eksperimen yang dilakukan saat ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan limbah sandblasting sebagai bahan substitusi pasir dengan konsentrasi penambahan limbah sandblasting SR (0%), SR1B (20% limbah sandblasting dan 8% karbon aktif tempurung kelapa), SR2B (40% limbah sandblasting dan 8%
karbon aktif tempurung kelapa), dan SR3B (60% limbah sandblasting dan 8%
karbon aktif tempurung kelapa) yang digunakan sebagai material bata beton karawang sesuai dengan SNI 03-1570- 1989.
3. Pembahasan
Uji XRF (X-Ray Fluorescen)
Pengujian XRF merupakan salah satu metode pengujian karakteristik material yang dapat mengidentifikasi kandungan senyawa kimia dalam suatu material. Pada penelitian ini, uji XRF digunakan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa kimia pada limbah sandblasting sehingga dapat menentukan sesuai atau tidak, jika material tersebut digunakan sebagai substitusi agregat halus. Hasil pengujian XRF limbah sandblasting tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Uji XRF Pada Sandblasting Unsur
Terkandung
Oksida Terkandung
Unsur Komposisi (%)
Oksida Komposisi (%)
Mg 0,7 MgO 0
Al 2,6 AL2O3 2,5
Si 65,9 SiO2 78,7
P 1 P2O5 1
S 0,34 SO3 0,48
K 4,31 K2O 2,28
Ca 9,88 CaO 6,11
Ti 1,1 TiO2 0,92
V 0,02 V2O5 0,01
Mn 0,15 MnO 0,079
Fe 10,8 Fe2O3 6,12
Cu 1,67 CuO 0,755
Zn 0,66 ZnO 0,31
Sr 0,1 SrO 0,04
Zr 0,24 ZrO2 0,12
Ba 0 BaO 0,03
Re 0,1 Re2O7 0,05
Os 0,05 OsO4 0,03
Berdasarkan hasil uji XRF, diketahui bahwa kandungan senyawa kimia terbanyak adalah Silika (Si) sebesar 65,9%, diikuti oleh Kalsium (Ca) sebesar 9,88%, Besi (Fe) sebesar 10,8%, dan Aluminium (Al) sebesar 9,88%.
Kandungan Silika Oksida (SiO2) merupakan oksida yang dominan pada limbah sandblasting, sebesar 78,7%.
Namun, kandungan tersebut masih tergolong rendah. Umumnya kandungan Silika Oksida (SiO2) pada limbah
4 sandblasting berkisar 85% hingga 98%
Qomariah and Taufiq, 2023). Penelitian yang dilakukan oleh Qomariah dan Taufiq (2023), kandungan Silika (Si) sebesar 94%.
Total oksida pada material yang dipilih untuk pemanfaatan diatur pada Lampiran XIII Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.6 tahun 2021, material yang ingin dimanfaatkan menjadi produk paving block, batako, dan produk lain untuk infrastruktur sipil harus memiliki kandungan total oksida logam untuk SiO2+ Al2O3 + Fe2O3 + CaO ≥ 50%. Hasil uji XRF pada limbah sandblasting, ketika oksida SiO2+ Al2O3 + Fe2O3 + CaO dijumlahkan menghasilkan nilai sebesar 93,43%. Maka dapat disimpulkan bahwa limbah sandblasting sudah memenuhi kriteria sebagai material substitusi untuk pemanfaatan menjadi produk paving block, batako, dan produk lain untuk infrastruktur sipil.
Uji TCLP
(Toxicity Characteristic Leaching Procedure)
Pengujian TCLP dilakukan untuk mengetahui kadar racun pada suatu objek.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, pengujian TCLP bertujuan untuk memprediksi potensi pelindian dari suatu limbah atau dapat digunakan untuk mengetahui potensi toksisitas dari logam berat pada suatu objek.
Pengujian dilakukan pada limbah sandblasting dikarenakan limbah sandblasting termasuk dalam kelompok limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) kategori 2 dengan kode limbah B323-1 (Peraturan Pemerintah Nomor 22, 2021). Umumnya limbah sandblasting mengandung logam berat, sehingga perlu adanya uji TCLP. Hasil uji dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Uji TCLP Limbah Sandblasting
Parameter
Hasil Pengujian
(mg/L)
Baku Mutu (mg/L)*
TCLP- A
TCLP- B Barium
(Ba) 0,84 210 35
Seng (Zn) 4,95 300 50 Tembaga
(Cu) 5,86 60 10
(*) Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021
Pada penelitian ini melakukan pengujian TCLP pada 3 parameter logam berat, yaitu Barium (Ba), Seng (Zn), dan Tembaga (Cu). Pengujian terhadap 3 parameter tersebut didapatkan dari pengujian XRF yang kemudian dibandingkan parameter yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021.
Berdasarkan Tabel 2, konsentrasi masing masing parameter logam berat yang terkandung dalam limbah sandblasting tegolong aman, karena nilai masing – masing parameter logam berat berada dibawah ketentuan baku mutu, baik TCLP-A maupun TCLP-B.
Kuat Tekan
Pengujian kuat tekan bertujuan untuk mengetahui kemampuan produk bata beton dalam menerima beban maksimum sebelum mengalami kegagalan. Proses pengujian kuat tekan pada semua variasi roster dilakukan setelah melalui proses perawatan (curing) selama 28 hari.
Perawatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa bata beton mencapai kekuatan maksimalnya, memberikan gambaran yang akurat tentang performa material dalam kondisi optimal. Dengan melakukan pengujian setelah periode curing yang tepat, kita dapat menilai dengan lebih baik kemampuan material dalam menghadapi beban struktural dalam
5 aplikasi nyata. Hasil pengujian kuat tekan
roster bata beton tersaji pada Gambar 1.
Gambar 1. Grafik Kuat Tekan
Pada Gambar 1 menyatakan tidak semua variasi roster dalam penelitian ini memenuhi batas minimum kuat tekan yang ditetapkan dalam SNI 03-1570-1989 sebesar 0,8 N/mm². Kuat tekan adalah ukuran penting untuk menentukan kekuatan material dalam menahan beban.
Variasi roster SR1B (20% limbah sandblasting dan 8% karbon aktif tempurung kelapa) dan SR3B (60%
limbah sandblasting dan 8% karbon aktif tempurung kelapa) tidak memenuhi standar ini. Namun, fungsi roster bukanlah komponen utama dalam menumpu beban, hanya sebagai komponen pelengkap pada sebuah bangunan.
Silika yang terkandung dalam limbah sandblasting memiliki kadar yang sangat tinggi, sehingga berpotensi memberikan kekuatan lebih pada beton. Namun, silika tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan harus bereaksi dengan kalsium untuk menghasilkan nilai kuat tekan beton yang besar. Silika dalam bentuk senyawa Silika Oksida (SiO2) akan bereaksi dengan Kalsium Hidroksida (Ca(OH2)) yang didapatkan dari produk samping hidrasi semen. Reaksi tersebut akan menghasilkan senyawa C3S2H3 atau tobermorite yang mampu menghasilkan kekuatan beton yang berkualitas (Alifiadi dan Agus, 2022).
Penurunan nilai kuat tekan pada variasi SR3B, dan SR1B terjadi akibat penggunaan karbon aktif sebagai
substitusi agregat halus. Hal tersebut dapat terjadi akibat ukuran karbon aktif seragam yaitu 200 mesh. Selain itu, sifat serbuk arang tempurung kelapa yang memiliki daya serap air yang tinggi dan menghilangkan kelembaban (moisture) sehingga mengganggu proses pengikatan pada beton (Eransyah dkk., 2022).
Karbon aktif adalah arang yang mendapatkan perlakuan tambahan untuk memperluas permukaan dengan proses aktivasi. Taer, dkk. (2015) menyatakan arang merupakan padatan berpori yang mengandung 85–95% karbon. Bahan baku yang dapat digunakan sebagai karbon aktif memiliki kriteria kandungan karbon tinggi dan kandungan zat anorganik rendah (Lubis, dkk., 2020).
Menurut Prastika, dkk. (2021), agregat halus tidak boleh mengandung bahan organik dengan kadar yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan bahan organik dalam agregat halus mampu menghambat proses pengikatan semen dan mempengaruhi kekuatan beton.
Adsorpsi Gas CO2
Pengujian adsorpsi CO2 ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan roster bata beton dalam menurunkan konsentrasi gas CO2 pada lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan fungsinya, roster digunakan sebagai ventilasi udara atau media pertukaran udara antara udara dalam ruangan dengan udara luar. Jika roster mampu memberikan fungsi tambahan dengan menurunkan konsentrasi CO2
yang masuk ke dalam ruangan, maka kualitas udara dalam ruangan tersebut akan menjadi lebih baik dan lebih sehat.
Pengujian ini menjadi penting karena dengan kemampuan adsorpsi CO2, roster bata beton tidak hanya berperan dalam sirkulasi udara, tetapi juga dalam meningkatkan kualitas udara yang dihirup oleh penghuni ruangan. Hasil pengujian adsorpsi gas karbon dioksida (CO2) ditampilkan dalam Gambar 2, menunjukkan efektivitas berbagai variasi roster dalam menyerap gas CO2.
6 Gambar 2. Grafik Adsorpsi Gas CO2
Pengujian adsorbsi gas CO2
dilakukan selama 48 jam pada sampel roster dengan luas permukaan sebesar 372 cm2. Semua variasi roster menunjukkan kemampuan untuk mengadsorb gas CO2. Ini adalah sifat penting untuk material yang akan digunakan dalam aplikasi yang memerlukan kontrol kualitas udara, seperti dalam bangunan hijau atau sistem ventilasi.
Berdasarkan hasil pengujian roster tanpa menggunakan material subtitusi memiliki kemampuan adsorbsi tertinggi.
Kemampuan penyisihan gas CO2 variasi SR0 sebesar 8,783 gram gas CO2. Sedangkan, variasi yang menggunakan limbah sandblasting dan karbon aktif tempurung kelapa memiliki kemampuan adsorbsi yang lebih rendah. Walaupun memiliki nilai adsorpsi yang lebih rendah, penggunaan limbah sandblasting dan karbon aktif tempurung kelapa memiliki pengaruh dalam adsorpsi CO2. Meningkatnya kemampuan adsorpsi CO2
dipengaruhi oleh komposisi limbah sandblasting pada beton.
Variasi SR1B memiliki kemampuan penyisihan CO2 sebesar 6,148 gram.
Variasi SR2B dan SR3B, yang terdiri dari masing-masing komposisi 40% limbah sandblasting - 8% karbon aktif tempurung kelapa dan 60% limbah sandblasting - 8%
karbon aktif tempurung kelapa, memiliki kemampuan adsorpsi CO2 sama besar, mencapai 6,734 gram CO2. Kemampuan adsorpsi yang tinggi ini menunjukkan bahwa material tersebut bisa sangat efektif dalam mengurangi kadar CO2 di
lingkungan sekitarnya, memberikan manfaat tambahan selain fungsi strukturalnya.
4. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat pada penelitian ini, yaitu:
a. Hasil uji XRF menunjukkan limbah sandblasting mengandung silika (Si) 65,9%.
b. Hanya variasi roster SR2B (40%
limbah sandblasting dan 8%
karbon aktif tempurung kelapa) yang.memenuhi batas minimum kuat tekan 0,8 N/mm² yang diatur dalam SNI 03-1570-1989.
c. Semua variasi roster bisa mengadsorb gas CO2. Variasi SR2B dan SR3B memiliki kemampuan adsorb CO2 terbesar dengan 6,734 gram CO2.
5. Saran
Saran yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut, yaitu:
a. Penelitian ini dapat dikembangkan dengan menggunakan perbandingan semen terhadap agregat halus 1:3, untuk mengimbangi kandungan silika (Si) pada limbah sandblasting yang berikatan dengan kalsium (Ca) pada semen, sehingga memperkuat benda uji.
b. Interval waktu pengamatan adsorbsi gas CO2 bisa diperpendek kurang dari 24 jam.
c. Pemilihan ukuran karbon aktif yang digunakan sebagai material substitusi agregat halus lebih beragam dan memenuhi persyaratan gradasi agregat halus.
7 Daftar Pustaka
Alifiadi, R., Slamet, A. (2022).
Pemanfaatan Limbah
Sandblasting sebagai Material Alternatif Penyusun Paving Block. Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), 4399-4407.
Badan Standarisasi Nasional. (1989). SNI 03-1570-1989 tentang Bata Beton Karawang. Jakarta: Republik Indonesia.
Cristelio, N., Jiménez, A, F., Castro, F., Fernandes, L., Tavares, P. (2019).
Sustainable alkaline activation of fly ash, aluminium anodising sludge and glass powder blends with a recycled alkaline cleaning solution. Construction and Building Materials, 609-620.
Eransyah, Muhammad Fitra, dkk. (2022).
Pengaruh Penggunaan Serbuk Arang Batok Kelapa Terhadap Kuat Tekan Beton. Jurnal Jurnal Sains Dan Teknologi (JSIT).
Fajri, Dias Ahmad dan Abdul Ghofur.
(2021). Pengaruh Arang Kayu Ulin Sebagai Catalytic Converter terhadap Emisi Gas Buang dan Konsumsi Bahan Bakar pada Mesin Toyota Kijang 5K. Rotary.
Lubis, Rizka Alfi Fadhilah dkk. (2020).
Production of Activated Carbon from Natural Sources for Water Purification. Indonesian Journal of Chemical Science and Technology (IJCST-UNIMED).
Luthfizar, G.Y., Puji, F.S., dan Akbari, T.
(2019). Pemanfaatan Limbah Pasir Silika Sebagai Bahan . JURNALIS, 23-37.
Mahendra, Y. I., dkk. (2021).
Meningkatkan Kuat Tekan Beton Fc’ 16,60 Mpa Menggunakan Fly Ash dan Arang Batok Kelapa.
JURMATEKS: Jurnal
Manajemen Teknologi & Teknik Sipil.
Manoharan, T., Sivakumar, P. (2020). Use of waste foundry sand as a partial replacement to produce green concrete: Mechanical properties, durability attributes and its
economical assessment.
Environmental Technology &
Innovation.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 6. (2021).
Tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Jakarta: Republik Indonesia.
Peraturan Pemerintah Nomor 22. (2021).
Tentang Pedoman Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Republik Indonesia.
Prastika, Maidita Ajizah dkk. (2021).
Pengaruh Kotoran Organik pada Pasir Kasar Sungai Batanghari terhadap Kuat Tekan Mortar.
Jurnal Civronlit Unbari.
Puspaningrum, Tyara dkk. (2022).
Dampak Gas Rumah Kaca Arang Tempurung Kelapa dengan Metode Life Cycle Assessment (Batasan Sistem Gate-to-Gate).
Jurnal Teknologi Pertanian.
Qi, C., Weinell, C.E., Dam-Johansen, K.
& Wu, H. (2021). A review of blasting waste generation and management in the ship repair industry. Journal of Environmental Management, 1- 13.
Qomariah dan Taufiq Rochman. (2023).
On the Review of Utilization of Sandblasting Waste in Concrete:
Cracks Propagation and Sem Results. Civil Engineering and Architecture.
Rajesh, K, N., Raju, P, M., Mishra, K., Kumar, M, P. (2021). A review on sustainable concrete mix proportions. aper IOP Conference Series: Materials Science and Engineering.
Rohma, Putri Miftakhul dan Athiek Sri Redjeki. (2014). Pengaruh Waktu Karbonisasi pada Pembuatan Karbon Aktif Berbahan Baku Sekam Padi dengan Aktivator KOH. Konversi.
Siddique, R. (2014). Utilization of Industrial By-products in Concrete. Procedia Engineering,
8 335-347.
Siddique, R., Singh, G., Singh, M. (2018).
Recycle option for metallurgical by-product (Spent Foundry Sand) in green concrete for sustainable construction. Journal of Cleaner Production, 1111-1120.
Taer, E. dkk. (2015). Variasi Ukuran Karbon Tempurung Kelapa sebagai Alat Kontrol Kelembaban. Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) . Tewar, B., M. Shah Pramit., B. Patel
Parth. (2017). ffect of Partial Replacement of Sand with Wastage of Manufactured AAC Block in Concrete. Materials Today: Proceedings, 9817-9821.
Wijayanto, J., Purwanti, A. (2023).
STUDI KARAKTERISASI
BAHAN BAKU LIMBAH
SANDBLASTING UNTUK
AGREGAT BETON. Jurnal Inovasi Proses, 34-39.