P-ISSN: 2356-4164, E-ISSN: 2407-4276
Open Access at : https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jkh
Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial
Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
1255 PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM PENEGAKAN HUKUM MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2022 TENTANG PEMASYARAKATAN (The Role of Correctional Institutions In a Law Enforcement According to Law Number 22 of 2022 about Corrections)
Galang Tresno Prakoso S, Mitro Subroto Politeknik Ilmu Pemasyarakatan
E-mail: [email protected]
Info Artikel Abstract Masuk: 1 Desember 2022
Diterima: 15 Januari 2023 Terbit: 1 Februari 2023 Keywords:
Corrections, Correctional Issues, Law Enforcement.
The Correctional System is organized by the government as part of the law enforcement process related to coaching and assistance services for reintegration and socialization.
In essence, the treatment of suspects, defendants and convicts who have been deprived of their liberty, the implementation of coaching and mentoring must be based on the principles of legal protection and respect for human rights based on Pancasila and the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. The research method uses a descriptive qualitative approach by utilizing all information related to the subject matter in order to provide an overview and description of the object under study. The author's data sources are obtained from literature, articles, journals, scientific research, and internet pages related to the research conducted. Then the authors analyze these data qualitatively so that they can answer the existing problems. The results of the study concluded that so far Correctional is only defined as Correctional Institutions which are in the final phase (post-adjudication) of a criminal law enforcement process.
With the publication and entry into force of Law Number 22 of 2022 concerning Corrections as a substitute for Law Number 12 of 1995 concerning Corrections, it will become a guideline for all law enforcement officials to have the same view that Correctional Institutions are a "System" as a whole. unit of an integrated criminal justice system, covering the pre-trial, adjudication, and post-adjudication phases.
1256
Abstrak Kata kunci:
Pemasyarakatan, Isu-Isu Pemasyarakatan,
Penegakan Hukum.
Corresponding Author : Galang Tresno Prakoso, e-mail :
Sistem Pemasyarakatan diselenggarakan oleh pemerintah sebagai bagian dari proses penegakan hukum terkait layanan pembinaan dan pendampingan untuk reintegrasi dan bersosialisasi.
Pada hakikatnya perlakuan terhadap tersangka, terdakwa, dan terpidana yang dirampas kemerdekaannya, maka pelaksanaan pembinaan dan pembimbingan harus didasarkan pada prinsip perlindungan hukum dan penghormatan hak asasi manusia yang berlandaskan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan semua informasi terkait pokok permasalahan guna memberikan gambaran dan uraian atas objek yang diteliti. Sumber data penulis peroleh dari literatur, artikel, jurnal, penelitian ilmiah, serta laman internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. Kemudian data-data tersebut penulis analisis secara kualitatif hingga dapat menjawab permasalahan yang ada. Hasil penelitian disimpulkan bahwa selama ini Pemasyarakatan hanya diartikan terbatas pada Lembaga Pemasyarakatan yang berada pada fase terakhir (purna ajudikasi) dari suatu proses penegakan hukum pidana. Dengan terbit dan mulai berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan sebagai pengganti dari Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, maka akan menjadi pedoman bagi seluruh aparat penegak hukum agar memiliki pandangan yang sama bahwa Pemasyarakatan adalah suatu “Sistem” sebagai satu kesatuan dari sistem peradilan pidana terpadu, meliputi fase pra ajudikasi, ajudikasi, dan purna ajudikasi.
@Copyright 2023.
PENDAHULUAN
Pergeseran paradigma dari lembaga penjara menjadi lembaga pemasyarakatan yang saat ini sekaligus menjadi salah satu elemen sistem peradilan pidana, maka dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya harus sinkron dengan elemen subsistem lainnya sebagai satu kesatuan bingkai/kerangka kerja dalam sistem peradilan pidana terpadu. Bingkai sistem peradilan pidana dimaksud seharusnya
1257 berdasarkan pola hubungan yang sistematis, konsisten, dan saling bergantung (interdependen) antar elemen subsistem penegak hukum lainnya, dalam sistem peradilan pidana di Indonesia (Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan).
Pemasyarakatan sebagai suatu sistem dihadirkan tidak hanya memberikan jaminan perlindungan bagi pribadi, juga melingkupi kebendaan yang melekat padanya. Namun demikian dari berbagai perkembangan peran dimaksud pengaturannya masih diatur secara terpisah sehingga belum terintegrasi.
Perkembangan sistem penjara menjadi sistem pemasyarakatan sangat erat hubungannya dengan proses panjang kebijakan penegakan hukum di Indonesia.
Bermula dari pemberlakuan Reglemen Penjara1 menjadi sejarah awal dimulainya sistem kepenjaraan hingga berubah menjadi sistem pemasyarakatan di Indonesia.
Konsep pemasyarakatan diarahkan untuk mengembalikan warga binaan pemasyarakatan (WBP) setelah selesai menjalani masa hukuman dapat kembali menjadi warganegara yang baik. Konsep ini juga sekaligus untuk melindungi masayarakat dari kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Dalam penyelenggaraan sistem pemasyarakatan, baik berupa pembinaan maupun pembimbingan kepada warga binaan pemasyarakatan (narapidana, anak didik pemasyarakatan, klien pemasyarakatan) sebagaimana diatur melalui peraturan sebelumnya yakni Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, diarahkan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila. Warga Binaan Pemasyarakatan berhak mendapatkan pembinaan rohani dan jasmani, perawatan kesehatan, dijamin hak-hak mereka untuk menjalankan ibadahnya menurut agama dan kepercayaan masing-masing, diperkenankan berhubungan dengan pihak luar baik keluarga maupun pihak lain, diberikan kesempatan memperoleh informasi serta pendidikan yang layak, dan lain sebagainya. Namun disisi lain, lembaga pemasyarakatan juga selalu menjadi sorotan publik dengan berbagai isu di tengah masyarakat. Isu yang hingga kini belum dapat diselesaikan adalah kelebihan penghuni lapas serta tidak seimbangnya antara jumlah penghuni lapas/WBP dengan petugas Lapas, sehingga menyebabkan sering terjadinya kasus-kasus kerusuhan, maraknya peredaran narkoba di dalam lapas, dan narapidana yang melarikan diri.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis ingin membahasnya di dalam sebuah penulisan artikel ilmiah mengenai Peran Lembaga Pemasyarakatan Dalam Penegakan Hukum Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan.
Diharapkan hasil dari pembahasan ini dapat bermanfaat dan akan menjadi salah satu barometer sistem penegakan hukum terutama terhadap integrasi fungsi dan peran lembaga pemasyarakatan sebagai satu kesatuan sistem peradilan pidana di Indonesia.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk mengangkat isu permasalahan didalam artikel ini tentang “Bagaimana peran
1 Reglemen Penjara merupakan singkatan dari Gestichten-Reglement (Staatsblad 1917 No.708 dengan perubahan-perubahannya).
1258 lembaga pemasyarakatan dalam penegakan hukum menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan?”.
Adapun tujuan dari penulisan artikel ilmiah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana peran lembaga pemasyarakatan dalam penegakan hukum menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan.
METODE PENELITIAN
Penulis dalam melakukan penyusunan dan penulisan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan semua informasi terkait pokok permasalahan guna memberikan gambaran dan uraian atas objek yang diteliti.2 Cara pengumpulan data dan informasi melalui pemeriksaan dan analisis data dan informasi yang menggunakan data sekunder. Dan sumber data penulis peroleh dari literatur, artikel, jurnal, penelitian ilmiah, serta laman internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. Kemudian data-data tersebut penulis analisis dengan menggunakan secara kualitatif hingga dapat menjawab permasalahan yang ada.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peran Lembaga Pemasyarakatan Dalam Penegakan Hukum Menurut Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan
Pemasyarakatan merupakan bagian dan subsistem yang tidak terpisahkan dari sistem peradilan pidana terpadu yang ada di Indonesia dan diselenggarakan oleh pemerintah sebagai bagian dari proses penegakan hukum sesuai dengan fungsinya menyelenggarakan pelayanan serta pembinaan dan pembimbingan untuk reintegrasi sosial.
Di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan yang berlaku sejak bulan Agustus 2022 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, mengamanatkan perbaikan dan peningkatan secara mendasar dalam pelaksanaan fungsi Pemasyarakatan yang meliputi : pelayanan, pembinaan, pembimbingan, kemasyarakatan, perawatan, dan pengamanan dengan menjunjung tinggi penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi manusia.
Dasar pertimbangan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan ini pada hakikatnya perlakuan terhadap tersangka, terdakwa, dan terpidana yang dirampas kemerdekaannya harus didasarkan pada prinsip perlindungan hukum dan penghormatan hak asasi manusia berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945.3
Mengingat bahwa Sistem Pemasyarakatan merupakan subsistem bagian yang tidap dapat dipisahkan dari sistem peradilam pidana terpadu di Indonesia yang melaksanakan fungsi penegakan hukum berkaitan dengan hak untuk bebas dan hak untuk hidup dari seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP), maka
2 Sukarna Wiranta et al., 2011. Pengantar Dan Formulasi Proposal Penelitian (Bogor : Pusbindiklat Peneliti LIPI).
3 Konsideran “Menimbang” Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan.
1259 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan ini memberikan ketegasan kepada Pemasyarakatan untuk melaksanakan perlindungan hak asasi manusia yang melekat disetiap warga binaan pemasyarakatan (WBP) tidak hanya dikaitkan dengan si pelanggar hukum saja (pidana), tetapi juga telah dikaitkan dengan hak-hak keperdataannya, dimana pemasyarakatan berkewajiban untuk mereintegrasikan warga binaan pemasyarakatan dan mempertahankan hubungannya dengan pihak luar atau dengan masyarakat dalam hubungan pertalian yang positif.
Tujuan rehabilitasi/reintegrasi sosial dalam pelaksanaan pemidanaan di lembaga pemasyarakatan adalah dengan memberikan perhatian yang benar-benar seimbang antara warga binaan pemasyarakatan (WBP) dengan masyarakat. Dalam hal ini prilaku pelanggaran hukum perlu ditinjau dan dipandang sebagai adanya gejala keretakan hubungan antara si pelanggar hukum dengan masyarakat.
Sehingga tujuan dilaksanakan pembinaan dan pembimbingan dalam sistem pemasyarakatan dalam upaya untuk memperbaiki keretakan dari hubungan tersebut. Artinya warga binaan pemasyarakatan (WBP) harus diberi kesempatan untuk dapat bersosialisasi dengan masyarakat. Juga sebaliknya ada partisipasi aktif dari masyarakat untuk memberikan dukungan dalam tugas pembinaan kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) sebagai perwujudan tanggung jawab sosialnya.
Pendekatan kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam rangka untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang positif dapat dilakukan baik pada saat mereka berada di lembaga pemasyarakatan untuk menjalankan masa pemidanaannya maupun ketika mereka telah bebas berada di tengah masyarakat.
Menurut Clement Bartolas4, untuk menjaga agar pelanggar hukum tetap berada dalam masyarakat adalah satu hal yang sangat penting karena pada dasarnya penjara dapat mengakibatkan dehumanisasi.
Hubungan ikatan pertalian yang kuat antara warga binaan pemasyarakatan (WBP) dengan masyarakat akan sangat berpengaruh terhadap tujuan dan keberhasilan pembinaan kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) itu sendiri.
Asumsi ini menurut penulis didasari pemikiran bahwa ketika mereka berada didalam lembaga pemasyarakatan yang kemerdekaannya tengah dicabut, mereka tidak lagi memiliki pekerjaan yang tetap, terputusnya hubungan dengan keluarga, maka seolah mereka dibebaskan untuk melakukan tindakan apapun termasuk tindakan kriminal. Oleh sebab itu pada saat mereka terpidana tengah merasakan kondisi seperti ini, maka diperlukan fasilitas upaya pendekatan kepada pihak luar atau kepada masyarakat di luar lembaga pemasyarakatan.
4 Rochaeti, N., & Maryani, D. (2020). A Juridical Analysis the Act Draft Correctional in Fostering Inmates in Future Indonesian Correctional Institution. 477(Iccd), 546–549.
https://doi.org/10.2991/assehr.k.201017.121
1260 Masyarakat harus memberikan kesempatan kepada pelaku kejahatan yang tengah menjalani masa pemidanaannya untuk mengembangkan prilaku yang taat hukum, pelaku kejahatan juga harus didekatkan dengan peran-peran normal sebagi warga masyarakat, seseorang yang memiliki keluarga, dan selaku pekerja.5
Tujuan dari penyelengaraan sistem pemasyarakatan sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan pada Pasal 2 adalah sebagai berikut :
a. Memberikan jaminan pelindungan terhadap hak Tahanan dan Anak;
b. Meningkatkan kualitas kepribadian dan kemandirian Warga Binaan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana, sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik, taat hukum, bertanggung jawab, dan dapat aktif berperan dalam pembangunan; dan
c. Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari pengulangan tindak pidana.
Didalam peraturan ini juga memuat penegasan tentang 8 (delapan) asas penyelenggaraan Sistem Pemasyarakatan, yaitu :6
a. pengayoman;
b. nondiskriminasi;
c. kemanusiaan;
d. gotong royong;
e. kemandirian;
f. proporsionalitas;
g. kehilangan kemerdekaan sebagai satu-satunya penderitaan; dan h. profesionalitas.
Jika dihitung sejak terbit dan berlakunya peraturan mengenai pemasyarakatan sebelumnya yakni Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, maka ketiga tujuan utama penyelenggaraan sistem pemasyarakatan tersebut telah lebih dari 2 (dua) dekade berlangsung dan dijalankan. Namun demikian dalam prakteknya hingga saat ini masih banyak hambatan permasalahan terjadi. Hal ini dapat diketahui dari fakta tidak seimbangnya antara jumlah penghuni dengan petugas lapas, selalu terjadi overcrowding lapas secara berkelanjutan dan belum dapat diselesaikan, sehingga berdampak terjadinya kerusuhan, huru-hara dan pemberontakan warga binaan di dalam lingkungan lapas, belum lagi isu-isu praktik pungutan liar hingga isu maraknya peredaran narkoba di dalam lapas. Kondisi seperti ini tentunya mengindikasikan adanya permasalahan sistem tata kelola pemasyarakatan yang ditandai dengan belum seimbangnya jumlah petugas lapas dengan penghuni lapas, belum optimalnya ketersediaan kapasitas sarana dan prasarana lapas hingga indikasi masih lemahnya fungsi intelijen.
Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia untuk mengatasi berbagai permasalahan yang
5 Op Cit. Hlm. 27-28.
6 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan.
1261 terjadi dalam penyelenggaraan Sistem Pemasyarakatan tersebut, akan tetapi hasilnya selalu tidak sesuai dengan harapan. Karena penyelesaian permasalahan selama ini tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya sangat besar dan membutuhkan anggaran biaya yang sangat besar pula.
Jika mengutip hasil kajian Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, bahwa fenomena masalah pemasyarakatan diibaratkan dengan fenomena gunung es karena masalah yang muncul sangat kecil hanya terlihat puncaknya saja. Padahal akar masalahnya sangat besar yang tidak kelihatan karena selalu tersembunyi. Berbagai kejadian yang menimpa pemasyarakatan selalu diatasi hanya kepada gejala masalahnya saja, tanpa menyentuh akar masalahnya. Hasilnya, apabila gejala tersebut muncul kembali maka pengaruh kebijakan reaktif menjadi hilang. Itulah fenomena yang dihadapi pemasyarakatan saat ini.7 Adapun fenomena masalah Pemasyarakatan dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar
Struktur Permasalahan Pemasyarakatan
Dengan mulai diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, diharapkan dalam penerapannya akan berdampak terhadap perubahan Sistem Pemasyarakatan yang lebih manusiawi dan humanis dengan memberikan pembinaan dan pelayanan mengutamakan terjaminnya dan terpenuhinya hak asasi manusia. Berhasil tidaknya model pembinaan dan pembimbingan kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui sistem yang baru ini akan terlihat melalui realitas perwujudan dan pencapaian Pasal 2 Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan.
PENUTUP Kesimpulan
Selama ini Pemasyarakatan hanya diartikan terbatas pada Lembaga Pemasyarakatan yang berada pada fase terakhir (purna ajudikasi) dari suatu proses penegakan hukum pidana. Dengan terbit dan mulai berlakunya Undang-Undang
7 Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
2017. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pemasyarakatan. Hlm. 30-31.
1262 Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan sebagai pengganti dari Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, maka akan menjadi pedoman bagi seluruh aparat penegak hukum agar memiliki pandangan yang sama bahwa Pemasyarakatan adalah suatu “Sistem” sebagai satu kesatuan dari sistem peradilan pidana terpadu, meliputi fase pra ajudikasi, ajudikasi, dan purna ajudikasi, serta tidak hanya memberikan jaminan perlindungan terhadap penghuni dan klien pemasyarakatan, melainkan juga melakukan pengelolaan terhadap benda sitaan negara dan barang rampasan negara (basan dan baran).
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Dasar Nomor 22 Tahun 2022 Tentang Permasyarakatan. 143384.
Nurbaningsih, E. (2017). Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang
Pemasyarakatan. Jakarta: BPHN, 1–115.
https://bphn.go.id/data/documents/na_ruu_pemasyarakatan.pdf
Rochaeti, N., & Maryani, D. (2020). A Juridical Analysis the Act Draft Correctional in Fostering Inmates in Future Indonesian Correctional Institution. 477(Iccd), 546–
549. https://doi.org/10.2991/assehr.k.201017.121
Situmorang, V. H. (2019). Lembaga Pemasyarakatan sebagai Bagian dari Penegakan Hukum. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, 13(1), 85.
https://doi.org/10.30641/kebijakan.2019.v13.85-98