• Tidak ada hasil yang ditemukan

pembatalan perikatan jual beli tanah kavling akibat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pembatalan perikatan jual beli tanah kavling akibat"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebab-sebab batalnya perjanjian jual beli tanah dan akibat batalnya perjanjian karena tidak dibayarnya. Secara teoritis penelitian ini berguna untuk menambah dan melengkapi literatur pengetahuan umum khususnya permasalahan pembatalan perjanjian jual beli tanah karena tidak dibayar, sehingga bermanfaat bagi mahasiswa.

PENDAHULUAN

  • Latar belakang Masalah
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
    • Tujuan Umum
    • Tujuan Khusus
  • Manfaat Penelitian
    • Manfaat Praktis
    • Manfaat Teoritis
  • Kajian Pustaka / Kerangka Teori
    • Teori Perjanjian
    • Teori Jual Beli
    • Teori
  • Metode Penelitian
    • Jenis Penelitian
    • Tipe Penelitian
    • Pendekatan Masalah
    • Sumber Bahan Hukum
    • Prosedur Pengumpulan Bahan Hukum
    • Pengolahan dan Analisis Sumber Bahan Hukum
  • Sistematika Penulisan

Bahan-bahan hukum yang terkumpul dianalisis berdasarkan metode kualitatif, yaitu metode penelitian yang menghasilkan informasi deskriptif analitis dan dikumpulkan untuk kemudian menguraikan fakta-fakta yang terdapat dalam skripsi ini, kemudian diambil kesimpulan dan saran dengan menggunakan pemikiran deduktif yaitu menarik. kesimpulan atau penalaran yang menyimpang dari kondisi umum ke kondisi khusus. Bab ini memuat kesimpulan dari jawaban kedua permasalahan yang diuraikan. Bab ini memuat kesimpulan dari jawaban kedua permasalahan yang telah diuraikan atau dijelaskan pada Bab 2 dan Bab 3, selanjutnya akan diberikan saran atas kesimpulan yang diambil. .

ALASAN PEMBATALAN PERIKATAN JUAL BELI TANAH

Perjanjian

Hal ini diatur dalam Pasal 1338 Ayat (1) KUHPerdata bahwa perjanjian yang dibuat sah-sah saja berlaku bagi yang membuatnya. 4) Prinsip itikad baik (Togoe Dentrow). Yang dimaksud dengan perjanjian adalah para pihak yang mengadakan perjanjian harus sepakat dan sepakat mengenai pokok-pokok perjanjian yang dibuat. Pasca keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 1963 dan setelah berlakunya Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, masih terdapat 2 (dua) kelompok yang tidak dapat mengadakan perjanjian, yaitu anak di bawah umur dan orang-orang yang berada dalam perwalian (kurator). 18.

Suatu perjanjian yang sah berlaku sebagai hukum bagi para pihak yang membuatnya, artinya para pihak harus memenuhi perjanjian itu seolah-olah mereka sedang menurut hukum. Apabila terjadi pelanggaran terhadap perjanjian yang mereka buat maka dianggap sama saja dengan pelanggaran terhadap hukum, sehingga akan menimbulkan akibat hukum tertentu berupa sanksi. Akibat hukum suatu perjanjian didasarkan pada pasal 1339 KUHPerdata yang menyatakan bahwa perjanjian tidak hanya mengikat terhadap hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga terhadap segala sesuatu yang diwajibkan oleh sifat perjanjian itu karena kepatutan, adat istiadat, atau undang-undang. undang-undang yang mana perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 Ayat (3) KUHPerdata.

Jual Beli

Dilihat dari hukum substantifnya, dalam hal jual beli timbul hak tagih kedua belah pihak berupa penyerahan barang tak bergerak kepada salah satu pihak dan pembayaran harga jual kepada pihak yang lain. Dalam pengertian koperasi, jual beli merupakan suatu bentuk perjanjian yang menimbulkan kewajiban berupa penyerahan barang yang dijual dan uang dari pembeli. Kitab Undang-undang Hukum Perdata mengatur tentang jual beli hanya dari segi akad, oleh karena itu jual beli termasuk dalam golongan III. kitab KUHPerdata tentang transaksi.

Berdasarkan Pasal 1457 KUH Perdata disebutkan bahwa jual beli adalah suatu perjanjian yang mana salah satu pihak wajib menyerahkan suatu barang dan pihak yang lain membayar harga yang dijanjikan.23 Definisi yang diberikan oleh Pasal 1457 KUH Perdata, pada dasarnya unsur-unsur unsur pokok suatu kontrak penjualan didasarkan pada pemikiran bahwa unsur objek berkaitan dengan penyerahan atau penyerahan sedangkan unsur harga berkaitan dengan pembayaran, yang keduanya merupakan kewajiban mendasar para pihak. kedua hal tersebut harus dipenuhi agar hak-hak masing-masing pihak dapat terwujud sebagai wujud nyata keuntungan yang ingin dikejar. Perjanjian jual beli bersifat suka sama suka, hal ini dibuktikan dalam Pasal 1458 KUH Perdata bahwa jual beli dianggap terjadi antara kedua belah pihak apabila telah tercapai kesepakatan mengenai barang dan harganya, meskipun barang tersebut belum diserahkan. atau harganya belum dibayar.25.

Pembagian Benda Menurut KUH Perdata

Berdasarkan pasal 504 KUH Perdata, benda juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu benda bergerak dan benda tidak bergerak. Adapun ketentuan mengenai benda bergerak diatur dalam Pasal 509 sampai dengan Pasal 518 KUH Perdata, sedangkan untuk benda tidak bergerak diatur dalam Pasal 506 sampai dengan Pasal 508 KUH Perdata. Di bawah ini penjelasan terkait mengenai pentingnya membedakan benda bergerak dan tidak bergerak yang terletak diatasnya.

Dimana untuk benda bergerak, yang menguasai benda tersebut dianggap sebagai pemiliknya, pasal 1977 KUH Perdata. Benda tidak bergerak diketahui telah kadaluwarsa, karena berdasarkan pasal 610 KUH Perdata, hak milik atas suatu benda diperoleh karena telah kadaluarsa. Pasal 1150 KUH Perdata menyatakan bahwa pembebanan terhadap benda bergerak harus dilakukan dengan cara gadai, sedangkan pembebanan terhadap benda tidak bergerak harus dilakukan dengan hipotek, hal ini sesuai dengan Pasal 1162 KUH Perdata.

Alasan Pembatalan Perikatan Jual Beli Tanah Kavling

Dalam prakteknya, syarat pengakhiran ini sering kali dimasukkan dalam klausul yang mengatur tentang kemungkinan pengakhiran perjanjian, beserta sebab dan akibatnya bagi para pihak. Pengakhiran suatu perjanjian secara sepihak dapat diartikan sebagai keengganan salah satu pihak untuk mencapai kinerja yang disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian. Pengakhiran tersebut harus dimintakan kepada pengadilan, hal ini dimaksudkan agar tidak ada pihak yang kemudian dapat mengakhiri perjanjian secara sepihak dengan alasan salah satu pihak lainnya tidak memenuhi kewajibannya (wanprestasi).

Namun apabila salah satu pihak menolak untuk dituduh melakukan wanprestasi, maka para pihak harus menyampaikan putusannya kepada hakim untuk menentukan ada tidaknya wanprestasi. Pada hakikatnya suatu perjanjian yang disepakati antara kedua belah pihak mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi para pihak yang membuatnya. Adanya kekuatan mengikat bagi para pihak sehingga dapat menimbulkan akibat hukum.

Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas, dikatakan bahwa apabila terjadi wanprestasi atau wanprestasi di pihak para pihak yang membuat perjanjian, maka pihak yang dirugikan dapat meminta pembatalan perjanjian. Dalam perspektif perjanjian, perjanjian yang disepakati antara para pihak yang mengadakan perjanjian sebagai landasan hubungan hukum memberikan hak dan kewajiban yang menurut undang-undang mengikat para pihak yang mengadakannya, sehingga menimbulkan akibat hukum. berupa pembatalan perjanjian yang dapat diminta oleh salah satu pihak yang merasa dirugikan karena wanprestasinya.

AKIBAT PEMBATALAN PERIKATAN KARENA WANPRESTASI

Pembatalan Perjanjian

Pada prinsipnya pengakhiran suatu perjanjian berarti suatu keadaan yang mengakibatkan adanya hubungan kontraktual atau perjanjian dianggap tidak pernah ada. Pengakhiran perjanjian dapat diminta oleh salah satu pihak yang merasa dirugikan dengan perjanjian tersebut, sebagai berikut: 55. Cidera janji selalu dianggap sebagai keadaan batal yang termasuk dalam perjanjian timbal balik, apabila salah satu pihak gagal memenuhi kewajibannya, sehingga pihak tersebut yang merasa dirugikan karena pihak lain wanprestasi dapat menuntut pembatalan perjanjian.

Bahwa ada dua cara untuk meminta pembatalan suatu perjanjian, yang pada dasarnya dapat diselesaikan sebagai berikut melalui gugatan atau tanpa gugatan. Penyelesaian perselisihan ini diawali dengan mengajukan gugatan ke pengadilan dan diakhiri dengan putusan hakim yang mengikat. Adapun mengenai pengakhiran perjanjian ada dua cara, yaitu pertama, pihak yang berkepentingan secara aktif mengajukan gugatan perdata karena wanprestasi di pengadilan setempat sebagai penggugat dan mengajukan permohonan kepada hakim.

Wanprestasi

Jadi dapat kita simpulkan bahwa pengertian wanprestasi adalah suatu keadaan yang menunjukkan tidak dipenuhinya kewajiban, ingkar janji, dan/atau kelalaian yang dilakukan oleh debitur baik dengan tidak melakukan apa yang dijanjikan maupun tidak melakukan sesuatu yang diperjanjikan. 58 Salah satu ahli hukum Harahap mengartikan tidak dibayarnya suatu kewajiban yang tidak dilaksanakan tepat waktu atau tidak memadai, yang mengakibatkan kewajiban debitur untuk memberikan atau membayar ganti rugi (schadervergoeding) atau jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya, pihak lain dapat meminta pemutusan kontrak. Apabila debitur dikatakan menunggak, ia harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti syarat materiil dan formil. Cidera Janji terjadi karena debitur sama sekali tidak memenuhi prestasinya, yang berarti keadaan dimana debitur tidak memenuhi prestasinya sama sekali sehingga menimbulkan kerugian bagi kreditur; 2.).

55. keterlambatan pemenuhan kinerja, adalah keadaan dimana debitur melaksanakan kinerjanya namun terlambat atau tidak tepat waktu sesuai waktu yang disepakati kedua belah pihak; 3.). Cidera Janji disebabkan oleh ketidaksempurnaan dalam pemenuhan kinerja, keadaan dimana debitur memenuhi kinerjanya, namun tidak sempurna, tidak baik, atau tidak sesuai dengan perjanjian awal; 4.). Melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan dalam perjanjian, yang dimaksud dengan keadaan dimana debitur melakukan sesuatu yang dilarang dalam perjanjian untuk dilakukan.

Akibat Pembatalan Perikatan Karena Wanprestasi

PENUTUP

Kesimpulan

  • ALASAN PEMBATALAN PERIKATAN JUAL BELI TANAH
  • AKIBAT PEMBATALAN PERIKATAN KARENA WANPRESTASI

Apabila rumusan masalah pertama yang tercantum pada Bab II dapat disimpulkan bahwa perjanjian yang disepakati para pihak dalam perjanjian menjadi landasan bagi hubungan hukum, hak dan kewajiban yang menurut hukum mempunyai kekuatan mengikat bagi para pihak. yang berbuat demikian, yang menimbulkan akibat hukum berupa pengakhiran perjanjian, yang dapat diminta oleh salah satu pihak yang merasa dirugikan karena tidak dilaksanakannya. Cidera janji dapat timbul karena kesalahan salah satu pihak, baik karena unsur kesengajaan atau kelalaian, maupun karena keadaan kahar (force majeure) diluar kemampuan salah satu pihak. Terhadap unsur kesengajaan, kelalaian atau keadaan kahar (force majeure) yang melebihi kemampuan kedua belah pihak dapat dikenakan berbagai sanksi atau denda, sebagaimana tertuang dalam putusan perdata nomor 279/PDT.G/2020/PN.Mlg tanggal 22 April . 2021.

Bahwa jual beli dalam penulisan skripsi ini lebih dititik beratkan pada harta tak bergerak khususnya tanah, karena menurut ketentuan yang berlaku dianggap telah terjadi walaupun belum diserahkan atau harganya belum dibayar. . maka ini merupakan salah satu acara perdata yang paling sering dilakukan oleh masyarakat untuk memperoleh hak milik atas suatu benda. Dalam rumusan masalah kedua yang tercantum pada bab III dapat disimpulkan bahwa wanprestasi dikatakan terjadi apabila salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam perjanjian. Selain itu, pihak yang wanprestasi harus menanggung akibat atau denda sebagai kompensasi atas biaya, kerugian dan bunga akibat tidak dipenuhinya suatu perjanjian.

Saran

Perjanjian lisan tidak boleh digunakan karena pembuktiannya sulit karena beban pembuktian dalam hukum perdata ditempatkan pada kebenaran formil. Jelas sekali bahwa perjanjian lisan menimbulkan kurangnya kepastian hukum dan menjadi sulit apabila timbul perselisihan atau perbedaan pendapat. Jan Gijssels & Mark Van Hoecke, Dalam Prasetijo Rijadi dan Sri Priyati, , Pengertian Metode Penelitian Hukum Dalam Rangka Penulisan Skripsi, Al-muktabah, Sidoarjo, 2017, hal.

Referensi

Dokumen terkait

Wanprestasi adalah suatu keadaan dalam mana seorang debitor tidak melaksanakan prestasi yang diwajibkan dalam suatu kontrak, yang dapat timbul karena kesengajaan atau kelalaian debitor