• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Hutan Kemasyarakatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pemberdayaan Masyarakat Melalui Hutan Kemasyarakatan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

135

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

MELALUI HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN PARIGI MOUTONG

Hasan Muhamad Abstrak

Empowerment sebagai suatu premis yang lahir sebagai koreksi terhadap teori-teori pembangunan. Ada dua premis mayor, yaitu kegagalan dan harapan. Kegagalan yang dimaksudkan adalah gagalnya model-model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan. Sedangkan harapannya adalah adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai- nilai demokrasi, persamaan gender, persamaan generasi dan pertumbuhan ekonomi secara memadai.

Penelitian ini dilakukan di dua desa, yaitu Desa Parigimpu dan Desa Suli, sebagai sampel. Hal ini dilakukan dengan alasan, bahwa hanya pada dua desa ini dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat program kemasyarakatan untuk wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Dari hasil wawancara mendalam dan FGD, terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara Desa Parigimpu hutan dan Desa Suli.

Desa Suli memiliki penduduk yang multi etnik, dengan multi etnik tersebut semakin tercipta kompetisi dalam sistem mata pencaharian hidup dan inilah salah satu penyebab Desa Suli semakin maju apabila dibandingkan dengan desa-desa pertanian lainnya di Kabupaten Parigimoutong. Faktor lainnya adalah proses pendampingan sangat diharapkan oleh masyarakat, terutama bagi masyarakat yang minimnya pengetahuan dan pengalaman, sebagaimana masyarakat Desa Parigimpu.

Kata Kunci: Pemberdayaan dan hutan kemasyarakatan

I. Pendahuluan

Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan program hutan kemasyarakatan, tidak lepas dari metodologi yang digunakan. Sebab dalam konteks pemberdayaan, pembangunan ekonomi harus diterjemahkan sebagai proses meningkatkan derajat kebebasan manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya sendiri, Amartya Sen (dalam Sumodiningrat 2007). Dalam mewujudkan pilihan-pilihan sangat diperlukan adanya proses pendampingan seorang fasilitator yang menguasai pendekatan alternatif sebagaimana yang digunakan dalam konsep Participatory Rural Appraissal (PRA).

Proses pemberdayaan pada masyarakat yang dilakukan melalui hutan kemasyarakatan dapat meningkatkan kemajuan ekonomi pada masyarakat yang

(2)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

136 bersangkutan secara berkesinambungan dengan dukungan sumber daya manusia yang memiliki prakarsa dan daya kreasi. Prakarsa dan kreasi akan tumbuh dalam masyarakat yang bersangkutan melalui proses pendampingan. Bukan persoalan mudah semudah membalik telapak tangan. Hal ini dimungkinkan tumbuh apabila ada pengalihan peran, yaitu secara berangsur peranan orang luar dipindahkan pada orang dalam terutama dalam hal perencanaan setiap program.

Prakarsa hanya tumbuh apabila terdapat emansipasi serta kesempatan yang penuh diberikan pada masyarakat desa untuk berpartisipasi dalam proses perubuhan yang mereka kehendaki. Dengan demikian pemberdayaan, sebagai konsep alternatif pembangunan, maka sangat menekankan otonomi pada masyarakat desa dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan didasarkan pada sumber daya pribadi, partisipasi, demokrasi dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung.

Keberhasilan suatu program sebagaimana program hutan kemasyarakatan dapat diartikan sebagai peningkatan kemampuan atau kemandirian masyarakat. Dengan demikian kemandirian ini baru dapat dilepas atau ditinggalkan oleh pelaksana program apabila dinilai telah memiliki kemandirian tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian pemilik program, dalam pemberdayaan, diantaranya: (1) menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan masyarakat berkembang; (2) meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membangun melalui berbagai bantuan dana, pelatihan, pembangunan sarana dan prasarana dan serta pengembangan kelembagaan; (3) melindungi/memihak yang lemah untuk mencegah persaingan yang tidak seimbang dan menciptakan kemitraan saling menguntungkan; (4) menerapkan konsep partisipatif dan perencanaan dari bawah bukan dari atas; (5) pemberdayaan masyarakat dan partisipasi merupakan strategi dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat, (6) masyarakat memiliki banyak potensi baik dari sumber daya alam, maupun sumber sosial budayanya; (7) masyarakat memiliki

"kekuatan" yang bila digali dan disalurkan akan menjadi energi yang besar untuk mengatasi masalahnya. Cara menggali dan mendayagunakan sumber-sumber daya yang ada pada masyarakat inilah yang menjadi inti dari pemberdayaan masyarakat; (8) keterlibatan masyarakat hanya sebagai pelaksana kurang mendidik dan kurang menjamin keberlanjutan program, karena prakarsa selalu datang dari "luar" dan keterampilan pengkajian, perencanaan dan pengorganisasian tetap dimiliki "orang luar";

(9) dengan demikian, di masa akan datang ketergantungan dengan pihak "luar" dalam pengambilan prakarsa dan perumusan program secara bertahap akan bisa dikurangi; (10) untuk mendorong dan membangkitkan kemampuan sebagai wujud pemberdayaan, perlu memunculkan kembali nilai-nilai, kearifan lokal dan modal sosial yang dari dahulu memang sudah dianut oleh leluhur kita yang tinggal di pedesaan dalam "kegotong- royongan" yang saat ini sudah mulai terkikis.

(3)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

137

II. Kerangka Acuan Teori

1. Pemberdayaan

Empowerment muncul dengan dua premis mayor, yaitu kegagalan dan harapan.

Kegagalan yang dimaksudkan adalah gagalnya model-model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan.

Sedangkan harapan adalah adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan gender, persamaan antara generasi dan pertumbuhan ekonomi secara memadai

Dalam konteks seperti ini maka pembangunan ekonomi harus diterjemahkan sebagai proses meningkatkan derajat kebebasan manusia dalam menentukan pilihan pilihannya sendiri, Amartya Sen (dalam Sumodiningrat, 2007)1 Oleh karena itu, kemajuan ekonomi secara berkesinambungan harus didukung sumber daya manusia yang memiliki prakarsa dan daya kreasi. Prakarsa hanya tumbuh apabila terdapat emansipasi serta kesempatan yang penuh untuk berpartisipasi dalam proses perubuhan.

Pemberdayaan, sebagai konsep alternatif pembangunan, dengan demikian menekankan otonomi pengambilan keputusan suatu kelompok masyarakat yang berdasarkan pada sumber daya pribadi, partisipasi, demokrasi dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung. Kegagalan berbagai proyek yang masuk di pedesaan adalah disebabkan karena tanpa melibatkan masyarakat mulai dari merencanakan sampai mengevaluasi kegiatan tersebut. Paradigma Top Down tidak lagi dapat menyelesaikan masalah dan saat ini lebih cenderung pada paradigma Button Up Planing.

Sejalan dengan hal tersebut, sebagaimana tujuan dari Keputusan Menteri Kehutanan No.31-Kpts-II/2001 Tanggal 12/ Februari 2001 Tentang Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan dijelaskan pada pasal 1, poin sebagai berikut: (1) Hutan kemasyarakatan adalah hutan negara dengan sistem pengolahan hutan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat tanpa mengganggu fungsi pokoknya.

Demikian pula pada poin (6) Fasilitasi adalah penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan dengan pendampingan, pelatihan, penyuluhan, bantuan teknis, bantuan permodalan, dan atau bantuan informasi sehingga masyarakat dapat melakukan kegiatan secara mandiri dalam mengembangkan kelembagaan, sumber daya manusia, jaringan mitra kerja, permodalan dan atau pemasaran hasil.

Perintah yang diamanatkan oleh Kepmen tersebut dapat dianggap belum terlaksana sebagaimana yang diharapkan, hal ini disebabkan masyarakat dibiarkan

1 Sumodiningrat Gunawan 2007. Pemberdayaan Sosial Kajian Ringkas Tentang Pembangunan Manusia Indonesia. Hlm. 27

(4)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

138 begitusaja ketika bibit diserahkan, dan ini dapat dianggap tidak berhasil atau lebih tepatnya gagal (untuk Desa Parigimpu).

Lain halnya dengan Desa Suli, pengakuan masyarakat juga tidak dilakukan proses pendampingan atau perlakuan yang diarahkan sebagai proses pendampingan, namun karena masyarakat desa tersebut umumnya masyarakat pendatang dan hasrat untuk merubah nasib jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan Desa Parigimpu, maka mereka melakukan kegiatan tersebut dengan semangat dan diikuti oleh yang lainnya.

2. Sosialisasi Terhadap Konsep Hutan Kemasyarakatan

Sejalan dengan Fairchild (dalam Vembriarto, 19912 menyatakan bahwa sosialisasi merupakan proses belajar sosial dimana individu mempelajari berbagai macam peranan sosial. Sementara Goode (1991)3 menekankan pada suatu proses yang harus dilalui oleh manusia muda untuk memperoleh nilainilai dan pengetahuan dari kelompoknya.

Terjadinya proses sosialisasi dalam suatu masyarakat melalui interaksi sosial, yaitu berupa hubungan antar individu yang saling mempengaruhi, kemudian akan membentuk sistem perilaku, yang pada gilirannya sistem perilaku ini akan menentukan dan membentuk sikap tertentu. Sistem perilaku dan sikap yang terbentuk melalui proses belajar dan penyesuaian diri dengan lingkungan serta pengalaman hidupnya akan menjadi dasar perkembangan berikutnya.

Secara empirik, mekanisme sosialisasi biasanya dilakukan dengan melibatkan sejumlah elemen dan unsur dalam suatu jaringan relasi keluarga yang terbentuk melalui rangkaian peranan yang dilembagakan. Pelembagaan ini mendorong gerak antar unsur, elemen dan jaringan yang ada, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Dalam konteks ini sosialisasi merupakan sistem usaha yang komprehensif dan terpadu dalam merealisasikan konsep hutan kemasyarakatan serta konsekuensi logis dari keikutsertaan masyarakat dalam program hutan kemasyarakatan tersebut. Artinya sebagai suatu usaha yang terpadu dari sejumlah unsur, bagian atau elemen, baik lembaga yang datang dari luar desa seperti dinas-dinas maupun kelembagaan yang berasal dari desa seperti pemerintahan desa maupun lembaga lainnya. Harapannya adalah sosialisasi itu menjadi sesuatu yang dapat diterima oleh masyarakat sehingga muncul kesadaran dan mereka tahu betul bahwa mereka dapat mengambil untung dari suatu program.

Pengakuan masyarakat dari kedua desa, bahwa sosialisasi tidak dilakukan, atau konsep sosialisasi yang belum dipahami oleh petugas yang ditugaskan untuk melakukan sosialisasi. Sebab kalau kita bertanya kepada petugas maka mereka akan menjawab

2 Vembrianto, 1991. Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Gramedia hlm. 25

3 Goode, William, 1991. Sosiologi Keluarga, Jakarta: Bumi Aksara hlm 20

(5)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

139 bahwa sosialisasi sudah dilakukan. Kalau proses itu dilakukan dengan benar maka tidak ada anggota kelompok yang bertanya atau menyoalkan eksistensi dari suatu proyek, termasuk bagaimana keberlanjutan dari suatu kegiatan penanaman, hasil dari tanaman sampai pemasarannya.

Demikian pula model penanaman, tidak akan ditanam tanaman tersebut di antara pohon-pohon besar dalam hutan rimba, ini sangat jelas pohon yang baru ditanam tidak akan hidup, karena tidak mendapat sinar matahari. Ketidaktahuan masyarakat disebabkan proses pendampingan tidak dilakukan dan sosialisasi pun sangat diragukan.

Selain itu, masyarakat

juga tidak tahu keberlanjutan dari program tersebut, apakah kalau berhasil Kakao dapat dipetik hasilnya, apakah pohon Eboni, Jati dapat ditebang atau bagaimana? Ini tidak dapat dijelaskan masyarakat karena memang mereka tidak tahu karena tidak diberi tahu.

Jadi dalam pemberdayaan tidak lepas dari sosialisasi suatu program dan juga proses pendampingan. Proses pendampingan sangat diharapkan oleh masyarakat, terutama bagi masyarakat yang minimnya pengetahuan dan pengalaman, sebagaimana masyarakat Desa Parigimpu. Salah satu kegagalan dalam setiap proyek yang cenderung melibatkan masyarakat adalah proses pendampingan. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kegagalan proyek IDT yang disebabkan karena proses pendampingan yang tidak maksimal.

III. Metodologi

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Rural Appraissal (PRA), Mikkelsen (1999:72) Cara yang digunakan adalah Focused Group Discusion (FGD). Alasan menggunakan FGD adalah sebagai berikut: (1) FGD dilakukan dalam rangka: (i) Untuk melakukan verifikasi hasil (informasi) yang diperoleh melalui wawancara mendalam (secara individual) dan observasi lapangan ke dalam FGD, sehingga informasi yang ada menjadi relativ lebih benar (kesepakatan umum); (ii) Untuk menggali informasi lebih jauh atau mempertajam hasil (informasi) wawancara mendalam sehingga diperoleh informasi yang lebih mendasar. (2) Sedangkan hasil yang diharapkan dari FGD adalah: (i) Adanya kesepakatan secara umum peserta terhadap hasil wawancara mendalam dan observasi lapang, mengenai pelaksanaan program hutan kemasyarakatan, dan (ii) Triangulasi, hal ini merupakan croscek langsung dengan peserta FGD. (3) Sebagai bahan pembahasan dalam FGD, digunakan hasil wawancara mendalam dan observasi lapang, yang telah disusun dalam bentuk rumusan yang mudah dipahami. Masing-masing peserta diupayakan mendapatkan bahan berupa materi dan ada yang ditampilkan dalam kertas plano yang dapat dibaca bersama-sama. (4) Persiapan FGD adalah sebagai berikut: (i) Identifikasi calon peserta yang sesuai kriteria sebagai key informan (juga tempat dan waktu yang sesuai untuk pertemuan); (ii) Menyiapkan

(6)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

140 undangan dan tempat FGD; (iii) Menyiapkan bahan yang akan dibahas dalam FGD; (iv) Fasilitator mempersiapkan diri dan penguasaan teknis proses FGD.

IV. Pembahasan

Dari hasil wawancara mendalam dan FGD, ada perbedaan yang sangat mendasar di antara dua desa sampel (Desa Parigimpu dan Desa Suli). Kedua desa tersebut pernah dilakukan proyek hutan kemasyarakatan untuk wilayah Kabupaten Parigi.

Pertama, Desa Parigimu

Masyarakat Parigimpu mayoritas bertani, yaitu petani Kakao dan Kelapa serta ada petani sawah. Penanaman yang dilakukan di hutan kemasyarakatan adalah jenis tanaman campuran, yaitu kayu Jati, kayu Eboni dan Kakao. Model pelaksanaan di lapangan, masyarakat dikelompokkan sehingga terbentuk 3 kelompok dan masing- masing kelompok terdiri atas 25 orang. Pengakuan masyarakat bahwa proyek tersebut dilakukan berkisar tahun 2004. Pengakuan masyarakat bahwa proyek tersebut merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Penanaman dilakukan pada lahan sendiri serta ada lahan yang masuk dalam kawasan hutan lindung.

Proses penanaman pada tahun tersebut, menurut masyarakat dilakukan di antara pohon-pohon besar, pembagian dalam kelompok adalah satu orang mendapat lahan untuk ditanami luasnya adalah satu hektar. Jadi dalam satu kelompok luas lahan yang diusahakan adalah seluas 25 Ha.

Sejak penanaman sampai saat ini tidak pernah ada pihak luar yang datang untuk memberikan penyuluhan, pembimbinggan ataupun pendampingan. Petugas hanya datang menyerahkan bibit kemudian pulang. Tanaman yang ditanam tidak hidup karena masyarakat tidak punya pengetahuan dan tidak pernah diarahkan sehingga pola tanam yang dilakukan oleh anggota kelompok adalah ditanam diantara pohon besar, sehingga tanaman tersebut mati karena tidak ada cahaya sinar matahari. Selain itu tanaman tidak terpelihara, sebab masyarakat tidak dijelaskan soal eksistensi dari tanaman yang diusahakan tersebut menyebabkan masyarakat acuh tak acuh terhadap tanaman tersebut. Akibatnya adalah tanaman tidak terpelihara maka tanaman tersebut menjadi mati.

Cara kerja berkelompok di Desa Parigimpu memang sudah sejak lama dikenal.

Seperti kegiatan pindah rumah (rumah tusuk rumah panggung), perkawinan maupun kegiatan lainnya, namun ke semua itu sifatnya temporer sehingga aktivitas kelompok relatif kurang. Dengan keterbatasan aktivitas dalam kelompok, maka kelompok tersebut sering bubar dan bentukan yang baru terkantung adanya proyek. Seperti pada proyek hutan kemasyarakatan ini, kelompok dibentuk disebabkan karena proyek tersebut.

Dengan kebutuhan masyarakat yang meningkat dan perubahan zaman, maka kegiatan gotong royong dalam pembersihan lahan atau pemarasan yang dahulu bersama-sama

(7)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

141 dan kemudian pindah ke lahan orang lain lagi kini sudah berubah. Tenaga kerja dihitung dengan biaya PR.30.000/hari.

Dalam pembangunan fasilitas umum seperti rumah ibadah dan lain-lain apabila kelompok membutuhkan dana dalam kegiatan tersebut, maka langkah yang ditempuh oleh kelompok adalah dengan jalan menyerahkan tenaga kerja anggotanya dalam suatu kegiatan yang pada kegiatan tersebut mereka diupah, kemudian dananya sebagian disumbangkan dikumpul dalam kelompok, kemudian kelompok akan menyerahkan pada panitia pembangunan fasilitas umum.

Masyarakat Parigimpu juga mengenal sanksi dalam kelompok apabila ada anggota kelompok yang melanggar kesepakatan, seperti tidak hadir dalam kegiatan kelompok, maka dikenakan denda sebesar Rp.10.000,- atau diganti dengan tenaga kerja lain dari lingkungan kerabatnya apabila yang bersangkutan berhalangan hadir.

Pada tahun 2005, diberikan dana penyulaman dan pemeliharaan dengan upah per hektar, Rp. 550.000,-, Dana tersebut diberikan kepada kelompok namun dan petugas satu tahun kemudian baru datang untuk melakukan pemantauan. Akibatnya semua tanaman tersebut mati, karena motivasi pemeliharaan dari anggota tidak ada serta pengetahuan dan pemeliharaan tidak dilakukan.

Kedua, Desa Suli

Desa Suli memiliki penduduk yang multi etnik, dengan klasifikasi Etnik yang dominan adalah etnik Bali kemudian Jawa, Kaili dan Bugis. Dengan multi etnik tersebut semakin tercipta kompetisi dalam sistem mata pencaharian hidup dan inilah salah satu penyebab Desa Suli semakin maju apabila dibandingkan dengan desa-desa lain di wilayah studi.

Wawancara terhadap Bapak Wayan (pengusaha kayu Nantu) di Desa Suli yang didampingi beberapa orang warga masyarakat yang terlibat dalam usaha menanam pohon di wilayah hutan rakyat. Pak Wayan mengakui ia sudah menanam pohon sebanyak 12700 pohon (pohon Nantu). Cara menanam pohon Nantu menggunakan tali untuk mendapatkan hasil yang baik (tegak lurus).

Awal menanam: "awalnya saya bertemu dengan petani kayu Jati yang berasal dari Jawa, kemudian ia menceritakan tentang keuntungan yang dapat di hasilkan dari bisnis kayu tersebut (pada tahun 1999). Pada awal tahun 2000, saya mulai mencari bibit. Dan pada akhir tahun 2000 saya mulai menanam".

Penanaman kayu Nantu diakuinya dengan pertimbangan bahwa kayu Jati yang ditanam di daerah Suli memperlihatkan banyaknya mata (bekas cabang) sehingga tidak bisa tinggu atau panjang kayu yang dapat dimanfaatkan sangat terbatas. Hal ini mungkin karena tekstur tanah. Itulah sebabnya pilihan jatuh pada kayu Nantu. Selain itu kayu Nantu memiliki kualitas ekspor serta banyak diminati konsumen.

Kualitas tanaman yang baik akan diterima dan mudah untuk dipasarkan, baik yang masih muda atau yang sudah tua. Perbedaannya hanya pada ukuran besar dan kecil,

(8)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

142 kalau masih mudah dipanen berarti kayunya akan kecil. Selain itu, penjualan dilakukan bukan di luar daerah sebab pemintaan di daerah sendiri belum mampu ditanggulangi.

Penyuluhan dari luar sangat jarang, namun saya sendiri yang melakukan itu pada setiap orang yang datang meminta bibit, pasti saya ajari cara menanam, dengan mempelajari tingkat curah hujan, cara menanam akarnya dilipat (agar pohonnya tidak kerdil), dengan jarak tanam 3X3, untuk 1Ha bisa 1000 pohon. Kendala yang dihadapi terutama adalah jalan penghubung ke kebun yang tidak baik, jarak tempuh kebun dari desa 36 Km, yaitu di wilayah Salubanga.

Dalam persoalan penebangan hasil tanam, kami melakukan penebangan dan tidak ada campur tangan dari pemerintah. Tetapi yang diperlukan adalah surat izin dari Kepala Desa. Untuk di Desa Suli ini kami membentuk kelompok usaha tani yang terdiri dari 20 orang untuk satu (1) kelompok. Untuk jenis kayu yang di tanam bervariasi di antaranya Kayu Nantu, Palapi, dan Binua. Yang membuat masyarakat tertarik dalam mengolah usaha ini adalah hasil yang di dapatkan cukup besar. Untuk kayu Jabon yang di panen 6 tahun itu harga 1 kubik 2 juta.

Sejak tahun 2005 Pak Wayan sudah mendapat sertifikat penanaman pohon dan atas usahanya melibatkan masyarakat dalam memanfaatkan hutan rakyat dengan berbagai tanaman pohon maka pada tahun 2009 ia dipanggil ke Jakarta untuk memperoleh penghargaan “KALPATARU”.

Dari uraian dan pengakuan masyarakat di Desa Suli memberikan gambaran bahwa usaha penanaman ini dilakukan dengan bekal pengetahuan yang diadopsi dari luar dan mereka tidak tergantung dengan pihak luar (penyuluh pertanian) pada hal kehadirannya sangat dibutuhkan. Kemandirian ini menjadi tertular kepada anggota kelompok yang lainnya disebabkan keberhasilan yang diraih Pak Wayan dalam penanaman kayu Nantu disaksikan langsung.

Banyaknya masalah yang dihadapi masyarakat sementara pada sisi lain sumber daya manusianya sangat terbatas. Mereka juga memiliki harapan-harapan diantaranya:

(1) program yang direncanakan merupakan program berkesinambungan; (2) pengendalian hama kakao; (3) bantuan pupuk untuk tanaman Kakao; (4) setiap program diperlukan soialisasi; (5) jangan kami dilepas setelah ada program.

Keberhasilan Desa Suli dalam penanaman kayu Nantu juga telah terdengar sampai ke Desa Torono, dan ada diantaranya yang sudah menemui Pak Wayan untuk mengambil bibit, namun tidak seperti masyarakat Desa Suli. Etos kerja masyarakat Desa Torono relatif lebih rendah dibandingkan dengan Desa Suli, namun lebih tinggi dari Desa Parigimpu. Penanaman kayu Jati di Desa Torono belum merupakan suatu gerakan masyarakat, masih sebatas kelompok-kelompok tertentu.

Ketiga, Perbedaan Desa Parigimu dan Desa Suli

Masyarakat Desa Parigimpu dengan Desa Suli sangat berbeda baik latar belakang historisnya maupun agama yang dianut. Konsep masyarakat menunjuk pada sekumpulan manusia yang hidup di suatu wilayah tertentu dalam waktu yang cukup

(9)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

143 lama dan mempunyai aturan-aturan yang mengatur anggota masyarakatnya untuk mencapai tujuan bersama. Setiap masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana memiliki sistem nilai dan norma, serta adat istiadat yang sudah melembaga.

Dalam masyarakat terdapat simbol-simbol, nilai-nilai, aturan-aturan, norma-norma dan kaidah-kaidah tingkah laku yang bersifat normatif dan harus ditaati, dipelihara serta dipertahankan oleh warga masyarakat tersebut.

Kehidupan suatu masyarakat pada umumnya sangat kompleks, karena di dalamnya terdapat berbagai unsur seperti sistem religi, bahasa, kemasyarakatan, teknologi, adat istiadat lokal dan lain-lain. Koentjaraningrat, (1990:146-147)4. Sistem- sistem itu merupakan konsep-konsep ideal sebagai pedoman hidup keseharian warga masyarakatnya. Pedoman hidup ini merupakan komitmen dinamis yang bersifat berkelanjutan dan selektif. Berkelanjutan mengandung makna sebagai proses yang tidak akan pernah berhenti pada suatu bentuk tertentu yang final, melainkan hanya pola-pola yang berupa aturan hukum adat bagi para pendukungnya. Sifat selektivitas bertalian dengan pilihan konsep yang dianggap paling sesuai dengan kenyataan hidup pada zamannya.

Perkembangan suatu masyarakat tidak dapat dihindari, dengan masuknya pengaruh-pengaruh dari luar pada proses akulturasi dan modernisasi yang cepat, ini terjadi pada Desa Suli. Hal ini disebabkan adanya pendatang dengan etos kerja yang relatif tinggi apabila dibandingkan dengan Desa Parigimpu. Pada Desa Parigimpu sebagai desa yang dikuasai adat sehingga perkembangan desanya relatif lamban karena ada kekuatan dalam masyarakatnya untuk memelihara nilai-nilai budaya lokal dari pengaruh luar sehingga tradisi berupa adat-istiadat tetap terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Parigimpu merupakan masyarakat adat, di mana pada daerah tersebut tempat berdiam anggota dari patangota, sistem pemerintahan Raja Parigi. Dengan demikian dalam perkembangannya tentu diikat oleh berbagai aturan adat. Setiap sesuatu yang masuk ke desa berupa informasi tentang perubahan dan kemajuan akan membutuhkan waktu yang relatif lama dalam mengadopsi suatu kemajuan.

Penyebarluasan informasi dalam suatu inovasi pertama-tama harus diterima atau diadopsi oleh individu, sebagaimana Rogers5 telah membahas proses ini dalam lima tahap, tahapan tersebut, sebagai berikut: (1) Tahap kesadaran, individu mempelajari keberadaan hal baru, tetapi kekurangan informasi rinci tentang hal tersebut; (2) Tahap minat, individu mengembangkan minat terhadap inovasi dan mencari informasi tambahan tentang hal tersebut; (3) Tahap evaluasi, Secara mental individu menerapkan hal baru dalam situasi masa kini dan situasi masa depan yang diharapkan dan

4 Koentjaraningrat, 1990. Sejarah Teori Antropologi II, Jakarta: Universitas Indonesia

(10)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

144 memutuskan apakah mencobanya; (4) Tahap uji-coba, Individu menerapkan gagasan baru dalam skala kecil untuk menentukan kegunaannya; (5) Tahap adopsi, individu menggunakan hal atau gagasan baru secara berkesinambungan dan dalam skala yang penuh.

Merujuk pada teori tersebut, dalam melihat proyek yang masuk di Desa Parigimpu sangat berbeda dengan Desa Suli. Desa Parigimpu, ketika ditawarkan proyek penanaman pohon Kakao, Eboni dan kayu Jati tidak merespon dengan baik. Perlu diakui bahwa dasarnya proyek tersebut tidak melakukan sosialisasi maupun pendampingan. Namun jika dibandingkan dengan Desa Suli, mereka justru mengusahakan sendiri penanaman pohon tersebut. Desa Suli sangat antusias dalam melakukan hal itu, disebabkan suatu pengalaman baru sebagai hasil dari kunjungan seseorang warga desa ke Jawa, maka informasi tersebut disebarkan kepada masyarakat.

Dari lima tahapan pendapat Rogers tersebut, berlaku di Desa Suli, sebab pada tahap keempat individu masih melakukan pada skala kecil sabagai tahap uji coba, sekarang ini sudah ada individu yang luas penguasaan lahannya mencapai ratusan hektar.

Keberhasilan individu tersebut justru mendorong individu lain untuk melakukan hal yang sama. Kisah sukses tersebut menyebar bukan saja di desa namun di luar desa sehingga individu yang pertama tersebut mendapat penghargaan dari pemerintah berupa Kalpataru.

Lain halnya pada Desa Parigimpu hanya pada tahap pertama, kesadaran untuk mengembangkan aktivitas sudah ada namun kekurangan informasi tentang hal tersebut membuat masyarakat tidak beranjak kepada tahap selanjutnya.

V. Penutup

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Proses pemberdayaan yang dilakukan pada masyarakat belum berjalan secara maksimal, hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi tentang pelaksanaan program.

Akibatnya adalah masyarakat kurang merespons program tersebut.

2. Selain sosialisasi, juga pendampingan tidak maksimal, hal ini ditandai dengan gagalnya tanaman Kakao, kayu Jati maupun Eboni di Desa Parigimpu. Salah satu penyebab kegagalan tersebut adalah karena kurang merespons maka tidak pelaksanaan penanaman berdasarkan cara-cara yang lazim.

3. Ada perbedaan yang mendasar antara Desa Suli dan Desa Parigimpu dalam merespons program tersebut. Hal ini disebabkan perbedaan dalam mengadopsi inovasi.

(11)

INSPIRASI, No. IX Edisi Januari 2010

145

Daftar Pustaka

Goode, William, 1991. Sosiologi Keluarga, Jakarta: Bumi Aksara

Koentjaraningrat, 1990. Sejarah Teori Antropologi II, Jakarta: Universitas Indonesia Mikkelsen, Britha. 1999. Metode Penelitian Participatoris dan Upaya-Upaya

Pemberdayaan, Sebuah Buku Pegangan bagi Para Praktisi lapangan Yayasan Obor Indonesia.

Rogers Evert M., dan F.Floyd Shoemaker. 1971. Comunication of Inovations: A Cross Cultural Approach (New York Free Press, 1971) hlm 52-70

Sumodiningrat Gunawan 2007. Pemberdayaan Sosial Kajian Ringkas Tentang Pembangunan Manusia Indonesia.

Vembrianto, 1991. Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Gramedia.

Referensi

Dokumen terkait

me©bvg I wµqvc`¸wji †Kv‡bv iƒcvšÍi Ki‡Z bv cvi‡j - AMªMwZ cÖ‡qvRb... welqe¯‘i mwVKZv _vK‡jI avivevwnKZvi Afve