PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN IBU DAN ANAK OLEH KADER POSYANDU KAMBOJA
DI DESA PRINGGAJURANG UTARA
Oleh
ZUMRATUL AINI NIM 190302054
PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2023
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN IBU DAN ANAK OLEH KADER POSYANDU KAMBOJA
DI DESA PRINGGAJURANG UTARA SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Serjana Sosial
Oleh
ZUMRATUL AINI NIM 190302054
PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2023
MOTTO
"Tidak Sepatutnya Seseorang Merasa Aman Tentang Dua Hal;
Kesehatan dan Kekayaan".
~ Ali bin Abi Thalib ~
"Hal yang Paling Menyenangkan di Tengah Masa Sulit Adalah Kesehatan yang Baik".
~ Penulis ~
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahiribbil' alamin dengan mengucapkan syukur atas rahmat Allah SWT, sebagai ungkapan terima kasih, skripsi ini saya persembahkan untuk:
Untuk kedua orang tuaku Ayahanda H. Abdul Azis dan Ibunda HJ.
Nurhasanah yang tidak henti-hentinya selalu memberikan kasih sayang, motivasi dan cintanya kepadaku, yang selalu memberikan semangat dan mengajarkan untuk selalu hidup dengan sabar dan jujur.
Untuk guru dan dosen-dosenku yang telah membimbingku dan telah banyak memberi banyak ilmu dan pengetahuan sehingga dapat merubah diriku menjadi lebih baik dari sebelumnya sehingga aku bisa menjadi seperti saat ini.
Untuk kakak ku Muna Zirah dan adek ku Abdul Rahman yang selalu memberikan semangat dan mensupport selama saya mengerjakan skripsi.
Untuk almamater kebanggaanku program studi pengembangan masyarakat Islam fakultas dakwah dan ilmu komunikasi universitas islam negeri mataram.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul 'Pemberdayaan Masyarakat Dalam Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak Oleh Kader Posyandu Kamboja di Desa Pringgajarang Utara' sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan pada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi Uswatun Hasanah bagi kita semua.
Amin.
Penyusun skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat guna untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (S.Sos) pada Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan rasa terima kasih teriring doa semoga menjadi amal ibadah dan mendapat balasan dari Allah SWT, kepada:
1. Dr. Muhammad Thohri, M. Pd. sebagai dosen pembimbing 1 dan Siti Aminah, M.Si. sebagai pembimbing II memberikan bimbingan, motivasi, dan korelasi mendetail, terus menerus dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
2. Dr. Muchammadun, M.PS., M.APP.Ling (ADV) sebagai ketua jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
3. Dr. Muhammad Saleh, M.A. selaku dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
4. Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. salahku rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu
Mataram, Penulis,
Zumratul Aini
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... iv
HALAM MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
ABSTRAK ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 6
E. Telaah Pustaka ... 6
F. Kerangka Teori ... 9
G. Metode Penelitian ... 18
H. Sistematika Penulisan ... 22
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 25
A. Profil Desa Pringgajurang Utara ... 25
B. Profil Posyandu Kamboja ... 30
C. Upaya Posyandu Kamboja dalam Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak Melalui Sosialisasi ... 43
D. Kendala dan Hambatan Posyandu Kamboja ... 45
BAB III PEMBAHASAN ... 51
A. Analisis Upaya Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat ... 51
B. Kendala Hambatan dalam Pemberdayaan Kesehatan Yang Dilakukan Posyandu ... 62
BAB IV PENUTUP ... 65
C. Kesimpulan ... 65
D. Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 67 LAMPIRAN
DAFTAR BAGAN
Bagan 1.1. Struktur Kepengurusan Posyandu Kamboja Di Desa Pringgajurang Utara.
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Dokumentasi wawancara
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN IBU DAN ANAK OLEH KADER POSYANDU
KAMBOJA DI DESA PRINGGAJURANG UTARA Oleh
Zumratul Aini NIM 190302054
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) oleh kader Posyandu Kamboja Desa Pringgajurang Utara, mengetahui kendala dan hambatan dalam pemberdayaan kesehatan untuk meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) oleh kader posyandu Kamboja Desa Pringgajurang Utara.
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan analisis naturalistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) oleh kader posyandu Kamboja Desa Pringgajurang Utara yaitu dengan mengadakan sosialisasi, bekerjasama dengan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Dalam pelaksanaan suatu program tentu tidak terlepas dari adanya kendala dan hambatan yang akan berpengaruh pada keberhasilan program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan. Kendala dan hambatan yang dihadapi yaitu kurangnya pemahaman kader posyandu dalam sosialisasi, kurangnya anggaran atau dana minim, dan kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat sekitar.
Kata kunci: Kader Posyandu, KIA, Pemberdayaan Masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan adalah suatu keadaaan sehat, baik itu secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.1 Kesehatan merupakan hak azasi sekaligus sebagai investasi, sehingga perlu diupayakan, diperjuangkan dan ditingkatkan oleh setiap individu dan seluruh bangsa, agar masyarakat bisa menikmati hidup sehat, dan akhirnya dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. 2 Hal ini perlu dilakukan karena kesehatan bukanlah tanggung jawab pemerintah saja, namun merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat dan swasta.
Sejalan dengan berkembangnya paradigma pembangunan, arah kebijakan pembangunan kesehatan telah ditetapkan dan tertera dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019.
Salah satu sasaran meningkatkannya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dapat didukung dengan perlindungan finansial dan pemeratan pelayanan kesehatan.3 Kondisi pembangunan kesehatan saat ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Melalui konsep Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), masyarakat berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Bentuk UKBM antara lain Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), dan desa siaga aktif.
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
1 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
2 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu, (Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006).
3 Kementerian Kesehatan RI, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, (Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, dan yang paling utama untuk memperoleh penurunan angka kematian ibu dan bayi.4 Untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, Posyandu memiliki lima program prioritas yaitu kesehatan Ibu dan Anak (KIA), keluarga berencana (KB), imunisasi, gizi serta pencegahan dan penanggulangan diare.
Tujuan utama pelaksanaan kegiatan posyandu adalah penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat.
Sasaran dari pelayanan posyandu adalah seluruh masyarakat terutama bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, serta Wanita Usia Subur (WUS) dan Pasangan Usia Subur (PUS).
Sedangkan yang bertindak sebagai pelaksanaan posyandu adalah kader.
Kader posyandu merupakan seseorang yang mempunyai kemampuan dan kecakapannya yang dipilih dan ditunjuk untuk memimpin pengembangan posyandu disuatu tempat desa/gampong.
Peran kader yaitu memantau pertumbuhan anak atau balita, mengadakan penyuluhan terkait tentang kesehatan ibu dan anak sehingga masyarakat mengetahui dan mampu mempraktekkan apa saja yang perlu diperhatikan dalam penanganan anak, ibu hamil ataupun ibu menyusui.5
Peran kader sangat penting untuk melancarkan kegiatan pelayanan kesehatan untuk masyarakat, karena tanpa adanya kader maka pelayanan kesehatan terutama posyandu tidak akan terlaksana secara maksimal. Oleh sebab itu, kader posyandu harus berupaya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan mampu untuk mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi.
4 Kementerian Kesehatan RI, Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu, (Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011).
5 Arfah Sagita, Peran Kader Posyandu Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ibu Dan Anak Di Dusun Lamasariang Kelurahan Balanipa Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar, Skripsi (2017).
Berdasarkan hasil observasi awal di lapangan, yang penulis lakukan di Desa Pringgajurang Utara, tepatnya di Posyandu Kamboja bahwa yang terjadi saat ini tidak demikian, para ibu yang mempunyai bayi dan balita seharusnya mengikuti kegiatan Posyandu setiap bulan tetapi, tidak dilakukan secara rutin setiap bulan oleh para ibu. Mereka tidak memiliki kesadaran akan hal itu, bahkan hadir setelah dipanggil berulang kali. Padahal kegiatan tersebut untuk kepentingan mereka, baik ibu maupun bayi. Masyarakat sekitar juga tidak memberi dukungan dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Hanya sedikit yang serius mengikuti kegiatan dan menerapkannya.
Sehingga yang terjadi saat ini, kurangnya pengetahuan para ibu tentang bagaimana merawat bayi dengan baik dan pentingnya memberikan ASI eksklusif dengan benar selama 6 bulan penuh, para ibu tersebut malah memberikan Makanan Pendamping ASI (MP- ASI) kurang dari 6 bulan, umumnya para ibu beranggapan kalau anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan.
Padahal kenyataannya bayi belum sanggup untuk mengolah dan memecahkan makanan tersebut.
Hal ini terjadi dikarenakan para ibu sering tidak hadir pada kegiatan Posyandu setiap bulan, para ibu juga memberikan minuman tambahan kepada bayi seperti air putih yang seharusnya tidak ditambahkan apa-apa kepada bayi cukup diberikan ASI eksklusif saja selama 6 bulan penuh. Maka dari itu ada beberapa dari para ibu yang mempunyai bayi atau balita yang kekurangan gizi atau gizi buruk, berat badan bayi tidak bertambah semakin hari semakin berkurang, padahal ekonomi orang tua dari bayi tersebut bisa dikatakan mampu atau cukup untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh bayi.
Pada sisi lain peneliti mengamati bahwa para ibu juga tidak memberikan rangsangan atau stimulasi yang baik terhadap bayi, seperti cara menggendong bayi, tidak memberikan ASI secara tepat, menggunakan bahasa-bahasa yang terlalu tinggi di hadapan bayi, balita atau anak, dan beberapa dari para ibu membiarkan anak menangis begitu saja, ibu tersebut beranggapan nanti anak akan berhenti menangis dengan sendirinya. Beberapa dari para ibu juga
tidak merangkul bayi atau merawatnya secara lembut.
Rangsangan atau stimulasi yang positif tidak didapatkan sepenuhnya oleh bayi, yang didapatkan oleh bayi rangsangan atau stimulasi yang tidak begitu bagus. Sehingga tumbuh kembang bayi tidak bekerja secara optimal dalam kognitif (pola pikir/kecerdasan), afektif (perasan/emosi) dan psikomotorik (tingkah laku) keterampilan dari bayi. Mengingat pentingnya mengikuti kegiatan Posyandu dengan langkah-langkah yang telah ditentukan maka tidak akan sampai terjadi hal-hal yang kurang bagus seperti kekurangan gizi dan melambatnya tumbuh kembang bayi juga kecerdasan otak bayi, balita atau anak.
Umumnya masalah kesehatan yang menimpa ibu sejak hamil, menyusui, dan merawat sangat beragam, dimulai dengan masalah kesehatan yang dihadapi ibu hamil, diabetes gestasional dapat terjadi ketika insulin kehilangan kemampuannya untuk mengontrol kadar gula darah selama kehamilan. Kehamilan cukup bulan atau cukup bulan, yang berlangsung dari 37 hingga 42 minggu, adalah kondisi paling aman untuk melahirkan. Kehamilan lewat waktu adalah suatu kondisi dimana usia kehamilan lebih dari 42 minggu. Jika seorang wanita mengalami kehamilan yang terlambat, dia mungkin mengalami sejumlah komplikasi, salah satunya adalah berkurangnya kapasitas plasenta untuk memasok oksigen dan makanan ke janin. Akibatnya, kesehatan anak di masa depan mungkin terganggu6.
Disamping masalah kesehatan secara umum, ada juga konsep budaya dan sosial cultur yang masih berlaku dikalangan masyarakat khususnya masyarakat desa seperti, ibu hamil dilarang berolahraga karna bisa menyebabkan keguguran dan ada juga mitos seperti jika bayi terus terusan menyusu dapat menyebabkan asi habis atau kosong padahal faktanya Kondisi ini bisa saja terjadi saat bayi mengalami fase growth spurt atau bayi sedang mengalami percepatan pertumbuhan. Selain itu mitos tentang makanan juga masih ada di kalangan masyarakat, salah satunya yaitu gula dapat
6 Almutahar, H. Perilaku Sosial Kesehatan Ibu Hamil Dan Melahirkan (Studi di Kawasan Perbatasan Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang Propinsi Kalimanatan Barat). Sosiohumaniora, Volume 16 no.3(2014): hlm: 252 – 256
membuat anak hiperaktif sedangkan fakta kesehatan mengatakan bahwa mengkomsumsi gula tidak mempengaruhi kognisi anak7.
Pembahasan mitos diatas juga merupakan permasalahan kesehatan yang ada di desa Pringgajurang Utara, banyak dari masyarakat Desa Pringgajurang Utara memegang keyakinan tentang berbagai mitos kesehatan sehigga yang terjadi beberapa anak mengalami kurang gizi, stunting, ambein, diare, masalah kulit, cacar air dan lainnya. Masalah kesehatan tersebut dikarnakan masyarakat desa Pringgajurang Utara masih sering menggunakan sungai untuk bab, mandi, atau cuci pakaian, hanya beberapa rumah yang memiliki WC, selain itu juga masyarakat mengira hanya cukup memakan sayur tanpa buah sudah merupakan pola hidup sehat padahal faktanya kandungan serat dan vitamin pada sayur dan buah itu berbeda.
Selain itu pola asuh orang tua dan permasalahan ekonomi yang dialami masyarakat mempengaruhi kesehatan, yang mana masyarakat yang kurang mampu tidak terlalu memperhatikan kebersihan diri, makanan, dan juga fasilitas kesehatan seperti membuat jamban/wc. Permasalahan-permasalahan inilah yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti dan lebih dekat lagi dengan masyarakat tentang bagaimana bentuk pemeberdayaan yang dilakukan posyandu Kamboja di desa Pringgajurang Utara.
Berdasarkan penjelasan latar belakang di atas, maka sangat penting untuk dilakukan penelitian dan penulis juga tertarik untuk mengkaji secara mendalam tentang “ Pemberdayaan Masyarakat Dalam Meningkatkan Kesehatan Ibu Dan Anak Oleh Kader Posyandu Kamboja Di Desa Pringgajurang Utara”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana upaya pemberdayan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak desa Pringgajurang utara melalui posyandu Kamboja?
2. Bagimana kendala dan hambatan dalam pemberdayaan kesehatan
7 Juariah. Kepercayaan Dan Praktik Budaya Pada Masa Kehamilan Masyarakat Desa Karangsari, Kabupaten Garut. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan Humaniora. Vol. 20, No. 2, Juli 2018: hal 206-209
yang dilakukan posyandu kamboja dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak Desa Pringgajurang Utara ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk menemukan dan menganalisis pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak di desa Pringgajurang Utara melalui Posyandu Kamboja yang terangkum dari beberapa tujuan penelitian sebagai berikut:
a) Untuk mengetahui bagaimana bentuk pemeberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak desa Pringgajurang utara melalui posyandu Kamboja
b) Mengetahui bagimana kendala dan hambatan dalam pemberdayaan kesehatan yang dilakukan posyandu kamboja dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak Desa Pringgajurang Utara
2. Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:
a) Manfaat Teoritis
Keunggulan hipotetik dari pemeriksaan ini adalah dipercaya dapat menjadi bahan info dan referensi untuk pendalaman tambahan terkait dengan pokok bahasan dan poin- poin dalam ulasan ini. Serta dapat menambah wawasan dan pemahaman terhadap pentingnya menjalakan pola hidup sehat agar terhindar dari permasalahan kesehatan dan khusunya bagaimana bentuk pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Desa Pringgajurang Utara.
b) Manfaat Praktis 1) Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada berbagai pihak tentang cara pemberdayaan masyarakat Desa Pringgajurang Utara untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.
2) Bagi Peneliti : Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir dan memperoleh gelar Pengabdi
Sosial (S.Sos) di Fakultas Ilmu Komunikasi Dahwah UIN Mataram, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman kita tentang bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Desa Pringgajurang Utara.
3) Bagi Instansi : Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menemukan kebijakan pemerintah dan lembaga lain yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesehatan ibu dan anak di Desa Pringgajurang Utara sebagai sumber informasi dan bahan.
4) Bagi Program Studi Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dan tambahan informasi ilmiah bagi penelitian mahasiswa selanjutnya, khususnya tentang peran pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Penting untuk mendefinisikan masalah untuk memperjelasnya dan memastikan bahwa penelitian ini tidak menyimpang. Melalui Posyandu Kamboja, penulis penelitian ini memfokuskan pada pemberdayaan masyarakat sebagai sarana peningkatan kesehatan ibu dan anak di Desa Pringgajurang Utara.
Luasnya eksplorasi ini hanya pada faktor-faktor yang berhubungan dengan sistem penguatan wilayah setempat dan masalah kesehatan ibu dan anak mengenai:
a) Bagaimana bentuk pemeberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak desa Pringgajurang utara melalui posyandu Kamboja
b) Bagimana kendala dan hambatan dalam pemberdayaan kesehatan yang dilakukan posyandu kamboja dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak Desa Pringgajurang Utara.
2. Setting Penelitian
Untuk memberikan pemahaman atau deskripsi secara keseluruhan, penelitian kualitatif membutuhkan lokasi sosial tertentu untuk dijadikan sebagai latar belakang alami dari masalah tersebut. Maka dari itu penelitian ini dilakukan di jln.TGH. MUH.
Yusuf Desa Pringgajurang Utara kec. Montonggading LOTIM melalui posyandu Kamboja. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 Bulan, yaitu dari bulan Desember 2022 sampai dengan Maret 2023. Penelitian ini meliput beberapa kegiatan diantaranya ikut dalam pelayanan posyandu, mengamati pola asuh dan kebiasaan orang tua dan yang terakhir situasi lingkungan.
E. Telaah Pustaka
Bagian ini akan membahas beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan. Semua ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa tidak ada penulis lain yang pernah meneliti atau mendiskusikan materi pelajaran yang sedang dipertimbangkan. Dirasa perlu untuk menyajikan penelitian sebelumnya atas dasar ini. Studi-studi berikut berkaitan dengan penelitian ini:
1. Penelitian yang lakukan oleh Jauriah dengan jurnalnya yang berjudul “Kepercayaan Dan Praktik Budaya Pada Masa Kehamilan Masyarakat Desa Karangsari, Kabupaten Garut” dengan kesimpulannya adalah Masyarakat Desa Karangsari masih menganut praktik-praktik yang diharapkan ibu hamil ikuti serta pantangan dan pantangan yang harus dihindari ibu hamil. Itu yang mereka yakini dengan menganggap biadab yang disalahgunakan akan menimbulkan hal yang buruk bagi ibu dan anak yang dikandungnya. Suami menunjukkan bahwa dia terlibat dalam kehamilan istrinya dengan mematuhi pantangan dan kewajiban serta percaya akan konsekuensinya jika kebiasaan ini dilanggar. Fungsi opat bulan ke bulan dan tujuh bulan ke bulan masih dipertahankan oleh penduduk kota ini, meskipun pelaksanaannya diubah dengan benar8.
8 Juariah. Kepercayaan Dan Praktik Budaya Pada Masa Kehamilan Masyarakat Desa Karangsari, Kabupaten Garut. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan Humaniora. Vol. 20,
2. Penelitian yang dilakukan Kasnodihardjo dalam jurnalnya yang berjudul “ Praktek Budaya Perawatan Kehamilan Di Desa Gadingsari Yogyakarta”, dengan kesimpulan masyarakat desa Gadingsari Bantul masih mengikuti tradisi, tabu, dan anjuran terkait perawatan ibu hamil. Pembatasan dan usulan ini adalah praktik sosial dalam pandangan kualitas sosial adat. Selain berdampak negatif bagi kesehatan ibu yang bersangkutan dan janin yang dikandungnya, kepercayaan tradisional mengenai berbagai pantangan dan anjuran terkait makanan yang dikonsumsi serta tindakan yang dilakukan oleh ibu hamil juga berdampak positif. Agar dapat memberikan efek positif tersebut, hal ini merupakan salah satu upaya masyarakat sebagai cara tradisional KB9.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Astuti, dengan judul
“ Gerakan Pencegahan Stunting Melalui Pemberdayaan Masyarakat Di Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang”. Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat, temuan penelitian prevalensi indikator perilaku keluarga sadar gizi di Kabupaten Wonosari antara lain penimbangan balita rutin 70 persen, ASI eksklusif 60 persen, MPASI 46 persen, yodium pada 99 persen, dan vitamin A pada 100 persen. Di Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten terdapat korelasi antara perilaku keluarga yang sadar gizi dengan kejadian stunting pada balita, namun korelasinya lemah.
4. Dini Dyah Purnomo Widya Pangesti, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dengan Judul Penelitiannya “ Pemberdayaan Masyarakat Dalam Meningkatakan Kualitas Kesehatan Oleh Program Pamsimas ( Penyediaan Air Minum Dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) Di Desa Tibayan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten” yang berkesimpulan Berdasarkan penelitian dan observasi lapangan tentang pemberdayaan No. 2, Juli 2018: hlm.260
9 Kasnodihardjo. Praktek Budaya Perawatan Kehamilan Di Desa Gadingsari Yogyakarta, Jurnal Kesehatan Reproduksi. Vol. 3 No 3, Desember 2012 : 113 -123
masyarakat dalam peningkatan kualitas.
a) Tindakan Pamsimas untuk memberdayakan masyarakat, seperti meningkatkan kesadaran akan pentingnya praktik hidup sehat dan menyediakan akses air dan sanitasi bagi warga, adalah contoh konsep pemberdayaan masyarakat yang dilakukan organisasi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Selain itu, Kepala Desa Tibayan meminta bantuan kepada BAPPEDA Kabupaten Klaten untuk mengatasi masalah sumber air desa yang berujung pada penerapan Pamsimas di awal.
b) Pelaksanaan Pamsimas dalam Mengusahakan Sifat Kesejahteraan Daerah yang dibantu melalui beberapa tahapan, dimulai dari pemberdayaan aset yang ada, seperti warga masyarakat dan mitra kota Tibayan. Penguatan dilakukan dengan hampir tidak ada unsur pelemahan kecuali dengan memanfaatkan teknik berbasis daerah setempat. Masyarakat diinstruksikan untuk mencari solusi atas permasalahan mereka sendiri setelah dididik tentang permasalahan yang mereka alami. Meskipun warga sendiri awalnya mengajukan tantangan, program tersebut telah dilaksanakan sampai saat ini, dan tujuan tersebut dapat dianggap tercapai.
c) Hasil Program Pamsimas di Dusun Tibayan dinilai berhasil karena secara khusus meningkatkan kesehatan masyarakat.
Tidak hanya mendapatkan air bersih dan sumber disinfeksi serta perubahan pada kehidupan yang sehat, tetapi juga dalam hal membuka mata untuk menjadi lebih diajarkan tentang pentingnya bekerja pada sifat kesehatan mereka.
F. Hipotesis
Pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dipengaruhi oleh kendala dan hambatan yang diperoleh melalui kegiatan posyandu Kamboja di Desa Pringgajurang Utara.
G. Kerangka Teori
1. Definisi Pemberdayaan Masyarakat a. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat
Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment) berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaan). 10 Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, bebas dari kelaparan, kebodohan, dan tekanan, memiliki kemudahan akses terhadap sumber-sumber penghidupan yang akan memudahkan mereka untuk meningkatkan pendapatan dan memperoleh barang dan jasa yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, dan berkolaborasi satu sama lain dalam proses pembangunan adalah semua contoh pemberdayaan. Kemampuan ini sangat penting terutama bagi kelompok rentan atau lemah, yang sangat perlu diberdayakan oleh pihak-pihak yang mendukung pemberdayaan, seperti pemangku kepentingan.
Kolaborasi atau kemitraan sangat penting untuk pemberdayaan masyarakat. Ambar Teguh Sulistyani menyatakan melalui mekanisme kemitraan yang serasi dan seimbang, pemerintah, swasta, dan masyarakat berbagi tanggung jawab untuk menciptakan pemberdayaan masyarakat. Sebagai kritik atas pendekatan pembangunan top- down yang memposisikan pemerintah sebagai aktor dominan dan memberdayakan yang lemah, konsep dasar kemitraan diajukan11.
Tujuan, prosedur, dan strategi pemberdayaan memberikan bukti pemberdayaan. Pemberdayaan didefinisikan sebagai
“ tujuan untuk meningkatkan daya atau kemampuan masyarakat yang lemah dan tidak mampu” dalam buku
“ Membangun Komunitas: Memberdayakan Rakyat” . Kekuasaan dicirikan tentang kekuatan politik serta kapasitas
10 Edi Suhartono, Ph.D., Membangun Masyaraka Memberdayakan Rakyat:
Kajian Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Bandung: PT. Refika Aditama, Cet. Ke-4, Desember 2010), h. 57.
11 Ambar Teguh Sulistyani, Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan.
(Yogyakarta: Graha Ilmu) 2004 h. 94.
untuk memutuskan. tentang cara hidup seseorang, tempat kerja, dan kemampuan untuk secara bebas mengungkapkan dan menyumbangkan pemikirannya dalam forum atau diskusi tanpa paksaan. Sementara itu, kelompok berikut dapat dianggap tidak berdaya atau lemah: individu berpenghasilan rendah, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan lain sebagainya12.
Satu lagi cara untuk melakukan penguatan adalah dengan memberikan bantuan dan motivasi sebagai penguasaan seseorang, kesempatan untuk memberikan anggapan atau pendapat, informasi, dan kemampuan untuk daerah setempat yang akan memperluas kemampuan mereka, meningkatkan kesadaran mereka akan kapasitas mereka yang sebenarnya, dan pintu terbuka yang luar biasa. kesempatan berharga untuk mengembangkan potensi itu.
b. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat
Tujuan pemberdayaan masyarakat adalah memperkuat kekauasaan masyarakat, khususnya kelompok lemah yang tidak memiliki keberdayaan, baik karena kondisi internal (misalnya presepsi mereka sendiri), maupun karena kondisi eksternal (misalnya ditindas oleh sturtur sosial yang tidak adil). Guna melengkapi pemahaman mengenai pemberdayaan perlu diketahui konsep tentang kelompok lemah dan ketidakberdayaan yang dialami. Beberapa kelompok yang dapat dikatagorikan sebagai kelompok lemah atau tidak berdaya meliputi:
1) Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender, maupun etnis.
2) Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja, penyandang cacat, gay dan lesbian, masyarakat terasing.
3) Kelompok lemah secara persoanal, yakni mereka yang mengalami masalah pribadi dan atau keluarga.13
12 Adistie, Fanny. 2018. Pemberdayaan Kader Kesehatan Dalam Deteksi Dini Stunting dan Stimulasi Tumbuh Kembang Pada Bayi. Bandung 1(2): 173-184.
Dapat disimpulkan pemberdayaan menurut Edi Suharto merujuk kepada hasil yang ingin dan akan dicapai dalam perubahan sosial yang berupa masyarakat yang berdaya, sehingga memiliki kekuasaan atau kemampuan dan pengetahuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat ekonomi, fisik, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, maupun menyampaikan aspirasi, maupun mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan mandiri melaksnakan berbagai tugas-tugas kehidupannya yang semestinya harus dijalani. Berbagai kelompok yang semestinya harus diberdayakan menurut Edi Suharto ada tiga kelompok yaitu Kelompok lemah secara struktural, Kelompok lemah khusus, Kelompok lemah secara persoanal
Terbentuknya masyarakat dan individu dengan tujuan kemandirian merupakan tujuan pemberdayaan. Kebebasan yang dimaksud adalah kemandirian dalam berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Suatu kondisi yang dikenal sebagai "kemandirian masyarakat" adalah kondisi di mana masyarakat itu sendiri mampu mempertimbangkan, membuat keputusan, dan menerapkan solusi untuk masalahnya sendiri. memanfaatkan daya dan kemampuan kemampuan kognitif, konatif, dan psikomotorik dengan mengerahkan sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang dimiliki oleh masyarakat, karena kemandirian memerlukan dukungan kemampuan berupa sumber daya manusia yang berkualitas dan kondisi fisik-materiil.
Pemberdayaan di masyarakat meningkatkan perkembangan kognitif. Kondisi kognitif seseorang adalah kapasitas mereka untuk berpikir dalam kaitannya dengan pengetahuan dan wawasan seseorang atau masyarakat untuk menemukan solusi atas masalah. Keadaan konatif adalah perilaku daerah setempat yang dibingkai dan diarahkan pada perilaku yang peka
13 Edi Suhartono, Ph.D., Membangun Masyaraka Memberdayakan Rakyat:
Kajian Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Bandung: PT. Refika Aditama, Cet. Ke-4, Desember 2010), h. 60.
terhadap sisi positif dari penguatan kemajuan. Sedangkan kondisi emosional adalah kemampuan daerah setempat yang berarti memiliki pilihan yang harus diselesaikan untuk mencapai penguatan dalam cara pandang dan tingkah laku.
Ketrampilan komunitas, sebaliknya, adalah ketrampilan dalam kemampuan psikomotorik yang mendukung kegiatan perkembangan. Karena masyarakat akan memiliki wawasan yang cukup dan dibekali keterampilan yang cukup dalam mencapai kemandirian masyarakat maka diperlukan proses.
Terjadinya keberdayaan pada keempat aspek tersebut—kognitif, kognitif, afektif, dan psikomotorik—akan memberikan kontribusi terhadap terciptanya kemandirian masyarakat yang diinginkan14.
c. Indikator Keberhasilan Pemberdayaan
Dalam hal pemberdayaan masyarakat, keberhasilannya dapat diukur dari seberapa baik anggotanya diberdayakan dalam hal kemampuan mereka untuk mengakses tunjangan kesejahteraan, kemampuan ekonomi mereka, dan kemampuan budaya dan politik mereka.
Menurut Edi Suharto, pemberdayaan mencakup pada tiga dimensi yang meliputi kompetensi kerakyatan, kemampuan sosiopolitik, dan kompetensi partisipatif.15 Untuk mengetahui fokus dan tujuan pemberdayaan secara operasional, maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang dapat menunjukkan seseorang itu berdaya atau tidak. Sehingga ketika sebuah program pemberdayaan sosial diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek-aspek apa saja dari sasaran perubahan yang perlu dioptimalkan.
Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari keberdayaan mereka yang menyangkut kemampuan ekonomi, kemampuan mengakses manfaat kesejahteraan, dan kemampuan kultural dan politis. Ketiga aspek tersebut dikaitkan dengan empat dimensi kekuasaan, yaitu: kekuasaan
14 Suharto, Edi. 2018. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat.
Bandung: Refika Aditama.
15 Ibid., h. 59
di dalam (powerwithin), kekuasaan untuk (powerto), kekuasaan atas (powerover), dan kekuasaan dengan (powerwith).
Menurut Sumodiningrat, tanda-tanda penguatan wilayah lokal yang efektif adalah16:
1) Mengurangi jumlah penduduk yang tinggal di rumah tangga miskin atau berpenghasilan rendah.
2) Pengembangan strategi bagi warga untuk menggunakan sumber daya yang ada untuk meningkatkan pendapatan mereka.
3) Meningkatkan perhatian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya.
4) Meningkatkan kemandirian kelompok melalui pertumbuhan usaha yang menguntungkan, penguatan permodalan kelompok, dan sistem administrasi yang lebih tertata.
5) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk pemerataan pendapatan yang lebih baik dan lebih merata, yang ditandai dengan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial dan makanan yang mendasar.
2. Bentuk-Bentuk Pemberdayaan
Dalam mewujudkan tujuan dari pemberdayaan adapula usaha atau proses yang harus dilakukan agar segala upaya pemberdayaan bisa dikatakan berjalan. Sampai tercipta keseimbangan yang dinamis antara pemerintah dan semua kelompok yang diperintah, pemberdayaan harus dilakukan secara terus menerus, menyeluruh, dan stimulan. Menurut Ndraha, dalam penguatan ada berbagai jenis program penguatan, diantaranya17 1) Penguatan Politik, yang diharapkan dapat memperluas postur
negosiasi perwakilan terhadap otoritas publik. Hal ini dimaksudkan agar mereka yang diperintah menerima haknya atas barang, jasa, dan perawatan tanpa merugikan pihak lain.
16 Usman Ismail, Asep. 2019. Pengalaman Al-Qur’ an Tentang Pemberdayaan Dhu’ afa. Jakarta: Dakwah Press
17 Ndraha Taliziduhu, Kronologi Ilmu Pemerintahan Baru, (Jakarta: Direksi Cipta, 2003), hlm. 132 26
2) Tujuan pemberdayaan sosial budaya adalah melakukan investasi sumber daya manusia (human investment) dengan maksud meningkatkan nilai manusia, penggunaan, dan perlakuan yang adil.
3) Pemberdayaan lingkungan, yang dimaksud dengan program untuk menjaga dan melindungi lingkungan agar yang diperintah dan lingkungan hidup dapat menyesuaikan diri dengan cara yang baik bagi keduanya.
4) Pemberdayaan ekonomi adalah upaya agar konsumen yang diperintah lebih mampu menanggung dampak negatif pertumbuhan, menanggung risiko salah urus, menanggung biaya pembangunan, kegagalan program, dan kerusakan lingkungan.
Melalui partisipasi yang tinggi yang didasarkan pada kebutuhan dan potensi masyarakat, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya menekankan pada hasil tetapi juga pada prosesnya.
Memasukkan tujuan dalam tahap penyusunan adalah salah satu cara untuk melibatkan mereka secara efektif dengan sistem penguatan. Mereka membentuk ikatan emosional sebagai hasil dari keterlibatan mereka, yang berkontribusi pada kesuksesan program.18
Program pemberdayaan ini juga dapat berupa perbengkelan, permodalan, bantuan alat produksi, peningkatan sarana/prasarana, dan bentuk lainnya. Pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan bentuk proyek penguatan kesejahteraan ini dapat melalui pengembangan lebih lanjut kantor dan kerangka kesejahteraan, memajukan dan menasihati proyek-proyek kesejahteraan, dan membangun kota- kota yang siap pakai. Program kesehatan ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk hidup sehat dan menyadarkan mereka betapa pentingnya hal tersebut19.
18 Oos M. Anwas, Pemberdayaan Masyarakat... hlm, 87 27
19Sukmaniar. 2007. Efektivitas Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Program Pengembangan Kecamatan (Ppk) Pasca Tsunami Dikecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Tesis. UNDIP. Semarang.hlm 45
3. Program Posyandu
Ekasari dkk. mengatakan bahwa, posyandu adalah wadah koordinasi gerakan inovasi dalam penyelenggaraan kesejahteraan umum dan keluarga berencana yang dilakukan oleh daerah setempat, dari daerah setempat dan untuk daerah setempat dengan dukungan administrasi dan pengarahan khusus dari para petugas kesehatan.20
Meskipun yang dimaksud dengan “ program posyandu”
secara umum adalah salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan, namun tujuan program tersebut adalah untuk memberdayakan masyarakat dan mempermudah masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan dasar guna mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.21
Menurut Ulfah Latifah, program posyandu umumnya ada di setiap daerah.22diantaranya:
a. Keluarga Berencana (KB)
Memberikan penyuluhan KB pada saat kunjungan rumah, posyandu, dan pertemuan dengan kelompok masyarakat di dusun maupun di puskesmas. bagian dari kegiatan PUS, memberikan kontrasepsi, dan mengajarkan KB kepada dukun bayi. Ketika ibu meminta bantuan dukun bayi diharapkan dukun bayi mau dan mampu berperan sebagai motivator KB.
b. P2M (Pemberantasan Penyakit Menular)
Pemberantasan vektor dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida, fogging dan abatisasi DBD, oiling, drynage, genangan air, dan perbaikan sistem pembuangan sampah untuk pemberantasan malaria. Survei epidemiologi digunakan untuk menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin. Imunisasi diberikan kepada kelompok masyarakat
20 Ekasari, Winarti dkk., Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia, Konsep, dan Berbagai Strategi Intervensi. Jakarta: Penerbit Wineka Media. 2018
21 Depkes RI. Program Posyandu. 2011
22 Ulfah Latifah, Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program 1000 Posyandu Oleh Pemerintah Kota Tangerang di Kelurahan Karawaci Baru. Skripsi: UIN Syarif Hifayatullah Jakarta. 2013.
untuk melindungi mereka dari penyakit seperti TBC, tetanus, difteri,
c. Upaya Perbaikan Gizi
Penimbangan balita secara rutin setiap bulan di Puskesmas atau di pos penimbangan/posyandu memungkinkan untuk memantau perkembangannya. Mengembangkan kegiatan perbaikan gizi, bekerjasama dengan masyarakat setempat, bidang keagamaan, pertanian, peternakan, dan penyuluhan di tingkat kecamatan dan masyarakat, mendistribusikan vitamin A kepada bayi dua kali setahun, melengkapi ibu hamil dengan tablet besi, dan obat cacing kurang gizi anak dengan gangguan parasit cacing.
4. Kesehatan ibu dan anak (KIA)
a. Pengertian kesehatan ibu dan anak (KIA)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan tidak hanya sebagai tidak adanya penyakit tetapi juga sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap. Mortalitas (kematian) dan morbiditas (sakit) selama periode waktu tertentu juga digunakan untuk mengevaluasi kesehatan. Konsekuensinya, keselarasan antara kesejahteraan fisik, mental dan sosial serta adanya penyakit merupakan tanda utama kesejahteraan23.
b. Proyek Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA)
Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya di bidang kesehatan yang meliputi pertolongan dan perawatan ibu hamil, ibu mengandung anak, ibu menyusui, bayi dan bayi serta balita.24
1) Tujuan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA):
a) Menggunakan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kesehatan keluarga, tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan (pengetahuan, sikap, dan perilaku) ibu dalam
23 Tri Rini Puji Lestari, Pencapaian Status Kesehatan Ibu Dan Bayi Sebagai Salah Satu Perwujudan Keberhasilan Program Kesehatan Ibu Dan Anak, jurnal Kajian Vol. 25, No. 1, Tahun 2020 hal. 75 - 89
24 Faich Carissa Fauziah. 2012. Monitoring Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (http://98467-ID-monitoring-pelayanan-keehatan-ibu-dan-a.pdf) Di akses pada tanggal 25 Maret 2018
menghadapi dirinya sendiri dan keluarganya. kesehatan.
b) Lebih berupaya mengembangkan kesehatan anak prasekolah dan anak sekolah secara mandiri di lingkungan keluarga.
c) Meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi bayi, balita, ibu hamil, ibu bersalin, ibu setelah melahirkan, dan ibu menyusui.
d) Mengusahakan sifat pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu mengandung anak, pasca hamil, ibu menyusui, bayi dan balita.
e) Meningkatkan kemampuan masyarakat dan seluruh anggota keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, dan anak prasekolah, khususnya dengan memperluas peran ibu dan keluarganya.25
2) Standar Sistem Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA)
Para pelaksana program Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) pada tingkat dasar berencana untuk membentengi dan membangun rentang dan sifat penyelenggaraan Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA), secara nyata dan produktif. Penjaminan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) berfokus pada kegiatan dasar berikut:
a) Meningkatkan pelayanan antenatal di semua fasilitas pelayanan dengan cakupan tertinggi dan kualitas yang baik.
b) Perluasan bantuan alat angkut yang lebih mengarah pada perluasan alat angkut oleh tenaga ahli secara bertahap.26 3) Pelayanan dan jenis indikator kesehatan ibu dan anak (KIA)
a) Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil sesuai dengan standar pelayanan antenatal.
b) Pertolongan persalinan, termasuk jenis personel yang
25 Tri Rini Puji Lestari, Pencapaian Status Kesehatan Ibu Dan Bayi Sebagai Salah Satu Perwujudan Keberhasilan Program Kesehatan Ibu Dan Anak, jurnal Kajian Vol. 25, No. 1, Tahun 2020 hal. 82
26 Isna Septia Rusdi. 2016. Pelaksanaan Pelayanan Publik Di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Moyudan Sleman Yogyakarta.
membantu masyarakat dalam persalinan; tenaga profesional, dukun bayi, baik terlatih maupun tidak.
c) Deteksi dini ibu hamil yang berisiko.
d) Indikator pelayanan kesehatan ibu dan bayi 5. Kendala Dan Hambatan
Ada dua jenis kendala, menurut Hasan dan Wanita:
berdasarkan dari mana mereka berasal, seperti kendala internal, yang merupakan faktor terbatas dalam perusahaan, dan kendala eksternal, yang merupakan faktor terbatas dari sumber daya di luar perusahaan. Sesuai sifatnya, kendala meliputi: kendala yang tidak mengikat atau longgar mengacu pada situasi di mana bauran produk tidak menggunakan semua sumber daya yang tersedia.27 Oemar, di sisi lain, mendefinisikan hambatan sebagai segala sesuatu yang merintangi, merintangi, dan merintangi yang ditemui orang atau individu dalam kehidupan sehari-hari yang datang silih berganti, mencegah mereka mencapai tujuan. Sedangkan hambatan keseluruhan sering disebut sebagai hambatan. Setiap langkah proses memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap hambatan. Pelaksanaan suatu kegiatan terganggu oleh hambatan. 28 Halangan dan rintangan adalah hal-hal negatif yang dapat menghalangi atau menggagalkan aktivitas seseorang. Seseorang menjadi tidak dapat menyelesaikan tugas tertentu karena hambatan tersebut. Dan kendala, yaitu hambatan yang disebabkan oleh keadaan yang membatasi atau menghalangi tercapainya tujuan.
H. Metode Penelitian
Peneliti melakukan penelitian kualitatif sebagai metode penyelidikan mereka. Dalam bahasa Inggris, research disebut research. Jika dilihat dari kata permintaan, terdiri dari dua suku kata, yaitu re yang berarti melakukan sekali lagi atau redundancy dan search yang berarti melihat, memperhatikan atau melihat, sehingga
27 Erlinda Kurniasanti, Novrida Qudsi Lutfillah, Muhammad Muwidha, Identifikasi Kendala Dengan Kolaborasi Theory Of Constraints Dan Supply Chain Managemet, jurnal pajak dan keuangan negara Vol. 3, No. 2, Tahun 2022 hal. 220-235
28 Sherly Septian Suyedi, Yenni Idrus, Hambatan Hambatan Belajar Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Mahasiswa Dalam Pelajaran Mata Kuliah Dasar Desain Jurusan IKK FPP UNP, Jurnal Seni Rupa Vol. 08, No. 01, Tahun 2019 hal. 123-128
selesai untuk mendapatkan pengertian lain yang lebih rumit, lebih seluk-beluk, dan lebih lengkap dari sesuatu yang dieksplorasi.
Denzin dan Lincoln mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai
“ penelitian yang menggunakan setting alamiah dengan maksud untuk menginterpretasikan fenomena yang terjadi” dan “ penelitian yang mencakup berbagai metode yang ada” . Menurut Erickson, tujuan penelitian kualitatif adalah menemukan dan menggambarkan secara naratif aktivitas sehari-hari seseorang.29
Oleh karena itu, penelitian kualitatif adalah pengumpulan data dalam latar ilmiah dengan tujuan menafsirkan kejadian, dengan peneliti sebagai instrumen utama. Penelitian sosial sering menggunakan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, data dikumpulkan, dianalisis, dan kemudian diinterpretasikan.
Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian kulitatif ialah dikarnakan dalam pengumpulan dan juga menganalisis data penelitian lebih kepada mengamati, mengumpulkan fakta lewat hasil observasi dan wawancara dilapangan lalu di komprasikan/dihubungkan dengan teori yang ada. Dan dalam penelitian ini lebih kepada ide pokok peneliti berdasarkan fakta yang ada di lapangan yang kemudian dihubungkan dan mencari perbedaan/persamaan dengan teori penelitian.
I. Teknik Pengumpulan Data
Metode berikut digunakan oleh penulis untuk mengumpulkan data penelitian:
1. Metode Pengamatan (Observation)
Mengamati dan mencatat gejala-gejala yang muncul pada subjek penelitian secara sistematis adalah metode observasi.
Observasi adalah metode pengumpulan data yang memanfaatkan pengamatan langsung atau tidak langsung terhadap objek penelitian30 Sedangkan jenis persepsi yang disebutkan oleh para ilmuwan adalah member fakta objektif. pengamatan di mana pengamat secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pengamat.
29 Albi Anggito, Jhon Satriawan, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jawa Barat,CV Jejak, 2018), hlm.7
30 Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm.58
Observasi dalam penelitian ini meliputi observasi langsung terhadap kondisi pola asuh ibu dan anak, kegiatan posyandu, observasi kendala dan hambatan masyarakat dan bentuk pemebrdayaan kesehatan di desa Pringgajurang Utara.
2. Metode Wawancara
Wawancara adalah pengumpulan informasi dengan siklus responsif secara lisan antara paling sedikit dua individu yang benar-benar berhubungan, yang satu dapat melihat wajah orang lain dan mendengar dengan telinganya sendiri suaranya. 31
Dalam hal jenis wawancara, peneliti menggunakan jenis wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang menggunakan daftar pertanyaan untuk memandu percakapan.
Narasumber dalam penelitian ini adalah petugas/pegawai posyandu, kepala desa, staf kesehatan desa dan masyarakat.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pencarian informasi tentang hal-hal atau variabel dalam bentuk catatan, transkrip, buku, surat kabar, prasasti, risalah rapat, agenda, dan dokumen sejenis lainnya32. Penulis menggunakan metode dokumentasi untuk lebih menyempurnakan temuan penelitian agar dapat menjelaskan dan memenuhi persyaratan untuk temuan selanjutnya. Dokumentasi berupa buku-buku, brosur-brosur, berita-berita, laporan, data desa, foto wawancara, foto gambaran pola asuh ibu dan anak dan lain sebaginya. Peneliti banyak mengambil dokumentasi gambar dan data pemeberdayaan kesehatan yang dapat menunjang penelitian agar data yang diperoleh bisa dipertanggung jawabkan.
J. Teknik Analisis Data
Pemeriksaan informasi adalah metode yang terlibat dengan menyusun informasi ke dalam klasifikasi dan unit ilustrasi penting untuk menjawab definisi masalah, dan memutuskan sesuatu yang penting untuk ditinjau dan harus dikumpulkan menjadi hasil
31 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula, (Yogyakarta, Gajah Mada University Press, 2006)hlm.88
32 Suharsimi & Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta:
Rineka Cipta, 2006) hlm. 231
penelitian33. Pada setiap tahapan penelitian, kegiatan dalam analisis data kualitatif dilakukan secara berkesinambungan dan interaktif untuk menghasilkan data yang bermanfaat. Bagian-bagian yang masuk ke dalam analisis data34:
1. Reduksi data
Reduksi data adalah proses pemilihan data yang disederhanakan, disarikan, dan diubah dari catatan tertulis berbasis lapangan. Kegiatan reduksi data terus menerus berlangsung.
Pembuatan ringkasan, coding, penelusuran tema, pembuatan cluster, pembuatan partisi, dan penulisan memo merupakan tahapan reduksi. Jenis analisis yang dikenal sebagai reduksi data mempertajam, mengkategorikan, mengarahkan, menghilangkan data yang tidak perlu, dan mengaturnya sehingga dapat ditarik kesimpulan yang dapat diverifikasi darinya.
2. Verifikasi atau Inferensi Data
Ketika penelitian kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, kesimpulan yang diajukan didukung oleh bukti yang valid dan konsisten, membuatnya masuk akal.
Peneliti menyimpulkan berdasarkan data yang dibahas dan diinterpretasikan dalam kaitannya dengan data penelitian. Temuan pembahasan penelitian dan interpretasi data adalah dasar untuk kesimpulan yang diajukan. Tanggapan rencana penelitian terhadap pertanyaan penelitian disebut kesimpulan.35
K. Teknik Validasi Data
Memanfaatkan metode triangulasi, sangat penting untuk memverifikasi keakuratan data penelitian. Triangulasi adalah kerangka uji silang dalam memimpin pemeriksaan untuk mendapatkan data yang akurat36. Tujuan dari metode ini adalah untuk
33 Abdurrahman, Dudung. 2018. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta:
Kurnia Kalam Semesta.
34 Afandi, Agus. 2018. Modul Participatory Action Research (PAR). Surabaya:
LPM IAIN Sunan Ampel.
35 Koentjaraningrat, S. 2017. Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia.
36 Moleong, Lexy J. 2018. Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya
mendapatkan data yang luas, konsisten, dan tidak kontradiktif dari proses triangulasi. Triangulasi terdiri dari37:
1. Merancang Triangulasi
Analis menggunakan metode persepsi partisipatif, pertemuan di dalam dan di luar dan dokumentasi untuk sumber informasi.
2. Triangulasi
Keanekaragaman Sumber Informasi Informasi yang peneliti butuhkan meliputi peristiwa dan bagaimana proses itu berlangsung. Informasi tersebut dapat diperoleh dari masyarakat setempat atau dengan melihat langsung lokasi/tempat penelitian.
Untuk melaksanakan PAR, perlu dilakukan wawancara dan diskusi dengan masyarakat setempat untuk mendapatkan hasil kualitatif.
L. Sistematika Pembahasan
Penulis akan mengacu pada sistematika pembahasan sebagai gambaran umum skripsi ini guna memudahkan pemahaman terhadap isinya. Sistematika pembahasan disusun sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai: hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian, kerangka teori, telaah pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Bab ini menjelaskan profil desa, struktur pengurus posyandu kamboja, program layanan kesehatan, upaya posyandu dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak di desa Pringgajurang Utara melalui posyandu kamboja, kendala dan hambatan terhadap pemberdayaan kesehatan yang dilakukan oleh petugas posyandu Kamboja di Desa Pringgajurang Utara.
37 Nasir. 2019. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
BAB III PEMBAHASAN
Menganalilis upaya pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan pemberdayaan kesehatan masyarakat, kendala dan hambatan masyarakat terhadap pemberdayaan tersebut di desa Pringgajurang Utara.
BAB IV PENUTUP
Bab ini membahas tentang: kesimpulan dan saran.
BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Pada Bab ini peneliti akan memaparkan gambaran umum data yang ada di lapangan tempat penelitian berlangsung yang berada di Desa Pringgajurang Utara Kecamatan Montong Gading.
A. Profil Desa Pringgajurang Utara 1. Sejarah Desa Pringgajurang Utara
Desa Pringgajurang Utara merupakan salah satu Desa yang mekar yang terdapat dari 8 Desa yang bertempat di Kecamatan Montong Gading lombok timur yang merupakan Desa baru dengan luas wilayah 437 Ha. Atau 4. 370 M² yang terdiri dari 4 (empat) Dusun yaitu:38 Dusun Pengengat, Dusun Talun, Dusun Penyakar, Dusun Galih.
Kelurahan Pringgajurang Utara di Kecamatan Montong Gading dibentuk pemekaran pada hari Minggu tanggal 1 November 2009.
Pada tanggal 7 November 2010 diresmikan menjadi desa definitif.
Pada tanggal 6 Desember 2010 telah dilaksanakan pemilihan kepala desa dan 2 (dua) calon yaitu: 1. 2. Hasbialloh SP. Abdul Halim Dalam pelantikan Lurah Peroleh Suara Terbanyak Kronik nomor urut 1 (satu) Hasbialloh yang dikukuhkan pada tanggal 2 Februari 2011 untuk periode 2011-2017 dan berubah menjadi Wali Kota sejak saat itu. 39
Pada tanggal 14 Desember 2016 telah berlangsung pemilihan kepala desa putaran kedua dengan tiga calon kepala desa yaitu H.
Amrullah, 1, dan 2. Abdul Halim, SP., 3. Mursal. Spd. I. caleg yang memperoleh suara terbanyak kedua dalam pemilihan ini adalah Abdul Halim, SP. yang menjadi kades kedua sejak dilantik secara definitif pada 27 Februari 2017, untuk periode 2017-2023.40 Selain itu, wilayah kadusan dipilih dari 32 wilayah RT. Pada tahun 2017, Desa Pringgajurang Utara berpenduduk 4.883 jiwa
38 Dokumentasi, Profil Desa Pringgajurang Utara, dikutip tanggal 19 Februari 2023, h. 13.
39 Dokumentasi, Profil Desa Pringgajurang Utara, dikutip tanggal 19 Februari 2023, h. 13.
40Ibid, hlm. 13.
atau 1.700 kepala keluarga, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2.466 jiwa dan perempuan sebanyak 2.417 jiwa. Jumlah penduduk Desa Pringgajurang Utara sebanyak 5.125 jiwa, dengan rincian 2.583 warga laki-laki dan 2.542 warga perempuan serta 1.747 Kepala Keluarga (KK). Ini adalah populasi yang paling berbasis gender. Jumlah penduduk di Desa Pringgajurang sebanyak 5.125 jiwa, dengan usia 1-12 bulan 195 jiwa, usia 5-15 tahun 300 jiwa, usia 15-25 tahun 855 jiwa dan 1571, 955 jiwa usia 25-25 tahun. 35 dan 908, dan 341 orang berusia antara 50 tahun ke atas.
Terdapat potensi sumber daya alam baik yang hidup maupun yang tidak hidup pada sumber daya alam Desa Pringgajurang Utara.
Perkebunan, persawahan, dan peternakan merupakan contoh sumber daya alam hayati, sedangkan sumber daya alam nonhayati meliputi air, tanah, dan udara.41
Pendidikan Di Desa Pringgajurang Utara dapat terlihat bahwa jumlah penduduk yang tamat S1 hingga saat ini tercatat hanya 55 orang, dan yang tamat S2 hanya 5 orang dan adapun yang tamat Ma'had (berpendidikan pesantren) berjumlah 24 orang.42
Ekonomi masyarakat Desa Pringgajurang Utara yang memiliki dua potensi ekonomi yaitu peternakan dan pertanian ekonomi pendesaan merupakan suatu kegiatan dalam mengembangkan sistem perekonomian Desa. Penduduk Desa Pringgajurang Utara memiliki dua sumber pendapatan potensial:
peternakan dan pertanian. Sebanyak 156.720 ha lahan pertanian dimiliki oleh rata-rata penduduk Desa Pringgajurang Utara, menjadikan pertanian sebagai salah satu sumber pendapatan utama desa. Padi, kelapa, kopi, durian, tomat, cabai, dan hasil pertanian lainnya diproduksi di Desa Pringgajurang Utara. Di Desa Pringgajurang Utara itu masyarakatnya kebanyakan banyak yang menanam padi dengan luas 156,720 ha dengan hasil 22,50 ton/th.
Sedangkan hewan peliharaan yang termasuk hewan peliharaan antara lain sapi, ikan, dan unggas lainnya dengan jumlah rata-rata
41Ibid, hlm. 13.
42 Dokumentasi, Profil Desa Pringgajurang Utara, dikutip tanggal 19 Februari 2023. hlm. 30-35.
647 pemilik sapi perah, 1.527 pemilik ayam, 227 pemilik itik.
Sementara ikan air tawar dibudidayakan di tambak atau tambak dengan luas 00,2 ha dan hasil panen 21,00 ton per tahun, cara produksinya berbeda.43
Masyarakat Desa Pringgajurang Utara memiliki akses terhadap segala macam alat, alat kerja, dan fasilitas lainnya yang membantu mereka dalam menjalankan program dan mendapatkan hasil yang diinginkan. Prasarana dan Sarana Kesehatan Masyarakat di Desa Pringgajurang Utara yang memiliki fasilitas kesehatan dengan dua orang pengobat alternatif, satu orang bidan, dan empat orang dukun terlatih. 44 Sedangkan yayasan kesejahteraan berupa 1 unit poskesmas, 8 unit posyandu, dan 1 unit rumah bersalin yang layak. Dinas pendidikan di Kota Pringgajurang Utara terdiri dari 1 SMA/struktur sejenis, 1 SMP/sederajat, 4 SD/struktur sejenis, 1 gedung Taman Kanak-kanak dan 2 struktur PAUD. Dari semua pilihan pendidikan yang ada di Desa Pringgajurang Utara memiliki kondisi kehidupan yang layak untuk kegiatan belajar mengajar, dan Desa Pringgajurang Utara yang luasnya 4.370 ha memiliki pilihan transportasi dengan jalan beraspal sepanjang 1.800 km sebagai jalan utama. Seluruh dusun di Desa Pringgajurang Utara memiliki jalan beton berbentuk gang dengan panjang sekitar 600,00 meter. Dan prasarana air bersih dan sanitasi yang ada di Desa Pringgajurang Utara masih terbilang kurang dikarenakan masyarakat Desa Pringgajurang Utara masih sebagai besar menggunakan air sungai tempat mandi, cuci baju, buang air besar (BAB) dan lain-lain.45
Fasilitas prasarana yang dimiliki olah masyarakat Desa Pringgajurang Utara masih terbilang masih kecil yang berjumlah 26 unit tempat sumur pompa berjumlah 1 unit, jumlah sumber gali 21 unit, jumlah hidram umum 1 unit, jumlah PAH 2 unit.
Sedangkan saluran drainase atau saluran pembuangan air limbah berjumlah 1 unit, jumlah resapan air rumah tangga 215 rumah,
43 Dokumen, Profil Desa Pringgajurang Utara, dikutip tanggal 20 Februari 2023. hlm. 30-35
44 Ibid, hlm. 50.
45 Dokumen, Profil Desa Pringgajurang Utara dikutip tanggal 20 Februari 2023
jumlah MCK umum 1 unit, jumlah jamban keluarga 650 KK, jumlah kondisi saluran drainase atau saluran pembuangan air limbah 1 unit. Namun juga di miliki oleh Desa Pringgajurang Utara yaitu prasarana dan sarana lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan LKMD/LPM, masyarakat Desa Pringgajurang Utara memiliki buku administrasi lembaga kemasyarakatan berjumlah 5 jenis, jumlah meja dan kursi 7 unit, buku administrasi 5 jenis, jumlah kegiatan 5 jenis. Sedangkan PKK 1 jenis, peralatan kantor/ATK/inventaris 1 jenis, pengurusan 1 jenis, buku administrasi PKK 1 jenis, kegiatan 1 jenis, jumlah kegiatan 10 jenis. Sedangkan karang taruna ada selalu aktif berjumlah 1 jenis, pengurusan 1 jenis, buku administrasi 1 jenis, jumlah kegiatan 5 jenis. Sedangkan RT 1 unit, buku administrasi 32 jenis, jumlah kegiatan 32 jenis. Sedangkan BUMDES berjumlah 1 unit, pengurusan 1 unit, buku administrasi jenis, jumlah kegiatan 5 jenis.
Sedangkan forum komunikasi kader pemberdayaan masyarakat jumlah 1 unit, jumlah pengurusan 1 unit, jumlah buku administrasi 1 unit.46
2. Letak Geografis Desa Pringgajurang Utara
Berdasarkan letak geografis Desa Pringgajurang Utara merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Montong Gading Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurut arah mata angin terdiri dari 4 (empat) Kelurahan.
Sebelah Utara: Taman Nasional Gunung Rinjani Sebelah Selatan: Desa Pringgajurang Utara Sebelah Timur: Desa Tete Batu
Sebelah Barat: Desa Pesanggrahan a. Demografi Desa Pringgajurang Utara
Sebagai landasan pembangunan, jumlah penduduk yang besar menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas.
Agar berpotensi menjadi motor penggerak pembangunan, maka pengelolaan kependudukan menjadi sangat penting.
Berkaitan dengan pendudukan Desa Pringgajurang Utara di
46 Ibid, hlm. 50