Tempat pengolahan daun serasah dilaksanakan di Rumah Kompos Universitas Medan Area. Untuk mengolah daun serasah dimulai dengan pengangkutan dan pengolahan sampah yang dikumpulkan dari lingkungan Kampus Universitas Medan Area. Pada penelitian ini akan dibuat aktivator berupa larutan EM4 dari berbagai jenis daun kering yang mudah didapat di lingkungan Kampus Universitas Medan Area.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan saudara-saudaranya yang selalu memberikan doa dan dukungannya selama penyusunan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada Ibu Dra Sartini MSc selaku pembimbing I dan Abdul Karim S, Si M, Si selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan bantuan. saran dan masukan dalam skripsi ini serta banyak membantu dan mendukung sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan doa dan dukungannya selama proses pengerjaan skripsi ini dan juga terus memberikan semangat dan bantuan kepada penulis selama proses pengerjaan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih mempunyai kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini.
PENDAHULUAN
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sebab, proses pengomposan serasah daun dengan menggunakan bahan pengurai alami akan memakan waktu lama. Mengingat pengolahan serasah daun masih belum efektif, maka perlu dikembangkan pengolahan serasah daun sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang bermanfaat melalui proses pengomposan. Seperti diketahui, sebagian besar masyarakat tidak memanfaatkan serasah daun sebagai pupuk organik, hal ini dikarenakan proses pengomposan serasah daun dengan menggunakan bahan pengurai alami akan memakan waktu yang lama.
Saat ini telah dikembangkan produk dengan agen degradasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang cocok untuk proses penguraian sampah organik, sehingga proses pengomposan lebih cepat. Kurangnya minat masyarakat terhadap penggunaan pengurai di pasaran adalah harganya yang masih belum terjangkau, hal ini dikarenakan penggunaan pengurai untuk proses pengomposan memerlukan jumlah yang banyak. Anda bisa membuat tahi lalat sendiri dari bahan-bahan alami yang mudah ditemukan, salah satunya adalah penggunaan pucuk jambu biji. MOL pucuk jambu biji merupakan pucuk tanaman bambu yang merupakan hasil fermentasi dari bahan baku pucuk jambu biji dan dapat dengan mudah diolah di lingkungan. Jadi.
Manfaat Pupuk Kompos Daun Serasah
Dengan memanfaatkan salah satu jenis sampah yaitu sampah lama kita bisa membuat kompos. Daun-daun tua dan berguguran sebaiknya tidak dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah. Daun yang alami dibandingkan dengan yang non alami, tanah pasti lebih menyukai pupuk kompos dibandingkan pupuk kimia (Nyoman, P, Aryantha, dkk, 2010).
Manfaat kompos daun kempa dapat diperoleh dari daur ulang kompos daun kempa dan pengomposan sisa daun. Manfaat bagi lingkungan adalah akibat dari pengelolaan sampah yang buruk, dan pengolahan sampah menjadi kompos seharusnya membantu melindungi lingkungan.
Pembuatan Pupuk Kompos Dari Daun Serasah
Dalam mendaur ulang sampah organik yaitu dengan mendaur ulang sampah organik yang sudah dilakukan sejak lama, sampah organik juga sering didaur ulang, seperti membersihkan sampah yang berasal dari sampah rumah tangga kemudian dijadikan kompos. Daur ulang memiliki potensi besar untuk mengurangi biaya tambahan pembuangan limbah dan TPA. Berdasarkan cara pemanfaatannya secara langsung, misalnya sampah rumah tangga yang terbuat dari sayur-sayuran, daun bekasnya bisa dijadikan pakan ternak.
Pada saat itu, bahan kompos akan menjadi busuk dan berwarna coklat tua serta tidak menimbulkan bau. Kompos yang sudah kering dan berukuran besar dapat dihancurkan dengan menggunakan alat penggiling bahan organik, kompos yang dihancurkan harus cukup kering. Jika kompos terlalu basah, kompos akan menggumpal di dalam pencacah dan sulit dikeluarkan dari pencacah.
Selanjutnya kompos yang telah dihancurkan diayak hingga menghasilkan kompos dengan kehalusan tertentu yang bertujuan untuk menyeragamkan ukuran partikel. Kompos diayak dengan menggunakan ayakan yang dibuat sama dengan ayakan pasir, namun ukuran kawat yang digunakan sedikit lebih besar dan bahan yang tidak lolos ayakan dimasukkan kembali ke dalam alat penggiling. Kompos yang telah diayak siap dikemas untuk dipasarkan atau didistribusikan ke lahan pertanian (Lingga, Pinus. 2006).
Proses ini meliputi penyiapan campuran bahan yang seimbang, memastikan kecukupan air, pengaturan ventilasi, dan penambahan aktivator kompos. Aktivator pengomposan saat ini sudah banyak tersedia di kios-kios peternakan dengan berbagai merek, namun jika Anda membuatnya sendiri, Anda bisa membuatnya dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita. Teknologi pengomposan saat ini sangat penting terutama untuk mengatasi permasalahan sampah organik seperti sampah kota, sampah industri dan sampah pertanian dan perkebunan.
Seringkali para petani beranggapan bahwa kompos berasal dari kotoran hewan, padahal banyak bahan yang dapat dimanfaatkan dan tersedia di lingkungan sekitar, seperti: daun-daunan, jerami dan sampah rumah tangga, selain plastik, cara pembuatannya juga bisa dilakukan. . sederhananya (ArgoMedia, 2007).
Pupuk Organik Serasah Daun
Beberapa keunggulan pupuk organik antara lain: meningkatkan kandungan bahan organik dalam tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air, meningkatkan aktivitas kehidupan hayati tanah dan meningkatkan ketersediaan. unsur hara dalam tanah.. Kekurangan pupuk organik antara lain: kandungan unsur hara rendah, relatif sulit diperoleh dalam jumlah banyak, tidak dapat diaplikasikan langsung ke dalam tanah, namun harus mengalami dekomposisi. Pupuk organik terdiri dari: pupuk organik, pupuk hijau, kompos, tepung tulang dan tepung tanah (Hasibuan, 2006).
Pupuk organik dalam bentuk kompos maupun segar berperan penting dalam memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah serta sumber nutrisi tanaman. Pemberian kompos atau pupuk organik pada tanah mempunyai manfaat antara lain meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, memudahkan tanaman menyerap unsur hara yang ada, memperbaiki sistem air dan udara dalam tanah sehingga suhu dalam tanah bisa lebih stabil. , meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat unsur hara sehingga mudah larut dalam air. Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan penggunaan pupuk kimia dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan dekomposisi dengan penggunaan pupuk kimia, baik di lahan sawah maupun lahan kering.
Penggunaan pupuk kimia secara bijak diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih baik di masa depan, tidak hanya terhadap kondisi tanah dan hasil panen yang lebih baik, namun juga terhadap kelestarian lingkungan (Musnamar, 2005). Sumber utama bahan organik bagi tanah berasal dari jaringan tanaman, baik berupa sisa tanaman (serasah) maupun sisa tanaman yang sudah mati. Pupuk organik mengandung unsur karbon dan nitrogen dalam jumlah yang sangat bervariasi dan unsur tersebut sangat penting untuk menjaga atau meningkatkan kesuburan tanah.
Pupuk organik dan kimia akan digunakan lebih optimal dan efisien jika digunakan secara bersamaan. Penambahan pupuk organik dapat mengurangi dampak negatif pupuk kimia sekaligus memperbaiki sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Ciri-ciri umum pupuk organik adalah: Kandungan unsur hara yang rendah Kandungan unsur hara pada pupuk organik pada umumnya rendah namun berbeda-beda tergantung jenis bahan dasarnya.
Pupuk organik mempunyai beberapa keunggulan dalam meningkatkan kesuburan tanah, karena pupuk organik mengandung unsur hara makro (N, P, K) yang dapat memperbaiki komposisi tanah.
Effective Microorganisms (EM4)
Manfaat EM4 menurut (Indriani, 2011) pada proses fermentasi bahan organik, mikroorganisme akan bekerja dengan baik apabila kondisinya sesuai.
Alat dan Bahan
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2019 di Universitas Medan Area (Rumah Kompos). Lokasi penelitian di Kampus Universitas Medan Area, penelitian ini dilakukan di Rumah Kompos Universitas Medan Area. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kering sebanyak 10 lembar, EM4, gula merah dan air.Peran EM4 dalam pembuatan kompos adalah menghilangkan bau dan mempercepat proses pengolahan sampah (Djuarnani dkk, 2005).
Potong-potong daun kering hingga halus (semakin kecil, semakin cepat proses pengomposan) dan potong-potong lagi hingga semua daun kering yang terkumpul tertumbuk rata. Siapkan tempat untuk mencampurkan cincangan daun kering, lalu letakkan terpal pada tempat yang telah ditentukan (Rumah Kompos), kumpulkan semua cincangan daun kering pada terpal yang terpasang, lalu campurkan daun kering tersebut dengan mikroorganisme efektif (EM4), gula merah dan air. , campur terlebih dahulu sebelum mencampur Effective Microorganisms (EM4) dengan air sesuai ukuran, lakukan hal yang sama dengan gula merah dicampur air sesuai ukuran yang dibuat, lalu tutup rapat kembali dengan terpal sehingga cairan Effective Microorganisms (EM4) dan gula merah bisa reaksi. Kemudian lakukan penelitian dengan melihat kondisi daun yang kering, sebaiknya lembab, tidak kering dan tidak kelebihan air dengan cara menyiram daun kering setiap hari atau sesuai dengan kondisi daun kering.
Lakukan pengujian ini berulang kali hingga daun kering mulai terlihat seperti tanah berwarna kecoklatan agar dapat dilakukan proses pembubutan. Setelah berumur 3 bulan kompos sudah bisa dibalik.Tujuan dari membalik kompos adalah agar pelapukan kompos menjadi merata dan kondisi daun-daun kering yang sudah mulai terkompos tidak terlalu panas, karena jika kompos terlalu panas maka akan terjadi pembalikan kompos. larut, yang sudah tercampur maka kompos sulit bereaksi atau terurai. Selanjutnya kompos dibalik 3 hari sekali atau 3 kali seminggu dan dapat disiram dengan larutan Effective Microorganism EM4 dan gula merah.
Setelah dibalik selama 3 minggu, hasil pengolahan daun kering tersebut menjadi kompos. Kompos sudah siap digunakan, warna kompos coklat kehitaman, namun hasil pembuatan kompos ini kurang maksimal, bentuk dan wujudnya. Setelah menjadi kompos, kompos tersebut kemudian dilakukan pengujian untuk melihat nilai NPK pada kompos tersebut.Pengujian ini dilakukan dalam waktu 30 hari di Laboratorium Industri Barisstand Medan.
Hasil pengujian yang dilakukan di Laboratorium Barisstand Industri Medan dari analisis kandungan unsur nilai NPK, kandungan N total 0,45%, kandungan P 0,11% dan kandungan K 27,3 mg/kg.
Saran
Pengaruh penambahan pupuk urea pada pengomposan aerobik sampah organik menjadi kompos diperkaya yang matang dan stabil.