• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan Preparat Awetan Embrio Utuh Burung Puyuh

N/A
N/A
Nur Rikswan Syah

Academic year: 2024

Membagikan "Pembuatan Preparat Awetan Embrio Utuh Burung Puyuh"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pembuatan Preparat Awetan Embrio Utuh Burung Puyuh (Cortunix - Cortunix Japonica)

Aprira1,*, Edward1, Dian Fita Lestari1

1Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Bengkulu,

* Corresponding Author. E-mail: aprira@unib. ac.id

Submisi: 15 November 2023; Penerimaan: 31 Januari 2024

ABSTRAK

Salah satu materi praktikum Embriologi Pekembangan Hewan adalah kegiatan pengamatan pekembangan embrio hewan kelas Aves. Pada praktikum ini mahasiswa menggunakan salah satu bahan yang berupa preparat awetan yang tersedia di laboratorium. Kegiatan praktikum meliputi pengamatan dari perkembanagn embrio ayam usia 18,24,36, 48,60, 72 dan 96 jam. Sediaan preparat awetan dari spesies aves yang berbeda diperlukan sebagai perbandingan perkembangan embrio. Salah satu spesies aves yang cukup mudah didapatkan sediaan telur dengan waktu perkembangan embrio yang cukup berbeda dibandingkan dengan ayam adalah burung dari jenis cortunix-cortunix japonica atau burung puyuh. Sedian preparat awetan embrio utuh ini sangat penting untuk meningkatkan kelancaran dan peningkatan pengetahuan mahasiswa. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk membuat preparat awetan utuh embrio burung puyuh pada masa inkubasi 24,36,48,60,72,84 dan 96 jam. Sampel yang digunakan adalah telur puyuh fertil yang diinkubasi pada suhu 380C. Embrio akan dipisahkan dari kuning telur, lalu embrio dibersihkan, di warnai dan dijernihkan dengan menggunakan alkohol bertingkat dan xylol sehingga perkembangan dari masing masing embrio terlihat jelas. Dapat disimpulkan yaitu telur burung puyuh fertil yang diinkubasi dengan masa inkubasi 24,36,48,60,72,84, dan 96 jam, embrionya dapat dipisahkan dan dapat dibuat preparat utuh serta dapat diamati di mikroskop Preparat dari embrio burung puyuh perkembangannya hampir mirip dengan embrio ayam tetapi pada umur inkubasi yang sama embrio burung puyuh telah mengalami tehapan perkembangan yang lebih lanjut dari pada embrio ayam.

Kata Kunci: Preparat; embrio utuh; burung puyuh

.

PENDAHULUAN

Semua makhluk hidup mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Perkembangan pada hewan hampir sama dengan manusia, namun ada unsur unsur tertentu yang membedakan antara manusia dan hewan. Pada penelitian ini penulis membahas bagaimana perkembangan pada embrio kelas aves, aves yang di teliti adalah jenis burung puyuh (cortunix cotunix japonica). Biasanya embrio ayam yang dipakai dalam kegiatan praktikum embriologi. Dikarenakan burung puyuh perkembangannya hampir mirip dengan

ayam serta menimbang faktor ekonomis serta ukuran embrio burung puyuh lebih kecil maka embrionya bisa utuh diamati

menggunakan mikroskop.

Perkembangan burung puyuh yang diteliti adalah masa inkubasi 24 jam, 36 jam, 48 jam, 60 jam, 84 jam dan 96 jam, hal ini dikarenakan embrio pada rentang usia ini masih bisa dibuat preparat utuh karena ukuranya masih kecil.

Embrio perkembanganya diawali setelah terjadi pembentukan zigot.

Setelah ovulasi sekitar 5 jam terjadi pembelahan sel pertama hal ini tejadi saat telur berada di istihimus.

Pembelahan selanjutnya terjadi sekitar

(2)

20 menit lalu telur meninggalkan isthmus, 1 jam kemudian perkembangan embrional terjadi dengan membentuk 16 sel, dan setelah 4 jam di uterus terbentuklah 256 sel sebagai blastoderm, (Asmawati, 2014).

Embrio adalah eukariota dipoid multisel yang dalam perkembangan awal embrio terjadi diluar tubuh induknya, embrio berkembang dan medapat asupan makanan serta pelindungan dari albumin, kuning telur dan kerabang telur (Fitriani dkk., 2021).

Perkembangan embrio

selanjutnya berada di luar tubuh induknya, Di dalam kantung kuning telur memiliki dinding yang dapat menghasilkan enzim, enzim ini memiliki peranan yang sangat penting pada perkembangan embrio, karena enzim berguna untuk mengubah kandungan dari kuning telur menjadi bahan makanan yang larut dan mudah di serap oleh embrio. Fungsi dari cairan allantonis adalah mengangkut oksigen, penyerapan zat asam pada embrio, mengangkut sisa pencernaan dalam ginjal serta membantu dalam mencerna albumen, sedangkan fungsi dari cairan amnion adalah sebagai bantal (Sujono dan Rumanta, 2015)

Pola Perkembangan embrio ayam dan fungsinya pada perkembangan embrio ayam identik dengan perkembangan embrio manusia dimulai dari fertilasi, blastulasi, gastrulasi, neurolasi dam organogenesis (Murphy, 2013)

Embrio dalam perkembangannya membutuhkan suhu dan kelembababan yang sesuai sehinga dalam kondisi normal embrio dapat menetas tepat waktu. Perkembangan embrio menjadi lambat pada suhu yang rendah sehingga mengakibatkan embrio terlambat menetas dan embrio akan mati pada suhu yang terlalu tinggi karena embrio dehidrasi sehingga mati sebelum

menetas (Sujono dan Rumanta, 2015).

(Neonnub dkk., 2019) mengatakan bahwa suhu yang baik untuk penetasan telur puyuh adalah 37,50C dan 38 0C dan kelembapan berkisar dari 55-70%.

Perkembangan embrio burung puyuh (Coturnix-coturnix japonica) Menurut Bay Jy, dkk., (2016) pada hari pertama inkubasi, embrio mulai tumbuh dan primordia trakea muncul. Pada hari ke 2, pembuluh darah muncul di permukaan vitellus ovi (kuning telur), darah muncul di tengah atau sekitar blastoderm. Pada hari ke 3, bola mata mulai berpigmen dan embrio terlihat jelas. Pada hari ke 4, mata menjadi transparan, dan kepala membesar. Pada hari ke 5, mata mulai berpigmen, dan kaki terbentuk. Pada hari ke 6, kepala dan badan sudah terlihat jelas, kaki menjadi lebih panjang, dan sayap muncul. Pada hari ke 7, seluruh embrio sudah terlihat jelas, dan paruhnya sudah muncul. Pada hari ke 8, bulu halus muncul di bagian belakang tubuh, dan jari-jari kaki terpisah satu sama lain.

Pada hari ke 9, punggung menjadi lebih panjang, dan sedikit bulu halus serta duri juga muncul di bagian tubuh lainnya.

Pada hari ke 10, bulu halus muncul di kepala, dan paruh serta kaki mulai mengalami keratinisasi. Pada hari ke 11, seluruh tubuh ditutupi bulu, dan embrio mulai berputar, memutar kepalanya ke arah sel udara. Pada hari ke 12, penampakan embrio seperti struktur tubuh telah berkembang sempurna.

Pada hari ke 13, embrio terus berkembang, volume cairan ketuban mulai berkurang, dan sel udara menjadi miring. Pada hari ke 14, tubuhnya memanjang. Pada hari ke 15, sel udara ditusuk oleh paruhnya, dan respirasi paru dimulai. Pada hari ke 16, selaput ketuban terlepas; kuning telur telah terserap seluruhnya, cangkang telur terkelupas, dan tukik meninggalkan cangkang telur mulai bersuara. Pada hari ke 17,

(3)

sebagian besar burung puyuh sudah menetas.

Pada usia 17 hari telur burung puyuh akan menetas dan setelah menetas, hanya bisa dilihat anak burung puyuh dan fragmen kulit telur, kuning telur dan albumen telur sudah diserap habis di tari kedalam tubuh burung puyuh. Penelitian ini bertujuan membuat preparat awetan perkembangan embrio utuh burung puyuh pada masa inkubasi 24 jam,36 jam, 48 jam, 60 jam,72 jam, 84 jam dan 96 jam. jam dan bagaimana perkembangan embrio utuh burung puyuh setelah inkubasi di 24 jam,36 jam,48 jam, 60 jam, 72 jam, 84 jam dan 96 jam, dengan cara diamati menggunakan mikroskop.

METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan adalah eosin, Xylol, Aquadest, Larutan Garam Fisiologis, Larutan NBF 10%, Alkohol 50%, Alkohol 70 % alkohol 90 % alkohol Pro analisis 100 %, pewarna eosin,,entelan. Gliserin, kertas saring, tisu, telur burung puyuh ternak (Coturnix- coturnix japonica) yang fertil. Telur puyuh harus segar dan baru, di peroleh dari peternak telur puyuh di sekitar universitas bengkulu. Alat yang digunakan adalah berupa mesin tetas inkubator, mikroskop binokuler merk leica, mikroskop streo merk imerco, nampan serbet, gelas arloij, cawan petri, botol spesimen, gelas objek cekung dan kaca penutup, pipet tetes, pinset,gunting bedah

Prosedur

Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Menurut (Sugiyono. 2017) penelitian eksperimen adalah penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakukan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Prosedur penelitian

menggunakan metode whole mount.

Metode whole mount merupakan metode pembuatan preparat tanpa di dahului dengan proses pemotongan, yang nantinya akan diamati dengan mikroskop. Prepara t yang diamati adalah preparat yang utuh baik itu berupa sel, jaringan, organ maupun individu

Penelitian diawali dengan melakukan inkubasi telur puyuh fertil segar dengan cara telur puyuh fertil yang baru, di balut dengan tisu, disusun di atas nampan, di batasi dengan tisue serta diposisikan dengan kemiringan 450C.

Telur dikelompokkan diatas nampan sesuai dengan masa inkubasinya yaitu 24 jam, 36 jam, 48 jam, 60 jam, 72, 84 jam dan 96 jam. Setiap masa inkubasi disiapkan 5 telur. Setiap telur diberi tanda atas bawah dan depan belakang untuk memudahkan pemutaran telur setiap 4 jam. Telur di inkubasi selama 4 hari, dengan rentang 12 jam. Telur yang telah selesai masa inkubasinya di ambil dari mesin tetas/oven. Setelah 4 hari semua telur siap dipisahkan embrionya, yaitu dengan memisahkan kuning telur dari putihnya yaitu dengan melubangi bagian tumpul dari telur puruh menggunakan dengan menggunakan jarum. Lalu buka cangkang telur dengan perlahan menggunakan pinset. Setelah kuning telur terpisah dari putihnya lalu masukkan ke cawan petri yang telah berisi larutan fisiologis bersuhu 400C.

Selanjutnya posisikan embrio diatas lalu gunting membran vitalin secara hati hati agar embrio tidak rusak dan terbalik.

Selanjutnya, embrio dipindakan ke objek glass dan posisikan embrio harus ditengah dan tidak terlipat.

Tetesi embrio dengan larutan fiksatif Neutral Buffer Formalin (NBF) 10

% dan jangan biarkan embrio mengering selama 3 menit, lalu keringkan slide dengan kertas saring. Dengan cara sedikit di miringkan. Lalu tetesi embrio

(4)

dengan alkohol 50% tutup dengan cawan petri dan di taruh di bawah lampu selama 3 menit. Lalu tetesi embrio dengan alkohol 70% selama 3 menit. Lalu potong kelebihan membran vitalin menggunakan pisau bedah. Dehidrasi dengan alkohol 90% selama 3 menit. Lalu warnai dengan mengunakan eosin selama 1 menit. Lalu tetesi dengan alkohol 100% PA selama 3 menit. Lalu jernihkan dengan menggunakan xylol selama 5 menit.

Tutup embrio dengan kaca penutup dan diolesi entelan, lalu beri label dengan nama preparat dan masa inkubasi lalu lakukan pengamatan preparat embrio burung puyuh

mengggunakan mikroskop binokuler pada perbesaran 4 untuk embiro yang masa inkubasi 24 jam, 36 jam, 48 jam, 60 jam,72 jam dan mikroskop stero untuk embrio yang masa inkubasi 84 dan 96 jam. Pengamatan dilakukan pada setiap embrio utuh dengan masa inkubasi yang diamati adalah bagian bagian organ yang telah terbentuk pada embrio sesuai dengan masa inkubasinya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Foto dari preparat embrio burung puyuh sesuai dengan umur inkubasi nampak pada Gambar 1 sampai 7.

Keterangan (a) optic vesicle (b) infundibulum (c)mesenchephalon region of the neutral tube (d) metesenchephalon region of the neutral tube (f) notochord beneath metncephalon (g) neoromores of mylencephalon region of the neural tube (h) first somite (i) fifth intersomite furrow (j) area pellucida

Keterangan (a) optic cup (b) proencephalon (c) mesenphalon (d) epiphysis (e) Firsh Branchial arch (f) Firsh Branchial groove (g) second brancial arch (h) second brancial groove(i) Bounary of amniotic folds (j) metencephalic region (k) metenchephalon (l) isthimus (m) Tail bud.

Gambar 1. Embrio utuh burung puyuh umur inkubasinya 24 jam

Gambar 2. Embrio utuh burung puyuh umur inkubasinya 36 jam

Keterangan (a) cerebral hemisphare of telencephalon (b) pinealgland (c) Dienchephalon (d) mesenphalon (e) isthimus (f) metenchephalon (g) mylencephalon (h) Endolymphatic duct (i) Cervical flexure (j) Wing bud (k) sinus venosus (l) bulbus cardis (m) venticle

Keterangan (a) Telencephalon (b) diancephalon (c) mesenphalon (d) metencephalon (e) medibular arch (f) auditory vesicle (g) mylencephalon (h) anterior appendage - bud (i) Pasterior apendage bud (j) tail (k) venticle

Gambar 3. Embrio utuh burung puyuh umur inkubasi 48jam

Gambar 4.Embrio utuh burung puyuh umur inkubasi 60 jam

(5)

Keterangan (a) talencephalon (b) optic cup end lens (c) metencephalon (d) epiphysis (f) diacephalon (g) mesencephalon (h) pharangel cleft (i) hert (j) wing bud (k)viteline artery

Keterangan (a) talencephalon (b) mesencephalon (c) lens (d) optic cup(e) aterior appendage bud (f) posterior appendage bud (g) tail

Gambar 5.Embrio utuh burung puyuh umur inkubasi 72 jam

Gambar 6 Embrio utuh burung puyuh umur inkubasi 84jam

Keterangan (a) midbrain (b) hind brain (c) eye (d) heart (e) fore brain (f) wing bud (g)limb bud (h) somites

Gambar 7.Embrio utuh burung puyuh umur inkubasi 96 jam Pembahasan

Metode whole mount adalah metode pembuatan preparat tanpa diawali dengan proses pemotongan.

Gambar yang dihasilkan terlihat dalam wujud aslinya seperti ketika organisme tersebut masih hidup. sehingga pengamatan dari organisme tersebut terbatas pada morfologinya. Kelebihan metode whole mount adalah dapat mengamati seluruh bagian dengan jelas.

Sedangkan kelemahannya adalah hanya bisa dilakukan pada spesimen dengan ukuran yang kecil (Kardi dkk., 1992).

Preparat embrio utuh burung puyuh umur inkubasi 24 jam setelah diamati di mikroskop binokuler pada perbesaran 10x terlihat pada Gambar.1

bahwa sudah terbentuk bagian bakal organ tubuh yaitu pembentukan kepala, pembentukan mata (a) pembentukan sistem saraf (c) (d) (f) serta terdapat 12 pasang somit. terlihat diGambar pada bagian (h) dan (i).

Pada umur inkubasi 36 jam perkembangan embrio telur puyuh terlihat pada Gambar.2 yaitu terbentuknya pementukan jantung, pembentukan hidung (e) dan (g), pembentukan telinga (f) dan (h),Pembentukan otak semakin sempurna (b) (c)(j) dan (k) 15 pasang somit, terlihat terbentuknya bakal usus, terlihat pertumbuhan pembuluh darah.

Umur inkubasi 48 jam di tunjukan pada Gambar.3 dimana terlihat

(6)

perkembangan pada otak dan sumsum tulang belakng bagin bagian otak sudah terbentuk otak besar (a) dan otak mengalami deferiensiasi, prosensefalon menjadi telesenfalon dan diesenfalon.

Pembentukan jantung semakin sempurna ((i) (k) (l) dan(m) sudah terlihat terbentuknya usus besar, terbentuknya hati dan 2 lbus pada bagian hati dan terbentuk 27 pasang somit.

Pada umur inkubasi 60 jam terlihat pada Gambar. 4 perkembangan embrio sudah terbentuk rahang bawah (e), telinga semakin berkembang (f) bakal sayap (h) dan kaki (i) tebentuk 39 pasang somit.

Pada umur inkubasi 72 jamterlihat pada Gambar.5 yaitu organ organ nampak semakin jelas bakal mata berupa bintik kecil (b) sayap mulai terbentuk (j) , rongga hidung semakin berkembang (h), hati sudah mulai terbentuk (i) jantung mulai berdetak (k) dan ada 51 pasang somit.

Pada umur inkubasi 84 jam yaitu embrio sudah cukup besar sehingga preparat tidak bisa lagi diamati dengan mikroskop binokuler jadi pengamatan embrio usia 84 jam dan 96 jam pada masa inkubasi 84 jam menggunakan mikroskop streo dari foto preparat Gambar. 6 terlihat terbentuknya mata sudah terlihat sebagai bintik gelap (c) jantung sudah) berkembang,embrio sudah terlihat lebih jelas , sudah mulai terbentuk ekor sayap dan kaki yang semakin terlihat (e) (f) sehingga tampak sepert huruf C.

Umur inkubasi 96 jam dari foto terlihat pad Gambar.7 yaitu alat tubuh sudah mulai berkembang, mata sudah membesar dan gelap (c) rongga dada sudah mulai berkembang otak juga semakin terlihat jelas yaitu batang otak yang semakin sempurna (a) otak depan (e) otak belakang (b) bentuk paruh sudah terlihat dan bakal sayap sudah terlihat.

Menurut (zulfa dkk., 2021) Tahapan perkembangan embrio telur ayam terdiri dari morula, blastla dan gastrulasi. Peletakan telur 45˚, pemutaran telur yang searah, umur telur maximal 3 hari, suhu inkubator (37,5˚C), cara kerja yang teliti, adalah faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio. Perhitungan somit dimulai saat 22 hari terbentuk satu pasang somit, Hal yang mempengaruhi pembuatan preparat adalah larutan bouin berkonsentrasi tinggi, larutan eosin berkonsentrasi rendah dan penggunaan xylol yang berguna dalam penetralan dan pembersihan zat sisa alkohol.

Telur tetas yang telah mengalami pembelahan sel mencapai 256 sel disebut blastoderm, proses selanjutnya disebut grastulasi yaitu terjadinya penyebaran sel blastoderm ke seluruh bagian yolk dan mengalami pembentukan menjadi 2 lapisan, lapisan pertama disebut ektodermis yang akan berkembang dalam pembentukan beberapa bagian seperti pada bagian kulit, bulu, paruh, kuku, sistem syaraf, lensa, retina dan lapisan mulut kemudian lapisan kedua disebut endodermis yang akan membentuk lapisan organ seperti saluran pencernaan, respirasi dan sekretori. Perbedaan telur tetas dan telur konsumsi ada pada permukaan yolk dimana pada telur tetas lapisan ektodermis dan endodermis akan terlihat seperti lingkaran berwarna putih pada permukaan yolk dan pada telur konsumsi lapisan ini tidak nampak (Suprijatna dkk., 2005).

Perkembangan embrio pada unggas selanjutnya berada di luar tubuh induknya, selama perkembangan berlangsung embrio mendapatkan makanan dari kuning telur, albumen serta kerabang. Fungsi dari kerabang adalah sebagai pelindung embrio dari mikroorganisme patogen. Kantung kuning memiliki dinding yang dapat

(7)

menghasilkan enzim . enzim berfungsi mengubah kandungan dari kuning telur menjadi bahan makanan yang larut dan mudah di serap oleh embrio, cairan amnion berfungsi sebagai bantal dan cairan allantois berfungsi mengangkut oksigen, penyerapan zat asam pada embrio, mengangkut sisa pencernaan dalam ginjal dan membantu dalam mencerna albumen. Agar embrio dapat menetas tepat waktu dan dalam kondisi suhu dan kelembaban harus di jaga . Suhu rendah dapat mengakibatkan perkembangan embrio menjadi lambat sehingga mengakibatkan embrio terlambat menetas dan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kematian embrio sebelum menetas diakibatkan dehidrasi (Sujono dan Rumanta, 2015).

Pewarnaan embrio burung puyuh pada penelitian ini mengunakan pewarna eosin karena pewarna eosin yang murah dan gampang di dapat serta dalam proses pewarnaan embrio dan proses penghilangan sisa pewarnaan dan penjernihan prosesnya lebih mudah cukup dengan menggunakan alkohol bertingkat serta hasil preparat setelah penjernihan dengan xylol cukup baik.

pewarnaan lain yang bisa digunakan adalah hematoksilin – eosin, alizarin red dan carmin.

PENUTUP

Kesimpulan

Dari Hasil Penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan yaitu telur puyuh fertil yang diinkubasi dengan masa inkubasi 24,36,48,60,72,84, dan 96 jam, embrionya dapat dipisahkan dan dapat dibuat preparat utuh serta dapat diamati di mikroskop. Preparat dari embrio burung puyuh perkembangannya hampir mirip dengan embrio ayam tetapi pada umur inkubasi yang sama embrio burung puyuh telah mengalami tehapan perkembangan yang lebih lanjut dari pada embrio ayam.

Saran

Embrio telur puyuh relative kecil maka sangat perlu kehati hatian dalam memisahkan embrio dari kuning telurnya.

Perlu adanya penelitian lanjutan tentang perkembangan embrio telur puyuh sampai usia 17 hari dengan menggunakan pewarna yang lain sehingga dapat diperoleh preparat yang paling baik.

DAFTAR PUSTAKA

Asmawati. 2014. Peningkatan Kualitas Embrio Dan Pertumbuhan Ayam Buras Melalui In Ovo Feeding.

Disertasi Program Studi Ilmu Pertanian Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin : Makasar Bay JY., Pang YZ., Zhang XH., Li YX.

2016. Study On The Morphological Developmen Of Quail Embrios.

Brazilian Journal Of Poultry Science.

Fitriani, F., Husmimi, H., Masyitha, D., &

Akmal, M. 2021. Histologis Perkembangan Embrio Ayam pada Masa Inkubasi Satu sampai Tujuh Hari. Jurnal Agripet, 21(1).

Kardi., Soeparman., Budipramana., Lukas S. 1992. Mikroteknik dan Pembuatan Peraga Biologi.

Surabaya: University Press IKIP : Surabaya

Murphy, P. 2013. The First Steps To Forming a New Organism Descriptive Embryo. Develovment Biology Internet

Neonnub, J., Adriani, L., dan Setiawan, I.

2019. Pengaruh Level Suhu Mesin Tetas Terhadap Daya Tetas dan Bobot Tetas Telur Puyuh Padjadjaran. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran, 19(2), 85-89.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.Bandung: Alfabeta

Sujono,T.W., dan Maman Rumanta.

2015 . Perkembangan Hewan.

Pusat Penerbitan Universitas Terbuka : Banten

Suprijatna,E., A.Umiyati., K. Ruhyat.

2005. Ilmu Dasar Ternak

(8)

Unggas.Penebar Swadaya Jakarta

Zulfa, C. S., Yogica, R., & Atifah, Y. 2021.

Pengaruh Perbedaan Masa Inkubasi terhadap Perkembangan

Embrio Gallus gallus domesticus.

In Prosiding Seminar Nasional Biologi (Vol. 1, No. 1, pp. 567-573)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan ovarium burung puyuh ( Coturnix-coturnix japonica ) yang diberi variasi warna

usaramoensis dapat diberikan dalam ransum burung puyuh tanpa menurunkan energi metabolis, retensi nitrogen dan efisiensi ransum sehingga dapat digunakan sebagai

Berdasarkan keseluruhan langkah penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembuatan sistem pakar diagnosa penyakit pada burung puyuh

Whole mount adalah metode pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat sediaan utuh atau keseluruhan organisme baik itu hewan maupun tumbuhan.Syarat utama

Penggunaan tepung tomat sebagai bahan pakan memberikan pengaruh yang sama dengan kontrol terhadap penampilan produksi burung puyuh meliputi konsumsi pakan, HDP,

Metode Smear atau Oles, yaitu metode pembuatan preparat dengan cara mengoles atau membuat selaput tipis dari bahan yang berupa cairan atau bukan diatas kaca

SIMPULAN Kesimpulan dari kegiatan ini adalah petani di Desa Bareng memiliki minat yang tinggi terhadap penyuluhan pengolahan pupuk organik fermentasi dari kotoran burung puyuh dalam