• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Mikroteknik Kutu Fix

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Praktikum Mikroteknik Kutu Fix"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

“PENGAMATAN KUTU MANUSIA ( Pediculus humanus capitis) WHOLE

MOUNT”

Disusun guna memenuhi tugas matakuliah Mikroteknik

Dosen pengampu : Rahmat Taufiq M.A., S.Si Asisten : Wilda Nurjannah

Nama : Tuti Muflihah NIM : 1157020075 Kelompok : 2 (dua) Kelas : Biologi 2B

Tanggal praktikum : 12 April 2016 Tanggal pengumpulan :19 April 2016

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2016

(2)

PENDAHULUAN 1.1 TUJUAN

 Untuk mengetahui bentuk kesuluruhan morfologi cimex

 Mengetahui bagaimana cara / teknik pembuatan preparat dengan whole mount 1.2 DASAR TEORI

Serangga merupakan makhluk hidup yang menguasai bumi. Kurang lbih satu juta spesies yang telah dideskripsi (dikenal dalam ilmu pengetahuan), dan diperkirakan masih ada 10 juta spesies serangga yang belum dideskripsi. Keanekaragaman yang tinggi dalam sifat-sifat morfologi, fisiologi dan perilaku dalam adaptasinya, dan demikian banyak jenis serangga yang terdapat di muka bumi, banyak menyebabkan kajian ilmu pengetahuan, baik yang murni maupun terapan, menggunakan serangga sebagai model (Hala, 2007).

Serangga adalah kelompok utama dari hewan beruas (arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang), karena itulah mereka disebut Hexapoda (dari bahasa yunani yang berarti berkaki enam). Serangga termasu kedalam kelas insecta(subfilum uniramia) yang dibagi menjadi 29 ordo (Djuhanda, 1980).

Insecta atau serangga merupakan anggota dari ordo arthropoda yang sangat banyak anggota spesiesnya. Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Fosil-fosilnya dapat dirunut hingga ke masa fosil raksasa primitif telah ditemukan (Jasin, 1992).

Banyak anggota insekta yang dapat ditemukan disekitar kita misalnya lalat, kupu- kupu, kecoak, jangkrik, semut, nyamuk dan belalang. Anggota insekta sangat beragam, tetapi memiliki ciri khusus,yaitu kakinya berjumlah enam buah,sehingga disebut juga hexapoda (hexa = enam, podos = kaki). Diperkirakan jumlah insecta lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali variasi dalam kelas insecta baik bentuk maupun sifat dan kebiasaannya (Soedarto, 2008).

Kelas insekta dikenal sebagai hama tanaman atau musuh manusia, namun ada yang bertindak sebagai musuh alami hama serta sebagai serangga penyerbuk. Secara umum morfologi anggota kelas insekta adalah tubuh terdiri atas ruas-ruas (segmen) dan terbagi kedalam tiga daerah yaitu caput, thoraks, dan abdomen, kaki berjumlah tiga pasang pada thoraks, dan antene satu pasang (Levine, 1990).

(3)

Habitat serangga adalah di daratan dan air tawar. Tubuhnya di bedakan denganjelas antara kepala, dada dan perut. Pada kepala terdapat satu pasang mata faset (mata majemuk) dan mata tunggal (oselus). Dan terdapat sepasang antena sebagai alat peraba dan mulut. Mulut seranga berkembang menjadi beberapa tipe sesuai dengan cara makanya yaitu tipe mulut penguyah, penghisap, penusuk dan penjilat pada mulut terdapat rahang belakang (mandibula), rahang depan (maksila), bibir atas (labrum) dan bibir bawah (labium). Bagian dada terdiri dari atas tiga ruang yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Pada setiap rusa terdapat sepasang kaki yang berusa. Umunya mempunyai sayap yang terletak pada segmen dada kedua (mesotorak) dan tiga (metatorak) (Jasin, 1992).

Kutu merupakan parasit yang tersebar di seluruh dunia. Biasanya dapat ditemukan disekitar celah-celah rumah, rambut manusia dan lain-lain. Kutu ini berkembang dalam kondisi suhu dan kelembaban yang nyaman bagi manusia, dan menyediakan makanan darah yang cukup baik untuk hidupnya dengan cara menghisap darah manusia Kutu ini aktif mengisap darah manusia dan hewan di malam hari. Tusukan bagian mulut kutu busuk ini sangat menyakitkan dan menimbulkan kegatalan serta bentol-bentol yang cukup mengganggu (Harlan, 2006).

Kutu kepala dewasa mempunyai panjang sekitar 2 sampai 3 mm (ukuran biji wijen), memiliki 6 kaki. Kutu rambut dewasa berbentuk pipih dan memanjang, berwarna putih abu-abu, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri dari 9 ruas, Thorax dari khitir seomennya bersatu. Pada kepala tampak sepasang mata sederhana disebelah lateral, sepasang antenna pendek yang terdiri atas 5 ruas dan proboscis, alat penusuk yang dapat memanjang. Tiap ruas thorax yang telah bersatu mempunyai sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5 ruas dan berakhir sebagai satu sapit menyerupai kait yang berhadapan dengan tinjolan tibia untuk berpegangan erat pada rambut (Wijayanti, 2007).

Kutu rambut jantan berukuran 2 mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf “V”. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3 mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf “V” terbalik. Pada ruas abdomen terakhir mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan genital di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan telur (Wijayanti, 2007).

Kutu betina dapat hidup antara 3 sampai 4 minggu dan setelah bisa berbaring hingga 10 telur per hari . Ini telur kecil yang melekat erat pada pangkal rambut poros yang berjarak ±

(4)

4mm dari kulit kepala dengan zat seperti lem yang diproduksi oleh kutu (Frakowski et al, 2010).

Di seluruh dunia, termasuk semua negara-negara maju. Meskipun Phthirus pubis terjadi di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara dan Australia, dan ditemukan pada negro serta kulit putih. Phthirus pubis kurang sering terjadi pada pria daripada Pediculus dan tampaknya parasit terutama pada orang-orang yang memimpin kehidupan seksual yang aktif. Sejauh ini, telah dua kali direkam pada host selain manusia, yaitu anjing (Nuttall, 2009).

Whole mounth merupakan metode pembuatan preparat yang nantinya akan diamati dengan mikroskop tanpa didahului adanya proses pemotongan. Jadi pada metode ini, preparat yang diamati adalah preparat yang utuh baik itu berupa sel, jaringan, organ maupun individu. Gambar yang dihasilkan oleh preparat whole mounth ini terlihat dalam wujud utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih hidup sehingga pengamatan yang dapat dilakukan hanya terbatas terhadap morfologi secara umum saja. Metode pembuatan preparat yang digunakan untuk pengamatan secara menyeluruh, artinya mempelajari struktur morfologi secara keseluruhan dari spesimennya, tanpa melakukan penyayatan terhadap tanaman tersebut karena metode ini menggunakan semua bagian kutu manusia sebagai preparatnya. Tentu saja spesimen yang diamati haruslah berukuran kecil sehingga dapat termuat pada objek glass. Metode whole mounth mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihan metode ini adalah dapat mengamati seluruh bagian spesimen dengan jelas tiap bagian-bagiannya. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini hanya bisa dilakukan pada spesimen dengan ukuran yang kecil saja tidak bisa spesimen yang besar sehingga metode ini perlu terus dikembangkan dengan melakukan bebagai percobaan (Falagas,2008).

(5)

BAB II

METODE PRAKTIKUM 2.1 ALAT DAN BAHAN

a. Alat

No Alat Jumlah

1 Gelas ukur 1 buah 2 Kaca benda 1 buah 3 Kaca penutup 2 buah 4 Tabung reaksi 1 buah 5 Pipet tetes 1 buah 6 Gelas kimia 1 buah 7 Kaki tiga 1 buah 8 Penyangga kaki tiga 1 buah

9 Spirtus 1 buah

10 Korek api 1 buah 11 Penjepit 1 buah 12 Mikroskop cahaya 1 buah

b. Bahan

No Bahan Jumlah

1 Insekta(kutu manusia) 1 ekor 2 Alkohol 75% 2-3 tetes 3 KOH cair/padat 2-3 tetes 4 Alkohol 95% 2-3 tetes

5 Xylol 2-3 tetes

6 Entelan 2-3 tetes 7 KOH 10% Secukupnya

2.2 CARA KERJA

Siapkan alat dan bahan yang digunakan, setelah itu dipanaskan dalam 10% KOH selama 5 menit sampai mendidih. Kemudian masukkan spesimen beserta larutan KOH dalam cawan petri. Lalu dicuci dengan air. Setelah itu spesimen dipijat tanpa merusak

(6)

organnya. Kemudian dimasukan kedalam alkohol 75% selama 10 menit. Kemudian tambahkan pada alkohol 95% selama 10-15 menit. Ambil spesimen dengan menggunakan jarum pentul dan letakkan diatas kaca objek. Setelah itu tetesi 2-3 tetes xylol diamkan selama 2-5 menit.kemudian tetesi entelan 1 tetes. Dan ditutup dengan cover glass secara merata.lalu dikeringkan dan tempelkan label specimen. Setelah itu diamati dibawah mikroskop cahaya morfologi dari spesimen tersebut.

(7)

BAB III

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 3.1 HASIL PENGAMATAN

N o

Hasil pengamatan Gambar tangan Literatur Keterangan

1 (dokumen pribadi,2016) (Weems and Fasulo, 2013) A. Antena B. Kuku tarsus C. Mata D. Forns E. Tibia F. Torax G. Spirakle H. Segmen Abdomen I. Lempeng pleural dengan spirakle abdomen

Perhitungan pengenceran alkohol No Perhitungan 1 Diketahui M1 : 75 % V1 : 100 ml M2 : 95 % Ditanya V2?

(8)

M1 X V1 = M2 X V2 75 % X 100 = 95 % X V2 7500 = 95V2 V2 = 7500 : 95 = 78,94 ml alkohol 100 ml – 78,94 ml = 21,06 ml aquades 3.2 PEMBAHASAN

Telah dilakukan praktikum mengenai “pengamatan kutu manusia ( Pediculus humanus

capitis) whole mount”. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kesuluruhan morfologi Pediculus humanus capitis dan Mengetahui bagaimana cara / teknik pembuatan preparat dengan whole mount. Pada praktikum kali ini membuat preparat whole mounts dengan menggunakan kutu manusia (Pediculus humanus capitis).

Menurut Soedarto, 1990, dalam Wijayanti, 2007 klasifikasi dari Pediculus humanus

capitis adalah sebagai berikut :

Kingdom : animalia Phylum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Phthiraptera SubOrdo : Anoplura Famili : Pediculidae Genus : Pediculus

Spesies : Pediculus humanus capitis

Sebelum melakukan pengamatan, hal yang pertama dilakukan lakukan adalah kutu tersebut dipanaskan dengan larutan KOH 10% selama 5 menit, fungsi dari larutan KOH 10 % yang digunakan adalah agar dapat melarutkan atau melepaskan pigmen dalam tubuh spesimen tersebut sehingga dapat lebih mudah diamati bagian-bagian dalamnya.

Berdasarkan prosedurnya seharusnya kutu manusia (Pediculus humanus capitis) di rendam terlebih dahulu kedalam petridish dan ditambahkan chlorox 5% diamkan selama 5-10 menit. Setelah mengalami perendaman langkah selanjutnya yaitu penambahan KOH dan didiamkan selama 24 jam. Namun dalam praktikum yang dilakukan tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Hal ini dikarenakan ketidaktersediannya bahan yang di butuhkan dan waktu untuk perendaman menggunakan KOH tidak mencukupi untuk melakukannya. Oleh karenanya hanya dilakukan pemanasan spesimen kedalam KOH selama 5 menit.

(9)

Setelah proses pemanasan selesai letakkan larutan KOH yang berisi kutu manusia kedalam cawan petri. Pemindahan spesimen kecawan petri bertujuan untuk mempermudah pembersihan cairan KOH dari spesimen. Setelah cairan KOH dibersihkan, langkah selanjutnya yaitu dengan membersihkan spesimen menggunakan air secukupnya. Pemberian air bertujuan untuk membersihkan spesimen dari larutan KOH. Setelah itu, kutu manusia diurut agar cairan yang terdapat pada badan kutu manusia dikeluarkan tanpa merusak badannya.

Kemudian spesiemen tersebut ditambahkan alkohol 70% selama 5 menit, kemudian alkohol 95% 5 menit sebanyak 1 tetes. Fungsi dari alkohol 70 % dan alkohol 95 % adalah sebagai pembersih untuk spesimen. Dalam prosedurnya dilakukan pemberian alkohol 100% selama 5-10 menit. Alkohol 100% berfungsi untuk mengawetkan dan membersihkan perparat spesimen. Namun dalam praktikum yang dilakukan tidak melakukan pemberian alkohol 100% hal ini dikarenakan ketidaktersedianya bahan yang dibutuhkan. Oleh karenannya hanya melakukan penambahan alkohol 70 % dan alkohol 95 %.

Setelah itu bersihkan cairan alkohol yang ada pada spesimen, kemudian ambillah spesimen menggunakan jarum pentul, lalu letakkan spesimen diatas kaca objek. Setelah spesimen diletakkan dalam kaca objek regangkan tubuh dari Pediculus humanus capitis. Peregangan tubuh ini agar dapat menemukan bagian kaki badan dan kepala dari Pediculus

humanus capitis.

Selanjutnya tetesi dengan xylol, penetesan xylol ini bertujuan untuk menghilangkan zat-zat yang tertinggal pada kutu rambut (Pediculus humanus capitis). Setelah itu dibiarkan hingga kering. Setelah kering diberi entelan dan tutup dengan cover glass tanpa menekannya dengan memiringkan cover glass sebelumnya dan kemudian tempelkan pada sisa object glass yang lain,lalu didiamkan hingga kering lalu amati pada mikroskop cahaya.

Berdasarkan hasil pengamatan dengan mikroskop ditemukan 5 kaki yang utuh dari

Pediculus humanus capitis. Menurut literatur Pediculus humanus capitis memiliki kaki

berjumlah 6. Hal ini hasil pengamatan tidak sesuai dengan literatur dikarenakan pada saat peregangan Pediculus humanus capitis ada kaki yang patah dan hilang. Kutu manusia kakinya berbentuk ramping dan ujungnya bercakar.

Selain itu juga hasil yang diamati dari kutu manusia terdapat dua buah antena yang berfungsi sebagai alat pendeteksi juga membantu pengelihatannya agar dapat mengenali hal hal disekitarnya, dan antena ini juga berguna untuk mendeteksi kulit tempat adanya pembuluh

(10)

darah pada calon mangsa. Bagian tubuhnya pun terbagi kedalam kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen). Komponen mulut diadaptasi untuk menusuk dan menghisap. Hal ini sesuai dengan literatur.

Hasil preparat yang dibuat dalam praktikum kali ini tidak sesuai dengan apa yang diperoleh dari literatur. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya : spesimen yang dibutuhkan terlalu kecil, prosedur yang dilakukan tidak sesuai dengan dengan prosedur pada umumnya. Oleh karenanya untuk mendapatkan preparat yang baik dan benar yaitu dengan melakukan prosedur yang seharusnya dilakukan dan menggunakan spesimen yang berukuran sedang agar mendapatkan morfologi dari keseluruhan dari Pediculus humanus capitis. Dan untuk mendapatkan preparat yang baik yaitu dengan melakukannya sesuai prosedur yang ada. Dikarenakan jika tidak sama dengan prosedur akan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan.

Dan salah satu teknik dalam pembuatan preparat adalah menggunakan metode whole mount. Whole mount ( Sedian Utuh ) yaitu penyiapan sediaan yang terdiri atas keseluruhan organ tubuh organisme secara utuh. Contoh dari hewan/spesimen yang dapat dibuat preparat menggunakan preparat whole mount adalah kutu rambut manusia (Pediculus humanus

capitis), kutu busuk dan hewan lain yang berukurang tidak terlalu besar yang bentuknya

(11)

KESIMPULAN

Whole mount adalah metode pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat sediaan utuh atau keseluruhan organisme baik itu hewan maupun tumbuhan.Syarat utama bahan yang digunakan dalam pembuatan preparat Wholemount adalah berukuran kecil dan bentuknya masih utuh.Kutu manusia memiliki kaki berjumlah 6, memiliki antena, dan bagian tubuhnya pun terbagi kedalam kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen).

DAFTAR PUSTAKA

Djuhanda, Tatang. 1980. Kehidupan dalam Setetes Air. Bandung : ITB.

Falagas, Matthew E., Dimitrios K. M., Petros I. R., George Panos, dan Georgios P.. 2008. Worldwide Prevalence of Head Lice. Journal Emergencing infectious disease. Vol. 14 (9) : 1493-1494.

Frankowski, Barbara L., Joseph A. Bocchini, Jr and Council on School Health and Committee on Infectious Diseases. Head Lice. Journal Pediatrics. Hal : 392-403. Hala, Yusminah. 2007. Dasar Biologi Umum II. Makassar : Alauddin.

Harlan, Harold J. 2006. Bed Bugs the Basics of Cimex lectularius. journal American

Entomologist. vol. 52 (2):101.

Levine, N. D. 1990. Parasitologi Veteriner. Yogyakarta : UGM. Jasin, M. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya.

Nuttall, G., H. 2009. The Biology of Phthirus pubis. Cambridge Journal .Vol 10(3): 383-405.

Soedarto,2008. Parasitologi Klinik. Surabaya : Universitas Airlangga.

Weems, H. V. Jr. and T. R. Fasulo. 2013. Human Lice: Body Louse, Pediculus humanus

humanus Linnaeus and Head Louse, Pediculus humanus capitis De Geer (Insecta: Phthiraptera (=Anoplura): Pediculidae). Ifas Extension. University Of Florida.

Wijayati, Fitriana. 2007. Hubungan Antara Perilaku Sehat dengan Angka Kejadian Pedikulosis Kapitis pada Santriwati Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang. Skripsi. Universitas Jember. Jember.

(12)

LAMPIRAN Pemberian KOH pemanasan KOH pemindahan spesimen dalam cawan petri proses pengenceran alkohol Proses pemilahan spesimen Preparat whole mount kutu manusia

Referensi

Dokumen terkait

1. Mengetahui dan memahami cara pembuatan emulsi yang baik. 2. Mengetahui formulasi sediaan emulsi yang baik dan

Syarat mutu biji kakao menurut SNI 2323-2008 ditentukan berdasarkan adanya serangga hidup atau benda asing, kadar air, adanya biji berbau asap abnormal atau berbau asing lainnya,

Karena dengan homeostatis hewan aquatik pada umumnya sebagai bentuk usaha pertahanan hidup suatu organisme untuk memelihara lingkungan internalnya dalam

Pada pengamatan yang telah kami lakukan, didapatkan variasi atau Pada pengamatan yang telah kami lakukan, didapatkan variasi atau keanekaragaman pada tumbuhan, hewan

Segenap organisme dipengaruhi oleh sifat air laut yang ada di sekeliling, dan banyak bentuk – bentuk yang umum dijumpai pada tumbuh – tumbuhan dan hewan merupakan hasil adaptasi

Protista ada yang meliki ciri- ciri seperti hewan(protozoa), seperti tumbuhan (algae) yang dapat berfotosintesis, dan seperti jamur (jamur air dan jamur lendir) mempunyai

Ilmu ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu fisika optik khususnya penemuan mikroskop dan ilmu teknik pewarnaan (histokimia) dan teknik pembuatan preparat dari organ

i LAPORAN KERJA PRAKTEK PELATIHAN PENGENALAN MACROMEDIA FLASH 8 DAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN HEWAN DAN TUMBUHAN UNTUK GURU SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH SE-KECAMATAN MOYUDAN