Laporan Praktikum Mikroteknik Hari/ tanggal : Rabu / 14 September 2011
PJP : 1. Andy Darmawan
2. Sarah Nila
Asisten : 1. Eva Brialin Agenginardi 2. Aminah
3. Siti Nabilah
SEDIAAN UTUH (WHOLE MOUNT)
Kelompok 12
Haris Rizky Pratama (G34090009) Nurrizka Kartika Wati (G34090034) Feni Tunarsih (G34090042) Andi Trisnandi (G34090046) Gloria Maria F Pingak (G34090056)
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Pendahuluan
Sediaan utuh (Whole mount) merupakan salah satu teknik dalam penyediaan suatu sediaan berupa organisme, sel maupun jaringan yang dilakukan tanpa memotong bagian sediaan. Sediaan utuh digunakan untuk dapat melihat organisme secara utuh, misalnya embrio, spermatozoa, cacing, potongan syaraf, pembuluh darah, dan selaput-selaput tipis. Hasil dari pembuatan preparat dengan teknik sediaan utuh akan menghasilkan gambar yang memiliki wujud utuh seperti ketika sediaan organisme tersebut masih dalam keadaan hidup. Teknik sediaan utuh juga memiliki beberapa kelemahan yaitu dilakukan pada organisme yang berukuran kecil. Hal ini dikarenakan teknik tersebut dilakukan tanpa pemotongan wujud organisme sehingga untuk organisme yang ukuranya relatif besar akan sulit dilakukan pembuatan preparat dengan teknik ini (Sastrohadinoto et al 1972). Hewan yang dijadikan spesimen dalam praktikum sediaan utuh ini adalah cacing pipih, Lucifer , Sagitta, dan semut. Cacing pipih memiliki bentuk tubuh yaitu pipih dorsoventral dan tidak bersegmen. Cacing pipih merupakan cacing dengan susunan triplobastik aselomata. Hewan tripoblastik aselomata adalah hewan yang memiliki 3 lapisan embrional, lapisan lapisan embrional tersebut terdiri dari ektoderm, endoderm, dan mesoderm. Bagian mesoderm cacing ini memiliki bentuk sel sel yang seragam dan tidak terspesialisasi. Cacing pipih tidak memiliki anus sehingga pembuangan sisa makanan pada cacing pipih dilakukan lewat mulut. Cacing pipih melakukan proses difusi sebagai cara untuk pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida (anonim).
pasang kaki yang memiliki cakar kecil yang berfungsi untuk berpijak dan memanjat (Sugiri 1988).
Cacing gelas atau Sagitta sp. Merupakan hewan yang memiliki karakteristik tubuh transparan, berbentuk silindris, tidak bersegmen, dan tidak bersilium. Tubuhnya terdiri dari kepala, badan, dan ekor. Ekor caxing gelas terletak di belakang anus. Bagian ventral dari cacing pipih berfungsi sebagai alat pencernaan makanan. Bentuk alat pencernaan tersebut adalah usus yang berbentuk lurus seperti bentuk langsing. Cacing gelas mempunyai daya regenerasi yang cukup baik (Sugiri 1988).
Dalam sistem klasifikasi Lucifer termasuk kedalam kelas Crustacea, sub kelas Malacostraca, ordo Decapoda, dan famili Sergestidae. Lucifer memiliki bentuk tubuh yang fase dewasanya berukuran kecil. Di kawasan Asia Selatan dan India kelompok Lucifer ini sering dimanfaatkan sebagai komoditas yang memiliki nilai komersial (anonim ).
Tujuan
Membuat sediaan organisme atau bagian dari organisme hewan secara utuh.
Pembuatan sediaan utuh semut
Hasil Pengamatan
No. Gambar Literatur
1. Sediaan utuh semut
http://www.antark.net/external-ant-anatomy.html
2. Sediaan utuh Sagitta sp.
http://wapedia.mobi/en/Chaetognatha 3. Sediaan utuh cacing pipih
http://belajar.kemdiknas.go.id/ index.php Antena
Thorax
Stinger
Caudal fin
Gaster Mata
Mulut Saraf cincin
Kelenjar Kuning
Testis Posteri or Kelenjar Kulit
4. Sediaan utuh Lucifer
www.tafi.org.au/zooplankton/about/ anatomy.htm
Pembahasan
Sediaan merupakan sampel spesimen yang diletakkan ataupun dioleskan pada permukaan gelas objek baik dengan pemberian zat warna tertetntu ataupun tanpa pemberian zat warna sehingga dapat dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop. Berdasarkan lamanya daya tahan sediaan dibedakan menjadi 3 jenis yaitu sediaan sementara, sediaan semipermanen, dan sediaan permanen. Menurut Bavender (1998) daya tahan suatu sediaan merupakan kemampuan suatu sediaan dalam mempertahankan keadaannya. Sediaan sementara menggunakan medium berupa air atau bahan yang mudah menguap. Sediaan sementara memiliki sifat yaitu penyimpanannya tidak dapat bertahan lama. Sediaan semi permanen mempunyai daya tahan kurang lebih satu minggu. Salah satu media yang digunakan pada sediaan semi permanen adalah gliserin. Sediaan permanen memiliki daya tahan penyimpanan yang lama. Pada pembuatan sediaan permanen digunakan entelan.
Antena
Posterior Rostrum
Beberapa hal penting yang dilakukan pada pembuatan sediaan utuh adalah fiksasi, dehidrasi, dan penjernihan. Fiksasi bertujuan mencegah kerusakan jaringan, menghentikan proses metabolisme dengan cepat, mengawetkan komponen sitologis dan histologis, mengawetkan jaringan (Hariono 2009). Bahan fiksatif yang digunakan pada sediaan utuh semut adalah etanol sedangkan pada pembuatan sediaan utuh cacing adalah etanol ataupun formalin 4%. Penggunaan fiksatif tersebut karena kedua zat tersebut merupakan bahan pengencer yang memiliki sifat mampu menyebar ke dalam sel. Menurut Effendi (1997) bahan-bahan lain yang dapat digunakan sebagai fiksatif antara lain asam asetat, asam pikrat, asam kromik, potassium dikromat, merkuri klorida, kadmium klorida, kobalt nitrat, osmium tetrasoksida, dan aseton.
Pada proses dehidrasi dilakukan penambahan bahan berupa etanol bertingkat. Pemindahan jaringan dari alkohol dilakukan dengan memulainya pada konsentrasi yang rendah ke konsentrasi tinggi. Fungsi dari dehidrasi untuk menghilangkan atau mengambil air yang berada di dalam jaringan.
Penjernihan dilakukan dengan memindahkan spesimen dari alkohol absolut ke dalam bahan penjernih. Bahan penjernih yang digunakan pada sediaan semut berupa xilol sedangkan pada sediaan lainnya digunakan dua bahan penjernih yaitu laktofenol dan xilol. Tujuan dari penjernihan adalah menjadikan struktur tubuh spesimen terlihat jelas pada saat pengamatan menggunakan mikroskop (Effendi 997). Proses penjernihan dilakukan dalam waktu lima menit dikarenakan waktu yang terlalu lama menyebabkan sediaan menjadi rapuh. Bahan lain yang dapat digunakan sebagai penjernih adalah toluol dan benzen.
Sediaan utuh yang dibuat dari empat spesies tersebut merupakan sediaan permanen. Hal ini dikarenakan pada masing-masing sediaan diberikan entelan sebagai perekat. Pembuatan sediaan dilakukan dengan menggunakan empat spesies yaitu semut, Sagitta sp., Lucifer, dan cacing pipih.
Semut memiliki tiga bagian tubuh yang terbagi menjadi kepala, toraks, dan abdomen. Dengan menggunakan mikroskop perbesaran 4x10 dapat teramati beberapa bagian semut yaitu mata, antena, tungkai, gaster, dan stinger. Mata berfungsi sebagai organ visual pada semut sedangkan antena berfungsi sebagai organ sensoris. Dengan adanya tungkai memungkinkan semut dapat melakukan lokomosi. Jumlah tungkai pada semut adalah tiga pasang. Bagian abdomen yang teramati adalah stinger dan gaster. Sebagian bagian abdomen tertutupi oleh gelembung udara berwarna cokelat. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan dalam penutupan kaca penutup pada kaca objek. Bagian tubuh pada semut yang tidak dapat diamati adalah mandibula. Hal ini dikarenakan letak dari mandibula yang berada di bagian bawah ventral sehingga tertutupi oleh bagian tubuh dorsal.
Menurut Terazaki (1997) Sagitta sp. merupakan hewan yang hidup di perairaan laut mulai dari dasar laut hinga ke zona pelagic. Peranan hewan tersebut ialah sebagai predator primer heawan copepoda. Ukuran tubuh makanannya antara 1mm hingga 3,5 m (Davis 1995). Hal in sesuai dengan ukuran mulut dari Sagitta yang berukuran kecil. Bagian tubuh dari Sagitta sp. terbagi menjadi tiga yaitu kepala, badan, dan ekor. Dari gambar hasil pengamatan bagian tubuh yang dapat teramati dengan jelas adalah caudal fin. Sirip kaudal merupakan salah satu sirip pada Sagitta yang membantu dalam pergerakan. Hasil dari pembuatan sediaan utuh Sagitta sp. tidak terlalu jelas dikarenakan hewan tersebut mendapatkan perlakuan yang berlebihan sehingga bagian tubuhnya hancur dan sulit untuk diamati.
Simpulan
Pembuatan sediaan hewan secara utuh dengan metode Whole Mount telah berhasil dilakukan. Tahap-tahap yang dilakukan meliputi fiksasi, dehidrasi bertingkat, pewarnaan, clearing, dan penata letakkan di gelas objek. Preparat-preparat hewan dari kelompok cacing pipih, sagitta sp., lucifer sp., dan semut dapat diamati bagian-bagiannya dengan cukup jelas di bawah mikroskop. Walaupun bagian abdomen pada semut tidak begitu terlihat dan mandibulanya juga tidak teramati, karena tertutup bagian tubuh dorssal.
Daftar Pustaka
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-waladhafas-5321-2-bab2.pdf
Bavender D. 1998. Dasar-dasar Histologi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Budiono JD. 1992. Pembuatan Preparat Mikroskopis. Surabaya: IKIP Press. Davis CC. 1995. The Marine and Freshwater Plankton. New York:
Michigan State University Press.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara. Hariono B. 2009. Mikroskopi Elektron: Pengenalan dan Teknik Preparasi.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Robby N et. al. 2000. Histologi Ikan. Makasar:Universitas Makassar Press. Sugiri Nawangsari. 1988. Zoologi Avertebrata I. Bogor: PAU-IPB.