BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion yang melewati insang dan pada beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam (Stickney, 1979 dalam Bestian, 1996). Sedangkan menurut Kinne (1964) dalam Bestian (1996), kemampuan osmoregulasi bervariasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip. Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal (Raharjo, 1970 dalam Bestian, 1996). Menurut Affandi dan Usman (2002), ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. Pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh pada ikan ini disebut osmoregulasi.
Menurut Gilles dan Jeuniaux (1979), Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi dalam dua cara yang berbeda, yaitu :
1. Usaha untuk menjaga konsentrasi osmotik cairan di luar sel (ekstraseluler). Agar tetap konstan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.
Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan karena kondisi tubuhnya hipertonik, shingga ikan banyak mengeksresikan air dan menahan ion (Boyd, 1990 dalam Arista, 2001). Menurut Affandi dan Usman (2002), organisme air dibagi menjadi dua kategori sehubungan dengan mekanisme fisiologisnya dalam menghadapi tekanan osmotik air media, yaitu :
1. Osmonkonformer; adalah organisme air yang secara osmotik labil dan mengubah-ubah tekanan osmotik cairan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan tekanan osmotik air media hidupnya.
2. Osmoregulator, adalah organisme air yang secara osmotik stabil (mantap), selalu berusaha mempertahankan cairan tubuhnya pada tekanan osmotik yang relatif konstan, tidak perlu harus sama dengan tekanan osmotik air media hidupnya.
Secara umum dikatakan bahwa cairan tubuh golongan ikan elasmobranchii mempunyai tekanan osmotik yang lebih besar dari lingkungannya. Tekanan osmotik tubuhnya sebagian besar tidak disebabkan oleh garam-garam, melainkan oleh tingginya kadar urea dan Tri Meilamin Oksida (TMAO) dari tubuh. Karena cairan tubuh yang hiperosmotik terhadap lingkungannya, golongan ikan ini cenderung menerima air lewat difusi, terutama lewat insang. Untuk mempertahankan tekanan osmotiknya kelebihan air untuk difusi ini dikeluarkan melalui air seni (Affandi dan Usman, 2002).
nitrogen yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan air kencing hiu dan pari. Sewaktu penyaringan glomerulus melalui sepanjang tubuh ginjal, segmen-segmen khusus menyerap kembali urea (70 hingga 90 %), sehingga darah mengandung lebih kurang 350 mmol/l urea daelasmobranchii umumnya.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum Fisiologi Hewan Air mengenai Konsumsi Oksigen adalah akan menghitung konsumsi oksigen, jenis ikan yang punya alat bantu pernafasan.
1.3 Manfaat
Dapat mengetahui jumlah konsumsi oksigen pada beberapa Jenis Ikan Nila yang memiliki alat bantu pernafasan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Ikan Nila
Gambar 1. Ikan nila Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut: Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus.
Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.
2.2 Kelangsungan Hidup Ikan Nila
Kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan oleh kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Berkurangnya oksigen terlarut dalam perairan, tentu saja akanmempengaruhi fisiologi respirasi ikan, dan hanya ikan yang memiliki sistem respirasi yang sesuai dapat bertahan hidup (Fujaya, 2004). Menurut Ville, et. al (1988), konsumsi oksigen digunakan untuk menilai laju metabolisme ikan sebab sebagian besar energi berasal dari metabolisme aerobik. Menurut Fujaya (2004) Oksigen sebagai bahan pernapasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai metabolisme.
(Ville, et. al, 1988). Ikan dapat hidup di dalam air dan mengkonsumsi oksigen karena ikan mempunyai insang. Insang memberikan permukaan luas yang dibasahi oleh air. Oksigen yang terlarut di dalam air akan berdifusi ke dalam sel-sel insang ke jaringan ke sebelah dalam dari badan (Kimball, 1988).
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Osmoregulasi sangat penting pada hewan air karena tubuh ikan bersifat permeabel terhadap lingkungan maupun lautan garam. Sifat fisik lingkungan yang berbeda menyebabkan ada perbedaan proses osmoregulasi antara ikan air tawar dengan ikan air laut. Cairan tubuh ikan tawar mempunyai tekanan yang lebih besar dari pada lingkungannya, garam-garam cenderung ke luar. Sebaliknya ikan yang hidup di laut mempunyai tekanan osmotik yang lebih kecil dari pada lingkunganya, sehingga terdapat kecenderungan garam-garam masuk ke dalam tubuh dan air keluar. yang berasal dari keseimbangan air dan osmoregulasi (vitamins-guide 2004.) dan ditambahkan pula oleh Fujaya (1999) bahwa osmoregulasi adalah upaya mengontrol keseimbangan air dan ion – ion antara tubuh dan lingkungannya atau suatu proses pengaturan tekanan osmose. Hal ini penting dilakukan, terutama oleh organisme perairan karena;
a) Harus terjadi keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan; b) Membran sel yang permeabel merupakan tempat lewatnya beberapa
substansi yang bergerak cepat;
osmose dalam tubuhnya maka ikan akan mati, karena osmoregulasi sangat berfungsi dalam aspek kesehatan ikan (Fujaya,1999). Konsentrasi ion plasma pada ikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Osmoconformer adalah sebutan bagi hewan yang mampu memelihara keseimbangan antara cairan tubuh dengan keadaan lingkungan sekitar. Kebanyakan invertebrata laut adalah osmoconformer, dimana cairan tubuh mereka isotonik dari keadaan lingkungannya. Meskipun konsentrasi relatif dari garam dan cairan tubuh mereka berubah – ubah dibandingkan air laut, dalam kasus ini hewan juga harus mengatur tingkat ion internal (Djawad, dkk, 2007).
lebih tinggi dari kadar garam darah, efek sebaliknya akan terjadi, air akan keluar dari tubuh ikan, dan garam masuk kedalam darah, akibatnya ikan terdehidrasi dan akhirnya mati.
Pada kadar garam yang tinggi, garam sendiri akan berfungsi untuk mematikan penyakit terutama yang diakibatkan oleh jamur dan bakteri. Meskipun demikian lama pemberiannya harus diperhatikan secara seksama agar jangan sampai ikan mengalami dehidrasi. Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion melewati insang dan beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam. Kemampuan osmoregulasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip. Insang ikan bersifat permeabel terhadap air dan garam. Di dalam laut salinitasnya lebih besar daripada dalam cairan tubuhnya. Pada lingkungan air keluar, tetapi garam berdifusi kedalam. Ikan air laut minum air dalam jumlah yang banyak dan mengeluarkan sedikit urin. Ikan air tawar, garam akan memasuki insang dan dalam jumlah yang banyak air akan masuk lewat kulit ikan dan insang. Hal ini karena kadar garam di dalam tubuh ikan (mendekati 0.5%) yang lebih tinggi daripada konsentrasi air di mana ikan tersebut hidup. Karena tubuh ikan akan berusaha agar proses difusi antara air kedalam tubuh ikan tetap berlangsung, sejumlah besar air dikeluarkan oleh ginjal. Sebgai hasilnya bahwa konsentrasi garam pada urine sangat rendah ( Fujaya,1999)
Tingkat osmoregulasi
Tingkat osmoregulasi dipengaruhi oleh salinitas tertentu dan akan berpengaruh terhadap tingkat osmolalitas plasma, jika salinitasnya meningkat maka osmolalitas plasma juga meningkat sedangkan pada kapasitas osmoregulasinya semakin besar kadar salinitas suatu perairan maka semakin kecil nilai kapasitas osmoregulasinya.
Dalam osmoregulasi terdapat dua istilah yaitu eurihalin dan stenohalin. Eurihalin adalah kemampuan suatu organisme terhadap keadaan perubahan salinitas yang tinggi. Ikan yang tergolong dalam eurihalin adalah salah satunya ikan nila. Stenohalin adalah tingkat adaptasi yang sempit terhadap salinitas yang tinggi. Contoh organisme yang bersifat stenohalin salah satunya adalah ikan nilam.
organ-organ osmoregulasi seperti insang, intestine dan ginjal. Pada level jaringan dan sel, bila kan berpindah ke lingkungan laut, sel klorida tipe air tawar hilang, sedangkan sel klorida tipe air laut berdiferensiasi pada insang.
Tidak ada organisme yang hidup di air tawar tidak melakukan osmoregulasi. Sedangkan pada ikan air laut, beberapa diantaranya hanya melakukan sedikit upaya untuk mengontrol tekanan osmose dalam tubuhnya. Semakin jauh perbedaan tekanan osmose antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energy metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, namun tetap ada batas toleransi.
a. Kapasitas osmoregulasi > 1 disebut Hiperosmotik. b. Kapasitas osmoregulasi = 1 disebut Isoosmotik. c. Kapasitas osmoregulasi < 1 disebut hipoosmotik.
Untuk ikan-ikan potadrom yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya dalam proses osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke lingkungan dengan cara difusi. Keseimbangan cairan tubuhnya dapat terjadi dengan cara meminum sedikit air atau bahkan tidak minum sama sekali. Kelebihan air dalam tubuhnya dapat dikurangi dengan membuangnya dalam bentuk urin. Untuk ikan-ikan oseanodrom yang bersifat hipoosmotik terhadap lingkungannya, air mengalir secara osmose dari dalam tubuhnya melalui ginjal, insang dan kulit ke lingkungan, sedangkan ion-ion masuk ke dalam tubuhnya secara difusi. Sedangkan untuk ikan-ikan eurihalin, memiliki kemampuan untuk dengan cepat menyeimbangkan tekanan osmotik dalam tubuhnya dengan media (isoosmotik), namun karana kondisi lingkungan perairan tidak selalu tetap, maka proses ormoregulasi seperti halnya ikan potadrom dan oseanodrom tetap terjadi.
System Osmoregulasi
Sistem Osmoregulasi ialah sistem pengaturan keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh (air dan darah) dengan tekanan osmotik habitat (perairan). Tekanan osmotik adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel (proses osmosis).
Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari lingkungannya dengan cara osmosis, terjadi sebagai akibat dari kadar garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungannya. Insang ikan air tawar secara aktif memasukkan garam dari lingkungan ke dalam tubuh. Ginjal akan memompa keluar kelebihan air sebagai air seni. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam tidak melarut dan lolos ke dalam air.
Ginjal mempunyai glomeruli dalam jumlah banyak dengan diameter besar. Ini dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa air seni sebanyak-banyaknya. Ketika cairan dari badan malpighi memasuki tubuli ginjal, glukosaakan diserap kembali pada tubuli proximallis dan garam - garam diserap kembali pada tubuli distal. Dinding tubuli ginjal bersifat impermiable (kedap air, tidak dapat ditembus) terhadap air. read more>>
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Fisologi Hewan Air mengenai konsumsi oksigen (O2) Ikan Nila dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Oktober 2014 pada Pukul 14.20-15.30 WIB, di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UniversitasPadjadjaran.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat
1. Wadah plastic, untuk tempat percobaan
2. DO Meter atau seperangkat alat titrasi dengan metode Winkler 3. Jam tangan, untuk penunjuk waktu
4. Timbangan, untuk mengukur bobot ikan
5. Cling wrap, bahan pelapis/penutup terbuat dari lastic
3.2.2 Bahan 1. Ikan lele
2. Reagen untuk titrasi oksigen terlarut dengan metode Winkler
3.3 Prosedur Kerja 3.3.1 Cara Kerja
1. Siapkan wadah plastic yang telah terisi air penuh
2. Ukur oksigen terlarutnya dengan menggunakan DO meter atau titrasi metode Winkler, catat hasilnya.
3. Timbang ikan lalu catat bobotnya
4. Masukan ikan dengan hati-hati tanpa ada air yang memercik 5. Tutup wadah percobaan dengan cling wrap, agar tidak ada kontak
dengan udara luar
7. Setelah selesai, penutup lastic dibuka, ikan dipindahkan secara hati-hati, jangan sampai terjadi percikan air, lalu ukur oksigen terlarut pada media air wadah percobaan tersebut dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil
1.1.1 Data Kelompok
Tabel 1. Hasil Praktikum Konsumsi Oksigen Ikan Nila Kelompok 1
No Bobot Ikan
Tabel 2. Data praktikum Konsumsi Oksigen Perikanan Kelas A 2013
No BobotIkan DO Awal DO Akhir
21 35 4,8 4,3 0,028
Rata-Rata 30 4,6 3,6 0,058
Catatan :
Semua data adalah hasil pembulatan 1.3 Pembahasan
Pembahasan Data Hasil Kelompok Diketahui :
Berat ikan : 29,61 gram DOawal : 4,3 mg/l DOakhir : 3,7 mg/l
Ditanyakan : O2 yang digunakan? Jawab :
O2 yang digunakan = DOawal – DOakhir x 2 Bobot Ikan = 4,3 – 3,7 x 2
29,61 = 0,04 mg/l Diketahui :
- Ph : 7,7
- T : 26,3°c
- Berat Ikan : 29,61 gram
Ditanyakan : Perhitungan Tentang jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh ikan: O2 yang digunakan oleh Ikan Nila : O2 yang digunakan x 60 x 2
O2 yang digunakan oleh Ikan Nila : 0,04 x 60 x 2 30
: 0,16 mg/l
Data Hasil Praktikum konsumsi oksigen pada Ikan Nila selama 30 menit adalah 0,16 mg/l.
Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan konsumsi oksigen ikan nila dengan bobot badan 29,61 g adalah sebesar 0,16 mg/g/jam. Berat ikan dan volume ikan dapat berpengaruh terhadap konsumsi oksigen. Hewan akuatik konsentrasi oksigennya tidak lebih dari 1ml/100 ml air, maka untuk memenuhi kebutuhan oksigen, hewan akuatik harus menyentuhkan insangnya pada aliran air lebih banyak (Kimball, 1988).
adalah 0,05. Pada kelompok 8 dan 9 memiliki berat yang 40 gram dan 22 gram. Dan dengan Do awal yg sama yaitu 4,3 serta hasil akhir DO yaitu 3,8 dan 3,6 dan hasil akhir konsumsi hewan uji yaitu 0,024 dan 0,063 mg/l.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Praktikum konsumsi oksigen pada ikan nila yang telah dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2014 dapat disimpulkan bahwa konsumsi oksigen dipengaruhi oleh bobot, umur, ukuran, gerakan ikan serta tingkat stress yang dialami hewan uji. Ikan yang memiliki bobot, ukuran yang lebih besar , umur yang lebih tua, gerakan ikan yang pasif serta tingkat stress rendah yang dialami ikan akan menyebabkan proses respirasi ikan nila lebih lambandibandingkan dengan ikan yang bobotnya lebih ringan, umur lebih muda, ikan yang aktif dan ikan yangmengalami stress
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Awaluddin,2007.Diktat Pembelajaran Kualitas Air.Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Bone. Bone
Anonim, 2010. Air Sebagai Lingkungan Hidup. http://akuakulturunhas. blogspot.com/diakses pada tanggal 17 Maret 2010.
Anonim, 2010. Ikan Mas. http://id.wikipedia.org/wiki/ diakses pada tanggal 17 Maret 2010.
http://www.slideshare.net/rahulustad12/laporanpraktikum2kelompok18-121030235028phpapp01
http://putraderita.blogspot.com/2012/03/konsumsi-oksigen.html
Gambar 1
Gambar 2