KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“Hukum Pemerintah Daerah” ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah.
Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan mengenai
“” bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terimakasih kepada., selaku dosen pengampu mata kuliah sekaligus pembimbing materi. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua anggota kelompok 3 yang telah membantu dalam pembuatan makalah yang berjudul “Hukum dan pemerintah” dengan tepat waktu.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, bahkan jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami selalu mengharapkan kritik dan saran dari segenap pembaca, pemakainya agar tercipta makalah yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi pembacanya dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan serta peningkatan ilmu pengetahuan untuk kita semua.
Wassalamualaikum wr.wb.
, 10 Oktober 2022
Pemakalah
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemerintahan daerah merupakan salah satu pilar penting dalam struktur pemerintahan negara yang berfungsi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di wilayahnya secara mandiri, sesuai dengan prinsip otonomi daerah. Otonomi daerah di Indonesia diperkuat dengan adanya Undang- Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang memberikan kewenangan lebih besar kepada pemerintah daerah dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan kepentingan lokal tanpa campur tangan berlebihan dari pemerintah pusat.
Namun, pelaksanaan otonomi daerah tidak selalu berjalan mulus.
Beberapa tantangan, seperti tumpang tindih regulasi, penyalahgunaan wewenang, korupsi, dan rendahnya kapasitas aparatur pemerintah daerah, kerap menjadi penghambat dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel. Masalah ini menunjukkan bahwa penerapan hukum pemerintahan daerah masih memerlukan penyempurnaan agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat setempat dan mencapai tujuan pembangunan nasional.
Selain itu, dinamika politik lokal yang seringkali dipengaruhi oleh kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, dan kurangnya pengawasan serta penegakan hukum terhadap pelanggaran oleh aparat pemerintah daerah, menambah kompleksitas dalam pelaksanaan hukum di tingkat daerah. Kondisi ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mengganggu proses pembangunan daerah yang seharusnya berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip good governance.
Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai hukum pemerintahan daerah sangat penting untuk memastikan bahwa prinsip otonomi daerah dapat berjalan sebagaimana mestinya. Studi mengenai hukum pemerintah daerah menjadi penting dalam upaya memperbaiki regulasi,
iv
meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan daerah, dan mengoptimalkan peran pemerintah daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Makalah ini akan membahas berbagai aspek hukum pemerintahan daerah, tantangan yang dihadapi, serta solusi yang dapat diambil untuk memperkuat pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengertian dan terminology pemerintah daerah?
2. Apa yang dimaksut daerah otonom dan otonomi daerah?
3. Bagaimana konsep teori pemekaran daerah?
C. Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian dan terminology pemerintah daerah 2. Untuk mengetahui perbedaan daerah otonom dan otonomi daerah 3. Untuk mengetahui konsep teori pemekaran
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis, makalah ini dapat dijadikan kajian awal untuk melakukan penulisan selanjutnya.
2. Bagi fakultas, makalah ini bisa membantu untuk meningkatkan proses pengetahuan mahasiswa pada materi yang berjudul pemerintah daerah 3. Bagi pembaca, dengan adanya penulisan makalah ini dapat membantu
dalam penyampaian materi pemerintah daerah
v
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemerintah daerah
Pemerintah daerah di Indonesia adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Prinsip ini diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Beberapa pengertian pemerintah daerah menurut undang-undang antara lain :
a. UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah merupakan Penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Negara Tahun 1945.
b. UU No. 23/2014 tentang Pemerintah Daerah Pemerintah Daerah merupakan kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
c. UU No. 9/2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
Dalam strukturisasi, pemerintah memiliki tingkatan. Tingkatan pemerintahan daerah di Indonesia terdiri dari beberapa level yang berfungsi dalam mengatur dan mengelola urusan pemerintahan di wilayah masing-masing. Berikut adalah tingkatan pemerintahan daerah:
vi
- Pemerintah Provinsi yang dipimpin oleh Kepala Daerah yaitu Gubernur. Dalam pemerintahan provinsi terdapat pula Legislatif yang berisi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (DPRD Provinsi) memiliki kewenangan: Mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di tingkat provinsi, termasuk perencanaan pembangunan daerah, pelayanan publik, dan koordinasi antar kabupaten/kota dalam provinsi. Pemerintah provinsi juga berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dalam pelaksanaan kebijakan nasional di daerah.
- Pemerintah Kabupaten/Kota: dipimpin oleh kepala daerah yaitu Bupati (untuk kabupaten) atau Wali Kota (untuk kota). Serta di dalamnya ada tim Legislatif yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota (DPRD Kabupaten/Kota). Memiliki kewenangan:
Mengelola urusan pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat, seperti pendidikan dasar, kesehatan, pekerjaan umum, dan perizinan. Kabupaten cenderung memiliki wilayah yang lebih luas dan mencakup wilayah pedesaan, sementara kota lebih berfokus pada wilayah urban dengan pelayanan publik yang lebih intensif.
- Pemerintah Desa/Kelurahan:
Kepala Pemerintahan: Kepala Desa (untuk desa) atau Lurah (untuk kelurahan)
Badan Permusyawaratan Desa (BPD): Berfungsi sebagai badan legislatif di tingkat desa yang berperan dalam penetapan peraturan desa bersama kepala desa.
Kewenangan: Mengatur urusan pemerintahan desa, pelayanan masyarakat, dan pelaksanaan pembangunan desa sesuai dengan kebutuhan lokal. Pemerintah desa memiliki kewenangan adat dan tradisi
vii
yang kuat, sedangkan kelurahan lebih administratif dan merupakan bagian dari kota atau kabupaten.
Keberadaan tingkatan pemerintahan ini memungkinkan pengelolaan yang lebih efektif terhadap urusan daerah dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan, sehingga tercipta tata kelola pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Pemerintah daerah pastinya memiliki berbagai macam fungsi.:
Fungsi pemerintah daerah dapat diartikan sebagai perangkat daerah menjalankan, mengatur dan menyelenggarakan jalannya pemerintahAN. Fungsi pemerintah daerah menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 adalah:
- Pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
- Menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintahan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah.
- Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah.
Dimana hubungan tersebut meliputi wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya.
B. Asas-asas penyelenggaraan pemerintah 1. Desentralisasi
Desentralisasi adalah proses pelimpahan wewenang atau kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau lembaga yang lebih rendah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di wilayahnya secara lebih mandiri. Tujuannya adalah untuk memberikan fleksibilitas kepada daerah dalam menangani masalah-masalah yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lokal. Menurut UUD, Pasal 1 huruf E dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
viii
mendefinisikan “Desentralisasi” sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pasal 1 Nomor 7 dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mendefinisikan “Desentralisasi”
sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Manfaat Desentralisasi
a. Peningkatan Efisiensi: Karena daerah lebih mengenal kebutuhan lokal, keputusan bisa dibuat lebih cepat dan sesuai dengan kondisi setempat.
b. Partisipasi Masyarakat: Dengan adanya desentralisasi, masyarakat dapat lebih terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkat lokal.
c. Pemerataan Pembangunan: Setiap daerah memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.
d. Peningkatan Pelayanan Publik: Pemerintah daerah memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan warga.
Contoh desentralisasi yaitu :
Berikut adalah beberapa contoh konkret desentralisasi di Indonesia:
1. Pemerintah Daerah Mengelola Pendidikan Dasar dan Menengah:
o Contoh: Pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan untuk mengatur sekolah dasar dan menengah (SD dan SMP), termasuk dalam pengelolaan guru, kurikulum lokal, dan fasilitas pendidikan.
Pemerintah daerah dapat menentukan kebijakan terkait pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, seperti memasukkan muatan lokal bahasa daerah dalam kurikulum.
2. Pengelolaan Kesehatan oleh Pemerintah Daerah:
o Contoh: Dinas Kesehatan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota bertanggung jawab mengelola pelayanan kesehatan masyarakat,
ix
seperti puskesmas dan rumah sakit daerah. Pemerintah daerah dapat membuat program kesehatan khusus yang sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat setempat, seperti program penanggulangan gizi buruk atau pemberantasan penyakit endemik.
3. Pengaturan dan Pengelolaan Perizinan Usaha di Daerah:
o Contoh: Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengeluarkan izin usaha, izin mendirikan bangunan (IMB), dan izin lainnya yang relevan dengan kegiatan ekonomi di wilayahnya. Hal ini membantu mempercepat proses perizinan dan mempermudah investasi lokal.
4. Pengelolaan Keuangan Daerah:
o Contoh: Pemerintah daerah memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang digunakan untuk membiayai program pembangunan lokal. Dana tersebut berasal dari pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan, dan bantuan dari pusat. Daerah memiliki kewenangan untuk menentukan prioritas alokasi anggaran berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat.
5. Pengelolaan Sumber Daya Alam oleh Pemerintah Daerah:
o Contoh: Pemerintah provinsi memiliki kewenangan mengelola sumber daya alam seperti pertambangan, kehutanan, dan perikanan di wilayahnya, sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Misalnya, pemerintah daerah dapat mengatur izin penambangan atau penggunaan lahan hutan.
6. Pengembangan Pariwisata Lokal:
o Contoh: Pemerintah daerah berwenang mengembangkan potensi pariwisata daerah dengan membangun infrastruktur, promosi wisata, dan mengelola tempat wisata lokal. Ini memungkinkan daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah melalui sektor pariwisata.
7. Kewenangan dalam Pengelolaan Transportasi Lokal:
o Contoh: Pengaturan angkutan kota, bus lokal, dan fasilitas transportasi publik diatur oleh pemerintah daerah, yang memiliki kewenangan dalam menetapkan rute, tarif, dan regulasi operasional.
x
2. Dekonsentrasi
adalah salah satu bentuk desentralisasi di mana pemerintah pusat melimpahkan sebagian kewenangan administratifnya kepada pejabat atau instansi pemerintah yang berada di tingkat daerah, tetapi tetap dalam struktur dan kendali pemerintah pusat. Dalam dekonsentrasi, wewenang dan tanggung jawab diserahkan kepada aparat yang berada di wilayah (provinsi, kabupaten, atau kota), tetapi mereka tetap merupakan bagian dari hierarki pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah. Berikut adalah beberapa contoh konkret dari dekonsentrasi yang terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan:
1. Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian di Daerah:
o Contoh: Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) yang ada di setiap provinsi.
Meskipun berada di daerah, Kanwil Kemenkumham tetap merupakan bagian dari struktur pemerintah pusat dan menjalankan tugas atas nama Kementerian Hukum dan HAM.
2. Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah:
o Gubernur tidak hanya berfungsi sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai wakil pemerintah pusat di provinsi. Dalam kapasitas ini, gubernur bertugas mengoordinasikan program-program nasional dan pelaksanaan kebijakan pusat di wilayahnya.
3. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian di Daerah:
o Contoh: Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) yang berada di bawah Kementerian Kesehatan. Meskipun lokasinya di daerah, BBPK menjalankan program pelatihan yang ditentukan oleh pemerintah pusat.
4. Badan Pusat Statistik (BPS) di Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota:
o Kantor BPS di daerah mengumpulkan data statistik sesuai dengan program pemerintah pusat. Meskipun beroperasi di daerah, kantor- kantor ini tetap merupakan bagian dari struktur pusat yang melayani kebutuhan data nasional.
xi
5. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS):
o Berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, balai ini melaksanakan pengelolaan lingkungan di daerah tertentu tetapi tetap mengacu pada kebijakan pusat.
6. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN):
o Balai ini berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan bertanggung jawab atas pembangunan dan pemeliharaan jalan nasional di daerah.
7. Kantor Pertanahan di Kabupaten/Kota:
o Bagian dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang beroperasi di tingkat kabupaten/kota untuk mengelola urusan pertanahan berdasarkan kebijakan pusat.
Dalam semua contoh ini, meskipun instansi atau pejabat beroperasi di tingkat daerah, mereka tetap bekerja di bawah kendali dan arahan pemerintah pusat. Hal ini memudahkan penyelenggaraan administrasi di daerah sekaligus memastikan bahwa kebijakan nasional terlaksana secara efektif di seluruh wilayah.
Manfaat dekonsentrasi
Berikut adalah manfaat utama dari dekonsentrasi:
1. Peningkatan Efisiensi Pelayanan Publik:
o Dengan adanya perwakilan pemerintah pusat di daerah, seperti kantor wilayah dan unit pelaksana teknis, pelayanan publik menjadi lebih dekat dan cepat diakses oleh masyarakat. Ini mengurangi birokrasi yang berbelit-belit dan mempercepat pengambilan keputusan di tingkat lokal.
2. Percepatan Implementasi Kebijakan Pusat:
o Dekonsentrasi memungkinkan kebijakan dan program pemerintah pusat untuk dilaksanakan secara efektif di daerah. Instansi atau pejabat yang berada di daerah dapat langsung menjalankan program- program pusat tanpa harus melalui prosedur yang panjang dari pusat ke daerah.
xii
3. Meningkatkan Koordinasi antara Pusat dan Daerah:
o Dekonsentrasi memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, karena ada perwakilan pusat di daerah yang memahami kondisi lokal dan dapat menyampaikan informasi langsung ke pusat. Hal ini memfasilitasi sinkronisasi kebijakan dan program antara pusat dan daerah.
4. Peningkatan Kapasitas Administratif di Daerah:
o Melalui dekonsentrasi, kapasitas administratif di daerah dapat ditingkatkan dengan transfer pengetahuan, teknologi, dan sistem kerja dari pusat ke daerah. Ini membantu daerah untuk lebih profesional dan terampil dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.
5. Perlindungan Terhadap Kepentingan Nasional:
o Dekonsentrasi memungkinkan pemerintah pusat menjaga kontrol terhadap urusan-urusan yang berkaitan dengan kepentingan nasional, seperti pertahanan, keamanan, dan pengelolaan sumber daya alam, sehingga tidak sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah daerah.
6. Mengurangi Beban Pemerintah Pusat:
o Dengan pelimpahan sebagian wewenang administratif, beban kerja pemerintah pusat dapat berkurang karena sebagian tugas operasional dijalankan oleh perwakilan pusat di daerah. Ini memungkinkan pemerintah pusat fokus pada fungsi perumusan kebijakan dan pengawasan.
7. Peningkatan Responsivitas Pemerintah:
o Dekonsentrasi memungkinkan pemerintah lebih responsif terhadap masalah yang terjadi di daerah, karena perwakilan pemerintah pusat di daerah dapat bertindak cepat dan tepat sesuai dengan kondisi lokal yang spesifik.
8. Memperpendek Jalur Birokrasi:
o Dengan adanya pelimpahan wewenang ke daerah, jalur birokrasi menjadi lebih pendek, sehingga masyarakat tidak perlu berurusan
xiii
langsung dengan kantor pusat yang jauh dan bisa mendapatkan layanan di daerahnya sendiri
C. Daerah otonom dan Otonomi Daerah 1. Daerah otonom
Daerah Otonom adalah Daerah di dalam suatu negara yang memiliki kekuasaan otonom, atau kebebasan dari pemerintah di luar daerah tersebut. Biasanya suatu daerah diberi sistem ini karena keadaan geografinya yang unik atau penduduknya merupakan minoritas negara tersebut, sehingga diperlukan hukum-hukum yang khusus, yang hanya cocok diterapkan untuk daerah tersebut. Menurut jenisnya, daerah otonom dapat berupa otonomi teritorial, otonomi kebudayaan, dan otonomi lokal. Di Indonesia, daerah otonom diartikan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu, yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di Indonesia, tidak dikenal lagi pembedaan antara pengertian daerah dan daerah otonom. Oleh karena semua daerah di Indonesia sejak dilaksanakannya otonomi daerah telah diberikan hak untuk menjadi daerah otonom. Setiap daerah di Indonesia memiliki hak untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya sendiri, di mana hak dan kewenangan tersebut diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan.Berikut termasuk wilayah untuk daerah otonom
xiv
Gambar 1 Daerah Otonom
2. Pengertian Otonomi Daerah
Otonomi Daerah adalah kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan prakarsa sendiri dan aspirasi masyarakat. Otonomi daerah bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dengan lebih mendekatkan layanan publik kepada masyarakat serta memungkinkan daerah untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal.
3. Prinsip-Prinsip Otonomi Daerah:
- Desentralisasi:
Pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur urusan pemerintahan di wilayahnya.
- Dekonsentrasi:
Sebagai pendukung, yaitu pelimpahan tugas administratif dari pemerintah pusat kepada perwakilan pusat di daerah.
- Tugas Pembantuan (Medebewind):
Kewajiban daerah untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dari pemerintah pusat yang bersifat membantu dan mendukung pelaksanaan kebijakan nasional.
Manfaat Otonomi Daerah:
- Peningkatan Pelayanan Publik:
xv
Otonomi daerah memungkinkan pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
- Pengembangan Potensi Lokal:
Daerah memiliki keleluasaan untuk mengelola sumber daya alam dan manusia sesuai dengan potensi lokal, yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat.
- Partisipasi Masyarakat yang Lebih Tinggi:
Otonomi daerah mendorong masyarakat untuk lebih terlibat dalam proses pengambilan keputusan melalui mekanisme demokrasi lokal, seperti pemilihan kepala daerah dan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang).
- Pemerataan Pembangunan:
Dengan kewenangan yang lebih besar, pemerintah daerah dapat menjalankan program pembangunan yang lebih merata dan adil sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
- Peningkatan Akuntabilitas dan Transparansi:
Otonomi daerah mendorong pemerintah lokal untuk lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat karena mereka memiliki kewenangan langsung atas kebijakan dan pengelolaan anggaran.
4. Tingkat Pemerintahan dalam Otonomi Daerah:
- Provinsi:
Dipimpin oleh gubernur, provinsi memiliki otonomi untuk mengatur urusan pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten/kota dalam wilayahnya, serta urusan yang ditugaskan oleh pusat.
- Kabupaten/Kota:
Dipimpin oleh bupati (kabupaten) atau wali kota (kota), pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan otonom yang lebih luas dibanding provinsi, termasuk dalam hal pelayanan publik dan pengelolaan sumber daya lokal.
xvi
- Urusan yang Diatur oleh Daerah:
Urusan Wajib: Urusan yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah, seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perhubungan, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat.
- Urusan Pilihan: Urusan yang dapat dijalankan daerah sesuai dengan potensi daerahnya, seperti pariwisata, pertanian, perikanan, dan industri.
- Tujuan Otonomi Daerah:
a. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat: Melalui pengelolaan sumber daya dan pemberian layanan publik yang lebih baik.
b. Memperkuat Demokrasi Lokal: Dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
c. Mempercepat Pembangunan Daerah: Dengan memaksimalkan potensi dan inovasi lokal dalam pembangunan.
Otonomi daerah adalah langkah penting dalam desentralisasi kekuasaan, yang memungkinkan daerah untuk lebih mandiri dan adaptif dalam menghadapi tantangan lokal, serta membantu memperkuat persatuan dan kesatuan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
5. Dasar Hukum Otonomi daerah
Dasar hukum otonomi daerah di Indonesia diatur oleh beberapa undang-undang dan peraturan yang menjadi landasan bagi pelaksanaan otonomi daerah. Berikut adalah dasar hukum yang utama:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945)
- Pasal 18: Menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi, dan provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang masing-masing memiliki pemerintahan daerah.
xvii
- Pasal 18A: Mengatur hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah, serta hubungan keuangan, pelayanan publik, dan pemanfaatan sumber daya alam.
- Pasal 18B: Menyatakan pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat serta hak- hak tradisional sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (sebagai pengganti UU No. 32 Tahun 2004). UU ini menjadi pedoman utama dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, yang mencakup pembagian urusan pemerintahan, kewenangan daerah, serta pengelolaan keuangan daerah.
c. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Mengatur pembagian keuangan antara pusat dan daerah, termasuk dana perimbangan, dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dan pendapatan asli daerah (PAD).
d. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Memberikan kewenangan dan otonomi kepada desa untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya berdasarkan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional.
e. Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Presiden (Perpres) Terkait: Beberapa PP dan Perpres yang berfungsi sebagai aturan pelaksana dari UU yang mengatur lebih rinci mengenai pelaksanaan otonomi daerah, pembagian urusan, keuangan daerah, dan hal-hal teknis lainnya.
f. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri): Mengatur hal-hal teknis pelaksanaan otonomi daerah yang lebih spesifik,
xviii
seperti mekanisme pengawasan, evaluasi kinerja, dan tata kelola pemerintahan daerah.
Dasar hukum ini memberikan landasan bagi pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan, meningkatkan pelayanan publik, dan mempercepat pembangunan daerah sesuai dengan prinsip-prinsip desentralisasi dan demokrasi lokal.
D. Pemekaran daerah
1. Konsep pemekaran daerah
Pemekaran wilayah merupakan pembagian kewenangan administratif dari satu wilayah menjadi dua atau beberapa wilayah. Pembagian tersebut juga menyangkut luas wilayah maupun jumlah penduduk sehingga lebih mengecil. Pemekaran wilayah dianalogikan sebagai model ekonomi persaingan sempurna dimana pemerintahan daerah memiliki kekuatan untuk mempertahankan tingkat pajak yang rendah, menyediakan pelayanan yang efisien, dan mengizinkan setiap individu masyarakatnya untuk mengekspresikan preferensinya untuk setiap jenis pelayanan dari berbagai tingkat pemerintahan yang berbeda dengan
”vote with their feet”. Komunitas lokal yang kecil lebih homogen, dan lebih mudah untuk mengimplementasikan kebijakan yang sesuai dengan preferensi sebagian besar masyarakatnya. Pemekaran juga mendukung adanya persaingan antar pemerintahan daerah dalam mendatangkan modal ke daerahnya masing-masing, dimana hal ini akan meningkatkan produktivitas. Pemekaran mendukung berbagai eksperimen/percobaan dan inovas. Pemekaran wilayah pada tahun 1999 ditentukan oleh pemerintah pusat dengan tahap persiapan yang cukup lama. Tahapan persiapan tersebut menyangkut penyiapan infrastruktur pemerintahan, aparatur pemerintah daerah hingga terbangunnya fasilitas-fasilitas umum. Sejak UU No. 22/1999 berlaku, pemerintah daerah dapat mengusulkan pemekaran wilayah asalkan memenuhi kriteria kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial-budaya, sosial-politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan pertimbangan lain yang
xix
memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Setelah UU No.
22/1999 direvisi dengan UU 32/2004 maka pengaturan teknis pemekaran wilayah diatur dalam PP No. 78 tahun 2007 tentang tata cara pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah yang memiliki persyaratan pemekaran wilayah yang lebih ketat dibandingkan PP No.
129 Tahun 2000.
a) Pemicu awal pemekaran daerah - Agama.
- Keberagaman Etnis Dan Budaya Yang Berbeda.
- Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi Antar Daerah.
- Luas Wilayah b) Tujuan pemekaran daerah
- Meningkatkan pelayanan pemerintah terhadap masyarakat.
- Mempercepat perekonomian daerah saat ini.
- Mencapai pertumbuhan ekonomi yang merata.
- Memaksimalkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam daerah.
- Meningkatkan keamanan dan ketertiban serta terciptanya kesejahteraan masyarakat
c) Dampak positif pemekaran daerah
Terbentuk pusat pemerintahan dengan adanya kantor gubernur, dinas-dinas, jumlah PNS bertambah, ada gedung DPRD, Polda, dll.
Kursi kekuasaan di eksekutif dan legislatif bertambah. Peredaran uang bertambah karena ada dana perimbangan, transfer dari APBN.
Rentang kendali pemerintahan provinsi ke kabupaten/kota makin dekat. Pelayanan ke publik makin dekat. Infrastuktur membaik, antara lain karena sejumlah ruas jalan akan berubah menjadi jalan nasional (jalan yang menghubungkan dua provinsi)
d) Dampak negatif pemekaran daerah
Konflik elit memperebutkan kursi kekuasaan. Potensi korupsi bertambah karena uang dari pusat bertambah. Masyarakat Sumut
xx
sebagai satu kesatuan wilayah, menjadi terpecah.
2. Berikut adalah syarat-syarat pemekaran daerah:
1. Persyaratan Administratif:
Usulan Pemekaran: Pemekaran harus diusulkan oleh pemerintah daerah setempat yang ingin dimekarkan, disetujui oleh DPRD, dan diajukan kepada pemerintah pusat.
Persetujuan Masyarakat: Harus ada persetujuan dari masyarakat di wilayah yang akan dimekarkan melalui mekanisme musyawarah atau survei.
Persetujuan DPRD dan Gubernur/Bupati/Walikota: Usulan pemekaran memerlukan persetujuan resmi dari DPRD dan kepala daerah, seperti gubernur, bupati, atau wali kota.
2. Persyaratan Teknis:
Kemampuan Ekonomi: Daerah baru harus memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, termasuk potensi sumber daya alam, industri, dan sektor ekonomi lainnya.
Kependudukan: Harus memenuhi batas minimum jumlah penduduk yang ditetapkan sesuai dengan jenis pemekarannya, seperti kabupaten atau kota.
Misalnya, jumlah minimal penduduk untuk pembentukan kabupaten berbeda dengan kota.
Luas Wilayah: Daerah baru harus memiliki luas wilayah yang cukup sesuai dengan ketentuan, memastikan bahwa wilayah tersebut dapat diatur dan dikelola dengan efektif.
Potensi Daerah: Memiliki potensi yang cukup di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan yang mendukung pembentukan daerah baru.
xxi
3. Persyaratan Fisik dan Geografis:
Letak Geografis yang Jelas: Wilayah yang akan dimekarkan harus memiliki batas-batas geografis yang jelas dan diakui, yang memudahkan dalam pengelolaan administrasi dan pelayanan.
Aksesibilitas: Daerah baru harus memiliki akses yang memadai ke infrastruktur dan layanan dasar seperti jalan, komunikasi, dan transportasi untuk mendukung aktivitas ekonomi dan pemerintahan.
4. Persyaratan Kelayakan:
Studi Kelayakan: Pemekaran harus didasarkan pada studi kelayakan yang mencakup kajian teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan yang menunjukkan bahwa pemekaran akan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dampak Lingkungan: Pemekaran harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan memastikan bahwa pengelolaan lingkungan akan dilakukan secara berkelanjutan.
5. Persyaratan Khusus untuk Pembentukan Provinsi, Kabupaten, dan Kota:
Pembentukan Provinsi:
o Harus ada minimal lima kabupaten/kota dalam provinsi baru.
o Memiliki jumlah penduduk, potensi ekonomi, dan kemampuan fiskal yang memadai.
Pembentukan Kabupaten:
o Minimal memiliki jumlah kecamatan yang ditentukan oleh peraturan, potensi ekonomi, dan kemampuan untuk membiayai operasional pemerintahannya.
Pembentukan Kota:
xxii
o Memiliki fungsi utama sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, sosial, dan budaya, dengan batasan jumlah penduduk dan luas wilayah tertentu.
6. Persyaratan Pengelolaan Keuangan:
Kemandirian Fiskal: Daerah baru harus mampu mengelola keuangannya dengan baik, termasuk dalam pengelolaan pendapatan asli daerah (PAD) dan efisiensi anggaran.
Pemenuhan semua persyaratan ini sangat penting untuk memastikan bahwa pemekaran daerah dilakukan dengan pertimbangan yang matang, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam pembahasan makalah ini, telah dijelaskan berbagai aspek mengenai pemerintah daerah, yang mencakup pengertian, perbedaan antara otonom dan
xxiii
daerah otonomi, serta pemekaran wilayah. Pengertian pemerintah daerah merujuk pada lembaga yang bertugas mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di tingkat daerah sesuai dengan prinsip otonomi yang diberikan oleh pemerintah pusat, dan memiliki peran penting dalam mewujudkan pelayanan publik yang efektif, pengembangan ekonomi lokal, serta partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Perbedaan antara otonom dan daerah otonomi terletak pada konteks penggunaan istilah, di mana otonomi merujuk pada hak dan wewenang yang dimiliki daerah untuk mengatur urusannya sendiri, sedangkan daerah otonomi adalah wilayah yang diberikan hak otonomi tersebut, sehingga daerah otonomi merupakan manifestasi dari prinsip otonomi yang diatur dalam undang-undang untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dalam menjalankan pemerintahan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pemekaran wilayah menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan efektivitas pemerintahan daerah, bertujuan untuk mendekatkan pelayanan publik, mempercepat pembangunan, dan meningkatkan partisipasi masyarakat, namun harus memenuhi syarat administratif, teknis, dan kelayakan untuk menghindari dampak negatif seperti konflik birokrasi dan ketimpangan pembangunan. Secara keseluruhan, pemahaman yang jelas tentang pemerintah daerah, otonomi, dan pemekaran wilayah sangat penting untuk menciptakan pemerintahan yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga pemerintah daerah dapat berfungsi sebagai pendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal
B. Saran
Penulis tentu menyadari bahwa laporan ini masih banyak sekali kesalahan dan sangat jauh dari kata sempurna. Tentunya penulis akan terus memperbaiki laporan dengan mengacu pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan nantinya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung untuk terus melakukan perbaikan selanjutnya.
xxiv
DAFTAR PUSTAKA
xxv