• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN IMAM SYAFI’I DAN IMAM MALIK TENTANG QARDH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PEMIKIRAN IMAM SYAFI’I DAN IMAM MALIK TENTANG QARDH "

Copied!
105
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Definisi Istilah/Pengertian Judul

Nama penuhnya ialah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Uthman bin Syafi' bin Sa'ib bin Abu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Manaf. 7 Lebih dikenali sebagai Imam Asy-Syafi'i, pengasas mazhab Syafi'i dan termasuk dalam golongan Quraisy, Hasyimi dan keluarga besar Rasulullah. Menurut Ensiklopedia Islam, Imam Asy-Syafi'i boleh disifatkan sebagai mempunyai keseimbangan yang baik dengan menjadi perantara antara ulama hukum yang bebas dan ahli hadis. Sumber hukum yang digunakan oleh Imam Asy-Syafi’i adalah Al-Qur’an, begitu juga hadis sebagai petunjuk hukum.

Nama lengkapnya Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Anas bin Al Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin Al Harits Al Ashbahiy Al Humairiy. Imam Malik merupakan salah satu pendiri mazhab yang ajarannya dikodifikasi dan dikenal di seluruh dunia Islam. Imam Malik bin Anas adalah seorang yang shaleh, sangat sabar, ikhlas dalam amalnya, mempunyai daya ingat dan hafalan yang kuat serta teguh dalam keyakinannya.

Imam Malik menggunakan Al-Quran, Sunnah Nabi saw, Ijmak dan Qiyas sebagai sumber hukum. Tambahan pula, Imam Malik terkenal menggunakan prinsip maslahat dalam fatwanya, sehingga hampir sama dengan maslahat dan maslahat hampir sama dengannya.

Tinjauan Penelitian Relevan

Sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti selanjutnya lebih fokus pada pemikiran Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik tentang qardh. Silvia Noviyanti dalam tesisnya yang berjudul “Hukum Penegakan Akad Piutang (Qardh) yang Tidak Benar Menurut Imam Syafi’i (Studi Kasus di Desa Gunung Tua Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal)”. Sedangkan yang membedakan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti selanjutnya adalah penelitian terdahulu lebih fokus pada hukum pelaksanaan akad utang (qardh) yang tidak proporsional menurut Imam Syafi' (Studi kasus pada Desa Gunung Tua, Kecamatan Panyabungan.

16Silvia Noviyanti, “Hukum Penerapan Akad Utang (Qardh) yang Tidak Seimbang Menurut Imam Syafi’i (Studi Kasus di Desa Gunung Tua Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal)” (skripsi; Hasbi dalam disertasinya yang berjudul “Praktik Piutang Utang dalam perspektif ekonomi syariah di Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar.” Selain itu, penelitian terdahulu lebih fokus pada praktik debitur dalam perspektif ekonomi syariah di Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar.

Sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti lebih fokus pada pemikiran Imam Asy-Syafi'i dan Imam Malik tentang qardh. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti lebih fokus pada pendapat Imam Asy-Syafi'i dan Imam Malik tentang qardhi.

Landasan Teori

Secara istilah qardh adalah akad meminjamkan harta kepada seseorang yang akan dikembalikan sama dengan yang diperolehnya. Pada dasarnya prinsip dalam qardh ini adalah saling tolong menolong sebagai suatu perilaku baik yang sangat dianjurkan untuk dilakukan, dalam hal ini seseorang. Allah juga menjanjikan kebaikan kepada orang yang suka membantu orang lain dalam hal hutang ini.

Seperti yang kita sedia maklum, qardh (hutang/pinjaman) adalah perkara yang baik yang diperintahkan oleh Allah kerana ia dapat mengurangkan kesusahan dan dapat memupuk rasa prihatin terhadap orang lain sebagai makhluk sosial. 3). Bagi aqidah mukridhi dan muktaridhi, disyaratkan orang yang dibenarkan bertasarfur atau ahliyatul berada di situ. Menurut jumhur ulama yang terdiri daripada Malik, Syafii dan Hanabilah, objek akad dalam al-kardh adalah sama dengan objek akad salam, baik berupa benda yang disukat (makilat) mahupun yang ditimbang. (mauzunas), serta qimias (barangan yang tiada tandingannya di pasaran).

Seperti binatang, barang dan benda yang dikira, atau dengan kata lain semua benda yang boleh dijadikan barang jualan juga boleh dijadikan objek kontrak. Manakala kenyataan sahih Imam Syafi'i dan Hanabilah pemilikan dalam qardh berlaku apabila barang diterima. Padahal dahulu bukan adat memberi hadiah kepada orang yang memberi pinjaman, dan tidak ada alasan baru seperti besan atau kejiranan, yang mana pemberian itu bertujuan untuk semua itu dan bukan kerana hutang.

Jika tambahan yang diberikan hanya sebagai hadiah dari pemberi pinjaman, maka menurut ulama Malikiyah, pemberi pinjaman tidak boleh menerimanya karena dapat mengakibatkan tertundanya pelunasan. Menurut ulama selain Maliki, waktu penggantian qardh adalah kapan saja atas kemauan peminjam, setelah peminjam menerima pinjaman. Pertama, riba dianggap sebagai tambahan yang berasal dari kelebihan nilai pokok pinjaman yang diberikan kreditur kepada debitur.

Secara teknis, riba terjadi ketika ada pengembalian harta pokok dengan tambahan barang-barang yang mengharuskan peminjam membayar pada saat pengembaliannya, berapapun untung dan ruginya. Riba bai’ terdiri dari dua jenis, yaitu riba yang disebabkan oleh pertukaran barang serupa tetapi jumlahnya tidak sama (riba fadl) dan riba yang terjadi akibat pertukaran barang serupa tetapi jumlahnya berlebihan karena jangka waktu tertentu. waktu (riba nasi'ah). Riba dalam hal ini dengan sendirinya merugikan debitur dengan sebaliknya memberikan keuntungan kepada pihak pemberi hutang.

Metode Penelitian

Ringkasnya, Imam Asy-Syafi'i mendapat ilmu fiqh dan hadis daripada ramai ulama besar di Mekah, Madinah, Iraq dan Yaman. Di kota ini, Imam Asy-Syafi'i membacakan (mendiktekan) kitab-kitabnya kepada murid-muridnya. Terdapat ramai ulama yang belajar di bawah Imam Asy-Syafi'i secara lrak dan sebahagian daripada mereka menjadi perawi mazhab lamanya.

Dalam kitab ini Imam Asy-Syafi'i membahas empat kewajiban yaitu shalat, zakat, puasa, dan haji. Dalam buku ini Asy-Syafi'i merujuk pada ilmu yang membahas hadis-hadis yang secara lahiriah bertentangan. Metode istinbath Imam Asy-Syafi'i didasarkan pada Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma dan qiyas.

Bahkan dapat dikatakan bahwa Imam Asy-Syafi’i adalah orang pertama yang menjelaskan qiyas secara detail. Menurut Imam Asy-Syafi’i, kegiatan yang dapat dikreditkan adalah akad yang tidak dapat dikondisikan batas waktunya agar tidak terjerumus ke dalam riba nasiah. Menurut analisa peneliti, terdapat beberapa hal yang berbeda antara pemikiran Imam Syafi’i dan Imam Malik mengenai qardh, antara lain:

Referensi

Dokumen terkait

Endry Martius, MSc IV/a 4 Prof.Dr.Ir... Hasmiandy Hamid, SP, MSi III/d 8