PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jadi hak konstitusional yang dimiliki anggota TNI dan Polri sebagai warga negara yaitu hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum. Pada masa orde baru, anggota TNI dan Polri mempunyai hak memilih dalam pemilihan umum. Yakni pembatasan hak politik bagi anggota TNI dan anggota Polri.Hak politik yang dibatasi adalah hak untuk ikut serta dalam pemilu dan untuk dipilih dalam pemilu.
Anggota TNI dan Polri harus mampu menciptakan suasana negara yang diinginkan dan menjaga netralitas.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Penelitian Terdahulu
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang akan dilakukan membahas tentang pembatasan hak politik anggota TNI dan Polri dalam pemilihan umum dan ditinjau dari Siyasah Fiqh. Jurnal Putu Diatmika Mahendra yang berjudul “Sanksi Kode Etik Bagi Anggota Polisi yang Tidak Netral dalam Pemilihan Kepala Daerah Menurut Perkap Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian”.50 Penelitian ini membahas tentang netralitas anggota Polri dalam pemilihan kepala daerah. pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak, serta sanksi etik bagi anggota Polri yang tidak netral dalam pemilihan kepala daerah sesuai dengan Perkap Nomor 14 Tahun 2011 tentang sanksi kode etik profesi Polri. Bedanya dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pembahasan yang akan dilakukan adalah mengenai pembatasan hak politik, namun tidak membahas sanksi kode etik, dan pembahasan yang akan dilakukan juga akan ditinjau dari siyasah fiqh.
Metode Penelitian
Terkait pembatasan hak politik anggota TNI dan anggota Polri, ada dua pihak yang berbeda pendapat mengenai hak politik anggota TNI dan anggota Polri dalam pemilu. Ulasan Siyasah Fiqih tentang Pembatasan Hak Politik Anggota TNI dan Polri dalam Pemilu. Hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum merupakan hak yang merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM).
Terkait pencabutan hak politik anggota TNI dan Polri, pemerintah tidak melakukan pelanggaran HAM berat, karena pemerintah hanya mencabut hak politik anggota TNI dan Polri pada saat pemilihan umum.
Sistematika Penulisan
KAJIAN TEORI
Teori Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia adalah sebuah istilah dalam bahasa Indonesia yang mengacu pada hak-hak dasar atau hak-hak mendasar yang dimiliki oleh manusia. Istilah hak asasi manusia disebut droits de 'home dalam bahasa Perancis yang berarti 'hak asasi manusia', dan dalam bahasa Inggris disebut hak asasi manusia.137 Hak Asasi Manusia adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang mengacu pada hak-hak dasar atau hak-hak yang dimiliki oleh setiap orang, yaitu: Istilah Hak Asasi Manusia berasal dari istilah droits 'I home (Perancis), human right (Inggris) dan huquq al-insan (Arab), right dalam bahasa Inggris berarti hak, keadilan dan kebenaran. Hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki seseorang semata-mata karena ia adalah manusia.
Hakikat penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia adalah menjaga keamanan eksistensi manusia secara keseluruhan melalui tindakan penyeimbangan, yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban, namun juga antara kepentingan individu dan kepentingan umum.144. Hak untuk mendapatkan suaka. i) Hak suatu bangsa. j) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. k) Hak untuk memiliki hak milik. l) Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama. M). Penerapan hak asasi manusia harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang disepakati oleh masyarakat internasional. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi angka pelanggaran HAM.
Asas kesetaraan, yang menyatakan bahwa semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai hak asasi manusia yang sama. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya pelanggaran HAM, negara harus menghormati prinsip-prinsip HAM tersebut di atas. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ini memuat hak asasi manusia dan kebebasan mendasar yang tercakup di dalamnya
Indonesia sebagai negara hukum berupaya menjunjung tinggi penegakan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan aturan mengenai hak-hak sipil dan politik telah diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights). Hak sipil) -hak sipil dan politik). Ciri-ciri negara hukum yang berkaitan dengan pemilu adalah terlindunginya hak asasi manusia, persamaan di hadapan hukum dan pemerintahan, serta adanya pemilu yang bebas.
Fiqih siyasah
Perbezaannya terletak pada penciptaannya, fiqh didirikan oleh mujtahid, manakala siyasah didirikan oleh pemegang kuasa.171 Jadi siyasah fiqh ialah ilmu yang mengkaji ikhwal (selok-belok) peraturan urusan rakyat dan negara. dengan segala macam undang-undang, peraturan dan dasar yang dibuat oleh pemegang kuasa mengikut prinsip syariah untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan mengelakkan kemudaratan 172. Abdul Wahab Khallaf, fiqh siyasah ialah pengurusan urusan yang bersifat umum bagi Islam. negara dengan menjamin terwujudnya kemaslahatan dan menghindari kemudaratan (bahaya) dengan tidak melampaui batas-batas syariat dan prinsip-prinsip syariah yang bersifat umum, walaupun tidak sesuai dengan pendapat ulama mujtahid. Ahmad Fathi Bahansi, fiqh siyasah ialah susunan untuk kemaslahatan umat manusia yang ditetapkan mengikut ketetapan hukum syariah’.173.
Secara umumnya, objek kajian fiqh siyasah terbahagi kepada tiga iaitu: pertama, peraturan dan undang-undang. Kaedah yang digunakan dalam fiqh siyasah ialah Al-Ijma', Al-Kiyas, Al-Meshlahah Al-Murselah, Sadd Al-Dzari'ah dan Fath Al-Dzari'ah, Al-'Adah, Al-Istihsan dan Qaidah kulliyah.174 . Abdul Wahab Khallaf, objek kajian fiqh siyasah ialah peraturan dan undang-undang yang diperlukan untuk mengurus negara sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama dalam rangka mewujudkan kemaslahatan manusia dan memenuhi keperluannya.
Hasbi Ash Shiddiqie, objek kajian fiqih siyasah itu luas kaitannya dengan kapasitas bidang-bidang yang akan diatur, seperti aturan-aturan hubungan antara warga negara dengan lembaga-lembaga negara, hubungan dengan negara lain, Islam dan non-Muslim atau aturan-aturan. . Dalam negara Islam, hak politik warga negara dalam pemilihan umum merupakan bagian dari hak fundamental yang dimiliki oleh seluruh individu. Hak politik dapat diartikan sebagai kebebasan untuk menentukan pilihan yang tidak dapat diintervensi atau diambil oleh siapapun dalam kehidupan sosial suatu negara.176 Menurut para ahli hukum Islam, hak politik adalah hak yang diperoleh seseorang, seperti hak untuk memilih. dan dipilih dimana setiap orang dapat berkontribusi melalui hak-hak tersebut untuk menangani permasalahan pemerintahan.
Hak memilih ini boleh dilaksanakan secara langsung atau melalui perwakilan ahl hal wa al-aqd iaitu orang yang dicontohi, ditaati dan dipercayai oleh rakyat/rakyat untuk menguruskan segala urusan mereka. Dalam Syariah Islam, pengaturan diserahkan kepada orang ramai mengikut situasi dan keadaan yang mereka hadapi, jika perlu.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tinjauan Fiqih Siyasah Terhadap Pembatasan Hak Politik Anggota Tni Dan
Karena dalam Islam kemaslahatan umum harus didahulukan dari kemaslahatan khusus, maka dalam hal pembatasan hak politik anggota TNI dan Polri dalam pemilihan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah, hal ini merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh negara untuk kemaslahatan rakyat secara terbuka ( umum). , dan yang diuntungkan secara khusus adalah hak politik anggota TNI dan anggota Polri, yaitu hak politik untuk mengikuti pemilu seperti warga negara lainnya. Hak politik bagi anggota TNI dan anggota Polri merupakan sesuatu yang kodrati, merupakan bawaan dari masa lalu dan bukan merupakan hak yang diberikan oleh manusia, melainkan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, namun alam pun tidak dapat dikategorikan sebagai sesuatu. itu adalah kebebasan tanpa batasan apa pun atau semuanya harus setara. Dilihat dari tuntutan muqasid al-syari'ah, pemerintah masih ingin membatasi hak politik anggota TNI dan Polri dalam pemilu karena telah memenuhi tuntutan yang ada.
Jika anggota TNI dan anggota Polri diberikan hak politik untuk mengikuti pemilu, baik hak memilih maupun hak dipilih, maka hal ini akan menimbulkan kerugian. Karena anggota TNI dan Polri mempunyai kekuasaan yang lebih besar dibandingkan masyarakat biasa, maka jika anggota TNI dan anggota Polri ikut serta dalam pemilu, maka akan timbul ketidaknetralan dalam pemilu karena ada kemungkinan adanya tekanan atau arahan dari anggota TNI dan Polri tertentu. partai memilih.. Anggota TNI dan anggota Polri mempunyai kekuasaan yang lebih besar dibandingkan masyarakat biasa, sehingga jika anggota TNI dan anggota Polri tetap terlibat maka akan menimbulkan paksaan untuk memilih calon dari kelompoknya.
Pemerintah membatasi hak politik hanya untuk melindungi masyarakat sipil dan mencapai kemaslahatan bersama dalam menyelenggarakan pemilu sehingga tidak ada tekanan dari pihak manapun. Pertimbangan pembatasan hak politik anggota TNI dan anggota Polri adalah untuk menjaga netralitas dalam pemilu, jika anggota TNI dan anggota Polri terlibat dalam pemilu, dikhawatirkan akan menimbulkan konflik internal dan juga kondisi saat ini. Situasi politik belum matang jika anggota TNI dan anggota Polri tetap diberikan hak. pilih-pilih, akan cenderung menimbulkan keresahan dan dapat menyebabkan perpecahan TNI dan Polri di antara partai politik tertentu jika diberikan hak politik. Sedangkan menurut sijasah fiqh, pembatasan hak politik anggota TNI dan anggota Polri tidak sesuai dengan asas yang ada, karena menurut ketentuan, warga negara yang telah memenuhi syarat diperbolehkan berekspresi atau menyalurkan secara langsung. Setiap warga negara berhak ikut serta dalam urusan kenegaraan dan politik, sosial, ekonomi, dan budaya melalui pemberian hak pilih.
Sebaiknya anggota TNI dan Polri ingin mendapatkan hak politik kembali, harus diatur dengan jelas agar tidak merugikan warga sipil lainnya. Sebab pada pemilu pertama anggota TNI dan anggota Polri diikutsertakan dalam pemilu dan setelah orde baru mulai muncul larangan bagi anggota TNI dan anggota Polri untuk tidak ikut pemilu don tidak mengambil Oleh karena itu, pemerintah harus mencari solusi penyebab pembatasan hak politik tersebut agar anggota TNI dan anggota Polri dapat kembali menggunakan hak pilihnya sehingga prinsip demokrasi dapat terlaksana sepenuhnya tanpa ada yang merasa tersisih.
Diatmika Putu Mahendra, “Sanksi Kode Etik Bagi Anggota TNI dan Polri yang Tidak Netral dalam Pilkada Berdasarkan Perkap Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik Kepolisian,” Fakultas Hukum, Vol.