Penafsiran Undang-Undang Hukum Pidana
A. Pengertian Penafsiran
Setiap undang-undang yang tertulis perlu suatu penafsiran termasuk undang-undang hukum pidana. Hal ini disebabkan oleh undang-undang tertulis yang sifatnya status atau sulit diubah.
Walaupun undang-undang sudah tersusun secara sistematis, masih terdapat kekurangan yang menyulitkan penerapannya. 1Dengan demikian, isi dari undang-undang perlu dijelaskan terlebih dahulu untuk dapat diterapkan pada peristiwanya.
2Penafsiran adalah menerangkan makna atau arti suatu kata atau suatu rumusan dalam undang-undang. 3Menurut Soedjono Dirdjosisworo, penafsiran adalah menentukan arti suatu teks atau bunyi pasal berdasar pada kaitannya. 4Tujuan penafsiran adalah untuk mencari dan menemukan kehendak pembentuk undang-undang yang telah dinyatakan oleh pembuat undang-undang tersebut secara kurang jelas. 5Dengan demikian, penafisran undang-undang adalah mencari dan menetapkan pengertian atas dalil-dalil yang tercantum dalam UU sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuatnya.
Dalam hal berlakunya hukum pidana tidak dapat dihindari adanya penafsiran (interpretatie) karena hal-hal sebagai berikut :
1. Hukum tertulis sering tidak adapat mengikuti arus perkembangan
masyarakat. Logemann mengemukakan bahwa tiap-tiap undang-undang sebagai bagian hukum positif, bersifat statis dan tak dapat mengikuti perkembangan kemasyarakatan, yang menimbulkan “ruangan kosong”. Maka para hakimlah yang bertugas untuk mengisi ruang kosong itu dengan jalan mempergunakan penafsiran, dengan syarat bahwa dalam menjalankan mereka tidak boleh memperkosa maksud dan jiwa undang-undang, mereka tidak boleh sewenang-wenang.
2. Ketika hukum tertulis dibentuk, ada hal-hal yang tidak diatur karena tidak menjadi perhatian pembentuk undang-undang. Namun setelah undang-undang dibentuk dan dijalankan, baru muncul persoalan mengenai hal-hal yang tidak diatur tadi. Untuk memenuhi kebutuhan hukum dan mengisi kekosongan norma semacam ini, dalam keadaan yang mendesak dapat menggunakan suatu penafsiran.
3. Keterangan yang menjelaskan arti beberapa istilah atau kata dalam undang-undang itu sendiri (Bab IX Buku I KUHP) tidak mungkin memuat seluruh istilah atau kata-kata penting dalam pasal-pasal perundang-undangan pidana, mengingat begitu banyaknya rumusan ketentuan hukum pidana. Pembentuk undang-undnag memberikan
penjelasan hanyalah pada istilah atau unsur yang benar-benar ketika undnag-undang dibentuk dianggap sangat penting, ssuai dengan maksud dari dibentuknya norma tertentu yang dirumuskan. Dalam banyak hal, pembentuk undang-undang
menyerahkan pada perkembangan praktik melalui penafsiran-penafsiran hakim. Oleh karena itu, salah satu pekerjaan hakim dalam menerapkan hukum ialah melakukan penafsiran hukum.
1 H. Ishaq, Dasar-dasar Ilmu Hukum, (Jakarta: Sinar Grafindo, 2016), hlm. 309.
2 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), hlm. 33.
3 Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 4.
4 Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 156.
5 A. Zainal Abidin, Hukum Pidana 1, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hlm. 114.
B. Macam-Macam Penafsiran Undang-Undang Hukum Pidana
6Penafsiran merupakan suatu metode penemuan hukum dalam hal peraturannya ada, namun tidak jelas untuk dapat diterapkan pada peristiwanya. Berikut uraian mengenai penafsiran- penafsiran hukum pidana:
1. Penafsiran Menurut Tata Bahasa (grammaticale interpretatie)
memberikan arti kepada suatu istilah atau perkataan sesuai dengan tata bahasa.
Penafsiran ini mencari pengertian dari suatu undang-undang, dengan mencari pengertian tersebut dengan menggunakan bahasa sehari-hari masyarakat tersebut.
Sebagai contoh: Misalnya suatu peraturan perundangan melarang orang memarkir kendaraannya pada suatu tempat tertentu. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apakah yang dimaksudkan dengan istilah “kendaraan” itu. Orang lalu bertanya-tanya, apakah yang dimaksudkan dengan perkataan “kendaraan” itu, Apakah hanya
kendaraan bermotor saja ataukah termasuk juga sepeda.
2. Penafsiran Secara Sistematis
Apabila suatu istilah atau perkataan dicantumkan dua kali dalam satu pasal atau undang-undang, pengertiannya harus sama pula. Dalam penafsiran ini hakim
menggantungkan penjelasan suatu ketentuan pada sistem peraturan-peraturan dalam mana peraturan bersangkutan terhisap. Sebagai contoh Pasal 302 KUHP dicantukam dua istilah binatang, maka kepada kedua istilah tersebut harus diberikan pengertian yang sama. Contoh lain yaitu istilah pencurian yang tercantum dalam Pasal 363 KUHP, harus sama dengan pengertian istilah yang sama yang tercantum dalam Pasal 362 KUHP.
3. Penafsiran Mempertentangkan (argentum acontraio)
Menemukan kebalikan dari pengertian suatu istilah yang sedang dihadapi. Misalnya kebalikan dari ungkapan “tiada pidana tanpa kesalahan”, adalah pidana hanya dijatuhkan kepada seseorang yang padanya terdapat kesalahan. Contoh lain dalam Pasal 34 KUH Perdata ditentukan bahwa seorang janda dilarang menikah lagi
sebelum lewat 300 hari setelah perkawinan yang terdahulu putus. Ketentuan Pasal 34 KUH Perdata tersebut tidak berlaku bagi duda karena pasal tersebut tidak menyebut tentang laki-laki.
4. Penafsiran Memperluas (extensive interpretatie)
Memperluas pengertian dari suatu istilah berbeda dengan pengertiannya yang digunakan sehari-hari. Maka, penafisran ekstensif didasarkan makna norma itu menurut keadaan yang sekarang yang atinya ada perubahan makna dari sesuatu pengertian unsur-unsur rumusan atau umusan suatu norma. Contohnya aliran listrik ditafsirkan sebagai benda.
5. Penafsiran Mempersempit (restictive interpretatie)
Mempersempit pengertian dari suatu istilah. Contohnya kata “kerugian”, ditafsirkan tidak termasuk kerugian yang “tidak berwujud”, seperti sakit, cacar, dan sebagainya.
6 Ishaq, Hukum Pidana, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2020), hlm. 68.
6. Penafsiran Historis (rechts/wets-historis/historia legis)
Mempelajari sejarah yang berkaitan atau mempelajari pembuatan undang-undang yang bersangkutan akan ditemukan pengertian dari sesuatu istilah sedang dihadapi.
Penafsiran
Contoh: Seseorang yang melanggar hukum atau melakukan tindak pidana dihukum denda Rp. 250,00,- denda sebesar itu jika diterapkan saat ini jelas tidak sesuai, maka harus ditafsirkan sesuai dengan keadaan harga saat ini.
7. Penafsiran Teologis
Mencari tujuan atau maksud dari suatu peraturan undang-undang. Contohnya tujuan dari pembentukan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub), Undang-Undang Nomor 16 Pnps 1963, ialah untuk mempercepat proses penyelesaian suatu perkara khusus. Contoh lain adalah Saat masih berlakunya UU No. 11/PNPS/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi (dicabut dengan UU No. 26 tahun 1999), dalam menafsirkan rumusan dalam UU itu mengenai suatu kasus tertentu, selalu didasarkan pada maksud dari pembentuk UU itu,yaitu untuk memberantas setiap perbuatan yang menggangu kelangsungan dan kestabilan kekuasaan pemerintahan negara ketika itu.
8. Penafisiran Logis
Adalah suatu macam penafsiran dengan cara menyelidiki untuk mencari maksud sebenarnya dari dibentuknya suatu rumusan norma dalam UU dengan
menghubungkannya (mencari hubungannya) denagan rumusan norma yang lain atau dengan undang-undang yang lain yang masih ada sangkut-pautnya dengan rumusan norma tersebut (lihat pasal 55 KUHP).
9. Penafsiran Analogi
Penafsiran Analogis memberi tafsiran pada sesuatu peraturan hukum dengan memberi ibarat (kiyas) pada kata-kata tersebut sesuai dengan asas hukumnya, sehingga sesuatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat dimasukkan, lalu dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut (ada rasio persamannya kejadian konkretnya terhadap noma- noma tesebut). Misalnya pasal 388 ayat (1) yang melarang orang melakukan pebuatan curang pada waktu menyerahkan keperluan angkatan laut atau angkatan darat yang dapat membahayakan keselamatan negaa dalam keadaan perang. Jadi tidak ada diatur keperluan angkatan udara.
10.Penafsiran Komperatif
Menafsirkan dengan cara membandingkan dengan penjelasan bersarkan perbandingan hukum agar dapat ditemukan kejelasan suatu ketentuan undang-undang. Penafsiran ini didasarkan kepada perbandingan hukum yang berlaku di berbagai negara. Contoh:
Pasal 34 KUH Perdata menentukan bahwa seorang perempuan tidak di benarkan menikah lagi sebelim lewat tenggang waktu 300 hari setelah perceraian dari suami pertama. Berdasarkan penafsiran a contrario maka dapat dikatakan bahwa ketentuan ini tidak berlaku bagi seorang laki-laki. Karena bagi seorang laki-laki tidak perlu menunggu tenggang waktu tersebut untuk melakukan perkawinan lagi setelah putusnya perkawinan pertama. Maksud tenggang waktu dalam pasal 34 KUH Perdat tersebut adalah untuk mencegah adanya keraguan-keraguan mengenai kedudukan anak,berhubungan dengan kemungkinan bahwa seorang sedang mengandung setelah
perkawinannya putusatau bercerai.jika anak itu dilahirkan setelah perkawinann yang berikutnya dalam tenggang waktu sebelum lewat 300 hari setelah putusnya
perkawinan pertama maka berdasarkan undang-undang kedudukan anak tersebut adlah anak dari suami pertama.
11.Penafsiran Futuristis
Penafsiran dengan penjelasan undang-undang dengan berpedoman pada undang- undang yang belum mempunyai kekuatan hukum, yaitu rancangan undang-undang.
7Dengan demikian, interpretasi futuristik merupakan metode penemuan hukum yang bersifat antisipasi, yang menjelaskan undang-undang yang berlaku sekarang (ius contitutum) dengan berpedoman pada undang-undang yang belum mempunyai kekuatan hukum (ius constituendum). 8
Daftar Pustaka Ishaq. Hukum Pidana. Raja Grafindo Persada: Depok. 2020.
Ishaq. Dasar-dasar Ilmu Hukum. Sinar Grafindo: Jakarta. 2016.
Prasetyo, Teguh. Hukum Pidana. Raja Grafindo Persada: Jakarta. 2014.
7 H. Ishaq, Op. Cit., hlm. 311-312
8 Ahmad Rifai, Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 70.
Marpaung, Leden. Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. Sinar Grafika: Jakarta. 2008.
Dirdjosisworo, Soedjono. Pengantar Ilmu Hukum. Raja Grafindo Persada: Jakarta. 1994.
Abidin, Zainal. Hukum Pidana 1. Sinar Grafika: Jakarta. 1995.
Rifai, Ahmad. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif. Sinar Grafika: Jakarta. 2011.