• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penatalaksanaan Glaucoma Drainage Device Plate Exposed

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Penatalaksanaan Glaucoma Drainage Device Plate Exposed"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN PUSAT MATA NASIONAL RUMAH SAKIT MATA CICENDO BANDUNG

Laporan Kasus : Penatalaksanaan Glaucoma Drainage Device Plate Exposed

Penyaji : Siti Aisyah

Pembimbing : Dr. Elsa Gustianty, dr, Sp.M (K), M.Kes

Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing Unit Glaukoma

Dr. Elsa Gustianty, dr, Sp.M(K), M.Kes

Senin, 5 Juli 2021 07.30 WIB

(2)

MANAGEMENT OF PLATE EXPOSED GLAUCOMA DRAINAGE DEVICE

Abstract

Introduction : Plate or tube exposure after glaucoma drainage device (GDD) implantation is a postoperative complication that can occur in 1-7% of cases.

It can lead to vision-threatening consequences and requires prompt surgical attention.

Purpose : To report a case of exposed GDD plate with its risk factors and management.

Case Report : A 55-year-old man known with primary angle closure glaucoma came with chief complaint of grittiness and redness in the right eye since 1 week ago. The patient had undergone GDD implantation surgery in the right eye 3 weeks ago. Ocular examinations shows exposed GDD plate at superotemporal quadrant of her right eye. Patient managed with GDD explantation, conjungtival auto graft and amniotic membrane transplantation. After 1 week of surgery the patient was complaint of redness and painful in right eye, then the patient was consulted to Infection and Immunology unit and diagnosed as Surgically Induced Necrotizing Scleritis (SINS).

Conclusion : The possible risk factors for GDD exposure in this patient are previous trabeculectomy and history of ocular inflammation. Plate exposed GDD in this case was treated with GDD explantation with a conjunctival auto graft and amniotic membrane transplantation. Post operative she was diagnosed with surgically induced necrotizing scleritis with multiple surgeries as a risk factor.

Keyword : glaucoma drainage device, exposed plate, SINS

I. PENDAHULUAN

Glaukoma merupakan suatu kelompok penyakit neuropati optik dengan karakteristik remodelling elemen jaringan ikat diskus optik dan hilangnya jaringan saraf yang terkait dengan perkembangan pola yang khas dari disfungsi visual.

Glaucoma drainage device (GDD) merupakan salah satu penatalaksanaan operasi dalam manajemen glaukoma, bertujuan untuk mengontrol tekanan intraokular (TIO) pada pasien dengan glaukoma refrakter terhadap tindakan bedah filtrasi dengan membuat suatu jalur non-fisiologis di mana akuos dialihkan dari bilik anterior ke ruang subkonjungtiva.1-4

Tube atau plate exposed setelah implantasi GDD adalah salah satu komplikasi pascaoperatif yang dapat terjadi pada 1-7% kasus. Beberapa faktor risiko terkait terjadinya GDD exposed yaitu riwayat trauma mekanis mata dan riwayat operasi

(3)

mata, peradangan mata sebelumnya, posisi pemasangan GDD di inferior, usia muda, ras hispanik dan riwayat penyakit diabetes mellitus. Komplikasi GDD exposed bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan endoftalmitis. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas mengenai diagnosis dan tatalaksana exposed GDD.5-8

II. LAPORAN KASUS

Pasien laki-laki berusia 55 tahun datang ke Poliklinik Glaukoma Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo (PMN RSMC) pada tanggal 6 April 2021 dengan keluhan mata kanan terasa mengganjal sejak dua minggu sebelumnya.

Keluhan disertai mata kanan tampak merah dan nyeri. Pasien datang untuk kontrol setelah tiga minggu sebelumnya dilakukan operasi pemasangan GDD. Tidak terdapat kotoran mata, tidak gatal, dan pandangan tidak dirasa lebih buram dari sebelumnya. Adanya riwayat trauma pada mata, kebiasaan menggosok-gosok mata, ataupun mata merah sebelumnya disangkal oleh pasien. Riwayat penyakit mata pada keluarga disangkal. Riwayat penggunaan kacamata disangkal. Riwayat diabetes mellitus, asma, maupun hipertensi disangkal oleh pasien. Riwayat penyakit autoimun disangkal oleh pasien.

Riwayat menderita glaukoma sudut tertutup pada kedua mata pasien terdiagnosa sejak tahun 2020. Riwayat operasi glaukoma sebanyak dua kali pada mata kanan pasien yaitu tindakan trabekulektomi pada bulan November 2020, serta operasi pemasangan GDD + fakoemulsifikasi + lensa intraokular (LIO) + sinekiolisis OD bulan Maret 2021. Sebelum tindakan operasi pasien memiliki riwayat menggunakan satu jenis obat tetes mata untuk menurunkan tekanan intraokular (TIO) yaitu timolol maleat 0.5% dua kali sehari disertai obat anti glaukoma asetazolamid oral tiga kali 250 mg perhari. Selama ini pasien kontrol rutin sesuai jadwal di Poliklinik Glaukoma PMN RSMC.

Dilakukan inform consent kepada pasien mengenai kondisi mata kanan saat ini yaitu terdapat plate exposed dari implan glaukoma, serta rencana tindakan selanjutnya juga risiko infeksi dan kehilangan penglihatan bila tidak segera diberikan penanganan tindakan. Pemeriksaan status generalis pada tanggal 6 April

(4)

2021 didapatkan keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tekanan darah 130/80 mmHg, laju nadi 70 kali/menit, respirasi 16 kali/menit, suhu 36,7°C.

Pemeriksaan oftalmologis pada tanggal 6 April 2020 didapatkan visus mata kanan 1/300 dan visus mata kiri 0.8 pinhole tetap. Pemeriksaan gonioskopi mata kanan dan kiri didapatkan Schwalbe line pada keempat kuadran. Pengukuran TIO dengan tonometri aplanasi mata kanan 31 mmHg dan mata kiri 21 mmHg. Posisi bola mata ortotropia dan gerak kedua mata baik ke segala arah.

Gambar 2.1. Pemeriksaan segmen anterior mata kanan dengan lampu celah Pada segmen anterior mata kanan palpebra tampak blefarospasme, injeksi siliar, bleb flat, tampak exposed GDD plate pada konjungtiva bulbi kuadran superotemporal, kornea edema, bilik mata depan van Herrick grade II, sel dan flare +1/+1, ujung tube GDD tampak pada bilik mata depan di posterior iris, pupil relatif bulat, middilatasi, tidak ada sinekia, peripheral iridectomy (PI), lensa intraokular in the bag dengan sisa korteks. Segmen anterior mata kiri tampak palpebra superior dan inferior tenang, konjungtiva bulbi tenang, kornea jernih, bilik mata depan van Herrick grade II, tidak tampak sel dan flare, pupil bulat, tidak ada sinekia dan lensa agak keruh.

Pemeriksaan menggunakan condensing lens +78D dengan biomikroskop lampu celah segmen posterior mata kanan tampak papil bulat membayang dengan rasio cup/disc 1.0, cupping (+). Segmen posterior mata kiri tampak papil bulat, batas tegas, rasio cup/disk 0.3, tidak terdapat cupping.

Pasien didiagnosis dengan exposed GDD plate OD + primary angle closure glaucoma ODS + pseudofakia OD + katarak senilis imatur OS. Pasien mendapatkan terapi tetes mata ofloksasin 0.3% enam kali perhari pada mata

(5)

kanan, air mata buatan empat kali perhari pada kedua mata, prednisolone asetat lima kali sehari pada mata kanan dan melanjutkan penggunaan asetazolamid oral tiga kali 250 mg perhari, tetes mata timolol maleat 0.5% dua kali perhari pada kedua mata. Direncanakan untuk dilakukan tindakan eksplantasi GDD OD + conjunctival auto graft (CAG) + amniotic membrane transplantation (AMT) OD dalam monitoring anesthesia care (MAC).

Gambar 2.2 Proses Eksplantasi GDD implan

(A) tampak plate exposed di konjungtiva (B) perlengketan konjungtiva dibebaskan (C) eksplantasi GDD (D) penjahitan konjungtiva (E) conjunctival auto graft (CAG) (F) amniotic membrane transplantation (AMT)

Pada tanggal 4 Mei 2021 dilakukan tindakan eksplantasi GDD + CAG + AMT OD. Durante operasi tampak plate exposed pada permukaan konjungtiva bulbi kuadran superotemporal mata kanan, tampak adanya scleral patch graft pada area implantasi GDD. Perlengketan konjungtiva dibebaskan lalu dilakukan eksplantasi GDD, ditemukan adanya pus di sekitar implant dan dilakukan tindakan antiseptik menggunakan povidone iodine, kemudian dilakukan CAG dari konjungtiva kuadran inferior mata kanan pasien, setelahnya scleral patch graft ditutup dengan AMT dan dijahit menggunakan vicryl 8-0. Tindakan selesai dan tidak didapatkan komplikasi durante operasi.

(6)

Pemeriksaan hari pertama pascaoperasi didapatkan visus mata kanan 1/300 pinhole tetap, dan visus mata kiri 0.8 pinhole tetap. Posisi kedua mata ortotropia dengan gerak kedua bola mata baik ke segala arah. Tekanan intraokular dengan tonometri aplanasi mata kanan 23 mmHg dan mata kiri 16 mmHg. Segmen anterior mata kanan palpebra blefarospasme, pada konjungtiva bulbi tampak injeksi siliar, bleb flat, scleral patch graft dengan hecting intak, membran amnion intak, CAG intak, kornea edema, bilik mata depan van Herrick grade III, tidak tampak sel maupun flare, pupil relatif bulat, iris atrofi, tidak ada sinekia, peripheral iridectomy (PI), lensa intraokular in the bag dengan sisa korteks. Pasien diberikan terapi medikamentosa antibiotik siprofloksasin tablet 500 mg dua kali sehari peroral, parasetamol 500 mg tiga kali sehari peroral, tetes mata levofloksasin enam kali perhari pada mata kanan, tetes mata prednisolon asetat enam kali perhari pada mata kanan, air mata buatan enam kali perhari pada kedua mata, serta tetes mata timolol maleat 0.5% dua kali perhari pada kedua mata. Pasien diperbolehkan untuk rawat jalan dan kontrol ke Poliklinik Glaukoma RSMC satu minggu yang akan datang.

Gambar 2.3. Pemeriksaan segmen anterior mata kanan hari pertama pascaoperasi Pasien kontrol pada hari ketujuh pascaoperasi dengan keluhan mata kanan terasa mengganjal, nyeri dan merah dengan visus mata kanan 1/300 pinhole tetap, dan visus mata kiri 0.8 pinhole tetap. Posisi kedua mata ortotropia dengan gerak kedua bola mata baik ke segala arah. Tekanan intraokular dengan tonometri aplanasi mata kanan 30 mmHg dan mata kiri 15 mmHg. Segmen anterior mata kanan palpebra blefarospasme, pada konjungtiva bulbi tampak injeksi siliar, bleb flat, tampak exposed scleral graft pada regio temporal , kornea edema, bilik mata depan van Herrick grade

(7)

II, tidak tampak sel dan flare, pupil relatif bulat, iris atrofi, tidak ada sinekia, peripheral iridectomy (PI), lensa intraokular in the bag dengan sisa korteks. Pasien diberikan terapi medikamentosa asetazolamid oral tiga kali 250 mg perhari, tetes mata levofloksasin enam kali perhari pada mata kanan, tetes mata prednisolon asetat tappering off lima kali perhari pada mata kanan, serta tetes mata timolol maleat 0.5% dua kali perhari pada kedua mata. Pasien dikonsulkan ke unit Infeksi dan Imunologi untuk pertimbangan scleral graft dan mencari underlying disease baik kelainan autoimun/rhematologi. Pasien didiagnosis dengan primary angle closure glaucoma ODS + pseudofakia OD + katarak senilis imatur OS + suspek Surgically Induced Necrotizing Scleritis (SINS) OD. Diberikan terapi tambahan dari unit Infeksi dan Imunologi yaitu obat topikal kloramfenikol 0.2% dan hidrokortison 0.5% dua kali sehari pada mata kanan dan metilprednisolon oral satu kali 56 mg perhari. Pasien dijadwalkan untuk kontrol satu minggu yang akan datang.

Pasien datang kembali kontrol tiga minggu pascaoperasi dengan keluhan nyeri berkurang, mata merah dengan visus mata kanan 1/300 pinhole tetap, dan visus mata kiri 0.8 pinhole tetap. Posisi kedua mata ortotropia dengan gerak kedua bola mata baik ke segala arah. Tekanan intraokular dengan tonometri aplanasi mata kanan 52 mmHg dan mata kiri 20 mmHg. Segmen anterior mata kanan palpebra tenang, pada konjungtiva bulbi tampak injeksi siliar, bleb flat, tampak exposed scleral graft pada regio temporal dengan konjungtivalisasi, kornea Fluorescein Test (FT) positif, Punctate epithelial erosions (PEE) positif, Tear Break-up time 6 detik, bilik mata depan van Herrick grade III, tidak tampak sel dan flare, pupil relatif bulat, iris atrofi, tidak ada sinekia, peripheral iridectomy (PI), lensa intraokular in the bag dengan sisa korteks. Pasien diberikan terapi medikamentosa tetes mata air mata buatan enam kali perhari pada kedua mata, penggunaan asetazolamid oral tiga kali 250 mg perhari serta tetes mata timolol maleat 0.5% dua kali perhari pada kedua mata.

Pasien kontrol ke unit infeksi dan diberikan terapi obat topikal kloramfenikol 0.2%

dan hidrokortison 0.5% dua kali sehari pada mata kanan dan metilprednisolon oral tappering off satu kali 24 mg dan 16 mg perhari. Pasien dijadwalkan untuk kontrol dua minggu yang akan datang.

(8)

Pasien datang kembali kontrol lima minggu pascaoperasi dengan keluhan nyeri berkurang, mata merah dengan visus mata kanan 1/300 pinhole tetap, dan visus mata kiri 0.63 pinhole 0.8. Posisi kedua mata ortotropia dengan gerak kedua bola mata baik ke segala arah. Tekanan intraokular dengan tonometri aplanasi mata kanan 40 mmHg dan mata kiri 18 mmHg. Segmen anterior mata kanan palpebra tenang, pada konjungtiva bulbi tampak injeksi siliar, bleb flat, tampak exposed scleral graft pada regio temporal dengan konjungtivalisasi, kornea relatif jernih, bilik mata depan van Herrick grade II, tidak tampak sel dan flare, pupil ireguler, iris atrofi, tidak ada sinekia , peripheral iridectomy (PI), lensa intraokular in the bag dengan sisa korteks. Pasien diberikan terapi medikamentosa tetes air mata buatan enam kali perhari pada kedua mata, asetazolamid oral tiga kali 250 mg perhari serta tetes mata timolol maleat 0.5% dua kali perhari pada kedua mata. Pasien kontrol ke unit infeksi dan diberikan terapi obat topikal kloramfenikol 0.2% dan hidrokortison 0.5% dua kali sehari pada mata kanan dan metilprednisolon oral tappering off satu kali 8 mg dan 4 mg perhari. Pasien dijadwalkan untuk kontrol kembali dua minggu yang akan datang.

Gambar 2.4. Pemeriksaan segmen anterior mata kanan lima minggu pascaoperasi

(9)

III. DISKUSI

Tatalaksana glaukoma dapat dibagi menjadi terapi medikamentosa dan pembedahan yang bertujuan untuk menurunkan tekanan intraokular (TIO) untuk menghindari kerusakan lebih lanjut dari saraf optik dan mencegah kehilangan penglihatan. Tatalaksana pembedahan biasanya diberikan bila terapi medikamentosa tidak dapat ditoleransi, tidak efektif mencapai target TIO yang ditetapkan dan glaukoma masih tidak terkontrol atau progresif dengan pemberian medikamentosa. Terdapat dua macam pembedahan yaitu laser dan prosedur insisional. Implantasi GDD adalah salah satu tindakan pembedahan insisional yang paling sering dilakukan selain trabekulektomi. Implantasi GDD dilakukan dengan menempatkan suatu tabung di bilik anterior, sulkus siliaris atau pars plana ke dalam rongga vitreus, tabung dihubungkan ke plat yang difiksasi pada sklera diantara otot-otot ekstraokular, kemudian humor akuos akan mengalir keluar dari tabung menuju area subkonjungtiva di plat dan diabsorbsi jaringan sekitar untuk menurunkan TIO.1,3,4

Indikasi implantasi GDD diantaranya bila pemberian terapi medikamentosa dan laser tidak dapat mencapai TIO pada batas yang ditentukan cukup untuk mencegah progresifitas glaukoma, riwayat trabekulektomi yang gagal, uveitis aktif, pasien dengan neovaskularisasi glaucoma (NVG), area konjungtiva yang terbatas akibat jaringan parut misalnya pada pasien dengan riwayat trauma atau operasi pada konjungtiva, afakia, penggunaan lensa kontak. Kontraindikasi implantasi GDD adalah penempatan tube di bilik anterior pada pasien dengan disfungsi endotel atau bilik mata depan yang dangkal dan pada pasien dengan riwayat tumor intraokular. Terdapat 2 jenis GDD yaitu katup dan nonkatup.

Implantasi GDD katup berfungsi untuk memberikan tahanan aliran humor akuous dan mencegah hipotoni setelah dilakukan operasi. Implantasi GDD nonkatup memiliki tube yang berfungsi sebagai drainase humor akuos setelah operasi sampai terbentuknya fibrosis disekitar plat GDD. Pada kasus ini dilakukan pemasangan GDD nonkatup Baerveldt glaucoma implant (BGI) setelah riwayat trabekulektomi yang gagal ditambah dengan penggunaan dua jenis

(10)

medikamentosa antiglaukoma topikal dan oral, namun target penurunan TIO yang diharapkan tetap tidak tercapai. Penelitian Gedde dkk menyatakan setelah 5 tahun follow up, pascaoperasi GDD implant memiliki tingkat keberhasilan yang lebih

tinggi dibandingkan dengan pascaoperasi trabekulektomi dengan mitomycin C (MMC). Kedua prosedur tersebut memiliki hasil penurunan tekanan intraokular (TIO) yang serupa dan penggunaan terapi medikamentosa, namun operasi glaukoma tambahan lebih sering diperlukan setelah trabekulektomi dengan MMC daripada setelah implantasi GDD. 2,5-6,9

Implantasi GDD memiliki komplikasi baik intraoperatif maupun pascaoperatif.

Komplikasi intraoperatif meliputi hifema, perforasi sklera dan perdarahan suprakoroid. Komplikasi pascaoperatif terbagi menjadi komplikasi dini dan lanjut.

Komplikasi dini pascaoperatif adalah bilik dangkal, hipotoni, tube blockage, ablasio retina dan coroidal detachment. Komplikasi lanjut pascaoperatif yaitu katarak, dekompensasi kornea, strabismus, exposure GDD, dan endoftalmitis.

GDD exposed merupakan salah satu komplikasi tersering dari prosedur GDD meliputi sekitar 2-7% kasus dari seluruh kasus dengan implantasi GDD. GDD exposed dapat memicu inflamasi okular, hipotoni, perburukan visus dan endoftalmitis karena memberikan jalan bagi organisme dari permukaan okular untuk masuk ke intraokular. Faktor mekanis yang mempengaruhi terjadinya GDD exposed adalah gerakan mikro dari tabung secara repetitif akibat gerakan mata dan

berkedip yang mengganggu integritas konjungtiva dan meningkatkan risiko GDD exposed, terutama pada jaringan mata yang patologis atau pada pasien dengan usia

tua. GDD implant tidak dapat dibiarkan kontak langsung dengan konjungtiva di atasnya sehingga diperlukan penggunaan tambalan atau cangkok dari bahan yang berbeda. Penelitian Muir dkk menyatakan terdapat beberapa faktor resiko yang meningkatkan terjadinya komplikasi pada implantasi GDD, yaitu jenis kelamin wanita, ras kulit putih, bahan graft, lokasi pemasangan GDD, dan penyakit sistemik yang menyertai glaukoma. Penelitian Chaku dkk bahwa riwayat inflamasi okular merupakan faktor risiko untuk terjadinya GDD exposed. Penelitian Koval dkk menyatakan riwayat operasi mata sebelumnya (trabekulektomi dan combined) adalah faktor risiko terjadinya GDD exposed. Penelitian lain dari Al-Beishri

(11)

bahwa riwayat operasi sebelumnya, jenis kelamin wanita dan usia tua merupakan faktor risiko dari GDD exposed. Pada kasus ini faktor risiko GDD exposed yang dimiliki oleh pasien yaitu riwayat operasi sebelumnya (trabekulektomi) dan riwayat inflamasi okular.3,10-13

Penelitian Byun dkk melaporkan risiko GDD exposed sembilan kali lebih tinggi pada mata dengan riwayat satu operasi sebelumnya menggunakan GDD Ahmed dibandingkan dengan mata yang tidak memiliki riwayat operasi dan lebih sering terjadi pada kuadran inferior karena ruang yang sempit dan konjungtiva yang lebih terbatas untuk menutupi implan. Penelitian Budenz dkk pada 276 pasien bahwa frekuensi GDD exposed sebanyak 2% pada implan jenis Ahmed dan sebanyak 3%

pada implan jenis Baerveldt pada follow-up satu tahun pascaoperasi. Namun tidak ada GDD exposed yang terjadi dalam 3 bulan pertama setelah implantasi.

Penelitian Stewart menyatakan angka insidensi kasus GDD exposed antara implan Ahmed, Baerveldt dan Molteno tidak memperlihatkan perbedaan dan kasus muncul dalam waktu 5 tahun pertama setelah implantasi. Pada kasus ini implan yang digunakan adalah jenis Baerveldt dan GDD exposed terjadi 3 minggu setelah implantasi GDD.7,14-15

Pascaoperasi eksplantasi GDD pasien didiagnosis dengan exposed scleral graft di regio temporal, kemungkinan hal ini dikarenakan membran amnion yang belum menutupi area scleral graft, namun pada lima minggu setelah eksplantasi GDD, membran amnion sudah terkonjungtivalisasi dan menutupi area scleral graft dengan baik.

Tatalaksana GDD exposed adalah dengan operasi perbaikan untuk mencegah komplikasi berkelanjutan yaitu dengan mereposisi tube atau eksplantasi GDD.

Prinsip penatalaksanaan GDD exposed yaitu menutupi tube GDD atau konjungtiva yang erosi dengan menggunakan graft sklera, kornea, atau membran amnion.

Jaringan cangkok yang digunakan dalam perbaikan GDD exposed meliputi autologus dan donor jaringan mata (sklera, kornea, autologus scar tissue, conjunctival pedicle flaps), jaringan ekstra okular (duramater, perikardium, membran amnion, donor aselular dermis, mukosa buccal) dan materi sintetis seperti biodegradable scaffold collagen matrix ologen. Antibiotik topikal dengan

(12)

air mata artifisial sebagai pelumas harus diberikan sampai pasien dilakukan operasi. Erosi yang berulang memerlukan eksplantasi dari GDD implant dan penutupan defek konjungtiva. Pada pasien ini bagian plat GDD yang terekspos terlalu luas dan ditemukan pus saat durante operasi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya endoftalmitis, sehingga tatalaksana yang dilakukan adalah eksplantasi GDD.5,8,16

Surgically Induced Necrotizing Scleritis (SINS) adalah komplikasi pascabedah

okular yang jarang terjadi. SINS dapat terjadi pascaoperasi ablasio retina, strabismus, pterigium, penetrasi keratoplasti dan operasi glaukoma. Insidensi skleritis meningkat dengan riwayat penggunaan antimetabolit, seperti MMC dan 5-FU pada eksisi pterigium dan operasi trabekulektomi subsklera. SINS dapat muncul untuk pertama kalinya setelah operasi mata yang lancar dengan periode laten variabel yang bervariasi mulai dari satu hari hingga 40 tahun pascaoperasi.

SINS dicetuskan oleh trauma bedah pada jaringan sklera yang mengakibatkan pelepasan kompleks imun di sirkulasi yang mengendap di dinding pembuluh darah di area sklera menyebabkan kerusakan dan nekrosis jaringan sklera yang diikuti oleh degradasi proteoglikan dan kolagen juga penipisan sklera.17-19

Pasien yang terdiagnosis SINS kebanyakan memiliki riwayat bedah okular sebanyak dua kali atau lebih, sesuai dengan kasus ini dimana pasien memiliki riwayat bedah okular sebanyak tiga kali dan SINS terdiagnosis pada satu minggu setelah operasi ketiga. Diagnosis SINS pada kasus ini terutama didasarkan pada temuan berikut yaitu perkembangan skleritis terlokalisasi pada daerah operasi sebelumnya, tidak adanya tanda-tanda (klinis atau bakteriologis) infeksi. Skleritis dalam kasus ini dapat disebabkan langsung oleh cedera sklera saat operasi atau akibat dari GDD exposed.18,20-21

Prognosis quo ad vitam pada pasien ini yaitu ad bonam karena tidak mengancam jiwa, quo ad functionam adalah ad malam karena progresifitas dari glaukoma yang dapat menyebabkan penurunan berlanjut pada tajam penglihatan maupun lapang pandang pasien, quo ad sanationam adalah dubia.

(13)

IV. SIMPULAN

Faktor risiko plate exposed yang mungkin pada pasien ini yaitu tindakan trabekulektomi sebelumnya dan riwayat inflamasi pada mata. Plate exposed GDD pada kasus ini ditatalaksana dengan eksplantasi GDD dengan CAG dan AMT.

Pascaoperasi pasien didiagnosis dengan SINS yang dicetuskan oleh riwayat operasi okular sebelumnya.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology. Basic Clinical Science Course Section 10: Glaucoma. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2020- 2021.

2. Pegu J, Purang A, Gandhi M. Indications of glaucoma drainage implant.

Dalam: Gandhi M, Bhartiya S, editor. Glaucoma Drainage Devices: a Practical Illustrated Guides. Singapore: Springer; 2019. hlm.7-12.

3. Carbonaro F, Steven D , Lim KS. Glaucoma Tube Surgery. Dalam: Carbonaro F, Lim KS, editor. Managing Complications in Glaucoma Surgery.Switzerland:

Springer;2017. Hlm 97-114.

4. Peregrino J, Leuenberger E, Veloso I. Risk Factors for Conjunctival Tube Erosion in Eyes Implanted with Ahmed Glaucoma Valve in a Private Eye Institution in the Philippines. Philippine Journal of Ophthalmology.2018;43:51-59.

5. Arifani AF, Prahasta A, Gustianty E, Rifada RM, Umbara S. Penatalaksanaan Tube Exposed Glaukoma Implant pada Glaukoma Sudut Terbuka. Ophthalmol Ina 2020;46(2):87-93.

6. Wang J, Barton K. Aqueous Shunt Implantation in Glaucoma. Taiwan Journal Ophthalmology. 2017;7(3):130-7.

7. Stewart W, Kristoffersen C, Demos C. Incidence of conjunctival exposure following drainage device implantation in patients with glaucoma. Eur J Ophthalmo.2010;20(1):124-130.

8. Bains U, Hoguet A. Aqueous drainage device erosion: A review of rates, risks, prevention, and repair. Semin Ophthalmol. 2018;33(1):1-10.

9. Gedde S, Schiffman J, Feuer W, et al. treatment outcomes in the Tube Versus Trabeculectomy (TVT) study after five years of follow-up. Am J Ophthalmol. 2012 May;153(5):789-803.

10. Koval M, Sayyad F, Bell N, et al. Risk Factors for Tube Shunt Exposure: A Matched Case-Control Study. Journal of Ophthalmology. 2013;1-5.

11. Muir K, Lim A, Stinnett S, Kuo A, et al. Risk factors for exposure of glaucoma drainage devices: a retrospective observational study. BMJ Open. 2014;4.

12. Chaku M, Netland PA, Ishida K, Rhee DJ. Risk factors for tube exposure as a late complication of glaucoma drainage implant surgery. Clin Ophthalmol.

2016;10;547–53.

13. Al-Beishri A, Malik R, Freidi A, et al. Risk factors for glaucoma drainage device exposure in a Middle-Eastern Population. J Glaucoma. 2019;28(6):529- 534.

14. Byun Y, Lee N, Park C. Risk factors of implant exposure outside the conjunctiva after Ahmed Glaucoma Valve implantation, Japanese Journal of Ophthalmology. 2009;53(2):114-9.

15. Aref AA, Gedde SJ, Budenz DL. Glaucoma Drainage Implant Surgery. Dev Ophthalmol. 2017;59:43–52.

16. Alawi A, Albeshri A, Schargel K, et al. Tube revision Outcomes for Exposure with Different Repair techniques. Clinical Ophthalmology.2020;14:3001–

(15)

3008.

17. Edo A, Jian K, Kiuchi Y. Risk factors for exposure of Baerveldt glaucoma drainage implants: a case-control study. BMC Ophthalmology.2020;20:364.

18. Shalaby U, Heikal MA. Unilateral surgically induced Necrotizing Scleritis after trabeculectomy with Ologen in a patient with pigmentary glaucoma. American Journal of Ophthalmology Case Reports. 2016;47-49.

19. Gunawan F, Fajriansyah A, Heryati S, Mustaram AA, Muslima P, Idrus EA.

Surgically Induced Necrotizing Scleritis setelah Eksisi Pterygium Metode Bare Sclera. Ophthalmol Ina 2020;46(2):80-86.

20. Das S, Saurabh K, Biswas J. Postoperative Necrotizing Scleritis: A Report of Four Cases. Middle East Afr J Ophthalmol. 2014;21(4): 350-353.

21. Alrawashdeh H, Al-Habahbeh O. Bilateral surgically induced necrotizing scleritis after pterygium excision with conjunctival autograft – A case report.

Oman Medical Journal. 2020; 1-4.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

37.10% 52.90% 10.00% มี เฉพาะขั้นพื้นฐาน มี มากกวาขั้นพื้นฐาน ไมมี 47.56% 90.85% 22.56% หนวยงานระดับกรม จํานวนผูตอบ 310 ระดับการปรับใชเทคโนโลยีที่มากกวาขั้นพื้นฐาน

pada tahun 2017 melaporkan bahwa pada pasien sifilis dengan HIV positif, 10% memiliki gejala sifilis okular.8–10 Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan karakteristik sifilis okular