Pencatatan Akuntansi
ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 69-76 69
PENCATATAN AKUNTANSI PRODUK SIMPANAN WADIAH:
STUDI KASUS BANK MUAMALAT CABANG MAKASSAR Hasma Wati Sulaiman1, Ibrahim H Ahmad2, Syarifuddin3
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
ABSTRACT
This research aims to determine how to provide and apply Sharia accounting in Bank Muamalat's Wadiah saving product in accordance with Sharia accounting standard PSAK 101. This research was conducted at Bank Muamalat Makassar Branch. The data collection techniques used in this study are observation techniques and documentation techniques. The data analysis techniques used in this study are the validity test and the ability test. This research uses a comparative descriptive analysis that compares between sharia accounting treatment in Bank Muamalat's Wadiah saving product in Makassar with accounting treatment according to Financial Accounting Standard statement (PSAK). Results in this study explained that the way of presentation of accounting products of Bank Muamalat Wadiah in Makassar is in accordance with PSAK 101 concerning the presentation of reasonable financial statements. However, it is still much different from the implementation of Wadiah accounting.
Keywords: Accounting products Wadiah deposits PENDAHULUAN
Islam sebagai suatu agama telah ditempatkan sebagai suatu pilihan dan sekaligus ajarannya dijadikan pedoman dalam kehidupan umat manusia yang memeluknya.
Keberadaan ajarannya telah memberikan arahan dalam pengembangan peradaban umat manusia, utamanya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam adalah agama bersifat terbuka, yang memberikan keleluasaan kepada umatnya untuk berfikir kedepan, dalam rangka mencapai tingkat peradaban dan kemajuan yang lebih baik.
Suatu hal yang sangat disesali bahwa dewasa ini, masih terdapat beberapa kalangan yang melihat islam sebagai hambatan dalam pembangunan ekonomi. Pandangan ini sungguhpun berasal dari para pemikir barat namun tidak sedikit juga intelektual muslim yang menyakininya (Muhamad : 2014). Oleh karena itu untuk mewujudkan sistem keuangan yang adil dan efisien, maka setiap tipe dan lapisan masyarakat harus terwadahi keinginannya dalam berinvestasi dan berusaha, sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka. Sistem keuangan Islam harus memfasilitasi hal tersebut. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang diperuntukan untuk sekalian alam rahmatan lil‟alamin), dan prinsip bekerja sesuai dengan kemampuan.
Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang berperan penting dalam perekonomian suatu negara. Perkembangan industri perbankan yang semakin baik maka berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Negara tersebut. Bank merupakan lembaga keuangan yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menghimpun dana mayarakat, menyalurkan dana kepada masyarakat dan melakukan pelayanan jasa kepada masyarakat.
Usaha perbankan syariah di Indonesia saat ini telah memasuki usia 23 tahun terhitung sejak berdiri bank muamalat. Bukan hal yang mudah bagi para konseptor dan praktis untuk menciptakan dan mempertahankan idealisme syariah dalam perbankan syariah. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rahmanti et al (2013), Menyimpulkan bahwa terdapat keraguan muatan subtansi syariah pada praktek lembaga keuangan syariah.
Bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.
Oleh karena itu, usaha bank akan selalu berkaitan dengan masalah uang sebagai dagangan utamanya.
STIE YPUP Makassar
Pengertian bank menurut Undang- Undang RI No 10 tahun 1998 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak, sedangkan bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (OJK).
Kehadiran bank syariah untuk menawarkan sistem perbankan alternatif bagi umat Islam yang membutuhkan atau ingin memperoleh layanan jasa perbankan tanpa harus melanggar larangan riba. Sebagaimana disinyalir oleh para ekonom muslim, ada dua alasan utama mengenai latar belakang berdirinya bank syari’ah, yaitu: (1) adanya pandangan bahwa bunga (interest) pada bank konvensional itu hukumnya haram karena termasuk dalam kategori riba yang dilarang dalam agama, bukan saja pada agama Islam tetapi juga oleh agama samawi lainnya. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan pendapat para ulama yang ada di Indonesia yang diwakili oleh fatwa MUI Nomor 1 tahun 2004 tentang bunga yang intinya mengharamkan bunga bank yang didalamnya terdapat unsur-unsur riba; (2) dari aspek ekonomi, penyerahan resiko usaha terhadap salah satu pihak dinilai melanggar norma keadilan dan dapat menimbulkan rasa mementingkan diri sendiri (selfishness). Dalam jangka panjang sistem perbankan konvensional akan menyebabkan penumpukan kekayaan pada segelintir orang yang memiliki kapital besar
Pendirian Bank Muamalat sendiri bukanlah sebuah proses yang pendek, tetapi dipersiapakan secara hati-hati. Untuk mengkomodasi kebutuhan masyarakat, sebelum tahun 1992, telah didirikan beberapa lembaga keuangan nonbank yang kegiatannya menerapkan sistem syariah. Selanjutnya melalui Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan dan dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 1992, pemerintah telah memberikan kesempatan untuk pelaksanaan bank syariah.
Perkembangan lembaga keuangan syariah selanjutnya di Indonesia hingga tahun 1998 masih belum pesat, karena baru ada satu bank syariah dan 78 Bank Perkreditan Rakyat
Syariah (BPRS) yang beroperasi.Pada tahun 1998, dikeluarkan undang-undang Nomor 10 Tahun 1999 hingga disahkannya undang- undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, perkembangan perbankan syariah meningkat tajam terutama dilihat dari peningkatan jumlah Bank atau Kantor yang menggunakan prinsip syariah dan peningkatan jumlah aset yang dikelola. (Nurhayati &
Wasilah: 2014)
Hadirnya Bank Muamalat syariah di Indonesia saat ini, mampu membantu mewujudkan keinginan masyarakat dalam berinvestasi dan berusaha. Perbankan Syariah merupakan salah satu contoh rill yang saat ini sedang berkembang di Indonesia yang perkembangannya telah menjadi tolak ukur keberhasilan eksistensi ekonomi syariah.
Bank Muamalat sebagai bank pertama dan menjadi pioner bagi bank syariah lainnya telah lebih dahulu menerapkan sistem ini ditengah menjamnurnya bank-bank konvensional dan banyak yang dilikuidasi karena kegagalan sistem bunganya. Sementara perbankan yang menerapkan sistem syariah dapat tetap eksis dan mampu bertahan dalam penghimpunan dana syariah.
Penghimpunan dana syariah Bank Muamalat menyediakan beberapa produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman yang semakin canggih dengan adanya teknologi modern sekaligus persaingan di dunia global. Selain itu, produk-produk tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan penyimpanan kekayaan, sehingga dibutuhkanlah jasa perbankan untuk memenuhinya. Seperti produk- produk penghimpun dananya, yakni: giro, tabungan, dan deposito. Namun, dalam prakteknya ternyata tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam, oleh karenanya perlu dipahami lagi secara lebih mendalam supaya tidak melanggar hukum Islam yang telah ditetapkan demi kemashlahatan umat manusia. Dari ketiga produk penghimpun dana yang disediakan oleh bank, maka penulis akan menerangkan lebih jauh lagi tentang giro dan tabungan yang berbasis syari’ah.
Produk giro dan tabungan pada Bank Muamalat menggunakan akad wadiah saat ini merupakan salah satu bentuk produk tabungan perbankan syariah yang memberikan rasa aman. Dalam hal ini dana simpanan nasabah tidak mungkin berkurang, bahkan dana yang
ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 69-76 71 Pencatatan Akuntansi
dititipkan bertambah dari saldo awal dalam jangka waktu tertentu. Penambahan saldo tersebut berasal dari bonus yang diberikan pihak bank. Bonus yang diberikan tidak boleh diperjanjikan di awal dan murni kebijakan akad.
Penulis mengambil judul simpanan wadiah karena penulis mempunyai pengetahuan yang kompeten tentang perbankan syariah, selain itu penulis juga memiliki pengetahuan agama yang cukup luas sehingga hasil dari penelitian nantinya dapat dipertanggungjawabkan dan praktik-praktik perbankan syariah yang menyimpang dari prinsip-prinsip syariah serta dapat dihindari bahkan dapat dihilangkan. Menganalisis akuntansi produk simpanan wadiah pada bank muamalat.
Rumusan Masalah berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : Apakah produk simpanan wadiah Bank Muamalat di Makassar telah sesuai dengan PSAK 101 ?
Tujuan Penelitian berdasarkan rumusan masalah diatas penulis melakukan penelitian untuk: Mengetahui cara penyajian produk simpanan wadiah pada Bank Muamalat di Makassar sesuai PSAK 101 dan Untuk mengetahui penerapan produk simpanan wadiah pada Bank Muamalat di Makassar sesuai PSAK 101.
.
TINJAUAN LITERATUR
Pengertian Akuntansi, AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) mendefenisikan “Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengiktisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian- kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termaksud menafsirkan hasil-hasilnya”. Buku A Statement of basic Accounting Theory menyatakan akuntansi adalah “Proses mengidentifikasi mengkur, dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal pertimbangan dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya”. Akuntansi Syariah adalah proses akuntansi yang terjadi implikasi nilai-nilai yang di kandung dalam ayat-ayat Al-Quran. Atau dengan kata lain adalah proses akuntansi yang berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah, baik dalam siklus
akuntansinya maupun pencatatannya (Muhamad, 2016).
Bank Muamalat adalah bank umum pertama di Indonesia yang menerapkan prinsip Syariah Islam dalam menjalankan operasionalnya. Produk yang digunakan Bank Muamalat, yaitu produk pendanaan menggunakan prinsip wadiah (titipan) dan mudharabah (bagi hasil). Sedangkan penanaman dananya menggunakan prinsip jual beli, bagi hasil dan sewa.
Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh nasabah kepada bank syariah dan/atau UUS berdasarkan akad wadiah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dalam bentuk giro,tabungan, atau bentuk lainnya yang disamakan dengan itu. Menurut UU No. 24 tahun 2004 tentang lembaga penjaminan simpanan, setiap bank wajib menjadi anggota LPS, termaksud bank syariah (Muhamad :
2016).
Pengertian Wadiah Secara etimologi kata Wadi’ah berasal dari wada asy syai-a yaitu meninggalkan/titip sesuatu. Yakni sesuatu yang seseorang tinggalkan pada orang lain agar dijaga disebut wadi’ah, karena dia meninggalkannya pada orang yang sanggup menjaga. Secara harfiah, Wadiah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badan yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya.
Sedangkan secara terminologi, wadi’ah dapat didefinisikan dengan “memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya atau barangnya dengan secara terang-terangan atau dengan isyarat yang menunjukkan hal itu.”
Lebih lanjut dalam Peraturan Bank Indonesia, wadi’ah didefinisikan dengan “penitipan dana atau barang pada penyimpan dana atau barang dengan kewajiban pihak yang menerima titipan untuk mengembalikan dana atau barang titipan sewaktu-waktu (Ziah, 2012).
Wadiah berarti simpanan (deposito) barang atau dana kepada pihak lain yang bukan pemiliknya, untuk tujuan keamanan.
Dengan kata lain, wadiah merupakan akad penitipan dari pihak yang mempunyai uang/barang kepada pihak yang menerima titipan wajib menyerahkan kembali uang/barang titipan tersebut dan yang dititip menjadi penjamin pengembalian barang titipan. Terdapat satu kata kunci utama yang melekat pada pengertian wadiah tersebut,
miliknya kapan pun maka pihak yang dititipi harus menyerahkannya (Fordebi & Adesy, 2017).
Dasar hukum wadiah, wadiah adalah suatu akad yang dibolehkan oleh syara’
berdasarkan Al Quran, Al-Hadits, dan Ijma’.
1) Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah ayat 282 Allah berfirman : Artinya:”Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
2) Al-Hadits, dasar hukum wadiah juga terdapat dalam hadist Nabi : Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasullulah saw bersabda, “Sampaikanlah (tunaikanlah) amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah mengkhianatimu.” (HR Abu Dawud dan menurut Tirmidzi hadist ini hasan, sedang Imam Hakim mengkategorikan sahih). 3) Ijma’
Para tokoh ulama Islam sepanjang zaman telah melakukan ijma (konsensus) terhadap legitimasi al-wadiah karena kebutuhan manusia terhadap hal ini jelas terihat, seperti dikutip oleh Dr. Azzuhaily dalam al-Fiqh al- Islami wa adillatuhu dari kitab al-Mughni wa Syarh Kabir li ibni Qudhamah dan Mubsuth li Imam Sarakhsy.
Rukun wadiah yaitu 1) Muwaddi atau orang yang menitipkan 2) Wadi’I orang yang dititipi barang 3) Wadi’ah barang yang dititipkan 4) Shigot Ijab dan qobul sedangkan muwaddi dan wadi’i mempunyai persyaratan yang sama yaitu harus balig, berakal dan dewasa.
Jenis-jenis Wadiah Secara umum terdapat dua jenis wadiah yaitu 1) wadiah yad al-amanah adalah Penerima titipan hanya berfungsi sebagai penerima amanah yang bertugas dan berkewajiban untuk menjaga barang yang dititipkan tanpa boleh memanfaatkannya. 2) wadiah yad Dhamanah adalah harta dan barang yang ditiitipkan boleh
titipan.
Aplikasi dalam perbankan yaitu 1) Giro Wadiah adalah simpanan pihak ketiga pada bank syariah (perorangan atau badan, dalam mata uang rupiah atau valuta asing) dengan prinsip syariah yang penarikannya dapat
dilakukan sewaktu-waktu dengan menggunakan cek, bilyet giro atau pemindah bukuan. 2) Tabungan wadi’ah dijelaskan oleh Wiroso dalam bukunya penghimpunan dana dan distribusi hasil usaha bank syariah yaitu adalah “titipan pihak ketiga kepada bank syariah yang penarikannya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati dengan kwitansi, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindah bukuan.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian adalah rencana dan prosedur penelitian yang mencakup semua keputusan mulai dari asumsi yang luas hingga metode paling mendetail mengenai proses pengumpulan dan data. Studi kasus dilakukan di Bank Muamalat Cabang Makassar. Adapun desain penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif komperatif yaitu dengan membandingkan antara perlakuan akuntansi syariah pada produk simpanan wadiah Bank Muamalat di Makassar dengan perlakuan akuntansi menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).
Lokasi penelitian ini pada PT Bank Muamalat cabang Makassar yang beralamat di Jl. DR. Ratulangi No. 12, Makassar, Sulawesi Selatan, penelitian dilaksanakan selama 2 bulan.
Data penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Kualitatif yaitu Data yang di peroleh berupa penjelasan yang di peroleh dari bank muamalat yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh penulis melalui wawancara.
Teknik pengumpulan data melalui : 1) Teknik observasi, yaitu teknik mengadakan pengamatan langsung pada Bank Muamalat KCU Ratulangi dan dari pengamatan yang dilakukan pencatatan secara teratur dan sistematis sesuai dengan data yang dibutuhkan.
2) Teknik dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data melalui dokumen-dokumen penting tentang masalah yang diteliti yang berupa laporan keuangan dan sejarah serta
ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 69-76 73 Pencatatan Akuntansi
struktur organisasi Bank Muamalat KCU Ratulangi.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk menunjukan sejauh mana alat ukur yang digunakan dalam suatu mengukur apa yang diukur. 2) Reliabilitas adalah konsitensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Produk-produk yang ditawarkan Bank Muamalat. 1) Tabungan iB Hijrah Tabungan dalam mata uang Rupiah yang dapat digunakan untuk beragam jenis transaksi, memberikan akses yang mudah, serta manfaat yang luas. Tabungan iB Hijrah kini hadir dengan dua pilihan kartu ATM/Debit yaitu:
Kartu Shar-E Reguler, Shar-E Gold, dan Shar- E ihram. 2) Tabungan iB Hijrah Valas Tabungan dalam denominasi valuta asing US Dollar (USD) dan Singapore Dollar (SGD) bertujuan untuk melayani kebutuhan transaksi dan investasi yang lebih beragam. 3) Tabungan iB Hijrah Haji Tabungan haji dan umrah dalam mata uang Rupiah dan valuta asing US Dollar yang dikhususkan bagi Nasabah masyarakat muslim Indonesia yang berencana menunaikan ibadah Haji dan Umrah. 4) Tabungan iB Hijrah Rencana Tabungan iB Hijrah Rencana merupakan tabungan berjangka dalam mata uang Rupiah, memiliki setoran rutin bulanan dan tidak bisa ditarik sebelum jangka waktu berakhir kecuali penutupan rekening serta pencairan dana hanya bisa dilakukan ke rekening sumber dana. Tabungan iB Muamalat Rencana dapat membantu mewujudkan berbagai rencana Nasabah di masa yang akan datang. 5) TabunganKu iB Tabungan syariah dalam mata uang Rupiah yang sangat terjangkau bagi Nasabah dari semua kalangan Masyarakat.
Produk simpanan wadiah yang ditawarkan bank muamalat yaitu Giro iB Muamalat Attijary Corporate Produk giro berbasis akad wadiah yang memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi. Merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan transaksi bisnis Nasabah Non-perorangan yang didukung oleh fasilitas Cash Management.
Jurnal yang dilakukan Bank Muamalat berkaitan dengan simpanan wadiah. Berikut diberikan kasus transaksi wadiah, baik giro
wadiah maupun tabungan wadiah jurnal-jurnal yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Pada tanggal 01 September 2018 Bank Muamalat cabang Makassar menerima setoran tunai pembukuan rekening giro wadiah atas nama Ibrahim sebesar Rp. 25.000.000,- 2) Pada tanggal 04 September 2018 Ibrahim
menggunakan cek untuk mencairkan dana di rekening di giro wadianhnya Bank Muamalat secara tunai sebesar Rp.
20.000.000,- 3) Pada tanggal 07 September 2018 Ibrahim menerima bonus giro wadiah dari Bank Muamalat sebesar Rp.100.000,- 4) Pada tanggal 10 September 2018 Bank Muamalat menerima setoran tunai dari albar sebesar Rp. 30.000.000,- untuk setoran tabungan wadiah. 5) Pada tanggal 14 September 2018 Albar melakukan penarikan dana tabungan wadiah sebesar Rp.
15.000.000,-dengan melalui ATM. 6) Pada tanggal 16 September 2018 Bank Muamalat memberikan bonus atas rekening tabungan wadiah albar sebesar Rp. 200.000,- bonus yang diberikan nasabah tabungan wadiah menambah beban bonus wadiah.
Tabel 1 Jurnal dari transaksi giro wadiah dan tabungan wadiah
Tanggal Keterangan Debit Kredit 01/09 Kas Rp.25.000.000
Giro Wadiah
Rp. 25.000.000 04/09 Giro
Wadiah
Rp. 20.000.000
Kas Rp. 20.000.000
07/09 Beban bonus giro wadiah
Rp. 100.000
Giro wadiah Rp. 100.000
10/09 Kas Rp.30.000.000 Tabungan
wadiah
Rp.30.000.000 14/09 Tabungan
wadiah
Rp. 15.000.000
Kas Rp. 15.000.000
16/09 Beban bonus wadiah
Rp. 200.000
Tabungan wadiah
Rp.200.000
Sumber : Data diolah (2019)
STIE YPUP Makassar
Laporan Keuangan
PSAK 101 Bank Muamalat
Catatan Laporan
Posisi Keuangan
1. Aset giro pada bank lain 2. Kewajiban -
Simpanan - Simpanan dari bank lain
1. Aset giro pada bank lain 2. Liabilitas –
Simpanan - Simpanan dari bank lain
Sesuai PSAK 101
Laporan laba Rugi
Beban usaha - Beban
Kepegawaian - Beban
Administrasi - Beban
Penyusutan dan Amortisasi
Beban usaha - Beban
Umum &
Administrasi - Beban
Karyawan - Beban Giro
Wadiah
Tidak sesuai PSAK 101 karena adanya perbedaan komponen dengan PSAK 101 Laporan
perubahan dana investasi terikat
Laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas - Penerimaan
dana - Penarikan
dana
Arus kas dari aktivitas operasi - Simpanan - Simpanan
dari bank lain Sesuai PSAK 101 karena disajikan secara terpisah antara laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas Catatan
atas Laporan Keuangan
Menyajikan informasi tambahan atas pos-pos dalam :
1. Laporan posisi keuangan 2. Laporan
laba rugi 3. Laporan
perubahan ekuitas 4. Laporan
arus kas
Ikhtisar Kebijakan Akuntansi - Simpanan - Simpanan
dari bank lain Sesuai PSAK 101 PSAK 101 Bank Muamalat Catatan
1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 2. Laporan Laba
Rugi 3. Laporan
Perubahan Dana Investasi Terikat ( Arus Kas dan perubahan Ekuitas ) 4. Laporan
Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil 5. Laporan Sumber
dan Penggunaan dana Zakat 6. Laporan Sumber
dan Penggunaan Dana Kebajikan 7. Catatan Atas
Laporan Keuangan
1. Laporan Posisi keuangan 2. Laporan Laba
Rugi dan penghasilan Komprehensif lainnya 3. Laporan
Perubahan Ekuitas 4. Laporan Arus
Kas 5. Laporan
Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil 6. Laporan Sumber
dan penyaluran Dana Zakat 7. Laporan Sumber
Dana dan Penggunaan Dana Kebajikan 8. Catatan atas
Laporan Keuangan
Penyajian laporan keuangan sudah sesuai dengan PSAK 101 tetapi penyajian laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas dimaksudkan dalam laporan perubahan dana investasi terikat.
Tabel 2 Laporan Keuangan yang berkaitan dengan simpanan wadiah
Tabel 4 Perbedaan Komponen Laporan Keuangan
POS–POS BANK MUAMALAT
31 Desember 2018
31 Desember 2017
31 Desember 2016 Bonus giro
wadiah
(12.567.672) (14.235.522) (5.827.959) Simpanan
Giro wadiah Pihak ketiga
1.854.294.967 2.965.112.097 2.533.947.409 Pihak
berelasi
45.354.109 65.057.531 21.019.669 Tabungan
wadiah Pihak ketiga
3.445.176.392 2.602.019.083 2.114.729.750 Jumlah 5.344.825.468 5.632.188.711 4.669.696.828
Sumber : Data diolah (2019)
Tabel 3 Perbedaan penyajian laporan keuangan PSAK 101dan Bank Muamalat
Sumber : Data Diolah (2019)
Sumber : Data Diolah (2019)
75 Hasma Wati Sulaiman, Ibrahim H Ahmad, & Syarifuddin
Pencatatan Akuntansi
Tabel 5 Perbedaan simpanan wadiah (PSAK 101) entitas syariah dengan Bank
Muamalat
Indikator Entitas Syariah
Bank Muamalat
Hasil Definisi Titipan pihak
ketiga
Titipan dari nasabah ke pihak Bank
Belum sepenuhnya sesuai PSAK 101 Objek Akad Uang,
Barang, Dokumen, dan Surat Berharga
Uang Belum
sesuai PSAK 101
Bonus Tergantung
pihak bank
Kebijakan Bank
Sesuai PSAK 101 Konsekuensi
Akad
Barang titipan harus dijaga
Barang titipan harus dijaga
Sesuai PSAK 101 Pengenaan
biaya
Free Free Sesuai
PSAK 101
Pengembalian Tetap Tetap Sesuai
PSAK 101 Pemanfataan Tidak boleh
digunakan
Tidak boleh digunakan
Sesuai PSAK 101 Aplikasi
prinsip wadiah
Giro wadiah, tabungan wadiah
Giro wadiah, tabungan wadiah
Sesuai PSAK 101 Jenis wadiah Wadiah Yad
Al-Amanah, Wadiah Yad Ad-Damanah
Wadiah Yad Ad-Damanah
Belum sepenuhnya sesuai PSAK 101
Sumber : Data Diolah (2019)
PENUTUP
Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa : 1) Cara penyajian produk simpanan wadiah sudah sesuai dengan PSAK 101 sesuai dengan yang terlampir di Laporan keuangan.
2) Penerapan produk simpanan wadiah saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan PSAK 101.
Yaitu Laporan laba rugi bank muamalat karena adanya perbedaan komponen dengan PSAK 101, produk simpanan wadiah di Bank Muamalat mengenai objek akad yang digunakan saat ini berupa uang sedangkan sesuai PSAK 101 Entitas syariah, simpanan wadiah baik itu giro atau tabungan wadiah objek akad yang digunakan berupa Uang, Barang, Dokumen, dan Surat Berharga dan pemberian bonus pada simpanan wadiah sudah sesuai dengan PSAK 101 entitas syariah yaitu kebijakan bank. Akan tetapi, pada hakekatnya bonus tersebut merupakan riba yang diharamkan menurut hukum syara’.
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran, sebagai berikut: 1) Pihak Bank harus mempertahankan kinerja pengelolaan dana bank sesuai penyajian
akuntansi produk simpanan wadiah PSAK 101. 2) Bank Muamalat seharusnya menerapkan produk simpanan wadiah sesuai dengan PSAK 101 entitas syariah berdasarkan prinsip-prinsip syariah yaitu penerapan akuntansi produk simpanan wadiah di Bank Muamalat harus mengikuti apa yang telah dipaparkan dalam Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan Syariah dan apabila Bank Muamalat menginginkan titipan berupa uang dan nasabah mendapatkan bonus maka yang diterapkan adalah akad qardh bukan akad wadiah atau simpanan wadiah.
DAFTAR PUSTAKA
Al Hadi, A.A (2017). Fikih Muamalah Kontemporer. Edisi 1. Cetakan Ke-1.
Depok: Rajawali Pers
Ascarya, (2015). Akad dan Produk Bank Syariah. Edisi 1, Cetakan ke-5. Jakarta:
Rajawali Pres.
Bank Muamalat. (2016). Bank Muamalat terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Copyright © PT Bank Muamalat Tbk. Jakarta. All Rights Reserved.
https://www.bankmuamalat.co.id Bank Muamalat. (2018). Laporan Tahunan
2018 Annual Report. Muamalat Indonesia Tbk. Jakarta.
https://www.bankmuamalat.co.id/ Creswell.
(2017). Research Design, Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Cetakan Ke-2. Jogyakarta: Pustaka Pelajar. Fordebi &
Adesy (2017). Akuntansi Syariah Seri Konsep dan Aplikasi Ekonomi dan Bisnis Islam. Edisi.1.Cetakan-2. Jakarta:
Rajawali Pres.
Harahap, S.S, Wiroso & Yusuf. M. (2010).
Akuntansi Perbankan Syariah. PSAK Syariah Baru. Ed. Cetakan-4. Jakarta.
LPFE Usakti.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2015). Dewan Standar Akuntansi Keuangan, ED Revisi PSAK 101. Penyajian Akuntansi keuangan Syariah. Jakarta
Ismail. (2017) Perbankan Syariah. Edisi Pertama. Cetakan Ke-5. Jakarta:
Kencana.
Muhamad. (2016). Akuntansi Syariah, Teori dan Praktik untuk Perbankan Syaraih.
Edisi Pertama. Cetakan kedua.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
STIE YPUP Makassar
Nurhayati, S & Wasilah. (2014). Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi Revisi.
Jakarta: Salemba Empat.
Rahmaanti, V.N, Mulawarman, A.D, &
Kamayanti, A. (2013). Menggeder paradigma Stock concept menuju flow concept kritik atas net revenue sharing pada akuntansi mudharabah. Malang.
Univesitas Brawijaya.
Rochman. (2017). Perbankan Syariah.
Diakses pada tanggal 13 Juni 2019 melalui wabsite https://id.wikipedia.org/wiki/Perbankan _syariah.
Yaya, R., Martawireja, A.E. & Abdurahim, (2014). Akuntansi Perbankan Syariah/
Ahim- Jakarta: Salemba Empat.
Kasse, S.L. & Damayanti, R.A (2016).
Strategi Cost Reduction Dalam Nilai- Nilai Korporasi Perusahaan. Jurnal Akuntansi Multiparadigma. Akuntansi.
Makassar. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Pendidikan Ujung Pandang. Diakses pada tanggal 13 September 2019 melalui website https://jamal.ub.ac.id/index.php/jamal/ar ticle/view/441
Ziah. (2012). Wadiah, Wakalah dan Ariyah.
Blog: Man Jadda Wa Jadda. 21 Desember 2012. Jakarta Timur. DKI Jakarta, Indonesia. Diakses pada tanggal 13 Juni 2019 melalui website.
https://hidupberawaldari.blogspot.com/2 012/12/wadiah-wakalah-dan-
ariyah.html.