• Tidak ada hasil yang ditemukan

ab 1 Pendahuluan Chronic Kidney Deasise

N/A
N/A
Siti Hotimah

Academic year: 2023

Membagikan "ab 1 Pendahuluan Chronic Kidney Deasise"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

ab 1 Pendahuluan

Latar belakang

1.1 Latar belakang

Komplikasi utama pada pasien Chronic Kidney Deasise (CKD) adalah anemia mempengaruhi 49-55% pasien CKD, yang ditemukan pada fase awal penyakit maupun stadium akhir yang membutuhkan hemodialisis teratur berkontribusi pada peningkatan angka kejadian morbiditas dan mortalitas, serta penurunan kualitas hidup yang terjadi jutaan orang diseluruh dunia1. Anemia dengan CKD dan lebih sering terjadi setelah penyakit menjadi lebih lanjut disebabkan banyak aspek, produksi EPO (erythropoietin) yang tidak mencukupi, pemendekan produksi eritrosit, hypo-responsiveness sel progenitor eritroid terhadap EPO, defisiensi besi, dan faktor-faktor lain, salah satunya inhibitor sirkulasi eritropoiesis bisa menyebabkan terjadinya CKD 2,3. Produksi erythropoietin dan homeostasis besi terganggu sebagai rangkian kejadian yang kompleks, termasuk defisiensi relatif eritropoietin, inflamasi kronik, blood loss, absorbsi besi dan penggunaannya meningkat, besi eksogen, serta erythropoietin tambahan melalui biologically unregulated mechanisms (blood transfusion and medicinal erythropoietin and iron administration) 4,5.

Anemia pada penderita CKD hemodialisis (HDCKD) terapinya mengacu pada guidelines NKF-DOQI (National Kidney Foundation- Disease Outcomes Quality Initiative) adalah pemberian besi intravena, sebaliknya penderita CKD non hemodialisis dengan pemberian zat besi per oral 6. Pemberian erythropoiesis stimulating agents (ESA) dan preparat besi intravena yang beragam menimbulkan tatalaksana terapi pada CKD menjadi lebih efektif, sehingga sanggup mempertahankan kandungan hemoglobin pada tingkat tertentu berdasarkan range yang sesuai terapi yang efektif pada defisiensi besi.

Diantara tantangan yang diketahui saat ini adalah resiko yang berkaitan dengan pemberian besi dan ESA dosis tinggi yang menyebabkan peningkatan kadar Hb dan iron overload 7.

Terapi anemia dengan Recombinant human erythropoietin (rHuEpo) pada pasien penyakit ginjal telah digunakan sejak tahun 1989. Namun, terapi rHuEpo justru mengakibatkan defisensi besi disebabkan karena cadangan besi yang kurang memadai terhadap akselerasi eritropoiesis. Defisiensi besi adalah penyebab utama respon

(2)

suboptimal terhadap eritropoietin pada pasien HDCKD, sehingga maintenance suplemen besi diperlukan agar terapi anemia dapat berhasil. Pemberian suplemen besi diperlukan untuk keberhasilan pengobatan anemia. Pemberian terapi besi oral jangka panjang jarang dilakukan karena adanya ketidakpatuhan, efek samping pada saluran cerna, absorbsi yang insufisien dan interaksi obat. Pemberian terapi besi intravena digunakan untuk mengobati pasien HDCKD yang mengalami defisiensi besi 7,17.

Beberapa indikator zat besi dapat digunakan untuk mendeteksi anemia defesiensi besi . dalam pengaturan dimana komorbiditas perancu terjadi pada pasien hemodialysis.

Indikator besi yang paling tersedia untuk anemia defesiensi besi (IDA) adalah saturasi tranferin dan ferritin. Indikator tersebut diketahui dipengaruhi oleh inflamasi dimana hemodialisis itu sendiri , kondisi inflamasi melalui toksis uremik, penyakit yang mendasari, proses hemodialis sehingga interpretasinya terhambat oleh factor fisiologis dan menyebabkan kegagalan dalam mendeteksi status defesiensi besinya. Penanda baru yang bisa menbedakan anemia defesiensi besi dengan lainnya terutama anemia penyakit kronis adalah soluble transferrin receptor (sTfR) yang tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh penyakit kronis bersamaan serta peradangan.

Parameter soluble transferrin receptor (sTrF) merupakan rantai polipeptida tunggal 85 kDa yang dapat diukur dari serum manusia yang berasal dari reseptor transferrin, protein selular transmembrane 190 kDa, terutama diekspresikan oleh sel yang membutuhkan zat besi. sTrF mencerminkan jumlah reseptor seluler dan sebanding dengan jumlah eritroblas yang mengekspresikan reseptor, oleh karena itu berkaitan erat dengan kebutuhan zat besi seluler dan proliferasi eritroid. Sintesis reseptor sangat meningkat ketika sel kekurangam zat besi sehingga jumlah reseptor yang beredar meningkat pada defisiensi besi.

Sintesis sTfR ditekan oleh sitokin pada anemia yang disebabkan inflamasi, sehingga mengurangi efek stimulasi yang berlawanan terhadap zat besi, yang mengakibatkan konsentrasi Tfr serum yang lebih rendah daripada defisiensi besi murni. sTrF terbukti tidak berpengaruh penyakit kronis dan peradangan yang terjadi bersamaan. Konsentrasi serum sTfR didapatkan meningkat pada defisiensi besi, tetapi tidak pada penyakit kronis.

Referensi

Dokumen terkait