• Tidak ada hasil yang ditemukan

pendapat hakim pengadilan agama magetan terhadap

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pendapat hakim pengadilan agama magetan terhadap"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh :

SRI RAHAYU WILUJENG N.P.M: 21902021022

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM MALANG

MALANG 2021

(2)

v

Sri Rahayu Wilujeng Moh. Muhibbin Anang Sulistyono ABSTRAK

Berangkat dari kewenangan judicial review, MK berhak untuk melakukan uji materi terhadap undang-undang, termasuk Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan sebagaimana tampak pada putusan nomor 46/PUU- VIII/2010 tentang pengujian terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang mana salah satu putusannya adalah membatalkan pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Dengan putusan itu, maka anak luar kawin yang semula hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya, setelah adanya putusan MK ini menjadi berhak untuk memiliki hubungan perdata bahkan hak-hak pemeliharaan dari ayah biologisnya, selama dapat dibuktikan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi ataupun alat bukti lainnya.

Dalam pembahasan diatas, rumusan masalah yang dingkat dalam tesis ini adalah (1) Bagaimana pendapat Hakim Pengadilan Agama Magetan terhadap hak-hak keperdataan anak yang lahir diluar perkawinan pasca putusan MK No.

46/PUU–VIII/2010? (2) Bagaimana Pertimbangan MK dalam memutuskan hak- hak keperdataan anak yang lahir di luar perkawinan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dengan mencari data melalui dokumentasi putusan MK No. 46/ PUU- VIII/2010 dan wawancara para hakim, kemudian data sekunder diperoleh dari buku yang memiliki keterkaitan dengan masalah ini. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sistem deskriptif analisis.

Hasil penelitian menyatakan bahwa Semua hakim Pengadilan Agama Magetan sepakat terkait dengan hak keperdataan penuh yang diterima oleh anak hasil nikah sirri yang sah menurut agama meliputi hak kewarisan hak nasab hak perwalian dan hak nafkah. Sedangkan untuk hak keperdataan anak hasil perzinaan para hakim Pengadilan Agama Magetan berpendapat bahwa anak tersebut tidak mendapatkan hak keperdataan islam melainkan hanya mendapatkan hak keperdataan umum berupa biaya pendidikan dan nafkah.

Mahkamah Konstitusi dalam pertimbangan hukumnya terhadap ketentuan hukum Pasal 43 ayat (1) UUP No. 1 Tahun 1974 memutuskan bahwa ketentuan yang terdapat dalam pasal 43 ayat (1) UUP No. 1 Tahun 1974 tersebut dipandang tidak adil karena tujuannya merupakan untuk memberikan perlindungan terhadap anak yang dilahirkan maka hukum harus memberikan pertimbangan dan kepastian hukum yang adil terhadap anak yang dilahirkan dan hak-hak yang ada padanya, meskipun keabsahan perkawinan orangtuanya masih dipersengketakan.

Oleh karena itu Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk memberikan tanggung jawab juga kepada ayah biologisnya. Dengan pertimbangan hukum anak luar kawin tersebut lahir ke dunia ini karena perbuatan hubungan badan antara ibu dan ayah biologisnya tersebut secara bersama-sama dan bukan atas kemauan dari anak tersebut.

(3)

vi

Keywords : Opinion, Civil Rights and Decisions

Sri Rahayu Wilujeng Moh. Muhibbin Anang Sulistyono

ABSTRAKS

Departing from the judicial review authority, the Court has the right to conduct material tests against the law, including Law No. 1 of 1974 on marriage as shown in the decision no. 46/PUU-VIII/2010 on testing against Law No. 1 of 1974 in which one of the rulings is to cancel article 43 paragraph (1) of Law No.

1 of 1974. With the verdict, the extramarriage child who originally only had a civil relationship with his mother and mother's family, after the court's decision became entitled to have a civil relationship even the maintenance rights of his biological father, as long as it can be proven through science and technology or other evidence.

In the above discussion, the formulation of the problem raised in this thesis is (1) What is the opinion of the Judge of magetan Religious Court on the civil rights of children born outside marriage after the decision of Mk No.

46/PUU–VIII/2010? (2) What are the considerations of the Court in deciding the civil rights of children born outside of marriage?

To answer the above question the researchers used a qualitative approach, by searching for data through the documentation of the verdict of MK No. 46/ PUU- VIII/2010 and interviews of the judges, then secondary data obtained from books related to this issue. Furthermore, the data obtained is analyzed using descriptive analysis system.

The results stated that all judges of the Magetan Religious Court agreed in relation to the full civil rights received by the child of the legal circumcision marriage according to religion including the right of inheritance of guardianship rights and the right to living. As for the civil rights of children resulting from adultery, the judges of the Magetan Religious Court argued that the child does not get islamic civil rights but only get the general civil rights in the form of costs education and livelihood. The Constitutional Court in its legal consideration of the provisions of Article 43 paragraph (1) UUP No. 1 of 1974 ruled that the provisions contained in article 43 paragraph (1) UUP No. 1 of 1974 is considered unfair because the purpose is to provide protection to the child born then the law must provide fair legal consideration and certainty to the child born and the rights there in it , although the validity of his parents' marriage is still disputed.

Therefore the Constitutional Court decided to give responsibility also to his biological father. With legal considerations the extramarriage child was born into this world because of the act of intercourse between the mother and her biological father together and not on the will of the child.

(4)

1 A. Latar Belakang Masalah

Adanya tuntutan perkembangan zaman dan dinamika ketatanegaraan Indonesia adalah kebutuhan terbentuknya lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi (selanjutnya ditulis MK) dengan kewenangan khusus yang merupakan bentuk judicial control dalam kerangka sistem check and balances diantara cabang-cabang kekuasaan pemerintahan. Berdasarkan pemikiran itulah, MK terbentuk melalui amanat UUD 1945 pasal 24 ayat (2). Pasal tersebut secara tegas memasukkan MK sebagai salah satu lembaga pelaksana kekuasaan kehakiman, yang salah satu kewenanganmya sebagaimana disebutkan dalam pasal 24 C ayat 1 UUD 1945 adalah melakukan pengujian undang- undang terhadap UUD 1945 yang putusannya dianggap final.

Pada 20 Desember 1993 Machica menikahi siri dengan Moerdiono.

Buah dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama M Iqbal Ramadhan. Ternyata pernikahan yang tidak diakui negara hanya bertahan sebentar saja. Keduanya memutuskan bercerai pada 1998.

Setelah itu, Machica hanya sendirian membesarkan dan menafkahi anaknya dan di tahun 2000 Machica menikah secara sah dan di catat dengan Khalid Mahmud pria asal Pakistan.

Segala cara dilakukan Machica supaya anak hasil dari perkawinannya dengan Moerdiono diakui oleh keluarga Moerdiono, dari cara baik-baik sampai di siarkan di televise, yang akhirnya di bulan Juli

(5)

2008 keluarga besar Moerdiono melalui jumpa pers menegaskan kalau Iqbal bukan darah daging Moerdiono. Demi memperjuangkan hak Iqbal sebagai seorang anak, Machica melayangkan judicial review ke MK.

Machica meminta MK menguji pasal 2 ayat 2 dan pasal 43 ayat 1 dalam UU 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Pasal itu mengatur anak yang dilahirkan diluar pernkahan yang hanya memiliki hubungan dengan perdata dengan ibu dan keluarga ibu.

Akhirnya uji materil itu diputus pada 17 Februari 2012. Majelis hakim MK mengabulkan permohonan uji materil Machica Mochtar.

Dengan begitu seluruh anak luar nikah di Indonesia memiliki hubungan perdata dengan ayah biologisnya, apabila bisa dibuktikan dengan tes DNA. Ketua Mejelis Hakim Mahfud MD menyatakan anak lahir di luar hubungan pernikahan atau di luar hubungan resmi tetap memiliki hubungan dengan ayahnya. Setelah adanya putusan ini, wanita bisa menuntut pria yang menghamilinya untuk memberi nafkah sang anak.

Dengan dikabulkannya uji materi pasal ini, tidak ada lagi anak yang ditolak masuk Lembaga pendidikkan maupun Lembaga formal lainnya akibat tidak memiliki keterangan siapa ayahnya. Secara resmi MK sudah menetapkan bahwa anak yang lahir di luar perkawinan masih punya hubungan dengan ayah secara perdata. Kemudian, status anak tersebut tetap sah secara hukum.

Dikabulkannya uji materi tersebut menurut Machica, putusan MK ini adalah kebaikan untuk anak-anak yang lahir di luar perkawinan dan bisa melanjutkan masa depannya, sama dengan anak-anak yang lain.

Menurut Machica, apa yang dia lakukan adalah demi anaknya. Selama ini

(6)

anak hasil pernikahan sirinya dengan mantan Mensesneg era orde baru, Moerdiono tidak memiliki kepastian status. Namun saat putusan ini diketuk, Moerdiono telah tutup usia pada 7 Oktober 2011 karena sakit.

Di tengah perjuangannya untuk mencari pengakuan atas anaknya dari hasil hubungannya dengan Moerdiono, Machica melontarkan pengakuan yang mengejutkan. Machica yang mengaku pernah nikah siri dengan Moerdiono mengaku mempunyai video seks dengan Moerdiono yang kini telah meninggal dunia itu. Machica bahkan mengajak Poppy Dharsono, istri kedua dan dinikah sirri juga, untuk menonton bareng video tersebut demi membalas Poppy Dharsono yang telah menyerangnya lewat buku Pak Moer-Poppy The Untold Story’. Setelah melakukan tes DNA (Dexyribonucleic acid) di RSCM pada 7 Januari 2013, Machica bisa bernafas lega karena hasil tes menyebutkan bahwa putranya adalah anak dari almarhum Moerdiono.

Hasilnya 99.999 tes DNA cocok, tinggal 0.001 persen, untuk melengkapi bukti atau fakta hukum, Machica bersedia melakukan sumpah di depan Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang akan memutus status anaknya. Nah, melakukan sumpah untuk melengkapi yang sudah ada ini dalam istilah hukum disebut dengan sumber supletoir.

Pada februari 2012, Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 46/PUU-VIII/2010 terkait kedudukan hukum bagi anak luar kawin. Putusan ini lantas mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak, baik dari kalangan praktisi hukum, akademisi, LSM, MUI, bahkan masyarakat. Walaupun melegakan sejumlah pihak, tapi

(7)

aka nada permasalahan baru yang timbul dari putusan mahkamah konstitusi tersebut.

Perundingan tentang anak dari luar nikah, termasuk perundingan yang cukup Panjang, apabilagi pasca keluarnya putusan Mk RI No.

46/PUU-VIII/2010 tentang anak-anak di luar perkawinan,banyak yang setuju dan bahagia karena ada kejelasan dari anak-anak dari wanita yang pasangannya tidak mau bertanggungjawab dan ada juga orang-orang ataupun organisasi-organisasi yang tidak setuju dan lebih menegaskan apa hak dari anak diluar nikah itu sendiri.

Komnas Perempuan menyambut positif putusan MK karena sejalan dengan konstitusi dan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (UU No. 7 Tahun 1984)”. Putusan ini meneguhkan pelaksanaan jaminan hak konstitusional bagi anak”, demikian bunyi pernyataan resmi Komisi yang diterima hukumonline dari ketua MK Mahfud MD, berpendapat dengan adanya putusan ini, para ayahharus bertanggungjawab atas anak yang lahir dari hubungan haram atau perzinahan sekalipun. Hal ini sesuai dengan UU Kewarganegaraan menyangkut HAM.

Sepekan setelah putusan MK dibacakan, komisioner Komnas Ham, Saharuddin Daming, membuat sebuah artikel yang menguji putusan Mahkamah Konstitusi sebagai ‘terobosan spektakuler’. Menurut Daming, ketentuan pasal 2 ayat (2) dan pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan memerkosa rasa keadilan dan bertanggungjawab dengan prinsip hak asasi manusia, yang dijamin Pasal 28B ayat (1) dan (2) serta Pasal 28D ayat (1) UU Perkawinan. Sedangkan Masyarakat berpendapat, secara

(8)

biologis, hubungan pertalian darah antara anak dan ayah tidak bisa di ingkari, sudah sepatutnya status perkawinan orang tuanya yang mungkin saja tidak sah, tapi tidak dengan serta merta mereduksi hak-hak si anak sebagai manusia, putusan MK ini kemarin kental dengan unsur social dan agama, tetapi tentu koridornya tetap adalah untuk si Ayah Biologis, setidaknya secara materi.1

Berangkat dari kewenangan itulah, MK berhak untuk melakukan uji materi terhadap undang-undang termasuk Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan sebagaimana tampak pada putusan nomor 46/PUU-VIII/2010 tentang pengujian terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang mana salah satu putusannya adalah membatalkan pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang berbunyi: ‘Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”. MK menilai bahwa pasal tersebut bertentangan dengan UUD 1945, sehingga pasal tersebut dirubah menjadi “anak yang dilahirkan diluar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.”

Dengan putusan itu, maka anak luar kawin yang semula hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya, setelah adanya putusan MK ini menjadi berhak untuk memiliki hubungan perdata

1 Pro-kontra-status-anak-luar-kawin., http://m.hukumonline.com/berita, 2012.

(9)

bahkan hak-hak pemeliharaan dari ayah biologisnya, selama dapat dibuktikan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi ataupun alat bukti lainnya.

Menanggapi putusan di atas, KH. Ma’ruf Amin dalam pernyataannya secara tegas mengatakan:

“Putusan MK tersebut menuai kontroversi serta menimbulkan kegelisahan, kerisauan, bahkan keguncangan dikalangan umat Islam, karena berkembang pendapat dan pemahaman masyarakat, bahwa putusan MK tersebut telah mengubah shari’ah Islam, melanggar ajaran Islam, dan mengubah tatanan kehidupan umat Islam yang selama ini berlaku”. Menanggapi perkembangan tersebut, MUI punya tanggungjawab untuk mempertahankan agama Islam dan melindungi umat Islam Indonesia. MUI memandang penting untuk memberikan tanggapan terhadap putusan MK, sekaligus memberikan panduan tegas dan jelas kepada umat Islam dengan mengembalikan tatanan kehidupan umat Islam seperti sedia kala.

Sejalan dengan pandangan KH. Ma’ruf Amin, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, melalui ketuanya Syamsuar Basyariah, meminta MK mengkaji ulang keputusan mengabulkan permohonan uji materil atas Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974, karena diduga bisa menimbulkan kontroversi dikalangan ulama. Menurut Syamsuar Basyriah, sekalipun jika dilihat dari sisi administrasi kenegaraan si anak berhak mendapat hak-hak perdata, semisal pembuatan KTP, namun keputusan tersebut bertentangan dengan norma Islam dan administrasi negara tentang perkawinan.

(10)

Pandangan berbeda dikemukakan oleh Amir Syamsuddin yang menganggap putusan MK sebagai ijtihad yang revolusioner dalam bidang perkawinan. Menurut menteri hukum dan HAM ini, putusan tersebut adalah putusan yang sangat bijaksana. Beliau sependapat dengan putusan MK tentang status anak di luar kawin. Dalam komentarnya ia menegaskan:

“Saya anggap itu suatu putusan yang sangat bijaksana dan sangat baik untuk diterapkan agar status anak-anak ini menjadi jelas dan perlindungan hukumnya terjamin. Sehingga tidak ada orang yang dengan mudahnya mengingkari kewajibannya kepada anaknya, terutama mereka yang masih berada di bawah umur”.

Memang disatu sisi, nasab dalam hukum perkawinan Islam menempati posisi yang begitu urgen, karena dari hubungan nasab inilah kemudian akan lahir akibat hukum lainnya seperti perwalian maupun hak untuk mewarisi. Namun demikian, seorang anak yang dimasukkan ke dalam kategori anak luar kawin ini tetap dianggap memiliki nasab hanya kepada ibu dan keluarga ibunya. Pandangan ini menurut Ibnu Rushd adalah kesepakatan para ulama, sehingga tanggung jawab atas segala keperluannya, baik materiil maupun spirituil adalah ibunya dan keluarga ibunya. Demikian pula halnya dengan hak waris-mewaris.

Kaitannya dengan nasab ini pulalah, menurut riwayat Abu Harairah ra., Rasulullah SAW bersabda yang artinya “anak-anak yang dilahirkan adalah untuk laki-laki yang punya isteri (yang melahirkan anak itu) dan bagi pezina adalah rajam. Hadith ini memberikan pemahaman bahwa anak yang lahir dalam dan karena perkawinan yang sah adalah

(11)

dihubungkan dengan ayah kandungnya. Ketentuan ini tidak berlaku disebabkan kehamilan yang dilakukan karena perzinaan antara seorang laki-laki dan perempuan, sehingga dalam konteks ini, nasab anak hanya dihubungkan kepada ibu dan keluarga ibunya saja. Dengan argumentasi ini, kiranya pandangan kontra terhadap putusan MK dapat dipahami.

Namun pada saat yang sama, MK menilai, justeru hal tersebut menunjukkan adanya ketidakadilan. Dalam hal ini MK berpendapat: “tidak tepat dan tidak adil manakala hukum menetapkan bahwa anak yang lahir dari suatu kehamilan karena hubungan seksual diluar perkawinan hanya memiliki hubungan dengan perempuan tersebut sebagai ibunya. Adalah tidak tepat dan tidak adil pula jika hukum membebaskan laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang menyebabkan terjadinya kehamilan dan kelahiran anak tersebut dari tanggung jawabnya sebagai seorang bapak dan bersamaan dengan itu hukum meniadakan hak-hak anak terhadap lelaki tersebut sebagai bapaknya. Lebih-lebih manakala berdasarkan perkembangan teknologi yang ada memungkinkan dapat dibuktikan bahwa seorang anak itu merupakan anak dari laki-laki tertentu.”

Dengan demikian, maka bagi MK, setiap anak yang dilahirkan sekalipun dalam kategori anak luar kawin tetap dianggap memiliki hubungan keperdataan dengan ayah biologisnya selama dapat dibuktikan baik berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan ataupun bukti lain.

Dengan kata lain, dengan adanya perkembangan teknologi yang memungkinkan untuk menentukan hubungan keperdataan seorang anak, maka aturan yang menentukan keperdataan anak luar kawin hanya

(12)

kepada ibu dan keluarga ibunya tidaklah relevan. Di sinilah pentingnya untuk mengingat kembali pernyataan Hugo Sinzeimer yang dikutip oleh Abdul Manan bahwa perubahan hukum harus segera dilakukan manakala suatu peristiwa atau keadaan yang diatur tidak sesuai lagi dengan hukum yang mengaturnya.2

Putusan MK tentu akan berpengaruh dalam penerapan hukum di Pengadilan Agama. Hakim bisa memiliki pendapat yang berbeda mengenai hak keperdataan anak luar kawin, apakah anak luar kawin memiliki hak keperdataan yang menyeluruh dengan kedua orangtuanya atau tidak memiliki hak keperdataan, sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap pendapat hakim Pengadilan Agama dan dalam penelitian ini akan dibatasi pada Pengadilan Agama Magetan.

Berangkat dari “tarik-ulur” terhadap putusan MK inilah penulis tertarik untuk mengkaji putusan tersebut dengan judul “Pendapat Hakim Pengadilan Agama Magetan Dalam Putusan Mk Nomor 46/PUU-VIII/2010 Terkait Hak Keperdataan Anak Luar Kawin.”

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pendapat Hakim Pengadilan Agama Magetan terhadap hak-hak keperdataan anak yang lahir diluar perkawinan pasca putusan MK No. 46/PUU–VIII/2010?

2. Bagaimana Pertimbangan MK dalam memutuskan hak-hak keperdataan anak yang lahir di luar perkawinan?

2 Fadil SJ & Nor Salam, Pembaruan Hukum Keluarga Di Indonesia (Malang: UIN- Maliki Press, 2013), 08.

(13)

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pendapat Hakim Pengadilan Agama Magetan terhadap hak keperdataan anak luar kawin pasca putusan MK No.

46/PUU–VIII/2010.

2. Untuk mengetahui pertimbangan MK dalam memutuskan hak-hak keperdataan anak yang lahir di luar perkawinan.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan dan manfaat. Dalam hal ini penulis membagi dalam dua perspektif, yang pertama secara teoritis dan yang kedua secara praktis, antara lain;

1. Teoritis

Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan tentang pengembangan Hukum keluarga tentang hak keperdataan anak luar kawin pasca putusan MK No. 46/PUU–VIII/2010.

2. Praktis

Penelitian ini dilakukan untuk memperjelas hak-hak keperdataan yang diterima oleh anak yang lahir diluar perkawinan pasca putusan MK No. 46/PUU–VIII/2010.

E. Orisinalitas Penelitian

Orisinalitas penelitian dicantumkan untuk mengetahui perbedaan obyek penelitian yang terdahulu sehingga tidak terjadi perjanjian karya dan lebih mudah untuk memfokuskan apa yang dikaji dalam penelitian ini antara lain:

(14)

Pertama, Penelitian yang dilakukan Nor Salam yang berjudul

“Pembaharuan Hukum Keluarga Islam di Indoensia Melalui Mahkamah Konstitusi (Studi Kasus Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010)”. Terdapat dua fokus kajian dalam penelitian ini yaitu mengenai konstribusi putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 terhadap pembaharuan Hukum Keluarga Islam di Indonesia dan substansi Putusan MK tersebut apakah berlaku terhadap semua anak yang berstatus anak luar kawin berdasarkan UU No.01/1974 atau ada pembatasan. Penelitian ini menggunakan studi kasus hukum (legas case study). Sedangkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulakn menjadi dua kesimpulan, yaitu: Pertama. Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 telah memenuhi unsur-unsur pembaharuan Hukum Keluarga sehingga putusan tersebut layak disebut sebagai pembaharuan Hukum Keluarga Islam di Indonesia. Kedua, cakupan putusan MK nomor 46/PUU-VIII/2010 hanyalah anak luar kawin yang dihasilkan dari perkawinan bawah tangan.3

Kedua, Tesis yang ditulis oleh Jubaedah, 2006 yang berjudul “studi komparatif madhhab hanafi dan madhhab shafi’i tentang syarat laki-laki dalam perwalian nikah”. Yang membahas tentang syarat laki-laki sebagai wali nikah menurut madhhab Hanafi dan madhhab Shafi’i dan membahas tentang persamaan dan perbedaan syarat laki-laki untuk menjadi wali nikah yang sah menurut madhhab Hanafi dan madhhab Shafi’i. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library reseacrh). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dasar hukum syarat laki-laki dalam perwalian

3 Noer Salam, Pembaharuan Hukum Keluarga Islam di Indonesia Melalui Putusan Mahkamah Konstitusi (studi kasus Putusan Mk Nomor 46/PUU-VIII/2010, Tesis (Malang, Program Studi Magister Al-Ahwal Al Syakhshiyyah Sekolah Pasca Sarjana UIN Malang , 2013).

(15)

nikah menurut Madhhab Hanafi adalah berpedoman pada ayat-ayat Al- Qur’an surat Al-baqarah ayat 232 dan 234 serta pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Sedangkan Madhhab Shafi’i dalam persyaratan wali nikah juga berpedoman pada ayat-ayat Al-Qur’an surat Al-baqarah ayat 232, 234 dan surat An-Nisa’ ayat 34 serta hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu Majah, dan Abu dawud. Dan persamaan antara keduanya dalah hal syarat perwalian nikah adalah laki- laki dan islam, baligh, berakal, bisa memilih, tidak dalam pengampuan.4

Ketiga, Artikel yang ditulis oleh Romadhon Nugroho, yang berjudul

“Perwalian, Pemeliharaan Anak dan Status Anak Hukum Perdata Islam”, Yang menjelaskan tentang bagaimana konsep perwalian, bagaimana pemeliharaan anak yang sesuai dengan hukum Islam, dan tentang status anak dalam hukum perdata Islam.5

Keempat, Jurnal yang ditulis oleh Chairul Fahmi, yang berjudul

“Perwalian” membahas tentang pengertian perwalian, landasan hukum perwalian, mekanisme perwalian dan pemutusan perwalian.6

Dengan demikian pembahasan penulis dengan skripsi dan jurnal di atas jelas beda. Penelitian penulis adalah “Pandangan Hakim Pengadilan Agama Magetan Dalam Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 Terkait Hak Keperdataan Anak Luar Kawin”.

4 Jubaedah,“Studi komparatif madhhab hanfi dan madhhab shafi’i tentang syarat laki-laki dalam perwalian nikah”Skripsi(Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2006)

5 Romadhon Nugroho,“Pemeliharaan Anak dan Status Anak Hukum Perdata Islam,” Perwalian,(1995).

6 Chairul Fahmi,”Pengertian perwalian, landasan hukum perwalian, mekanisme perwalian dan pemutusan perwalian,” Perwalian(2003).

(16)

F. Landasan/ Kajian Teori

Macam-Macam Status Anak dalam Perundang-Undangan

a.Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan a.1. Anak yang sah

Anak yang sah adalah, “anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah”.7 dari pengertian tersebut maka terlihat bahwa anak yang telah dibuahi sebelum perkawinan, namun dilahirkan dalam perkawinan termasuk dalam pengertian anak tersebut dibuahi oleh laki-laki lain, artinya laki-laki yang tidak menjadi suami perempuan tersebut. Untuk hal itu laki-laki (suami) yang kawin dengan wanita (istri) tersebut dapat meyangkal tentang sahnya anak yang dilahirkan oleh isterinya, jika ia dapat membuktikan bahwa istrinya telah berzina dan anak tersebut dilahirkan sebagai akibat zina.8 Oleh karena itu, oleh Undang-Undang diberi hak untuk menyangkal sahnya anak yang bersangkutan, yaitu pada Pasal 44 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menentukan bahwa:

1) “Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh isterinya, bilamana ia dapat membuktikan bahwa istrinya telah berzina dan anak itu akibat daripada perzinahan tersebut”.

2) “Pengadilan akan memberikan keputusan tentang sah/tidaknya anak atas permintaan pihak yang berkepantingan”.

7 Undang-Undang Perkawinan, (Bandung: Fokus Media) Psal 42.

8 Matiman Prodjohamidjojo, Tanya Jawab Hukum Perkawinan, (Jakarta:

Indonesia Legal Center Publishing, 2003), hal 35.

(17)

Adapun kemungkinan bahwa anak tersebut dilahirkan di luar perkawinan tetapi merupakan anak yang sah sesuai dengan ketentuan Pasal 42 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974, asalkan anak itu akibat dari perkawinan yang sah. misalnya dalam hal suami meninggal dunia, sedangkan si istri dalam keadaan hamil. Dengan meninggalnya suami maka perkawinan telah putus, sehingga anak dalam kandungan istrinya itu lahir di luar perkawinan. Demikian pula dalam hal terjadi perceraian antara suami isteri, isterinya dalam keadaan hamil pada saat perceraian, kemudian anaknya yang lahir setelah perceraian, itu adalah anak yang sah.

a.2. Anak yang tidak sah (Anak Luar Kawin)

Dalam pasal 43 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan menentukan bahwa, “anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya atau keluarga ibunya”. Dengan demikian seseorang anak yang tidak sah hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya maupun dengan keluarga ibunya.

Demikian pula dalam hal mawaris, seseorang anak yang tidak sah hanya berhak mewarisi dari ibunya dan keluarganya karena ia hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibu dan keluarga ibunya saja.

b. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, ada beberapa macam pengertian mengenai status anak yaitu:

b.1. Anak yang sah

(18)

Tentang pengertian anak, kecuali anak laki atau anak wanita, adapula pengertian lain. Dalam kehidupan keluarga setiap anak yang lahir dari ikatan perkawinan, diterima sebagai pembawa bahagia dan anak yang demikian itu disebut anak kandung.

“anak sah (wettig kond) ialah anak yang dianggap lahir dari perkawinan yang sah antara ayah dan ibunya”. Di dalam kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang anak sah ini juga dinyatakan dalam pasal 250 yang isinya berbunyi, “Tiap-tiap anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan, memperoleh si suami sebagai bapaknya.”

b.2. Anak luar kawin

b.2.1 Anak luar kawin yang diakui

Anak yang dilahirkan akibat hubungan antara laki-laki dengan perempuan yang kedua-duanya di luar ikatan perkawinan, yang disebut dengan anak alami (naturlijk kind), anak tersebut dapat diakui. Untuk menimbulkan suatu hubungan keluarga antara anak luar kawin dengan orangtuanya, anak tersebut diakui oleh orang tuanya terlebih dahulu. Menurut Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa, “Dengan pengakuan yang dilakukan terhadap seorang anak luar kawin, timbullah hubungan perdata antara si anak dan bapak atau ibunya.”

b.2.2. Anak luar kawin yang disahkan

Sebagai kelanjutan dari pengakuan adalah pengesahan anak luar kawin. Apabila lahir seorang anak di luar perkawinan maka anak itu dapat disahkan dengan jalan pengesahan. Pengesahan ini

(19)

harus didahului dengan pengakuan dari orang tuanya. Jika mereka lalai melakukan pengakuan sebelum perkawinan maka pengakuan dapat dilakukan bersamaan dengan dilakukannya atau dilangsungkannya perkawinan. Jadi pengesahan adalah suatu jalan yang diberikan Undang-Undang untuk memberikan suatu kedudukan sebagai anak sah kepada anak luar kawin yang telah diakui oleh orang tuanya.

b.2.3 Anak yang dilahirkan dari zina dan anak sumbang

Anak yang lahir akibat hubungan antara laki-laki dengan seorang perempuan, yang salah satu atau keduanya terikat dalam perkawinan dengan orang lain. Anak ini disebut dengan anak zina (overpelige kinderen), anak tersebut tidak dapat diakui. Anak-anak dalam golongan ini tidak mempunyai hubungan-hubungan keperdataan yang bersifat hukum kekeluargaan, bahkan terhadap ibunya sekalipun, sedangkan ayahnya tidak dapat mengakuinya.

Jika ada pengakuan dari ayahnya, maka pengakuan ini sama sekali batal dan tidak ada akibat hukumnya, sehingga kebatalan dapat dimintakan oleh setiap orang, juga meskipun pengakuan itu ternyata tidak ada yang membantah. Jadi dengan perkataan lain, anak zina ini mempunyai ayah dan ibu secara biologis tetapi secara yuridis tidak. Anak sumbang adalah anak yang lahir akibat hubungan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dimana satu sama lainnya dilarang kawin.9

9 Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum, Pasal 284.

(20)

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis penelitian yuridis normatif atau penelitian pustakaan (library research), yaitu pendekatan masalah dengan jalan menelaah dan mengkaji suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berkompeten untuk digunakan sebagai dasar dalam melakukan pemecahan masalah, sehingga langkah-langkah dalam penelitian ini menggunakan logika yuridis. Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah analisis10 yuridis terhadap kekuatan hukum Putusan Mahkamah mengenai anak luar kawin dalam perspektif Undang-Undang No 1 tahun 1974 dan Kitab Undang Undang Hukum Perdata, dan kesesuaiannya antara Putusan Mahkamah Konstitusi mengenai anak luar kawin tersebut dengan ketentuan anak luar kawin perspektif Hukum Islam.

2. Kehadiran Peneliti

a. Dalam penelitian ini, peneliti merupakan aktor sentral. Peneliti sebagai pengumpul data melalui wawancara dan dokumentasi, sementara instrumen selain itu sebagai pendukung saja.

b. Peneliti merupakan partisipan penuh/lengkap dalam melakukan penelitian ini.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Pengadilan Agama Magetan Jl.

Raya Magetan-Maospati KM.06 Bibis Kecamatan Sukomoro Kabupaten Magetan.

10 Abu Ahmad dan Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Angkasa, 2002), h. 23.

(21)

4. Data dan Sumber Data

a. Sejarah dan kewenangan Pengadilan Agama Magetan b. Pendapat Hakim Pengadilan Agama Magetan

c. Putusan MK No. 46/PUU-VII/2010 5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Wawancara

Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara langsung dengan mendatangi para hakim Pengadilan Agama Magetan. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk mengetahui pendapat para hakim mengenai implikasi status ayah biologis terhadap anak yang lahir di luar perkawinan yang sah pasca putusan MK nomor. 46/PUU-VIII/2010.

Di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapatnya mengenai hal tersebut. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan. Peneliti melakukan wawancara dengan para Hakim Pengadilan Agama Magetan.

b. Dokumentasi

Dokumentasi yang berisi Putusan MK nomor. 46/PUU- VIII/2010 beserta seluruh pertimbangan dan penjelasannya, begitu juga dengan peraturan-peraturan lain yang ada kaitannya dengan putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010, buku-buku yang khusus membahas terkait MK nomor. 46/PUU-VIII/2010. Karya ilmiah,

(22)

jurnal-jurnal dan penelitian-penelitian yang membahas topik terkait putusan MK nomor. 46/PUU-VIII/2010.

H. Sistematika Pembahasan BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Telaah Pustaka, Kajian Teori, Metode Penelitian, dan Sistematika Pembahasan.

BAB II : KAJIAN TEORI/KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dipaparkan kajian kepustakaan terkait dengan kajian teori yang memuat hak keperdataan anak, kedudukan anak dalam kompilasi hukum Isalm, kedudukan anak dalam KUH Perdata dan Penafsiran Hukum. Fungsi ini adalah sebagai landasan teori pada bab berikutnya guna menganalisa data yang diperoleh dari penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan memaparkan metode penelitian yang dipakai oleh peneliti.

BAB IV : PEMBAHASAN / ANALISIS

Pada bab ini berisi tentang analisis penulis terhadap analisis terhadap Pendapat hakim mengenai hak-hak keperdataan luar kawin pasca putusan MK No. 46/PUU–VIII/2010 dan pertimbangan MK dalam memutuskan hak-hak keperdatan anak luar kawin.

(23)

BAB V : PENUTUP

Bab ini merupakan bab yang paling akhir dari pembahasan tesis analisis yang berisikan kesimpulan dari seluruh pembahasan dan saran-saran.

(24)

78 A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab-bab sebelumnya mengenai pandangan hakim Pengadilan Agama Magetan terhadap putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 terkait hak keperdataan anak luar kawin, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Semua hakim Pengadilan Agama Magetan sepakat terkait dengan hak keperdataan penuh yang diterima oleh anak hasil nikah sirri yang sah menurut agama meliputi hak kewarisan hak nasab hak perwalian dan hak nafkah. Sedangkan untuk hak keperdataan anak hasil perzinaan para hakim Pengadilan Agama Magetan berpendapat bahwa anak tersebut tidak mendapatkan hak keperdataan islam melainkan hanya mendapatkan hak keperdataan umum berupa biaya pendidikan dan nafkah.

2. Mahkamah Konstitusi dalam pertimbangan hukumnya terhadap ketentuan hukum Pasal 43 ayat (1) UUP No. 1 Tahun 1974 memutuskan bahwa ketentuan yang terdapat dalam pasal 43 ayat (1) UUP No. 1 Tahun 1974 tersebut dipandang tidak adil karena tujuannya merupakan untuk memberikan perlindungan terhadap anak yang dilahirkan maka hukum harus memberikan pertimbangan dan kepastian hukum yang adil terhadap anak yang dilahirkan dan hak- hak yang ada padanya, meskipun keabsahan perkawinan orangtuanya

(25)

masih dipersengketakan. Oleh karena itu Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk memberikan tanggung jawab juga kepada ayah biologisnya. Dengan pertimbangan hukum anak luar kawin tersebut lahir ke dunia ini karena perbuatan hubungan badan antara ibu dan ayah biologisnya tersebut secara bersama-sama dan bukan atas kemauan dari anak tersebut.

B. Saran-saran

Dari ulasan dalam skripsi ini penulis berharap semua pihak yang membaca dapat mengetahui, memahami dan mengerti tentang penelitian ini, serta dapat menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca terkait hak keperdataan anak luar kawin pasca putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010.

Pada bagian akhir ini penulis berharap:

1. Kepada para pihak legislatif dan yudikatif berwenang membuat Undang-Undang dan mengawasi Undang-Undang, diharapkan lebih meningkatkan profesionalitas agar dapat menciptakan hukum yang jelas dan tegas sehingga dapat memenuhi rasa keadilan di negara Indonesia ini.

2. Kepada hakim Pengadilan Agama Magetan selaku pihak eksekutif diharapkan agar dapat melaksanakan tugas negara dengan sebaik- baiknya dan seadil-adilnya bukan seadanya. Sehingga dengan profesionalitas yang dilakukan oleh para eksekutif, besar harapan dapat terwujudnya keadilan di negara ini. Sehingga profesionalitas dan berkeadilannya dapat dijadikan contoh oleh Hakim selanjutnya dan hakim-hakim yang lain yang menangani permasalahan-

(26)

permasalahan yang ada, agar dapat memberikan putusan yang adil dan bermanfaat. Ketika terdapat suatu masalah, tetapi peraturannya belum ada atau tidak jelas atau kurang lengkap, maka diharapkan kepada para penegak hukum agar dapat berijtihad dan melihat lebih luas sehingga putusan yang dikeluarkan dapat bermanfaat, dan berkeadilan bagi semua pihak.

(27)

81

Ahmad, Abu dan Cholid Narbuko, 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Angkasa.

Djamal, 2015, Paradigma Penelitian Kualitatif, Cetakan II. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Fahmi, Chairul, 2003. Pengertian perwalian, landasan hukum perwalian, mekanisme perwalian dan pemutusan perwalian,” Perwalian.

Ibrahim, Johnny, 2006. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Malang : Bayumedia Publishing.

Jubaedah, 2006“Studi komparatif madhhab hanfi dan madhhab shafi’i tentang syarat laki-laki dalam perwalian nikah”Skripsi Ponorogo: IAIN Ponorogo.

Kansil, C.S.T, 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Nazir, Moh, 2003, Metode penelitian, Jakarta, Graha Indoensia.

Nugroho, Romadhon 1995.“Pemeliharaan Anak dan Status Anak Hukum Perdata Islam,” Perwalian.

Nurdin, Boy, 2012. Kedudukan Dan Fungsi Hakim Dalam Penegakan Hukum di Indonesia, Bandung: P.T. Alumni, 2012.

Prodjohamidjojo, Matiman, 2003. Tanya Jawab Hukum Perkawinan. Jakarta:

Indonesia Legal Center Publishing.

Rifa’i, Ahmad, 2011. Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif. Jakarta: Sinar Grafika

SJ, Fadil & Nor Salam, 2013 Pembaruan Hukum Keluarga Di Indonesia. Malang:

UIN-Maliki Press.

Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum, Pasal 284.

Sutiyoso, Bambang, 2012. Metode Penemuan Hukum. Yogyakarta: UII Press Yogyakarta.

Sutiyoso, Metode Penemuan Hukum.

(28)

Rujukan Laporan Penelitian

Husnul Muhyidin, Hasil Wawancara, 01 Mei 2021.

Nurul Chudaifah, Hasil Wawancara, 29 April 2021.

Nurul Fauziah, Hasil Wawancara, 01 Mei 2021.

Alamsyah, Hasil Wawancara, 05 Mei 2021.

Mahdis Syam, Hasil Wawancara, 05 Mei 2021.

Rujukan Perundang-Undangan

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.

Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Bandung: Fokus Media).

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilatar belakangi karena terdapatnya kondisi dimana hakim telah memutuskan bahwa hak asuh anak atau hadhanah diberikan kepada penggugat, sehingga penggugat menjadi pihak

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Olpado dan Heryani 2017 yang menyatakan bahwa indikator motivasi belajar : adanya penghargaan dalam belajar memberikan motivasi yang sedang