• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Model Koreksi Kesalahan

N/A
N/A
030-Aufa Badriatil Fuadi

Academic year: 2024

Membagikan " Pendekatan Model Koreksi Kesalahan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

390

© 2023 The Author(s). Multiverse: Open Multidisciplinary Journal. ISSN: 2963-900X. Published by Medan Resource Center

This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Common Attribution License (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.

Vol. 2, No. 3, 2023 | 390-400

Analisis Determinan Impor Barang Konsumsi di Indonesia: Pendekatan Error Correction Model

Bima Hardi*, Universitas Asahan, Indonesia

Hawihanus, Universitas 17 Agustus Surabaya, Indonesia Slamet Riyadi, Universitas 17 Agustus Surabaya, Indonesia

PENDAHULUAN

Perdagangan internasional berkembang bermula dari adanya perbedaan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia pada setiap negara, sehingga negara tersebut terbuka untuk melakukan perdagangan. Perdagangan internasional pada dasarnya adalah ekspor dan impor. Terciptanya perdagangan internasional tersebut memberikan dampak terhadap hubungan perekonomian satu negara dengan negara lain saling terjalin dan lalu lintas barang dan jasa antar bangsa akan terbentuk. Dalam keterbatasan sumber daya dalam kegiatan perekonomian dirasa belum mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam meningkatkan produktivitas dan kemakmuran masyarakat. Keuntungan suatu negara melakukan perdagangan internasional adalah memperkuat kerja sama internasional, mendapatkan keuntungan dari spesialisasi, mendapatkan barang dan jasa yang tidak dimiliki memperluas pasar dan menambah keuntungan serta transfer teknologi modern.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang ada di dunia belum dapat sepenuhnya mampu menciptakan dan memproduksi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah negara Indonesia melakukan impor untuk memenuhi kekurangan dan kebutuhan barang-barang yang tidak dapat diproduksi dan diciptakan di dalam negeri. Impor disebut sebagai variabel kebocoran (leakages) pada kegiatan perekonomian, maksudnya adalah ketika impor suatu negara meningkat maka pendapatan nasional negara tersebut akan menurun. Dalam memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia ketika produksi dalam negeri tidak dapat memenuhi permintaan masyarakat, maka pemerintah harus melakukan impor terhadap barang yang dibutuhkan dari luar negeri agar terwujudnya kestabilan kegiatan perekonomian Indonesia. Salah satu impor yang dilakukan pemerintah adalah impor barang konsumsi. Berikut adalah grafik jumlah impor barang konsumsi Indonesia.

Tabel 1. Jumlah Impor Barang Konsumsi Indonesia 1989–2018 (ribu ton) Tahun Impor (Ribu Ton) Tahun Impor (Ribu Ton) Tahun Impor (Ribu Ton)

1989 706,1 1999 7324,5 2009 4056,6

1990 584 2000 5241,2 2010 5604,5

1991 734,8 2001 4071,2 2011 8110,5

1992 1255,2 2002 5643,4 2012 6966,7

1993 799,5 2003 4903,4 2013 5285,7

ABSTRACT ARTICLE HISTORY

This study was conducted to look at the effects of currency reserves, inflation, and dollar exchange rates on consumer goods imports in Indonesia using the error correction model (ECM) method. The result of the short-term regression was D(Y) = -75,75310 + 4,21E-08 D(X1) – 31,52554 D (X2) + 0,314495 D(X3) – 0,561151 ECT, and the result of the long-term regression was Y = 1489,170 + 6,30E-09 X1 – 15,06641 X2 + 0,355049 X3. Reserves have (X1) a partial short- and long-term foreign no impact on economic growth in Indonesia. Inflation (X2) in the short term and in the long term has no effect on Indonesian gross domestic product (GDP). Exchange rate (X3) has no short-term or long- term effect on Indonesia’s GDP. The result of the simultaneous test (test F) of the short- term prob values are 0,011006 < 0,05 and Fcalung (4,128184) > Ftable (2,98), and the long- term prob value is 0,000010 < 0.05 and Fcalung value (14,41331) > Ftable (2,98).

Received Revised Accepted Published

08/12/2023 19/12/2023 22/12/2023 29/12/2023 KEYWORDS

Reserves have; inflation; exchange rate;

error correction model

*CORRESPONDENCE AUTHOR [email protected]

(2)

Tahun Impor (Ribu Ton) Tahun Impor (Ribu Ton) Tahun Impor (Ribu Ton)

1994 1899,8 2004 4749,9 2014 5599,1

1995 3396,3 2005 5562,1 2015 4929,2

1996 4322 2006 4706,6 2016 5899,5

1997 2338,3 2007 6714,4 2017 5315

1998 4158,6 2008 5368,1 2018 7398,9

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2020

Gambar di atas memperlihatkan fluktuasi barang konsumsi yang diimpor pada tahun 1989-2018. Impor barang konsumsi terbesar terjadi pada tahun 2011 sebanyak 8110,5 ribu ton dan impor barang konsumsi terkecil terjadi pada tahun 1990 sebanyak 584,0 ribu ton. Cadangan devisa sebagai indikator moneter terpenting yang menunjukkan kuat atau tidaknya fundamental ekonomi suatu negara memiliki pengaruh penting terhadap keperluan impor. Menurut BI posisi cadangan devisa dikatakan aman apabila memiliki cadangan devisa di atas standar kecukupan internasional yaitu cukup untuk kebutuhan impor lebih dari jangka waktu sekitar tiga bulan. Cadangan devisa yang cukup adalah jaminan dalam tercapainya stabilitas moneter dan ekonomi makro suatu negara, maka apabila cadangan devisa suatu negara menipis maka akan menimbulkan krisis ekonomi bagi negara tersebut. Cadangan devisa memiliki peran penting dalam perdagangan internasional suatu negara, tanpa cadangan devisa yang kuat suatu negara tidak dapat melakukan impor akibatnya akan mengganggu perekonomian negara tersebut. Berikut adalah grafik jumlah cadangan devisa Indonesia.

Tabel 2. Posisi Cadangan Devisa Indonesia 1989–2018 (USD)

Tahun Cadangan Devisa (USD) Tahun Cadangan Devisa (USD) Tahun Cadangan Devisa (USD)

1989 6699438101 1999 27345097667 2009 66118917968

1990 8656792855 2000 29352929561 2010 96210980584

1991 10357989011 2001 28103636180 2011 110136597662

1992 11482019253 2002 32033585247 2012 112797627833

1993 12474062371 2003 36256203642 2013 99386826239

1994 13321136813 2004 36310733909 2014 111862594562

1995 14907558866 2005 34730799049 2015 105928847089

1996 19396148967 2006 42597040282 2016 116369601851

1997 17486799643 2007 56935744023 2017 130215330383

1998 23605842946 2008 51640625721 2018 120660974091

Sumber: Bank Dunia, 2020

Berdasarkan dari gambar grafik di atas terlihat posisi cadangan devisa Indonesia yang jumlahnya berfluktuasi dari tahun 1989 hingga tahun 2018. Mulai dari tahun 1998 posisi cadangan devisa Indonesia sebesar 6699438101 USD mengalami kenaikan hingga tahun 1996 cadangan devisa Indonesia sebesar 19396148967 USD. Posisi cadangan devisa tertinggi terdapat pada tahun 2017 sebesar 130215330383 USD pada tahun yang sama posisi impor barang konsumsi Indonesia mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, tetapi pada tahun 2018 cadangan devisa Indonesia menurun menjadi 120660974091 USD dan impor barang konsumsi mengalami kenaikan.

Impor barang konsumsi Indonesia juga dipengaruhi inflasi. Inflasi disebut sebagai kenaikan harga secara terus menerus. Inflasi dapat diakibatkan dari perubahan pendapatan masyarakat yang berakibat pada perubahan pola konsumsi dan daya beli masyarakat. Berdasarkan teori Keynes menyatakan inflasi terjadi akibat dari sebagian masyarakat yang gaya hidupnya melampaui batas ekonominya atau kelebihan permintaan, sehingga akibat dari tingginya permintaan suatu barang maka harga barang dalam negeri meningkat dan impor barang meningkat seiring dengan berkurang penawaran barang dipasar. Berikut adalah grafik inflasi Indonesia.

(3)

Tabel 3. Inflasi Indonesia 1989–2018 (%)

TAHUN Inflasi (%) TAHUN Inflasi (%) TAHUN Inflasi (%)

1989 5,97 1999 2,01 2009 2,78

1990 9,53 2000 9,35 2010 6,96

1991 9,52 2001 12,55 2011 3,79

1992 4,94 2002 10,03 2012 4,3

1993 9,77 2003 5,06 2013 8,38

1994 9,24 2004 6,4 2014 8,36

1995 8,64 2005 17,11 2015 3,35

1996 6,47 2006 6,6 2016 3,02

1997 11,05 2007 6,59 2017 3,61

1998 77,63 2008 11,06 2018 3,13

Sumber: Bank Dunia, 2020

Berdasarkan dari gambar grafik di atas terlihat bahwa inflasi Indonesia bergerak secara fluktuatif dari tahun 1989 hingga 2018. Inflasi tertinggi terjadi pada tahun 1998 sebesar 77,63%, hal ini terjadi akibat krisis moneter yang dialami Indonesia akibat berakhirnya rezim orde baru, kemudian pada tahun 1999 inflasi mengalami penurunan drastis sebesar 2,01% dan termasuk inflasi terendah selama periode 1989- 2018. Inflasi pada tahun 2005 juga tinggi yang mencapai 17,11% yang diakibatkan oleh kenaikan harga bahan bakar. Pada akhir periode 2017 dan 2018 inflasi mengalami penurunan dari 3,61% menjadi 3,13%, sedangkan impor barang konsumsi pada periode 2017 dan 2018 mengalami kenaikan dari 5315 ribu ton menjadi 7398,9 ribu ton. Hal ini tidak sesuai dengan teori Keynes yang mengatakan kenaikan harga barang dalam negeri akan meningkatkan impor.

Kurs juga sebagai faktor yang dapat mempengaruhi naik turunnya impor barang konsumsi Indonesia. Kurs yang digunakan adalah kurs dollar yang merupakan nilai tukar dari mata uang Amerika Serikat dengan mata uang Indonesia.

Dollar Amerika Serikat digunakan sebagai mata uang perdagangan internasional karena nilai mata uangnya yang tinggi dan diterima siapa pun sebagai alat pembayaran sehingga dengan mudah diperdagangkan. Kurs dollar dianggap dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan perdagangan internasional, di mana ketika kurs dollar mengalami kenaikan yang tinggi maka kegiatan impor menurun. Artinya ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar mengalami depresiasi menyebabkan impor Indonesia menurun, sebaliknya ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar mengalami apresiasi akan menyebabkan kenaikan impor. Berikut adalah perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dollar:

Tabel 4. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS 1989–2018

Tahun Kurs Dolar (Rp/1 USD) Tahun Kurs Dolar (Rp/1 USD) Tahun Kurs Dolar (Rp/1 USD)

1989 1770 1999 7855 2009 10389

1990 1842 2000 8421 2010 9090

1991 1950 2001 10260 2011 8770

1992 2029 2002 9311 2012 9386

1993 2087 2003 8577 2013 10461

1994 2160 2004 8938 2014 11865

1995 2248 2005 9704 2015 13389

1996 2342 2006 9159 2016 13308

1997 2909 2007 9141 2017 13380

1998 10013 2008 9698 2018 14236

Sumber: Bank Dunia, 2020

Berdasarkan dari gambar grafik di atas terlihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang berfluktuatif sejak periode tahun 1989 hingga 2018. Nilai mata uang rupiah mengalami depresiasi terbesar dari tahun 1997 ke 1998 yaitu sebesar Rp 2.909 menjadi Rp 10.013. Pada akhir periode 2016 hingga 2018 nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi mulai dari Rp 13.308, Rp 13.380 dan pada akhir periode sebesar Rp 14.236. Terdepresiasinya

(4)

rupiah pada tahun 2017 diikuti juga dengan menurunnya impor barang konsumsi pada tahun tersebut. Tetapi terdepresiasinya rupiah pada tahun 2018 diikuti dengan meningkatnya impor barang konsumsi pada tahun tersebut.

Penelitian yang dilakukan Adlin Imam, tentang pengaruh pengeluaran konsumsi, tingkat kurs dan pendapatan nasional terhadap impor barang konsumsi tahun 2003 Q1 -2014 Q4 dengan metode penelitian OLS (ordinary least square) (Imam, 2013). Fitri Kurniawati, juga melakukan penelitian tentang pengaruh cadangan devisa, PDB dan kurs dollar Amerika Serikat terhadap impor bahan baku industri di Indonesia, dengan menggunakan metode regresi linear berganda (Kurniawati, 2014). I Gusti Made Aditya, juga melakukan penelitian tentang kurs dollar Amerika, cadangan devisa dan produk domestik bruto terhadap impor makanan dan minuman di Indonesia tahun 1993-2012, dengan teknik analisis regresi berganda (Aditya, 2015). Dari ketiga penelitian terdahulu memiliki perbedaan pada variabel dependen, tahun penelitian dan metode analisis yang digunakan. Pada penelitian ini menggunakan variabel dependen impor barang konsumsi pada tahun 1989-2018 dengan metode analisis error correction model.

Penelitian ini dilakukan karena melihat perkembangan impor barang konsumsi yang berfluktuasi selama tahun periode 1998-2018. Peningkatan dan penurunan impor tidak sesuai dengan peningkatan dan penurunan cadangan devisa, inflasi dan kurs dollar. Contohnya pada peningkatan impor tahun 2018 dibarengi dengan penurunan cadangan devisa dari tahun sebelumnya, penurunan inflasi dari tahun sebelumnya dan terdepresiasinya rupiah terhadap dollar dari tahun sebelumnya. Hal-hal tersebut tidak sesuai dengan teori yang sebagaimana mestinya kenaikan impor harus dibarengi dengan peningkatan cadangan devisa, kenaikan harga barang domestik atau inflasi dan apresiasi rupiah terhadap dollar.

Cadangan Devisa

Cadangan devisa (foreign exchange reserves) adalah simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. Simpanan ini merupakan aset bank sentral yang tersimpan dalam beberapa mata uang cadangan (reserves currency) seperti Dollar, Euro, atau Yen, dan digunakan untuk menjamin kewajibannya, yaitu mata uang lokal yang diterbitkan, dan cadangan berbagai bank yang disimpan di bank sentral oleh pemerintah atau lembaga keuangan.

Menurut Rachbini, cadangan devisa adalah alat pembayaran luar negeri yang antara lain berupa emas, uang kertas asing dan tagihan lainnya dalam valuta asing kepada pihak luar negeri (Rachbini, 2000).

Inflasi

Secara umum inflasi adalah suatu keadaan yang mengakibatkan naiknya harga secara umum atau suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Menurut Sadono, inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum yang berlaku dalam suatu perekonomian dari satu periode ke periode lainnya (Sadono, 2008).

Kurs

Valuta Asing yang biasa disingkat Valas atau dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai forex (Foreign Exchange), yang berarti pertukaran uang dari nilai mata uang yang berbeda. Valuta asing merupakan suatu mekanisme di mana orang dapat mentransfer daya beli antar negara, memperoleh atau menyediakan kredit untuk transaksi perdagangan internasional, dan meminimalkan kemungkinan risiko kerugian (exposure of risk) akibat terjadinya fluktuasi kurs suatu mata uang. Menurut Nopirin, kurs adalah Pertukaran dua Mata Uang yang berbeda, maka akan mendapat perbandingan nilai/harga antara kedua Mata Uang tersebut (Nopirin, 2009).

Impor

Menurut Hamdani, Impor adalah kegiatan perdagangan internasional yang meliputi kegiatan pengiriman suatu barang dari luar negeri ke seluruh pelabuhan yang ada di seluruh wilayah Indonesia (Hamdani, 2014). Impor adalah membeli barang-barang dari luar negeri sesuai dengan ketentuan pemerintah yang dibayar dengan menggunakan valuta asing (Purnamawati, 2013). Menurut Susilo, impor bisa diartikan sebagai kegiatan memasukkan barang dari suatu negara (luar negeri) ke dalam wilayah pabean negara lain. Pengertian ini memiliki arti bahwa kegiatan impor berarti melibatkan dua negara (Susilo, 2008).

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Jenis penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat suatu objek atau populasi tertentu.

(5)

Penelitian kuantitatif ini bersifat eksplanasi, fokus pada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

Hasil penelitian diinterpretasikan secara deskriptif kualitatif untuk memahami sejauh mana hubungan antar variabel independen mempengaruhi variabel dependen.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Error Correction Model (ECM). Metode ini memungkinkan analisis hubungan jangka pendek dan jangka panjang antara variabel independen, seperti Cadangan Devisa (X1), Inflasi (X2), dan Kurs Dolar (X3), terhadap variabel dependen Impor Barang Konsumsi (Y). Langkah-langkah uji ECM melibatkan uji stasioneritas data, uji kointegrasi, dan uji ECM.

Uji asumsi klasik diterapkan sebagai syarat untuk pengujian hipotesis dengan analisis regresi. Uji tersebut mencakup uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heterokedastisitas. Pengujian hipotesis terdiri dari uji parsial (uji-t), uji simultan (uji-F), dan uji koefisien determinasi (R2). Uji-t digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat, sedangkan uji-F digunakan untuk melihat pengaruh semua variabel bebas secara serentak. Uji koefisien determinasi (R2) digunakan untuk menilai seberapa kuat variabel bebas memprediksi variasi-variabel terikat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Deskripsi Nilai Variabel-Variabel Penelitian

Tabel 5. Statistik Deskriptif Variabel

Y X1 X2 X3

Mean 4454.837 5.28E+10 9.573333 7822.933

Median 4916.300 3.55E+10 6.780000 9115.500 Maximum 8110.500 1.30E+11 77.63000 14236.00 Minimum 584.0000 6.70E+09 2.010000 1770.000 Std. Dev. 2129.525 4.18E+10 13.29817 4086.599 Skewness -0.487012 0.620567 4.671244 -0.375467 Kurtosis 2.362088 1.777589 24.49134 1.851421 Jarque-Bera 1.694565 3.793375 686.4498 2.353918 Probability 0.428578 0.150065 0.000000 0.308215

Sum 133645.1 1.58E+12 287.2000 234688.0

Sum Sq. Dev. 1.32E+08 5.07E+22 5128.398 4.84E+08

Observations 30 30 30 30

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Tabel tersebut memperlihatkan descriptive statistic dari masing-masing variabel penelitian. Berikut adalah hasil deskriptif variabel penelitian yang telah diolah:

• Hasil analisis dengan descriptive statistic variabel impor barang konsumsi (Y) menunjukkan nilai minimum sebesar 584 nilai maksimum sebesar 8110,5, rata-rata sebesar 4454,837 dan standar deviasi 2129,525 dengan jumlah sampel 30.

• Hasil analisis dengan descriptive statistic pada variabel cadangan devisa (X1) menunjukkan nilai minimum sebesar 6,70E+09 nilai maksimum sebesar 1,30E+11 dengan rata-rata sebesar 5,28E+10 dan standar deviasi 4,18E+10 dengan jumlah sampel 30.

• Hasil analisis dengan descriptive statistic terhadap variabel inflasi (X2) menunjukkan nilai minimum sebesar 2,01 nilai maksimum sebesar 77,63 dengan rata-rata sebesar 9,573 dan standar deviasi 13,29 dengan jumlah sampel 30.

• Hasil analisis dengan descriptive statistic terhadap variabel kurs dolar (X3) menunjukkan nilai minimum sebesar 1770 nilai maksimum sebesar 14236 dengan rata-rata sebesar 7822,93 dan standar deviasi 4086,59 dengan jumlah sampel 30.

(6)

Uji Asumsi Klasik

Gambar 1. Hasil Uji Normalitas Sumber: Hasil data diolah, 2020

Dari gambar di atas terlihat bahwa nilai probabilitas Jarque Bera sebesar 1.896454 lebih besar dari 0.05. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa data yang digunakan dalam model penelitian ini memiliki distribusi normal.

Uji Multikolinearitas

Tabel 6. Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficient Uncentered Centered

Variable Variance VIF VIF

X1 1.24E-16 8.738003 3.300316

X2 458.6914 1.902488 1.238499

X3 0.012139 14.82879 3.095220

C 334319.2 5.280508 NA

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Berdasarkan dari tabel di atas dapat diketahui bahwa data penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas, hal tersebut dapat diketahui karena seluruh variabel bebas memiliki nilai Centered VIF yang lebih kecil atau kurang dari 10, maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas.

Uji Heteroskedastisitas

Tabel 7. Hasil Uji Heteroskedastisitas Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey

F-statistic 0.893562 Prob. F(3,26) 0.4576

Obs*R-squared 2.803999 Prob. Chi-Square(3) 0.4228 Scaled explained SS 1.748243 Prob. Chi-Square(3) 0.6263 Sumber: Hasil data diolah, 2020

Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas menggunakan Uji Breusch-Pagan terlihat nilai prob chi-square sebesar 0.4576 > 0.05 artinya tidak terjadi heteroskedastisitas pada penelitian ini.

Uji Autokorelasi

Tabel 8. Hasil Uji Autokorelasi

R-squared 0.624494 Mean dependent var 4454.837 Adjusted R-squared 0.581167 S.D. dependent var 2129.525 S.E. of regression 1378.172 Akaike info criterion 17.41847 Sum squared resid 49383311 Schwarz criterion 17.60530 Log likelihood -257.2770 Hannan-Quinn criter. 17.47824 F-statistic 14.41331 Durbin-Watson stat 1.213731 Prob(F-statistic) 0.000010

Sumber: Hasil data diolah, 2020

0 1 2 3 4 5 6 7 8

-2000 -1000 0 1000 2000 3000

Series: Residuals Sample 1989 2018 Observations 30 Mean -6.88e-13 Median -86.14285 Maximum 2904.499 Minimum -1930.334 Std. Dev. 1304.942 Skewness 0.591961 Kurtosis 2.660159 Jarque-Bera 1.896454 Probability 0.387427

(7)

Dari tabel di atas dapat terlihat nilai statistik Durbin Watson sebesar 1,213731, angka tersebut berada pada posisi antara -2 sampai +2, artinya dalam model penelitian ini tidak terjadi autokorelasi.

Hasil Uji Stasioneritas (Uji Akar Unit)

Tabel 9. Hasil Uji Akar Unit

Variabel Prob Augmented Dickey Fuller Test Level First diference

Impor Barang Konsumsi (Y) 0,2454 0,0000

Cadangan Devisa (X1) 0,9632 0,0008

Inflasi (X2) 0,0001 0,0000

Kurs Dollar (X3) 0,7592 0,0000

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Dari tabel di atas terlihat bahwa seluruh variabel stasioner pada diferensial pertama karena, variabel Impor Barang Konsumsi (Y) memiliki nilai prob < 0,05 (5%), Cadangan Devisa (X1) dengan nilai prob < 0,05 (5%), Inflasi (X2) dengan nilai prob < 0,05 (5%) dan Inflasi (X3) dengan nilai prob < 0,05 (5%).

Uji Kointegrasi

Tabel 10. Hasil Uji Kointegrasi Null Hypothesis: ECT has a unit root

Exogenous: Constant

Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=7)

t-Statistic Prob.*

Augmented Dickey-Fuller test statistic -3.587051 0.0125 Test critical values: 1% level -3.679322

5% level -2.967767 10% level -2.622989

*MacKinnon (1996) one-sided p-values.

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Dari tabel di atas memperlihatkan nilai ADF test > critical value 5% atau (-3,587051 > -2,967767) dengan nilai probibalitias 0,0125 < 0,050, hal ini membuktikan bahwa nilai error correction term (ECT) stasioner pada tingkat level.

Error Correction Model (ECM)

Tabel 11. Hasil Estimasi ECM (Jangka Pendek)

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

D(X1) 4.21E-08 2.83E-08 1.490387 0.1491 D(X2) -31.52554 19.24949 -1.637734 0.1145 D(X3) 0.314495 0.252171 1.247146 0.2244 ECT(-1) -0.561151 0.174988 -3.206796 0.0038 C -75.75301 283.2526 -0.267440 0.7914 Sumber: Hasil data diolah, 2020

D(Y) = -75,75310 + 4,21E-08 D(X1) – 31,52554 D(X2) + 0,314495 D(X3) – 0,561151 ECT

Tabel 12. Hasil Regresi Jangka Pendek

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

X1 6.30E-09 1.11E-08 0.566478 0.5759

X2 -15.06641 21.41708 -0.703476 0.4880

X3 0.355049 0.110176 3.222552 0.0034

C 1489.170 578.2034 2.575513 0.0160

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Y = 1489,170 + 6,30E-09 X1 – 15,06641 X2 + 0,355049 X3

(8)

Pengujian Hipotesis

Hasil Uji Parsial Jangka Pendek

Tabel 13. Hasil Uji Parsial Jangka Pendek

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

D(X1) 4.21E-08 2.83E-08 1.490387 0.1491

D(X2) -31.52554 19.24949 -1.637734 0.1145

D(X3) 0.314495 0.252171 1.247146 0.2244

ECT(-1) -0.561151 0.174988 -3.206796 0.0038

C -75.75301 283.2526 -0.267440 0.7914

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Berdasarkan dari tabel di atas uji parsial jangka pendek interpretasinya adalah:

1) Cadangan Devisa (X1), nilai probability untuk variabel cadangan devisa adalah 0,1491 pada tingkat kesalahan (𝛼) 5%. Karena nilai probabilitas 0,1491 > 0,05 dan nilai thitung (1,490387) < ttabel (2,05153), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel cadangan devisa dalam jangka pendek tidak berpengaruh signifikan dengan impor barang konsumsi.

2) Inflasi (X2), nilai probability untuk variabel inflasi adalah 0,1145 pada tingkat kesalahan (𝛼) 5%. Karena nilai probabilitas 0,1145 > 0,05 dan nilai thitung (-1,637734) < ttabel (2,05153), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel inflasi dalam jangka pendek tidak berpengaruh signifikan dengan impor barang konsumsi.

3) Kurs Dollar (X3), nilai probability untuk variabel kurs dollar adalah 0,2244 pada tingkat kesalahan (𝛼) 5%.

Karena memiliki nilai probabilitas 0,2244 < 0,05 dan nilai thitung (1,247146) < ttabel (2,05153), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel kurs dollar dalam jangka pendek tidak berpengaruh signifikan dengan impor barang konsumsi.

Hasil Uji Parsial Jangka Panjang

Tabel 14. Hasil Uji Parsial Jangka Panjang

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

X1 6.30E-09 1.11E-08 0.566478 0.5759

X2 -15.06641 21.41708 -0.703476 0.4880

X3 0.355049 0.110176 3.222552 0.0034

C 1489.170 578.2034 2.575513 0.0160

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Berdasarkan dari tabel di atas uji parsial jangka panjang interpretasinya adalah:

1) Cadangan devisa (X1), nilai probability untuk variabel cadangan devisa adalah 0,5759 pada tingkat kesalahan (𝛼) 5%. Karena nilai probabilitas 0,5759 < 0,05 dan nilai thitung (0,566478) < ttabel (2,05153), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel cadangan devisa dalam jangka panjang tidak berpengaruh signifikan dengan impor barang konsumsi.

2) Inflasi (X2), nilai probability untuk variabel inflasi adalah 0,4880 pada tingkat kesalahan (𝛼) 5%. Karena nilai probabilitas 0,4880 > 0,05 dan nilai thitung (-0,703476) < ttabel (2,05153), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel inflasi dalam jangka panjang tidak berpengaruh signifikan dengan impor barang konsumsi.

3) Kurs Dollar (X3), nilai probability untuk variabel kurs dollar (PDB) adalah 0,0034 pada tingkat kesalahan (𝛼) 5%. Karena memiliki nilai probabilitas 0,0034 < 0,05 dan nilai thitung (3,222552) > ttabel (2,05153), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel kurs dollar dalam jangka panjang berpengaruh negatif dan signifikan dengan impor barang konsumsi.

(9)

Hasil Uji F Statistik (Uji Simultan)

Tabel 15. Hasil Uji Simultan

Variabel Nilai F-Statistik Prob Interpretasi

Jangka Pendek 4,128184 0,011006 Signifikan pada α = 5%

Jangka Panjang 14,41331 0,000010

Sumber: Hasil data diolah, 2020

1) Nilai probabilitas dalam jangka pendek sebesar 0,011006 < tingkat kesalahan (𝛼) 0,05 dan nilai Fhitung

(4,128184) > Ftabel (2,98). Hal ini menunjukkan bahwa cadangan devisa (X1), inflasi (X2) dan kurs dollar (X3), secara serempak dalam jangka pendek berpengaruh signifikan terhadap impor barang konsumsi (Y).

2) Nilai probabilitas dalam jangka panjang sebesar 0,000010 < tingkat kesalahan (𝛼) 0,05 dan nilai Fhitung

(14,41331) > Ftabel (2,98). Hal ini menunjukkan bahwa cadangan devisa (X1), inflasi (X2) dan kurs dollar (X3), secara serempak dalam jangka panjang berpengaruh signifikan terhadap impor barang konsumsi (Y).

Hasil Koefisien Determinasi

Tabel 16. Hasil Koefisien Determinasi

Variabel Adjusted R-Squared

Jangka Pendek 0,308859

Jangka Panjang 0,581167

Sumber: Hasil data diolah, 2020

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa koefisien Adjusted R Square atau koefisien determinasi dalam jangka pendek adalah 0,308859 atau 30,88% dan koefisien Adjusted R Square atau koefisien determinasi dalam jangka panjang adalah 0,581167 atau 58,11%. Hal ini berarti variabel cadangan devisa, inflasi, dan kurs dollar dapat menjelaskan variasi variabel impor barang konsumsi dalam jangka panjang (58,11%) lebih kuat dari pada dalam jangka pendek (30,88%). Selebihnya dalam jangka panjang 41,89% dan dalam jangka pendek 69,12% dipengaruhi variabel lain di luar model.

Pembahasan

Pengaruh Cadangan Devisa Terhadap Impor Barang Konsumsi

Dari hasil pengujian variabel cadangan devisa (X1) secara parsial dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap Impor Barang Konsumsi karena memiliki nilai probability sebesar 0,1491 > 0,05 dan thitung (1,490387) < ttabel

(2,05153) dan dalam jangka panjang juga tidak berpengaruh karena memiliki nilai probabilitas sebesar 0,5759 > 0,05 dan nilai thitung (0,566478) < ttabel (2,05153).

Menurut BI posisi cadangan devisa dikatakan aman apabila memenuhi diatas kecukupan standar internasional yaitu dapat memenuhi kebutuhan impor lebih dari tiga bulan. Berdasarkan hasil penelitian cadangan devisa tidak memiliki pengaruh signifikan secara jangka pendek maupun jangka panjang, namun memiliki hubungan positif. Artinya ketika Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup maka diberengi juga dengan kenaikan impor, begitu juga sebaliknya ketika cadangan devisa sedikit maka impor akan berkurang, namun hal tersebut tidak signifikan karena Indonesia tetap melakukan impor barang konsumsi karena menjadi kebutuhan meskipun cadangan devisa menipis.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Fitri Kurniawati (2014) yang mengatakan cadangan devisa tidak berpengaruh terhadap impor dan Ida Bagus Wira Satrya Wiguna dan Anak Agung Ayu Suresmiathi D (2014) juga menyatakan cadangan devisa juga tidak berpengaruh signifikan dengan Impor.

Pengaruh Inflasi Terhadap Impor Barang Konsumsi

Dari hasil pengujian variabel inflasi (X2) secara parsial dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap Impor Barang Konsumsi karena memiliki nilai probability sebesar 0,1145 > 0,05 dan thitung (-1,637734) < ttabel (2,05153) dan dalam jangka panjang juga tidak berpengaruh, karena memiliki nilai probabilitas sebesar 0,4880 > 0,05 dan nilai thitung

(-0,703476) < ttabel (2,05153).

(10)

Berdasarkan teori dari Keynes yang mengatakan bahwa inflasi yang terjadi akibat dari sebagian masyarakat yang meningkatkan gaya hidupnya melampaui batas kemampuan ekonominya atau permintaan yang berlebih. Artinya ketika inflasi dalam negeri meningkat maka berpengaruh pada peningkatan impor barang konsumsi, sebaliknya ketika inflasi dalam negeri menurun maka impor barang konsumsi juga akan ikut turun. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian, karena inflasi tidak memiliki pengaruh signifikan dan memiliki hubungan negatif.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ida Bagus Wira Satrya Wiguna dan Anak Agung Ayu Suresmiathi D (2018) yang menyatakan inflai tidak berpengaruh dengan Impor dan penelitian yang juga dilakukan Ketut Evilia Wijayanthi dan Made Dwi Setyadhi Mustika (2015) juga menyatakan inflasi tidak berpengaruh terhadap impor.

Pengaruh Kurs Dollar Terhadap Impor Barang Konsumsi

Dari hasil pengujian variabel kurs dollar (X3) secara parsial dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap Impor Barang Konsumsi karena memiliki nilai probability sebesar 0,2244 > 0,05 dan thitung (1,247146) < ttabel (2,05153) dan dalam jangka panjang berpengaruh, karena memiliki nilai probabilitas sebesar 0,0034 < 0,05 dan nilai thitung

(3,222552) > ttabel (2,05153).

Ketika harga dollar Amerika meningkat terhadap rupiah atau depresiasi rupiah artinya harga-harga barang impor naik maka permintaan impor barang konsumsi menurun, sebaliknya jika harga dollar Amerika menurun terhadap rupiah atau apresiasi rupiah artinya harga-harga barang impor menurun maka permintaan impor barnang konsumsi meningkat. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian secara jangka panjang dimana kurs dollar memiliki pengaruh signifikan dan berhubungan positif, yang menunjukkan bahwa apabila rupiah mengalami apresiasi maka, impor barang konsumsi akan meningkat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Adlin Imam (2013) yang mengatakan kurs dollar tidak memiliki pengaruh terhadap impor dan I Gusti Made Aditya dan I Gusti Putu Nata Wirawan (2015) menyatakan kurs dolar memiliki pengaruh negatif terhadap impor.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil perhitungan statistik, dapat disimpulkan beberapa hal. Secara parsial, variabel nilai tukar rupiah (X1) tidak berpengaruh dalam jangka pendek namun berpengaruh signifikan dalam jangka panjang terhadap Impor Barang Konsumsi di Indonesia. Variabel inflasi (X2) tidak berpengaruh secara parsial baik dalam jangka pendek maupun panjang terhadap Impor Barang Konsumsi. Variabel produk domestik bruto (X3) berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial dalam jangka pendek maupun panjang terhadap Impor Barang Konsumsi. Sementara itu, variabel tingkat suku bunga BI (X4) tidak berpengaruh secara signifikan baik dalam jangka pendek maupun panjang terhadap Impor Barang Konsumsi di Indonesia. Secara simultan, variabel-nilai tukar rupiah (X1), inflasi (X2), PDB (X3), dan tingkat suku bunga BI (X4) tidak berpengaruh dalam jangka pendek, tetapi berpengaruh signifikan dalam jangka panjang terhadap Impor Barang Konsumsi di Indonesia. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut dapat menjelaskan variasi Impor Barang Konsumsi lebih kuat dalam jangka panjang (48,2%) daripada dalam jangka pendek (18,0%).

Adapun saran yang dapat diajukan melibatkan penambahan variabel dalam penelitian selanjutnya untuk hasil yang lebih akurat. Penelitian yang sama dapat memperluas rentang waktu observasi atau menggunakan metode alternatif seperti VAR atau analisis regresi. Selain itu, pemerintah dapat mempertimbangkan upaya meningkatkan PDB sebagai cara untuk meningkatkan Impor Barang Konsumsi, mengingat PDB memiliki pengaruh yang konsisten dalam jangka pendek maupun panjang.

REFERENSI

Aditya, I. G. M., and Wirawan, I. G. P. N. (2015). Pengaruh Kurs Dollar Amerika, Cadangan Devisa Dan Produk Domestik Bruto Terhadap Impor Makanan Dan Minuman Di Indonesia. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan, 4(8), 873–1047. Retrieved from https://ojs.unud.ac.id/index.php/eep/article/view/14730

Amir, M. S. (2003). Ekspor Impor: Teori & Penerapannya. Jakarta: PPM.

Algifari. (2011). Analisis Regresi: Teori, Kasus, dan Solusi. Yogyakarta: BPFE.

(11)

Gandhi, D. V. (2006). Pengelolaan Cadangan Devisa di Bank Indonesia. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK).

Ghozali, I., & Ratmono, D. (2018). Analisis Multivariate dan Ekonometrika: Teori, Konsep, dan Aplikasi dengan Eviews 10, Edisi 2. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.

Imam, A. (2013). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Impor Barang Konsumsi di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan UNP, 1(2).

Kurniawati, F., and Suresmiathi, A. A. A. (2015). Pengaruh Cadangan Devisa, PDB dan Kurs Dollar Amerika Serikat Terhadap Impor Bahan Baku Industri di Indonesia. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan, 4(7), 746–872. Retrieved from https://ojs.unud.ac.id/index.php/eep/article/view/13617

Mankiw, N. Gregory. (2007). Makro Ekonomi. Jakarta: Erlangga.

Nopirin. (2009). Ekonomi Moneter Buku 2, Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE UGM.

Paul, R. K., & Maurice, O. (2000). Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijaksanaan. Jakarta: Rajawali Press.

Purnamawati, A. (2013). Dasar-Dasar Ekspor Impor. Yogyakarta: Sinar Grafindo.

Rachbini, D. J., & Swidi, D. (2000). Bank Indonesia: Tinjauan Kelembagaan, Kebijakan, dan Organisasi. Jakarta: PT.

Mardi Mulyo.

Sukirno, S. (2008). Teori Pengantar Makroekonomi. Jakarta: Raja Grasindo Perseda.

Susilo, A. (2008). Buku Pintar Ekspor-Impor. Jakarta: Trans Media Pustaka.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Widarjono, A. (2013). Ekonometrika: Pengantar dan Aplikasi, Edisi Keempat Disertai Panduan Eviews. Yogyakarta:

UPP STIM YKPN.

Wiguna, I. B. W. S., and Suresmiati, A. A. A. (2014). Pengaruh Devisa, Kurs Dollar AS, PDB dan Inflasi Terhadap Impor Mesin Kompressor dari China. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan, 3(5), 173–226. Retrieved from

https://ojs.unud.ac.id/index.php/eep/article/view/8035 ÓBima Hardi, Hawihanus, Slamet Riyadi, 2023

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Rentang Waktu Indeks Harga Pada Pasar Modal dan Hubungannya dengan Variabel Ekonomi Makro Indonesia. (Studi Ekonometrika Model Dinamis Vector Error Correction )

Data tersebut meliputi konsumsi rumah tangga, investasi, konsumsi pemerintah, ekspor, dan impor dalam skala nasional yang terjadi di Indonesia.. Variabel-variabel

Analisis data dilakukan dengan Metode Error Correction Model (ECM) sebagai alat ekonometrika perhitungannya serta di gunakan juga metode analisis deskriptif bertujuan untuk

Nieto (2007), yang melakukan penelitian tentang permintaan kredit konsumsi rumah tangga di negara Spanyol dengan menggunakan model Error Correction Model dalam kurun waktu 1995 –

Untuk penelitian mengenai Analisis Determinan Impor Kedelai Indonesia 2002-2021 menggunakan analisis kuantitatif dengan metode analisis regresi linear berganda, yaitu

Berdasarkan analisis kuantitatif melalui alat analisis vector error correction model , didapat hasil pengaruh jangka pendek antara variabel pertumbuhan ekonomi dan inflasi

Dari ana lisis data IHK menggunakan model koreksi kesalahan dengan pendekatan bootstrap, didapatkan hasil bahwa dala m jangka panjang jika terjad i kena ikan IHK kota

Cara menguji Model ECM (Error Correction Model) pada data deret waktu menggunakan perangkat lunak Eviews