Dari permasalahan pokok di atas, penulis mengangkat sub permasalahan pokok yaitu, bagaimana pendekatan pendekatan persuasif yang dilakukan guru agama Islam, bagaimana meningkatkan proses pengamalan agama Islam siswa, bagaimana menggunakan pendekatan persuasif. dari agama Islam. guru pendidikan. Dengan berkembangnya dunia pendidikan saat ini tentunya kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan semakin meningkat, sehingga mutlak diperlukan adanya kegiatan yang seimbang dan sesuai antara kegiatan sekolah dengan kebutuhan masyarakat, termasuk pengajaran agama Islam. Pendidikan agama Islam hendaknya dikembangkan, dengan tetap memperhatikan kemampuan peserta didik dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan yang meyakinkan, dengan memperhatikan kondisi, sarana dan prasarana, serta perbedaan kemampuan guru dalam penggunaan metode pengajaran khususnya. dalam proses belajar mengajar pendidikan agama Islam.
Pendekatan persuasif merupakan salah satu pendekatan penting yang digunakan oleh guru pendidikan agama Islam (IRA), dimana tujuan dari pendekatan ini adalah untuk memberikan pemahaman dan observasi terhadap perlunya pendidikan agama Islam. Kemampuan dasar peserta didik mengenai pendidikan agama Islam adalah mengembangkan kehidupan beragama agar menjadi umat Islam yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta ikut serta dalam pendidikan. Di sekolah, guru pendidikan agama Islam dituntut mempunyai pendekatan dan metode berbeda yang digunakan agar tujuan pendidikan agama Islam yang dirumuskan dapat tercapai.
Dengan adanya fenomena yang berbeda di lapangan, peneliti mengeksplorasi lebih jauh sistem pendekatan persuasif guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan amalan keagamaan siswa di SMA Negeri Satu Liukang Tangaya Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Rumusan Masalah
Pendekatan persuasif merupakan upaya yang dilakukan guru untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang perlunya agama dalam diri seseorang. Kecenderungan guru pendidikan agama Islam dalam melakukan pendekatan kepada peserta didiknya merupakan suatu keharusan bagi seorang guru dalam menjalankan profesinya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendekatan guru Pendidikan Agama Islam untuk mengarahkan siswanya ke arah yang positif dapat terwujud jika guru terus menerus memberikan motivasi kepada siswanya hingga mereka sadar.
Jadi jelas bahwa ketidakjelasan pemahaman siswa terhadap Islam dimulai dari orang tuanya. Bahwa orang tua lebih menjadi faktor penentu dibandingkan guru dalam memberikan teladan keagamaan. Sebagai konsekuensi keimanan seseorang, jika seseorang sudah dianggap muslim dan benar-benar menjadi pemeluk agama yang baik, maka ia harus mentaati ajaran agama Islam dan menjamin rahmat Allah SWT tetap menyertainya.
Dia seharusnya dapat memahami, mengamalkan agama Islam yang berpandukan akidah mengikut akidah Islam.
ي ِراَخُب َو
Dari uraian tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa upaya persuasif yang dilakukan guru khususnya guru pendidikan agama Islam akan memberikan kondisi bagi siswa yang berminat untuk melakukan perubahan ke arah kemajuan pemahaman ajaran Islam. Pemahaman yang diberikan guru akan menyentuh hati siswa untuk meyakini kebenaran agama Islam. Berdasarkan ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa pertama-tama perlu memberi teladan bagi perkembangan diri sendiri dan individu, kemudian bagi perkembangan keluarga dan orang lain. Pendidikan agama Islam kepada orang tua peserta didik merupakan sebuah.
Guru agama dan orang tua tidak dapat dipisahkan dalam penyelenggaraan pendidikan, khususnya pengajaran agama Islam itu sendiri. Pendidikan Agama Islam Guru dan orang tua peserta didik tidak dapat dipisahkan dalam pemberian pendidikan, khususnya dalam pendidikan agama itu sendiri karena guru merupakan pendidik di sekolah sedangkan orang tua mendidik peserta didik di rumah dengan memberikan bimbingan dan dorongan kepada anaknya. Yang dilakukan seorang guru adalah serangkaian mata pelajaran yang dikembangkannya sebagai seorang pendidik. Kebijakan seorang guru pendidikan agama Islam dalam menyampaikan pelajaran agama Islam kepada siswanya bukan sekedar sesuatu yang dapat langsung dipahami oleh siswa akibat dari keterbatasan pemikirannya. .
Dengan pendekatan yang digunakan, guru pendidikan agama dapat menanyakan secara langsung kendala-kendala yang dialami siswa bersangkutan terkait kemalasannya dalam mengambil mata pelajaran agama Islam. Dalam mengajarkan pendidikan agama Islam, diharapkan setiap guru agama tidak lepas dari pendekatannya terhadap murid-muridnya dengan meyakinkan mereka akan kebenaran agama Islam, karena sepertinya jika ada pendekatan maka penerapan pendidikan agama Islam kepada siswa tidak akan terwujud dengan baik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa untuk mencapai pendidikan agama Islam, perlu ada upaya dari para guru pendidikan agama Islam untuk membujuk peserta didiknya agar mengimani ajaran Islam dan mampu mewujudkannya dalam aktivitas sehari-hari.
Sikap persuasif guru Pendidikan Agama Islam terhadap peserta didik menimbulkan rasa percaya diri terhadap kepribadiannya dan menjadi tolok ukur jalan menuju kehidupan yang penuh cobaan dan permasalahan. Dari rumusan tujuan pendidikan agama, pendidikan agama Islam bertujuan untuk memajukan pola kepribadian manusia yang utuh melalui kebutuhan psikologis, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan panca indra. Dan bertakwalah kepadaku, hai orang-orang yang berakal. Berdasarkan ayat tersebut penulis memberikan wawasan bahwa pendidikan agama Islam dimaksudkan untuk membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Dalam membahas permasalahan tujuan pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam tidak lepas dari permasalahan nilai-nilai agama Islam itu sendiri, oleh karena itu perwujudan nilai-nilai tersebut dimaksudkan untuk menjadi landasan dan tujuan pendidikan. Jadi, guru Pendidikan Agama Islam memang perlu mempunyai nuansa yang luas dan konsisten untuk digunakan sebagai pendekatan kepada siswa.
BAB III
Lokasi dan Objek Penelitian
Variabel Penelitian
Defenisi Operasional Variabel
Populasi dan Sampel 1. Populasi
Sampel adalah bagian dari suatu populasi yang mempunyai ciri-ciri yang sama, sehingga benar-benar mewakili populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak dari jumlah populasi. Sampel memilih sejumlah tertentu dari seluruh populasi untuk dijadikan subjek penelitian. Sampel yang diteliti nantinya akan mewakili keseluruhan populasi sebagai suatu hasil dari keseluruhan populasi, namun apabila populasi dalam penelitian sedikit maka populasi penelitian tersebut dapat dijadikan sampel penelitian. Populasi suatu penelitian lebih kecil. Dari seratus beberapa penelitian itu disebut penelitian populasi, dan populasi penelitian ini juga disebut sampel penelitian.”
Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel berdasarkan pandangan Suharsimi Arikunto, jika jumlah populasi lebih dari 100 maka dapat diambil sampel sebesar 25-30% yang dapat mewakili populasi itu sendiri.
Instrumen Penelitian
Tehnik Pengumpulan data
- keadaan sarana dan persarana
Dengan mengubah perilaku, upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan persuasif yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam SMA Negeri 1 Liukang Tangaya, agar pengamalan agama Islam dapat diamalkan dengan baik kepada para siswanya. Dengan demikian, pengaruh pendekatan persuasif terhadap siswa di SMA Negeri 1 Liukang Tangaya menghasilkan indeks prestasi dominan terkait pengamalan agama Islam yang dapat mewarnai sikap siswa. Dapat kita pahami bahwa pengaruh pendekatan persuasif yang dilakukan guru pendidikan agama islam di SMA Negeri 1 Liukang Tangaya dapat.
Hasil dari pendekatan ini menggugah para santri dan melahirkan suatu keyakinan yang tidak dapat dipisahkan dari pengamalan Islam. Pada dasarnya siswa di SMA 1 Liukang Tangaya beragama Islam, sehingga peningkatan dan penerapan agama Islam terwujud dengan baik. Sebagian besar siswa di SMA Negeri 1 Liukang Tangaya mempunyai sesama siswa yang beragama Islam, hal ini menjadi penyemangat dan motivasi dalam mengamalkan agama Islam.
Mewarnai kehidupan beragama dalam pengamalan ajaran Islam dapat tumbuh dan berkembang seiring dengan dibina dan dilatihnya peserta didik. Keberhasilan siswa di sekolah melalui pengamalan ajaran agama Islam tidak lepas dari peran guru agama Islam dalam membina dan mendidik siswanya di sekolah. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi pengalaman mengajar agama Islam siswa di SMA Negeri 1 Liukang Tangaya adalah guru di lingkungan keluarga dan pendidikan di lingkungan sekolah.
Penerapan Pendekatan Persuasif Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Meningkatkan Pengamalan Agama Islam Siswa Di SMA Negeri 1 Liukag Tangaya. Selain dari jenis kegiatan yang dilakukan seperti tabel di atas, Guruh Agama Islam bagi siswa SMA Negeri 1 Liukang Tangaya dalam melaksanakan proses belajar mengajar juga dilakukan melalui upaya lain, seperti yang disebutkan Burhanuddin. Selain itu para ustadz selalu berusaha melakukan pendekatan kepada santrinya dengan memberikan kesadaran untuk mengamalkan ajaran agama Islam.
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dengan pendekatan persuasif siswa selalu mengamalkan ajaran agama Islam, hal ini dapat diketahui berdasarkan angket responden yang menjawab sangat persuasif dan menjawab 30 atau 83,33%. Dari beberapa uraian hasil angket tabel diatas memberikan gambaran bahwa pada akhirnya siswa SMA Negeri 1 Liukang Tangaya telah banyak memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam. Standar pengamalan agama Islam di kalangan siswa SMA Negeri 1 Liukang Tangaya tidak hanya dilihat dari keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan hari raya Islam saja, namun harus dinilai dari tingkat pemahaman siswa terhadap Islam itu sendiri.
Tanpa kesadaran hakiki, penulis meyakini bahwa peningkatan pengamalan Islam pada santri tidak akan berhasil.
PENUTUP
Saran
Guru agama di SMA Negeri One Liukang Tangaya harus selalu melakukan pendekatan kepada siswanya untuk memberikan pemahaman tentang perlunya pengalaman beragama Islami sehingga seorang guru agama harus melanjutkan ilmunya melalui studi lebih lanjut. 2. Guru Pendidikan Agama Islam harus benar-benar memusatkan perhatiannya kepada peserta didik dalam memberikan kesadaran untuk menunaikan ibadah, jangan beranggapan yang penting sudah diberikan dan pendidikan agama sudah disampaikan, terserah mereka mau merealisasikannya atau tidak, itu urusan mereka. Guru agama harus merasa bertanggung jawab untuk memberikan kesadaran kepada peserta didiknya dengan selalu membina dan mendorong mereka untuk beribadah.
Guru agama seharusnya bekerjasama dengan ibu bapa pelajar membina ibadah supaya pelajar berasa terharu dengan perhatian ibu bapa dan guru agama. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan kita semua umatnya hingga akhir zaman.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan berupa dukungan, motivasi, bimbingan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Kepada kedua orang tuaku tercinta yang telah merawatku sejak kecil hingga saat ini serta memberikan dukungan moril dan materil. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang memberikan bantuan pengembangan kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan kepada penulis.
Pembimbing II. yang banyak mencurahkan perhatian dan arahannya dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini dengan penuh kesabaran dan keteladanan. Saudara sekalian, para dosen yang telah mewariskan ilmunya kepada para penulis yang penuh manfaat dan keberkahan, semoga karya baiknya selalu mengalir. Penulis juga menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan, ejaan, bahan referensi, dan lainnya pada saat menulis skripsi.
Untuk itu saran dan kritik dari berbagai pihak demi perbaikan dan penyempurnaan tugas ini sangat dinantikan. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan mampu memberikan sumbangan pemikiran dan wawasan bagi setiap orang yang membacanya.